#30 tag 24jam
Menko PMK Ajak Pemda Aktifkan Tim Pemberantasan TBC
Tingginya angka pengidap TBC di Indonesia sebagai ancaman serius yang membutuhkan perhatian khusus. Halaman all [393] url asal
#tbc #pemerintah-daerah-pemda #penyakit-tuberkulosis #pratikno-menko-pmk
(Kompas.com) 07/11/24 16:00
v/17677415/
BOGOR, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengajak pemerintah daerah semangat dalam pemberantasan penyakit tuberkulosis (TBC).
Pratikno menggarisbawahi tingginya angka TBC di Indonesia sebagai ancaman serius yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kita termasuk salah satu negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia. Hal ini harus kita berikan perhatian yang sangat khusus,” kata Pratikno dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintahan Pusat dan Daerah Tahun 2024 di Sentul International Convention Center, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/11/2024).
Pratikno menekankan pentingnya peran serta pemerintah daerah (Pemda) dalam mendukung program pemberantasan TBC secara komprehensif.
Menurutnya, Pemda perlu mengaktifkan tim-tim khusus yang berfokus pada pemberantasan penyakit ini.
Dia menyarankan setiap memasukkan program pemberantasan TBC dalam perencanaan dan penganggaran. Dukungan di tingkat daerah diyakini memperkuat gerak cepat program ini di seluruh Indonesia.
“Kita butuh dukungan penuh dari Bapak-Ibu Kepala Daerah untuk mengaktifkan tim pemberantasan TBC di daerah. Ini harus menjadi prioritas bersama,” ujar Pratikno.
Menurutnya, tanpa adanya aksi lapangan yang terencana dan didukung oleh anggaran memadai, sulit menurunkan angka kasus TBC secara signifikan.
Pratikno menyebutkan perlunya dukungan anggaran dari Pemda, terutama dalam aksi-aksi lapangan seperti pengaktifan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan pos pelayanan terpadu (Posyandu) sebagai garda terdepan.
Peran puskesmas menjadi sangat penting dalam melakukan pemeriksaan awal dan pemantauan pasien, sehingga rantai penularan TBC bisa ditekan.
Selaras dengan pernyataan Pratikno program ini merupakan bagian dari langkah quick win yang menjadi prioritas pemerintah dalam waktu dekat.
Pemerintah menargetkan penurunan angka TBC dengan cepat, mengingat penyakit ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada produktivitas tenaga kerja Indonesia.
“Program quick win ini tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan penuh dari seluruh elemen pemerintah daerah,” ucap Pratikno.
Punya Gejala Mirip, Kenali Bedanya Tuberkulosis dan Kanker Limfoma
Sama-sama menyebabkan demam dan batuk, kenali bedanya tuberkulosis dengan kanker limfoma. [391] url asal
#tuberkulosis #kanker-limfoma #limfoma #beda-tuberkulosis-dan-kanker-limfoma
(Bisnis.Com - Terbaru) 27/09/24 08:50
v/15616798/
Bisnis.com, JAKARTA - Kanker limfoma merupakan salah satu jenis kanker ganas yang kerap diderita orang Indonesia. Namun, penyakit ini kerap mendapat penanganan yang salah karena gejalanya mirip dengan penyakit lain.
Hal ini dihadapi oleh Intan Khasanah, seorang penyintas Limfoma Hodgkin, yang terpaksa menjalani perawaan yang panjang dan sulit lantaran sempat salah diagnosis
Dia menceritakan sempat didiagnosis tuberkulosis kelenjar setelah mendapati 2 benjolan seukuran kelereng yang muncul di leher kanannya setelah terkena demam tinggi selama 3 hari.
Namun, setelah 8 bulan rutin minum obat TB sembari melakukan kontrol ke RS kondisinya tidak membaik, malah semakin parah, hingga koma dan masuk ICU.
"Ternyata ketika saya melakukan pengecekan ulang di dokter dan RS berbeda, diagnosis yang muncul adalah Limfoma Hodgkin, dan saat itu sudah terlanjur stadium 4," jelasnya dalam edukasi media bersama Takeda, Kamis (26/9/2024).
Namun, meski sudah di stadium 4, Intan menjalani penanganan dan pengobatan yang tepat. Sambil tetap aktif sekolah, kuliah, dan bekerja selama 7 tahun Intan akhirnya bisa mendapat remisi total, alias bebas kanker.
Dr. dr. Andhika Rachman, pakar hematologi-onkologi, menjelaskan bahwa kondisi Limfoma Hodgkin di Indonesia masih kurang terdiagnosis dengan baik. Menurutnya, banyak pasien baru datang ke dokter setelah penyakit mereka sudah memburuk.
