#30 tag 24jam
5 Hotel Murah di Bali Dekat Pantai Kuta, mulai Rp 150.000
Di dekat Pantai Kuta, Bali, ada beberapa pilihan hotel dengan harga relatif terjangkau. Simak selengkapnya. Halaman all [847] url asal
#wisata-bali #hotel-dekat-pantai-kuta-bali #hotel-dekat-pantai-kuta #hotel-dekat-pantai-kuta-murah #rekomendasi-hotel-dekat-pantai-kuta #hotel-dekat-dengan-pantai-kuta-bali
(Kompas.com - Travel) 03/10/24 10:10
v/15901490/
KOMPAS.com – Pantai Kuta termasuk tempat wisata populer di Kabupaten Badung, Bali. Selain berjemur dan bersantai, wisatawan bisa menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset).
Di dekat Pantai Kuta, ada beberapa pilihan hotel dengan harga relatif terjangkau yang bisa dijadikan akomodasi selama berlibur di Pulau Dewata.
Berikut rangkuman sejumlah hotel murah dekat Pantai Kuta yang disusun oleh Kompas.com, Selasa (24/9/2024). Harap diperhatikan bahwa harga yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu.
- 4 Penginapan Sekitar Pura Uluwatu Bali, mulai Rp 300.000-Rp 800.000-an
- Rute Menuju Banyumala Twin Waterfall Buleleng dari Denpasar Bali
Hotel dekat Pantai Kuta Bali
1. Pesona Beach Inn
Pesona Beach Inn berlokasi di Jalan Poppies I Nomor 31, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sekitar 450 meter dari Pantai Kuta.
Hotel ini menawarkan berbagai fasilitas, seperti WiFi, layanan kebersihan harian, penitipan barang, serta dan laundry. Terdapat juga restoran, layanan kamar, resepsionis 24 jam, shuttle bandara, serta parkir gratis.
Para tamu bisa memperoleh fasilitas area tempat duduk, balkon atau teras, kamar mandi pribadi, TV satelit, kipas angin, dan walk-in shower.
Terdapat dua tipe kamar yang ditawarkan oleh hotel ini yaitu Standard Room (Fan) dengan satu kasur double atau single, serta kamar Standard dengan kasur queen size yang dilengkapi dengan shower dan bak mandi.
Tarif menginap per malamnya mulai Rp 176.800.
- Daya Tarik Banyumala Twin Waterfall di Buleleng Bali
- Korean Air Tambah Frekuensi Penerbangan Seoul-Denpasar Bali per 20 Oktober
2. Budget Door Legian Inn
Budget Door Legian Inn berjarak sekitar 750 meter dari Pantai Kuta. Alamatnya di Jalan Poppies Lane II, Gang Gora Nomor 7, Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Hotel ini menawarkan berbagai fasilitas, termasuk akses Wi-Fi gratis, parkir gratis, dan layanan jemputan bandara.
Fasilitas seperti restoran, layanan kamar 24 jam, laundry, serta resepsionis dan penitipan barang yang beroperasi sepanjang hari juga tersedia.
Pengunjung dapat memilih berbagai tipe kamar, seperti Superior Double atau Twin. Tarif menginap per malamnya mulai Rp 163.448.
3. The Kubu Hotel
Dok.The Kubu Hotel The Kubu Hotel Bali yang berada di dekat Pantai KutaThe Kubu Hotel terletak di Jalan Poppies 1 Gang Sorga, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Lokasinya sekitar 800 meter dari Pantai Kuta.
Fasilitas yang ada di akomodasi ini, antara lain WiFi, kolam renang, bar, layanan kamar, snack bar, laundry, penitipan barang, ruang bersama dengan televisi, dan teras. Ada pula layanan shuttle, penyewaan mobil, parkir valet, dan parkir gratis.
Setiap kamar dilengkapi dengan balkon atau teras, handuk, perlengkapan mandi, dan WiFi.
Hotel ini menawarkan tiga tipe kamar yaitu Standard dengan kipas angin dan pemandangan kolam renang, serta Deluxe dengan teras atau balkon. Semuanya dilengkapi AC, tirai kedap cahaya, TV layar datar, dan brankas dalam kamar.
Harga menginap di The Kubu Hotel mulai dari Rp 150.000 per malam.
- 2 Hotel di NTT dan Bali Masuk Daftar Hotel Terbaik di Dunia 2024
- 4,46 Juta WNA Kunjungi Bali pada Januari-Agustus 2024
4. Simpang Inn
Simpang Inn berlokasi di Jalan Raya Legian NoMOR 133, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sekitar satu kilometer (km) dari Pantai Kuta.
Beberapa fasilitas yang tersedia di hotel ini meliputi WiFi, kolam renang, loker, salon, toko suvenir, penukaran mata uang, pijat, spa, sauna, kolam renang anak, dan ruang keluarga.
