JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama dalam hilirisasi rumput laut(seaweed) secara global.
Menurutnya, hilirisasi rumput laut nantinya bisa dinikmati 62 persen masyarakat Indonesia yang tinggal di tepi laut.
"Indonesia berpotensi menjadi pemain utama dalam hilirisasi seaweed, karena kita memiliki garis pantai yang sangat luas dan kondisi alam yang mendukung. Hilirisasi seaweed ini bukan hanya akan memperkuat ekonomi kita, tetapi juga berperan penting dalam mengatasi perubahan iklim global," ujar Luhut sebagaimana dilansir unggahan di Instagram resminya pada Senin (30/9/2024).
DOK.SHUTTERSTOCK/New Africa Ilustrasi jenis rumput laut yang populer untuk masakan. "Potensi ekonomi dari seaweed juga sangat besar sehingga bahkan bisa melampaui sektor-sektor lain yang selama ini menjadi andalan kita," tegasnya.
Luhut mengungkapkan, ia juga sudah membahas soal hilirisasi rumput laut saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi di sela-sela kunjungannya di Amerika Serikat (AS) baru-baru ini.
Ia menyebut, pembicaraan soal hilirisasi rumput laut dengan China sangat menarik.
Karena selain merupakan bisnis baru bersifat ekonomi biru (blue economy), rumput laut juga mampu menyerap karbon dioksida secara efektif untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
"Rakyat kita yang 62 persen tinggal di garis pantai itu akan bisa menikmati ke depan. Karena selama setahun setengah ini kita udah banyak mengerjakan itu. Dan risetnya sudah jalan juga. Saya lihat ini satu peluang Indonesia lagi untuk bisa membuat ekonomi kita tambah baik ke depan," jelas Luhut.
Indonesia pimpin riset rumput laut
KOMPAS.com/Isna Rifka Sri Rahayu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar PandjaitanDalam penjelasannya, Luhut juga menyampaikan soal program riset rumput laut yang sudah diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Sehingga ia mengusulkan agar dibentuk satuan tugas penelitian rumput laut yang melibatkan berbagai negara di dunia.
Selain mengerjakan riset dari sisi iklim, satuan tugas ini menurut Luhut juga membahas lebih lanjut potensi ekonomi biru dari rumput laut.
Sejumlah negara menurutnya sudah sepakat agar satuan tugas nantinya akan dibentuk saat Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP 29 yang akan digelar di Azerbaijan pada 11 hingga 22 November 2024 mendatang.
"Task force ini akan bekerja dan saya usulkan untuk satu bulan ke depan itu sudah ada bentuk-bentuk kerja samanya dan riset bersama. Dari China mau, dari Amerika mau, dari mana-mana pada mau itu. Nah Indonesia yang terbesar potensinya untuk rumput laut," tutur Luhut.
"Yang paling penting satu, membantu climate change ini. Jadi climate change ini real. Kalau enggak (diantisipasi) bumi ini memanas 1,5 derajat itu akan berdampak luar biasa," tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, Luhut sebelumnya telah mengungkapkan dimulainya rencana proyek hilirisasi industri rumput laut.
Luhut memproyeksikan, nilai ekspor produk turunan dari industri rumput laut dalam negeri bakal mencapai 19 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp 303,8 triliun.
"Pak Trenggono (Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono) dalam speech-nya memberi tahu, 2030 dari sini kita bisa ekspor sebesar 19 miliar dolar," sebut Luhut di sela World Water Forum, Bali, Rabu (22/5/2024).
Saat ini, pabrik pengolahan rumput laut di dalam negeri disebut sudah menghasilkan plastik ramah lingkungan, pupuk, dan makanan. Kapasitas pabrik-pabrik yang sudah ada bakal ditingkatkan dan masuk dalam proyek strategis nasional.
Pemerintah juga berencana membantu petani untuk mempersingkat waktu panen rumput laut.
Diketahui, petani rumput laut memanen setiap 45 hari sekali. Luhut ingin nantinya panen bisa dilakukan setiap 30 hari.
"Saya kira ada perubahan sangat fundamental di sini, karena rakyat kita itu ada 62 persen tinggal di pesisir. Itu yang Pak Trenggeno, saya, dan tim melihat sebagai peluang untuk mengurangi kemiskinan," sebut Luhut.
Untuk peningkatan produksi, Luhut pun menyebutkan sekitar 600.000 hektar perairan sudah ditanami pada tahun ini. Setiap 100 hektarnya diklaim bakal menyerap 150 orang.