#30 tag 24jam
Satu per Satu Bank Asing di Indonesia Berguguran
Merger Bank Commonwealth Indonesia dengan OCBC NISP yang efektif per 1 September 2024 menambah daftar bank asing yang pamit usai beroperasi di Indonesia. [1,186] url asal
#bank-asing #bank-asing-di-indonesia #bank-asing-pamit-dari-indonesia #bank-asing-tutup #merger-commonwealth-ocbc #rabobank #royal-bank-of-scotland
(Bisnis.Com - Finansial) 05/09/24 10:30
v/14895477/
Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah bank di Indonesia kembali menyusut dengan efektifnya merger antara Bank Commonwealth dengan OCBC Indonesia pada 1 September 2024, menjadi satu di bawah entitas PT Bank OCBC NISP Tbk. Melalui merger ini pula menambah daftar bank asing yang pamit usai beroperasi di Indonesia.
Sebagai informasi, Bank Commonwealth merupakan unit usaha dari Commonwealth Bank of Australia (CBA) yang memiliki 24 jaringan kantor di 18 kota di Indonesia. Penjualan unit usaha di Indonesia menjadi strategi CBA untuk keluar dari pasar non-intinya.
"Penjualan kepemilikan saham ini sejalan dengan strategi CBA untuk fokus pada bisnis perbankan di Australia dan Selandia Baru," tulis Manajemen CBA di laman resminya pada Kamis (16/11/2023).
Sebelum berakhir dengan OCBC, Bank Commonwealth sempat dikabarkan diminati oleh beberapa investor, yaitu CIMB Group, JTrust, Bajaj Finance Ltd, dan juga Cathay Financial Holding Co.
Pada November 2023, OCBC NISP mengumumkan rencana akuisisi 99% saham Bank Commonwealth. Estimasi nilai akuisisi Bank Commonwealth oleh NISP ini sekitar Rp2,2 triliun. Setelah akuisisi rampung, Bank Commonwealth kemudian diintegrasikan ke dalam OCBC Indonesia.
Saat pengumuman akuisisi, Bank Commonwealth membukukan rugi bersih Rp415,83 miliar pada kuartal III/2023, naik 5 kali lipat dari rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya, yang senilai Rp75,32 miliar.
Usai efektif merger per 1 September 2024, Bank Commonwealth pun resmi pamit dari pasar Indonesia. Nasabah Bank Commonwealth pun secara otomatis beralih menjadi nasabah OCBC.
Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja mengatakan efektifnya penggabungan ini menandai awal baru bagi kedua entitas yang kini bersatu sebagai kesatuan yang lebih solid dan semakin tangguh.
"Dengan menyatukan kekuatan yang dimiliki, OCBC siap melayani basis nasabah yang lebih luas dengan solusi perbankan yang semakin komprehensif di Indonesia, digabungkan dengan kapabilitas OCBC di kawasan ASEAN, Greater China, dan wilayah lainnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/9/2024).
Sebelum Bank Commonwealth, ternyata sejumlah bank asing juga telah memutuskan untuk hengkang dari pasar Indonesia. Berikut daftar yang dirangkum Bisnis.com dalam 7 tahun terakhir:
The Royal Bank of Scotland N.V.

Royal Bank of Scotland Group Plc. /rbs
Pada Kamis, 23 Februari 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan keputusan pencabutan izin usaha kantor cabang bank asing (KCBA) The Royal Bank of Scotland N.V. (RBS) di Indonesia.
Dalam keterangan resmi OJK, pencabutan izin usaha ini dilakukan atas dasar permohonan Kantor Pusat RBS N.V. di Belanda yang disampaikan kepada OJK pada tanggal 1 November 2016.
"Permohonan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dari strategi bisnis grup RBS di Inggris yang memutuskan untuk menutup jaringan bisnisnya di 25 negara, termasuk Indonesia," tulis OJK.
Sebagai informasi, Kantor Cabang RBS N.V. mulai beroperasi pada 1969 dengan nama ABN AMRO Bank N.V. KC Indonesia.
Sejak 2010, kepemilikan saham mayoritas RBS N.V. dikuasai oleh The Royal Bank of Scotland Plc. Pada tahun 2011, ABN AMRO Bank N.V. KC Indonesia berubah nama menjadi The Royal Bank of Scotland N.V.
Sampai dengan akhir tahun 2014, OJK mencatat KC RBS N.V. selalu membukukan laba usaha, yang menunjukkan bahwa bisnis di Indonesia memiliki prospek yang menggembirakan. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan bisnis grup RBS secara global yang masih mengalami kerugian sehingga bisnis grup lebih difokuskan pada pasar domestik di Inggris.
