JAKARTA, investor.id – PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) atau Maybank Indonesia masih dihadapkan penurunan kinerja keuangan sampai dengan semester I-2024. Tercermin laba bersih konsolidasian yang anjlok sampai dengan 86,61% year on year (yoy) menjadi Rp 128,48 miliar.
Bayang-bayang merosotnya kinerja keuangan Maybank pada paruh pertama tahun ini didorong beberapa faktor. Salah satunya yakni pendapatan bunga dan syariah bersih (NII) yang turun 2,61% menjadi Rp 3,51 triliun, jika mengacu laporan keuangan perseroan.
Hal tersebut dipengaruhi beban bunga dan syariah Maybank yang melonjak signifikan 31,01% menjadi Rp 2,80 triliun. Sedangkan pendapatan bunga dan syariah cuma meningkat 9,91% menjadi Rp 6,31 triliun.
Tren lonjakan beban bunga dan syariah ini juga tercermin dari margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang dilaporkan terkoreksi 62 basis points (bps) menjadi 4,4%. Namun demikian penjelasan Maybank melalui keterangan resmi menyatakan bahwa NII sudah berhasil dikerek sedikit 0,4% secara quartal on quartal (qoq).
Di samping itu, laba bersih perusahaan juga tertekan imbas pergerakan beban provisi atas instrumen keuangan. Pos ini meningkat hampir dua kali lipat atau 90,78% menjadi Rp 910,89 triliun, utamanya dikerek instrumen penyisihan kerugian penurunan nilai untuk kredit dan pembiayaan syariah.
Selanjutnya, pendapatan berbasis biaya alias fee based income (FBI) pada semester I-2024 malah bergerak menurun. Sebagai perbandingan, fee based income BNII dibukukan sebesar Rp 820 miliar atau lebih rendah dari perolehan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,09 triliun.
“Hal ini disebabkan oleh kinerja Global Market (GM) yang terdampak oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan perubahan tren suku bunga global dan domestik. Namun demikian, pendapatan fee-based wealth management mencatat pertumbuhan sebesar 5,8% yang terdiri dari pendapatan fee bancassurance sebesar 8,4% dan investasi sebesar 3,5%,” demikian diungkapkan Maybank dalam keterangan resmi, belum lama ini.
Lebih lanjut, Maybank turut melaporkan tetap berinvestasi secara signifikan dalam rangka meningkatkan kapabilitas TI termasuk merealisasikan inisiatif-inisiatif M25+ untuk mendorong digitalisasi dan modernisasi perangkat teknologi. Dengan demikian, biaya overhead tercatat naik sebesar 6,4%.
Dari jumlah faktor tersebut, laba bersih tahun berjalan emiten bersandi BNII ini dicatatkan sebesar Rp 159,07 miliar atau turun 83,89% (yoy), dari sebelumnya Rp 987,47 miliar. Sedangkan laba bersih konsolidasian Maybank yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp 128,48 miliar juga turun 86,61% (yoy), dari Rp 959,76 miliar.
Kredit, CASA, dan NPL
Di sisi lain, Maybank menyatakan tetap melanjutkan fokusnya dalam meningkatkan kinerja bisnis intermediasi. Pada semester I-2024, BNII mencatat pertumbuhan kredit 11,9% mencapai Rp 123,03 triliun dibandingkan Rp 109,97 triliun tahun lalu.
Sejalan perkembangan kredit dan pembiayaan, Maybank mencatat pertumbuhan aset konsolidasi sebesar 14,2% menjadi Rp 189,16 triliun dari Rp 165,62 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Untuk aspek kualitas, rasio kredit macet (non performing loan/NPL) secara gross mencatat pemulihan dari 3,3% menjadi 2,7%. Sedangkan NPL net juga dilaporkan membaik dari posisi 2,2% menjadi 1,7%. Begitu pula saldo NPL menurun sebesar 10,7% dan rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 9,0% dari 11,5%.
Dari sisi liabilitas, simpanan nasabah tumbuh 4,7% menjadi Rp 115,58 triliun. Tren simpanan tersebut dinilai telah selaras dengan strategi Bank untuk meningkatkan dana murah, dimana CASA meningkat sebesar 10,6%.
Secara rinci, simpanan giro yang tumbuh 15,5% dan tabungan yang naik 3,5%. Sementara deposito berjangka menurun sebesar 0,8% dan sebesar 4,7% (qoq) sejalan dengan strategi pendanaan bank. Sehingga rasio CASA bisa didorong tumbuh menjadi 51,3% dari 48,6%.
Likuiditas Maybank cukup memadai namun juga menantang. Pada Juni 2024, loan to deposit ratio (LDR) Bank saja pada level 90,8% dan liquidity coverage ratio (LCR) Bank saja pada level sehat sebesar 169,6% atau jauh di atas ketentuan regulator.
Rasio Kecukupan Modal (capital adequacy ratio/CAR) tetap kuat pada level 23,5% dan common equity tier 1 (CET 1) sebesar 22,3% pada Juni 2024.
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News