#30 tag 24jam
Laba Bank Asing Ngebut Meski Pemain Susut, Ini Pemicunya
Laba bank asing mencatatkan laju pertumbuhan sebesar 24,26% YoY per Juli 2024. [534] url asal
#perbankan #laba-bank #laba-bank-asing #laba-bank-asing-juli-2024 #ojk
(Bisnis.Com - Finansial) 27/09/24 06:13
v/15613761/
Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa laba bersih bank umum mencapai Rp149,62 triliun per Juli 2024, tumbuh 6,03% secara tahunan (year on year/YoY) dari posisi Rp141,11 triliun. Laba bank asing mencatatkan laju pertumbuhan paling signifikan sebesar 24,26% YoY.
Pertumbuhan ini terjadi di tengah jumlah bank asing di Tanah Air yang tersisa 7 pemain per Juli 2024. Jumlah itu tak berubah sejak Desember 2022, tetapi lebih sedikit dibandingkan dengan data pada Desember 2021 yang sebanyak 8 bank. Aksi merger Bank Commonwealth Indonesia dengan OCBC NISP per 1 September 2024 lalu menambah panjang daftar tersebut.
Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch. Amin Nurdin menjelaskan bahwa pertumbuhan laba bank asing menunjukkan efisiensi operasi bisnis yang dijalankan di Indonesia.
“Bank asing terkenal sangat efisien, entah dengan digitalisasi, entah dengan penyempurnaan proses bisnis, penyederhanaan, dan seterusnya. Itu bank asing pasti unggul,” katanya saat dihubungiBisnis, Kamis (26/9/2024).
Lebih lanjut, keunggulan itu juga ditopang oleh keunggulan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki bank asing. Komitmen dari headquarter alias kantor asal negara bank tersebut dari segi dukungan modal hingga operasional juga menjadi nilai tambah yang bermuara pada pertumbuhan laba.
Sementara itu, Amin tidak melihat adanya signifikansi penyusutan jumlah bank asing terhadap laba bersih yang diperoleh. Pasalnya, hal tersebut berkaitan erat denganmarket sharedan pertumbuhan laba yang lebih banyak diukur dengan persentase.
“Kalau persentase [laba]-nya bagus, pertumbuhannya akan bagus. Kan melihatnya dari persentase dan market share, seberapa besar market share-nya. Kita mesti lihat lebih dalam, mungkin market share bank asing di Indonesia hanya 10%, [terbilang] kecil,” terangnya.
Mengenai langkah bank asing yang undur diri dari persaingan perbankan nasional, dia menilai bahwa hal itu cenderung merupakan keputusan bisnis yang ditetapkan oleh headquarter masing-masing bank. Bank asing memiliki opsi yang lebih kuat di negara asalnya dengan mendominasi segmen korporasi maupun investment banking.
“Sangat sedikit yang bermain atau berhasil bermain pada [segmen] konsumer maupun komersial di negara lain. Sudah dapat dipastikan ini bagian dari strategi head office-nya, sehingga mereka menarik diri dari pasar,” jelas Amin.
Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK terbaru, kantor cabang bank luar negeri (KCLBN) alias bank asing mencetak laba bersih Rp8,4 triliun per Juli 2024, tumbuh signifikan dari level Rp6,76 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Porsi yang ditempati bank asing dari keseluruhan laba perbankan nasional pada Juli 2024 ialah sebanyak 5,61%.
Perolehan laba bank asing mengungguli kelompok bank pembangunan daerah (BPD) yang mencatatkan laba Rp7,81 triliun hingga bulan ketujuh tahun ini. Kendati naik sebesar Rp1 triliun secara bulanan, capaian laba BPD masih minus 4,17% dari perolehan pada Juli 2023 sebesar Rp8,15 triliun.
Di atas bank asing, terdapat bank swasta yang membukukan laba Rp58,57 triliun pada Juli 2024, tumbuh 8,91% dari posisi Rp53,78 triliun pada Juli 2023. Laba bank swasta pun menguasai 39,15% perolehan laba perbankan nasional.