"Tidak jarang, mereka juga mengalami salah diagnosis karena gejalanya yang tidak spesifik dan sering menyerupai penyakit lain," ujarnya.
Adapun beberapa gejala yang kerap muncul berikut ini:
• Munculnya benjolan di area kelenjar getah bening, umumnya di leher, ketiak, dan pangkal paha.
• Demam lebih dari 38°C tanpa penyebab yang jelas
• Keringat berlebihan di malam hari
• Penurunan bobot badan lebih dari 10% dalam 6 bulan berturut-turut tanpa disertai diet dan penyakit lain.
"Gejala itu kan mirip-mirip, yang sudah tahu dan mengalami gejala jangan jadi parno juga, karena tetap ada bedanya. Misalnya dari keringat malam, lalu demam hanya di sore atau malam hari. Apabila mengalami gejala itu, segera temui dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang menyeluruh," paparnya.
Selain itu, Dr. Andhika juga mengingatkan bahwa satu yang membedakan tuberkulosis dengan limfoma adalah jika pengobatan TB tidak memberikan kesembuhan.
"Pengobatan TB memang panjang, tapi biasanya satu bulan saja pasien sudah bisa terlihat lebih segar, terlihat sudah sembuh. Kalau satu bulan saja sudah tidak ada perubahan, atau malah makin parah, coba periksakan kembali," tegasnya.
Pasalnya, sebenarnya Limfoma Hodgkin bisa sembuh jika segera terdiagnosis, karena semakin besar peluang untuk memulai pengobatan yang tepat, sehingga semakin tinggi pula angka kelangsungan hidup pasien.
Apa yang Perlu Kita Ketahui tentang Tuberkulosis? - kumparan.com
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru tetapi dapat mempengaruhi berbagai organ lain dalam tubuh. [1,342] url asal
#tuberkulosis #tbc #penyakit #indonesia
(Kumparan.com - News) 16/09/24 13:46
v/15091466/
Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit menular tertua dan paling mematikan yang pernah dihadapi manusia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru tetapi dapat mempengaruhi berbagai organ lain dalam tubuh.
Meskipun TB sudah ada selama ribuan tahun, penyakit ini tetap menjadi masalah kesehatan global yang signifikan hingga saat ini, terutama di negara-negara berkembang. Artikel ini akan mengulas secara mendalam apa itu TB, bagaimana bakteri penyebabnya bekerja, bagaimana cara penularannya, gejalanya, tantangan pengobatannya, dan upaya global untuk mengatasi epidemi ini.
Tuberkulosis telah dikenal sejak zaman kuno, dengan bukti keberadaannya ditemukan dalam mumi Mesir kuno. Penyakit ini disebut juga sebagai "consumption" karena tampak seolah mengonsumsi penderitanya dari dalam, menyebabkan penurunan berat badan yang parah dan kelemahan fisik. Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882, memberikan terobosan penting dalam pemahaman kita tentang penyakit ini.
Keunikan dari bakteri penyebab TB adalah kemampuan mereka untuk masuk ke dalam keadaan dorman, menciptakan kondisi yang disebut TB laten. Pada keadaan ini, bakteri tetap hidup di dalam tubuh tetapi tidak menyebabkan gejala aktif. Hal ini menyebabkan sulitnya eradikasi TB secara total, karena TB laten dapat bertahan bertahun-tahun tanpa terdeteksi dan tiba-tiba aktif ketika sistem kekebalan tubuh melemah.
Selain itu, Mycobacterium tuberculosis memiliki dinding sel yang tebal dan kompleks, membuatnya kebal terhadap banyak jenis antibiotik. Inilah yang menyebabkan pengobatan TB harus dilakukan dengan menggunakan kombinasi obat dalam jangka waktu yang panjang, biasanya selama 6 bulan atau lebih. Bahkan, dalam beberapa kasus, bakteri ini mengembangkan resistansi terhadap obat-obatan, yang disebut sebagai Multidrug-Resistant TB (MDR-TB) dan Extensively Drug-Resistant TB (XDR-TB), menambah tantangan dalam pengobatannya.
Penularan TB terjadi melalui udara. Ketika seseorang dengan TB aktif batuk, bersin, berbicara, atau meludah, bakteri TB dapat tersebar dalam tetesan udara yang kemudian dihirup oleh orang lain. Meskipun penularan TB terjadi melalui udara, tidak semua orang yang terpapar akan langsung terinfeksi. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat mampu menahan infeksi tersebut dalam bentuk TB laten. Namun, individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV, malnutrisi, atau diabetes, lebih rentan untuk mengalami TB aktif.
