Selisih persentase calon pemilih bakal terpengaruh Jokowi dan Prabowo Effect pada Pilkada Jateng 2024 diprediksi tak terpaut jauh. Halaman all [532] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Persentase calon pemilih akan terpengaruh dengan kandidat didukung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden terpilih Prabowo Subianto, dalam pemilihan kepala daerah Jawa Tengah (Pilkada Jateng) beda tipis, berdasarkan survei Litbang Kompas.
Menurut hasil survei Litbang Kompas dikutip dari Kompas.id, Kamis (18/7/2024), persentase responden yang akan memilih pasangan calon kepala daerah pada Pilkada Jateng yang didukung Prabowo mencapai 66,4 persen.
Sedangkan responden yang menyatakan akan memilih pasangan calon kepala daerah pada Pilkada Jateng yang didukung oleh Jokowi mencapai 65,2 persen.
Survei Litbang Kompas juga mengukur tingkat elektabilitas sejumlah tokoh yang diperkirakan bakal diusung dalam Pilkada Jateng.
Elektabilitas anak bungsu Presiden Jokowi sekaligus Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Kaesang Pangarep menjelang Pilkada Jawa Tengah 2024 mencapai 7 persen.
Sedangkan elektabilitas Kapolda Jateng Ahmad Luthfi berada pada posisi kedua dengan 6,8 persen.
Luthfi juga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan Jokowi. Hubungan keduanya terbina pada 2011 ketika Jokowi masih menjabat Wali Kota Solo dan Luthfi berdinas sebagai Wakil Kapolres Solo.
Posisi di bawah Luthfi ditempati oleh mantan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen (3,2 persen), artis Raffi Ahmad (2,8 persen), Bupati Kendal Dico Ganinduto (2,6 persen).
Taj Yasin adalah politikus Partai Persatuan Pembangunan.
Sedangkan Raffi Achmad adalah salah satu pesohor yang mendukung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024 lalu.
Dico berlatar sebagai kader Partai Golkar yang berada dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mendukung Prabowo-Gibran.
Di sisi lain, peneliti Litbang Kompas M Toto Suryaningtyas menyoroti soal dinamika pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Menurut dia, para pemilih PDI-P di akar rumput Jateng kemungkinan tidak satu suara dalam Pilkada.
"Problem di 2024 ada faktor keterbelahan di pemilih PDI-P, antara yang pro Jokowi dan yang loyal dengan PDI-P," ujar Toto.
Penyebabnya adalah, kata Toto, hal itu terjadi karena para pendukung Jokowi melihat panutan mereka kerap diserang, bahkan dari kalangan PDI-P.
"Jadi Jokowi dilihat sebagai tokoh panutan, meski sering diserang-serang, ada jarak dengan orang-orang PDI-P. Akhirnya mereka memilih mendukung kandidat yang didukung. Akhirnya menjadi Jokowi Effect," ucap Toto.
Survei itu dilakukan melalui wawancara tatap muka pada periode 20 sampai 25 Juni 2024.
Jumlah responden sebanyak 500 orang yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 35 kabupaten/kota di Jateng.
Tingkat kepercayaan survei itu mencapai 95 persen dengan margin of error sekitar 4,4 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.
JAKARTA, KOMPAS.com - Efek politik yang dibawa Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih Prabowo Subianto sampai mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan turut menjadi pertimbangan responden dalam memilih calon kepala daerah dalam Pilkada Jakarta 2024.
Hal itu terungkap dalam hasil survei Litbang Kompas yang berlangsung pada 15-20 Juni 2024.
Dari dunia hukum, langkah Polri yang mengevaluasi penanganan kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita atau dikenal dengan "Vina Cirebon" menjadi perhatian masyarakat, setelah Pengadilan Negeri (PN) Bandung mengabulkan gugatan praperadilan Pegi Setiawan.
Faktor Menteri Pertahanan sekaligus presiden terpilih Prabowo Subianto hingga mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan menjadi pertimbangan bagi responden dalam memilih calon pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Jakarta 2024.
Dikutip dari Kompas.id, total terdapat lima sosok yang menjadi pertimbangan responden dalam memilih calon pada Pilkada Jakarta.
Kelima sosok tersebut adalah Prabowo, mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Anies Baswedan, Presiden Joko Widodo, dan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri.
"Pertimbangan responden dalam memilih kepala daerah juga dipengaruhi sosok-sosok kuat yang akan mendukung calon," tulis peneliti Litbang Kompas Vincentius Gitiyarko, dikutip dari Kompas.id, Selasa (16/7/2024).
Berdasarkan temuan penelitian ini, 66,5 persen responden akan memilih calon yang didukung oleh Prabowo.
Hanya sekitar 23,3 persen yang tidak mempertimbangkan faktor Prabowo dan 10,2 persen responden menyatakan tidak tahu. Selanjutnya, 65 persen responden akan memilih calon yang didukung Ahok.
Sekitar 22,8 persen tidak mempertimbangkan faktor dukungan Ahok dan 12,2 persen tidak tahu. Kemudian, 63,5 persen responden akan menentukan pilihannya dengan mempertimbangkan arah dukungan Anies.
Sebanyak 25 persen tak mempertimbangkan dan 11,5 persen responden menyatakan tidak tahu.
2. Kala Polri Evaluasi Kasus “Vina Cirebon” Setelah Pegi Bebas...
Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tengah mengevaluasi penanganan kasus pembunuhan remaja, Vina Dewi Arsita (16) dan Muhammad Rizki atau Eki (16), yang terjadi di Cirebon, Jawa Barat (Jabar), pada 2016.
