#30 tag 24jam
Tiga Ahli Botani di Zaman Keemasan Islam
Peradaban Islam turut merintis perkembangan studi botani. [562] url asal
#botani #tanaman #ilmuwan-muslim #sejarah-peradaban-islam
(Republika - Khazanah) 12/08/24 10:06
v/14277323/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kitab suci Alquran, Allah menyebutkan beberapa tanaman serta buah-buahan sebagai karunia kepada umat manusia. Sejak zaman dahulu, tanaman diolah baik untuk bahan makanan maupun obat-obatan. Cabang disiplin keilmuan yang mengkaji tanaman adalah botani. Dalam hal ini, peradaban Islam berperan besar memunculkan botani, sebagaimana yang kini dikenal dunia modern.
Cukup banyak ilmuwan Muslim pada zaman klasik menjadi pakar botani. Karya-karya mereka tersebar luas dan beberapa di antaranya dapat dibaca sampai saat ini. Mereka antara lain mengkaji khasiat tanaman-tanaman tertentu yang dapat menjadi bahan baku obat.
Beberapa dari para ilmuwan itu merancang klasifikasi tanaman yang telah ditemukan. Ada pula yang konsen pada soal pengembangbiakan manual agar tanaman dapat tumbuh seperti yang diinginkan.
Para pakar botani dari zaman keemasan Islam antara lain adalah Al-Dinawari, Al-Qalanisi, dan Ibnu al-Suri.
Al-Dinawari
Abu Hanifah Ahmad bin Dawud Dinawari (828-896) disebut-sebut sebagai salah satu genius dari masa keemasan Islam. Kepakarannya mencakup beragam ilmu, seperti astronomi, metalurgi, matematika, geografi, sejarah, dan biologi. Namun, dunia modern lebih mengenal namanya dalam lingkup ilmu botani.
Sosok ini lahir di Dinawar yang kini termasuk wilayah Iran. Al-Dinawari belajar sains di Isfahan dan sastra di Kufa serta Basrah. Buku karyanya, Kitab al-Nabat, menjadi rujukan utama dalam perkembangan ilmu botani di abad kesembilan. Lantaran itu, al-Dinawari dipandang sebagai ilmuwan Muslim pertama yang konsen pada botani.
Kitab al-Nabat membahas secara komprehensif dan sistematis botani dari sudut pandang seorang filolog. Ada sekitar 400 jenis tanaman yang dikaji al-Dinawari melalui bukunya itu. Dunia modern mengenalnya terutama berkat kajian oleh sarjana Jerman, Silbeberg, pada 1908.
Dalam menyusun Kitab al-Nabat, al-Dinawari mengambil informasi tentang pelbagai tanaman dari tradisi lisan kaum Bedouin Arab serta penyelidikannya sendiri. Buku tersebut terdiri atas dua bagian, yakni daftar alfabetis nama-nama tanaman dan bab-bab tentang tanaman, yakni ciri-cirinya beserta khasiatnya.
Al-Qalanisi
Ia merupakan ilmuwan Muslim dari abad ke-12. Dia menulis buku Aqrabadhin yang membahas tentang kehidupan tanaman. Menurut versi aslinya, kitab itu terdiri atas 49 bab. Di dalamnya, al-Qalanisi membahas tentang pengaruh cuaca terhadap pertumbuhan sayur mayur. Dia juga memaparkan persoalan pengembangbiakan tanaman melalui intervensi manusia.
Al-Qalanisi menemukan bahwa mineral berperan penting untuk menjaga tanaman dari serangan hama. Dia bahkan menyebutkan sejumlah formula untuk dipakai sebagai insektisida dan pestisida. Sulfur, garam amoniak, nafta, dan tar adalah beberapa bahan yang menurutnya dapat dipakai untuk bahan antisipasi hama.
Ibnu al-Suri
Dia bernama lengkap Rasyiduddin bin al-Suri. Dia lahir di Tyre, Lebanon, pada 1177 dan wafat di Damaskus pada 1242. Semasa remaja, dia belajar ilmu kedokteran di Damaskus dan sempat membuka praktik di Yerusalem. Pada masa kekuasaan Sultan al-Muazzam dan Sultan al-Nashir, tokoh ini menjadi kepala dokter istana.
Karya-karyanya antara lain Al-Adwiya al-Mufrada, yang di dalamnya dia memaparkan persoalan obat-obatan, termasuk khasiat herbal. Ibnu al-Suri merupakan peneliti yang giat. Dia biasa mengembara ke seluruh Lebanon untuk mengumpulkan sampel-sampel tanaman untuk diteliti.