Simpang Inn juga dilengkapi dengan fasilitas kuliner, seperti restoran, snack bar, layanan kamar, kedai kopi, fasilitas barbeku, serta layanan pengiriman bahan makanan dan makanan khusus.
Bagi tamu yang membutuhkan, hotel ini menyediakan layanan taksi, penyewaan mobil, penyewaan sepeda, serta shuttle bandara, dengan tempat parkir gratis.
Harga menginap di Simpang Inn Hotel dimulai dari Rp 201.796.
5. Serela Kuta
Serela Kuta terletak di Jalan Raya Kuta Nomor 42 XX, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sekitar dua km dari Pantai Kuta.
Hotel ini menawarkan empat jenis kamar yaitu Superior, Deluxe, Suite, dan Kamar Keluarga. Setiap kamar dilengkapi AC, air mineral kemasan, bar mini, brankas, fasilitas setrika, kamar mandi pribadi, kulkas, dan layanan kebersihan harian.
Fasilitas tambahan di dalam kamar meliputi meja, mesin cuci, shower, pengering rambut, perlengkapan mandi, sandal, telepon, tirai anti-tembus pandang, dan TV satelit/kabel.
Selain fasilitas kamar, Serela Kuta juga menyediakan fasilitas umum, seperti parkir valet, parkir gratis, lift, dan penitipan barang.
Harga menginap di Serela Kuta Hotel dimulai dari Rp 179.010 per malam.
Abrasi, Ancaman Tersembunyi di Balik Pesona Pantai Kuta Bali
Selain faktor pemanasan global dan cuaca ekstrem, abrasi di Pantai Kuta juga disebabkan oleh aktivitas manusia berupa pembangunan infrastruktur wisata yang masif. [992] url asal
#pantai-kuta #bali #abrasi #hutan-dan-lahan #katadata-green #give-me-perspective
(Katadata - EKONOMI HIJAU) 22/07/24 07:52
v/11638719/
Selama puluhan tahun, Pantai Kuta di Bali dikenal sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler di dunia. Pantai ini dikenal keindahannya dengan hamparan pasir putih yang lembut dan halus, ombak yang ideal untuk berselancar, serta pemandangan matahari terbenam yang memukau.
Setiap tahun, jutaan wisatawan berkunjung ke pantai. Saking populernya sebagai ikon pariwisata Bali, ada ungkapan, “Belum ke Bali jika belum ke Pantai Kuta.”
Namun, pesona dan keindahan Pantai Kuta kini terancam. Wisatawan yang pernah mengunjung Pantai Kuta satu dekade lalu mungkin menyadari perbedaan mencolok ketika mereka berkunjung kembali pada tahun 2024 ini. Dulu, area garis pantai cukup landai, luas dan panjang, serta ideal untuk bersantai. Kini area garis pantai berubah menjadi lebih sempit dan lebih terjal lantaran sebagian besar pasirnya terkikis oleh arus dan gelombang laut.
“Pantai Kuta kini menghadapi ancaman serius berupa abrasi pantai yang telah meresahkan banyak pihak,” ujar I Komang Alit Ardana, Bandesa atau Ketua Adat Kuta saat ditemui di ruang kerjanya di Bali, 15 Juli 2024. Abrasi atau erosi pantai adalah proses alami dimana pantai kehilangan pasir dan sedimen akibat aksi gelombang dan arus laut.
Ardana mengaku sudah mengikuti perubahan kondisi Pantai Kuta sejak dirinya menjabat sebagai pengurus Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa Kuta pada pertengahan tahun 1990-an. Pada saat itu, Pantai Kuta tergolong landai dengan lebar daratan hingga menyentuh air mencapai sekitar 200 meter.
“Saya ingat dulu kalau main sepak bola, bahkan bisa berjejer dua lapangan di pantai ke arah laut,” kata Ardana. Selain itu, banyak wisatawan asing yang berjemur dan bermain voli pantai.
Namun, sekarang, sudah tidak memungkinkan untuk bermain sepak bola maupun voli pantai karena lebarnya telah terkikis hingga tersisa 50 meter menuju titik air. Apalagi, kemiringan pantai kini sudah semakin curam dan terjal. Namun, menurut pemantauan Ardana, abrasi ini bukan hanya di Pantai Kuta, di beberapa pantai lainnya di Bali juga mengalami abrasi.
Sebuah hasil studi yang dirilis di jurnal Regional Studies in Marine Science pada 29 Mei 2024 memperkuat fakta adanya perubahan garis pantai di Provinsi Bali selama periode 2016-2021 berdasarkan citra satelit PlanetScope beresolusi tinggi dan teknologi GIS. Penelitian dilakukan oleh gabungan peneliti dari sejumlah lembaga penelitian dari Jepang, Indonesia, dan Turki yang dipimpin oleh Amandangi Wahyuning Hastuti dari Graduate School of Science and Technology for Innovation di Yamaguchi University.
