#30 tag 24jam
Kisah Wanita Tani di Prabumulih Raup Cuan dari Sayuran Organik
KWT Kemuning bisa menghasilkan Rp 800 ribu untuk menjual aneka sayuran ke warung-warung mulai kacang panjang, terong hingga bawang merah. [1,006] url asal
#sayuran-organik #pangan #pertamina
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 29/07/24 18:36
v/12552802/
Jakarta - Perempuan menjadi tulang punggung perubahan. Bergerak dari sektor ekonomi dengan pertanian sayur organik skala pekarangan menjadi jalan kemandirian kelompok. Semua berawal dari pola pikir, perempuan harus di depan.
Tri Ningsih, Ketua KWT (Kelompok Wanita Tani) Kemuning, Kelurahan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih Barat, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan seakan tak pernah berhenti untuk belajar. Meski usia sudah di atas 40 tahun, ia selalu memotivasi para perempuan anggotanya untuk maju.
"Kalau ada pelatihan, kami selalu duduk di depan supaya mendengar semua materi. Kalau duduk di belakang, kita tidak dapat apa-apa," kata Tri dalam keterangannya, dikutip Senin (29/7/2024).
Konsep itulah yang selalu ia sampaikan ketika memotivasi anggota. Tak serta merta berhasil, butuh waktu. Tapi ketika sudah menghasilkan, dalam hal ini ekonomi, maka anggotapun tertarik untuk bergabung dan aktif.
"Kalau mendengar istilah wanita tani, yang terbayang dekil, berlumpur. Saya ingin mengubah mindset itu," katanya semangat.
Dari sanalah ternyata kunci dari motivasi para perempuan untuk aktif. Bisa membeli kerudung bagus dari menghemat uang belanja.
Berawal pada Oktober 2019, ketika pemerintah memberikan dana fasilitasi senilai Rp 50 juta/KWT. Saat itulah, Tri dkk membentuk KWT. Fasilitas tersebut bukan berupa dana segar, namun berupa fasilitas yang mendorong peningkatan pendapatan. KWT Kemuning memilih bertanam sayuran organik.
"Awalnya karena saya pribadi suka bertanam. Saya menanam apa saja. Bahkan menanam anggur organik, bisa buah dan lebat," terang Tri.
Dari belajar otodidak, membaca, juga melihat Youtube, ia praktikkan semua yang ia pelajari. Anggota KWT Kemuning yang terdaftar sebanyak 30 orang, namun yang aktif pada awalnya tak lebih dari 5 orang.
Hal ini tidak menyurutkan semangat Tri untuk menghidupkan kelompok perempuan. Alumni Fakultas Ekonomi di Sumatera Selatan ini sebenarnya tidak perlu merepotkan diri jika hanya memikirkan kepentingan sendiri.
"Saya melihat lingkungan saya kok seperti ini. Ibu-ibu tidak punya uang. Pendapatan sulit," kenangnya.
Ia ingin berbuat sesuatu untuk sama-sama meningkatkan pendapatan. Apalagi para perempuan yang sudah kelelahan bekerja di ladang karet menjadi penyadap. Tidak sempat lagi untuk mengembangkan diri. Setiap hari disibukkan bertarung dengan keterbatasan ekonomi.
Menghemat Pengeluaran Ratusan Ribu per Minggu
Pada awalnya, Tri menanam aneka sayuran daun. Mulai dari kangkung dan bayam. Kangkung bisa panen dalam waktu satu bulan. Ia menanam di lahan tidur yang lama tidak dimanfaatkan selain ia juga menanam di rumahnya sebagai hobi.
"Pertanian organik ini yang paling susah saat mengembalikan tanah yang sudah keras. Kami mencangkul sendiri," kata Tri.
Tanah yang sudah biasa menerima asupan pupuk kimia sintetis perlu digemburkan lagi. Setelah dicangkul, disebar pupuk kandang dan kompos hingga siap ditanami.
Panen pertama di lahan ukuran 30x40m tersebut dihadiri oleh Walikota Prabumulih. Hal ini memberi semangat bagi anggota yang lain untuk lebih aktif. Apalagi setelah tahu, dari hasil bertanam sayuran organik ini bisa memberi pendapatan tambahan.
"Kami bagikan hasil panen ke anggota. Kami juga sampaikan, kalau kita menanam sayuran, kita bisa menghemat Rp 200-300 ribu/minggu," terang Tri.
Ia mendapatkan angka tersebut dari pengalaman mencatat. Juga dari penelitian S2 yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa di KWT Kemuning. Selain memberikan pendapatan untuk anggota, KWT Kemuning juga menjadi tempat belajar dan penelitian bagi mahasiswa.
