#30 tag 24jam
Ramalan Kinerja Bank usai BI Rate Turun, Bisa Lepas Landas?
Apakah kinerja bank bisa mengalami pertumbuhan signifikan usai BI memangkas suku bunga acuan atau BI Rate? [699] url asal
#kinerja-bank #proyeksi-kinerja-bank-2024 #proyeksi-laba-bank-2024 #suku-bunga-acuan #suku-bunga-bi #bi-rate #bi-rate-turun #ojk
(Bisnis.Com - Finansial) 02/10/24 10:30
v/15852595/
Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja perbankan dari sisi laba masih membukukan pertumbuhan single digit hingga Juli 2024. Sementara, kredit tumbuh 11,40% secara tahunan (YoY) per Agustus 2024. Lantas, apakah kinerja bank bisa mengalami pertumbuhan signifikan usai BI memangkas suku bunga acuan atau BI Rate?
Sebagaimana diketahui, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 6,25% menjadi 6,00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan lalu. Keputusan ini menjadi penurunan suku bunga pertama sejak Februari 2021.
Pelonggaran kebijakan ini merupakan hal yang dinanti-nanti perbankan. Pasalnya, penurunan BI Rate diharapkan bisa menekan biaya dana atau cost of fund perbankan, yang pada akhirnya dapat mendongkrak permintaan kredit saat transmisi pemangkasan BI Rate terefleksi ke penurunan suku bunga kredit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan penurunan BI Rate akan mempengaruhi biaya dana di pasar uang, yang juga menjadi salah satu sumber likuiditas perbankan.
Dari sini, penurunan suku bunga, baik global maupun dalam negeri, pada akhirnya akan mempengaruhi suku bunga simpanan atau cost of fund perbankan Indonesia.
"Kemudian terkait dengan penurunan cost of fund itu juga akan berpengaruh positif pada tingkat profitabilitas perbankan, dengan penurunan cost of fund pada gilirannya akan mendorong penurunan suku bunga kredit," jelasnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan September 2024 pada Selasa (1/10/2024).
Dian menjelaskan dalam kondisi suku bunga kredit yang lebih rendah, maka hal ini akan mendorong ekspansi usaha atau pertumbuhan kredit yang meningkat.
Semakin tinggi penyaluran kredit, akan berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan pendapatan agregat masyarakat dan sekaligus meningkatkan kemampuan membayar masyarakat.
Dengan demikian, risiko kredit perbankan secara menyeluruh akan ikut menurun. Namun, saat ini suku bunga kredit bank masih relatif stabil karena perbankan mempertimbangkan aspek permintaan dan juga risiko kredit.
Sampai saat ini, lanjut Dian, risiko kredit masih relatif terjaga dengan daya tahan bank menyerap risiko yang tergolong kuat sebagaimana terlihat dari tingkat permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) yang tinggi, dengan didukung tingkat profitabilitas yang baik meskipun dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang sedikit menurun.
"Ke depannya, tentu penurunan Fed Fund Rate atau FFR yang lebih tinggi dibandingkan penurunan suku bunga acuan BI diharapkan dapat memberikan ruang untuk aliran modal masuk asing [foreign capital inflow]," jelas Dian.
Prediksi Bankir
Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar menyampaikan harapan kondisi likuiditas perbankan membaik dan permintaan kredit meningkat dengan adanya penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral. Menurutnya, saat ini suku bunga kredit masih stabil di tengah kondisi likuiditas yang mengetat.
“Memang kreditnya yang [menjadi] challenge. Kita ingin tumbuhnya agak kencang, tetapi [suku] bunga kan belum turun,” katanya kepada wartawan di Menara BNI, Jakarta Pusat, Senin (30/9/2024).
Kendati demikian, Royke mengatakan tidak ada masalah berarti dalam kinerja perseroan hingga kuartal III tahun ini. Hal ini tecermin dari kinerja per Agustus 2024 yang dinilai masih on track, meskipun terdapat beberapa bagian seperti penyaluran kredit yang menghadapi tantangan.
Ketika ditanya perihal angka pertumbuhan kredit BNI hingga bulan kesembilan tahun ini, Royke memperkirakannya pada kisaran 10% secara tahunan.
Dia juga memproyeksikan pertumbuhan kredit tetap dobel digit hingga akhir 2024, dengan segmen korporasi dan konsumer yang menjadi penopang utama. “Masih [didominasi] corporate. Corporate dan konsumer,” ujarnya.
Dampak ke Kinerja BPD
Sementara itu, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) menyambut positif penurunan suku bunga acuan.
