#30 tag 24jam
Laba Bank Daerah (BPD) Masih Terkontraksi hingga Juli 2024, Kenapa?
Mengutip SPI OJK, kelompok BPD membukukan laba Rp7,81 triliun hingga Juli 2024, minus 4,17% dari perolehan Juli 2023 sebesar Rp8,15 triliun. [459] url asal
#laba-bpd #laba-bpd-juli-2024 #laba-bpd-turun #laba-bank #bank-pembangunan-daerah #bpd #kinerja-bpd
(Bisnis.Com - Finansial) 24/09/24 18:28
v/15495511/
Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa laba bersih bank umum mencapai Rp149,62 triliun per Juli 2024, tumbuh 6,03% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari posisi Rp141,11 triliun. Namun, laba kelompok bank pembangunan daerah (BPD) tercatat masih menyusut.
Mengutip Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK terbaru pada Selasa (24/9/2024), BPD membukukan laba Rp7,81 triliun hingga bulan ketujuh tahun ini. Kendati naik sebesar Rp1 triliun secara bulanan, capaian ini masih minus 4,17% dari perolehan Juli 2023 sebesar Rp8,15 triliun.
Alhasil, secara perolehan laba bersih, BPD berada di belakang kelompok bank lain seperti bank BUMN, bank swasta, hingga kantor cabang bank luar negeri (KCLBN) alias bank asing hingga Juli 2024.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum II Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Busrul Iman menjelaskan beberapa faktor penyebab penurunan laba BPD.
“Laba terkontraksi secara umum ada beberapa faktor, antara lain tingginya biaya dana yang dialami oleh beberapa BPD serta pembentukan CKPN [cadangan kerugian penurunan nilai],” katanya kepadaBisnis, Senin (9/9/2024) lalu.
Dia melanjutkan, pembentukan CKPN dilakukan sejumlah bank daerah sebagai upaya peningkatan pemenuhancoverage ratioatau rasio kecukupan likuiditas. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (BI) No. 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum, CKPN adalah penyisihan yang dibentuk apabila nilai tercatat aset keuangan setelah penurunan nilai kurang dari nilai tercatat awal.
Busrul lantas menjelaskan strategi menjaga perolehan laba bersih BPD hingga penghujung 2024. Selain menggencarkan upayarecovery, pihaknya juga mendorong pengembangan bisnis demi meningkatkan pendapatan sektor perkreditan.
Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. alias Bank Jatim (BJTM) ini juga menggarisbawahi peningkatanfee-based incomeatau pendapatan lain di luar pendapatan bunga kredit sebagai upaya lain untuk mempertahankan laba bersih bank daerah hingga akhir tahun.
“Di sisi lain, upaya efisiensi menjadi penting, terutama dari peningkatan dana murah/CASA [current account saving account] yang lebih baik,” jelas Busrul.
Adapun, di luar penyusutan yang dialami kelompok BPD, nilai laba bersih bank pelat merah atau bank BUMN per Juli 2024 masih menjadi yang terdepan dibandingkan kelompok lainnya.
DataOJKmenunjukkan bahwa kelompok bank persero mencetak laba bersih sebesar Rp74,84 triliun hingga bulan ketujuh tahun ini, naik 3,34% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan nominal Rp72,42 triliun. Kelompok ini pun mendominasi laba bersih industri secara keseluruhan dengan persentase mencapai 50,02%.
Di bawah bank BUMN, terdapat bank swasta yang membukukan laba Rp58,57 triliun pada Juli 2024, tumbuh 8,91% dari posisi Rp53,78 triliun pada Juli 2023. Laba bank swasta pun menguasai 39,15% perolehan laba perbankan nasional.
Bank asing kembali menempati urutan berikutnya dengan total laba Rp8,4 triliun per Juli 2024, sekaligus mencatatkan laju pertumbuhan signifikan 24,26% dari level Rp6,76 triliun pada tahun sebelumnya. Porsi yang ditempati bank asing dari keseluruhan laba perbankan nasional pada Juli 2024 ialah sebanyak 5,61%.
Perbankan RI Raup Laba Rp149,62 Triliun per Juli 2024, Siapa Paling Bersinar?
