Desa Hilisimaetano menyimpan banyak pesona budaya dan adat istiadat kuno yang terjaga dengan baik yang membawa berkah baru bagi masyarakatnya. [1,004] url asal
Bisnis.com, NIAS SELATAN - Menapaki Bawagoli Mbanua, pintu gerbang megah yang terbuat dari tumpukan batu megalitik, adalah langkah pertama yang membawa ke dalam pesona sejarah yang kental di Desa Hilisimaetano.
Setelah melewati gerbang, susunan anak tangga dari batu kuno siap mengantarkan langkah ke dalam desa. Ewali Goroha --halaman musyawarah desa yang dihiasi batu kuno-- menyambut hangat setiap tamu yang datang.
Desa Hilisimaetano memiliki tata letak yang unik, berbeda dari desa-desa lainnya di Indonesia. Rumah-rumah hanya dibangun di sisi kiri dan kanan. Di tengahnya, halaman luas dan bebatuan megalitik berfungsi sebagai pusat aktivitas adat.
Meski sudah berusia ratusan tahun, tradisi dan adat istiadat di Kecamatan Maniamolo, Nias Selatan, Sumatra Utara, tetap terjaga dengan baik.
Warga Desa Hilisimaetano memberikan musik penyambutan tamu/Bisnis-Muhammad Ridwan
Kesan hangat melekat pada masyarakat Desa Hilisimaetano, alunan beduk dan tarian tradisional masyarakat desa menyambut tamu.
Begitu juga dengan Salahi Dakhi, pria berusia 85 tahun dengan ramah membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Senyum hangatnya menyapa tamu, suaranya yang tak lagi lantang memanggil untuk mampir.
Sebagai ketua adat, semangatnya untuk melestarikan tradisi tidak pernah pudar. Setiap hari, dia mengenakan pakaian adat, mempertahankan identitasnya di tengah zaman yang terus berubah.
Salahi tinggal bersama seorang istri, fisiknya masih bugar untuk seseorang seusianya. Setiap hari dia masih naik turun tangga, maklum saja, rumah adat Desa Hilisimaetano adalah rumah panggung.
Salahi mempersilakan masuk ke dalam, isi rumahnya pun membuat decak kagum. Rompi prajurit dan senjata tradisional tertata rapi, mengingatkan akan kekayaan sejarah yang dimiliki oleh masyarakat Desa Hilisimaetano.
Sambil mengunyah sirih, Salahi berbagi kisah tentang bagaimana desanya selalu memegang teguh adat istiadat. Hal ini lah yang membuat desanya tetap lestari, meski modernisasi mengintai.
Ketika tengah larut dalam ceritanya, lantunan musik tradisional mulai menggema, diikuti teriakan memanggil warga untuk berkumpul di area lompat batu.
Seorang melakukan tradisi lompat batu/Bisnis-Muhammad Ridwan
Musik ini mengiringi tradisi Fahombo, di mana para pemuda melompati tumpukan batu setinggi 2 meter sebagai simbol kedewasaan. Jika batu dapat dilewati oleh para remaja, maka mereka telah dinyatakan dewasa secara fisik.
Tradisi yang hanya dilakukan oleh laki-laki Suku Nias itu masih lestari di Desa Hilisimaetano. Karena keunikannya, tradisi ini telah membawa nama Desa Hilisimaetano ke seantero negeri.
Tidak hanya itu, tradisi lompat batu bahkan pernah menghiasi wajah uang kertas Rp1.000 yang beredar antara 1992 hingga 2006.
Kendati tradisi lompat batu tak lagi bisa dilihat pada cetakan uang kertas, tetapi prinsip yang dipegang teguh oleh warga Desa Hilisimaetano membuat semua keunikan adat dan budaya yang autentik masih terjaga dengan baik.
Terpikat Budaya Kuno Nias
Warga adat desa Hilisimaetano/Bisnis-Muhammad Ridwan
Ikhtiar masyarakat Desa Hilisimaetano melestarikan budaya di desanya semata-mata untuk menjaga adat tradisi yang ada. Namun, usaha baik itu turut membuka pintu berkah baru.
Keunikan yang dimiliki Desa Hilisimaetano telah menjadi magnet bagi para wisatawan lokal hingga internasional.
Desa yang menjadi binaan Desa Sejahtera Astra oleh PT Astra International Tbk. pada 2022 tersebut tekah menjadi salah satu destinasi wisata pilihan di Pulau Nias.
Ketua Pokdarwis Hilisimaetano Heritage, Nove Waoma mengungkapkan, sebagai desa terbesar di Pulau Niat, tempatnya telah menjadi pusat adat dan budaya suku asli Nias.
Menurutnya, semangat mempertahankan adat dan tradisi agar tetap eksis menjadi penyemangat para warga Desa Hilisimaetano.
