#30 tag 24jam
Bapak, Pamali, dan Demistifikasi - kumparan.com
Di satu sisi, saya ingin bersepakat dengan Al Ghazali: manusia perlu ragu demi menambah keyakinan. Di sisi lain, Bapak berpendapat kebalikannya: manusia perlu yakin demi mengurangi ragu. [1,016] url asal
#pendapat #keluarga #bapak #pamali #filsafat #logika
(Kumparan.com - News) 02/10/24 07:48
v/15849920/
‘Pamali’ adalah kata paling membekas di ingatan masa kecil saya. Sejak kecil, Bapak yang alim agama, membesarkan saya dengan ‘pamali’: paribasa Sunda untuk larangan, sesuatu yang tabu atau restriksi—dan bila dilanggar konon mendatangkan celaka. Sependek pengetahuan saya, bisa dibilang, ‘pamali’ sama dengan al-Aadah (bahasa Arab: adat atau kebiasaan masyarakat); dalam ilmu fikih, istilahnya ‘'urf’.
Secara lebih luas, saya menerjemahkan ‘pamali’ sebagai “in the name of Sundanese norms and Islamic morality, please don't do it, Son”. Masalahnya, ‘pamali’ tidak pernah menjadi rem yang cukup pakem bagi pikiran racing dan liar saya. Sepiring wallahu a'lam bishawab nyaris selalu gagal memuaskan rasa lapar saya terhadap jawaban dari pertanyaan random di benak saya. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin di ujung langit ke-7 pun tiada jawabannya.
Saya dan Bapak adalah dua kutub yang bersebrangan. Ibarat karakter Ivan dan Alyosha dalam novel Rusia—The Brothers Karamazov (1880)—karangan Dostoevsky. Ivan merepresentasikan keraguan-intelektual yang memasang skeptisisme di hadapan semua hal. Sebaliknya, Aloysha menyimbolkan keimanan dan ortodoksi seseorang yang mematuhi rambu-rambu agama—leap of faith (lompatan iman Kierkedian) yang buta.
Di satu sisi, saya ingin bersepakat dengan Al Ghazali: manusia perlu ragu demi menambah keyakinan. Di sisi lain, Bapak berpendapat kebalikannya: manusia perlu yakin demi mengurangi ragu. Praktis, nyaris tidak ada titik temu antara kami berdua. Saya menduga Bapak batu. Sedang ia menatap saya seolah-olah dirinya adalah Ibu dan saya perwujudan Malin Kundang yang kelak berakhir menjadi batu sebab durhaka; tak mempan dinasihati dengan cara ini-itu.
Lambat laun, kondisi “perang dingin” itu niscaya memicu pencarian panjang untuk lebih memahami isi kepala Bapak. Kemudian saya menemukan benang merah antara landasan berpikir Bapak dan apa yang telah dipetuahkan Tan Malaka dalam Madilog (1943) berpuluh tahun lalu, khususnya mengenai Logika Mistika.
Tan mendedahkan bahwa logika mistika adalah cara berpikir yang mengandalkan kepercayaan pada hal-hal gaib dan mistis untuk menjelaskan kejadian sehari-hari. Segala bentuk pemikiran yang tidak rasional dan tidak berdasarkan fakta, sehingga mesti digantikan dengan pemikiran yang lebih ilmiah dan logis demi kemajuan bangsa—tambahnya.
Kalau boleh jujur, saya tidak peduli soal kemajuan bangsa, tapi pamali bisa dianggap sebagai bentuk dari logika mistika. Pamali sangat karib kaitannya dengan hal-hal mistis atau supranatural. Katakanlah, larangan untuk tidak duduk di depan pintu karena dipercaya akan menghalangi rezeki dan jodoh.