Nilai laba bersih bank BUMN per Juli 2024 masih menjadi nomor wahid. Data OJK menunjukkan bahwa kelompok bank Persero mencetak laba bersih sebesar Rp74,84 triliun hingga bulan ketujuh tahun ini, naik 3,34% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan nominal Rp72,42 triliun. Kelompok bank pelat merah pun mendominasi laba bersih industri secara keseluruhan dengan persentase mencapai 50,02%.
Laba Bank Asing Paling 'Ngebut' Meski Jumlah Pemain Kian Susut
Per Juli 2024, laba bank asing mencatatkan laju pertumbuhan paling signifikan di antara kelompok bank lain, yaitu sebesar 24,26%. [485] url asal
#laba-bank-asing #laba-bank-asing-di-indonesia #bank-asing #bank-asing-di-indonesia #laba-bank #kinerja-bank
(Bisnis.Com - Finansial) 25/09/24 19:25
v/15546730/
Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa laba bersih bank umum mencapai Rp149,62 triliun per Juli 2024, tumbuh 6,03% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari posisi Rp141,11 triliun. Laba bank asing mencatatkan laju pertumbuhan paling signifikan sebesar 24,26% YoY.
Mengutip Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK terbaru pada Selasa (24/9/2024), kantor cabang bank luar negeri (KCLBN) alias bank asing mencetak laba bersih Rp8,4 triliun per Juli 2024, tumbuh signifikan dari level Rp6,76 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Porsi yang ditempati bank asing dari keseluruhan laba perbankan nasional pada Juli 2024 ialah sebanyak 5,61%.
Data terbaru menunjukkan, jumlah bank asing yang merupakan KCLBN di Indonesia hanya sebanyak 7 bank. Jumlah ini menurun dibandingkan dengan data pada Desember 2021 yang sebanyak 8 bank. Jumlah 7 bank asing ini bertahan sejak Desember 2022 hingga data terkini yang dirilis per Juli 2024.
Perolehan laba bank asing mengungguli kelompok bank pembangunan daerah (BPD) yang mencatatkan laba Rp7,81 triliun hingga bulan ketujuh tahun ini. Kendati naik sebesar Rp1 triliun secara bulanan, capaian laba BPD masih minus 4,17% dari perolehan pada Juli 2023 sebesar Rp8,15 triliun.
Di atas bank asing, terdapat bank swasta yang membukukan laba Rp58,57 triliun pada Juli 2024, tumbuh 8,91% dari posisi Rp53,78 triliun pada Juli 2023. Laba bank swasta pun menguasai 39,15% perolehan laba perbankan nasional.
Nilai laba bersih bank BUMN per Juli 2024 masih menjadi nomor wahid. DataOJKmenunjukkan bahwa kelompok bank Persero mencetak laba bersih sebesar Rp74,84 triliun hingga bulan ketujuh tahun ini, naik 3,34% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan nominal Rp72,42 triliun.
Kelompok bank pelat merah pun mendominasi laba bersih industri secara keseluruhan dengan persentase mencapai 50,02%.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyiratkan bahwa segmen bank asing di Tanah Air masih prospektif dengan terus membaiknya iklim investasi usai pandemi Covid-19 berlalu.
Hal ini disampaikannya sebagai respons atas langkah sejumlah bank asing yang meninggalkan pasar Indonesia. Aksi merger Bank Commonwealth Indonesia dengan OCBC NISP per 1 September 2024 lalu menambah panjang daftar tersebut.
“Itu menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi investor baik lokal maupun asing. Prospek kinerja bank asing di Indonesia tentunya masih sesuai dengan harapan, dengan porsi terhadap industri yang tetap terjaga dengan baik,” katanya dalam jawaban tertulis, dikutip Minggu (15/9/2024).
Dian menjelaskan, keputusan bank asing untuk bertahan maupun meninggalkan palagan industri perbankan Indonesia ada pada headquarter alias kantor pusat bank terkait. Menurutnya, keputusan itu tak hanya diterapkan di Indonesia, melainkan juga di pasar negara lain.
Selain itu, OJK juga disebutnya tak hanya memberikan dukungan terhadap peningkatan daya saing perbankan kepada bank 'asli Indonesia', tetapi juga bank asing yang beroperasi di Tanah Air.
“Namun demikian, pada prinsipnya OJK akan senantiasa mendukung rencana strategis terbaik yang diambil dari masing-masing bank dengan tetap memastikan stabilitas sistem keuangan sebagai dampak keputusan-keputusan strategis dimaksud,” paparnya.
