#30 tag 24jam
"Enteng Banget", Kemewahan Brompton T Line, Sepeda Berbahan Titanium
Enteng banget. Kemewahan inilah yang pertama kali terasa ketika menjajal T Line, kreasi paling anyar Brompton dengan bahan rangka titanium. [982] url asal
#brompton #t-line #sepeda-lipat-brompton #brompton-t-line #t-line-brompton #brompton-titanium
(Kompas.com) 18/09/24 10:24
v/15173099/
KOMPAS.com - "Wah, enteng banget ya." Komentar itu yang keluar dari mulut Indry, saat pertama kali menuntun sepeda BromptonT Line Explore keluar dari rumahnya pada suatu pagi di awal bulan September.
Perempuan 50 tahun ini adalah pecinta sepeda, yang sehari-hari beraktivitas dengan kendaraan itu. Brompton adalah salah satu jenis sepeda yang biasa dia pakai untuk ke kantor.
Dari rumahnya di kawasan Cinere, Depok, Indry harus menempuh jarak hampir 20 kilometer menuju kantornya di Palmerah, Jakarta Pusat. Artinya, dalam sehari dia menyelesaikan perjalanan sepanjang 40 kilometer.
Hari itu, Indry mendapat kesempatan untuk menjajal T-Line Explore. sepeda terbaru keluaran pabrikan asal Inggris, yang rangkanya terbuat dari bahan titanium.
Explore adalah varian tertinggi dari varian T-Line, yang dibekali dengan 12 percepatan. Bobotnya 8,8 kilogram.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN T Line, varian terbaru pabrikan sepeda lipat asal Inggris Brompton yang menggunakan bahan rangka titanium dengan berat berkisar 7-8,8 kilogram.Selain Explore, ada varian Urban yang menggunakan empat percepatan eksternal, yang bobotnya 7,9 kilogram, dan T-Line One, satu percepatan, dengan bobot 7,45 kilogram.
Perbedaan bobot pada ketiga varian tersebut terjadi karena penggunaan sproket dan internal hub. Explore menjadi lebih berat karena menggunakan empat sproket eksternal, serta internal hub tiga percepatan.
Sementara, Urban hanya menggunakan empat sproket. Apalagi One, yang hanya menggunakan single sproket. Part inilah yang membuat perbedaan dari segi bobot.
Bagi Indry yang terbiasa menggunakan sepeda Brompton "besi" enam speed yang beratnya sekitar 12 kilogram, memakai T-Line menjadi kemewahan tersendiri.
"Selisihnya gak terlalu jauh ya, tapi bedanya kerasa banget," ungkap Indry.
Terutama, kata Indry, saat harus melipat sepeda dan mengangkatnya ke ruang kerja di kantor. "Ngangkat-nya jadi gampang dan enteng banget sih," sebut dia.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN T Line, varian terbaru pabrikan sepeda lipat asal Inggris Brompton yang menggunakan bahan rangka titanium.Lalu, kebutuhan berpindah jalur dengan mengangkat sepeda saat macet di jalan, kata Indry, terasa lebih mudah.
Sementara, soal impresi berkendara, pilihan 12 speed pada varian Explore memungkinkan perpindahan percepatan terasa lebih halus dan gradual.
Selain itu, kata dia, 12 percepatan memberi kemudahan untuk jalan menanjak dan berakselerasi.
"Bromptonku jadi terasa lebih terbatas perpindahannya, dan seperti 'patah' antara gir satu dan lainnya. Kalau ini smoothya," ujar Indry.
Naik turun MRT
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN T Line, varian terbaru pabrikan sepeda lipat asal Inggris Brompton yang menggunakan bahan rangka titanium.Andrew Ritchie -sang pencipta sepeda tiga lipatan Brompton, sejak awal mengagas idenya di tahun 1975 untuk bisa menggunakan sepeda dan berpindah tempat dengan cara yang lebih nyaman.
Hasilnya, hingga kini Brompton menjadi sepeda lipat yang memungkinkan penggunanya mengayuh, melipat, mendorong, dan mengangkat sepeda dengan sangat ringkas dan praktis.
