#30 tag 24jam
Bara Bisnis Sambal "Gerilya"
Sambal gerilya sukses menjadi favorit setelah pemiliknya jungkir balik dalam berusaha [645] url asal
#sambal #sambal-gerilya #bisnis-sambal
(Bisnis.Com - Terbaru) 27/09/24 10:20
v/15621877/
Bisnis.com, JAKARTA - Jungkir balik dunia bisnis kuliner yang dialami Richard tak menyurutkan langkahnya meneruskan mimpi yang telah dia genggam sejak masih berusia belasan tahun.
Tak heran jika kini sambal botol kemasan “Gerilya” yang dirintis Richard sejak tahun 2015, dapat dijumpai dengan mudah di rak-rak sejumlah retail di Medan.
“Saya tidak tamat sekolah, hanya sampai SMA kelas XI saja. Tapi, sejak SMP kelas 3 saya sudah menentukan bahwa saya akan jadi pengusaha di bidang kuliner,” cerita Richard kepada Bisnis beberapa waktu lalu.
Usaha Richard mewujudkan mimpinya tak main-main. Pria yang telah mulai berjualan nasi di sekolah sejak SMP ini mengaku pernah jatuh berkali-kali dan terlilit hutang dalam jumlah besar saat merintis bisnis sambalnya.
Dikatakan Richard, ide untuk memproduksi sambal botol kemasan datang ketika dirinya melihat banyaknya sambal berlabel Bangkok Thailand yang dijual di salah satu supermarket di Medan. Pada saat itu, sekitar tahun 2015, Richard menyebut baru saja bangkrut dari bisnis kateringnya.
Kebiasaan berkeliling menggunakan sepeda motor sembari mencari ide bisnis membawanya singgah ke supermarket tersebut. Jejeran sambal asing kemasan di rak supermarket menguatkan niatnya untuk membuat sambal khas Indonesia yang tak kalah luar biasa.
“Mereka saja bisa mengirim Sambal Bangkok-nya sampai kemari. Mengapa tidak saya yang mengirim kembali sambal-sambal asli Indonesia yang jumlahnya ratusan jenis itu ke sana?,” ujar Richard..
Dengan modal yang hanya tinggal Rp150.000 ribu pasca bangkrut, Richard memulai bisnis sambal kemasan. Andaliman, lada khas tanah Batak, dipilihnya menjadi varian utama.
Namun, dia menyebut bahwa modal awal itu hanya habis dipakai untuk riset, sehingga penjualan sambal yang saat itu baru dilakukan ke teman-teman terdekatnya menggunakan cara yang tak biasa.
Richard mengaku hanya membawa foto sambal yang dibuat untuk ditawarkan ke teman-temannya dan meminta mereka membayar terlebih dahulu. Uang itulah yang dia pakai untuk membeli bahan sambal.
“Hingga bulan ketiga, omzet saya hanya Rp300.000. Teman saya akhirnya mengusulkan untuk masuk ke marketplace. Saya yang gaptek (gagap teknologi) minta dibikinkan email. Dari marketplace itulah saya dapat reseller pertama, dari daerah Dolok Sanggul, Tapanuli Utara, sebanyak 12 botol,” ceritanya.
Hubungan baik dengan reseller nya sempat membawa sambal andaliman buatan Richard laku terjual hingga 8.000 botol saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Danau Toba, sekitar tahun 2016.
Richard menyebut produksi sambal yang hingga ribuan botol saat itu tak lepas dari bantuan modal yang diberi si reseller untuk mendukung usaha yang baru dirintisnya. Hasil penjualan ini yang dia pakai untuk melunasi hutang-hutangnya, dan mengurus perizinan.
Tantangan belum mau menjauh dari bisnis Richard. Usulan teman untuk meminjam kredit usaha rakyat (KUR) nyatanya meninggalkan masalah baru. Pinjaman KUR yang 80% dipakai untuk membeli peralatan, tak sebanding dengan produksi yang dijalankan.
“Saya punya mesin mumpuni, tapi produk saya tak banyak yang meminta. Selama ini saya meyakini bahwa bisnis hanya soal keberuntungan. Tapi ternyata, harus punya skill entrepreneurship juga,” ujarnya.
Gerilyaadalah nama yang dipilih Richard sejak tahun 2022 untuk merek sambal kemasan yang dia produksi. Richard mengatakan bahwa nama itu terinspirasi dari strategi perang yang dipakai Jenderal Sudirman saat perang melawan penjajah dulu.
Sejak dirintis dari tahun 2015, Richard memakai merek Garcia Food. Program pengembangan UMKM yang diikuti Richard membuatnya mantap mengganti merek produk dengan nama yang lebih identik dengan produk yang dibuat.
