JAKARTA, investor.id - Penunjukan kembali Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia memang memberikan dampak positif terhadap pasar surat utang negara (SUN). Sebab, Sri Mulyani dikenal dengan rekam jejaknya dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kemampuan komunikasi yang baik dengan investor global menjadi sentimen positif yang dapat mendorong kenaikan permintaan terhadap SUN.
Bahkan, hal ini diperkirakan dapat menarik aliran modal asing (inflow) yang lebih deras, seiring dengan meningkatnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia di bawah pengelolaan keuangan yang dianggap kredibel.
Ekonom Senior PT KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana menuturkan, pada era suku bunga rendah, imbal hasil (yield) dari SUN cenderung menurun. Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang baru saja terjadi membuat SUN lebih menarik bagi investor asing, karena harga obligasi biasanya naik saat suku bunga turun.
“Hal ini memberikan keuntungan tambahan bagi investor yang mencari imbal hasil tinggi di negara-negara berkembang seperti Indonesia,” jelasnya kepada Investor Daily, Minggu (20/10/24).
Namun, meski potensi inflow asing meningkat, ada faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi pergerakan yield SUN tutur Fikri. Salah satunya adalah penguatan indeks dolar AS (USD Index) akibat ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut di Eropa dan Inggris. Kenaikan indeks dolar ini bisa memicu volatilitas nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya berdampak pada pergerakan imbal hasil SUN. Dalam beberapa pekan terakhir, imbal hasil SUN bertenor 10 tahun berkisar antara 6,4% hingga 6,7%.
“Proyeksinya, dalam waktu dekat, imbal hasil ini kemungkinan masih akan berada di sekitar level tersebut, meski sentimen positif dari pelantikan Sri Mulyani mungkin akan memberikan dorongan bagi penurunan yield jangka panjang setelah pertemuan The Fed pada akhir November,” ujar dia.
Lelang SUN
Sedangkan dari sisi penawaran, lelang SUN terbaru menunjukkan adanya peningkatan penawaran masuk yang diperkirakan mencapai Rp 20 hingga Rp 25 triliun rupiah, meskipun belum ada petunjuk jelas mengenai lonjakan besar dari investor asing. Jika stabilitas rupiah terjaga dalam beberapa waktu mendatang, prospek untuk inflow asing bisa lebih cerah.
Beberapa lembaga institusi seperti bank dan perusahaan asuransi cenderung memilih SUN dengan tenor pendek, mengingat penurunan suku bunga acuan lebih berdampak pada penurunan yield di jangka waktu pendek. “Dengan sentimen positif terkait penunjukan kembali Sri Mulyani, pasar diharapkan melihat harga SUN yang lebih tinggi, menarik lebih banyak investor asing,” kata dia.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa situasi eksternal seperti ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi global, terutama dari China dan Eropa, masih menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. Investor global kemungkinan besar akan tetap waspada terhadap risiko geopolitik dan ekonomi, yang dapat mempengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Secara keseluruhan, prospek surat utang Indonesia tetap menjanjikan. Dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan seperti Filipina dan India, Indonesia menawarkan stabilitas politik yang lebih baik serta inflasi yang lebih terkendali. “Ini menjadikan pasar Indonesia menarik bagi investor global yang mencari imbal hasil yang lebih tinggi, terutama di tengah suku bunga rendah di negara-negara maju,” pungkasnya.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News