Ketua Umum Asbanda Yuddy Renaldi menjelaskan bahwa biaya dana alias cost of fund kelompok bank pembangunan daerah (BPD) dapat lebih longgar usai keputusan bank sentral Tanah Air tersebut.
“Turunnya BI Rate tentu akan mengurangi tekanan terhadap biaya dana perbankan termasuk BPD karena suku bunga yang diberikan kepada deposan pun akan menyesuaikan [penurunan],” katanya kepada Bisnis melalui pesan singkat, Kamis (26/9/2024).
Dia melanjutkan, tekanan terhadap biaya dana yang dikeluarkan BPD pun dapat kembali berkurang. Hal ini berdasarkan adanya kemungkinan untuk penurunan suku bunga acuan kembali pada kuartal IV/2024.
Ketika ditanya perihal proyeksi kinerja bank daerah hingga akhir tahun, Yuddy memperkirakan bahwa capaian pada semester II/2024 dapat lebih baik dibandingkan paruh pertama tahun ini, tetapi dengan satu syarat.
“Sepanjang kualitas kredit terjaga, saya kira kinerja BPD di akhir tahun dapat lebih baik jika dibandingkan dengan semester pertama tahun ini,” tutur Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten alias Bank BJB (BJBR) ini.
Perbankan RI Raup Laba Rp149,62 Triliun per Juli 2024, Siapa Paling Bersinar?
Industri perbankan dalam 7 bulan pertama mencetak laba bersih Rp149,62 triliun pada Juli 2024. Capaian tersebut naik 6,03% yoy. [819] url asal
#laba-bank-juli-2024 #kinerja-bank-2024 #laba-bank-bumn #laba-bank-swasta #laba-bpd #laba-bank-asing #laba-bank
(Bisnis.Com - Finansial) 24/09/24 12:20
v/15481518/
Bisnis.com, JAKARTA – Industri perbankan dalam tujuh bulan pertama tahun ini mencetak laba bersih Rp149,62 triliun pada Juli 2024. Capaian tersebut naik 6,03% yoy dari sebelumnya Rp141,11 triliun pada Juli 2023.
Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh mini 2,71% yoy menjadi Rp314,79 triliun per Juli 2024. Dari sisi margin bunga bersih alias NIM sendiri naik menjadi 4,59% dari 4,57%.
Head of Research LPPI Trioksa Siahaan memproyeksikan perolehan laba pada semester II/2024 akan membaik dibanding semester I/2024 dengan kondisi tren penurunan suku bunga.
“Namun, memanasnya geopolitik global juga perlu diantisipasi karena dapat memicu kenaikan harga minyak dan inflasi yang berujung pada kenaikan suku bunga,” katanya kepada Bisnis, Selasa (24/9/2024).
Dia menyebut pertumbuhan laba akan bervariasi tiap kelompok bank, akan tetapi secara umum hanya akan menyentuh single digit. Pasalnya, BI Rate yang sempat menyentuh 6,25% berpengaruh pada biaya dana (cost of fund/CoF) yang membebani bank.
“Meski BI Rate sudah turun 6%, akan tetapi penyesuaian bunga juga butuh waktu,” ujarnya.
Jika dilihat berdasarkan kepemilikannya, bank persero atau bank BUMN mencetak laba Rp74,84 triliun, naik 3,34% yoy dibandingkan dengan Rp72,42 triliun pada Juli 2023. Secara bulanan, laba ini naik 23,09 triliun dari Juni 2024. Nilai laba kelompok bank milik negara ini menjadi yang terbesar dibandingkan dengan kelompok bank lainnya.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo sebelumnya menyampaikan dengan penurunan suku bunga acuan akan berdampak pada pelonggaran likuiditas dan dari sisi pertumbuhan kredit dapat dipacu kembali.
“Ya moga-moga [suku bunga acuan turun] maka ke depan likuiditas bank akan lebih longgar, dan dari sisi pertumbuhan kredit bisa dipertimbangkan revisi naik, laba akhir tahun masih tumbuh single digit,” ujarnya kepada Bisnis yang dikutip Selasa (24/9/2024).
Sementara itu, Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencetak laba Rp7,81 triliun per Juli 2024. Secara bulanan, laba BPD ini memang naik Rp1 triliun. Akan tetapi, bila dilihat secara tahunan, capaian ini turun 4,07% yoy dari periode yang sama tahun lalu mencapai Rp8,15 triliun.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum II Asbanda Busrul Iman menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut, antara lain berkaitan dengan biaya dana alias cost of fund serta pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
“Laba terkontraksi secara umum ada beberapa faktor, antara lain tingginya biaya dana yang dialami oleh beberapa BPD serta pembentukan CKPN,” katanya.