Studi ini menemukan adanya penurunan panjang garis pantai sebesar 6 km dari 668,6 km menjadi 662,6 km dengan rata-rata erosi sebesar -1,2 meter per tahun. Erosi pantai berpasir paling banyak terjadi di pesisir selatan Bali, termasuk pesisir barat daya dan tenggara, seperti Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Denpasar, Gianyar, Klungkung dan Karangasem.
“Garis pantai di bagian selatan Bali lebih rentan terhadap erosi dibandingkan bagian utara,” tulis Hastuti dan timnya dalam makalah di jurnal tersebut.
Dampak Perubahan Iklim dan Pembangunan Infrastruktur yang Masif
Menurut temuan para ahli ini, penyebab utama dari erosi atau abrasi adalah faktor alami pantai akibat perubahan iklim yang berdampak pada kenaikan permukaan air laut, peningkatan frekuensi dan insensitas badai, serta arus dan gelombang laut. Penyebab lainnya adalah aktivitas manusia berupa reklamasi dan pembangunan infrastruktur seperti bandara dan destinasi pariwisata di pesisir yang mengganggu stabilitas garis pantai dan mengubah arus lokal.
Hasil studi tersebut juga tercermin dari kondisi di lapangan. Ketika Katadata Green berkunjung ke Pantai Kuta pada pertengahan Juli 2024, terlihat beberapa pedagang di pantai ternama ini sedang sibuk membangun tanggul darurat berupa tumpukan karung plastik berisi pasir untuk mencegah abrasi makin menggerus area pantai dan daratan. Saat ditemui beberapa pedagang yang membangun tanggul darurat tersebut mengaku khawatir jika abrasi terus berlanjut dalam jangka panjang.
Menurut mereka, selain berisiko menghadapi kehilangan lapak atau tempat dagangan mereka di tepi pantai, abrasi juga mengancam keberadaan bangunan di sekitarnya, termasuk hotel dan lainnya. Bahkan, di beberapa bagian, pengikisan pasir telah mencapai titik di mana infrastruktur pantai, seperti jalan dan bangunan. Di beberapa tempat sudah dibangun tanggul berupa tumpukan batu untuk melindungi bangunan, seperti di pantai Discovery Mall, kawasan Pantai Kuta, Bali.
Ardana dan para pedagang di Pantai Kuta menyadari bahwa tantangan atas menyempitnya lebar pantai bakal terus berlanjut. Menurut mereka, belakangan ini, gempuran ombak besar semakin sering terjadi akibat kenaikan permukaan laut dan perubahan iklim global sehingga menambah tekanan pada pantai-pantai, seperti Pantai Kuta dan pantai-pantai lainnya. Apalagi, kejadian cuaca ekstrem, seperti badai dan ombak besar membuat proses abrasi semakin intensif dan mempercepat kerusakan pantai.
“Beberapa tahun belakangan ini, air pasang juga lebih sering,” kata Arya Arimbawa yang bertugas di unit manajemen pengelola Pantai Kuta saat ditemui di kantornya pada 15 Juli 2024. Arya selama ini bertugas untuk memonitor pergerakan air di pantai dari waktu ke waktu secara reguler. “Pada masa bulan purnama, biasanya di bulan Maret atau April, ombaknya sangat besar hingga mencapai jalan raya dan pantai berpasir pun tidak lagi terlihat karena tertutup ombak.”
Arya dan Ardana membenarkan bahwa selain faktor pemanasan global dan cuaca ekstrem, abrasi di Pantai Kuta juga disebabkan oleh aktivitas manusia berupa pembangunan infrastruktur wisata yang masif, seperti perluasan bandara internasional Bali. Ardana menekankan perluasan bandara ini memang tidak bisa dihindari karena kebutuhan peningkatan pelayanan pariwisata Bali. "Di sisi lain, abrasi Pantai Kuta justru semakin dipercepat akibat perluasan bandara ini,” kata Ardana.
Perlu Reklamasi Pantai
Sebagai wakil dari pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) wilayah Kabupaten Badung, Ardana mengaku hadir pada saat sosialisasi perluasan Bandara Ngurah Rai oleh Menko Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan bersama jajaran pemerintah pada tahun 2017. Sekarang, menurut dia, dampak dari perluasan bandara tersebut sudah dirasakan sehingga perlu ada tindakan untuk mengembalikan atau mereklamasi kembali Pantai Kuta dan sekitarnya.
Pemerintah memang ada rencana untuk menyedot pasir dari dalam lautan, kemudian mengisinya kembali di sepanjang Pantai Kuta dalam beberapa bulan ke depan. Namun, menurut dia, sebelum pengurukan atau pengisian pasir tersebut diterapkan, sebaiknya diawali dengan membangun struktur bangunan di sepanjang pantai untuk memecah gelombang.
Bangunan dari tumpukan batu dan beton tersebut akan menjaga stabilitas garis pantai dan efektif mengurangi abrasi akibat gelombang dan arus laut. “Jadi, pengisian pasir di pantai tidak akan sia-sia karena akan tertahan oleh bangunan tersebut,” kata Ardana.