Penularan TB juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Tempat-tempat dengan ventilasi yang buruk dan padat penduduk menjadi titik penularan yang ideal untuk TB. Misalnya, penjara, rumah sakit, atau permukiman kumuh memiliki risiko penularan yang lebih tinggi karena orang-orang yang tinggal di sana sering kali terpapar bakteri dalam jarak yang sangat dekat.
Gejala TB aktif bervariasi tergantung pada organ yang terinfeksi. Pada umumnya, TB paru ditandai dengan batuk yang berlangsung selama lebih dari dua minggu, sering disertai dahak, dan dalam beberapa kasus bisa mengeluarkan darah. Selain itu, penderita TB sering mengalami demam ringan yang berlangsung lama, keringat malam, dan penurunan berat badan yang signifikan.
Namun, TB yang menyerang organ lain dapat menyebabkan gejala yang berbeda. Misalnya, TB tulang dan sendi dapat menyebabkan nyeri dan pembengkakan, sementara TB kelenjar getah bening menyebabkan pembengkakan di leher atau area lain. TB meningitis, yang menyerang selaput otak, bisa memunculkan gejala seperti sakit kepala hebat, demam tinggi, dan kaku leher. Karena gejalanya bervariasi, banyak kasus TB ekstrapulmoner sering kali terlambat didiagnosis, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Salah satu konsep penting yang harus dipahami tentang TB adalah TB laten. Ini adalah kondisi di mana seseorang telah terinfeksi bakteri TB, tetapi sistem kekebalannya mampu menahan bakteri tersebut, sehingga mereka tidak mengalami gejala. Orang dengan TB laten tidak menular, tetapi mereka berisiko mengembangkan TB aktif di kemudian hari, terutama jika sistem kekebalan tubuh mereka melemah.
Diperkirakan sekitar 1,7 miliar orang di seluruh dunia memiliki TB laten. Tanpa pengobatan, sekitar 5-10% dari mereka akan mengembangkan TB aktif di suatu saat dalam hidup mereka. TB laten merupakan salah satu hambatan terbesar dalam upaya eliminasi TB karena orang yang terinfeksi mungkin tidak sadar bahwa mereka membawa bakteri tersebut dan dapat mengalami reaktivasi kapan saja.
Diagnosis TB melibatkan serangkaian tes yang dirancang untuk mendeteksi bakteri TB dalam tubuh. Salah satu metode yang paling umum adalah tes Mantoux atau tes tuberkulin, di mana larutan tuberkulin disuntikkan ke dalam kulit. Reaksi kulit yang terbentuk diukur untuk menentukan apakah seseorang telah terinfeksi TB. Tes ini biasanya digunakan untuk mendeteksi TB laten.
Untuk mendeteksi TB aktif, pemeriksaan dahak sering kali digunakan. Sampel dahak pasien diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari bakteri TB atau diuji dengan alat molekuler seperti GeneXpert yang mampu mendeteksi resistensi obat. Selain itu, sinar X dada sering digunakan untuk melihat kerusakan pada paru-paru yang khas akibat TB. Pada kasus TB ekstrapulmoner, biopsi jaringan atau pemeriksaan cairan tubuh lainnya mungkin diperlukan.
Pengobatan TB standar melibatkan penggunaan kombinasi antibiotik selama setidaknya 6 bulan. Pada fase awal, pasien biasanya diberikan 4 jenis obat, yaitu isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, dan ethambutol. Setelah dua bulan, pengobatan dilanjutkan dengan dua obat, yaitu isoniazid dan rifampicin, selama empat bulan lagi.
Biaya pengobatan TB sangat bervariasi tergantung pada negara dan jenis pengobatannya. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, pengobatan TB biasanya disubsidi oleh pemerintah atau didanai oleh organisasi internasional seperti Global Fund, sehingga pasien tidak perlu membayar. Namun, untuk kasus TB resisten obat, pengobatannya jauh lebih mahal karena durasi pengobatan lebih lama (bisa mencapai 18 bulan atau lebih) dan menggunakan obat-obatan yang lebih mahal dan memiliki efek samping yang lebih serius.
Indonesia menghadapi sejumlah masalah klasik terkait TB, termasuk:
Keterlambatan Diagnosis: Banyak pasien TB terlambat terdiagnosis karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang gejala TB, terutama TB ekstrapulmoner.
Stigma Sosial: TB sering dianggap sebagai penyakit memalukan atau dikaitkan dengan kondisi sosial-ekonomi yang rendah, sehingga orang enggan mencari pengobatan.
Kepatuhan Pengobatan yang Rendah: Karena durasi pengobatan yang panjang, banyak pasien menghentikan pengobatan mereka terlalu dini, yang berkontribusi pada munculnya MDR-TB.
