JAKARTA, KOMPAS.com - Korban terdampak kebakaran di Kampung Bali Matraman, Manggarai, Jakarta Selatan, secara bertahap direlokasi Pemkot Jakarta Selatan ke Rusun Pasar Rumput, Jumat (16/8/2024).
Beragam ekspresi ditampilkan oleh warga yang direlokasi. Tidak semua dari mereka bersemangat, tapi semua bersyukur.
"Bersyukur banget kita, daripada tidur di emperan. Tapi lebih nyaman rumah sendiri," kata seorang perempuan berbaju kuning ketika direlokasi ke rusun, Jumat (16/8/2024) siang.
Dia bilang, seluruh keluarganya akan ikut bersamanya tinggal di rusun. "Kan anak masih sekolah," kata dia.
Sependapat dengan perempuan itu, Ipah (55) juga bilang bahwa tinggal rumah sendiri akan lebih nyaman.
Walaupun, kata dia, rusun yang kini dia tempati telah dilengkapi dengan AC dan memiliki dua ruang tidur. Cukup baginya untuk mengajak seluruh keluarganya.
"Harapan saya sih bisa bangun kembali cepat-cepat (rumah), meskipun cuma gubuk, tapi kan kalau rumah sendiri lebih tenang dan nyaman. Kalau ini kan kita masih mikir, iurannya berapa, untuk air dan listriknya," kata Ipah ketika ditemui di Rusun Pasar Rumput, Jumat (16/8/2024).
Terkait lama waktu tinggal, Ipah berharap mendapatkan waktu tinggal subsidi setidaknya selama tiga bulan.
Tidak mungkin, katanya untuk bisa membangun rumah dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Untuk diketahui, Pemkot Jakarta Selatan sedang merelokasi korban terdampak kebakaran di Manggarai, Jumat (16/8/2024).
Sekira pukul 13.59 WIB, bus pertama yang mengangkut para korban kebakaran telah berangkat menuju rusun.
Sekira delapan hingga sepuluh orang korban berangkat bersama bus pertama, dengan Walikota Jakarta Selatan Muhadjirin turut mengantarkan relokasi pertama.
Muhadjirin bilang, pada hari Jumat (16/8/2024), pihaknya telah merelokasi sebanyak 44 KK dengan 189 jiwa.
Nantinya, kata dia, pihaknya akan secara bertahap merelokasi warga yang masih mengungsi di posko pengungsian.
"Yang jelas untuk relokasi ini, untuk bisa menempatkan warga agar bisa tinggal dengan tenang, nyaman, bisa mengatur anaknya sekolah kembali, kemudian yang bekerja bisa bekerja dengan normal kembali. Jadi kehidupannya bisa tertata dengan baik," ujar Muhadjirin ketika ditemui di Rusun Pasar Rumput, Jumat (16/8/2024).
Sementara itu, terdapat 4.219 jiwa yang kehilangan tempat tinggalnya akibat kebakaran pada Selasa (13/8/2024).
Bank Mandiri mendirikan dua posko darurat yang dilengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar dan logistik untuk para korban kebakaran di Manggarai. Halaman all [290] url asal
KOMPAS.com - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau corporate social responsibility (CSR), menunjukkan komitmennya dalam membantu korban bencana kebakaran di Manggarai, Jakarta Selatan (Jaksel).
Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menjelaskan bahwa sebagai bagian dari respons tanggap darurat, Bank Mandiri telah mendirikan dua posko darurat di lokasi strategis dekat area kebakaran.
Posko-posko tersebut dilengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar dan logistik, termasuk lebih dari 3.000 paket makanan siap saji, pakaian layak pakai, obat-obatan, serta dukungan untuk dapur umum guna memenuhi kebutuhan sehari-hari para penyintas.
“Kami sangat prihatin dengan musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Manggarai. Bank Mandiri berkomitmen untuk hadir dan meringankan beban mereka yang terkena dampak bencana,” ujar Ali dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (15/8/2024).
