REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Otoritas Kesehatan Palestina melaporkan, serangan udara Israel menghantam sekolah yang diubah menjadi tempat penampungan di Gaza pada Sabtu (10/8/2024) dini hari. Salah satu serangan paling mematikan dalam perang 10 bulan antara Israel dan Hamas ini membuat lebih dari 80 orang syahid.
Dilansir Arabnews, Ahad (11/8/2023), Militer Israel mengakui telah menargetkan sekolah Al Tabiin di pusat Kota Gaza. Mereka mengeklaim telah menghantam pusat komando Hamas di sekolah tersebut. Sementara, Hamas membantahnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, serangan terbaru itu adalah bagian dari peningkatan serangan Israel terhadap sekolah-sekolah Gaza, yang telah diubah menjadi tempat penampungan bagi orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat perang.
Video dari tempat kejadian menunjukkan dinding-dinding hancur di lantai dasar sebuah bangunan besar. Potongan-potongan beton dan logam bengkok tergeletak di atas lantai yang berlumuran darah, bersama dengan pakaian, perabotan yang tumbang, dan puing-puing lainnya. Sebuah mobil yang menghitam dengan jendela yang pecah tertutup puing-puing.
Direktur rumah sakit Al-Ahli di Kota Gaza, Fadel Naeem mengatakan kepada The Associated Press bahwa fasilitas tersebut menerima 70 jenazah dari mereka yang syahid dalam serangan itu dan bagian tubuh dari sedikitnya 10 orang lainnya. Kementerian Kesehatan mengatakan 47 orang lainnya terluka.
Naeem mengatakan, beberapa dari mereka yang terluka mengalami luka bakar parah dan banyak yang harus diamputasi anggota tubuhnya. "Kami menerima beberapa luka paling serius yang kami temui selama perang," katanya.
Seorang saksi yang bekerja untuk menyelamatkan orang-orang, Abu Anas mengatakan, serangan itu terjadi tanpa peringatan pada dini hari sebelum matahari terbit ketika orang-orang sedang berdoa di sebuah masjid di dalam sekolah.
"Ada orang-orang yang sedang berdoa, ada orang-orang yang sedang mencuci dan ada orang-orang di lantai atas yang sedang tidur, termasuk anak-anak, wanita, dan orang tua," ujar Anas.
"Rudal itu jatuh pada mereka tanpa peringatan. Rudal pertama, dan yang kedua. Kami menemukan mereka sebagai bagian tubuh," katanya menambahkan.
Sementara, juru bicara tim tanggap darurat Pertahanan Sipil yang beroperasi di bawah pemerintahan lokal yang dijalankan Hamas, Mahmoud Bassal menjelaskan, tiga rudal menghancurkan bangunan dua lantai itu —lantai pertama ditempati masjid dan lantai kedua ditempati sekolah— tempat sekitar 6.000 orang terlantar berlindung dari perang.
"Banyak korban tewas yang tidak dapat dikenali, dan banyak korban adalah perempuan dan anak-anak," katanya.
PBB sebelumnya mengatakan bahwa hingga 6 Juli, 477 dari 564 sekolah di Gaza telah terkena serangan langsung atau rusak dalam perang tersebut. Dalam sebuah laporan pada Sabtu (10/8/2024), Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengatakan telah terjadi sedikitnya 21 serangan terhadap sekolah sejak 4 Juli, yang menewaskan ratusan orang termasuk perempuan dan anak-anak.
Banyak sekolah yang berfungsi sebagai tempat penampungan, kata laporan itu, seraya menambahkan bahwa Israel memiliki kewajiban berdasarkan hukum internasional untuk menyediakan tempat berlindung yang aman bagi para pengungsi. Tindakan pengecut Israel itu pun dikecam banyak pihak, termasuk Uni Eropa.
"Tidak ada pembenaran atas pembantaian ini," kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform media sosial X, mengacu pada serangan terhadap sekolah.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Penasihat politik senior untuk pemimpin Iran, Laksamana Muda Ali Shamkhani, mengunggah pesan di X pada Sabtu (10/8/2024), mengecam pengeboman sekolah Al Tabi'in di Gaza yang mengakibatkan seratusan warga Palestina meninggal dunia. Ia pun menegaskan, rencana Iran menyerang Israel masih tetap sesuai dengan rencana sebelumnya.