Dia melanjutkan, pembentukan CKPN dilakukan sejumlah bank daerah sebagai upaya peningkatan pemenuhan coverage ratio atau rasio kecukupan likuiditas.
Selanjutnya kelompok Bank Swasta Nasional mencatat laba Rp58,57 triliun, atau naik Rp4,79 triliun secara bulanan. Secara tahunan laba ini naik 8,9% yoy dibanding periode sebelumnya yaitu Rp53,78 triliun per Juli 2023.
Terakhir, Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) mencatatkan laba Juli sebesar Rp8,4 triliun, naik signifikan Rp7,27 triliun pada Juni 2024, dan meningkat 24,13% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,76 triliun pada Juli 2023.
Bank Pede Kinerja Semester II/2024
Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa pihaknya optimistis ada potensi pertumbuhan yang lebih baik pada semester II/2024 dibandingkan dengan semester I/2024
"Kalau semester I/2024 kita masih banyak berada di pertumbuhan di bawah market karena memang fokus pada perbaikan fundamental, tapi progres terakhir bahwa kita bisa mampu tumbuh secara lebih positif," ujarnya.
BNI bahkan merevisi naik target pertumbuhan kreditnya tahun ini, dari semula ditargetkan tumbuh 9%—11% YoY, kini dinaikkan menjadi 10%—12% YoY. Adapun, realisasi kredit BNI per semester I/2024 mampu tumbuh 11,7% YoY.

Tak hanya BNI, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan pemangkasan suku bunga acuan ini akan berdampak baik pada BRI.
“Karena BRI secara keseluruhan memang balance sheet-nya itu sensitif terhadap liabilitas, artinya suku bunga dana. Maka kalau ada penurunan di situ, kita akan sangat diuntungkan,” ucapnya.
Menurut dia, dengan penurunan BI Rate dapat membantu memperbaiki kondisi likuiditas perbankan, yang pada gilirannya bank dapat menumbuhkan kembali segmen mikro dan ultra mikro.
Pasalnya, dengan suku bunga acuan yang turun, membuat terjadinya peningkatan uang beredar dan daya beli masyarakat serta konsumsi rumah tangga yang ikut menguat, dan ini menjadi faktor pendorong utama untuk permintaan pinjaman di segmen tersebut. “Dan itu sebetulnya adalah driver utama daripada loan demand di mikro,” ungkap Sunarso.
Managing Director Country Head of Insitutional Banking Group DBS Indonesia Kunardy Lie juga mengatakan suku bunga yang tinggi sempat menjadi tantangan bagi perseroan.
Tercatat, DBS Indonesia mengalami penyusutan laba sebesar 4,85% yoy menjadi Rp844,95 miliar dari sebelumnya Rp887,98 miliar per semester I/2024
Dia mengatakan sejauh ini saat BI Rate 6,25%, bank memberikan pinjaman dengan bunga yang sama dengan bunga yang mereka bayar kepada deposan, alhasil bank tersebut tidak akan mendapatkan margin keuntungan yang cukup.
“Sehingga DBS tidak bisa hanya mengandalkan bisnis yang terlalu kovensional, apa yang harus kita kerjakan adalah menambah cross seling, tidak hanya memberikan utang, tapi juga bagaimana kita mendapatkan flow bisnis yang menambah income,” ucapnya kepada Bisnis.
Simak! Prediksi Bisnis Bank dari OJK saat Suku Bunga Acuan Mulai Longgar
OJK menyampaikan proyeksi kinerja perbankan Indonesia jika suku bunga The Fed mulai menurun, yang diharapkan diikuti oleh BI Rate. [687] url asal
#ojk #kinerja-perbankan-indonesia #proyeksi-kinerja-perbankan #kinerja-bank-2024 #suku-bunga-the-fed #suku-bunga-acuan #bi-rate
(Bisnis.Com - Finansial) 12/09/24 09:45
v/14976354/
Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi bisnis perbankan Indonesia akan lebih stabil seiring dengan sinyal penurunan suku bunga The Fed yang diperkirakan akan terjadi pada September ini.
Untuk diketahui, sejumlah ekonom memproyeksikan langkah bank sentral diharapkan dapat diikuti oleh Bank Indonesia (BI) dengan pemangkasan BI Rate. Untuk diketahui, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20 dan 21 Agustus 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 6,25%.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa penurunan suku bunga acuan kemungkinan tidak akan langsung berdampak pada bisnis bank, terutama karena ada time lag dalam penyesuaian suku bunga kredit.
