JAKARTA, KOMPAS.com - Kesibukan para lansia penghuni Kanopi Nursing Home dimulai sejak pagi. Sedari matahari belum meninggi, rumah perawatan lansia di Pulo Gadung, Jakarta Timur ini sudah "hidup".
Pasalnya, setelah mandi dan sarapan atau minum obat, para opa dan oma penghuni nursing home ini bakal berkumpul di halaman depan untuk berjemur di bawah sinar matahari.
Dari 34 penghuni, hanya setengah yang ikut berjemur. Sementara, sebagian lainnya ikut pemanasan di lantai dua bersama para suster dan perawat.
Sebagian dari lansia ini merupakan penderita Alzheimer. Ada juga yang mengalami komplikasi akibat stroke, diabetes, atau penyakit kronik lainnya.
Saat Kompas.com tiba di lokasi sekitar pukul 07.40 WIB, para lansia yang duduk di kursi hijau atau di kursi roda ini tengah menikmati suasana pagi sembari mendengar alunan musik aerobik.
Sekilas, wajah mereka tampak datar, beberapa bahkan terlihat murung. Hanya satu atau dua lansia yang terlihat berbincang dengan perawat.
Pemanasan dan senam pagi
“Ayo, Opa, tangannya ke kanan,” ujar salah satu perawat berseragam merah tua saat memandu pemanasan di halaman kantor Kanopi Nursing Home, Senin (16/9/2024).
Diiringi alunan lagu aerobik, para perawat melakukan gerakan senam di depan para lansia penghuni Kanopi Nursing Home. Para perawat melakukan peregangan telapak tangan, lengan, bahu, leher, hingga mengangkat dan menurunkan kaki.
Beberapa lansia ikut menggerakkan badan sesuai ritme lagu. Meski tidak bisa merentangkan lengan sampai penuh, gerakan mereka masih sesuai ketukan.
Ada pula yang mengikuti gerakan satu ketukan lebih lambat.
Sementara, seorang lansia mengepakkan lengannya ketika perawat mencontohkan gerakan menarik kepalan tangan dari depan dan menjauhi dada.
Ada lansia yang langsung mengikuti gerakan ketika musik dimulai, ada juga yang enggan bergerak. Beberapa baru mau menggerakkan tubuh ketika namanya dipanggil oleh perawat di depannya.
Tak seperti kebanyakan penghuni, seorang lansia bernama Oma Jen tampak bersemangat. Oma Jen beberapa kali terlihat bernyanyi, berjoget, dan tertawa ceria.
Oma Jen berupaya bersenandung mengikuti musik yang diputar, tapi hanya satu dua kata lirik yang terlontar. Meski begitu, ia tetap terlihgat energetik.
Sesekali, Oma Jen mengelus pipi oma berambut panjang yang duduk di sampingnya.
Belakangan, diketahui bahwa Oma Jen merupakan penderita Alzheimer dengan tingkat sedang. Dia mengalami demensia dan kadang sulit mengatakan apa yang dipikirkan.
Selesai pemanasan dan peregangan tangan serta kaki, oma dan opa ini diajak terapi tertawa. Mereka diminta mengucap dan mengulang variasi “Ha hi hu he ho”.
Hanya satu-dua lansia yang mengikuti terapi tersebut secara keseluruhan. Beberapa lainnya terlihat bungkam sambil menatap tangan dan kaki.
Latihan kognitif
Saat Kompas.com berkunjung, sesi latihan dipangkas karena cuaca lebih panas dari biasanya. Satu per satu penghuni rumah perawatan ini pun dibawa ke ruang tengah.
Diiringi alunan koleksi musik dari penyanyi asal Taiwan Teresa Teng, opa dan oma istirahat sejenak. Mereka duduk berjejer di tiga meja besi sambil menunggu aktivitas selanjutnya.
Sekitar pukul 09.00 WIB, para lansia diberi krayon dan kertas putih dengan gambar sawah serta pegunungan.
“Ayo, Opa, ini mau warna apa?” tanya perawat.
Semula, banyak lansia yang tidak mau menyentuh krayon. Tapi, setelah ditanya dan diajak memilih warna oleh perawat, beberapa dari mereka mengambil salah satu krayon yang ditaruh di meja.
Ada yang mengambil dan membubuhkan krayon ke kertas secara mandiri. Tapi, ada pula yang perlu dibantu oleh perawat untuk menggerakkan tangan.
Seorang lansia tampak tak mampu memegang krayon tersebut dengan kuat sehingga harus dibantu. Namun, matanya masih mengikuti gerak krayon.
Ada pula lansia yang sama sekali tidak mau menyentuh krayon dan hanya melihat perawat di depannya mewarnai kertas.
Bosan mewarnai, seorang lansia lain diajak main congklak. Biji-biji congklak di papan tampak penuh dan membuat lansia tersebut kesulitan mengambil sekaligus.
Satu per satu biji ini dimasukkan ke cekungan papan congklak. Di setiap cekungan, lansia ini hanya menjatuhkan satu biji kerang, tidak lebih.
