JAKARTA, KOMPAS.com - Delapan bulan lalu, Juhaini (49) masih menarik gerobak berisi barang bekas dan karung berisi botol plastik yang sudah digeprek.
Kini, gerobaknya sudah dialihfungsikan sebagai warung nasi sederhana di Jalan Subur Baru, Cideng, Gambir, Jakarta Pusat.
Meski bekas dipakai untuk mengumpulkan barang bekas, gerobak itu kini sudah bersih dan rapi.
Tempe orek, tahu, dan beragam gorengan tertata rapi di atas gerobak.
Setiap pagi, Juhaini belanja ke pasar atau tukang sayur keliling.
Bermodalkan Rp 130.000, ibu asal Sumedang, Jawa Barat ini sudah bisa memasak kurang lebih lima macam sayur untuk dijajakan.
“Tadinya saya pemulung,” ujar Juhaini saat ditemui di warung nasinya di Cideng, Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2024).
Ibu tiga anak mengaku merantau dari Sumedang ke Jakarta sekitar tahun 2021. Dia dan suami nekat ke Jakarta untuk mengubah nasib mereka.
Alasan merantau
“Namanya, (kata orang di kampung) kalau mau mengubah nasib, katanya ya (ke Jakarta),” kata dia.
Sebagai warga Desa Kaduwulung di Kabupaten Sumedang, Juhaini menceritakan sulitnya kehidupan di salah satu kampung terpelosok di Jawa Barat ini.
Selama berada di kampung, dia dan suami bekerja sebagai pencari kayu bakar.
Untuk mencari nafkah, pasangan suami istri ini harus mengumpulkan satu gendongan kayu bakar yang beratnya sekitar 15 kg.
“Dari rumah ke sana (hutan) ada (makan waktu) tiga jam setengah, ngelewatin kali gede, nyeberang,” imbuh wanita yang sering dipanggil teteh.
Setiap kali mencari kayu bakar, Juhaini harus menyebrang kali bersama ibu-ibu lain sebayanya.
Mereka bergandengan tangan agar tidak terbawa arus.
Dia mengatakan, warga kampungnya tidak berani menggunakan jembatan karena hanya terbuat dari bambu. Warga takut jembatan itu tiba-tiba jeblos.
Beratnya kehidupan di kampung membuat Juhaini dan suaminya nekat berangkat ke Jakarta.
Terlebih, ketiga anak mereka masih sekolah. Anak pertama mereka masih duduk di bangku SMA dan saat ini berusia 17 tahun.
Sementara anak kedua berusia 15 tahun. Dan, anak bontotnya masih duduk di kelas 4 SD.
Selagi ibu dan ayah mereka mencari nafkah di Jakarta, tiga bersaudara ini dititipkan untuk tinggal bersama saudara di kampung.
Jadi pemulung di Jakarta
Juhaini dan suaminya hanya datang berdua ke Jakarta.
Tanpa saudara atau teman, mereka hidup luntang-lantung di sekitar Cideng dan Tawakal hingga Grogol, Jakarta Barat.
Setelah menebeng dan beberapa kali pindah mobil bus dan truk, sejoli ini memulai hidup baru mereka di Jakarta.
“Tadinya, saya (tidur) di dekat Rumah Sakit Sumber Waras situ,” ujar Juhaini.
Pada siang hari, dia keliling kompleks di belakang RS untuk mencari botol-botol bekas. Saat baru tiba di Jakarta, Juhaini masih memulung dengan membawa karung.
Setiap harinya, dia dapat mengumpulkan hingga empat karung berisi botol bekas atau barang-barang lainnya.
Juhaini sibuk bolak-balik ke pengepul. Ketika matahari terbenam, dia bisa mengantongi uang Rp 40.000-45.000.
“(Botol plastik) sekilonya itu Rp 1.500. Sekarung palingnya ada 3-4 kilo,” lanjut dia.
Meski terhitung kecil, penghasilan Juhaini di Jakarta lebih besar daripada bekerja sebagai penjual kayu bakar di kampung halaman.
