#30 tag 24jam
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Perbankan Melambat, Ini Pemicunya
Pertumbuhan simpanan masyarakat di perbankan tercatat kian melambat pada pertengahan Kuartal III-2024. [742] url asal
#bank-indonesia #bank-tabungan-negara #bunga-simpanan #daya-beli #simpanan-bank-umum #bunga-simpanan-bank-jago #dana-pihak-ketiga #pertumbuhan-simpanan #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijaka
(Kontan-Keuangan) 25/09/24 19:47
v/15547163/
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pertumbuhan simpanan masyarakat di perbankan tercatat kian melambat pada pertengahan Kuartal III-2024. Data Bank Indonesia (BI) mencatat dana pihak ketiga (DPK) di bank hanya tumbuh 6,2% secara tahunan (year on year/yoy) per Agustus 2024 dengan total nilai Rp 8.364,7 triliun.
Jika dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya, DPK bank masih tumbuh di angka 7,7% yoy per Juli 2024 dengan nilai Rp 8.405,6 trliun.
Perlambatan ini sudah terjadi sejak bulan Mei 2024, dimana DPK tumbuh 8,5% yoy. Namun angka pertumbuhannya makin mengecil selama empat bulan berturut-turut, dan bergerak mendekati angka pertumbuhan per Januari 2024 yang hanya tumbuh 5,8% yoy.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) misalnya, yang membenarkan adanya perlambatan pertumbuhan DPK yang disebabkan oleh simpanan kelas menengah ke bawah yang menurun.
BTN mencatat DPK sebesar Rp 373,87 triliun per Agustus 2024, jumlah ini meningkat 16,48% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 320,95 triliun. Namun sedikit terkoreksi tipis sebesar 0,21% dari bulan Juli lalu yang sebesar Rp 374,67 triliun
"Iya, daya beli memang menurun dan itu berdampak pak semua sektor termasuk di BTN, yang mayoritas penabungnya segmen menengah bawah," ungkap Direktur Distribution & Funding BTN, Jasmin kepada Kontan, Rabu (25/9).
Namun demikian, Jasmin mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik pada triwulan II lalu, yakni tumbuh sekitar 5% yang artinya lebih baik dibandingkan negara lainnya.
Ke depan, Jasmin bilang pihaknya akan fokus untuk meningkatkan transaksi retail yang berasal dari transaksi Wholesale banking seperti cash management, virtual account, trade service.
"Kami juga akan fokus pada peningkatan transaksi mesin EDC, MB QRIS, Internet Banking untuk mendorong sumber dana tabungan," ungkap Jasmin.
Senada, Senior Vice President Retail Deposit Products and Solution Bank Mandiri, Evi Dempowati membenarkan adanya koreksi simpanan nasabah. Namun dia bilang, terkoreksinya DPK masih dalam porsi yang wajar.
"Menurut hemat kami, terkoreksinya DPK masih dalam porsi yang wajar mengingat penurunan dana berasal dari nasabah korporasi yang memanfaatkan simpanannya untuk kebutuhan perputaran bisnis, yang mana hal ini tentunya berdampak positif pada perkembangan perekonomian di Indonesia," ungkap Evi kepada Kontan, Rabu (25/9).
Evi merinci, total DPK Juli 2024 ini bila dibandingkan dengan posisi Juni 2024 sedikit terkoreksi sekitar 1,3%, sementara untuk dana murah (CASA) terkoreksi sekitar 0,6%. Namun sampai Juli 2024, DPK Bank Mandiri masih terjaga pertumbuhannya sekitar Rp 148 triliun atau tumbuh 11,4% yoy bila dibandingkan posisi Juli 2023. Begitu pula dengan DPK yang bersumber dari dana murah (CASA), pada periode yang tercatat sebesar Rp 141 triliun atau tumbuh 13,6% YoY.
Ke depan Bank Mandiri akan tetap berfokus pada strategi mengoptimalkan dana murah serta fokus pada pemanfaatan dan peningkatan layanan digital multi transaksi yang menawarkan kemudahan dan fleksibilitas transaksional seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri.
