#30 tag 24jam
Desa Hilisimaetano: Perjalanan Menelusuri Budaya Kuno Nias
Desa Hilisimaetano menyimpan banyak pesona budaya dan adat istiadat kuno yang terjaga dengan baik yang membawa berkah baru bagi masyarakatnya. [1,004] url asal
#desa-hilisimaetano #desa-lompat-batu #lompat-batu-nias #lompat-batu #nias #nias-selatan #budaya-lompat-batu
(Bisnis.Com) 05/10/24 22:34
v/16075235/
Bisnis.com, NIAS SELATAN - Menapaki Bawagoli Mbanua, pintu gerbang megah yang terbuat dari tumpukan batu megalitik, adalah langkah pertama yang membawa ke dalam pesona sejarah yang kental di Desa Hilisimaetano.
Setelah melewati gerbang, susunan anak tangga dari batu kuno siap mengantarkan langkah ke dalam desa. Ewali Goroha --halaman musyawarah desa yang dihiasi batu kuno-- menyambut hangat setiap tamu yang datang.
Desa Hilisimaetano memiliki tata letak yang unik, berbeda dari desa-desa lainnya di Indonesia. Rumah-rumah hanya dibangun di sisi kiri dan kanan. Di tengahnya, halaman luas dan bebatuan megalitik berfungsi sebagai pusat aktivitas adat.
Meski sudah berusia ratusan tahun, tradisi dan adat istiadat di Kecamatan Maniamolo, Nias Selatan, Sumatra Utara, tetap terjaga dengan baik.

Kesan hangat melekat pada masyarakat Desa Hilisimaetano, alunan beduk dan tarian tradisional masyarakat desa menyambut tamu.
Begitu juga dengan Salahi Dakhi, pria berusia 85 tahun dengan ramah membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Senyum hangatnya menyapa tamu, suaranya yang tak lagi lantang memanggil untuk mampir.
Sebagai ketua adat, semangatnya untuk melestarikan tradisi tidak pernah pudar. Setiap hari, dia mengenakan pakaian adat, mempertahankan identitasnya di tengah zaman yang terus berubah.
Salahi tinggal bersama seorang istri, fisiknya masih bugar untuk seseorang seusianya. Setiap hari dia masih naik turun tangga, maklum saja, rumah adat Desa Hilisimaetano adalah rumah panggung.
Salahi mempersilakan masuk ke dalam, isi rumahnya pun membuat decak kagum. Rompi prajurit dan senjata tradisional tertata rapi, mengingatkan akan kekayaan sejarah yang dimiliki oleh masyarakat Desa Hilisimaetano.
Sambil mengunyah sirih, Salahi berbagi kisah tentang bagaimana desanya selalu memegang teguh adat istiadat. Hal ini lah yang membuat desanya tetap lestari, meski modernisasi mengintai.
Ketika tengah larut dalam ceritanya, lantunan musik tradisional mulai menggema, diikuti teriakan memanggil warga untuk berkumpul di area lompat batu.

Musik ini mengiringi tradisi Fahombo, di mana para pemuda melompati tumpukan batu setinggi 2 meter sebagai simbol kedewasaan. Jika batu dapat dilewati oleh para remaja, maka mereka telah dinyatakan dewasa secara fisik.
Tradisi yang hanya dilakukan oleh laki-laki Suku Nias itu masih lestari di Desa Hilisimaetano. Karena keunikannya, tradisi ini telah membawa nama Desa Hilisimaetano ke seantero negeri.
Tidak hanya itu, tradisi lompat batu bahkan pernah menghiasi wajah uang kertas Rp1.000 yang beredar antara 1992 hingga 2006.
Kendati tradisi lompat batu tak lagi bisa dilihat pada cetakan uang kertas, tetapi prinsip yang dipegang teguh oleh warga Desa Hilisimaetano membuat semua keunikan adat dan budaya yang autentik masih terjaga dengan baik.
Terpikat Budaya Kuno Nias

Ikhtiar masyarakat Desa Hilisimaetano melestarikan budaya di desanya semata-mata untuk menjaga adat tradisi yang ada. Namun, usaha baik itu turut membuka pintu berkah baru.
Keunikan yang dimiliki Desa Hilisimaetano telah menjadi magnet bagi para wisatawan lokal hingga internasional.