“Ini Oma jatuh, eh curang ya,” canda perawat kepada lansia tersebut.
Sementara, lansia lain di meja yang sama tengah menyusun puzzle. Ketika didekati Kompas.com, oma ini terlihat berhenti sejenak. Dia tampak awas dan menyadari ada tripod kecil yang terpasang
“Dia ambil video dulu,” kata oma tersebut.
Saat itu, Kompas.com hendak merekam kegiatan lansia lain di meja tersebut yang tengah menyusun balok-balok sesuai bentuk.
Setelah kamera tidak menyorot, oma itu kembali melihat puzzle di depannya sambil mencari-cari potongan yang pas.
Keseharian para lansia ini cukup padat. Dari pukul 07.30 hingga jam 09.30 saja, mereka sudah melakukan beberapa kegiatan berbeda.
“Iya, sengaja biar opa dan oma ada kegiatan, biar enggak pikun,” jelas Direktur Operasional Kanopi Nursing Home, Benny Handojo, saat berkeliling memantau kegiatan.
Dokter Benny menjelaskan, para lansia harus banyak berkegiatan agar fungsi otak tidak menurun. Tapi, kegiatan ini juga tidak bisa dilakukan lama-lama agar para lansia tidak merasa disuruh-suruh.
Untuk itu, para perawat selalu berusaha mengajak lansia beraktivitas. Kalau mereka tidak mau dan sedang sulit diajak kooperatif, perawat juga tidak bisa memaksa.
Lansia yang tidak mau menggambar atau main puzzle tetap duduk di ruang tengah. Jika mereka lelah atau mulai bosan, baru para perawat mengantar masuk kamar.
Tapi, ada pula lansia tidak bisa bangun dari ranjang atau bersosialisasi. Oleh karenanya, perawat akan secara personal mendatangi lansia tersebut untuk mengajak senam atau menggambar di kamar.
Doa bersama
Memasuki pukul 10.00 WIB, beberapa penghuni Kanopi Nursing Home yang beragama Kristen Protestan dibawa ke lantai dua untuk beribadah. Hari itu ada pendeta datang.
Para lansia bersama-sama menyanyikan sejumlah lagu rohani dan berdoa bersama.
Salah satu lansia menangis tersedu-sedu di tengah lagu. Perawat di sampingnya segera mengelus dada lansia tersebut untuk menenangkannya.
Lansia itu sempat berhenti menangis, tapi di lagu berikutnya dia kembali berlinang air mata.
"Kami bersyukur dengan kehadiran-Mu, Tuhan. Terima kasih untuk kesempatan hari ini kami dapat berkumpul lagi," ucap para lansia berdoa bersama.
Benny menjelaskan, lansia penghuni Kanopi Nursing Home menganut agama yang berbeda-beda. Waktu ibadah juga menyesuaikan kebutuhan dan acara keagamaan.
Misalnya, bagi yang beragama Katolik, biasanya ada misa kecil setiap Jumat pertama. Setiap hari, ada pula sesi doa bersama.
Latihan gerak
Kadang-kadang, ada petugas terapi yang datang untuk mendampingi para lansia latihan berdiri, jalan, atau gerak. Benny menjelaskan, latihan dilakukan sesuai kebutuhan penghuni.
Bagi penghuni yang lumpuh atau kaki tangannya kaku, akan ada petugas terapi yang membantu. Lansia yang mengalami luka-luka juga akan diobati hingga kondisinya membaik.
Saat Kompas.com di lokasi, ada satu lansia yang kakinya diperban. Direktur Keperawatan Kanopi Nursing Home Anna Lidwina mengatakan, lansia tersebut sedang minum obat pengencer darah.
Kaki lansia itu tergores dan ada darah yang keluar sehingga lukanya sulit sembuh. Supaya tidak tambah parah, bagian di sekitar luka diperban.
Luka lansia itu terlihat kecil. Tapi, ketika perawat membersihkan luka tersebut, darah dari mata kaki tampak mengalir cukup deras.
Ketika dibersihkan dan diberi obat, lansia itu tidak banyak merespons. Saat Anna bertanya kondisinya, lansia itu hanya tertawa dan justru hendak mencolek dagu Anna.
“Ditanya sakit atau enggak malah lihat cantiknya,” kata Anna sambil tertawa.
Lansia itu tidak menjawab dan kembali mengamati gerakan dua perawat yang tengah membalut mata kakinya dengan perban. Setelah selesai, lansia tersebut diajak tos oleh Anna dan dibawa kembali ke ruang tengah untuk lanjut menggambar.
Sepanjang hari, para lansia akan melakukan beberapa aktivitas kecil. Jika pagi mewarnai, siang atau sore akan diisi dengan main lilin plastisin atau membaca koran.
Benny mengatakan, kegiatan membaca menjadi penting karena setiap kata dan kalimat yang dibaca akan merangsang otak para lansia.
Setelah jam makan siang, para lansia ini akan beraktivitas lagi. Tentu diselingi waktu istirahat dan sejumlah pemeriksaan medis dari dokter.