Kenyataannya, tentu Anda tidak akan kesulitan rezeki hanya karena duduk di depan pintu. Volume rezeki dipengaruhi mobilitas sosial dan mobilitas sosial dimungkinkan modal sosial. Ini belum termasuk faktor-faktor yang lebih dominan, seperti kemiskinan struktural. Juga tidak ada hubungannya dengan jodoh. Jodoh berhubungan dengan fisik, ekonomi, karier, sirkel pertemanan, fesyen, dan kemampuan untuk mendayagunakan aplikasi semacam Bumble atau Tinder.
Dengan demikian, pamali termasuk ke dalam logika mistika sebab tidak memiliki dasar rasional atau ilmiah, melainkan hanya didasarkan pada kepercayaan tradisional dan mitos.
Kemudian saya tersadar bahwa yang saya lakukan adalah Demistifikasi: suatu proses menyingkap tabir kemistikan dengan menggunakan tangan bernama rasionalitas. Secara etimologi, istilah ‘Demistifikasi’ berasal dari kata “mystify’ yang berarti membingungkan atau mengaburkan dengan misteri. Prefiks “de-” menandakan penghilangan atau pembalikan keadaan ini.
Demistifikasi, sebagai proses menghilangkan elemen mistis atau mitos dari suatu konsep juga fenomena, tidak terjadi dalam satu tahun tertentu. Proses ini berlangsung secara bertahap dan terjadi di berbagai bidang seperti sains, agama, dan budaya.
Sebagai contoh, dalam konteks Islamisasi pengetahuan, Kuntowijoyo memperkenalkan konsep demistifikasi pada pertengahan tahun 1970-an. Nama demistifikator lain adalah Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Ia memainkan peran penting dalam proses demistifikasi melalui konsep Islamisasi ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai agama dan harus memiliki landasan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Namun, proses demistifikasi dalam sains dan budaya telah dimulai sejak era Pencerahan di Eropa, ketika banyak pemikiran rasional dan ilmiah mulai menggantikan kepercayaan mistis dan tradisional. Akarnya dapat ditelusuri kembali ke era Pencerahan, yang menekankan akal dan ilmu pengetahuan di atas takhayul dan dogma.
Selama Abad Pencerahan, para pemikir berusaha untuk menantang kepercayaan dan takhayul yang sudah mapan dengan mempromosikan penalaran ilmiah dan pemikiran rasional. Periode ini menandai dimulainya demistifikasi sebagai pendekatan sistematis untuk memahami dunia. Mendorong masyarakat untuk beralih dari kepercayaan yang berbasis takhayul dan menuju pemahaman yang lebih rasional tentang dunia.
Misalnya, Gunung Tangkuban Parahu, bahwa ia terbentuk melalui serangkaian proses geologis yang kompleks: berasal dari Kaldera Sunda, terbentuk akibat letusan besar sekitar 105.000 tahun yang lalu, dan terciptalah kaldera besar yang menjadi cikal bakal Gunung Tangkuban Parahu. Bukan karena Sangkuriang ngamuk lalu menendang perahu karena gagal menyelesaikan tugas yang diberi Dayang Sumbi. Alias sudah oedipus complex, anger issue pula.
Suatu pagi, saya terbangun dengan keringat membasahi sekujur tubuh saya. Saya bermimpi dirukiah bapak saya. Dalam mimpi itu, mulutnya komat-kamit baca mantra berupaya mengeluarkan arwah-filsuf-saintis: Nietzsche, Epicurus, dan Hawking yang bersemayam dalam diri saya. Selang beberapa menit, tubuh saya ujug-ujug terpental seperti dalam novel realisme magis. Bapak saya menghampiri, mencoba memeluk, tetapi terhalang semacam kubah tak kasat mata. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari sesuatu: kubah itu bolehjadi Ateisme.
Pertanyaannya kemudian, apakah saya menyesal mempelajari pemikiran arwah-arwah itu?