Industri perbankan dalam 7 bulan pertama mencetak laba bersih Rp149,62 triliun pada Juli 2024. Capaian tersebut naik 6,03% yoy. [819] url asal
#laba-bank-juli-2024 #kinerja-bank-2024 #laba-bank-bumn #laba-bank-swasta #laba-bpd #laba-bank-asing #laba-bank
(Bisnis.Com - Finansial) 24/09/24 12:20
v/15481518/
Bisnis.com, JAKARTA – Industri perbankan dalam tujuh bulan pertama tahun ini mencetak laba bersih Rp149,62 triliun pada Juli 2024. Capaian tersebut naik 6,03% yoy dari sebelumnya Rp141,11 triliun pada Juli 2023.
Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh mini 2,71% yoy menjadi Rp314,79 triliun per Juli 2024. Dari sisi margin bunga bersih alias NIM sendiri naik menjadi 4,59% dari 4,57%.
Head of Research LPPI Trioksa Siahaan memproyeksikan perolehan laba pada semester II/2024 akan membaik dibanding semester I/2024 dengan kondisi tren penurunan suku bunga.
“Namun, memanasnya geopolitik global juga perlu diantisipasi karena dapat memicu kenaikan harga minyak dan inflasi yang berujung pada kenaikan suku bunga,” katanya kepada Bisnis, Selasa (24/9/2024).
Dia menyebut pertumbuhan laba akan bervariasi tiap kelompok bank, akan tetapi secara umum hanya akan menyentuh single digit. Pasalnya, BI Rate yang sempat menyentuh 6,25% berpengaruh pada biaya dana (cost of fund/CoF) yang membebani bank.
“Meski BI Rate sudah turun 6%, akan tetapi penyesuaian bunga juga butuh waktu,” ujarnya.
Jika dilihat berdasarkan kepemilikannya, bank persero atau bank BUMN mencetak laba Rp74,84 triliun, naik 3,34% yoy dibandingkan dengan Rp72,42 triliun pada Juli 2023. Secara bulanan, laba ini naik 23,09 triliun dari Juni 2024. Nilai laba kelompok bank milik negara ini menjadi yang terbesar dibandingkan dengan kelompok bank lainnya.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo sebelumnya menyampaikan dengan penurunan suku bunga acuan akan berdampak pada pelonggaran likuiditas dan dari sisi pertumbuhan kredit dapat dipacu kembali.
“Ya moga-moga [suku bunga acuan turun] maka ke depan likuiditas bank akan lebih longgar, dan dari sisi pertumbuhan kredit bisa dipertimbangkan revisi naik, laba akhir tahun masih tumbuh single digit,” ujarnya kepada Bisnis yang dikutip Selasa (24/9/2024).
Sementara itu, Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencetak laba Rp7,81 triliun per Juli 2024. Secara bulanan, laba BPD ini memang naik Rp1 triliun. Akan tetapi, bila dilihat secara tahunan, capaian ini turun 4,07% yoy dari periode yang sama tahun lalu mencapai Rp8,15 triliun.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum II Asbanda Busrul Iman menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut, antara lain berkaitan dengan biaya dana alias cost of fund serta pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
“Laba terkontraksi secara umum ada beberapa faktor, antara lain tingginya biaya dana yang dialami oleh beberapa BPD serta pembentukan CKPN,” katanya.
Dia melanjutkan, pembentukan CKPN dilakukan sejumlah bank daerah sebagai upaya peningkatan pemenuhan coverage ratio atau rasio kecukupan likuiditas.
Selanjutnya kelompok Bank Swasta Nasional mencatat laba Rp58,57 triliun, atau naik Rp4,79 triliun secara bulanan. Secara tahunan laba ini naik 8,9% yoy dibanding periode sebelumnya yaitu Rp53,78 triliun per Juli 2023.
Terakhir, Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) mencatatkan laba Juli sebesar Rp8,4 triliun, naik signifikan Rp7,27 triliun pada Juni 2024, dan meningkat 24,13% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,76 triliun pada Juli 2023.
Bank Pede Kinerja Semester II/2024
Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa pihaknya optimistis ada potensi pertumbuhan yang lebih baik pada semester II/2024 dibandingkan dengan semester I/2024
"Kalau semester I/2024 kita masih banyak berada di pertumbuhan di bawah market karena memang fokus pada perbaikan fundamental, tapi progres terakhir bahwa kita bisa mampu tumbuh secara lebih positif," ujarnya.
BNI bahkan merevisi naik target pertumbuhan kreditnya tahun ini, dari semula ditargetkan tumbuh 9%—11% YoY, kini dinaikkan menjadi 10%—12% YoY. Adapun, realisasi kredit BNI per semester I/2024 mampu tumbuh 11,7% YoY.