Desa yang menjadi binaan Desa Sejahtera Astra oleh PT Astra International Tbk. pada 2022 tersebut tekah menjadi salah satu destinasi wisata pilihan di Pulau Nias.
Ketua Pokdarwis Hilisimaetano Heritage, Nove Waoma mengungkapkan, sebagai desa terbesar di Pulau Niat, tempatnya telah menjadi pusat adat dan budaya suku asli Nias.
Menurutnya, semangat mempertahankan adat dan tradisi agar tetap eksis menjadi penyemangat para warga Desa Hilisimaetano.
"Kita mempertahankan itu agar anak-cucu kita kelak tidak lupa dengan identitas," ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.
Nove mengungkapkan, menjaga semangat kolektif di tengah tantangan zaman bukanlah hal yang mudah.
Namun, warga terus berupaya menjaga kekompakan dan memberikan pemahaman kepada generasi muda agar tidak mudah tergerus oleh perubahan.
"Jangan sampai kita adat dan budaya yang ada tergerus oleh hal baru," tuturnya.

Menurut Nove, Program Desa Sejahtera Astra dari PT Astra International Tbk. telah membantu memperkuat infrastruktur desa, memudahkan desa ini dikenal lebih luas, baik di kancah lokal maupun internasional.
Dengan meningkatnya aktivitas pariwisata, masyarakat kini menikmati berbagai sumber pendapatan baru dari yang sebelumnya hanya bergantung pada kegiatan bertani, menyadap karet, ataupun beternak.
Setelah pandemi Covid-19, kedatangan tamu lokal sudah mencapai 100 orang setiap bulannya.
"Sebenarnya bisa [menjadi sumber rezeki] asal kita bisa konsisten, menjaga apa yang kita miliki, dan mereka punya semangat," kata Nove optimistis.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Baparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno yang telah melihat langsung keunikan adat istiadat dan budaya di Desa Hilisimaetano merasa kagum.
Sandiaga mengungkapkan, adat istiadat dan budaya di desa tersebut masih dijaga dan dilestarikan dengan baik oleh masyarakat setempat.
Dia merasakan kekuatan sejarah dan budaya yang terpelihara dengan baik, mulai dari Batu Megalitik hingga rumah adat yang terawat.
Tidak hanya itu, sistem pemerintahan adat yang masih dipegang teguh masyarakat Desa Hilisimaetano makin membuat kekuatan adat dan tradisi terasa kental.
"Kekentalan adat budaya lompat batu, tari perang, tari harimau, sampai penganugerahan tadi sudah saya nikmati. Dan saya melihat kekentalan sejarah dan budaya, saya melihat ini adalah atraksi utama kita, tradisi budaya untuk mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Nias Selatan," kata Sandiaga saat mengunjungi Desa Hilisimaetano pada 2022.
Setelah dianugerahi sebagai 50 desa wisata terbaik di Indonesia, Sandiaga berencana untuk menjadikan Desa Hilisimaetanö sebagai desa wisata berkelanjutan.
Selain potensi wisata, kawasan persawahan yang terbesar di Nias Selatan menjadikan potensi sebagai kawasan agrowisata.
"Kita juga akan meningkatkan desa wisata ini agar menjadi desa wisata berkelanjutan, kita akan kembangkan produk ekonomi kreatifnya, sehingga lapangan kerja terbuka dan penghasilan masyarakat meningkat," lanjutnya.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias Selatan mencatat, sektor pariwisata mampu mencatatkan pemulihan yang cukup baik setelah terhantam pandemi Covid-19.
Sektor pariwisata tercatat telah berhasil mendatangkan sebanyak 59.200 wisatawan baik lokal maupun mancanegara pada 2022. Jumlah itu hampir pulih jika dibandingkan dengan realisasi sebelum pandemi Covid-19 pada 2019 dengan jumlah wisatawan sebanyak 69.595 wisatawan.
Dari situ, Pemerintah Kabupaten Nias Selatan pun mencatat, sektor pariwisata telah berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang baik selepas masa pandemi Covid-19.
Laju pertumbuhan ekonomi sektor pariwisata yang tercatat hanya mampu tumbuh 0,84% pada 2020 atau masa pada saat pandemi Covid-19 berlangsung, telah berhasil melesat pada realisasi 6,88% pada 2022.