Namun -harus diakui, sepeda berbahan besi ini ternyata menjadi beban tersendiri jika harus dijinjing dalam waktu lebih lama saat bepergian.
Alhasil, setelah melewati masa riset selama tiga tahun, di sekitar akhir tahun 2021, Brompton memperkenalkan varian T Line yang menggunakan material titanium. Varian ini dibuat di pabrik khusus mereka di Sheffield.
Idenya tak lain adalah untuk menciptakan sepeda lipat yang tak hanya ringkas, tapi pun lebih nyaman untuk dibawa, berkat bobot yang ringan.
Dalam kesempatan lain, Kompas.com pun secara khusus mencoba T Line untuk dipakai sebagai sepeda komuter dan memadukannya dengan MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta.
Gowes sejauh 5-6 kilometer menuju stasiun MRT Fatmawati, lalu turun di stasiun MRT Senayan, dan kembali mengayuh sejauh tiga kilometer ke kantor di Palmerah.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN T Line, varian terbaru pabrikan sepeda lipat asal Inggris Brompton yang menggunakan bahan rangka titanium.Jika sepeda Brompton "biasa" lebih nyaman didorong saat bergerak di stasiun MRT, dengan T Line, kita dimungkinkan menggunakan tali matras yoga untuk menjadikannya seperti sling bag.
Pergerakan di dalam stasiun menjadi terasa jauh lebih mudah, karena seperti membawa tas saja, Bahkan, kita tak membutuhkan lift untuk berpindah lantai. Ya, berat delapan kilogram ternyata masih amat nyaman untuk disandang di bahu.
Bagi mereka yang terbiasa menggunakan Brompton "besi" untuk beraktivitas komuter, selisih lebih ringan sekitar lima kilogram pada T Line tak lain adalah sebuah "kemewahan".
Tentu, kemewahan di sini bukan soal harga, tapi ya ringannya beban saat mengangkatnya.
Pengguna bisa dengan mudah melipat dan lalu mengangkatnya tanpa beban berlebih.
Sepertinya, cita-cita Andrew Ritchie untuk membuat sepeda yang ringkas dibawa bepergian kian terwujud lewat T Line.
Lantas, bagaimana dengan impresi berkendara dengan sepeda ini? Tentu saja, kita harus membandingkannya dengan sepeda lipat sejenis ya.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN T Line, varian terbaru pabrikan sepeda lipat asal Inggris Brompton yang menggunakan bahan rangka titanium.Segala fungsi yang ada dalam sepeda Brompton konvensional ada pada T Line. Geometri dan impresinya pun serupa.
Material titanium pada rangka utama, yang dipadukan dengan seatpost, handlebar, dan fork berbahan karbon, membuat sepeda ini terasa tetap kokoh di berbagai permukaan jalan.
"Kayaknya, kesan klasiknya aja yang agak hilang ya. Ini kelihatan lebih futuristik kesannya," ujar Pemimpin Redaksi Kompas.com, Wisnu Nugroho yang juga pengguna Brompton.
Kesan modern memang bisa terlihat lewat bentuk fork pipih, serta sambungan di tiap lipatan yang menggunakan model baru, termasuk pengikat pada stem dan handlepost.
Terlepas dari itu, -seperti yang sudah disinggung di atas, T Line memertahankan rasa berkendara khas Brompton, yang begitu mudah dikenali oleh para pecintanya. Plus, kali ini dengan "kemewahan" bobot yang ultra ringan. Nyaman.
MRT Jakarta Fase 3 Makin Hidupkan Kawasan Gading Serpong
Adapun MRT Jakarta Fase 3 akan menghubungkan Balaraja di Banten, DKI Jakarta, hingga Cikarang di Jawa Barat. Halaman all [601] url asal
#gading-serpong #mrt-jakarta-east-west-line #mrt-jakarta-fase-3
(Kompas.com) 07/08/24 09:00
v/13626189/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembangan MRT Jakarta Fase 3 atau East-West Line diperkirakan mampu semakin menghidupkan kawasan Gading Serpong.