"Tujuan utama rezim Israel membunuh para jamaah di sekolah Al-Tabin di Gaza dan pembunuhan syuhada Ismail Haniyeh di Iran adalah penghasutan perang dan membuat pembicaraan gencatan senjata menuju kegagalan," ujar Shamkahani dikutip Iran Front Page.
Shamkani mengatakan, bahwa Iran telah melalui proses hukum, diplomatik, dan media untuk menempuh operasi militer pembalasan dan "persiapan untuk menghukum keras rezim (Israel), yang hanya mengerti bahasa kekerasan, telah dibuat."
Pada 31 Juli 2024, Israel membunuh Haniyeh di kediamannya di Teheran seusai mengikuti prosesi pelantikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Iran pun kemudian bersumpah untuk mengambil tindakan balasan, mengingatkan Israel bahwa serangan balasan kali ini akan lebih keras dari sebelumnya pada 14 April yang saat itu digelar lewat serangan drone dan misil yang hanya menargetkan lokasi strategis militer.
Menurut laporan Al Jazeera, serangan udara Israel tersebut terjadi di sebuah sekolah di kawasan Daraj, timur Kota Gaza, kira-kira pada waktu shalat Subuh. Serangan Israel tersebut juga melukai ratusan warga Palestina lainnya.
Israel mengakui melakukan serangan tersebut dengan alasan bahwa sekolah itu merupakan “markas militer” kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Kepresidenan Palestina mengatakan, bahwa Amerika Serikat turut bertanggung jawab atas serangan yang dilakukan Israel pada sebuah sekolah di Gaza yang menewaskan lebih dari 100 orang.
“Kami menganggap pemerintah AS bertanggung jawab atas pembantaian ini karena dukungan finansial, militer, dan politik mereka kepada Israel,” kata Kepresidenan Palestina dalam pernyataannya di platform X pada Sabtu.
Sebelumnya, pemerintah AS mengucurkan dana sebesar 3,5 miliar AS dolar (sekitar Rp55,8 triliun) kepada Israel untuk membeli senjata Amerika “Bantuan tersebut dikucurkan pada saat yang sama dengan serangan parah ini, yang membuktikan keterlibatan AS dalam genosida yang sedang berlangsung,” kata pernyataan tersebut.
“AS harus segera mengakhiri dukungan tanpa syaratnya kepada Israel, yang menyebabkan tewasnya ribuan orang tak bersalah, termasuk anak-anak, wanita dan lansia,” kata pernyataan itu.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan bahwa Indonesia juga mengutuk keras pembantaian warga Palestina yang dilakukan oleh Israel di sebuah sekolah di Gaza. “Indonesia mengutuk keras pembantaian lebih dari 100 warga Palestina di Sekolah Al-Tabi'in di Gaza oleh Israel pada 10 Agustus 2024,” kata Kementerian Luar Negeri RI di platform X yang dipantau di Jakarta, Sabtu.
Kementerian Luar Negeri RI juga menyatakan bahwa Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap kejadian tersebut. Selain itu, Indonesia juga menyerukan agar komunitas internasional bersatu untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan dan genosida yang dilakukan oleh Israel.
“Israel harus bertanggung jawab atas semua kejahatan tersebut. Segala bentuk impunitas harus dihentikan,” tegas Kementerian Luar Negeri RI dalam pernyataan tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Penasihat politik senior untuk pemimpin Iran, Laksamana Muda Ali Shamkhani, mengunggah pesan di X pada Sabtu (10/8/2024), mengecam pengeboman sekolah Al Tabi'in di Gaza yang mengakibatkan seratusan warga Palestina meninggal dunia. Ia pun menegaskan, rencana Iran menyerang Israel masih tetap sesuai dengan rencana sebelumnya.