“Jadi, memang ada time lag, sehingga justru harapan kita justru tidak berdampak apa-apa jadinya nanti. Bisa netralisir begitu kan,” ujarnya saat ditemui di DPR, Selasa (11/9/2024).
Dia menuturkan, jika suku bunga acuan dibiarkan tinggi terlalu lama, hal tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi suku bunga kredit yang diberikan oleh bank kepada nasabah.
“Nah, mudah-mudahan kalau September itu jadi penurunan tingkat suku bunga acuan. Harapan kita mungkin bisnis kita secara keseluruhan, bank maupun dunia bisnis kita akan lebih stabil,” ujarnya.
Dian juga menyebutkan bahwa penurunan suku bunga ini berpotensi meningkatkan laba perbankan, usai margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tertekan karena kenaikan suku bunga.
Pengurangan NIM ini, katanya, dilakukan sebagai langkah kompensasi atas kenaikan tingkat suku bunga yang tidak disesuaikan dengan suku bunga kredit.
Kondisi Bank
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI (BBRI) misalnya yang menjadi salah satu pemain bank yang kian menanti penurunan suku bunga acuan karena dapat memberi ruang perbaikan bagi kinerja bisnis perseroan.
Direktur Utama BRI Sunarso memproyeksikan ruang penurunan suku bunga akan sangat terbuka, di mana The Fed akan menurunkan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin, yang diharapkan pemangkasan ini dapat diikuti oleh Bank Indonesia dalam menentukan BI Rate.
“Kemudian ini akan berdampak baik pada BRI, karena BRI secara keseluruhan memang balance sheet-nya itu sensitif terhadap liabilitas, artinya suku bunga dana. Maka kalau ada penurunan di situ, kita akan sangat diuntungkan,” ucapnya.
Menurut Sunarso, penurunan BI Rate dapat membantu memperbaiki kondisi likuiditas perbankan, yang pada gilirannya memungkinkan bank untuk menumbuhkan kembali segmen mikro dan ultra mikro.
Pasalnya, dengan suku bunga acuan yang turun, membuat terjadinya peningkatan uang beredar dan daya beli masyarakat serta konsumsi rumah tangga yang ikut menguat, dan ini menjadi faktor pendorong utama untuk permintaan pinjaman di segmen tersebut. “Dan itu sebetulnya adalah driver utama daripada loan demand di mikro,” katanya.
Tak hanya BRI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menyiapkan berbagai cara agar kinerja laba perseroan tetap tumbuh hingga akhir 2024. Pada saat yang sama, industri menghadapi tantangan tingginya suku bunga acuan BI.
Sebagaimana diketahui, BNI mencatatkan perolehan laba bersih konsolidasi senilai Rp10,7 triliun pada semester I/2024, tumbuh 3,8% (year-on-year/YoY) dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,3 triliun.
Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa pihaknya optimistis ada potensi pertumbuhan yang lebih baik pada semester II/2024 dibandingkan dengan semester I/2024.
"Kalau semester I/2024 kita masih banyak berada di pertumbuhan di bawah market karena memang fokus pada perbaikan fundamental, tapi progres terakhir bahwa kita bisa mampu tumbuh secara lebih positif," ujarnya.
Berdasarkan presentasi perusahaan, BNI telah merevisi beberapa target pertumbuhan yang sempat dipatok pada awal tahun. Misalnya, kredit yang pada awal tahun ditargetkan tumbuh 9%—11% (YoY), kini dinaikkan menjadi 10%—12% (YoY). Adapun, secara realisasi per semester I/2024 kredit mampu tumbuh 11,7%.
Selanjutnya, rasio margin bunga bersih NIM bank only yang semula pada awal tahun sempat ditargetkan ≥4,5%, kini menjadi ≥4%. Sementara itu, capaian NIM per semester I/2024 berada pada level 4%.
Selain itu, biaya kredit (cost of credit) bank only dari semula alias awal tahun ditargetkan kurang 1,4%, saat ini menjadi ±1%. Adapun, realisasi biaya kredit per semester I/2024 yakni 1%.
Lebih lanjut, kata dia, perolehan margin juga akan sangat bergantung dengan bagaimana kemampuan BNI menjaga biaya dana (cost of fund/CoF) pada semester II/2024.
"Kami proyeksikan di kuartal IV/2024 terjadi pengurangan suku bunga, jadi kami melihat ini sebagai positive impact yang bisa memperbaiki sisi cost of fund kami," ujarnya.