"Kita mempertahankan itu agar anak-cucu kita kelak tidak lupa dengan identitas," ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.
Nove mengungkapkan, menjaga semangat kolektif di tengah tantangan zaman bukanlah hal yang mudah.
Namun, warga terus berupaya menjaga kekompakan dan memberikan pemahaman kepada generasi muda agar tidak mudah tergerus oleh perubahan.
"Jangan sampai kita adat dan budaya yang ada tergerus oleh hal baru," tuturnya.
warga Desa Hilisimaetano sedang berkumpul di dekat arena lompat batu/Bisnis-Muhammad Ridwan
Menurut Nove, Program Desa Sejahtera Astra dari PT Astra International Tbk. telah membantu memperkuat infrastruktur desa, memudahkan desa ini dikenal lebih luas, baik di kancah lokal maupun internasional.
Dengan meningkatnya aktivitas pariwisata, masyarakat kini menikmati berbagai sumber pendapatan baru dari yang sebelumnya hanya bergantung pada kegiatan bertani, menyadap karet, ataupun beternak.
Setelah pandemi Covid-19, kedatangan tamu lokal sudah mencapai 100 orang setiap bulannya.
"Sebenarnya bisa [menjadi sumber rezeki] asal kita bisa konsisten, menjaga apa yang kita miliki, dan mereka punya semangat," kata Nove optimistis.
Warga Desa Hilisimaetano sedang membuat kerajinan tangan/Bisnis-Muhammad Ridwan
Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Baparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno yang telah melihat langsung keunikan adat istiadat dan budaya di Desa Hilisimaetano merasa kagum.
Sandiaga mengungkapkan, adat istiadat dan budaya di desa tersebut masih dijaga dan dilestarikan dengan baik oleh masyarakat setempat.
Dia merasakan kekuatan sejarah dan budaya yang terpelihara dengan baik, mulai dari Batu Megalitik hingga rumah adat yang terawat.
Tidak hanya itu, sistem pemerintahan adat yang masih dipegang teguh masyarakat Desa Hilisimaetano makin membuat kekuatan adat dan tradisi terasa kental.
"Kekentalan adat budaya lompat batu, tari perang, tari harimau, sampai penganugerahan tadi sudah saya nikmati. Dan saya melihat kekentalan sejarah dan budaya, saya melihat ini adalah atraksi utama kita, tradisi budaya untuk mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Nias Selatan," kata Sandiaga saat mengunjungi Desa Hilisimaetano pada 2022.
Setelah dianugerahi sebagai 50 desa wisata terbaik di Indonesia, Sandiaga berencana untuk menjadikan Desa Hilisimaetanö sebagai desa wisata berkelanjutan.
Selain potensi wisata, kawasan persawahan yang terbesar di Nias Selatan menjadikan potensi sebagai kawasan agrowisata.
"Kita juga akan meningkatkan desa wisata ini agar menjadi desa wisata berkelanjutan, kita akan kembangkan produk ekonomi kreatifnya, sehingga lapangan kerja terbuka dan penghasilan masyarakat meningkat," lanjutnya.
Perkembangan sektor pariwisiata di Kabupaten Nias Selatan
Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias Selatan mencatat, sektor pariwisata mampu mencatatkan pemulihan yang cukup baik setelah terhantam pandemi Covid-19.
Sektor pariwisata tercatat telah berhasil mendatangkan sebanyak 59.200 wisatawan baik lokal maupun mancanegara pada 2022. Jumlah itu hampir pulih jika dibandingkan dengan realisasi sebelum pandemi Covid-19 pada 2019 dengan jumlah wisatawan sebanyak 69.595 wisatawan.
Dari situ, Pemerintah Kabupaten Nias Selatan pun mencatat, sektor pariwisata telah berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang baik selepas masa pandemi Covid-19.
Laju pertumbuhan ekonomi sektor pariwisata yang tercatat hanya mampu tumbuh 0,84% pada 2020 atau masa pada saat pandemi Covid-19 berlangsung, telah berhasil melesat pada realisasi 6,88% pada 2022.
Eks anggota DPRD Nias Selatan Aris Agustus Dachi mengamuk di acara pelantikan anggota DPRD Nias Selatan periode 2024-2029. Belum diketahui alasan tindakan ini. - Bagian all [166] url asal
NIAS SELATAN, iNews.id - Eks anggota DPRDNias Selatan Aris Agustus Dachi mengamuk saat acara pelantikan anggota DPRD Nias Selatan periode 2024-2029. Dia memukul meja hingga membanting palu pimpinan rapat.
