#30 tag 24jam
Hari Anak Perempuan Internasional, Momentum Memperjuangkan Kesetaraan Pendidikan
Save the Children Indonesia menyerukan pentingnya fokus pada kesetaraan akses pendidikan bagi perempuan. [420] url asal
#hari-anak-perempuan-internasional #anak-perempuan #kesetaraan-pendidikan #pendidikan #perempuan
(MedCom) 11/10/24 18:51
v/16318777/
Jakarta: Setiap tanggal 11 Oktober diperingati Hari Anak Perempuan Internasional. Ini menjadi menjadi momentum untuk mengingat pentingnya kesetaraan hak bagi anak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan.Save the Children Indonesia menyerukan pentingnya fokus pada kesetaraan akses pendidikan bagi perempuan, mengingat berbagai tantangan yang masih dihadapi.
Melansir laman savethechildren.or.id, data menunjukkan angka partisipasi sekolah anak perempuan sedikit lebih tinggi dibanding laki-laki. Kesenjangan masih terlihat di berbagai wilayah.
Hal ini, ditunjukkan pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2023, di Sumba Barat angka partisipasi sekolah anak perempuan usia 7-12 tahun lebih rendah (93 persen) dibandingkan anak laki-laki (95 persen).
Tren ini serupa juga di Surabaya, dimana angka partisipasi anak perempuan (96 persen) lebih rendah daripada laki-laki (98 persen) untuk kelompok usia yang sama.
Selain itu, terjadi juga di Bandung yang memiliki angka sama dalam partisipasi perempuan pada kelompok usia 7-12 tahun lebih tinggi dari anak laki-laki. Namun, angka partisipasi kelompok usia 13-15 tahun untuk perempuan lebih rendah (85 persen) daripada laki-laki (88 persen).
Hal ini menunjukkan adanya potensi penurunan prioritas untuk anak perempuan dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kesenjangan ini diperparah oleh berbagai tantangan, termasuk kekerasan terhadap anak perempuan.
Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja tahun 2024 menyatakan bahwa terdapat 51,78% anak perempuan usia 13-17 tahun di Indonesia yang pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan atau lebih di sepanjang hidupnya.
Adanya tantangan ekonomi dan krisis iklim yang dapat memberikan dampak langsung pada anak perempuan dengan perkawinan yang lebih tinggi di wilayah yang paling terdampak. Oleh karena itu, pada tahun 2018 Save the Children Indonesia melakukan kerja sama dengan Procter & Gamble (P&G) untuk membuat program We See Equal (WSE) di Jawa Barat.
Dengan adanya program ini memiliki tujuan untuk membantu anak perempuan dan laki-laki agar dapat meraih kesempatan pendidikan yang setara. Selain itu, juga dapat membuat suasana lingkungan menjadi setara, aman, dan positif gender.
Dapat menerapkan Modul Choices yang dibuat untuk membimbing anak-anak dalam konsep kesetaraan gender di sekolah. Setelah berjalannya program WSE ini pada tahun 2023 sudah 300 murid atau 95 persen peserta sudah memahami pentingnya kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan.
Tetapi, 94 persen peserta masih menyadari bahwa semua pelajaran di sekolah dapat dipelajari oleh laki-laki dan perempuan tanpa memandang gender.
Sebab itu, Focus Group Discussion (FGD) pada tahun 2024 melakukan dan menunjukkan kepada peserta bahwa setiap peserta dapat beradaptasi dengan melanjutkan pendidikan, meningkatkan kepercayaan diri, dan keberanian mengucapkan pendapat kepada orang dewasa. (Nithania Septianingsih)
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(CEU)
Memangkas Ketimpangan Pendidikan
Diperlukan waktu untuk mewujudkan cita-cita dari gerakan Merdeka Belajar. [1,167] url asal
#ketimpangan-pendidikan #merdeka-belajar #kartu-indonesia-pintar #kesetaraan-pendidikan #gerakan-merdeka-belajar #biaya-pendidikan #nikmat-merdeka #lipsus #lipsus-17-agustus
(Republika - News) 16/08/24 10:30
v/14479721/
REPUBLIKA.CO.ID, Upaya memangkas ketimpangan pendidikan di Indonesia tak henti terus dikejar. Menurut Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan,Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Irsyad Zamjani, kesenjangan pendidikan merupakan isu yang tak lekang waktu. Bahkan, di negara maju sekalipun, masih terdapat ketimpangan pendidikan.