Saya hampir tidak mempunyai penyesalan apapun dalam hidup. Kalaupun diingat-ingat, paling banter cuma dua. Yang pertama, tentu saja seusai memakan nugget rebus, mual tak karuan, dan hampir memuntahkan usus dua belas jari dari dalam perut saya. Dan yang kedua, adalah ketika mendebat Bapak pakai dalil-dalil Filsafat Barat dan membuatnya tidak mau berkomunikasi dengan saya selama kira-kira dua minggu; setelahnya, saya cuma bisa bercermin dan menemukan Lusifer yang dengan pongah telah mendebat bapaknya sendiri.
Dengan kata lain, saya hanya menyesal telah mendebat bukan menyesal telah belajar.
Pada gilirannya, saya mulai memahami mengapa sewaktu saya bocah ‘pamali’ melesat keluar dari mulut Bapak setidaknya tiga kali dalam sehari. Sebab, adalah wajar dan rasional bagi seorang ayah (Bapak saya) untuk melontarkan kata tersebut ketika dihadapkan dengan bocah ADHD yang sering bertanya hal aneh-aneh (saya).
Terakhir, otak kecil saya mafhum bahwa sekalipun Budiono Siregar yang mengarang folklor Malin Kundang dan mengutuk Malin menjadi kapal laut, maka bukan itu inti dari folklor tersebut. Yang mesti digarisbawahi bukan tentang “apa yang rasional-ilmiah di balik kisah perubahan seorang anak menjadi kapal laut”, tetapi “aduh! yang bener aja brou melawan orang tua—apa nggak takut?”.
Kondisi Seseorang Membuat Argumen Baru dan Dibuat Seolah Itu Argumen Orang Lain - kumparan.com
Apa nama kondisi seseorang yang membuat argumen baru dan dibuat seolah-olah itu adalah argumen orang lain? Ini penjelasannya. [303] url asal
(Kumparan.com - News) 30/08/24 20:48
v/14833655/
Apa nama kondisi seseorang yang membuat argumen baru dan dibuat seolah-olah itu adalah argumen orang lain? Setiap orang berhak mengeluarkan argumen yang dimilikinya tanpa takut mendapat intimidasi dari orang lain.
Lalu, apa jadinya jika argumen yang dibuat justru dilemparkan kepada orang lain? Hal ini tentunya cukup mengkhawatirkan dan berpotensi merugikan orang lain.
Apa nama kondisi seseorang yang membuat argumen baru dan dibuat seolah-olah itu adalah argumen orang lain? Kondisi tersebut dikenal dengan istilah straw man fallacy.
Mengutip buku Filsafat Ilmudan Logika oleh Waston, dkk (2019), istilah ini mengacu pada kesalahan logika ketika seseorang menyalahartikan argumen lawan menjadi sesuatu yang lebih mudah disangkal atau diserang. Lalu, argumen yang disalahartikan tersebut dibuat seolah-olah menjadi argumen asli dari lawan mereka.
Straw man dapat mencederai diskusi karena perdebatan yang dilakukan cenderung tidak sehat dan bersifat konstruktif. Hal ini juga dapat merusak reputasi orang yang menggunakan metode straw man.
Oleh karena itu, penting sekali memahami argumen lawan dengan baik dan meresponsnya dengan jujur. Ada beberapa alasan yang menyebabkan straw man fallacy terjadi. Beberapa alasannya yakni sebagai berikut:
Straw man sering digunakan secara sengaja sebagai taktik manipulatif untuk membuat argumen lawan tampak lemah atau tidak logis. Ini adalah cara untuk memenangkan perdebatan dengan cara yang tidak adil tanpa benar-benar menangani inti dari argumen yang diajukan.
Terkadang, straw man digunakan karena kurangnya pemahaman yang benar tentang argumen lawan. Dalam upaya untuk merespons, mereka mungkin tanpa sadar menyederhanakan atau mendistorsi argumen tersebut.
Ini juga bisa digunakan untuk mengalihkan perhatian dari poin utama diskusi. Dengan menciptakan dan menyerang argumen yang lebih lemah, pelaku straw man dapat menghindari pertanyaan atau tantangan yang lebih sulit.