"Tujuan utama rezim Israel membunuh para jamaah di sekolah Al-Tabin di Gaza dan pembunuhan syuhada Ismail Haniyeh di Iran adalah penghasutan perang dan membuat pembicaraan gencatan senjata menuju kegagalan," ujar Shamkahani dikutip Iran Front Page.
Shamkani mengatakan, bahwa Iran telah melalui proses hukum, diplomatik, dan media untuk menempuh operasi militer pembalasan dan "persiapan untuk menghukum keras rezim (Israel), yang hanya mengerti bahasa kekerasan, telah dibuat."
Pada 31 Juli 2024, Israel membunuh Haniyeh di kediamannya di Teheran seusai mengikuti prosesi pelantikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Iran pun kemudian bersumpah untuk mengambil tindakan balasan, mengingatkan Israel bahwa serangan balasan kali ini akan lebih keras dari sebelumnya pada 14 April yang saat itu digelar lewat serangan drone dan misil yang hanya menargetkan lokasi strategis militer.
Menurut laporan Al Jazeera, serangan udara Israel tersebut terjadi di sebuah sekolah di kawasan Daraj, timur Kota Gaza, kira-kira pada waktu shalat Subuh. Serangan Israel tersebut juga melukai ratusan warga Palestina lainnya.
Israel mengakui melakukan serangan tersebut dengan alasan bahwa sekolah itu merupakan “markas militer” kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Kepresidenan Palestina mengatakan, bahwa Amerika Serikat turut bertanggung jawab atas serangan yang dilakukan Israel pada sebuah sekolah di Gaza yang menewaskan lebih dari 100 orang.
“Kami menganggap pemerintah AS bertanggung jawab atas pembantaian ini karena dukungan finansial, militer, dan politik mereka kepada Israel,” kata Kepresidenan Palestina dalam pernyataannya di platform X pada Sabtu.
Sebelumnya, pemerintah AS mengucurkan dana sebesar 3,5 miliar AS dolar (sekitar Rp55,8 triliun) kepada Israel untuk membeli senjata Amerika “Bantuan tersebut dikucurkan pada saat yang sama dengan serangan parah ini, yang membuktikan keterlibatan AS dalam genosida yang sedang berlangsung,” kata pernyataan tersebut.
“AS harus segera mengakhiri dukungan tanpa syaratnya kepada Israel, yang menyebabkan tewasnya ribuan orang tak bersalah, termasuk anak-anak, wanita dan lansia,” kata pernyataan itu.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan bahwa Indonesia juga mengutuk keras pembantaian warga Palestina yang dilakukan oleh Israel di sebuah sekolah di Gaza. “Indonesia mengutuk keras pembantaian lebih dari 100 warga Palestina di Sekolah Al-Tabi'in di Gaza oleh Israel pada 10 Agustus 2024,” kata Kementerian Luar Negeri RI di platform X yang dipantau di Jakarta, Sabtu.
Kementerian Luar Negeri RI juga menyatakan bahwa Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap kejadian tersebut. Selain itu, Indonesia juga menyerukan agar komunitas internasional bersatu untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan dan genosida yang dilakukan oleh Israel.
“Israel harus bertanggung jawab atas semua kejahatan tersebut. Segala bentuk impunitas harus dihentikan,” tegas Kementerian Luar Negeri RI dalam pernyataan tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Perbuatan keji bangsa Yahudi menjadi tabiat. Karena itu, tak heran jika kaum Yahudi- Israel sekarang juga berbuat keji terhadap warga biasa. Bahkan, tak peduli dengan pembantaian ratusan orang yang tengah sholat di Masjid al Tabiin di Distrik Darja, Kota Gaza, Sabtu (10/9/2024), saat mereka tengah melakukan sholat subuh.
Apa yang dilakukan tentara Zionis Israel ini mengingatkan peringatan Alquran tentang kebengisan Yahudi. Dalam surat Al-Baqarah ayat 87, Allah SWT berfirman:
Artinya: "Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami menyusulkan setelahnya rasul-rasul. Kami juga telah menganugerahkan kepada Isa, putra Maryam, bukti-bukti kebenaran, serta Kami perkuat dia dengan Ruhulkudus (Jibril). Mengapa setiap kali rasul datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri? Lalu, sebagian(-nya) kamu dustakan dan sebagian (yang lain) kamu bunuh?"