Pada 26 Februari 2015, grup RBS mengumumkan penghentian bisnisnya di 25 negara, termasuk KC Indonesia melalui siaran pers mengenai Annual Result for the year ended 31 December 2014.
Penutupan KC Indonesia mulai dilaksanakan pada semester II/2015, yang diawali dengan penutupan KC Pembantu RBS N.V. di Surabaya pada Desember 2015. Selanjutnya, secara bertahap KC RBS N.V. mulai menghentikan seluruh aktivitas bisnis dan mulai mengajukan permohonan persiapan pencabutan izin usaha pada akhir Agustus 2016.
Sebelum permohonan pencabutan izin usaha diajukan, KC RBS N.V. telah menyelesaikan seluruh kewajiban kantor cabang, sehingga pencabutan izin usaha yang dilakukan oleh OJK telah memenuhi ketentuan sesuai Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.32/53/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank Umum.
Rabobank

Kendaraan melintas di dekat kantor Rabobank Indonesia jalan Abdul Muis, Jakarta, Sabtu (4/5/2019)./Triawanda Tirta Aditya
Rabobank Group yang berpusat di Utrecht, Belanda pernah berekspansi ke Indonesia melalui badan hukum PT Bank Rabobank International Indonesia pada 1990.
Rabobank sempat menyatakan pamit dari Indonesia pada 22 April 2019. Keputusan tersebut merupakan bagian utama dari strategi global Rabobank Group terkait visi Banking For Food yang terfokus kepada rantai pasok internasional untuk sektor pangan dan agrikultur.
Pada akhirnya, bank swasta terbesar di Indonesia, yaitu PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengakuisisi PT Bank Rabobank International Indonesia dengan menggelontorkan dana senilai Rp397 miliar. RUSPLB BCA pada 30 Juli 2020 menyetujui rancangan akuisisi saham Rabobank.
Kemudian, pada 24 September 2020 Rabobank efektif berubah nama menjadi PT Bank Interim Indonesia. BCA kemudian memutuskan untuk menggabungkan BCA Syariah dan Bank Interim.
Aksi korporasi penggabungan ini tidak menyebabkan berubahnya kegiatan utama BCA Syariah sebagai bank yang melakukan usaha di bidang perbankan berdasarkan prinsip syariah.
BCA Syariah juga tetap melayani nasabah perseorangan dan bisnis pada seluruh segmen nasabah perbankan, baik ritel, komersial, maupun usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Bangkok Bank

Kantor pusat Bangkok Bank di Bangkok, Thailand./bangkokbank.com
Sejak 29 November 2022, OJK mencabut izin usaha kantor cabang Bangkok Bank Public Company Limited. Pasalnya, Bangkok Bank telah terintegrasi dengan PT Bank Permata Tbk.
Dalam keterangan resmi pada Jumat (16/12/2022), OJK menjelaskan bahwa pencabutan izin usaha Kantor Cabang Bangkok Bank Public Company Limited merupakan permintaan dari kantor pusatnya di Thailand atau self liquidation
Sementara, permintaan tersebut datang sebagai tindak lanjut atas proses integrasinya dengan Bank Permata di Indonesia. "Hal ini juga dilakukan dalam rangka mendukung program konsolidasi perbankan Indonesia," tulis OJK.
Sejak tanggal pencabutan izin usaha itu, Kantor Cabang Bangkok Bank Public Company Limited juga diwajibkan untuk melaksanakan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebagaimana diketahui, Bangkok Bank telah mengakuisisi 89,12% kepemilikan saham PT Astra International Tbk. dan Standard Chartered PLC di Bank Permata.
Transaksi dituntaskan pada 2020 dengan kesepakatan valuasi sebesar 1,63 kali lipat dari nilai buku Bank Permata per tanggal 31 Maret 2020, atau sekitar Rp33,66 triliun (US$2,28 miliar atau 73,72 miliar bath).
Penjualan Sebagian Lini Bisnis Bank Asing
Sejumlah bank asing juga tercatat telah melepas sebagian bisnisnya di Indonesia. Pada 2022, Citigroup melepas bisnis retail banking Citibank N.A. Indonesia atau Citi Indonesia kepada UOB Group.
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan alasan bank asing seperti Citibank memilih menjual bisnis konsumernya itu karena pangsa pasar yang kecil bagi pemain luar. “Terlalu kecil market share-nya. Jadi, susah align,” ujarnya.
Selain itu, bank asing kalah saing dengan pemain lokal. “Bagi bank global, bisnis konsumer biasanya hanya besar di home country,” kata Batara.
Meski begitu, Batara menilai keputusan menjual lini bisnis konsumer merupakan langkah tepat. Dengan menjual lini bisnis konsumernya, bank bisa fokus menggarap bisnis institutional banking.
