KOMPAS.com - Para peneliti mengembangkan aditif eksperimental untuk produk menstruasi dapat mengubah darah menstruasi menjadi seperti jeli.
Harapannya adalah bahwa aditif ini dapat membantu mencegah kebocoran sekaligus mengurangi risiko kondisi berbahaya yang disebut sindrom syok toksik.
Dengan bahan yang berasal dari rumput laut, pengembangnya yakin bahwa suatu hari nanti produk tersebut dapat digunakan sebagai bahan pengisi alternatif pada pembalut konvensional atau sebagai lapisan anti tumpah untuk dimasukkan ke dalam menstrual cup.
Namun, untuk saat ini, prototipe tersebut baru diuji dalam percobaan laboratorium awal.
Cegah kebocoran darah menstruasi
Kekurangan produk menstruasi konvensional adalah risiko bocor. Bahkan di negara maju, kekhawatiran seputar kebocoran tersebut dapat menyebabkan anak-anak tidak masuk sekolah selama menstruasi. Selain itu, kebocoran menyebabkan ketidaknyamanan karena dapat merusak pakaian.
Salah satu alasan kebocoran dapat terjadi adalah karena, tidak seperti darah dari vena, darah menstruasi biasanya tidak menggumpal.
Peneliti Bryan Hsu mengatakan, ada banyak enzim fibrinolitik dalam darah menstruasi yang memecah bekuan darah, serta gumpalan jaringan dan sel. Jadi, pada dasarnya, ini adalah jenis darah yang berbeda.
Hsu dan rekan-rekannya berhipotesis bahwa bahan yang tepat dapat mengubah darah menstruasi menjadi bentuk padat yang lebih kecil kemungkinannya untuk bocor.
Solusi mereka adalah polisakarida, yakni rantai molekul gula yang mengentalkan larutan cair dengan sangat baik. Pektin, yang sering digunakan untuk mengentalkan manisan buah, dan tepung maizena adalah contoh molekul semacam itu.
Dengan menggunakan darah babi yang dimodifikasi untuk mencegah pembekuan, peneliti menguji gula yang berasal dari alam untuk melihat gula mana yang dapat mengubahnya menjadi bentuk seperti gel.
Pengujian mereka meliputi gom xanthan, bahan tambahan makanan umum, serta alginat dan kappa karagenan, yang berasal dari rumput laut.
Para peneliti kemudian mengukur viskositas darah yang dicampur dengan masing-masing polisakarida dan menemukan alginat sebagai kandidat yang paling menjanjikan.
Menurut Hsu, sifat pembentuk gel alginat yang sangat baik kemungkinan besar berasal dari ikatan silang yang dimediasi kalsium.
Hsu menjelaskan, di dalam air, rantai gula yang panjang mengapung sendiri-sendiri. Tetapi, setiap molekul alginat juga memiliki serangkaian rantai yang lebih kecil, yang mengandung gugus karboksilat, yang bercabang darinya.
Darah menstruasi mengandung partikel kalsium bermuatan yang mencengkeram rantai kecil ini, membentuk ikatan antara molekul alginat. Bersama-sama, ikatan ini menciptakan "jaringan yang saling terkait" yang mengunci semuanya dalam sebuah gel.
Tim peneliti perlu memastikan bahwa alginat bubuk praktis untuk digunakan dalam produk menstruasi. Mereka menambahkan sedikit gliserol untuk membantu menarik darah melalui bubuk kering.
Mereka juga memasukkan zat antibakteri untuk membantu mencegah pertumbuhan Staphylococcus aureusm.
Bakteri ini dapat menyebabkan sindrom syok toksik, komplikasi langka dari beberapa infeksi di mana bakteri melepaskan racun berbahaya.
Zat antibakteri yang berasal dari alga tersebut menghambat pertumbuhan S. aureus pada suhu tubuh. Zat ini juga tidak larut dari bubuk, sehingga para peneliti berpendapat bahwa zat tersebut tidak akan mengganggu mikrobioma vagina.
Uji coba prototipe
Para peneliti kemudian membuat prototipe pembalut dengan bahan pengisi baru dan membandingkannya dengan pembalut konvensional dalam uji laboratorium.
Mereka mengukur seberapa baik kedua produk tersebut menyerap sekitar 8 ml darah dan kemudian menguji kemampuannya untuk menahan cairan di bawah tekanan, seolah-olah ada seseorang yang duduk di atasnya.
Hsu mengatakan, prototipe ini berkinerja sama baiknya dengan pembalut komersial dalam hal penyerapan, tetapi bahan yang mereka gunakan dapat menahan darah jauh lebih baik.
Tim juga menguji bubuk tersebut dalam menstrual cup, dengan meletakkannya di lapisan katun yang dirancang untuk berada di dalam cup.
Dalam pengujian ini, bubuk alginat secara konsisten mengurangi jumlah tumpahan yang terjadi saat cangkir dikeluarkan dari vagina sintetis.
Meski tampak menjanjikan, masih ada proses yang harus ditempuh sebelum produk tim tersebut dipasarkan.
Pengujian keamanan dan proses produksi perlu diperhatikan agar aditif tersebut lulus uji regulasi.