#30 tag 24jam
Pemerintahan Baru Disarankan Fokus pada Penyerapan Angkatan Kerja
Pemerintahan baru Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memiliki pekerjaan rumah dalam bidang ketenagakerjaan. Halaman all [628] url asal
#ketenagakerjaan #gig-worker #tenaga-kerja #angkatan-kerja
(Kompas.com) 20/10/24 18:03
v/16754179/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintahan baru Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memiliki pekerjaan rumah dalam bidang ketenagakerjaan. Pasalnya, saat ini banyak angkatan kerja yang tidak terserap oleh sektor-sektor formal.
Oleh karena itu tidak heran jika banyak dari angkatan kerja ini memilih bekerja di sektor informal, antara lain buruh harian, pekerja borongan pabrik, atau juga sebagai gig worker seperti ojek online (ojol) atau taksi online.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah mengatakan, pertumbuhan angkatan kerja baru setiap tahunnya berkisar antara 3 juta hingga 4 juta. Sementara ketersediaan lapangan kerja formal hanya mampu menyerap sekitar 1 juta tenaga kerja.
SHUTTERSTOCK/ROBERT KNESCHKE Ilustrasi pekerja, tenaga kerja.“Saat ini ekonomi RI hanya mampu menyerap sekitar 200.000 tenaga sektor formal setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi. Sehingga dengan PDB di kisaran 5 persen maka sektor formal hanya mampu menyerap sekitar 1 juta sampai 1,2 juta tenaga kerja per tahun,” kata Piter dalam keterangannya, Minggu (20/10/2024).
Dampak ketidakseimbangan antara pertumbuhan lapangan kerja formal dengan pertumbuhan angkatan kerja inilah yang membuat banyak angkatan kerja yang memilih pekerjaan informal seperti ojol sebagai penopang biaya hidup.
“Menumpuknya para pekerja informal itu, karena kegagalan pemerintah dalam menyediakan pekerjaan formal,” ujar Piter.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Segara Research Institute bertajuk Potret Beban Kerja Dan Penghasilan Pekerja Informal di Indonesia, pekerjaan informal sebagai pengemudi taksi online dan pengemudi ojol menyerap lulusan S1 tertinggi dibandingkan pekerjaan informal lainnya.
Hasil survei itu menunjukan sebesar 26,53 persen dari responden pengemudi taksi online, dan 17,42 persen dari responden pengemudi ojol adalah lulusan sarjana.
Menurut hasli survei tersebut, banyaknya angkatan kerja yang memilih bekerja sebagai pengemudi taksi online dan ojol dikarenakan keduanya memiliki banyak kelebihan dibandingkan sektor informal lainnya.
Pertama yaitu dari sisi penghasilan yang lebih besar, dimana rata-rata penghasilan per bulan mereka masing-masing Rp 7,23 juta per bulan dan Rp 5,36 juta per bulan.
Sementara pekerjaan informal lainnya, misalkan pengemudi konvensional hanya mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 4,79 juta per bulan.
Lalu yang kedua yaitu dari sisi jaminan keselamatan kerja dan kesehatan kerja. Rata-rata pengemudi taksi online dan ojol mendapatkan bantuan kedua fasilitasi tersebut.
Sementara pekerja informal lainnya menyatakan hanya sedikit dari mereka yang mendapatkan fasilitas tersebut.
Dan yang terakhir yaitu dari sisi waktu atau jam kerja. Di mana ojol atau taksi online memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel dalam menentukan sendiri jumlah jam kerja mereka.
Oleh karena itu, Piter berharap pemerintah memberikan dukungan kebijakan yang tepat terhadap potret pekerja informal sehingga regulasi yang ada mampu melindungi pekerja informal termasuk di sektor ride hailing.
Ketika hendak menerbitkan regulasi terhadap gig worker, pemerintah perlu memahami kondisi, tingkat kesejahteraan, dan fasilitas yang dibutuhkan para pekerja informal itu.
Selain itu, jangan sampai kebijakan tersebut mereduksi prinsip gig worker, karena akan merusak ekosistemnya.
“Jadi tugas pemerintah itu bukan memformalkan pekerjaan informal ke formal, tapi lebih kepada fokus pada penyerapan tenaga kerja di sektor formal. Karena informal seperti ojol ini sebenarnya hanya pekerjaan sementara ketika mereka tidak tertampung baik ketika mereka lulus, tidak mendapatkan pekerjaan, atau ketika terkena PHK. Karena tentu tidak ada yang bercita-cita bekerja sebagai ojol,” pungkas Piter.