Ali menambahkan bahwa bantuan tersebut juga merupakan hasil kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta dukungan dari Mandiri Amal Insani (MAI) dan relawan Mandirian.
“Sebagai bagian dari agen pembangunan, kami berharap bantuan ini bisa menjadi wujud nyata dari komitmen kami untuk memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat,” tuturnya.
Heru Budi kunjungi pengungsi kebakaran Manggarai di area parkir Pasaraya Manggarai. Para pengungsi sebut perlu tambahan air bersih dan toilet mobile. Halaman all [341] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengunjungi posko pengungsian korban kebakaran permukiman Manggarai di area parkir Pasaraya Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2024) sore.
Dalam kesempatan itu, Heru melakukan peninjauan dan berbincang dengan para pengungsi. Kepada Heru, para pengungsi mengaku membutuhkan air bersih dan toilet umum.
"Tadi diperlukan air bersih sampai toilet mobile, tadi saya sudah instruksikan PAM Jaya untuk siapkan dan tambah fasilitasnya," kata Heru dalam keterangannya, Rabu.
Heru mengatakan, dirinya akan mengkoordinasikan lintas Perangkat Daerah untuk mempercepat penanganan korban kebakaran di Manggarai.
Dinas Kesehatan DKI, kata Heru, sudah turun memantau kondisi kesehatan warga yang mengungsi.
"Semua jajaran sudah turun untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada warga yang terkena musibah ini," ujar Heru.
Heru menambahkan, tenda pengungsian yang digunakan warga untuk beristirahat dalam kondisi baik.
Selain itu, suplai makanan tiga kali sehari pun ia nilai sudah sesuai dengan aturan.
"Tenda cukup bagus ya dari BPBD DKI Jakarta, kalau kurang nanti ditambahkan. Kita lihat sementara ini sudah cukup. Makanan juga tersedia, pagi-siang-sore. Yang penting, saya pesankan kepada Sudin Kesehatan untuk perhatikan kondisi anak-anak. Tadi saya lihat tidak ada pengungsi yang berusia balita,” tuturnya.
Lebih lanjut, Heru mengimbau warga agar menjaga instalasi listrik di rumah masing-masing guna mencegah terjadinya kebakaran.
"Kami juga berpesan kepada masyarakat untuk menjaga instalasi listrik. Hal-hal yang berisiko menyebabkan kebakaran harap lebih diperhatikan dan dijaga kondisinya. Ini menjadi perhatian bersama," pungkasnya.
Kebakaran di permukiman padat penduduk daerah Manggarai hanguskan ratusan rumah. Pemilik rumah yang jadi sumber api pertama kali disebut kabur. Halaman all [750] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran melanda permukiman padat penduduk di Kampung Bali Matraman, Manggarai, Jakarta Selatan, pada Selasa (13/8/2024) malam sekitar pukul 02.30 WIB.
Pengamatan Kompas.com di lokasi, kobaran api diduga pertama kali muncul dari salah satu rumah warga di RW 06, Kampung Bali Matraman, Manggarai.
"Tiba-tiba sudah gede aja (apinya), enggak tahu karena apa," kata Novi (19) warga RW 06 saat diwawancara Kompas.com di lokasi, Selasa.
Ratusan rumah terbakar
Lurah Manggarai, Arafat mengatakan, kebakaran yang terjadi di permukiman padat penduduk itu menghanguskan ratusan rumah.
"(Jumlah rumah yang terbakar) sudah pasti di atas seratus rumah karena dua RW yang terdampak," kata Arafat dikutip dari YouTube Kompas TV, Selasa.
Arafat mengatakan, total ratusan rumah yang terbakar tersebar di puluhan RT dari dua RW yang berbeda.
"Data yang dihimpun sementara ini dari dua RW, RW 6 itu ada 15-an RT yang terdampak sedangkan RW 16 itu ada enam RT," jelasnya.