Hal ini disampaikan oleh Pengamat Tatakota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga dalam acara diskusi Tantangan dan Peluang Pengembangan Kawasan Terintegrasi City within a City, yang diselenggrakan Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera) di Hotel Atria, Gading Serpong, Selasa (6/8/2024).
Adapun MRT Jakarta Fase 3 akan menghubungkan Balaraja di Banten, DKI Jakarta, hingga Cikarang di Jawa Barat.
"Selain itu, kedua koridor akan terhubung dengan MRT Jakarta East-West Line, sehingga pangsa pasar di Tangerang Kota, Tangerang Selatan, dan Tangerang Kabupaten (3T) ke depan adalah kelas menengah atas," kata Nirwono.
Menurut Nirwono, Gading Serpong berada di titik sentral kawasan potensial yang menjadi magnet baru di barat Jakarta atau 3T.
Hal itu nantinya juga akan ditunjang oleh keberadaan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 3 (JORR 3) yang akan menyambungkan koridor barat dan koridor timur, termasuk melewati Gading Serpong.
Ini akan meningkatkan akses antara koridor barat dan koridor timur hingga Sukabumi dan Purwakarta.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Paramount Land M Nawawi selaku pengembang kawasan Gading Serpong memperkenalkan proyek megadistrik terbarunya yakni Pasadena Central District dengan total luas kawasan 40 hektar.
Tak hanya residensial, Pasadena Central District juga akan menyediakan kawasan komersial yang mendukung tujuan pengembangan megadistrik baru di barat Jakarta.
Ada sekitar 121 unit rumah yang disiapkan untuk Pasadena Central District dengan sekitar 31 unit rumah yang diluncurkan pada klaster pertama.
"Mixed use yang kami maksud ada hunian mulai dari harga Rp 2,5 miliar-Rp 13 miliar," tuturnya.
Lokasinya berada di Jalan Bulevar Gading Serpong ke kawasan sisi utara BSD City di Jalan BSD Bulevar Utara-Jalan Raya Pagedangan, tidak jauh dari Gerbang Tol (GT) BSD Barat di Tol Serang-Balaraja yang tersambung dengan Tol Ulujami-Serpong.
Paramount juga sedang membangun jalan baru sepanjang kurang lebih 1,2 kilometer selebar 45 meter yang bisa tembus ke BSD City.
Peluncuran proyek baru tersebut merupakan upaya pihaknya untuk terus melanjutkan pengembangan Gading Serpong sebagai hub dan episentrum kehidupan di Koridor Barat Jakarta.
Hal itu dengan sendirinya akan menempatkan kawasan baru di Gading Serpong itu sebagai kawasan prospektif untuk memperoleh capital gain dan rental return yang tinggi.
MRT Jakart Fase 3 Bikin Properti Naik Kelas
Pengembangan MRT Jakarta Fase 3 bisa bikin properti di sepanjang Balaraja hingga Cikarang naik kelas.
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.
Pengembangan MRT Jakarta Fase 3 merupakan booster bagi lokasi properti kelas 3 untuk upgrade menjadi kelas 1 karena aksesibilitas menuju pusat kota menjadi lebih pasti.
"MRT Jakarta Fase 3 membuat area yang tadinya sulit dijangkau menjadi kawasan primer yang menjanjikan," ujar Bambang, dikutip Selasa (6/8/2024).
Perpanjangan jalur MRT Jakarta ini sejalan dengan kebutuhan kawasan hunian yang perlu dikembangkan lebih masif, termasuk masalah ketersediaan lahannya.
"Jalur utara tentu dibatasi laut, selatan lebih cocok untuk konservasi ketersediaan air tanah. Karena itu, jalur barat ke timur yang paling cocok untuk pengembangan ke depan," imbuh Bambang.
T Line, Brompton Rangka Titanium Masuk Indonesia, Berapa Harganya?