Mengenal Tradisi Lompat Batu Nias, Kearifan Lokal yang Mendunia Kini Tersisa 5 Pelompat
Tradisi Lompat Batu asal Nias dikenal dunia. Namun kini jumlah pelompat batu tersebut terus berkurang. - Bagian all [470] url asal
#tradisi #lompat-batu #kabupaten-nias-selatan #sumut #desa-adat
(iNews - Terkini) 21/09/24 15:03
v/15346432/
NIAS, iNews.id - Mengenal tradisiLompat Batu asal Nias, Sumatera Utara (Sumut) yang terkenal dan mendunia. Namun siapa sangka saat ini jumlah pelompat batu tersebut tinggal menyisakan lima orang di Desa Adat Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan.
Desa ini sudah berdiri sejak 1830-an dan di sanalah lahirnya para pelompat batu Nias, tradisi yang pernah ditampilkan dalam uang kertas nominal Rp1.000 keluaran 1992.
Tradisi lompat batu atau 'ahombo Batu' merupakan salah satu warisan budaya yang paling ikonik dan penuh makna lahir dari sejarah panjang masyarakat. Tradisi ini dulunya merupakan latihan bagi para pemuda untuk melompati pagar desa lawan saat perang.
Dulu, setiap kampung atau desa di Nias sering memagari kampungnya supaya musuh tidak bisa masuk. Sehingga para tokoh adat berinisiatif membuat lompat batu sebagai latihan. Jika suatu saat para pemuda yang ikut perang dan tidak bisa masuk karena terhalang pagar, mereka bisa melompatinya.
Saat ini jumlah pelompat batu yang ada di Desa Bawomataluo tinggal lima orang. Meski jumlah penduduk di sana mencapai ribuan, tak banyak lagi yang mempunyai kemampuan tersebut.
Sebab untuk bisa melompati batu, mereka harus latihan selama bertahun-tahun dari sejak kecil.
"Saya salah satu pelompat dari Desa Bawomataluo. Saat ini kami tinggal 5 orang yang bisa melompat," ucap Silfester Putra Fau kepada iNews, Sabtu (21/9/2024).
Kata Putra, awalnya dia latihan menggunakan bambu dimulai dari tinggi 1 meter kemudian ditambah jadi 1,5 meter hingga 2 meter. Setelah itu baru melompati batu tersebut.
"Ada saja di luar sana yang menganggap sepele karena ada tumpuannya, ya memang ada tumpuannya tapi nggak sembarangan orang yang bisa loncat. Di Desa Bawomataluo yang jumlah pemudanya ribuan tidak semua bisa melompat," katanya.
Menurutnya risiko lompat batu ini sangat besar. Bukan saja sekadar melompat, tetapi juga harus bisa mendarat dengan sempurna jika tidak yang bisa cedera otot bahkan patah tulang.
"Dari dulu kan lompat batu ini dibuat bukan untuk permainan, jadi kalau dibilang sakral ya dan perlu teknik. Kemarin ada yang loncat jarinya patah dan juga ada yang menabrak batunya," ucapnya.
Sebelumnya, hanya 12 orang paling banyak pelompat batu yang berbentuk monumen piramida, bagian atasnya datar tinggi kurang dari 2 meter dengan lebar sekitar 1 meter itu. Saat ini jumlahnya semakin sedikit.
Untuk terus terjaganya tradisi ini, Putra berharap kepada juniornya sebagai generasi penerus untuk berlatih dan tetap semangat agar lompat batu yang terkenal dan mendunia itu tidak musnah.
"Harapan saya pada junior kami yang ingin melanjutkan lompat batu ini marilah berlatih dengan baik. Jangan sampai lompat batu ini musnah soalnya ini juga yang menjadi daya tarik wisatawan datang ke sini. Kalau Kami nanti udah tidak ada ya maunya ada generasi penerusnya dari bawah," ucapnya.
Usia pria yang mengikuti lompat batu ini dimulai dari umur 10 tahun dan tak hanya asal lompat tetapi juga ritual dilakukan secara serius saat melakukan lompat batu serta harus mengenakan busana ala pejuang Nias.
Editor: Donald Karouw