Pemerintahan Baru Disarankan Fokus pada Penyerapan Angkatan Kerja
Pemerintahan baru Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memiliki pekerjaan rumah dalam bidang ketenagakerjaan. Halaman all [628] url asal
#ketenagakerjaan #gig-worker #tenaga-kerja #angkatan-kerja
(Kompas.com) 20/10/24 18:03
v/16747886/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintahan baru Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memiliki pekerjaan rumah dalam bidang ketenagakerjaan. Pasalnya, saat ini banyak angkatan kerja yang tidak terserap oleh sektor-sektor formal.
Oleh karena itu tidak heran jika banyak dari angkatan kerja ini memilih bekerja di sektor informal, antara lain buruh harian, pekerja borongan pabrik, atau juga sebagai gig worker seperti ojek online (ojol) atau taksi online.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah mengatakan, pertumbuhan angkatan kerja baru setiap tahunnya berkisar antara 3 juta hingga 4 juta. Sementara ketersediaan lapangan kerja formal hanya mampu menyerap sekitar 1 juta tenaga kerja.
SHUTTERSTOCK/ROBERT KNESCHKE Ilustrasi pekerja, tenaga kerja.“Saat ini ekonomi RI hanya mampu menyerap sekitar 200.000 tenaga sektor formal setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi. Sehingga dengan PDB di kisaran 5 persen maka sektor formal hanya mampu menyerap sekitar 1 juta sampai 1,2 juta tenaga kerja per tahun,” kata Piter dalam keterangannya, Minggu (20/10/2024).
Dampak ketidakseimbangan antara pertumbuhan lapangan kerja formal dengan pertumbuhan angkatan kerja inilah yang membuat banyak angkatan kerja yang memilih pekerjaan informal seperti ojol sebagai penopang biaya hidup.
“Menumpuknya para pekerja informal itu, karena kegagalan pemerintah dalam menyediakan pekerjaan formal,” ujar Piter.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Segara Research Institute bertajuk Potret Beban Kerja Dan Penghasilan Pekerja Informal di Indonesia, pekerjaan informal sebagai pengemudi taksi online dan pengemudi ojol menyerap lulusan S1 tertinggi dibandingkan pekerjaan informal lainnya.
Hasil survei itu menunjukan sebesar 26,53 persen dari responden pengemudi taksi online, dan 17,42 persen dari responden pengemudi ojol adalah lulusan sarjana.
Menurut hasli survei tersebut, banyaknya angkatan kerja yang memilih bekerja sebagai pengemudi taksi online dan ojol dikarenakan keduanya memiliki banyak kelebihan dibandingkan sektor informal lainnya.
Pertama yaitu dari sisi penghasilan yang lebih besar, dimana rata-rata penghasilan per bulan mereka masing-masing Rp 7,23 juta per bulan dan Rp 5,36 juta per bulan.
Sementara pekerjaan informal lainnya, misalkan pengemudi konvensional hanya mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 4,79 juta per bulan.
Lalu yang kedua yaitu dari sisi jaminan keselamatan kerja dan kesehatan kerja. Rata-rata pengemudi taksi online dan ojol mendapatkan bantuan kedua fasilitasi tersebut.
Sementara pekerja informal lainnya menyatakan hanya sedikit dari mereka yang mendapatkan fasilitas tersebut.
Dan yang terakhir yaitu dari sisi waktu atau jam kerja. Di mana ojol atau taksi online memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel dalam menentukan sendiri jumlah jam kerja mereka.
Oleh karena itu, Piter berharap pemerintah memberikan dukungan kebijakan yang tepat terhadap potret pekerja informal sehingga regulasi yang ada mampu melindungi pekerja informal termasuk di sektor ride hailing.
Ketika hendak menerbitkan regulasi terhadap gig worker, pemerintah perlu memahami kondisi, tingkat kesejahteraan, dan fasilitas yang dibutuhkan para pekerja informal itu.
Selain itu, jangan sampai kebijakan tersebut mereduksi prinsip gig worker, karena akan merusak ekosistemnya.
“Jadi tugas pemerintah itu bukan memformalkan pekerjaan informal ke formal, tapi lebih kepada fokus pada penyerapan tenaga kerja di sektor formal. Karena informal seperti ojol ini sebenarnya hanya pekerjaan sementara ketika mereka tidak tertampung baik ketika mereka lulus, tidak mendapatkan pekerjaan, atau ketika terkena PHK. Karena tentu tidak ada yang bercita-cita bekerja sebagai ojol,” pungkas Piter.