Itulah jawaban tentang, apa nama kondisi seseorang yang membuat argumen baru dan dibuat seolah-olah itu adalah argumen orang lain? Kondisi tersebut harus dihindari karena membuat diskusi menjadi tidak sehat dan komunikasi tidak kondusif. (DLA)
Di Balik Logika: Mengapa Orang Makan Daging Kucing? - kumparan.com
Kasus pria memakan kucing karena alasan diabetes mungkin satu contoh di mana pemerintah juga gagal untuk meningkatkan kualitas taraf hidup SDM-nya dan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan [1,064] url asal
#kucing #logika #budaya #kesehatan #pemerintah #pasar #makan
(Kumparan.com) 08/08/24 12:19
v/13779398/
Seorang pria di Semarang memakan daging kucing untuk mengobati diabetes. Itulah judul beberapa hari ini di banyak media massa hingga menyebabkan kemarahan masyarakat. Terlihat dari video yang diunggah oleh salah seorang warga, lelaki paruh baya tersebut berkelakar bahwa yang dilakukannya adalah baik untuk menurunkan gula darah karena yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit diabetes. Entah dari mana pemahaman tersebut.
Banyak orang tentu menyalahkan tindakannya karena tidak sesuai norma bermasyarakat dan secara hukum kucing bukan hewan ternak. Walaupun dalam video ia berulang kali meminta maaf karena perilakunya telah meresahkan orang lain, namun yang jelas, pria itu secara subjektif mempunyai pemikiran yang rasional.
Orang akan cenderung menentukan sebuah pilihan yang menurut mereka rasional dipengaruhi oleh tujuan dan kepentingan pribadinya. Dan hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap perilakunya. Oleh karena itu, pilihan yang rasional walaupun didasari dengan rasionalitas memiliki potensi pengambilan keputusan yang subjektif karena persepsi, preferensi, dan pengalaman orang yang berbeda-beda.
Sebagai contoh, orang yang bekerja di Dinas Sosial yang sedang menangani pembersihan pedagang asongan pasti akan memiliki persepsi yang berbeda jika ditangani oleh orang yang pernah merasakan hidup susah dengan orang yang kehidupannya selalu nyaman. Persepsi dalam pilihan yang rasional atau logika sangat bergantung pada pengalaman pribadi dan mempengaruhi perilaku dan pendekatan yang dilakukan dalam berkehidupan sehari-hari.
Berbeda pada rational-comprehensive, pembuat keputusan biasanya disediakan berbagai alternatif yang mana opsi-opsi yang ada dilakukan analisa secara menyeluruh untuk melihat alternatif terbaik yang dapat diambil. Biasanya juga mempertimbangkan biaya dan manfaat serta digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan bersama.
Secara ideal, rational-comprehensive adalah sebuah cara yang akurat untuk pengambilan keputusan, namun terdapat juga banyak kekurangan terutama dari segi ketersediaan waktu, energi, dan juga kemampuan untuk mengolah data dan seluruh alternatif yang ada. Dalam kehidupan sebuah organisasi tidaklah ideal, terutama pada instansi pemerintah, khususnya di negara berkembang.
Apalagi dalam kehidupan bermasyarakatnya yang tentu dipengaruhi berbagai aspek baik ekonomi, pendidikan, budaya, maupun lingkungan. Dalam penelitiannya, Abel Lopez Dodero mengungkapkan bahwa negara-negara berkembang memiliki karakteristik sosial dan ekonomi yang sangat berbeda dibandingkan negara-negara maju, tempat rational-comprehensive pertama kali diperkenalkan.
Kasus orang memakan kucing bukan yang pertama kalinya terjadi di Indonesia. Selain faktor ekonomi dan kesehatan mental, terdapat faktor utama yang sangat mempengaruhi logika yaitu faktor budaya seperti yang dulu terjadi di Pasar Tomohon Manado. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya pada tahun 2023, Pasar Tomohon Manado resmi melarang perdagangan anjing dan kucing.