Selain hasil menjual barang-barang bekas, Juhaini sering diberi uang oleh orang-orang yang ditemuinya.
Pemberian mereka tak banyak. Kadang Rp 5.000, kalau sedang hoki ada yang memberi Rp 10.000.
Setiap harinya, Juhaini pun menyisihkan sedikit penghasilannya untuk ditabung.
Selain untuk dikirimkan kepada anak-anaknya, uang ini dia simpan untuk modal usaha.
“Misal dapat Rp 40.000. Rp 30.000 buat makan, Rp 10.000 buat naruh (ditabung),” tutur dia.
Pelan-pelan, tabungannya ini sudah bisa menjadi modal usaha dan untuk membayar biaya indekos.
Kendati demikian, Juhaini enggan tinggal di kamar sepetak yang dia sewa di seberang pelintasan rel dekat Roxy Mas.
Kamar seharga Rp 300.000-500.000 ini dia nilai kurang layak untuk dijadikan tempat tinggal.
“Setiap malam saya tidur di sini (di Jalan Subur Baru). Saya di kos anggap saja untuk masak nasi. Nanti dihitung-hitung, satu hari habis berapa,” jelas dia.
Juhaini menunjuk sebuah bantal dan karpet plastik gulung di atas gerobak warung nasinya.
Dia mengaku sudah biasa tidur di luar dan menyediakan selimut serta kardus untuk menahan dinginnya angin malam.
Dicemooh saat memulung
Perempuan yang belum genap 50 tahun ini mengaku sudah kenyang menghadapi berbagai cemoohan orang-orang.
Namun, ketika menceritakan kisahnya kepada Kompas.com, Juhaini terlihat menghapus air matanya dengan lengan baju.
“Kadang-kadang, pas ambil botol plastik, saya sering diomelin, dikatain bau,” ucap dia dengan mata berkaca-kaca.
Juhaini pun sudah tak ingat lagi berapa kali dia disiram air saat hendak menumpang tidur di teras rumah atau toko milik warga.
Bahkan, dirinya pernah dicurigai sebagai maling saat ingin masuk ke kompleks di Cideng.
Saat itu, karung bawaan Juhaini sampai digeledah oleh satpam kompleks.
“Waktu lagi nyari (memulung), ada tulisan ‘Pemulung Dilarang Masuk’. Kadang diperiksa sama satpam, “Coba lihat, mau maling ya?’. (Juhaini menjawab) 'kalau maling juga enggak bisa pak, maling juga mau maling apa',” ungkap dia.
Juhaini yang punya penyakit darah tinggi ini juga mengaku trauma setelah berulang kali dikejar petugas Satpol PP atau petugas Dinas Sosial (dinsos).
Dia tidak kuat lari karena sudah berumur. Apalagi, dia tengah memikul karung.
Salah satu kejadian yang masih terekam jelas dalam memorinya adalah saat seseorang yang mengendarai mobil hitam, tiba-tiba menghampirinya dan membuka jendela.
“Ini ibu, saya sudah kenyang,” ucap Juhaini. meniru ucapan orang dari mobil.
Saat itu, dari dalam mobil, seorang anak muda menyerahkan sepotong roti dan pisang goreng yang jelas-jelas sudah digigit.
Juhaini mengaku ingat betul dengan kejadian di depan Universitas Trisakti ini.
Namun, dia tidak tahu siapa sebenarnya muda-mudi yang mencemoohnya itu.
Meski merasa direndahkan, makanan sisa itu tetap diterima.
Namun, belum sempat roti dan pisang itu dimakan, beberapa mahasiswa yang menyaksikan pun menghampiri Juhaini.
“Anak kuliahan pada ngelihatin itu. (Kata mereka) 'sudah bu, buang saja. Ini Rp 10.000 buat makan. Nanti ibu sakit-sakitan (kalau makan yang tadi),” lanjut dia,
Kejadian serupa terjadi hingga beberapa kali. Namun, Juhaini mengaku menerima semuanya dan memilih fokus untuk memperbaiki nasibnya dan keluarga.
“Saya mah (pengalaman) pahit manis, telan saja,” tutur Juhaini lagi.