Selain menghemat, KWT Kemuning juga mendapatkan penghasilan dari menjual sayuran. Dalam sekali panen, KWT Kemuning bisa menghasilkan Rp 800 ribu untuk menjual aneka sayuran ke warung-warung. Kali ini tak hanya kangkung dan bayam, tapi sudah beragam mulai kacang panjang, terong hingga bawang merah.
Khusus untuk bawang merah, menjadi keberhasilan lain. Awalnya dikira bawang merah hanya tumbuh di dataran tinggi. Tapi di desa yang ketinggiannya hanya 70mdpl, bawang merah yang ditanam di polibag berbuah lebat dan besar-besar. Pupuknya pun dengan pupuk organik.
"Dengan pupuk kimia sintetis tidak kalah. Yang penting dapat panas penuh," kata Tri.
Dari keberhasilan ini, akhirnya KWT Kemuning mulai memperluas lahan. Tak jauh dari lahan pertama, ada lahan tidur yang sudah siap tanam.
Selain sayuran, ada juga produk dari tanaman obat yang ditanam tumpang sari dengan sayuran. Tanaman obat ini diolah menjadi minuman instan dan jamu. Produknya sudah mendapatkan IPRT yang diurus sendiri oleh anggota KWT.
Sejauh ini, produk masih berdasarkan pesanan. Setiap ada acara yang diselenggarakan pemerintah maupun BUMN khususnya Pertamina, produk dari KWT selalu hadir dan diminati.
KWT yang Cepat Mandiri
Kawasan ini terletak di ring 1 PT. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Prabumulih Field. Kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu fokus dalam CSR-nya.
"Kami memulai program ini sejak tahun 2022, tahun ini (2024) sudah memasuki tahun ke-3 dari road map program selama 5 tahun," kata Community Development Officer Hengky Rosadi yang mendampingi KWT Kemuning.
Dipilihnya KWT Kemuning setelah melalui social mapping pada tahun 2021. Angka pendapatan rendah dan ada kelompok perempuan yang sudah aktif. Oleh karena itu, program dari Pertamina adalah meningkatkan kapasitas dari anggota dan juga meningkatkan produknya. Tak hanya itu, juga memikirkan pemasaran produk.
Dalam peningkatan SDM, Pertamina mendatangkan mentor, mengadakan pelatihan tentang pertanian organik, dan juga pemasaran. Hal ini memberikan dampak positif bagi KWT. Tak sampai dua tahun pendampingan. KWT Kemuning sudah dinilai mandiri.
"Bahkan KWT Kemuning sudah mampu menjadi pusat pembelajaran dan percontohan bagi 10 KWT lain di Kota Prabumulih," tambah Hengky.
Selain itu, kampung di sekitar KWT Kemuning juga diikutsertakan dalam Program Kampung Iklim (Proklim) KLHK pada tahun 2024. Program ketahanan pangan, menjaga lingkungan, dan aktif dalam mitigasi perubahan iklim merupakan kegiatan dari KWT Kemuning.
(mpr/ega)
Tanam Aneka Sayur di Pekarangan Jadi Tambahan Pendapatan Warga Muara Enim
Aneka sayur ditanam sehingga mengurangi uang yang dibelanjakan untuk membeli sayuran dan bumbu. [837] url asal
#hidroponik #sayuran-organik #pertamina
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 28/07/24 07:48
v/12388814/
Jakarta - Meski urusan dapur tak selamanya milik Perempuan, namun perempuan mahir dalam mengurusnya. Termasuk mempertahankan agar di dapur selalu tersedia bahan makanan yang sehat dari pekarangan.
Angka kemiskinan Desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim termasuk tinggi. Menurut Pusat Data Indonesia, saat ini Desa Air Talas tergolong berkembang, belum maju. Angka penerima Bansos pun tinggi.
Padahal rata-rata KK memiliki lahan pekarangan yang luas namun belum dimanfaatkan. Sementara ibu-ibu harus membeli sayur dan buah-buahan yang seharusnya bisa ditanam di pekarangan.
Neng Ani Marlianti, salah satu perempuan yang rajin memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Aneka sayur ditanam sehingga mengurangi uang yang dibelanjakan untuk membeli sayuran dan bumbu. Selain itu, sayuran dan bumbu juga lebih sehat karena dibudidayakan secara organik.
Tak Lagi Beli Sayur
Di depan rumahnya, ia memetik mentimun yang ukurannya di atas rata-rata. Panjangnya hingga 30-50cm. Hanya ada beberapa batang tanaman saja yang dirambatkan di pagar namun sudah bisa mencukupi kebutuhan untuk keluarganya. Ia tidak perlu membeli.