Dalam ayat lain, Allah SWT juga menerangkan juga tentang kekejaman Yahudi yang suka membunuh para nabi.
"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas." (QS Al Baqarah ayat 61).
Menurut Mahdy Saled Rezk Karisem dalam Sejarah dan keutamaan Masjid Al Aqsha dan Al quds karya, penerbit Pustaka Al Kautsar, 2021, halaman 2-3,sifat-sifat buruk Yahudi itu terus muncul sepanjang massa hingga sekarang. Mulai dari kufur, syirik, maksiat, membunuh para nabi, menyimpangkan taurat, berbohong, berkata palsu, memakan harta riba, memakan harta haram, zina dan perbuatan-perbuatan munkar lainnya. “Semua itu terang dan gamblang dalam Alquran Al Karim," tulis dia.
Yahudi merupakan satu-satunya umat dalam sejarah yang membunuh para nabi. Dan itu merupakan kejahatan besar yang tidak pernah dilakukan kecuali orang-orang Yahudi. Pembunuhan yang mereka lakukan terus berlanjut kepada pembunuhan berbagai bangsa hingga hari ini.
Detail kebiadaban pengeboman Israel terhadap masjid di kompleks sekolah Al-Tabiin di Kota Gaza terungkap. Sedikitnya 250 orang sedang berada di ruang shalat untuk menunaikan shalat subuh saat tiga bom Israel menghujani bangunan tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, dalam serangan pagi hari yang brutal itu, lebih dari 100 warga sipil gugur dan puluhan lainnya terluka menyusul serangan udara Israel di Sekolah Al-Tabiin di lingkungan Daraj di Kota Gaza.
Sekolah yang menampung keluarga pengungsi itu dihantam bom dari pesawat tempur Israel.
Sumber lokal melaporkan bahwa serangan udara terjadi pada dini hari, menargetkan sekolah ketika penghuninya sedang berkumpul untuk sholat subuh. Ada sekitar 250 orang di dalam ruang shalat yang dibombardir Israel tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Otoritas Palestina (PA) mengutuk pembantaian yang dilakukan oleh penjajah Israel pada Sabtu (10/9/2024) dini hari di sebuah sekolah yang menampung para pengungsi di lingkungan Daraj di pusat Kota Gaza, dan menyerukan kepada Israel untuk menghentikan agresi yang telah berlangsung lebih dari 10 bulan terhadap Jalur Gaza. Dan saat pembantaian itu, sebagian besar dari mereka tengah melaksanakan sholat di masjid setempat.
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Detail kebiadaban pengeboman Israel terhadap masjid di kompleks sekolah Al-Tabi’in di Kota Gaza terungkap. Sedikitnya 250 orang sedang berada di ruang shalat untuk menunaikan shalat subuh saat tiga bom Israel menghujani bangunan tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, dalam serangan pagi hari yang brutal itu, lebih dari 100 warga sipil tewas dan puluhan lainnya terluka menyusul serangan udara Israel di Sekolah Al-Tabi'in di lingkungan Daraj di Kota Gaza. Sekolah yang menampung keluarga pengungsi itu dihantam bom dari pesawat tempur Israel.
Sumber lokal melaporkan bahwa serangan udara terjadi pada dini hari, menargetkan sekolah ketika penghuninya sedang berkumpul untuk shalat subuh. Ada sekitar 250 orang di dalam ruang shalat yang dibombardir Israel tersebut.
Juru bicara pertahanan sipil Gaza memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dampak berdarah setelah serangan Israel terhadap sekolah al-Tabi’in. “Area sekolah dipenuhi jenazah dan bagian-bagian tubuh,” kata juru bicara Mahmoud Basal kepada Aljazirah.
“Sangat sulit bagi paramedis untuk mengidentifikasi seluruh jenazah. Ada lengan di sini, ada kaki di sana. Tubuh terkoyak-koyak. “Tim medis tidak berdaya menghadapi kejadian mengerikan ini,” tambahnya.