"Kami optimis pertumbuhan DPK Bank Mandiri Hingga akhir tahun 2024 akan tetap tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan pasar," ungkap Evi.
Melihat tren perlambatan simpanan di perbankan, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, adanya fenoma makan tabungan dari masyarakat kelas menengah mengingat kelompok masyarakat tersebut cenderung menggunakan sebagian dari jumlah tabungan mereka untuk menutupi kebutuhan sehari-hari karena peningkatan biaya hidup atau stagnasi pendapatan.
"Fenomena ini sering terjadi ketika inflasi meningkat atau daya beli masyarakat melemah.
Kedua, pendapatan masyarakat diperkirakan juga mengalami penurunan karena perlambatan ekonomi atau kondisi yang memburuk di sektor-sektor tertentu, hal ini dapat memengaruhi kemampuan masyarakat untuk menabung," ungkap Josua kepada Kontan, Rabu (29/9)
Ketiga, Josua menyebut terdapat tren peralihan dari simpanan bank ke instrumen keuangan lain seperti surat berharga negara (SBN) atau investasi non-bank lainnya, yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan simpanan bank tradisional.
Di sisi lain, perlambatan ini masih akan terus berlanjut jika ke depannya dipengaruhi inflasi yang cenderung meningkat, maka masyarakat akan lebih cenderung menggunakan dana simpanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan hal ini akan terus menekan simpanan di bank.
"Selanjutnya, sejalan dengan potensi ruang pemangkasan suku bunga acuan BI kedepannya, maka berpotensi membuat simpanan di bank menjadi kurang menarik karena imbal hasilnya lebih rendah, sehingga masyarakat mungkin akan mencari alternatif investasi lain yang lebih menguntungkan," ungkap Josua.
Namun demikian, penurunan suku bunga BI rate diperkirakan akan mendorong aliran modal ke pasar keuangan domestik sehingga berpotensi mendorong peningkatan likuiditas, dan investasi swasta atau pemerintah pun juga diperkirakan akan meningkat sehingga pada akhirnya akan berdampak juga pada peningkatan aktivitas ekonomi Indonesia sedemikian sehingga berpotensi menjaga pertumbuhan laju tabungan masyarakat.
Masyarakat Lebih Tertarik Berinvestasi dan Mengurangi Simpanan di Bank, Ada Apa?
Masyarakat terlihat lebih berminat untuk berinvestasi salah satunya di SBN, ketimbang menyimpan dananya di bank. [723] url asal
#tabungan #sbn #simpanan-bank-umum #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Keuangan) 29/07/24 20:07
v/12557430/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Masyarakat terlihat lebih berminat untuk berinvestasi salah satunya di Surat Berharga Negara (SBN), ketimbang menyimpan dananya di bank. Terlihat, kepemilikan individu di SBN yang naik sepanjang tahun ini.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, jumlah investor SBN per akhir Juni 2024 telah mencapai 1.106.485 investor, baik individu maupun institusi. Dari jumlah tersebut, sebesar 97,97% merupakan investor individu.
Adapun berdasarkan data Kementerian Keuangan, kepemilikan individu di SBN sampai dengan 26 Juli 2024 telah mencapai Rp 504,55 triliun. Meningkat dari akhir tahun 2023 lalu yang mencapai Rp 435,05 triliun dan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 380,59 triliun.
Di sisi lain, distribusi rekening simpanan nasabah menengah ke atas atau dengan tiering Rp 100 juta - Rp 200 juta hanya mencapai 0,5% dari total simpanan. Adapun simpanan dengan tiering Rp 200 juta - Rp 500 juta hanya mencapai 0,4% dari total simpanan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, perebutan antara simpanan di perbankan dengan investasi di SBN ini salah satu faktornya karena disebabkan oleh tingginya imbal hasil dari SBN yang bahkan mencapai 6%-7%. Sementara dari suku bunga deposito hanya 2%-4%.