Hingga saat ini, diketahui masih banyak orang memperdagangkan secara ilegal serta memakan daging anjing dan kucing. Beberapa kali tertangkap tangan perdagangan anjing dan kucing, contoh pada 2023 lalu, sebuah truk berisi selundupan 226 anjing berhasil digagalkan.
Oleh karena itu, teori rational-comprehensive ini kurang ideal jika dilakukan. Proses pengambilan keputusan yang rumit dan lama, ketika diimplementasikan belum tentu akan berhasil, dan potensi kegagalannya pun juga besar. Oleh karena itu, pengambilan keputusan menggunakan cara ini sering dirasa kurang masuk akal terlebih data dan alternatif pilihan yang diolah bukan hanya secara ekonomi namun juga harus mempertimbangkan manfaat-manfaat sosial dan juga manfaat jangka panjang yang dapat dicapai. Teori ini hanya mungkin dilakukan ketika bermasyarakat di negara maju. Itupun resiko kegagalan juga tinggi.
Sebuah teori logika yang lebih mudah, Bounded Rationality dikembangkan oleh Herbert A. Simon yang pada dasarnya menyatakan bahwa orang mengambil keputusan bukan hanya didasari oleh manfaat ekonomi, tapi juga dipengaruhi oleh unsur psikologis. Pengambilan keputusan didasari oleh attempt to satisfice atau good enough decision dan bukan yang paling optimal.
Bounded rationality juga dirasa lebih rasional untuk dilakukan dengan kesadaran bahwa segala sesuatunya tidak ideal, yang sering menjadi hambatan rational-comprehensive, yaitu data dan informasi yang kurang akurat, tidak lengkap, bahkan kedaluwarsa kemudian unsur-unsur humanis seorang manusia yang kurang dianggap berimplikasi pada pengambilan keputusan yang sudah se-rasional dan se-komprehensif mungkin.
Padahal dalam setiap pengambilan keputusan, unsur sosial juga menjadi bahan pertimbangan apalagi menyangkut kepentingan publik secara luas. Belum dengan tantangan terbatasnya kapasitas dan kompetensi SDM untuk mengolah data dan informasi se-akurat mungkin.
Bounded rationality datang dengan cara dan pendekatan yang lebih masuk akal, karena yang mengambil keputusan itu adalah manusia, maka pendekatan secara perilaku juga harus digunakan dalam pengambilan keputusan. Cara ini jika dilakukan dengan tepat akan menghasilkan sebuah keputusan yang bukan hanya cepat, efektif, efisien, dan ekonomis karena tetap mempertimbangkan biaya manfaat, namun juga memenuhi unsur etika karena telah mempertimbangkan faktor manfaat sosial bagi kepentingan publik. Namun dalam kasus orang memakan kucing, bahkan sesederhana bounded rationality pun gagal karena tidak memenuhi unsur etika.
Dalam bermasyarakat, berorganisasi baik publik maupun sektor swasta, pengambilan keputusan yang terkait dengan perilaku tentu tidak bisa lepas dari ethical decision, yang menurut Consultative Committee of Accountancy Bodies (CCAB) yang ditulis di dalam pedoman penyusunan ethical conduct berjudul Developing and Implementing a Code of Ethical Conduct (2014) menyebutkan bahwa pengambilan keputusan yang etis adalah yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: selflessness, keputusan harus sebesar-besarnya untuk kepentingan publik; integrity yaitu melakukan hal yang benar dan tidak dipengaruhi orang atau entitas lain dalam pengambilan keputusannya; objectivity, pengambilan keputusan harus dilakukan imparsial, adil, berdasarkan kemampuan, dan menggunakan bukti-bukti akurat tanpa diskriminasi atau bias; accountability, keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, dalam hal ini dapat dijelaskan dan penjelasannya dapat diterima oleh publik; openness, informasi dan pengambilan keputusan dilakukan terbuka dan transparan, kecuali dibatasi oleh hukum; honesty, jujur dalam perkataan dan tindakan; leadership, memimpin, mengelola perusahaan, dan memberi kepada seluruh entitas organisasi (tone of the top) dan menggunakan kebijaksanaan sehingga setiap keputusan yang dibuat mendapatkan kepercayaan publik.