Lagi ' Ngetren ', Apa Dampak Gig Economy
Mengenal dampak dari gig economy. [966] url asal
#bahaya-gig-economy #gig-economy #gig-worker #pekerja-kontrak #outsourcing #kongres-isei-solo #isei #jokowi
(MedCom - Ekonomi) 24/09/24 17:00
v/15514465/
Jakarta: Belakangan ini, istilah gig economy semakin populer di berbagai kalangan, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi.Fenomena ini menggambarkan tren baru di dunia kerja, dab individu bekerja secara independen dengan proyek jangka pendek atau sebagai freelancer.
Gig economy menawarkan fleksibilitas yang lebih besar, namun tak sedikit yang mempertanyakan dampaknya terhadap stabilitas dan kesejahteraan pekerja.
Lantas, apa saja dampak dari tren yang tengah berkembang pesat ini?
Apa yang dimaksud dengan gig economy?
Melansir Ruang Menyala dan Scholar Harvard, kata "gig" berasal dari dunia hiburan, yang merujuk pada pertunjukan sementara. Dalam konteks ekonomi, istilah ini menggambarkan pekerjaan dengan durasi tertentu.Jadi, gig economy merupakan sebuah model pasar tenaga kerja yang fleksibel, dan perusahaan merekrut pekerja independen untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam periode waktu terbatas.
Beberapa contoh peran yang termasuk dalam gig economy adalah freelancer, kontraktor mandiri, serta pekerja proyek jangka pendek.
| Baca juga: Mengenal Apa Itu Gig Economy dan Gig Worker |
Siapa saja aktor-aktor yang terlibat dalam gigeconomy?
Gig economy merupakan tren yang tengah berkembang pesat di berbagai sektor industri. Fenomena ini secara otomatis melibatkan sejumlah pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung.Beberapa aktor utama yang berperan dalam gigeconomy antara lain sebagai berikut:
Pekerja
Pekerja dalam gig economy dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yakni mereka yang menyediakan jasa dan mereka yang menawarkan barang.
Kelompok penyedia jasa mencakup profesi seperti pengantar barang, sopir, buruh, dan sebagainya. Sementara itu, penyedia barang terdiri dari individu seperti pengrajin, artis, penjahit, dan lainnya yang menjual hasil karyanya.
Pengguna layanan/konsumen
Dalam setiap aktivitas ekonomi, termasuk gigeconomy, pengguna layanan selalu menjadi bagian penting. Mereka adalah pihak yang memanfaatkan produk atau jasa yang ditawarkan oleh para penyedia dalam ekosistem ini.
Perusahaan
Perusahaan, khususnya penyedia layanan digital, adalah pemeran utama dalam gig economy. Perusahaan yang mengadopsi model gigeconomy umumnya menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel, memungkinkan pembayaran secara online, serta memfasilitasi transaksi langsung antara penyedia dan pengguna layanan.
Ragam Pekerjaan dalam Gig Economy
Gig economy telah mengalami pertumbuhan yang signifikan di seluruh dunia dan mencakup berbagai bidang pekerjaan. Berikut adalah beberapa jenis pekerjaan yang banyak dicari dalam gig economy:- Penulisan (content writer, copywriter, technical writer)
- Teknologi Informasi (network analyst, security engineer)
- Administrasi (virtual assistant, data entry)
- Akuntansi (akuntan, accounting assistant)
- Desain (graphic designer, illustrator)
- Pengembangan Perangkat Lunak (UI/UX designer, DevOps engineer)
- Pendidikan (tutor, guru, dosen)
- Manajemen Proyek (project manager, officemanager)
- Pemasaran (digital marketer, performance marketer, content creator)
| Baca juga: Mengenal Apa Itu Outsourcing, Aturan, dan Contohnya |
Apa dampak gig economy?
Gig economy membawa berbagai dampak positif maupun negatif bagi para pelakunya, baik pekerja maupun perusahaan. Berikut beberapa dampak positif maupun negatif dari gigeconomy:Dampak Positif
Gig economy memberikan berbagai keuntungan bagi pekerja maupun perusahaan yang terlibat. Berikut adalah beberapa dampak positif dari gig economy:Fleksibilitas Waktu Kerja
Dalam pekerjaan konvensional, pekerja harus mengikuti jam kerja yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Namun, dalam gig economy, pekerja memiliki kebebasan waktu untuk menyelesaikan proyek sesuai dengan tenggat yang disepakati. Mereka bisa bekerja kapan dan di mana saja selama pekerjaan selesai tepat waktu.