"Indonesia punya pengalaman kesenjangan pendidikan. Sebuah kawasan dengan 17 ribu pulau, 1.340 etnis, 715 bahasa daerah, dan 552 wilayah administratif, pasti menjadi lahan yang sangat subur untuk tumbuhnya kesenjangan, termasuk kesenjangan pendidikan," kata dia dalam Forum on Education and Learning Transformation (FELT) Indonesia 2024 di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Senin (22/7/2024).
Menurut dia, diperlukan upaya dan komitmen, juga waktu, untuk mengatasi ketimpangan pendidikan yang terjadi di Indonesia. Ia menilai, komitmen dan upaya sebenarnya sudah dimiliki bersama, khususnya selama lima tahun terakhir melalui gerakan Merdeka Belajar.
Irsyad mengatakan, gerakan merdeka belajar merupakan sebuah reformasi besar untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan merata di kawasan terluar maupun terdalam Indonesia. Namun, masih diperlukan waktu untuk mewujudkan cita-cita dari gerakan itu. "Artinya, komitmen dan upaya besar ini harus terus menerus dijaga keberlanjutannya, lintas era, lintas administrasi," ujar dia.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek, Iwan Syahril, menjelaskan, gerakan merdeka belajar itu berawal dari kualitas pendidikan di Indonesia yang stagnan. Pasalnya, kualitas pendidikan terhadap murid di sekolah tak mengalami perubahan selama puluhan tahun.
Ia mengakui, sistem pendidikan Indonesia telah membawa progres yang signifikan dalam akses sekolah, terutama dalam 20-30 tahun terakhir. Menurut dia, tingkat partisipasi anak dalam hal pendidikan dasar itu telah mencapai 90 persen atau bahkan mendekati 100 persen.
"Tapi masalah kualitas, ketika anak berada di sekolah, itu ada penelitian schooling, learning? Apakah kemudian mereka belajar? Ternyata kita jalan di tempat dalam hal kualitas proses dan hasil belajar. Jadi semua episode di merdeka belajar itu ujungnya untuk memecahkan masalah krisis pembelajaran," kata Iwan.
Ia menjelaskan, hingga saat ini sudah ada 26 episode Merdeka Belajar. Puluhan episode itu dibuat tak lain untuk mengatasi krisis pembelajaran yang terjadi. Menurut Iwan, salah satu terobosan dalam gerakan Merdeka Belajar adalah menyentuh kalangan 50 persen bawah dari populasi. Ia mencontohkan, kebijakan yang dibuat untuk mengatasi itu adalah membedakan besaran dana bantuan operasional sekolah (BOS) antara sekolah di daerah satu dan daerah lainnya.
"Itu dulu sama di Indonesia. SD, di Papua dan Jakarta itu sama. SMP semua sama. Lalu kami coba buat terobosan, dan bisa membuat satuan biaya BOS berdasarkan indeks kemahalan daerah. Jadi makin daerah berat, nilai BOS makin tinggi. Harapannya ini bisa lebih memgakselerasi operasional sekolah di seluruh Indonesia," kata dia.
Selain itu, gerakan merdeka belajar juga menghasilkan kebijakan baru dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB). Menurut dia, perubahan proses PPDB yang kini didasarkan pada sistem zonasi membuat terjadinya pemerataan pendidikan. "Implementasi kurikulum merdeka meningkatkan kemampuan numerasi di SD dan sederajat untuk daerah tertinggal angkanya tinggi. Demikian juga kemampuan literasi," kata dia.
Kuliah tak Lagi Sekedar Jadi Mimpi untuk Syifa
Syifatul Haya (20 tahun) merupakan salah satu penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah di Universitas Garut, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sudah empat semester, Syifa menerima manfaat dari program itu untuk meraih cita-citanya.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu memang sejak awal ingin melanjutkan jenjang pendidikan ke universitas. Namun, kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan untuk membiayai perempuan itu masuk kampus. Bahkan, usai lulus SMA tiga tahun silam, ia harus bekerja terlebih dahulu karena niatnya untuk lanjut kuliah sempat tak dapat restu orang tua.
"Sempat kerja dulu, ngajar dulu, karena terbatas izin dari orang tua (untuk kuliah). Karena ekspektasi kuliah itu biayanya besar, jadi takut tidak bisa sampai selesai," kata mahasiswa jurusan Ilmu Jurnalistik di Universitas Garut itu kepada Republika, Senin (15/7/2024).