Tak hanya BNI, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan pemangkasan suku bunga acuan ini akan berdampak baik pada BRI.
“Karena BRI secara keseluruhan memang balance sheet-nya itu sensitif terhadap liabilitas, artinya suku bunga dana. Maka kalau ada penurunan di situ, kita akan sangat diuntungkan,” ucapnya.
Menurut dia, dengan penurunan BI Rate dapat membantu memperbaiki kondisi likuiditas perbankan, yang pada gilirannya bank dapat menumbuhkan kembali segmen mikro dan ultra mikro.
Pasalnya, dengan suku bunga acuan yang turun, membuat terjadinya peningkatan uang beredar dan daya beli masyarakat serta konsumsi rumah tangga yang ikut menguat, dan ini menjadi faktor pendorong utama untuk permintaan pinjaman di segmen tersebut. “Dan itu sebetulnya adalah driver utama daripada loan demand di mikro,” ungkap Sunarso.
Managing Director Country Head of Insitutional Banking Group DBS Indonesia Kunardy Lie juga mengatakan suku bunga yang tinggi sempat menjadi tantangan bagi perseroan.
Tercatat, DBS Indonesia mengalami penyusutan laba sebesar 4,85% yoy menjadi Rp844,95 miliar dari sebelumnya Rp887,98 miliar per semester I/2024
Dia mengatakan sejauh ini saat BI Rate 6,25%, bank memberikan pinjaman dengan bunga yang sama dengan bunga yang mereka bayar kepada deposan, alhasil bank tersebut tidak akan mendapatkan margin keuntungan yang cukup.
“Sehingga DBS tidak bisa hanya mengandalkan bisnis yang terlalu kovensional, apa yang harus kita kerjakan adalah menambah cross seling, tidak hanya memberikan utang, tapi juga bagaimana kita mendapatkan flow bisnis yang menambah income,” ucapnya kepada Bisnis.
Ini Penyebab Laba Bank Daerah (BPD) Turun 5,41% per Juni 2024
BPD membukukan laba Rp6,82 triliun, minus 5,41% dari perolehan per Juni 2023 sebesar Rp7,21 triliun. [534] url asal
#laba-bpd #laba-bank-daerah #kinerja-bank-daerah-semester-1-2024
(Bisnis.Com - Finansial) 06/09/24 23:02
v/14909624/
Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa laba bersih bank umum mencapai Rp126,52 triliun per semester I/2024, tumbuh 5,46% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari posisi Rp119,97 triliun.Namun, terjadi penyusutan pada laba kelompok bank pembangunan daerah (BPD).
Mengutip Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Juni 2024 pada Jumat (6/9/2024), BPD membukukan laba Rp6,82 triliun, minus 5,41% dari perolehan per Juni 2023 sebesar Rp7,21 triliun.
BPD finis di belakang kelompok bank lain seperti bank asing, bank swasta, hingga bank BUMN dalam perolehan laba bersih pada enam bulan pertama 2024.
Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin menjelaskan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penurunan laba bank daerah tersebut. Secara umum, masalah pertama terletak pada pemodalan bank daerah yang mayoritas menempati Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 dan 2.
“Beberapa di antaranya masihstruggleuntuk meningkatkan modal utamanya. Mereka harus berjuang supaya memenuhi standar yang ditetapkan oleh regulasi,” katanya saat dihubungiBisnis, dikutip Jumat (6/9/2024).
Menurutnya, di samping penambahan modal dari pemegang saham pengendali (PSP), situasi itu dapat diatasi dengan pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB).
BPD cilik dapat menginduk kepada bank lain dengan modal lebih besar sebagaianchor bank, sehingga dapat menerima penyertaan modal untuk ekspansi.
Masalah berikutnya, lanjut Amin, terletak pada risiko kinerja yang dihadapi oleh BPD. Dia menyebutkan, BPD masih banyak berhadapan dengan rasio kredit macet aliasnon-performing loan(NPL) yang tinggi, sehingga mesti berjibaku untuk memperbaiki keadaan penyaluran kredit.
Dirinya lantas menyoroti pangsa pasar kredit bank daerah yang terbatas pada segmen tertentu, seperti aparatur sipil negara (ASN). Menurutnya, hal itu berdampak pada pertumbuhan kredit yang cenderung stagnan.