Kasus pria memakan kucing karena alasan diabetes mungkin satu contoh di mana pemerintah juga gagal untuk meningkatkan kualitas taraf hidup SDM-nya dan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan sehingga masyarakat membuat keputusan yang salah, keputusan yang mungkin berasal dari keterbatasan finansial dan pengetahuan. Atau lebih parahnya berasal dari keputusasaan.
Policy failure adalah gagalnya sebuah kebijakan untuk mencapai tujuannya. Dalam komponen-komponen keputusan yang etis di atas, terdapat merupakan campuran unsur-unsur rasional ekonomi dengan unsur psikologis dan perilaku yang akan selalu berjalan beriringan dalam pengambilan keputusan yang lebih baik, dengan tercapainya keputusan yang juga ethical sehingga dapat menghindari policy failure di masa yang akan datang.
Jadi kurangnya penggunaan bounded rationality dalam pengambilan keputusan adalah penyebab sering terjadinya policy failure karena bukan hanya keputusan dan dinamika perubahan yang tidak logis, tapi manusia si pembuat keputusan adalah juga makhluk yang tidak logis, dan untuk memahaminya lebih jauh dibutuhkan bantuan ilmu perilaku. Di dunia yang serba tidak pasti dan tidak logis ini, good enough decision seringkali menjadi jawaban yang terbaik karena kita dapat melihat lebih jelas dan tidak rumit.
Istilah Computational Thinking Pertama Kali Diperkenalkan Pada Tahun Berapa? - kumparan.com
Istilah computational thinking pertama kali diperkenalkan pada tahun berapa? Pembahasan tentang istilah computational thinking dapat diketahui dalam artikel ini. [317] url asal
(Kumparan.com - News) 16/07/24 18:37
v/10979872/
Istilahcomputational thinking pertama kali diperkenalkan pada tahun berapa? Computational thinking atau yang juga dikenal dengan berpikir komputasional menjadi suatu istilah yang banyak digunakan saat ini.
Seperti namanya, istilah ini merujuk pada cara berpikir manusia yang seperti komputer. Cara berpikir ini dianggap dapat membantu manusia untuk dapat menyelesaikan masalah dengan lebih mudah.
Berpikir komputasional atau computational thinking adalah istilah yang disebutkan untuk menggambarkan cara berpikir seperti komputer dan dijalankan melalui tahapan proses yang runtut dan mengutamakan logika. Istilah ini sudah mulai dikenal sejak lama. Istilah computational thinking pertama kali diperkenalkan pada tahun berapa?
Dikutip dari buku berjudul Teacher as a Coach (Parents as a Coach), Dr. Pramudianto M. Min., MM, ACC (2021: 52), istilah computational thinking pertama kali diperkenalkan oleh Seymour Papert pada tahun 1980 dan 1996.
Di tahun 2014, pemerintah Inggris memasukkan materi pemrograman ke dalam kurikulum sekolah dasar dan menengah. Apa itu berpikir komputasional atau computational thinking?
Mengutip dari dalam buku berjudul Teknologi Pembelajaran Konsep dan Pengembangannya di Era Society 5.0, Azizatul Khairi, S. Kohar, Haryanto Kanthi Widodo, M. Ali Ghufron, Iqbal Kamaludin, Dimas Prasetya, dkk (2022: 69), kemampuan berpikir komputasional merupakan teknik pemecahan masalah yang memiliki cakupan aplikasi yang sangat luas; tidak terbatas pada solusi masalah yang berkaitan ilmu komputer saja.