Ismail al-Thawabta, kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, mengatakan bahwa tentara Israel menggunakan tiga bom berbobot masing-masing 907 kilogram dalam serangannya terhadap sekolah al-Tabi'in tersebut. Sementara jumlah korban diperkirakan akan meningkat karena Rumah Sakit al-Ahli masih berjuang untuk mengatasi cedera parah akibat serangan tersebut.
Al-Thawabta menambahkan, Israel mengetahui kehadiran pengungsi di dalam sekolah. Aljazirah melansir, laporan para saksi mata menunjukkan bahwa banyak syuhada dan terluka adalah warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia.
“Kami juga meminta IDF bersama dengan pemerintah AS bertanggung jawab penuh atas pembantaian ini. Pemerintahan AS tidak hanya terus menyoroti genosida Israel dan perang pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina, namun juga memberikan persenjataan kepada Israel,” ujar Al-Thawabta.
“Lebih dari 100.000 bom dan rudal diberikan AS kepada Israel sejak awal perang ini. Kami menyerukan kepada masyarakat dunia, yaitu Dewan Keamanan PBB untuk menekan Israel agar mengakhiri pertumpahan darah yang terus menerus terjadi di antara rakyat kami, yaitu perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah. “Bahkan masjid, rumah sakit, jurnalis pun tidak luput. IDF terus melakukan pembantaian setiap hari sementara seluruh dunia menyaksikannya dengan diam.”
Selain orang-orang yang syahid di dalam masjid sekolah selama serangan itu, yang lainnya, termasuk perempuan dan anak-anak, juga terbunuh di dalam ruang kelas terdekat, terkena pecahan peluru yang beterbangan dari bom.
Aljazirah melansir, banyak korban yang dibawa ke rumah sakit mengalami pendarahan parah akibat pecahan peluru atau luka bakar parah akibat kebakaran yang terjadi akibat pemboman tersebut. Staf di rumah sakit hanya mempunyai sedikit sumber daya sehingga mereka terpaksa menggunakan bahan daur ulang untuk merawat korban luka – bahan yang dalam konteks lain akan dibuang begitu saja. Banyak jenazah yang dibawa masuk sulit dikenali, sehingga kerabat di rumah sakit yang mencari orang yang mereka cintai kesulitan menemukan cara untuk mengidentifikasi mereka, tambahnya.
Jihad Islam Palestina mengutuk pembunuhan massal yang dilakukan Israel di sekolah Kota Gaza “Penargetan musuh kriminal terhadap jamaah di ruang shalat Sekolah al-Tabi'in di lingkungan al-Daraj di Gaza adalah kejahatan perang total,” tulis Jihad Islam Palestina dalam sebuah pernyataan.
“Alasan tentara musuh untuk menghancurkan sekolah sama dengan alasan yang digunakan tentara musuh untuk menghancurkan rumah sakit sebelumnya, dan alasan tersebut terbukti salah,” lanjutnya. “Kegagalan lembaga dan pengadilan internasional untuk menyatakan para pemimpin entitas tersebut sebagai penjahat perang telah berkontribusi pada kegigihan mereka.”
Kelompok Hamas juga mengecam pembantaian itu. “Pembantaian yang dilakukan di Jalur Gaza oleh tangan Neo-Nazi di pusat Kota Gaza merupakan kejahatan yang mengerikan dan mewakili peningkatan besar dalam serangkaian kejahatan dan pembantaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perang”, bunyi pernyataan itu.
Menanggapi klaim Israel bahwa sekolah tersebut digunakan sebagai pusat komando Hamas, kelompok tersebut mengatakan bahwa pembenaran tersebut keliru dan “dalih untuk menargetkan warga sipil, sekolah, rumah sakit, dan tenda pengungsi, yang semuanya merupakan dalih palsu dan mengungkap kebohongan Israel.”
“Kami menyerukan kepada negara-negara Arab dan Islam serta komunitas internasional untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan mengambil tindakan segera untuk menghentikan pembantaian ini dan menghentikan meningkatnya agresi Zionis terhadap rakyat kami dan warga negara yang tidak berdaya,” bunyi pernyataan itu.