Kisi-Kisi Kinerja Perbankan RI setelah BI Tahan Suku Bunga 6,25%
Simak proyeksi kinerja perbankan Indonesia hingga akhir tahun di tengah tren suku bunga acuan yang tetap pada level 6,25%. [627] url asal
#kinerja-bank #proyeksi-kinerja-bank-2024 #proyeksi-laba-bank-2024 #suku-bunga-acuan #suku-bunga-bi #bi-rate #bi-rate-6 #25
(Bisnis.Com - Finansial) 22/08/24 12:00
v/14523387/
Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 6,25% saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2024. Gubernur BI Perry Warjiyo juga menyampaikan prediksi pertumbuhan kredit perbankan pada akhir tahun.
Dalam konferensi pers hasil RDG Agustus 2024, Perry mengatakan penyaluran kredit perbankan pada Juli 2024 sebesar 12,40% secara tahunan (YoY). Angka ini lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya yang sebesar 12,36% YoY.
Pertumbuhan kredit pada Juli 2024ditopang oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh sebesar 15,20% (yoy), 11,60% (yoy), dan 10,98% (yoy).
Dia juga menyatakan bahwa pembiayaan syariah dan kredit UMKM tumbuh masing-masing sebesar 11,75% (yoy) dan 5,16% (yoy).
“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit 2024 diprakirakan berada pada batas atas kisaran 10-12%,” katanya, Rabu (21/8/2024).
Dari sisi penawaran, hal ini ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7,72% (yoy), strategi realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan, serta dukungan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Bank Indonesia.
Untuk memperkuat pendanaan, perbankan juga mengoptimalkan sumber pendanaan selain dari DPK, antara lain melalui penerbitan surat-surat berharga dan pinjaman.
Selain itu, dari sisi permintaan, Perry menyebut pertumbuhan kredit turut dipengaruhi oleh permintaan korporasi yang sejalan dengan kinerja penjualan yang masih kuat.
“Sementara itu, permintaan kredit rumah tangga masih tinggi terutama pada KPR. Secara sektoral, pertumbuhan kredit yang tinggi terjadi pada mayoritas sektor ekonomi, terutama pada sektor Industri, Listrik, Gas, dan Air (LGA), dan Pengangkutan,” ujarnya.
Prediksi Laba Perbankan
Sementara itu, dari sisi profitabilitas, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan sejumlah bank melakukan revisi dengan memangkas target laba pada tahun ini.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan kondisi tersebut terjadi karena kondisi suku bunga global yang masih tinggi ditambah lagi adanya kenaikan biaya dana akibat perebutan dana murah di pasar.
“Sementara, suku bunga kredit saat ini tergolong stabil di tengah suku bunga DPK yang meningkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2024).
Meskipun demikian, kata Dian, sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) revisi dari bank margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) pada akhir 2024 diproyeksikan masih tergolong stabil dibandingkan NIM pada semester I/2024.
“Dengan optimisme bahwa penyaluran kredit perbankan di 2024 masih cukup tinggi dengan pencapaian double digit, pertumbuhan kinerja perbankan pada tahun 2024 diharapkan tetap terjaga baik, meskipun mungkin tidak setinggi tahun lalu,” ujar Dian.
Berdasarkan catatan Bisnis, rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) 4,57% per Juni 2024, naik tipis dari periode Mei 2024 yang mencapai 4,56%. Adapun, secara tahunan capaian Juni 2024 susut, di mana Juni tahun lalu sebesar 4,8%.
Sebagaimana diketahui, NIM memberikan gambaran tentang seberapa efisien suatu lembaga keuangan dalam menghasilkan keuntungan dari selisih antara pendapatan bunga yang diperoleh dan biaya bunga yang dibayar. Makin besar angka NIM mengindikasikan potensi keuntungan perbankan dari dana yang disalurkan semakin besar.
Sementara itu, Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo mengatakan dinamika kinerja perbankan sendiri tidak terlepas dari pasar uang, inflasi, dan nilai tukar.
Dia menyebut sampai pertengahan tahun ini kondisi perekonomian Indonesia pada umumnya masih menghadapi tantangan atas ketiga, antara lain faktor eksternal, makro dan global.
“Di sisi lain, secara internal bank juga perlu memperhatikan kualitas asetnya, kemampuan bertumbuhnya dan likuiditas untuk membiayai operasional atau bisnisnya agar tetap mampu mengantisipasi setiap dinamika yang dihadapi,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (31/7/2024).
