#30 tag 24jam
Biden dan Netanyahu Bahas Konflik di Timur Tengah
Presiden AS Joe Biden dan PM Israel Benjamin Netanyahu telah melakukan panggilan telepon selama 30 menit yang sangat dinanti-nantikan. - Halaman all [743] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #benjamin-netanyahu #joe-biden #perang-israel-gaza #gaza #israel #iran #hamas #timur-tengah #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 10/10/24 14:43
v/16252254/
LONDON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah melakukan panggilan telepon selama 30 menit yang sangat dinanti-nantikan. Ini diyakini sebagai kontak pertama mereka sejak Agustus 2024, yang mencakup diskusi tentang rencana pembalasan Israel terhadap serangan rudal Iran pekan lalu.
Gedung Putih menggambarkan dialog tersebut dilakukan secara langsung dan produktif. Menurut kantor perwakilan kantor kepresidenan AS itu, kedua pemimpin negara telah sepakat untuk tetap berhubungan dekat dalam beberapa hari mendatang. Wakil Presiden AS Kamala Harris juga bergabung dalam panggilan telepon tersebut.
Tak lama berselang, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengakui serangan terhadap Iran akan dilakukan dengan “mematikan, tepat sasaran, dan yang terpenting mengejutkan”. Dua kekuatan besar dalam bidang militer dan persenjataan ini sedang bekerja sama. Di antaranya, ada keengganan Joe Biden untuk menyeret AS ke dalam perang dengan Iran yang menurutnya tidak perlu dan berbahaya.
Sementara itu, di antara sebagian orang Israel lainnya ada perasaan kuat mereka memiliki kesempatan untuk memberikan pukulan telak kepada Iran yang adalah musuh bebuyutan mereka. Baru-baru ini, serangan Israel terhadap Hizbullah membangkitkan semangat warga Israel yang sangat ingin keluar dari perang melelahkan di perbatasan mereka dengan Lebanon.
Bagi mereka Lebanon terasa seperti keberhasilan dan kemajuan, sangat kontras dengan situasi di Gaza. Meskipun serangan Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 42.000 orang yang mayoritas adalah warga sipil, Netanyahu belum mampu mewujudkan dua tujuan perangnya yaitu penghancuran Hamas dan pembebasan para sandera.
Hamas masih bertempur dan masih menyandera sekitar 100 orang Israel, banyak di antaranya mungkin sudah tewas. Kerusakan yang dialami musuh-musuh Israel, Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza, telah membuat sebagian warga Israel memiliki keyakinan yang mendesak untuk melangkah lebih jauh dan melancarkan serangan langsung ke Iran.
Bagi mereka, serangan udara yang menghancurkan ke Iran adalah prospek yang menggoda.
Target utama bagi banyak warga Israel adalah lokasi yang dijaga ketat. Beberapa di antaranya berada jauh di pegunungan tempat Iran menempatkan fasilitas nuklir, yang ditakutkan Israel dan negara lain dapat digunakan untuk membuat bom.
Presiden Biden telah menegaskan pemerintah AS menentang gagasan tersebut. AS yakin Iran tidak akan membuat senjata nuklir. Serangan dapat mendorong mereka untuk membuatnya.
Salah satu tokoh paling menonjol di Israel yang mendesak Netanyahu untuk mengabaikan keinginan AS adalah mantan PM Israel Naftali Bennett yang mengatakan Israel tidak boleh ragu bertindak melawan apa yang disebutnya gurita Iran.
“Ia mengatakan kepada saya saat ini adalah ‘waktu yang mendesak’,” kata Bennett, seperti dikutip BBC, Kamis (10/10/2024).
Seperti politisi oposisi dan mantan jenderal Benny Gantz, Bennett yakin Iran lebih lemah daripada sebelumnya selama beberapa dekade karena kerusakan yang terjadi pada Hizbullah dan Hamas.
"Pada dasarnya Iran membela diri dengan dua senjata, Hizbullah dan Hamas. Mereka semacam polis asuransi terhadap serangan," imbuhnya. Bennett melihat momen ini sebagai kesempatan sekali seumur hidup untuk benar-benar menghancurkan rezim Iran.
"Jika Iran memperoleh senjata nuklir, kemungkinan mereka akan menggunakannya untuk menyelamatkan rezim itu tinggi. Dan itu berarti mereka akan mengubah seluruh Timur Tengah menjadi mimpi buruk nuklir," ucap Bennett, mengingat dua serangan Israel terhadap fasilitas nuklir yang menurutnya membuat Timur Tengah jauh lebih aman, kemudian serangan di Irak pada 1981 dan di Suriah pada 2007.
Konflik dengan Iran Sejak April
Iran dan Israel telah terlibat konflik langsung sejak April 2024. Saat itu Israel membunuh para jenderal terkemuka Iran dengan serangan udara besar-besaran di kedutaan besar Iran di Suriah. Balasan Iran adalah serangan rudal terhadap Israel. Sejak itu, eskalasi terus berlanjut.
Serangan terbaru terjadi pekan lalu sebagai tanggapan atas serangan Israel terhadap sekutu Iran, Hizbullah, di Lebanon. Pemimpin kelompok itu, Hassan Nasrallah, dinyatakan tewas. Sebagai respons, pihak Iran melancarkan serangan rudal balistik besar-besaran yang menuai komentar dari Netanyahu yang juga mengtakan akan melakukan serangan balasan.
Adapun presiden Biden enggan menahan Israel di Gaza. Ia telah mendesak Israel untuk meminimalkan kerugian bagi warga sipil di Lebanon. Namun, ia bersikeras Israel tidak boleh membalas Iran dengan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Hingga saat ini, pemerintah AS yakin Iran tidak akan membuat senjata nuklir. Biden mengatakan Israel harus mempertahankan diri, tetapi tidak dengan menyerang situs nuklir Iran ataupun industri minyaknya.
Pihak AS khawatir terseret ke dalam perang yang tidak diinginkannya. Di samping itu, ada kekhawatiran jika Iran dapat mengatasi serangan, Iran akan berusaha keras untuk memproduksi hulu ledak nuklir untuk misilnya.
Fase berikutnya dalam perang yang meningkat ini bergantung pada sejauh mana pembalasan Israel, yang bisa terjadi kapan saja.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News