Masih ingat dengan kreasi Brompton dengan rangka full titanium di awal 2022 lalu. Ya, setelah jeda lebih dari dua tahun, produk ini masuk Indonesia. [582] url asal
#sepeda-lipat #brompton #sepeda-lipat-brompton #brompton-t-line #t-line-brompton #sepeda-titanium #sepeda-lipat-titanium
(Kompas.com) 23/07/24 18:56
v/11822007/
KOMPAS.com - Di awal tahun 2022 silam, publik pecinta sepeda lipatBrompton di Indonesia sempat dihebohkan dengan munculnya kreasi anyar Brompton berbahan full titanium.
Inovasi ini dihadirkan Brompton setelah melewati riset selama tiga tahun hingga lahirlah tipe T Line -demikian nama varian ini.
Selanjutnya, publik di Tanah Air pun hanya bisa menyaksikan keberadaan T Line lewat konten review di media sosial. Pasalnya, produk ini tak langsung masuk ke pasar Indonesia.
Baru pada awal pekan ini -berjeda lebih dari dua tahun dari pemberitaan awal- Brompton T-Line akhirnya resmi dipasarkan di Tanah Air.
“It’s finally here!Brompton T Line akhirnya dapat diperkenalkan ke Bromptoneers di Indonesia," kata Country Manager Brompton Indonesia, Kevin Wijaya, kepada Kompas.com.
Dijuluki sebagai produk Brompton paling ringan, Brompton T Line memiliki bobot mulai dari 7,45 kg.
Bobot tersebut 37 persen lebih ringan daripada frame besi yang digunakan Brompton pada umumnya.
Berat Brompton konvensional berbahan rangka besi berada di antara rentang 11-12 kilogram.
Lalu, sebelum T Line, edisi titanium Brompton titanium hanya menyematkan material tersebut pada bagian triangle, dan fork, serta -sempat di masa lalu- pada seatpost, sementara rangka utama tetap menggunakan besi.
Pada kreasi T Line ini, rangka utama pun menggunakan material titanium, sementara fork, seatpost, dan handlebar memakai material karbon.
Meskipun demikian, Kevin mengklaim, ketahanan rangka Brompton T Line tetap setara dengan sepeda Brompton dengan rangka besi.
12 percepatan
DOKUMENTASI BROMPTON Sistem gir 12 percepatan pada Brompton T Line memberikan lebih banyak pilihan gir dan jangkauan lebih luas bagi pengendaranya, dengan tetap memertahankan desain kompak.Kevin lantas menjelaskan, untuk peluncuran di Indonesia, Brompton juga memperkenalkan T Line dalam opsi 12 percepatan -selain empat percepatan eskternal yang dikenal sebelumnya.
Sistem gir 12 percepatan memberikan lebih banyak pilihan gir dan jangkauan lebih luas bagi pengendaranya, dengan tetap memertahankan desain kompak.
T Line 12 percepatan menggabungkan hub tiga percepatan internal dengan empat percepatan eksternal.
Sebagai pembanding, dalam varian Brompton awal, dikenal pilihan 2,3, dan 6 percepatan. Kemudian muncul empat percepatan pada edisi P Line.
Harga
DOKUMENTASI BROMPTON Brompton T Line dilengkapi dengan pilihan 12 percepatan yang memungkinkan pemakainya memiliki jangkauan lebih luas.Sebagai gambaran, untuk versi Brompton "biasa" saat ini dipasarkan di rentang harga sekitar Rp 30an juta per unit.
Kevin mengatakan, untuk varian empat percepatan eksternal (T Line Urban) dijual mulai dari harga Rp 85 juta, sedangkan untuk varian 12 speed (T Line Explore) dibanderol mulai dari Rp 94 juta.
Uniknya, dalam peluncuran T Line yang digelar dalam sebuah acara di tengah komunitas pada Minggu, 21 Juli 2024 lalu, semua T Line yang ready stock ludes terjual di hari yang sama.
"18 unit pengiriman pertama yang sudah sold out semua."
"Tapi nanti beberapa bulan lagi akan ada lagi yang masuk Indonesia, bisa pre-order ke Spin Warrior -dealer resmi Brompton di Indonesia," ungkap Kevin.