Perbankan RI Raup Laba Rp149,62 Triliun per Juli 2024, Siapa Paling Bersinar?
Industri perbankan dalam 7 bulan pertama mencetak laba bersih Rp149,62 triliun pada Juli 2024. Capaian tersebut naik 6,03% yoy. [819] url asal
#laba-bank-juli-2024 #kinerja-bank-2024 #laba-bank-bumn #laba-bank-swasta #laba-bpd #laba-bank-asing #laba-bank
(Bisnis.Com - Finansial) 24/09/24 12:20
v/15481518/
Bisnis.com, JAKARTA – Industri perbankan dalam tujuh bulan pertama tahun ini mencetak laba bersih Rp149,62 triliun pada Juli 2024. Capaian tersebut naik 6,03% yoy dari sebelumnya Rp141,11 triliun pada Juli 2023.
Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh mini 2,71% yoy menjadi Rp314,79 triliun per Juli 2024. Dari sisi margin bunga bersih alias NIM sendiri naik menjadi 4,59% dari 4,57%.
Head of Research LPPI Trioksa Siahaan memproyeksikan perolehan laba pada semester II/2024 akan membaik dibanding semester I/2024 dengan kondisi tren penurunan suku bunga.
“Namun, memanasnya geopolitik global juga perlu diantisipasi karena dapat memicu kenaikan harga minyak dan inflasi yang berujung pada kenaikan suku bunga,” katanya kepada Bisnis, Selasa (24/9/2024).
Dia menyebut pertumbuhan laba akan bervariasi tiap kelompok bank, akan tetapi secara umum hanya akan menyentuh single digit. Pasalnya, BI Rate yang sempat menyentuh 6,25% berpengaruh pada biaya dana (cost of fund/CoF) yang membebani bank.
“Meski BI Rate sudah turun 6%, akan tetapi penyesuaian bunga juga butuh waktu,” ujarnya.
Jika dilihat berdasarkan kepemilikannya, bank persero atau bank BUMN mencetak laba Rp74,84 triliun, naik 3,34% yoy dibandingkan dengan Rp72,42 triliun pada Juli 2023. Secara bulanan, laba ini naik 23,09 triliun dari Juni 2024. Nilai laba kelompok bank milik negara ini menjadi yang terbesar dibandingkan dengan kelompok bank lainnya.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo sebelumnya menyampaikan dengan penurunan suku bunga acuan akan berdampak pada pelonggaran likuiditas dan dari sisi pertumbuhan kredit dapat dipacu kembali.
“Ya moga-moga [suku bunga acuan turun] maka ke depan likuiditas bank akan lebih longgar, dan dari sisi pertumbuhan kredit bisa dipertimbangkan revisi naik, laba akhir tahun masih tumbuh single digit,” ujarnya kepada Bisnis yang dikutip Selasa (24/9/2024).
Sementara itu, Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencetak laba Rp7,81 triliun per Juli 2024. Secara bulanan, laba BPD ini memang naik Rp1 triliun. Akan tetapi, bila dilihat secara tahunan, capaian ini turun 4,07% yoy dari periode yang sama tahun lalu mencapai Rp8,15 triliun.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum II Asbanda Busrul Iman menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut, antara lain berkaitan dengan biaya dana alias cost of fund serta pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
“Laba terkontraksi secara umum ada beberapa faktor, antara lain tingginya biaya dana yang dialami oleh beberapa BPD serta pembentukan CKPN,” katanya.
Dia melanjutkan, pembentukan CKPN dilakukan sejumlah bank daerah sebagai upaya peningkatan pemenuhan coverage ratio atau rasio kecukupan likuiditas.
Selanjutnya kelompok Bank Swasta Nasional mencatat laba Rp58,57 triliun, atau naik Rp4,79 triliun secara bulanan. Secara tahunan laba ini naik 8,9% yoy dibanding periode sebelumnya yaitu Rp53,78 triliun per Juli 2023.
Terakhir, Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) mencatatkan laba Juli sebesar Rp8,4 triliun, naik signifikan Rp7,27 triliun pada Juni 2024, dan meningkat 24,13% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,76 triliun pada Juli 2023.