Gerakan Pembebasan Nasional Palestina, Fatah juga mengutuk serangan 'keji' terhadap sekolah di Kota Gaza. Organisasi itu menyebutnya sebagai “pembantaian berdarah yang keji” dan menyatakan bahwa hal tersebut merupakan “puncak terorisme dan kriminalitas Israel”.
“Melakukan pembantaian ini menegaskan tanpa diragukan lagi upaya mereka untuk memusnahkan rakyat kami melalui kebijakan pembunuhan kumulatif dan pembantaian massal yang membuat hati nurani mereka gemetar,” katanya dalam sebuah pernyataan. Fatah meminta komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia untuk “segera melakukan intervensi dan menghentikan perang pemusnahan sistematis terhadap rakyat kami”.
Sementara, militer Israel telah mengeluarkan pernyataan lain yang membela serangannya terhadap sekolah al-Tabi’in di Kota Gaza. Mereka mengklaim tanpa bukti bahwa sekolah tersebut berfungsi sebagai “kompleks aktif” Hamas dan Jihad Islam Palestina. Pasukan penjajah Israel mengatakan mereka memiliki informasi intelijen yang menunjukkan ada 20 pejuang Hamas dan Jihad Islam, termasuk komandan senior, yang beroperasi dari sekolah tersebut.
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Detail kebiadaban pengeboman Israel terhadap masjid di kompleks sekolah Al-Tabi’in di Kota Gaza terungkap. Sedikitnya 250 orang sedang berada di ruang shalat untuk menunaikan shalat subuh saat tiga bom Israel menghujani bangunan tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, dalam serangan pagi hari yang brutal itu, lebih dari 100 warga sipil tewas dan puluhan lainnya terluka menyusul serangan udara Israel di Sekolah Al-Tabi'in di lingkungan Daraj di Kota Gaza. Sekolah yang menampung keluarga pengungsi itu dihantam bom dari pesawat tempur Israel.
Sumber lokal melaporkan bahwa serangan udara terjadi pada dini hari, menargetkan sekolah ketika penghuninya sedang berkumpul untuk shalat subuh. Ada sekitar 250 orang di dalam ruang shalat yang dibombardir Israel tersebut.
Juru bicara pertahanan sipil Gaza memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dampak berdarah setelah serangan Israel terhadap sekolah al-Tabi’in. “Area sekolah dipenuhi jenazah dan bagian-bagian tubuh,” kata juru bicara Mahmoud Basal kepada Aljazirah.
“Sangat sulit bagi paramedis untuk mengidentifikasi seluruh jenazah. Ada lengan di sini, ada kaki di sana. Tubuh terkoyak-koyak. “Tim medis tidak berdaya menghadapi kejadian mengerikan ini,” tambahnya.
Ismail al-Thawabta, kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, mengatakan bahwa tentara Israel menggunakan tiga bom berbobot masing-masing 907 kilogram dalam serangannya terhadap sekolah al-Tabi'in tersebut. Sementara jumlah korban diperkirakan akan meningkat karena Rumah Sakit al-Ahli masih berjuang untuk mengatasi cedera parah akibat serangan tersebut.
Al-Thawabta menambahkan, Israel mengetahui kehadiran pengungsi di dalam sekolah. Aljazirah melansir, laporan para saksi mata menunjukkan bahwa banyak syuhada dan terluka adalah warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia.
“Kami juga meminta IDF bersama dengan pemerintah AS bertanggung jawab penuh atas pembantaian ini. Pemerintahan AS tidak hanya terus menyoroti genosida Israel dan perang pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina, namun juga memberikan persenjataan kepada Israel,” ujar Al-Thawabta.
“Lebih dari 100.000 bom dan rudal diberikan AS kepada Israel sejak awal perang ini. Kami menyerukan kepada masyarakat dunia, yaitu Dewan Keamanan PBB untuk menekan Israel agar mengakhiri pertumpahan darah yang terus menerus terjadi di antara rakyat kami, yaitu perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah. “Bahkan masjid, rumah sakit, jurnalis pun tidak luput. IDF terus melakukan pembantaian setiap hari sementara seluruh dunia menyaksikannya dengan diam.”