Dalam bekerja, dirinya kerap didampingi seorang juru gambar sebagai asisten yang membuat ilustrasi tanaman-tanaman yang dijumpainya. Sebagai periset, Ibnu al-Suri memaparkan tahap-tahap pertumbuhan tanaman yang dikajinya itu.
Salah satu karyanya dikenal dengan nama Materia Medica di Barat. Kitab itu berisi hasil kajian Ibnu al-Suri atas sejumlah tanaman herbal. Ini merupakan buku pertama dalam bahasa Arab yang berisi kajian botanis lengkap dengan gambar ilustrasi yang detail dan berwarna (full-color).
Yuri Gagarin, Wright Bersaudara, dan Tantangan Allah untuk Menembus Langit
Allah menantang manusia untuk menembus langit dan menjelajah bumi. [531] url asal
#yuri-gagarin #allah #ilmuwan-muslim #alquran #gunung-gede #gunung-dalam-alquran #islam
(Republika - Iqra) 23/07/24 12:29
v/11784765/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Upaya manusia untuk terbang menjelajahi langit dan angkasa sudah ada sejak lama. Namun di masa modern, diakui manusia pertama yang benar-benar 'terbang' adalah Wright Bersaudara pada awal abad 20.
Mereka diakui secara umum atas desain dan perancangan pesawat efektif pertama. Mereka membuat penerbangan terkendali pertama menggunakan pesawat terbang
Perkembangan ilmu pengetahuan menjelajah langit terus berlanjut. Pada 1960, Yuri Gagarin, seorang kosmonot Uni Sovyet tercatat menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa melalui kapsulnya, Vostok 1 yang menyelesaikan satu orbit Bumi pada 12 April 1960.
Namun jauh sebelum itu, sejarah mencatat ada banyak ilmuwan muslim yang berjasa dalam bidang astronomi dan penerbangan seperti Ibnu Yunus, Al-Biruni, Al-Farghani hingga Al-Battani.
Ada juga Abbas Ibn Firnas, seorang intelektual dan ilmuwan Muslim asal Qutuba Al-Andalus (Cordoba, Spanyol). Abbas Ibn Firnas merupakan ahli beberapa cabang ilmu, seperti matematika, fisika, astronomi, dan aerodinamika. Pada 875 Masehi, ia menciptakan sebuah pesawat kayu sederhana, kemudian menerbangkannya dengan dia sebagai pengendali atau pilotnya
Pada abad ke-9, para ahli astronomi Muslim berhasil membangun observatorium pertama di Kota Baghdad. Di bawah dukungan para penguasa, observatorium yang lebih besar dan lengkap bermunculan di Istanbul, Maragha, dan Samarkand. Di sebagian besar observatorium, terdapat banyak instrumen khusus seperti sekstan kuadran.
Mengapa para ilmuwan Muslim di masa lalu banyak yang meneliti masalah astronomi dan penerbangan? Ini karena ada anjuran agama agar manusia mempelajari ilmu pengetahuan dan ditantang untuk menjelajah langit.
Islam sangat menganjurkan penjelajahan ke seluruh penjuru langit dan bumi, seperti tantangan Allah dalam firman-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ
Yā ma‘syaral-jinni wal-insi inistaṭa‘tum an tanfużū min aqṭāris-samāwāti wal-arḍi fanfużū, lā tanfużūna illā bisulṭān(in).
Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah). (QS Ar-Rahman Ayat 33)
Namun patut diingat bahwa inti segala penjelajahan manusia ke seluruh penjuru langit dan bumi bukan semata untuk memahami dan kemudian terkesima. Demikian dijelaskan dalam buku Tafsir Ilmi tentang Gunung Dalam Perspektif Alquran dan Sains.
Dengan menjelajahi langit dan bumi, harus lebih dari sekadar mengagumi ketertataan alam bekerja, lebih jauh dari itu yakni ketertundukan total kepada Sang Pencipta, seperti firman Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn(i).
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS Az-Zariyat Ayat 56)
Allah SWT juga memuji orang-orang yang selalu ingat kepada-Nya dan mau memikirkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di jagat raya untuk kemudian meyakini keagungan-Nya. Mereka itulah orang yang diberi gelar agung, ulul-albab, yakni orang-orang yang berakal.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (QS Ali Imran Ayat 190)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS Ali Imran Ayat 190)