“Karena pertumbuhannya mungkinsegitu-gitusaja kalau mereka hanya mengandalkan kemampuan di wilayah masing-masing melalui kredit konsumtif kepada ASN. Itu kan sudahgiven,” tutur dia.
Amin berpendapat, BPD dapat berinovasi dengan melakukan sejumlah langkah seperti digitalisasi layanan hingga merambah kredit produktif. Dengan demikian, bank daerah dapat mendongkrak laba di luar sektor utama.
“Terakhir adalah masalah tata kelola. Beberapa [BPD] masih perlu pengurus atau manajemen yang lengkap. Tata kelola harus diperbaiki, sehingga nanti sesuai dengan keinginan regulator dan memudahkan bank untuk menjalankan semua strategi bisnis atau aspirasi para pemegang saham,” tandasnya.
Adapun, di luar penyusutan laba bersih yang dialami kelompok BPD, bank pelat merah atau bank BUMN masih menguasai porsi terbesar dalam perolehan laba bersih perbankan nasional hingga paruh pertama 2024.
Data OJK menunjukkan bahwa kelompok bank persero mencetak laba bersih sebesar Rp65,03 triliun sepanjang semester I/2024, naik 6,68% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan nominal Rp60,96 triliun. Kelompok ini pun mendominasi raupan laba bersih industri secara keseluruhan dengan persentase 51,4%.
Di bawah bank BUMN, terdapat bank swasta yang membukukan laba Rp46,83 triliun pada paruh pertama 2024, tumbuh 2,61% dari posisi Rp45,64 triliun pada Juni 2023. Laba bank swasta menguasai 37,01% perolehan laba perbankan nasional pada semester I/2024.
Kelompok kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri alias bank asing bertengger di urutan berikutnya dengan raupan laba Rp7,13 triliun per Juni 2024, sekaligus mencatatkan laju pertumbuhan dobel digit (15,75%) dari level Rp6,16 triliun pada tahun sebelumnya. Adapun, bank asing menempati porsi 5,64% dari keseluruhan laba perbankan nasional pada semester I/2024.
Laba Perbankan RI Semester I/2024: Bank BUMN Mendominasi, Asing Paling Melaju
Berdasarkan SPI OJK, bank BUMN masih mendominasi perolehan laba bersih perbankan nasional hingga paruh pertama 2024. [785] url asal
#laba-perbankan-2024 #laba-perbankan-ri #laba-bank-bumn-2024 #kinerja-bank-bumn #laba-bank-swasta #laba-bank-asing #laba-bpd #spi-ojk
(Bisnis.Com - Finansial) 04/09/24 17:48
v/14888121/
Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa laba bersih bank umum hingga semester I/2024 mencapai Rp126,52 triliun atau naik 5,46% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari posisi Rp119,97 triliun pada Juni 2023.
Mengutip Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK terbaru pada Rabu (4/9/2024), berdasarkan kelompok bank, bank pelat merah atau bank BUMN masih menguasai porsi terbesar dalam perolehan laba bersih perbankan nasional hingga paruh pertama 2024.
Data OJK menunjukkan bahwa kelompok bank persero mencetak laba bersih sebesar Rp65,03 triliun sepanjang semester I/2024, naik 6,68% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan nominal Rp60,96 triliun. Kelompok ini pun mendominasi raupan laba bersih industri secara keseluruhan dengan persentase 51,4%.
Di bawah bank BUMN, terdapat bank swasta yang membukukan laba Rp46,83 triliun pada paruh pertama 2024, tumbuh 2,61% dari posisi Rp45,64 triliun pada Juni 2023. Laba bank swasta menguasai 37,01% perolehan laba perbankan nasional pada semester I/2024.
Kelompok kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri alias bank asing bertengger di urutan berikutnya dengan raupan laba Rp7,13 triliun per Juni 2024, sekaligus mencatatkan laju pertumbuhan dobel digit sebesar 15,75% dari level Rp6,16 triliun pada tahun sebelumnya. Bank asing menempati porsi 5,64% dari keseluruhan laba perbankan nasional pada semester I/2024.
Sementara itu, penyusutan laba bersih terjadi pada kelompok bank pembangunan daerah (BPD). Pada Juni 2024, BPD membukukan laba Rp6,82 triliun, turun 5,41% dari perolehan per Juni 2023 sebesar Rp7,21 triliun. BPD pun finis terakhir dalam porsi laba perbankan secara keseluruhan sepanjang enam bulan pertama 2024, dengan persentase 5,39%.
