JAKARTA, investor.id – Pemerintah melalui Kementerian ESDM akan mengurangi kewajiban tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di sektor energi baru terbarukan (EBT) untuk mempercepat investasi. Lantas, bagaimana dampaknya terhadap para emiten yang menggarap proyek EBT, seperti BREN, DSSA, KEEN, hingga ARKO?
Menurut Stockbit Sekuritas, yang mengutip Reuters, TKDN untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) turun dari 40% menjadi 20%. TKDN untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) turun dari 48-71% menjadi 23-45%. TKDN untuk pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) turun dari 40% menjadi 15%.
Langkah tersebut hanya berselang sepekan setelah Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin mengatakan bahwa pemerintah akan membebaskan kewajiban TKDN kepada pengembangan proyek PLTS yang menerima setidaknya 50% pendanaan dari kreditur multilateral atau bilateral asing.
Selama ini, pendanaan untuk proyek EBT di Indonesia masih terbatas, meski kreditur asing telah berkomitmen untuk menyediakan pendanaan, termasuk dana senilai US$ 20 miliar dalam kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dipimpin G7. Para analis pun menilai aturan TKDN menjadi penyebab terhambatnya pendanaan proyek EBT di Indonesia.
Adapun bauran EBT di Indonesia hanya mencapai 13,1% per 2023, lebih rendah dari target yang sebesar 17,9%. Menteri ESDM, Arifin Tasrif pernah mengatakan bahwa bauran EBT masih relatif lambat dan diperkirakan hanya mencapai 13-14% pada 2025. Proyeksi tersebut jauh lebih rendah dari target pemerintah yang menargetkan bauran EBT mencapai 23% pada 2025.
Sementara itu, di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat sejumlah emiten yang memiliki eksposur terhadap pembangunan PLTS, PLTB, dan PLTA.
Grup Astra dan Keluarga Maknawi
Terkait PLTS, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – emiten Grup Sinar Mas – membangun pabrik solar cell senilai Rp 1,6 triliun bersama PLN dan Trina Solar Co Ltd di Kendal. Sedangkan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu, tengah fokus pada PLTB Sidrap serta hak kelola di PLTB Sukabumi dan PLTB Lombok Timur.
Di proyek PLTA, ada PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) – bagian dari Grup Kencana yang dikendalikan keluarga Maknawi. Total kapasitasnya 65 MW per 2023. Ada pula PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) dari Grup Astra (ASII) dengan total kapasitas 17,4 MW per 2023.
Stockbit menilai, relaksasi TKDN di sektor EBT bakal berdampak positif bagi progres ekspansi perusahaan yang menggarap PLTS, PLTA, dan PLTB. “ARKO dan KEEN berpotensi menjadi emiten yang paling diuntungkan karena memiliki pipeline pembangunan pembangkit listrik dalam waktu dekat,” sebut Stockbit.
ARKO menggarap PLTA Kukusan berkapasitas 5,4 MW, yang ditargetkan beroperasi pada 2025. KEEN membangun pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) Salu Noling berkapasitas 10 MW, yang dijadwalkan beroperasi pada 2026.
“Selain itu, ARKO akan memiliki tambahan kapasitas sebesar 10 MW dari pembangunan PLTA Yaentu yang ditargetkan beroperasi pada 2024,” pungkas Stockbit.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News