“Gerilya itu strategi perang Jenderal Sudirman. Jadi, nasionalisnya ada, membaranya juga ada, seperti pedasnya sambal ini,” kata Richard.
Saat ini sambal kemasan botol Richard lebih variatif, ada 6 macam sambal dengan isian lauk seperti teri dan cumi yang dia buat. Dia menyebut, ada hampir 300 retail modern yang kini menjual sambal buatannya, baik dengan brand Gerilya maupun dengan merek lain sesuai kesepakatan.
Kendati rebranding membuat penjualan sambal melonjak hingga kini rata-rata 3.000-4.000 botol per bulan, Richard merasa masih perlu mengembangkan usahanya agar tak stagnan.
“Kami baru saja membuka warung Nasi Gerilya di Jalan Yos Sudarso Medan. Di sana, kami juga menyediakan sambal-sambal kemasan ini agar lebih memperluas jangkauan brand kami,” tandasnya. (K68)
Kenalkan Sambal Lokal Lewat Shopee Live, Eatsambel Raih Penjualan 3 Kali Lipat
Salah satu brand lokal, Eatsambel mengalami peningkatan penjualan berkat memanfaatkan fitur Shopee Live. [974] url asal
#belanja-online #e-commerce #sambal #kuliner-indonesia #umkm #brand-lokal
(MedCom - Ekonomi) 12/07/24 07:04
v/10502079/
Jakarta: Rasa pedas menjadi cita rasa yang seolah tidak bisa terpisahkan dari kuliner Indonesia. Ada ungkapan yang tentu kerap didengar di tengah masyarakat bahwa hidangan terasa kurang lengkap tanpa kehadiran sambal. Kecintaan masyarakat Tanah Air terhadap rasa pedas ini menginspirasi Yansen Gunawan untuk membuka bisnis sambal dengan brand, Eatsambel.Awalnya, Yansen mencoba untuk memberikan sambal buatannya secara gratis kepada para kerabat, hingga kini Eatsambel bisa dikenal secara luas sebagai brand sambal lokal dalam kemasan dengan kualitas dan rasa yang enak. Kesuksesan brand lokal ini juga turut didukung dengan bergabungnya bersama Shopee untuk meningkatkan jangkauan penjualan dan memanfaatkan fitur-fitur seperti Shopee Live dan Shopee Video.
"Walaupun tiap orang memiliki selera makanan yang berbeda-beda, namun sambal menjadi satu cita rasa yang dicari semua masyarakat Indonesia. Maka dari itu, kami ingin produk Eatsambel bisa dicoba dan menjadi teman makan seluruh orang Indonesia. Dan berbagai inisiatif dan inovasi yang Shopee hadirkan telah membantu Eatsambel dalam merealisasikan mimpi kami ini. Tidak terkecuali dua fitur interaktif Shopee Live dan Shopee Video yang menjadi solusi bagi kami dalam melewati masa sulit saat pandemi," ujar Founder Eatsambel Yansen Gunawan.
"Awalnya, Shopee Live menjadi strategi pemasaran yang kami gunakan untuk menjawab perubahan perilaku belanja masyarakat. Namun ternyata banyak sekali manfaat dan dampak positif yang kami rasakan hingga hari ini, mulai dari memperluas jangkauan pasar, menciptakan interaksi dengan konsumen, bahkan juga peningkatan transaksi yang signifikan. Melalui kolaborasi bersama Shopee Live, pada kampanye angka kembar Shopee, total transaksi Eatsambel berhasil meningkat hingga 3 kali lipat dibandingkan biasanya," lanjutnya.
Untuk melengkapi pengalaman konsumen dalam membeli dan mencoba produk yang dimiliki, Eatsambel yakin bahwa sebuah brand tidak boleh hanya berfokus untuk berjualan saja, tetapi juga harus melayani dan menghibur para calon konsumen. Memiliki produk yang bermain dengan sensasi rasa, fitur Shopee Live dan Shopee Video menjadi strategi penting yang dilakukan Eatsambel dalam membantu konsumen melakukan keputusan pembelian.
Melalui Shopee Live, Eatsambel dapat mendeskripsikan cita rasa dari masing-masing varian produk, menunjukkan bahan baku alami yang terkandung dalam produk, serta memberikan rekomendasi dan menjawab secara langsung pertanyaan yang muncul di kolom komen. Mengusung konsep komedi, Eatsambel juga memanfaatkan Shopee Video untuk memberikan tips dan kreasi makanan yang cocok dengan produk Eatsambel sambil berkolaborasi dengan figur selebriti ternama.