Apabila diselisik dari sisi pemain, kelompok bank BUMN tak lain ditopang oleh bank besar yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. alias BNI (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN).
BNI membukukan laba bersih senilai Rp10,7 triliun pada semester I/2024, tumbuh 3,8% secara tahunan dari level Rp10,3 triliun.
BRI mencetak laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan ke pemilik sebesar Rp29,92 triliun atau tumbuh 0,95% yoy, selagi Bank Mandiri mencatatkan realisasi laba bersih secara konsolidasi tumbuh 5,23% yoy menjadi Rp26,6 triliun.
BTN tercatat membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun, naik 1,9% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp1,47 triliun.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) mengukuhkan posisinya sebagai bank swasta terbesar hingga Juni 2024. BCA beserta entitas anak membukukan laba senilai Rp26,9 triliun pada semester I/2024 alias tumbuh 11,1% yoy.
Meskipun laba perbankan pada semester I/2024 masih mengalami pertumbuhan, kondisi suku bunga global yang masih tinggi menjadi tantangan saat ini.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae sebelumnya menyatakan selain suku bunga global yang tinggi, industri perbankan juga menghadapi kenaikan biaya dana akibat perebutan dana murah di pasar.
“Sementara, suku bunga kredit saat ini tergolong stabil di tengah suku bunga DPK yang meningkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2024).
Dian pun menyebutkan jika sejumlah bank melakukan revisi turun laba pada akhir tahun ini. Namun, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada akhir 2024 diproyeksi masih tergolong stabil dibandingkan dengan NIM pada semester I/2024.
Dalam public expose minggu lalu, BNI membeberkan strategi agar kinerja laba perseroan tetap tumbuh hingga akhir tahun.
Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa pihaknya optimistis ada potensi pertumbuhan yang lebih baik pada semester II/2024 dibandingkan dengan semester I/2024.
"Kalau semester I/2024 kita masih banyak berada di pertumbuhan di bawah market karena memang fokus pada perbaikan fundamental, tapi progres terakhir bahwa kita bisa mampu tumbuh secara lebih positif," ujarnya dalam Public Expose Live, Jumat (30/8/2024).
Berdasarkan presentasi perusahaan, BNI telah merevisi beberapa target pertumbuhan yang sempat dipatok pada awal tahun. Misalnya, kredit yang pada awal tahun ditargetkan tumbuh 9%—11% (YoY), kini dinaikkan menjadi 10%—12% (YoY).
Adapun, secara realisasi per semester I/2024 kredit mampu tumbuh 11,7%. Selanjutnya, rasio margin bunga bersih bank only yang semula pada awal tahun sempat ditargetkan ≥4,5%, kini menjadi ≥4%. Sementara itu, capaian NIM per semester I/2024 berada di level 4%.
Selain itu, biaya kredit (cost of credit) bank only dari semula alias awal tahun ditargetkan kurang 1,4%, saat ini menjadi ±1%. Adapun, realisasi biaya kredit per semester I/2024 yakni 1%.
Lebih lanjut, kata dia, perolehan margin juga akan sangat bergantung dengan bagaimana kemampuan BNI menjaga biaya dana (cost of fund/CoF)pada semester II/2024.
"Kami proyeksikan di kuartal IV/2024 terjadi pengurangan suku bunga, jadi kami melihat ini sebagai positive impact yang bisa memperbaiki sisi cost of fund kami," ujarnya.
Cuan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Masih Dibayangi Awan Mendung?
Kinerja bisnis Bank Pembangunan Daerah (BPD) terpantau masih lesu dibandingkan beberapa jenis bank umum. [713] url asal
#bank-pembangunan-daerah #bpd #laba-bpd #bpd-adalah #perbedaan-bank-pembangunan-daerah-dan-bank-umum
(Bisnis.Com - Finansial) 06/07/24 06:15
v/9821676/
Bisnis.com, JAKARTA -- Kinerja bisnis Bank Pembangunan Daerah (BPD) terpantau masih lesu dibandingkan beberapa jenis bank umum.
Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba BPD secara month to month (mtm) memang naik Rp593 miliar menjadi Rp4,09 triliun pada April 2024. Namun, secara tahunan, laba BPD masih turun 5,08% yoy dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp4,31 triliun.
Bila dibandingkan jenis bank lainnya, Bank Persero membukukan laba yang tumbuh 3,33% yoy menjadi Rp40,78 triliun per April 2023. Lalu, Bank Swasta Nasional membukukan laba Rp29,84 triliun, angka ini juga turun 7,08% dari tahun lalu yang mencapai Rp32,11 triliun.