Evaluasi ini dilakukan usai putusan Pengadilan Negeri (PN) Bandung mengabulkan gugatan praperadilan Pegi Setiawan serta mencabut status tersangka kasus pembunuhan Vina dan Eki.
"Terkait kasus Vina tentu kita terus mengkaji apa yang sudah terjadi dan juga kita membuka ruang kepada rekan-rekan sekalian, kepada masyarakat untuk memberikan masukan-masukan terhadap penanganan kasus Vina ini," kata Kepala Bareskrim Polri Komjen Wahyu Widada di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (15/7/2024).
Wahyu tidak menjelaskan secara detail evaluasi seperti apa yang akan dilakukan, termasuk evaluasi kepada penyidik yang menangani kasus pembunuhan Vina.
Ia hanya menyebutkan bahwa proses evaluasi sedang dilakukan oleh Bareskrim, Divisi Profesi dan Pegamanan (Propam), serta Inspektorat Pengawas Umum (Itwasum) Polri.
Berdasarkan temuan penelitian ini, 66,5 persen responden akan memilih calon yang didukung oleh Prabowo dan Anies 63,5 persen. Halaman all [686] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Faktor Menteri Pertahanan sekaligus presiden terpilih Prabowo Subianto hingga mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan menjadi pertimbangan bagi responden dalam memilih calon pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Jakarta 2024.
Hal ini sebagaimana hasil survei Litbang Kompas yang berlangsung pada 15-20 Juni 2024. Survei dengan metode wawancara tatap muka ini melibatkan 400 responden.
Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error penelitian lebih kurang 4,9 persen. Adapun survei ini dibiayai sepenuhnya oleh Harian Kompas (PT Kompas Media Nusantara).
Dikutip dari Kompas.id, total terdapat lima sosok yang menjadi pertimbangan responden dalam memilih calon pada Pilkada Jakarta.
Kelima sosok tersebut adalah Prabowo, mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Anies Baswedan, Presiden Joko Widodo, dan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri.
"Pertimbangan responden dalam memilih kepala daerah juga dipengaruhi sosok-sosok kuat yang akan mendukung calon," tulis peneliti Litbang Kompas Vincentius Gitiyarko, dikutip dari Kompas.id, Selasa (16/7/2024).
Berdasarkan temuan penelitian ini, 66,5 persen responden akan memilih calon yang didukung oleh Prabowo. Hanya sekitar 23,3 persen yang tidak mempertimbangkan faktor Prabowo dan 10,2 persen responden menyatakan tidak tahu.
Selanjutnya, 65 persen responden akan memilih calon yang didukung Ahok. Sekitar 22,8 persen tidak mempertimbangkan faktor dukungan Ahok dan 12,2 persen tidak tahu.
Kemudian, 63,5 persen responden akan menentukan pilihannya dengan mempertimbangkan arah dukungan Anies. Sebanyak 25 persen tak mempertimbangkan dan 11,5 persen responden menyatakan tidak tahu.
Faktor Jokowi juga masih berlaku pada Pilkada Jakarta 2024. Sebanyak 61 persen responden akan memilih calon yang didukung Jokowi. Hanya 28,5 persen yang tidak mempertimbangkan faktor Jokowi dan 10,5 persen responden menjawab tidak tahu.
Terakhir, pertimbangan faktor Megawati. Sekitar 43,5 persen responden akan memilih sosok yang didukung Megawati. Sebanyak 43,3 persen tak mempertimbangkan faktor dukungan Megawati dan 13,2 persen responden menyatakan tidak tahu.
Pertimbangan agama
Selain faktor kelima tokoh tersebut, pemilih juga akan menentukan pilihannya berdasarkan sejumlah pertimbangan yang meliputi agama, suku, sedang menjabat, sosok pemimpin yang dikagumi, partai politik, dan bantuan uang atau barang.
Secara persentase, faktor sesama agama menjadi pertimbangan tertinggi. Sebanyak 75,3 persen responden akan memilih calon dengan mempertimbangkan sesama agama. Hanya 16,5 persen tak mempertimbangkan faktor tersebut dan 8,2 persen responden menjawab tidak tahu.
Kemudian pertimbangan satu suku dengan responden mencapai 66,3 persen. Terdapat 21 persen tak mempertimbangkan faktor kesukuan dan 12,7 persen responden menjawab tidak tahu.
Lalu ada pertimbangan saat ini sedang menjabat. Sebanyak 63,5 persen responden mempertimbangkan faktor tersebut. Sekitar 25 persen tidak mempertimbangkan dan 11,5 persen responden menjawab tidak tahu.
Berikutnya pertimbangan memiliki hubungan keakraban dengan sosok pemimpin yang dikagumi. Pertimbangan pada faktor tersebut mencapai 63 persen dan 26,5 persen tak mempertimbangkan faktor ini. Hanya 10,5 persen responden yang menjawab tidak tahu.
Selanjutnya, pertimbangan diusung partai politik pilihan. Sebanyak 74,8 persen responden akan memilih calon dengan mempertimbangkan faktor ini. Hanya 16,3 persen yang tak mempertimbangkan dan 8,9 persen menjawab tidak tahu.
Terakhir, pertimbangan pemberian bantuan berupa uang atau barang. Sebanyak 58,3 persen responden mempertimbangkan akan memilih calon yang memberikan uang atau barang. Terdapat 30,5 persen yang tidak mempertimbangkan faktor itu dan 11,2 persen responden menajwab tidak tahu.
Baca selengkapnya artikel tersebut di Kompas.id dengan judul: "Survei Pilkada 2024: Pertimbangan Rasional Pemilih Jakarta (7)".