Ia menyebutkan, ayahnya yang bekerja sebagai buruh peternakan merasa tak yakin bisa menguliahkan anaknya. Sementara itu, ibunya juga hanya berusaha dengan membuka warung kecil di rumahnya.
Namun, Syifa tak kehilangan akal. Ia tetap menyimpan mimpinya itu sambil diam-diam mencari jalan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Hingga akhirnya, perempuan itu ingat bahwa selama sekolah dirinya telah masuk dalam program KIP. Ia pun mencari tahu lebih dalam terkait program itu untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah.
Alhasil, Syifa mendaftar untuk bisa terdaftar dalam program KIP Kuliah. Tanpa disangka, ia pun lolos untuk bisa kuliah menggunakan beasiswa dari pemerintah itu. "Ya daftar aja dulu lah. Masalah keterima atau enggak, itu urusan nanti, yang penting udah berusaha. Akhirnya daftar, alhamdulillah keterima," kata dia.
Menurut dia, beasiswa KIP Kuliah sangat membantunya sebagai rakyat biasa. Pasalnya, uang yang didapat dari beasiswa KIP Kuliah per semesternya mencapai Rp 4,8 juta untuk biaya kuliah dan Rp 4,8 juta untuk biaya sehari-hari.
Ia mengaku tak lagi menyusahkan orang tua dengan adanya beasiswa itu. Apalagi, ia juga kuliah sambil bekerja sebagai pekerja lepas untuk menulis dan mendesain. "Jadi sangat terbantu. Ini juga bisa menjadi pembuktian bahwasannya keterbatasan ekonomi itu bukan juga ajang buat kita terbatas dalam bermimpi," kata Syifa.
Meski telah mendapatkan beasiswa KIP Kuliah, Syifa juga tetap harus rajin belajar. Pasalnya, di kampusnya terdapat persyaratan bahwa IPK penerima beasiswa KIP Kuliah tak boleh di bawah 3,5. "Jadi ada tanggung jawab juga buat jaga IPK tetap tinggi," kata perempuan yang ingin menjadi jurnalis itu.
Syifa mengatakan, adanya beasiswa KIP Kuliah itu sangat besar manfaatnya bagi masyarakat kecil. Karena itu, ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan program itu dengan baik. Sebab, kondisi ekonomi bukan menjadi alasan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah.
"Kita semua itu sama punya kesempatan yang sama, punya kesuksesan juga yang sama, walaupun jalannya tadi berbeda. Ketika orang lain sudah difasilitasi atau sudah diberikan biaya oleh orang tua, kita harus menempuh jalan yang berbeda, tapi skenario yang Allah putuskan buat kita itu nggak semata-mata membuat kita merasa rendah, tapi ada hikmahnya, di mana ini jadi pembelajaran buat kita jauh lebih kuat lagi, lebih mandiri lagi," kata perempuan itu.
Sementara itu, salah seorang penerima KIP Kuliah lainnya, Lusiana Banda (21) juga mengaku sangat terbantu dengan beasiswa KIP Kuliah. Pasalnya, uang beasiswa dari program itu sangat berfungsi untuk membantu keluarga yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Sangat sangat terbantu. Jadi kami enggak lagi bayar uang kuliah, bahkan dapat uang saku juga sekitar Rp 8,4 juta per semester. Jadi nggak minta orang tua lagi," mahasiswa semester enam jurusan Ilmu Komunikasi itu kepada Republika, Selasa (16/7/2024).
Perempuan asal Kabupaten Konawe itu memang ingin kuliah sejak masih duduk di bangku sekolah. Namun, ia tak pernah bermimpi untuk bisa kuliah di Jakarta. Beasiswa KIP Kuliah itu lah yang membawa Lusi bisa kuliah di Jakarta. "Soalnya kuliah ini kan biar bisa membanggakan orang tua dan membantu ekonomi keluarga," kata anak petani itu.
Sementara itu, orang tua Syifa, Acep Suherman (51), mengaku sangat terbantu dengan adanya beasiswa KIP Kuliah. Pasalnya, dengan beasiswa itu, anaknya bisa melanjutkan pendidikan sesuai kemauannya. "Alhamdulillah kami sangat bangga dengan perjuangan anak saya untuk mampu berkuliah," ujar dia.
Ia berharap, pendidikan yang ditempuh anaknya itu bisa membuat Syifa menjadi manusia yang bermanfaat dan dapat lebih mudah dalam mendapatkan rezeki. Apalagi, di keluarganya barus Syifa seorang yang bisa menempuh pendidikan hingga kuliah.