REPUBLIKA.CO.ID, LONDON --Hampir 430 orang telah ditangkap di Inggris sejak pecahnya kerusuhan menyusul serangan penikaman di kota Southport minggu lalu, kata Dewan Kepala Polisi Nasional (NPCC) pada Rabu.
"Sekitar 120 orang telah didakwa dan 428 penangkapan telah dilakukan, dengan jumlah itu diperkirakan akan meningkat secara signifikan hari demi hari," kata NPCC dalam sebuah pernyataan.
Aparat penegak hukum bekerja sama dengan sistem peradilan pidana untuk memastikan bahwa pelanggar akan ditahan dan dipenjara sesuai dengan tindakan mereka, kata polisi.
Tiga gadis muda tewas dan 10 lainnya terluka parah dalam serangan penikaman di klub tari anak-anak di Southport minggu lalu. Polisi menangkap seorang anak laki-laki berusia 17 tahun dan mendakwanya dengan tiga tuduhan pembunuhan dan 10 tuduhan percobaan pembunuhan. Serangan tersebut tidak dianggap sebagai tindakan terorisme.
Aparat penegak hukum Inggris menuduh Liga Pertahanan Inggris yang berhaluan kanan jauh memicu protes, sementara beberapa media negara tersebut melaporkan bahwa Rusia berada di balik kerusuhan tersebut. Kedutaan Besar Rusia di London dengan tegas menolak tuduhan tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Fakta menunjukkan meski kerap menjadi korban islamofobia, vandalisme tempat ibadah dan kuburan, tapi umat Islam di Inggris terbukti paling dermawan dibanding kelompok lainnya di inggris, bahkan mereka berderma bukan hanya ke umat Islam saja, tapi juga ke non Islam.
Merespons hal itu, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, apa yang dilakukan umat Islam di Inggris tersebut merupakan cerminan kehidupan sehari-hari umat Islam. Sehingga, sikap seperti itu harus dipertahankan.
"Tidak peduli Islam maupun bukan Islam jadi kemuliaan ini merupakan cerminan dari ajaran Allah," ujar Prof Sudarnoto saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (8/8/2024).
Dia menjelaskan, agama Islam memang menganjurkan pemeluknya untuk melakukan berbagai perbuatan yang mulia serta memperkokoh imannya. Menurut dia, umat Islam juga diwajibkan melaksanakan ibadah yang diajarkan Rasulullah.
"Semua ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah kita lakukan. Ini untuk menggambarkan hubungan vertikal kita dengan Allah," ucap dia.
Sedangkan secara sosial, lanjut dia, umat Islam diajarkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang baik dan bermanfaat untuk banyak kalangan masyarakat. Dalam hal ini, menurut dia, Islam mengajarkan untuk menghormati segala perbedaan, termasuk perbedaan agama.
"Nah itulah sebetulnya kita beruntung ajaran Islam kita mengajarkan hal-hal yang yang baik-baik itu memberikan pertolongan kepada siapa saja, tidak perlu berpikir siapa yang akan ditolong, agamanya apa dan sebagainya," kata dia.
Meskipun umat Islam di Inggris minoritas, menurut dia, mereka kerap melakukan kegiatan sosial yang memberikan manfaat kepada banyak orang. Bahkan, menurut dia, di Eropa bahkan di Amerika, komunitas muslim juga sering mengundang orang-orang non muslim ketika melaksanakan kegiataan seperti buka puasa bersama.
"Dan benar itu, saya jadi ingat pada masa Covid itu di Eropa, bahkan juga di Amerika, masjid itu menjadi tempat untuk humanitarian program, bantuan kemanusiaan. Dan itu digerakkan oleh orang-orang Islam," jelas Prof Sudarnoto.
Dia mengatakan, nilai-nilai toleransi juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam tradisi umat Islam. Karena itu, dia pun heran terhadap kelompok ekstrem kanan di beberapa negara barat yang justru memandang orang-orang Islam sebagai ancaman.
"Menurut saya memang aneh. Nah tetapi kan umat Islam tidak surut meskipun itu didera oleh oleh kebencia, didera oleh buli, didera oleh vandalisme bahkan juga tindakan-tindakan kekerasan," ujar Prof Sudarnoto.
"Itu untuk tidak menyurutkan orang-orang Islam untuk menghentikan perbuatan-perbuatan baiknya," ucap Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL— Muslim Inggris, pencari suaka dan warga kulit hitam Inggris telah menjadi target utama dari serangan kekerasan rasis terburuk di Inggris selama beberapa generasi.
Kerusuhan dimulai setelah para penghasut sayap kanan menyebarkan informasi yang salah secara online, yang secara keliru mengklaim bahwa seorang Muslim bertanggung jawab atas pembunuhan tiga anak dalam sebuah serangan mengerikan pada 29 Juli 2024 lalu, dia kemudian diidentifikasi sebagai seorang Kristen kelahiran Inggris keturunan Rwanda.
Tak lama setelah pembunuhan tersebut, para aktivis sayap kanan yang terorganisir membajak sebuah acara peringatan bagi anak-anak untuk mendorong massa menyerang sebuah masjid setempat.