"Tiga nilai penting dari konten video Eatsambel adalah ringan, lucu dan tradisional. Karena itu, kami mengangkat cerita berdasarkan kehidupan sehari-hari kami yang dikemas dengan konsep komedi ringan, seperti konten video pendek yang lucu bersama para karyawan maupun selebriti ternama. Kami percaya bahwa kekuatan dari Eatsambel adalah kreativitas yang kami miliki, dan dengan hadirnya Shopee Video ini menjadi wadah kami untuk menyalurkan berbagai ide untuk menghibur konsumen kami," kata Yansen atau yang akrab dipanggil Mas Yangun oleh para konsumen Eatsambel.
"Selain membantu kami, tentunya fitur interaktif ini juga semakin memudahkan konsumen Eatsambel karena mereka bisa langsung membeli produk kami melalui Keranjang Orange sambil menikmati promo dan diskon spesial untuk pembelanjaan dari Shopee Live maupun Shopee Video," tuturnya.
Perjalanan Eatsambel, pesona warisan resep turun temurun yang bertemu dengan inovasi digital dari Shopee
Didirikan pada 2018, Eatsambel berawal dari keinginan Yansen untuk bisa mengobati kerinduan masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri akan cita rasa sambal, yang sulit ditemukan di luar Tanah Air. Ia juga menyadari bahwa banyak orang menyukai sambal, tetapi tidak semua orang bisa dan mau repot untuk membuat sambal yang lezat. Oleh karena itu, bermodal resep sambal turun temurun dari keluarganya, Eatsambel hadir dengan cita rasa rumahan yang sesuai dengan selera orang Indonesia.Seluruh produk Eatsambel dibuat menggunakan komposisi bahan alami untuk selalu menjaga kualitas kesegaran serta menjamin kenikmatan dan rasa terbaik saat sampai di tangan konsumen. Maka dari itu, Yansen bekerja sama dengan para petani cabai yang tersebar di berbagai daerah untuk menunjukkan kualitas bahan baku lokal yang Indonesia miliki. Berbagai macam bahan baku lokal ini dikreasikan Yansen menjadi 4 varian cita rasa sambal khas Indonesia yang dikemas dengan nama yang unik, mulai dari Cumi Ciamik, Cakalang Rindu, Ayam Suwir Icikiwir, dan Teri-Ngat Kamu.
"Kami sangat bersyukur bahwa kehadiran Eatsambel tidak hanya dapat menemani konsumen saat menyantap makanan, tetapi juga dapat berkontribusi untuk meningkatkan penjualan cabai dari petani daerah dan berhasil membuka lapangan pekerjaan untuk banyak ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung dari keluarga mereka," Yansen menambahkan.

(Foto: Dok. Ist)
Yansen juga meyakini dalam bisnis kuliner, yang dibutuhkan bukan hanya rasa yang enak, melainkan juga branding produk itu sendiri. Untuk itu, ia pun memanfaatkan Shopee untuk mendukung bisnisnya dan menjangkau target pasar yang dimiliki. Eatsambel pun langsung mengawali awal perjalanan bisnis bersama Shopee, karena berbagai kemudahan yang ditawarkan bagi brand baru dalam mengenalkan produk dan memulai bisnis mereka.
Berawal dari hanya memperkenalkan varian produk dengan foto yang cantik, sekarang Shopee sudah menyediakan berbagai wadah lain untuk menyalurkan kreatifitas Eatsambel melalui Shopee Video dan Shopee Live. Dengan memanfaatkan kampanye, program dan fitur interaktif yang Shopee miliki, Eatsambel bisa semakin dikenal masyarakat dan menjadi pilihan utama saat mereka ingin membeli produk sambal kemasan, dimana varian Eatsambel Cumi Ciamik menjadi favorit para pengguna Shopee.
"Kami percaya bahwa ‘inovasi’ dan ‘kreativitas’ adalah kunci utama bagi brand dalam mencapai kesuksesan. Salah satu caranya adalah tidak berhenti mempelajari tren dan memanfaatkan inovasi teknologi yang ada dengan cara yang khas dan berbeda dengan yang lain, seperti yang Eatsambel lakukan bersama fitur Shopee Live dan Shopee Video," jelas Yansen.
"Kami berharap ke depannya semakin banyak brand lokal yang mengadopsi kedua fitur interaktif ini untuk memudahkan komunikasi dengan calon konsumen. Karena kami percaya ini adalah awal dari sebuah inovasi besar dalam menciptakan pengalaman belanja yang personal, mudah, dan menyenangkan. Bagi brand yang baru memulai, kami percaya Shopee Live dan Shopee Video akan menjadi salah satu kunci besar dalam memenangkan perhatian para konsumen dan memberikan dampak positif bagi bisnis," tutupnya.
Temukan sensasi cita rasa kuliner Nusantara dan nikmati ragam promo terbaik bersama berbagai brand lokal favorit hanya di Shopee! Unduh aplikasi Shopee secara gratis melalui App Store atau Google Play dan segera aktifkan ShopeePay.
(KIE)