Rapat paripurna pengambilan sumpah janji 35 anggota DPRD Nias Selatan ini berlangsung di ruang rapat DPRD Nias Selatan, Jalan Saonigeho km 3, Teluk Dalam, Senin (30/9/2024).
Di selang acara tarian kebudayaan berlangsung, tiba-tiba Aris Agustus Dachi dengan mengenakan batik berwarna kuning dari arah peserta acara mendatangi meja Ketua DPRD Nias Selatan Elisati Halawa.
Sesampainya di hadapan Elisati, terlihat dia melontarkan sesuatu dengan gaya marah. Tak lama kemudian dia memukul meja, mengambil palu pimpinan rapat dan melemparkannya.
Sejauh ini, belum diketahui penyebab mantan anggota DPRD tersebut mengamuk. Seusai melakukan aksinya, dia langsung diseret keluar oleh petugas keamanan.
iNews sudah berupaya mengonfirmasi kepada Humas Polres Nias Selatan melalui Bripda M Diwan Hulu. Namun sejauh ini belum memberikan jawaban terkait kericuhan yang terjadi saat acara pelantikan anggota DPRD Nias Selatan periode 2024-2029.
NIAS, iNews.id - Mengenal tradisiLompat Batu asal Nias, Sumatera Utara (Sumut) yang terkenal dan mendunia. Namun siapa sangka saat ini jumlah pelompat batu tersebut tinggal menyisakan lima orang di Desa Adat Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan.
Desa ini sudah berdiri sejak 1830-an dan di sanalah lahirnya para pelompat batu Nias, tradisi yang pernah ditampilkan dalam uang kertas nominal Rp1.000 keluaran 1992.
Tradisi lompat batu atau 'ahombo Batu' merupakan salah satu warisan budaya yang paling ikonik dan penuh makna lahir dari sejarah panjang masyarakat. Tradisi ini dulunya merupakan latihan bagi para pemuda untuk melompati pagar desa lawan saat perang.
Dulu, setiap kampung atau desa di Nias sering memagari kampungnya supaya musuh tidak bisa masuk. Sehingga para tokoh adat berinisiatif membuat lompat batu sebagai latihan. Jika suatu saat para pemuda yang ikut perang dan tidak bisa masuk karena terhalang pagar, mereka bisa melompatinya.
Saat ini jumlah pelompat batu yang ada di Desa Bawomataluo tinggal lima orang. Meski jumlah penduduk di sana mencapai ribuan, tak banyak lagi yang mempunyai kemampuan tersebut.
Sebab untuk bisa melompati batu, mereka harus latihan selama bertahun-tahun dari sejak kecil.
"Saya salah satu pelompat dari Desa Bawomataluo. Saat ini kami tinggal 5 orang yang bisa melompat," ucap Silfester Putra Fau kepada iNews, Sabtu (21/9/2024).
Kata Putra, awalnya dia latihan menggunakan bambu dimulai dari tinggi 1 meter kemudian ditambah jadi 1,5 meter hingga 2 meter. Setelah itu baru melompati batu tersebut.
"Ada saja di luar sana yang menganggap sepele karena ada tumpuannya, ya memang ada tumpuannya tapi nggak sembarangan orang yang bisa loncat. Di Desa Bawomataluo yang jumlah pemudanya ribuan tidak semua bisa melompat," katanya.
Menurutnya risiko lompat batu ini sangat besar. Bukan saja sekadar melompat, tetapi juga harus bisa mendarat dengan sempurna jika tidak yang bisa cedera otot bahkan patah tulang.
"Dari dulu kan lompat batu ini dibuat bukan untuk permainan, jadi kalau dibilang sakral ya dan perlu teknik. Kemarin ada yang loncat jarinya patah dan juga ada yang menabrak batunya," ucapnya.
Sebelumnya, hanya 12 orang paling banyak pelompat batu yang berbentuk monumen piramida, bagian atasnya datar tinggi kurang dari 2 meter dengan lebar sekitar 1 meter itu. Saat ini jumlahnya semakin sedikit.
Untuk terus terjaganya tradisi ini, Putra berharap kepada juniornya sebagai generasi penerus untuk berlatih dan tetap semangat agar lompat batu yang terkenal dan mendunia itu tidak musnah.
"Harapan saya pada junior kami yang ingin melanjutkan lompat batu ini marilah berlatih dengan baik. Jangan sampai lompat batu ini musnah soalnya ini juga yang menjadi daya tarik wisatawan datang ke sini. Kalau Kami nanti udah tidak ada ya maunya ada generasi penerusnya dari bawah," ucapnya.
Usia pria yang mengikuti lompat batu ini dimulai dari umur 10 tahun dan tak hanya asal lompat tetapi juga ritual dilakukan secara serius saat melakukan lompat batu serta harus mengenakan busana ala pejuang Nias.