"Jadi spread atau selisihnya semakin menjauh, dan banyak kelas menengah atas, terutama orang-orang paling kaya memarkir dananya di SBN, terutama juga untuk mengkompensasi dari inflasi bahan makanan yang saat ini berkisar 7% secara tahunan. Jadi mereka juga tidak hanya membandingkan inflasi umum, tapi juga membandingkan inflasi bahan makanan yang memang cukup tinggi," jelas Bhima kepada Kontan.co.id, Senin (29/7).
Sehingga kata Bhima, kalau disimpan di deposito berjangka misalnya atau tabungan dengan bunga yang relatif kecil, nilai uang mereka akan tergerus oleh inflasi. Selain itu mereka mengantisipasi berbagai hal, salah satunya Pemilu yang terjadi kemarin yang itu juga berpengaruh.
"Mereka lebih berhati hati, berjaga-jaga untuk masuk ke safe haven atau bergeser ke surat utang pemerintah. Dan di sisi yang lain memang pemerintah cukup agresif ya dalam hal pemasaran penerbitan surat utang berdenominasi rupiah atau dipasarkan di domestik," tambahnya.
Selain itu, menurut Bhima ada juga faktor dari perbankan-perbankan yang memungkinkan untuk melakukan pembelian surat utang pemerintah. Jadi itu salah satu pemicu kenapa ada pergeseran dari tabungan ke pembelian SBN ORI.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy juga menilai, karena banyak yang sudah memahami SBN lebih menarik dari sisi bunganya dan pajak penghasilannya yang lebih rendah dari deposito yang membuat masyarakat lebih tertarik berinvestasi di SBN daripada menaruh dana di bank.
"Ini berarti inklusi keuangan dan produk pasar modal telah meningkat. Karena bunga tabungan kan cuma nol koma persen setahun dan kena PPh 20%, adapun deposito sekitar 4%-5% dengan tarif PPh yang sama. Sementara SBN apalagi SRBI bisa 7,25% dengan PPh 10%," ungkapnya.
Sementara itu, Budi Raharjo, Perencana Keuangan Oneshildt mengatakan, masyarakat Indonesia dapat dikatakan saat ini lebih mengelola keuangannya dengan lebih hati-hati setelah menghadapi pengalaman masa-masa krisis sebelumnya ditambah dengan kondisi ketidakpastian ekonomi global akhirnya menjadikan investasi di instrumen yang lebih konservatif memang dinilai lebih menarik.
"Bagi kelas menengah bawah setelah terpukul akibat pandemi mereka sedang membenahi keuangannya dengan meningkatkan jumlah tabungannya serta melakukan prioritas belanjanya sesuai kebutuhan. Sedangkan bagi tier atas, maka dana likuiditas yang ditempatkan di bank dirasa sudah cukup memadai dan mulai menambah porsi investasi yang aman serta dijamin oleh negara seperti SBN," katanya.
Apalagi kata Budi bagi mereka yang memiliki dana yang sudah mencapai di atas besaran nilai simpanan yang dijamin, maka langkah diversifikasi dan mengamankan dana ke instrumen lain ini menjadi penting bagi kelas masyarakat atas.
"Saya melihatnya bukan berarti masyarakat tidak tertarik dengan menempatkan dananya di bank kemudian mengalokasikan dana ke instrumen lainnya, namun lebih kepada langkah-langkah diversifikasi saja dan tentunya karena edukasi pemerintah mengenai instrumen SBN serta arahan dari pihak bank sendiri yang juga menjadi mitra distribusi surat berharga SBN," ujarnya.
Budi melihat, tren ke depan, dengan semakin meningkatnya literasi masyarakat maka diversifikasi dan alokasi aset ini akan menjadi standar pengelolaan keuangan masyarakat. Menurutnya, sebagian dana akan ditempatkan pada rekening tabungan yang cukup likuid untuk transaksi sehari-hari.
Selain itu, sebagian pada penempatan deposito untuk berjaga-jaga atau kebutuhan jangka pendek, dan sebagian pada instrumen lainnya sesuai dengan tujuan investasi, jangka waktu investasi serta profil dalam berinvestasi.