Selanjutnya, laba Kantor Cabang Dari Bank Yang Berkedudukan di Luar Negeri tumbuh pesat mencapai 18,21% yoy menjadi Rp4,64 triliun.
Akan tetapi, dari segi intermediasi, BPD telah menyalurkan kredit Rp612,31 triliun pada empat bulan pertama 2024, tumbuh 7,31% dari periode sebelumnya Rp570,6 triliun. Aset BPD pun mengembang 4,85% menjadi Rp966,28 triliun dari sebelumnya Rp921,58 triliun.
Seiring dengan pertumbuhan kredit, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) BPD pada April 2024 juga terpantau naik mencapai 2,55%, dari tahun sebelumnya 2,36%.
Bila dilihat secara nominal, angka NPL BPD per April 2024 mencapai Rp15,59 triliun, naik 15,66% yoy dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp13,48 triliun.
Pada sisi pendanaan, BPD telah meraup tabungan hingga deposito dari masyarakat alias dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp754,83 triliun per April 2024, tumbuh 2,97% dari sebelumnya Rp733,06 triliun pada April 2023.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai prospek kinerja BPD akan sangat tergantung pada bagaimana BPD dapat melakukan efisiensi operasionalnya.
Menurutnya, apabila rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) bisa dijaga rendah maka kinerja BPD akan positif. Tercatat, saat ini secara industri BOPO BPD berada di level 82,61%, naik 280 basis poin (bps) dari 79,81%
“Untuk kredit, karena BPD kreditnya dominan kepada ASN sebenarnya relatif lebih terjaga baik kualitasnya,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (5/7/2024)
Ke depannya, kata Trioksa, bisnis bpd harusnya dapat menjadi penyanggah pertumbuhan ekonomi daerah. “Jadi di samping kredit kepada ASN, maka BPD juga perlu mendorong peningkatan kredit produktif di daerah terutama UMKM, sehingga dapat mendorong peningkatan ekonomi daerah,” ucapnya.
Adapun, dari sisi pemain PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. atau Bank BJB (BJBR) melaporkan secara umum bisnis tumbuh positif, sampai Mei 2024, kredit perseroan tumbuh 9,6% yoy dengan NPL 1,5%.
“Sampai dengan akhir tahun kami akan terus menjaga momentum pertumbuhan ini agar terus mencatatkan pertumbuhan yg positif serta kualitas yang terjaga dengan baik,” ucap Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi, Jumat (5/7/2024).
Selain itu, PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Selatan & Sulawesi Barat (Bank Sulselbar) optimistis prospek bisnis dan kinerja perbankan terus positif di tengah ketidakpastian. Perseroan menargetkan laba kotor sebesar Rp870 miliar sepanjang 2024.
Direktur Utama Bank Sulselbar Yulis Suandi mengatakan prospek yang positif terhadap bisnis perbankan terdorong oleh ekspektasi meningkatnya fungsi intermediasi perbankan.
“Hal ini seiring dengan produk domestik bruto yang diperkirakan tumbuh karena didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat pasca bulan Ramadan lalu,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (13/6/2024)
Kemudian, dia juga menyebut prospek ekspansi kredit diprediksi tumbuh menyentuh dobel digit. Rentabilitas perbankan juga diperkirakan meningkat seiring dengan pertumbuhan kredit yang dibarengi dengan penguatan modal serta diikuti kemampuan perbankan dalam mengelola risiko yg dihadapi, seperti risiko likuiditas, pasar dan kredit.
"Iya meski di tengah kondisi makro ekonomi global yang kurang kondusif,” tuturnya.
Lebih lanjut, di bawah kepemimpinan Yulis, perseroan memang akan terus berkomitmen memberikan layanan terbaik di sisi digital sembari terus memperbaiki kinerja. Sebagaimana diketahui, Bank Sulselbar mencatakan laba Rp167,67 miliar pada kuartal I/2024.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) mencapai Rp377,48 miliar per Maret 2024. Bank juga membukukan pendapatan berbasis komisi alias fee based income naik 3,9% yoy menjadi Rp77,57 miliar per Maret 2024, dari sebelumnya Rp74,66 miliar.
Perseroan juga mencatatkan raihan kredit mencapai Rp21,07 triliun, tumbuh 4,22% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp20,22 triliun.
----------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.