Bank Pede Kinerja Semester II/2024
Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa pihaknya optimistis ada potensi pertumbuhan yang lebih baik pada semester II/2024 dibandingkan dengan semester I/2024
"Kalau semester I/2024 kita masih banyak berada di pertumbuhan di bawah market karena memang fokus pada perbaikan fundamental, tapi progres terakhir bahwa kita bisa mampu tumbuh secara lebih positif," ujarnya.
BNI bahkan merevisi naik target pertumbuhan kreditnya tahun ini, dari semula ditargetkan tumbuh 9%—11% YoY, kini dinaikkan menjadi 10%—12% YoY. Adapun, realisasi kredit BNI per semester I/2024 mampu tumbuh 11,7% YoY.

Tak hanya BNI, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan pemangkasan suku bunga acuan ini akan berdampak baik pada BRI.
“Karena BRI secara keseluruhan memang balance sheet-nya itu sensitif terhadap liabilitas, artinya suku bunga dana. Maka kalau ada penurunan di situ, kita akan sangat diuntungkan,” ucapnya.
Menurut dia, dengan penurunan BI Rate dapat membantu memperbaiki kondisi likuiditas perbankan, yang pada gilirannya bank dapat menumbuhkan kembali segmen mikro dan ultra mikro.
Pasalnya, dengan suku bunga acuan yang turun, membuat terjadinya peningkatan uang beredar dan daya beli masyarakat serta konsumsi rumah tangga yang ikut menguat, dan ini menjadi faktor pendorong utama untuk permintaan pinjaman di segmen tersebut. “Dan itu sebetulnya adalah driver utama daripada loan demand di mikro,” ungkap Sunarso.
Managing Director Country Head of Insitutional Banking Group DBS Indonesia Kunardy Lie juga mengatakan suku bunga yang tinggi sempat menjadi tantangan bagi perseroan.
Tercatat, DBS Indonesia mengalami penyusutan laba sebesar 4,85% yoy menjadi Rp844,95 miliar dari sebelumnya Rp887,98 miliar per semester I/2024
Dia mengatakan sejauh ini saat BI Rate 6,25%, bank memberikan pinjaman dengan bunga yang sama dengan bunga yang mereka bayar kepada deposan, alhasil bank tersebut tidak akan mendapatkan margin keuntungan yang cukup.
“Sehingga DBS tidak bisa hanya mengandalkan bisnis yang terlalu kovensional, apa yang harus kita kerjakan adalah menambah cross seling, tidak hanya memberikan utang, tapi juga bagaimana kita mendapatkan flow bisnis yang menambah income,” ucapnya kepada Bisnis.
Laba Perbankan RI Semester I/2024: Bank BUMN Mendominasi, Asing Paling Melaju
Berdasarkan SPI OJK, bank BUMN masih mendominasi perolehan laba bersih perbankan nasional hingga paruh pertama 2024. [785] url asal
#laba-perbankan-2024 #laba-perbankan-ri #laba-bank-bumn-2024 #kinerja-bank-bumn #laba-bank-swasta #laba-bank-asing #laba-bpd #spi-ojk
(Bisnis.Com - Finansial) 04/09/24 17:48
v/14888121/
Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa laba bersih bank umum hingga semester I/2024 mencapai Rp126,52 triliun atau naik 5,46% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari posisi Rp119,97 triliun pada Juni 2023.
Mengutip Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK terbaru pada Rabu (4/9/2024), berdasarkan kelompok bank, bank pelat merah atau bank BUMN masih menguasai porsi terbesar dalam perolehan laba bersih perbankan nasional hingga paruh pertama 2024.
Data OJK menunjukkan bahwa kelompok bank persero mencetak laba bersih sebesar Rp65,03 triliun sepanjang semester I/2024, naik 6,68% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan nominal Rp60,96 triliun. Kelompok ini pun mendominasi raupan laba bersih industri secara keseluruhan dengan persentase 51,4%.
Di bawah bank BUMN, terdapat bank swasta yang membukukan laba Rp46,83 triliun pada paruh pertama 2024, tumbuh 2,61% dari posisi Rp45,64 triliun pada Juni 2023. Laba bank swasta menguasai 37,01% perolehan laba perbankan nasional pada semester I/2024.