Kemampuan berpikir komputasional juga dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu alasan mengapa manusia perlu berpikir secara komputasional adalah untuk memudahkan manusia dalam mengamati suatu masalah dan mencari solusi dari suatu masalah atau kondisi yang dihadapi.
Berpikir komputasional juga dapat dikatakan sebagai sebuah konsep atau cara mengamati masalah untuk kemudian mencari solusi dari permasalahan tersebut. Caranya adalah dengan menerapkan teknologi ilmu komputer.
Dengan berpikir komputasional, seseorang dapat dengan mudah mengamati suatu masalah, memecahkan masalah, bahkan membantu mengembangkan solusi untuk pemecahan suatu masalah yang terjadi.
Demikianlah jawaban sekaligus penjelasan untuk pertanyaan istilah computational thinking pertama kali diperkenalkan pada tahun berapa. Jawabannya adalah tahun 1980 dan 1996. (DAP)
Terpal yang Jauh TTS Lengkap untuk Menyelesaikan Permainan - kumparan.com
Kunci jawaban terpal yang jauh TTS lengkap untuk menyelesaikan permainan dapat diketahui dalam artikel berikut ini. [321] url asal
(Kumparan.com - News) 05/07/24 19:22
v/9777946/
Terpal yang jauh TTS menjadi salah satu petunjuk tebak-tebakan dalam permainan TTS atau permainan teka-teki silang. Dengan adanya petunjuk ini, pemain dapat menyelesaikan permainan dengan lebih mudah.
Petunjuk ini nantinya digunakan pemain untuk membantu menyelesaikan teka-teki yang tersedia. Dengan begitu, pemain dapat mengisi kotak-kotak kosong sehingga tersusun suatu kata atau kalimat yang dibutuhkan.
Mengutip dari dalam buku berjudul Pendekatan Scientific Model Crossword Puzzle, Marsono (2021:26) crossword puzzle atau yang juga dikenal dengan teka-teki silang adalah jenis permainan yang mengharuskan pemain untuk mengisi ruang ruang kosong berbentuk kotak putih.
Ruang kosong tersebut perlu diisi dengan susunan huruf yang kemudian membentuk sebuah rangkaian kata berdasarkan petunjuk yang diberikan. Petunjuk yang disediakan dalam permainan ini sangat beragam. Mulai dari definisi suatu kata, sinonim, antonim atau lawan kata, atau bahkan pengetahuan umum.
Bahkan, saat ini permainan teka-teki silang juga umum menggunakan pertanyaan tebak-tebakan sebagai petunjuk. Tebak-tebakan ini biasanya mengandung unsur humor atau teka-teki yang dapat dipecahkan oleh logika.
Permainan teka-teki silang banyak disukai karena dapat membantu mengasah dan mengembangkan penguasaan kosakata. Selain itu, permainan teka-teki silang juga dapat dijadikan sebagai bahan hiburan di waktu luang.
Salah satu tebak-tebakan yang dapat ditemukan dalam permainan teka-teki silang salah satunya adalah terpal yang jauh. Apa kunci jawaban untuk tebak-tebakan terpal yang jauh TTS?
Jawaban yang dapat disusun dalam kotak-kotak kosong pada permainan teka-teki silang dengan petunjuk terpal yang jauh adalah terpaling jauh.
Jawaban ini dianggap paling sesuai sebab kalimat “terpaling jauh” dibuat dari kata “terpal” yang sesuai dengan petunjuk. Kemudian, kata terpal diberi imbuhan “ter” sehingga artinya adalah “yang paling jauh” sehingga sesuai dengan petunjuk teka-teki ini.
Itu dia kunci jawaban terpal yang jauh TTS untuk dijadikan sebagai bantuan dalam menyelesaikan permainan. Dengan kunci jawaban ini pemain dapat memenangkan permainan dengan lebih mudah sehingga permainan terasa lebih seru. Permainan ini dapat dimainkan sendiri atau bahkan dipecahkan bersama sahabat terdekat. (DAP)