Ke depan, soal proyeksi kinerja industri perbankan, Arianto memprediksi ini bakal bergantung pada stabilitas global dan kepastioan nasional setelah pergantian kepemimpinan negara.
Menurutnya, jika pemerintahan baru mampu mempertahankan kepercayaan masyarakat dan investor, maka perekonomian akan membaik dan arus dana masuk ke dalam negeri akan lebih besar, yang pada akhirnya mendorong penurunan tingkat suku bunga acuan.
“Kondisi ini akan membuat pertumbuhan paruh kedua akan lebih tinggi dibanding pertumbuhan paruh pertama,” ungkap Arianto.
Olah Strategi Bank (BTN, MEGA Cs) di Tengah Tekanan Laba, Imbas Suku Bunga Tinggi
Kondisi suku bunga tinggi menekan profitabilitas atau kemampuan bank dalam menghasilkan laba. Bagaimana strategi menghadapinya? [961] url asal
#laba-bank #laba-perbankan #revisis-laba-bank #bank-revisi-target-laba #proyeksi-laba-bank-2024 #laba-bank-2024 #kinerja-bank-2024 #suku-bunga-tinggi
(Bisnis.Com - Finansial) 14/08/24 08:35
v/14396606/
Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan sejumlah bank melakukan revisi dengan memangkas laba pada tahun ini. Lantas, seperti apa kondisi di BTN, CIMB Niaga Cs dan bagaimana strategi bank dalam menghadapi tekanan profitabilitas?
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan kondisi tersebut terjadi karena kondisi suku bunga global yang masih tinggi ditambah lagi adanya kenaikan biaya dana akibat perebutan dana murah di pasar.
“Sementara, suku bunga kredit saat ini tergolong stabil di tengah suku bunga DPK yang meningkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2024).
Meskipun demikian, kata Dian, sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) revisi dari bank margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada akhir 2024 diproyeksikan masih tergolong stabil dibandingkan dengan NIM pada semester I/2024.
Menurutnya, ini tecermin oleh capaian realisasi laba perbankan pada Juni 2024 yang lebih baik dibandingkan dengan proyeksi pada awal tahun.
“Dengan optimisme bahwa penyaluran kredit perbankan di 2024 masih cukup tinggi dengan pencapaian double digit, pertumbuhan kinerja perbankan pada tahun 2024 diharapkan tetap terjaga baik meskipun mungkin tidak setinggi tahun lalu,” ujar Dian.
BTN
Adapun, dari sisi pemain Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon L.P. Napitupulu mengatakan bahwa perseroan memutuskan untuk lebih realistis dalam menetapkan target pertumbuhan laba tahun ini. BTN pun menurunkan target pertumbuhan laba dari semula 10%-11% menjadi sekitar 1%.
Nixon mengatakan bahwa langkah ini diambil perseroan, karena kebijakan suku bunga global higher for longer tidak sesuai dengan prediksi.
“Saya mending turunkan [target laba], tetapi saya bisa deliver, daripada saya janjikan, tetapi saya tidak bisa deliver. Jadi, saya mesti realistis. Cost of fund [biaya dana] ini kan naik terus,” katanya, Rabu (31/7/2024)
Meski begitu, Nixon mengatakan bahwa cost of fund BTN kian menurun hingga kini berada sudah berada pada level di bawah 4%. Menurutnya, kondisi bisnis bank akan jauh membaik jika suku bunga acuan mulai turun.
Seiring dengan adanya sinyal pemangkasan suku bunga acuan, saat ini perseroan berstrategi dengan melakukan restrukturisasi pengelolaan pendanaan.
“Kemudian kita buat satu engine baru namanya Prospera, di bawah Prioritas, tapi di atas regular. Jadi, baru dikelola sudah naik 20%. Nah itu upaya yang kita lakukan, sehingga CoF turun dari 4,2% menjadi 3,9%,” jelasnya.
Bank Mega
Senada, Corporate Secretary PT Bank Mega Tbk. (MEGA) Christiana M. Damanik mengungkapkan bahwa persaingan tingkat suku bunga di pasar sampai saat ini masih menjadi tantangan.
Selain itu, terdapat kenaikan biaya operasional pada beberapa pos, sehingga kondisi tersebut berpengaruh terhadap kinerja Bank Mega per Juni 2024.
“Atas kondisi tersebut, Bank Mega telah menyampaikan Revisi Rencana Bisnis Bank [RBB] kepada OJK," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Bank Mega meraup laba bersih Rp1,22 triliun pada semester I/2024, turun 37,67% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp1,97 triliun.