"Saya juga menanam cabai. Di sini tanahnya subur, tinggal kasih tambahan pupuk kandang, sudah bisa buah," kata Neng dalam keterangannya, dikutip Minggu (28/7/2024).
Hanya 2-3 batang saja di depan rumah, sudah cukup untuk mengurangi belanja. Sementara di kebun, ia menanam 60-an batang cabai aneka jenis. Juga aneka sayuran daun mulai pakcoy, caisim, bayam, dan kangkung. Untuk sayuran buah, ada kacang panjang, tomat, dan mentimun.
Merawatnya pun mudah. Bila kemarau panjang, hanya perlu memastikan tanaman tidak kering. Selebihnya, hanya mengamati bila ada hama/penyakit. Hama pun bisa diusir dengan bumbu dapur. Cairan bawang putih ampuh untuk mengusir kutu. Sedangkan ulat daun, biasanya diambil manual. Sebagai tambahan, disemprot dengan cairan pupuk organik yang dibuat sendiri.
Bertanam sayur di pekarangan sebenarnya pernah dilakukan orang tuanya dulu ketika awal-awal di lahan transmigrasi. Kala itu, lahan sawit belum menghasilkan sehingga untuk makan hanya menunggu jatah pemerintah yang terbatas.
"Orang tua dulu kan masih orang baru. Orang Bali di perantauan. Minta penduduk setempat, sebatang singkong, lalu ditanam. Dari sanalah bisa makan daun singkong, bisa makan singkong juga," kata Khairil Anam, suami Neng.
Hal inilah yang dilakukan suami istri untuk menghijaukan pekarangan. Harapannya, hal yang dilakukan ini bisa dicontoh oleh tetangga-tetangganya. Sejauh ini, hasil panen pun sudah dirasakan oleh tetangganya. Jika panen, Neng membagikannya ke tetangga. Tak hanya itu, jika sudah semua kebagian, hasilnya pun dijual.
"Meski hasilnya tidak menentu. Saya bisa dapat uang Rp 30 ribu- Rp 70 ribu dari menjual sayuran," kata Neng. Hasil ini lumayan mengingat tidak perlu meninggalkan rumah.
Membuat Buah Raksasa
Selain menanam untuk kebutuhan sehari-hari, pekarangan di rumah Neng dijadikan lahan percobaan oleh suaminya untuk peningkatan produktivitas sayuran.
"Saya baca-baca tentang hormon tumbuhan. Kalau hormon tumbuhan yang organik, buatan sendiri seperti belum ada," kata Khairil.
Ia pun bertanya sana-sini, salah satunya ia mendaptkan tips bahwa buah yang paling besar mengandung giberelin yang tinggi. Giberelin ini hormon tumbuhan yang memicu pertumbuhan buah menjadi besar. Selain itu ada auksi dan sitokinin. Masing-masing memiliki fungsi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman khususnya sayuran.
"Saya coba yang giberelin. Saya coba ekstrak lalu aplikasikan ke ketimun," tambah Khairil.
Ia mencoba tak hanya sekali. Percobaan pertama gagal. Baru percobaan ke-4 membuahkan hasil. Ketimun yang diberi perlakuan giberelin mencapai 1kg/buah, sedangkan ketimun tanpa perlakuan tidak sampai setengah kilogram/buah. Sebuah hasil yang menggembirakannya.
"Dari beberapa penelitian ini, juga dengan membuat demplot menanam sayuran di rumah, saya berharap bisa meningkatkan pendapatan," kata Neng.
Ia dan suaminya kerap mengajak dan mengajari tetangganya untuk menanam hortikultura sebagai tanaman pekarangan atau tanaman selingan. Ia memiliki harapan besar bahwa kelak, Air Talas tak perlu lagi Bansos sebab masyarakatnya sudah mandiri, tidak perlu dibantu lagi.
PT. Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Limau Field terus mendukung inisiatif-inisiatif kreatif yang lahir dari warga. Agar tepat sasaran, maka perlu penelitian sebelumnya sehingga bantuan tidak mubazir.
"Kami melakukan studi sebelum memberi bantuan. Kelompok Tani Tunas Hijau ini termasuk yang aktif untuk kami dukung karena sudah ada insiatif," kata Gerry Diansyah, Community Development Officer.
Bantuan untuk bertanam hortikultura ini antara lain benih sayur dan polibag. Sedangkan untuk pupuk, menggunakan pupuk yang dihasilkan dari rumah produksi pupuk dan pestisida organik. Sebuah bangunan terbuka di samping rumah yang dibangun oleh Pertamina.
(mpr/ega)