Dalam beberapa hari, kerusuhan anti-Muslim, anti-migran dan rasis telah menyebar ke kota-kota di seluruh Inggris, dengan laporan kekerasan serius dan intimidasi terhadap penduduk Inggris dari semua ras, perusakan mobil dan properti serta penjarahan tempat usaha.
Dalam beberapa hari terakhir, Inggris telah menyaksikan gelombang kekacauan kekerasan. Banyak dari mereka yang terlibat tidak diragukan lagi termotivasi, bukan oleh politik, melainkan oleh jenis kegembiraan yang telah lama dimiliki oleh para perusuh sepak bola di seluruh dunia dalam menyerang pihak berwenang.
Namun, tidak diragukan lagi bahwa serangan-serangan tersebut dipicu dan didalangi oleh para ekstremis sayap kanan yang memanfaatkan apa yang, sayangnya, sering kali merupakan prasangka yang meluas - terutama jika menyangkut orang kulit berwarna, Muslim, dan pencari suaka.
Bukan al baru
Tentu saja, kerusuhan yang seolah-olah didorong oleh kebencian agama dan ras serta penentangan terhadap imigrasi bukanlah hal yang baru di Inggris. Bahkan, kita bisa kembali ke 1780 untuk melihat London mengalami kekacauan anti-Katolik Roma selama sepekan, sementara pada akhir 1950-an, berbagai kota mengalami "kerusuhan ras" yang dipicu oleh orang-orang kulit putih yang menolak kedatangan imigran kulit hitam dan Asia Selatan dari Persemakmuran Inggris.
Baru-baru ini...
Ditambah lagi dengan kecemasan yang semakin meluas tentang suaka dan imigrasi - dan kegagalan pemerintah Inggris yang sukses untuk memenuhi janji-janji mereka untuk "mengambil kembali kendali" atas perbatasan kita, dan Anda memiliki situasi yang sangat mudah terbakar yang hanya membutuhkan percikan api yang tepat untuk menyalakannya, terutama ketika matahari terbenam, pekerjaan selesai di akhir pekan atau malam hari dan bir diminum secara berlebihan.
Saat ini, media sosial memungkinkan para penghasut ekstrem kanan (yang seringkali diperkuat oleh peternakan bot yang dibiayai oleh kekuatan-kekuatan yang bermusuhan di luar negeri) untuk memanfaatkan sumur ketidakpercayaan dan permusuhan yang sangat dalam dengan memicu kecemasan dan menyebarkan kebohongan mengenai kejadian-kejadian tragis, seperti penikaman anak-anak di Southport dekat Liverpool minggu lalu, yang mereka tuduhkan (tanpa ada kebenarannya sama sekali) kepada seorang pencari suaka Muslim.
Selain itu, situasi ini semakin diperparah oleh para pemimpin yang tampak terhormat yang menyarankan atau, setidaknya, menyiratkan bahwa mereka yang bergabung dalam kerusuhan tidak hanya dimotivasi oleh para preman yang termotivasi oleh prasangka, tetapi juga oleh orang-orang yang memiliki "keluhan yang sah" yang seharusnya diabaikan oleh para "elite", sebagai contoh, Nigel Farage dari Partai Buruh Inggris Raya yang berteriak, "Kami ingin negara kami kembali," atau para anggota Partai Konservatif yang terkenal yang menggunakan kata-kata seperti "invasi" ketika mereka berbicara tanpa henti tentang "menghentikan kapal-kapal yang membawa para pencari suaka menyeberangi Selat Inggris dari benua Eropa."
Fakta bahwa pemilihan umum bulan Juli lalu membuat sayap kanan digantikan oleh sayap kiri dalam bentuk Partai Buruh pimpinan Keir Starmer kemungkinan besar, orang menduga, hanya untuk mendorong mereka untuk terus memainkan apa yang ternyata merupakan permainan yang sangat berbahaya.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Konsultan Blue State mengungkapkan hasil penelitian bahwa umat Islam di Inggris disebut sebagai kelompok paling dermawan di Inggris. Berdasarkan penelitian, mereka mendonasikan empat kali lebih banyak dari rata-rata orang Inggris yang memberikan sumbangan.
Rata-rata Muslim Inggris menyumbang 708 Poundsterling per orang selama 12 bulan. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan orang Inggris yang menyumbangkan 165 Poundsterling selama 12 bulan. Para peneliti melihat hal ini terjadi di semua kelompok pendapatan umat Muslim. Mulai dari yang memiliki penghasilan terendah hingga tertinggi antara 75.000 sampai 100.000 Poundsterling.
Melihat fakta tersebut, Nabi Muhammad SAW yang diutus Allah SWT untuk mengajarkan agama Islam memang sudah mencontohkan sikap dermawan dalam setiap sendi kehidupan sehari-hari. Bahkan Rasulullah SAW tidak pernah mengatakan tidak saat diminta.
Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkata tidak atau tidak pernah menolak saat dimintai sesuatu oleh peminta. Asalkan permintaan tersebut tidak melanggar perintah Allah SWT.
Sahl bin Sa'ad mengatakan, "Seorang wanita datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan membawa mantel bersulam."
Sahl bertanya, "Apa kalian tahu mantel apakah itu?" Mereka menjawab. "Ya, itu adalah mantel." Sahl berkata, "Itu adalah mantel bersulam yang ada rendanya."
Lalu wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah aku membawanya untuk mengenakannya pada anda."
Lalu Nabi Muhammad SAW mengambilnya karena beliau sangat memerlukannya. Kemudian beliau mengenakan mantel tersebut. Ternyata salah seorang dari sahabat Nabi melihat beliau mengenakan mantel itu.
Lalu sahabat Nabi itu berkata, "Alangkah bagusnya mantel ini, kenakanlah untukku wahai Rasulullah." Rasulullah SAW menjawab, "Ya."
Ketika Nabi Muhammad SAW beranjak pergi, orang-orang mencela sahabat Nabi tersebut.
Orang-orang itu mengatakan, "Demi Allah, kau berlaku kurang ajar. Kamu tahu, Rasulullah SAW diberi mantel itu saat beliau memerlukannya, tapi malahan kau memintanya, padahal kau tahu beliau tidak pernah menolak permintaan dari siapapun.
Sahabat Nabi itu berkata, "Aku hanya mengharap keberkahannya ketika Nabi Muhammad SAW mengenakannya, semoga kain mantel itu menjadi kafanku pada saat aku meninggal." ( HR Imam Al-Bukhari)
Demikian satu dari banyak contoh kedermawanan Nabi Muhammad SAW. kedermawanan adalah ajaran Islam, bahkan Islam mewajibkan zakat yakni mengeluarkan harta untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan atau kekurangan.
Jadi umat Islam di Inggris yang dermawan sedang menjalankan ajaran Islam dan mengikuti jejak kebaikan Nabi Muhammad SAW. Sebab Islam adalah agama damai dan penuh cinta kasih terhadap sesama manusia.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Umat Islam di Inggris dari kalangan bawah sampai kalangan atas disebut sebagai kelompok paling dermawan berdasarkan hasil survei. Akan tetapi, Muslim Inggris saat ini menjadi sasaran kebencian dari kelompok ekstrem sayap kanan yang anti-imigran dan masyarakat Islamofobia.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Forum Zakat (FOZ), Wildhan Dewayana mengatakan, bagi umat Islam sebetulnya praktik kedermawanan bukan semata-mata aktivitas setia tapi memang dilandaskan pada sesuatu yang lebih dalam dari itu.
"Ketika umat Islam melakukan praktik kedermawanan, ia merasa itu sedang beribadah dan menunaikan pengabdian kepada Allah SWT dan menunaikan ajaran agamanya," kata Wildhan kepada Republika.co.id, Kamis (8/8/2024).
Wildhan mengatakan, jadi tidak mengagetkan kalau di banyak tempat, kaum Muslimin punya tingkat kedermawanan yang sangat tinggi. Walaupun memang ibadah maliyah ini punya efek implikasi sosial yang positif. Terutama dalam meringankan atau menuntaskan problematika dasar di tengah-tengah masyarakat.
"Kita tentu saja terus mendukung dan mendoakan agar kemudian praktik kedermawanan Muslim Inggris itu bisa dilanjutkan, di sisi yang lain barangkali juga harus menjadi perhatian bagi banyak pihak terutama otoritas pemerintah di Inggris bahwa umat Islam sudah begitu tinggi perhatiannya kepada masyarakat," ujar Wildhan.
Wildhan menyampaikan kepada pemerintah dan publik Inggris, sebaiknya imbangi dengan perlindungan dari otoritas terkait terhadap umat Islam. Lebih baik lagi dibarengi eduksi kepada masyarakat awam bahwa umat Islam tidak seperti yang dibayangkan mereka, bahkan terbukti umat Islam sangat dermawan.
Sebelumnya diberitakan, Konsultan Blue State mengungkapkan hasil penelitian bahwa umat Islam di Inggris disebut sebagai kelompok paling dermawan di Inggris. Berdasarkan penelitian, mereka mendonasikan empat kali lebih banyak dari rata-rata orang Inggris yang memberikan sumbangan.
Rata-rata Muslim Inggris menyumbang 708 Poundsterling per orang selama 12 bulan. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan orang Inggris yang menyumbangkan 165 Poundsterling selama 12 bulan. Para peneliti melihat hal ini terjadi di semua kelompok pendapatan umat Muslim. Mulai dari yang memiliki penghasilan terendah hingga tertinggi antara 75.000 sampai 100.000 Poundsterling.
Kepala eksekutif Muslim Charities Forum (MCF) Fati Itani mengatakan tidak terkejut dengan temuan tersebut. "Sangat menggembirakan melihat laporan ini tentang kemurahan hati Muslim Inggris yang memberi," ujar Fati dikutip dari Civilsociety.co.uk, Rabu (7/8/2024),