Ke depan, kata Christiana, Bank Mega akan terus berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya.
Kemudian, dari sisi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga, Bank Mega akan lebih fokus pada pertumbuhan dana ritel, khususnya pada CASA agar dapat menekan biaya dana alias CoF, yang antara lain dilakukan dengan cara meningkatkan optimalisasi jaringan cabang dalam penghimpunan dana ritel dan melanjutkan program loyalty (Program Undian Meriah Bareng Mega) untuk meningkatkan tabungan.
Nantinya, dalam upaya peningkatan kredit, Bank Mega akan fokus pada pembiayaan sindikasi, pembiayaan Bilateral dan indirect channel.
“Adapun, dalam pembiayaan sindikasi, Bank Mega akan bekerja sama dengan bank-bank yang aktif dalam pembiayaan sindikasi,” kata Christiana.
Bank Syariah
Dari kalangan perbankan syariah, Ketua Bidang Regulasi Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Pandji P. Djajanegara menggambarkan bahwa adanya kemungkinan penempatan dana mengalami kenaikan biaya, alhasil membuat bank-bank syariah sedikit menahan laju pembiayaan.
“[Yang pada akhirnya] mengakibatkan rasio margin bunga bersih bank menurun,” katanya kepada Bisnis, Selasa (13/8/2024).
Pandji yang juga merupakan Direktur Syariah Banking CIMB Niaga pun mengatakan untuk unit usaha syariah yang dia pimpin tidak mengalami koreksi laba.
Dia menuturkan memang sejak awal tahun, CIMB Niaga Syariah memang tidak menyusun budget yang agresif “Ini karena kami lebih memfokuskan untuk mengkonsolidasi menyusun persiapan spin off,” ujarnya.
CIMB Niaga
Dihubungi terpisah, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan juga mengungkapkan bahwa perseroan tidak merevisi RBB hingga akhir tahun.
Sebelumnya, Lani berharap rasio margin bunga bersih tidak mengalami penurunan. Hal tersebut lantaran, NIM di CIMB Niaga telah tergerus hampir dua tahun ini. Tercatat, per Juni 2024 menyentuh 4,21%, susut 40 bps dari tahun sebelumnya yatu 4,61% pada Juni 2023.
“Maka kami fokus di cost management yang kuat dan efisien serta asset quality yang bagus,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (17/7/2024)
Lebih lanjut, Lani menyebut rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) perseroan terjaga baik di level 2,1%, sehingga secara profitability masih tetap tumbuh positif 5,5%.
Bank Oke
Sementara tu, dari kelompok bank mini yakni KBMI I, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Tbk. Efdinal Alamsyah juga menyampaikan bahwa perseroan tidak melakukan revisi target laba.
Dia menyebutkan bahwa untuk menjaga kinerja bisnis bank hingga akhir tahun, perseroan bakal melakukan optimalisasi struktur pinjaman dan simpanan, meningkatkan pendapatan non-bunga.
Selain itu, Bank Oke juga terus menjaga kualitas aset dengan lebih konservatif dalam melakukan proses underwriting kredit, hingga melakukan efisiensi operasional, cross-selling produk serta layanan kepada nasabah yang ada,
“[Target laba] Rp30 miliar. Sampai akhir Juli 2024, profit tercatat Rp21 miliar [unaudited] dengan masih lima bulan tersisa,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (13/8/2024).
Di sisi lain, Direktur Segara Research Institut Piter Abdullah mengatakan dengan sejumlah bank melakukan pemangkasan laba, menurutnya hal ini tidak akan menghambat rencana ekspansi dan inovasi produk perbankan yang telah direncanakan pada awal tahun.
Menurutnya, justru perbankan bakal makin meningkatkan inovasi terkait produk hingga layanan perbankan demi memunculkan sumber keuntungan baru.
“Jadi, tidak hanya bergantung pada penyaluran kredit, tapi mereka bisa menciptakan pendapatan nonbunga [fee based income] baru, artinya inovasi sektor perbankan sangat dibutuhkan di periode saat ini,” ujarnya kepada Bisnis.
Efek Suku Bunga Tinggi, Bank Pangkas Target Laba Tahun Ini
OJK menyampaikan sejumlah bank merevisi ke bawah target laba pada tahun ini. [598] url asal
#laba-bank #proyeksi-laba-bank #proyeksi-laba-bank-2024 #laba-perbankan #proyeksi-laba-perbankan #kinerja-bank-2024 #suku-bunga-tinggi #ojk
(Bisnis.Com - Finansial) 13/08/24 03:15
v/14334138/
Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan sejumlah bank melakukan revisi dengan memangkas target laba pada tahun ini. Lantas, apa penyebabnya?