Peluang Penghasilan yang Lebih Besar
Gig economy memberikan kesempatan bagi pekerja untuk memperoleh penghasilan tanpa batas, tergantung pada jumlah pekerjaan yang diambil. Berbeda dengan pekerjaan konvensional yang memberikan gaji tetap, pekerja di gigeconomy bisa mendapatkan lebih banyak jika menyelesaikan lebih banyak proyek.
Beragam Pilihan Pekerjaan
Gig economy menawarkan berbagai pekerjaan bagi mereka yang memiliki berbagai keterampilan. Pekerja dapat memilih proyek sesuai minat dan bernegosiasi tentang tarif, sesuatu yang jarang terjadi dalam pekerjaan konvensional dengan gaji yang sudah ditetapkan.
Dampak Negatif
Meski gig economy menawarkan banyak keuntungan, bagi sebagian pekerja, sistem ini memiliki beberapa kelemahan.Tidak Ada Fasilitas Tambahan
Sebagai pekerja lepas, kamu tidak terikat pada perusahaan, sehingga tidak mendapatkan fasilitas seperti asuransi kesehatan, tunjangan, atau bonus tahunan yang biasanya diberikan kepada karyawan tetap.
Tanggung Jawab Pajak Sendiri
Berbeda dengan karyawan tetap yang pajaknya sebagian ditanggung perusahaan, pekerja lepas harus mengurus dan membayar pajaknya sendiri, sehingga seluruh kewajiban tersebut dibebankan pada penghasilan pribadi.
Pendapatan yang Tidak Stabil
Meski ada peluang penghasilan besar, gig economy tidak menjamin pendapatan yang stabil setiap bulannya. Penghasilan bisa berubah-ubah tergantung permintaan terhadap keahlianmu, sehingga penting untuk terus mengasah keterampilan agar tetap kompetitif.
Untuk mendapatkan pekerjaan di gig economy, pekerja tidak hanya menyediakan waktu dan tenaga, tetapi juga menanggung risiko dengan menggunakan modal mereka sendiri.
Berbeda dengan ekonomi tradisional di mana perusahaan menyediakan modal, dalam gig economy, perusahaan bertindak sebagai "aset ringan," hanya menghubungkan penyedia dan konsumen.
Contoh pekerjaan ini adalah Uber dan TaskRabbit, dimana pekerja lepas seperti pengemudi Uber menanggung risiko finansial, seperti utang untuk mobil mereka, tanpa jaminan pendapatan stabil.
Platform berupaya mengklasifikasikan pekerja sebagai kontraktor independen untuk menghindari kewajiban karyawan, meski pekerja memiliki keterbatasan dalam mengendalikan aset mereka sendiri. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana melindungi pekerja di era gig economy.
| Baca juga: Jadi Ancaman Pekerja Indonesia, Jokowi Minta Waspadai Tren Gig Economy |
Strategi Sukses di Era Gig Economy
Memilih terjun ke gig economy berarti siap menghadapi berbagai konsekuensi, baik positif maupun negatif. Kamu perlu siap beradaptasi dengan perubahan yang akan datang.Kelola Waktu dengan Baik
Tantangan utama dalam gig economy adalah mengatur waktu antara berbagai pekerjaan. Sebelum menerima proyek baru, pastikan waktu dan kemampuanmu cukup untuk menyelesaikannya dengan baik.
Bangun Personal Branding
Sebagai pekerja lepas, personal branding penting untuk membuatmu menonjol. Branding yang kuat dapat meningkatkan nilai dan daya tarikmu di mata klien.
Tingkatkan Keterampilan
Dengan banyaknya profesi dalam gig economy, penting untuk terus mengasah keterampilan agar bisa beradaptasi dan mendapatkan lebih banyak proyek.
Gig economy semakin populer dan mengubah cara kita bekerja. Meskipun menawarkan fleksibilitas dan peluang penghasilan yang lebih besar, ada juga tantangan seperti ketidakpastian pendapatan dan kurangnya fasilitas bagi pekerja.
Agar sukses dalam gig economy, penting untuk mengatur waktu dengan baik, membangun citra diri yang kuat, dan terus mengasah keterampilan. Dengan persiapan yang tepat, pekerja dapat memanfaatkan semua keuntungan yang ditawarkan oleh gig economy sambil mengatasi risikonya. (Nanda Sabrina Khumairoh)
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(ANN)