Selain orang-orang yang syahid di dalam masjid sekolah selama serangan itu, yang lainnya, termasuk perempuan dan anak-anak, juga terbunuh di dalam ruang kelas terdekat, terkena pecahan peluru yang beterbangan dari bom.
Aljazirah melansir, banyak korban yang dibawa ke rumah sakit mengalami pendarahan parah akibat pecahan peluru atau luka bakar parah akibat kebakaran yang terjadi akibat pemboman tersebut. Staf di rumah sakit hanya mempunyai sedikit sumber daya sehingga mereka terpaksa menggunakan bahan daur ulang untuk merawat korban luka – bahan yang dalam konteks lain akan dibuang begitu saja. Banyak jenazah yang dibawa masuk sulit dikenali, sehingga kerabat di rumah sakit yang mencari orang yang mereka cintai kesulitan menemukan cara untuk mengidentifikasi mereka, tambahnya.
Jihad Islam Palestina mengutuk pembunuhan massal yang dilakukan Israel di sekolah Kota Gaza “Penargetan musuh kriminal terhadap jamaah di ruang shalat Sekolah al-Tabi'in di lingkungan al-Daraj di Gaza adalah kejahatan perang total,” tulis Jihad Islam Palestina dalam sebuah pernyataan.
“Alasan tentara musuh untuk menghancurkan sekolah sama dengan alasan yang digunakan tentara musuh untuk menghancurkan rumah sakit sebelumnya, dan alasan tersebut terbukti salah,” lanjutnya. “Kegagalan lembaga dan pengadilan internasional untuk menyatakan para pemimpin entitas tersebut sebagai penjahat perang telah berkontribusi pada kegigihan mereka.”
Kelompok Hamas juga mengecam pembantaian itu. “Pembantaian yang dilakukan di Jalur Gaza oleh tangan Neo-Nazi di pusat Kota Gaza merupakan kejahatan yang mengerikan dan mewakili peningkatan besar dalam serangkaian kejahatan dan pembantaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perang”, bunyi pernyataan itu.
Menanggapi klaim Israel bahwa sekolah tersebut digunakan sebagai pusat komando Hamas, kelompok tersebut mengatakan bahwa pembenaran tersebut keliru dan “dalih untuk menargetkan warga sipil, sekolah, rumah sakit, dan tenda pengungsi, yang semuanya merupakan dalih palsu dan mengungkap kebohongan Israel.”
“Kami menyerukan kepada negara-negara Arab dan Islam serta komunitas internasional untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan mengambil tindakan segera untuk menghentikan pembantaian ini dan menghentikan meningkatnya agresi Zionis terhadap rakyat kami dan warga negara yang tidak berdaya,” bunyi pernyataan itu.
Gerakan Pembebasan Nasional Palestina, Fatah juga mengutuk serangan 'keji' terhadap sekolah di Kota Gaza. Organisasi itu menyebutnya sebagai “pembantaian berdarah yang keji” dan menyatakan bahwa hal tersebut merupakan “puncak terorisme dan kriminalitas Israel”.
“Melakukan pembantaian ini menegaskan tanpa diragukan lagi upaya mereka untuk memusnahkan rakyat kami melalui kebijakan pembunuhan kumulatif dan pembantaian massal yang membuat hati nurani mereka gemetar,” katanya dalam sebuah pernyataan. Fatah meminta komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia untuk “segera melakukan intervensi dan menghentikan perang pemusnahan sistematis terhadap rakyat kami”.
Sementara, militer Israel telah mengeluarkan pernyataan lain yang membela serangannya terhadap sekolah al-Tabi’in di Kota Gaza. Mereka mengklaim tanpa bukti bahwa sekolah tersebut berfungsi sebagai “kompleks aktif” Hamas dan Jihad Islam Palestina. Pasukan penjajah Israel mengatakan mereka memiliki informasi intelijen yang menunjukkan ada 20 pejuang Hamas dan Jihad Islam, termasuk komandan senior, yang beroperasi dari sekolah tersebut.