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan kondisi tersebut terjadi karena kondisi suku bunga global yang masih tinggi ditambah lagi adanya kenaikan biaya dana akibat perebutan dana murah di pasar.
“Sementara, suku bunga kredit saat ini tergolong stabil di tengah suku bunga DPK yang meningkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2024).
Meskipun demikian, kata Dian, sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) revisi dari bank margin bunga bersih alias net interest margin/NIM) pada akhir 2024 diproyeksikan masih tergolong stabil dibandingkan NIM pada semester I/2024.
Menurutnya, ini tecermin oleh capaian realisasi laba perbankan pada Juni 2024 yang lebih baik dibandingkan proyeksi pada awal tahun.
“Dengan optimisme bahwa penyaluran kredit perbankan di 2024 masih cukup tinggi dengan pencapaian double digit, pertumbuhan kinerja perbankan pada tahun 2024 diharapkan tetap terjaga baik meskipun mungkin tidak setinggi tahun lalu,” ujar Dian.
Berdasarkan catatan Bisnis, rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) mengalami penyusutan menjadi 4,57% per Juni 2024, naik tipis dari periode Mei 2024 yang mencapai 4,56%. Adapun, secara tahunan capaian Juni 2024 susut, di mana Juni tahun lalu sebesar 4,8%.
Sebagaimana diketahui, NIM memberikan gambaran tentang seberapa efisien suatu lembaga keuangan dalam menghasilkan keuntungan dari selisih antara pendapatan bunga yang diperoleh dan biaya bunga yang dibayar. Makin besar angka NIM mengindikasikan potensi keuntungan perbankan dari dana yang disalurkan semakin besar.
Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyatakan bahwa pertumbuhan kinerja Himbara mengalami perlambatan, termasuk laba, di tengah kondisi suku bunga yang tinggi. "Kami menjaga kehati-hatian. Ya, pokoknya kami konservatif dan pruden," ujarnya Selasa (30/7/2024).
Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis oleh OJK, industri perbankan umum mencatatkan laba sebesar Rp101,47 triliun per Mei 2024.
Angka ini naik Rp2,8 triliun dibandingkan April 2024 atau meningkat 2,84% yoy dari Rp98,67 triliun pada Mei 2023.
Secara rinci, laba bank persero per Mei 2024 mencapai Rp51,32 triliun, naik dari Rp40,78 triliun pada bulan sebelumnya, serta meningkat 6,38% yoy dari Rp48,24 triliun tahun lalu.
Namun, laba kelompok BPD per Mei 2024 hanya mencapai Rp5,38 triliun, naik dari Rp4,09 triliun pada bulan sebelumnya, tetapi turun 5,99% yoy dari Rp5,72 triliun tahun lalu.
Bank Swasta Nasional juga mengalami peningkatan laba bulanan sebesar Rp8,9 triliun, tetapi secara tahunan mengalami penurunan 1,94% yoy dari Rp39,53 triliun.
Di sisi lain, Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) mencatatkan laba per Mei sebesar Rp6 triliun, naik dari Rp4,64 triliun pada April 2024, dan meningkat 16,08% yoy dari Rp5,18 triliun tahun sebelumnya.
Sementara itu, Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo mengatakan dinamika kinerja perbankan sendiri tidak terlepas dari pasar uang, inflasi, dan nilai tukar.
Dia menyebut sampai pertengahan tahun ini kondisi perekonomian Indonesia pada umumnya masih menghadapi tantangan atas ketiga, antara lain faktor eksternal, makro dan global.
“Di sisi lain, secara internal bank juga perlu memperhatikan kualitas asetnya, kemampuan bertumbuhnya dan likuiditas untuk membiayai operasional atau bisnisnya agar tetap mampu mengantisipasi setiap dinamika yang dihadapi,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (31/7/2024).
Ke depan, soal proyeksi kinerja industri perbankan, Arianto memprediksi ini bakal bergantung pada stabilitas global dan kepastioan nasional setelah pergantian kepemimpinan negara.
Menurutnya, jika pemerintahan baru mampu mempertahankan kepercayaan masyarakat dan investor, maka perekonomian akan membaik dan arus dana masuk ke dalam negeri akan lebih besar, yang pada akhirnya mendorong penurunan tingkat suku bunga acuan.
“Kondisi ini akan membuat pertumbuhan paruh kedua akan lebih tinggi dibanding pertumbuhan paruh pertama,” ungkap Arianto.