Dinas Kesehatan Nias Selatan mencatat 562 warga terjangkit DBD dan malaria selama Januari hingga Juli 2024. 8 pasien di antaranya meninggal dunia. - Bagian all [350] url asal
JAKARTA, iNews.id - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan malaria mewabah di Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nias Selatan sejak Januari hingga Juli 2024 tercatat delapan pasien meninggal dunia.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, berdasarkan data BPBD Nias Selatan, penyakit ini mewabah di tujuh kecamatan yakni Pulau-Pulau Batu, Pulau-Pulau Batu Timur, Pulau-Pulau Batu Barat, Pulau-Pulau Batu Utara, Simauk, Tanah Masa dan Hibala.
"Dalam kurun waktu selama tujuh bulan di tahun ini, kurang lebih sudah ada 562 orang warga terjangkit. Dari jumlah itu 8 orang meninggal dunia, 554 warga lainnya telah dirawat dan dinyatakan sembuh dari wabah malaria tersebut," ujarnya, Kamis (15/8/2024).
Menurutnya sebagai bentuk upaya penanganan darurat, Pemkab Nias Selatan telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Non-Alam Kejadian Luar Biasa Malaria dan DBD dengan Nomor 100.3.3.2/639/2024 selama 14 hari hingga tanggal 23 Agustus 2024.
Bupati Nias Selatan juga telah membentuk Sistem Komando Penanganan Darurat Kejadian Bencana Non Alam Kejadian Luar Biasa Malaria dan Demam Berdarah yang ditetapkan melalui surat bernomor 100.3.3.2/646/2024 pada tanggal 9 Agustus 2024.
Atas keputusan tersebut, unsur forkopimda se-Kabupaten Nias Selatan rutin melaksanakan upaya penilaian dan kaji cepat di lokasi-lokasi yang menjadi zona merah wabah dua penyakit tersebut.
BPBD Nias Selatan terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk melakukan langkah-langkah strategis dan terintegrasi.
Di samping itu, Dinkes juga telah menerbitkan status kejadian luar biasa dan melaksanakan penanganan pasien melalui pusat-pusat pelayanan kesehatan. Di sisi lain, pemerintah kecamatan bersama muspida tak henti menggencarkan gotong-royong pembersihan lingkungan sebagai bentuk mitigasi dan antisipatif.
Saat ini, wabah penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan anopheles itu masih mengintai sebagian besar masyarakat Nias Selatan.
Kasus wabah yang masuk dalam kategori bencana non-alam ini sesuai UU Nomor 24 Tahun 2007. Sebagai negara tropis, Indonesia menyumbangkan kasus malaria terbanyak kedua di Asia, setelah India. Indonesia mencatat estimasi 811.636 kasus positif pada 2021 sebagaimana data Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Gadis di Nias Selatan nekat kabur dari rumah karena merasa tertekan dimarahi ayahnya serta dipaksa sekolah. Dia ditemukan polisi saat berada di penginapan. - Bagian all [208] url asal
NIAS SELATAN, iNews.id - Gadis berinisial CAS warga Kecamatan Fanayama, Nias Selatan (Nisel), Sumatra Utara sempat hilang 4 hari usai kabur dari rumah. Polisi menemukannya di sebuah penginapan dan langsung membawanya untuk dimintai keterangan, Rabu (10/7/2024) dini hari.
Kasat Reskrim Polres Nias Selatan AKP Freddy Siagian mengatakan, awalnya menerima laporan gadis tersebut telah lari meninggalkan rumah sejak Sabtu (6/7/2024).
"Saat interogasi, si anak mengaku merasa tertekan karena dimarahi ayahnya. Dia tidak mau lagi dipaksa melanjutkan sekolah," ujarnya, Rabu (10/7/2024).
Menurutnya, hal itu mendorong gadis ini kabur dari rumah lalu menyewa sebuah penginapan selama berhari-hari sebagai tempat tinggal sementara. Dia merasa tertekan dimarahi ayahnya yang memaksa untuk melanjutkan sekolah.
"Saat ini anak tersebut telah diserahkan kepada orang tuanya untuk dibawa pulang ke rumah dalam keadaan sehat," katanya.
Sebelumnya, ayah sang gadis berinisial NS membuat laporan polisi kehilangan anaknya di Polres Nisel, Selasa (9/7/2024). Keluarga merasa merasakan khawatir anaknya tidak pulang selama berhari-hari. lalu meminta bantuan polisi.
Setelah menerima laporan, personel Humas Polres Nisel Bripda Ardian Ndruru menerima informasi masyarakat anak hilang sesuai dengan ciri-ciri yang disebarkan lewat media sosial berada di salah satu penginapan di Kota Teluk Dalam. Kemudian polisi datang menjemput bersama orang tuanya.