Kelompok kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri alias bank asing bertengger di urutan berikutnya dengan raupan laba Rp7,13 triliun per Juni 2024, sekaligus mencatatkan laju pertumbuhan dobel digit sebesar 15,75% dari level Rp6,16 triliun pada tahun sebelumnya. Bank asing menempati porsi 5,64% dari keseluruhan laba perbankan nasional pada semester I/2024.
Sementara itu, penyusutan laba bersih terjadi pada kelompok bank pembangunan daerah (BPD). Pada Juni 2024, BPD membukukan laba Rp6,82 triliun, turun 5,41% dari perolehan per Juni 2023 sebesar Rp7,21 triliun. BPD pun finis terakhir dalam porsi laba perbankan secara keseluruhan sepanjang enam bulan pertama 2024, dengan persentase 5,39%.
Apabila diselisik dari sisi pemain, kelompok bank BUMN tak lain ditopang oleh bank besar yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. alias BNI (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN).
BNI membukukan laba bersih senilai Rp10,7 triliun pada semester I/2024, tumbuh 3,8% secara tahunan dari level Rp10,3 triliun.
BRI mencetak laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan ke pemilik sebesar Rp29,92 triliun atau tumbuh 0,95% yoy, selagi Bank Mandiri mencatatkan realisasi laba bersih secara konsolidasi tumbuh 5,23% yoy menjadi Rp26,6 triliun.
BTN tercatat membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun, naik 1,9% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp1,47 triliun.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) mengukuhkan posisinya sebagai bank swasta terbesar hingga Juni 2024. BCA beserta entitas anak membukukan laba senilai Rp26,9 triliun pada semester I/2024 alias tumbuh 11,1% yoy.
Meskipun laba perbankan pada semester I/2024 masih mengalami pertumbuhan, kondisi suku bunga global yang masih tinggi menjadi tantangan saat ini.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae sebelumnya menyatakan selain suku bunga global yang tinggi, industri perbankan juga menghadapi kenaikan biaya dana akibat perebutan dana murah di pasar.
“Sementara, suku bunga kredit saat ini tergolong stabil di tengah suku bunga DPK yang meningkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2024).
Dian pun menyebutkan jika sejumlah bank melakukan revisi turun laba pada akhir tahun ini. Namun, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada akhir 2024 diproyeksi masih tergolong stabil dibandingkan dengan NIM pada semester I/2024.
Dalam public expose minggu lalu, BNI membeberkan strategi agar kinerja laba perseroan tetap tumbuh hingga akhir tahun.
Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa pihaknya optimistis ada potensi pertumbuhan yang lebih baik pada semester II/2024 dibandingkan dengan semester I/2024.
"Kalau semester I/2024 kita masih banyak berada di pertumbuhan di bawah market karena memang fokus pada perbaikan fundamental, tapi progres terakhir bahwa kita bisa mampu tumbuh secara lebih positif," ujarnya dalam Public Expose Live, Jumat (30/8/2024).
Berdasarkan presentasi perusahaan, BNI telah merevisi beberapa target pertumbuhan yang sempat dipatok pada awal tahun. Misalnya, kredit yang pada awal tahun ditargetkan tumbuh 9%—11% (YoY), kini dinaikkan menjadi 10%—12% (YoY).
Adapun, secara realisasi per semester I/2024 kredit mampu tumbuh 11,7%. Selanjutnya, rasio margin bunga bersih bank only yang semula pada awal tahun sempat ditargetkan ≥4,5%, kini menjadi ≥4%. Sementara itu, capaian NIM per semester I/2024 berada di level 4%.
Selain itu, biaya kredit (cost of credit) bank only dari semula alias awal tahun ditargetkan kurang 1,4%, saat ini menjadi ±1%. Adapun, realisasi biaya kredit per semester I/2024 yakni 1%.
Lebih lanjut, kata dia, perolehan margin juga akan sangat bergantung dengan bagaimana kemampuan BNI menjaga biaya dana (cost of fund/CoF)pada semester II/2024.
"Kami proyeksikan di kuartal IV/2024 terjadi pengurangan suku bunga, jadi kami melihat ini sebagai positive impact yang bisa memperbaiki sisi cost of fund kami," ujarnya.