Selain Citi, Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI) juga menandatangani perjanjian pengalihan sejumlah portofolio kredit yang termasuk ke dalam bisnis konsumer kepada PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN).
Di antara portofolio kredit yang dilepas SCBI adalah kredit pemilikan rumah (KPR) dan kartu kredit. Kredit perorangan (personal loan) dan auto loan milik SCBI pun akan dialihkan ke Bank Danamon. Pada 2018, PT Bank ANZ Indonesia juga telah melepas divisi ritel ke PT Bank DBS Indonesia.
Musim Mas Terima Pembiayaan Berkelanjutan dari Rabobank dan HSBC Rp 2,6 Triliun
Musim Mas akan memanfaatkan pendanaan berkelanjutan itu untuk sertifikasi RSPO petani swadaya. [426] url asal
#musim-mas #pembiayaan-berkelanjutan #hsbc #rabobank #update-me
(Katadata - EKONOMI HIJAU) 29/08/24 18:44
v/14821592/
Rabobank dan Bank HSBC mengubah pendanaan Revolving Credit Facility (RCF) belum terkontrak atau uncommited yang diberikan kepada perusahaan minyak kelapa sawit Musim Mas menjadi pendanaan berkelanjutan dengan nominal € 150 juta (Rp 2,6 triliun).
Chief Financial Officer dan Executive Director Musim Mas Alvin Lim mengatakan kerja sama pinjaman terkait keberlanjutan dengan target yang ambisius tersebut merupakan bukti komitmen Musim Mas terhadap keberlanjutan dan perilaku perusahaan yang bertanggung jawab.
"Musim Mas memperkuat dedikasi kami untuk mendorong dampak lingkungan dan sosial yang positif sambil memberikan nilai jangka panjang kepada para pemangku kepentingan (stakeholders)," ujar Alvin Lim dalam keterangan tertulis, Kamis (29/8).
Alvin mengatakan, Musim Mas secara strategis memanfaatkan pinjaman tersebut untuk mengintegrasikan keberlanjutan lingkungan dan sosial dengan mulus ke dalam kerangka keuangannya, memperkuat dedikasinya terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan Prinsip Pinjaman Terkait Keberlanjutan LMA.
Musim Mas akan menggunakan pinjaman tersebut untuk sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk petani swadaya, pelatihan petani swadaya, dan mempertahankan rantai pasokan minyak sawit bebas deforestasi. Pemilihan KPI ini didorong dengan cermat oleh berbagai faktor, seperti materialitas dan tingkat ambisi target.
Menurutnya, petani swadaya yang beroperasi di perkebunan kelapa sawit skala kecil merupakan peluang penting untuk memajukan produksi minyak sawit berkelanjutan.
Pasalnya, untuk meningkatkan volume produksi berkelanjutan dari petani swadaya secara keseluruhan dibutuhkan petani dengan kapasitas produksi kecil untuk membantu perusahaan. "Diperkirakan 41% dari area produksi kami merupakan area produksi petani, dengan begitu perlu adanya peningkatan hasil petani tersebut," ucapnya.
Potensi Besar Pertanian Pangan Berkelanjutan
Head of Trade & Commodity Finance, Rabobank Asia, Gregory Vandeler mengatakan sebagai koordinator keberlanjutan untuk fasilitas tersebut, Rabobank memfasilitasi integrasi prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam struktur pembiayaan.
"Rabobank merasa terhormat telah bertindak sebagai koordinator keberlanjutan utama untuk Musim Mas dalam pinjaman terkait keberlanjutan perdana mereka," ujar Gregory. Menghubungkan kinerja melalui pembiayaan berkelanjutan adalah cara Rabobank mendukung klien dalam komitmen berkelanjutan sekaligus meningkatkan produktivitas, ketahanan, dan mata pencaharian petani.
Gregory meyakini terdapat potensi besar dalam sektor pertanian pangan yang lebih berkelanjutan. "Dalam peran kami sebagai bank komoditas pangan, pertanian, dan perdagangan terkemuka, kami berkomitmen untuk mengambil peran utama dalam bekerja sama dengan klien kami dalam perjalanan transisi berkelanjutan mereka," ucapnya.
Sementara itu, Head of Commercial Banking, HSBC Singapura, Priya Kini, mengatakan HSBC merasa terhormat dapat lebih memperdalam dukungan melalui pinjaman terkait keberlanjutan yang pertama dengan Musim Mas.
"Musim Mas ingin menanamkan prinsip-prinsip ESG ke dalam operasi bisnis inti dan kegiatan pembiayaan mereka, dan kami dengan senang hati membantu mereka melakukannya," ujar Priya. Menurutnya, kolaborasi ini merupakan demonstrasi yang jelas dari upaya berkelanjutan HSBC untuk mendukung transisi klien ke masa depan yang lebih berkelanjutan.