Pemilik rumah yang jadi sumber api kabur
Iskandar (60), salah satu korban kebakaran di Manggarai, menyebut pemilik rumah yang menjadi tempat pertama munculnya api tak memberi tahu warga bahwa rumahnya kebakaran dan memilih kabur.
Iskandar menjelaskan, api pertama kali muncul dari sebelah gang rumahnya. Dia dan beberapa warga lain sempat berusaha memadamkan api, tetapi api sudah terlanjur membesar.
"Dari rumah warga, jadi api, memang orang itu informasinya udah sering lalai. Selalu dibantu sama masyarakat, cuma mungkin hari ini bingung, apa dia malu apa bagaimana, begitu kebakaran informasinya langsung ditinggal," kata Iskandar saat ditemui di rumahnya yang telah terbakar, Selasa.
Iskandar menduga, pemilik rumah yang jadi sumber api pertama kali merasa malu untuk meminta tolong karena sudah beberapa kali kebakaran pernah hampir terjadi karena kelalaian si pemilik rumah.
"Akhirnya karena sering begitu, mungkin dia malu, informasinya begitu kebakaran ditinggal. Makanya masyarakat bantu, itu asap sudah banyak, tetapi api sudah di atas genteng," imbuh dia.
Iskandar menyampaikan, pemilik rumah itu kemudian lari meninggalkan lokasi kejadian dan belum juga kembali.
Hal serupa juga disebut oleh Andri (47), salah seorang warga RT 04/06. Saat itu Andri sedang mengurus perayaan 17 Agustus ketika melihat asap di kampung tersebut.
"Itu jam 02.00 WIB, saya lihat ada asap. Pas saya lihat asap, ada bunyi sibuk dari dalam rumah. Mereka nyiram sendiri di dalam rumah, enggak minta pertolongan," ujar Andri ketika ditemui di Kampung Bali Matraman, Selasa.
Setelahnya, ia berusaha menolong rumah tersebut menggunakan APAR yang ada di rumah RT.
Tidak lama setelah itu, api mulai merambat ke belakang gedung rumah tersebut. Sebagian besar rumah di RW 06 dan 12 akhirnya ludes terbakar.
Api sulit dipadamkan karena keterbatasan air
Salah seorang warga bernama Aji (63) mengatakan, api yang membakar puluhan rumah sulit dipadamkan karena air yang terbatas.
"Kendalanya air, membuat api belum padam," kata Aji saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Selasa.
Saat awal kebakaran, kata Aji, mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan ke lokasi kejadian berukuran kecil.
Pasalnya, titik api berada di tengah-tengah permukiman padat penduduk sehingga tidak bisa dilalui mobil berukuran besar.
Setelah api semakin membesar, akhirnya pemadam kebakaran kembali mengerahkan mobil berukuran besar.
Aji mengungkapkan, air dari mobil pemadam kebakaran sempat habis ketika memadamkan api.
Oleh sebab itu, warga kompak ikut membantu petugas memadamkan api dengan menggunakan ember berisikan air.
"Apinya gede banget enggak ketolongan," ujar dia.
Namun, karena aliran listrik dipadamkan, warga kesulitan mendapatkan air.
Pantauan Kompas.com, kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 06.47 WIB.
Tujuh orang terluka, ribuan warga mengungsi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat tujuh orang terluka akibat peristiwa kebakaran yang terjadi di Manggarai.
"Dalam kejadian ada tujuh orang terluka dan sudah ditangani petugas kesehatan," ujar Kepala Pelaksana BPBD Jakarta Isnawa Adji dalam keterangannya, Selasa.
Berdasarkan data sementara, terdapat 3.019 jiwa dari 1.050 keluarga terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggalnya.
"(Terdapat) 3.018 jiwa mengungsi di pergudangan Infinia, Jalan Minangkabau, Masjid Al Falah di RW 07, dan SDN 05 Manggarai di RW 09," tutur Isnawa.