Beban Ko-infeksi dengan HIV: TB adalah penyebab utama kematian di antara penderita HIV di Indonesia. Ko-infeksi ini meningkatkan kompleksitas pengobatan dan memperburuk prognosis pasien.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus TB di Indonesia adalah:
Vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) adalah satu-satunya vaksin yang tersedia untuk melawan TB, tetapi efektivitasnya sangat bervariasi. BCG terutama efektif dalam melindungi bayi dan anak kecil dari bentuk TB yang berat, seperti TB meningitis dan TB milier. Namun, vaksin ini tidak memberikan perlindungan yang kuat pada orang dewasa terhadap TB paru.
Di Indonesia, vaksinasi BCG adalah bagian dari program imunisasi nasional, tetapi perlindungan yang diberikan pada orang dewasa sering kali tidak memadai, sehingga vaksin BCG tidak bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mencegah TB di masyarakat luas.
Eliminasi TB adalah tujuan ambisius yang telah menjadi fokus berbagai upaya global, terutama dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, berbagai tantangan mengadang, mulai dari resistensi obat, diagnosis yang terlambat, hingga TB laten yang sulit dideteksi. Tanpa intervensi yang lebih agresif, sulit untuk membayangkan TB dapat benar-benar dieliminasi dalam waktu dekat.
Salah satu strategi penting adalah memperkuat program DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course), di mana pasien TB dipantau langsung untuk memastikan mereka menyelesaikan pengobatan mereka dengan benar. Selain itu, diperlukan pendekatan inovatif dalam pengembangan vaksin baru yang lebih efektif bagi orang dewasa serta metode deteksi dini yang lebih cepat dan akurat.
Upaya global dalam memerangi TB dipimpin oleh organisasi internasional seperti World Health Organization (WHO) melalui inisiatif End TB Strategy yang bertujuan untuk mengurangi jumlah kasus TB secara signifikan pada tahun 2030. Namun, pencapaian target ini masih penuh tantangan, terutama di negara-negara berkembang dengan infrastruktur kesehatan yang terbatas.
Tantangan lain termasuk munculnya strain TB yang resisten terhadap obat, masalah pendanaan yang tidak mencukupi, serta kebutuhan untuk meningkatkan kolaborasi antar negara dalam hal pengendalian TB lintas batas. Selain itu, perubahan iklim dan urbanisasi yang cepat juga diperkirakan akan mempengaruhi epidemiologi TB di masa depan.
Kesimpulan
Tuberkulosis tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan global terbesar. Meskipun telah ada kemajuan dalam diagnosis dan pengobatannya, tantangan yang dihadapi dalam upaya pencegahan dan eliminasi masih besar, terutama di negara-negara berkembang. Menyadari pentingnya diagnosis dini, kepatuhan pengobatan, serta pendekatan multi-sektoral dalam pengendalian TB adalah kunci untuk mengurangi dampak penyakit ini.
Masa depan bebas TB akan membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, organisasi internasional, komunitas medis, dan masyarakat umum. Dengan kerja sama global yang kuat, harapan untuk mengatasi TB bisa menjadi kenyataan, meskipun jalan menuju eliminasi TB masih panjang.
Tantangan Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia - kumparan.com
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, dan menyebar melalui udara, umumnya dari penderita yang batuk, bersin, dan bicara. [880] url asal
#tantangan #pengendaliantuberkulosis #indonesia #penyakit #tbc
(Kumparan.com) 15/09/24 16:43
v/15059742/
Tuberkulosis (TB) telah menjadi masalah kesehatan global selama berabad-abad, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, TB menyebar melalui udara, umumnya dari penderita aktif yang batuk, bersin, atau berbicara.
Walaupun ada kemajuan dalam upaya pengendalian, TB masih menjadi ancaman serius, terutama dengan munculnya TB yang resisten terhadap obat-obatan (MDR-TB). Di Indonesia, TB menjadi salah satu prioritas kesehatan utama, mengingat tingginya jumlah kasus yang terus meningkat setiap tahunnya.
Pada semester pertama tahun 2024, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 30.000 kasus TB baru di Jakarta selama enam bulan pertama. Angka ini mencerminkan beban besar yang dihadapi Indonesia dalam pengendalian penyakit ini.
Artikel ini akan membahas sejarah TB di Indonesia, epidemiologi global, ASEAN, dan Indonesia, cara penularan, pengobatan dan pencegahan, faktor-faktor yang berkontribusi pada peningkatan kasus TB, serta tantangan dan rekomendasi penguatan program pengendalian TB di Indonesia.
Penyakit TB pertama kali tercatat di Indonesia pada masa kolonial. Pada saat itu, TB dikenal sebagai penyakit yang sangat mematikan, terutama di kalangan orang miskin dan padat penduduk. Pada era kemerdekaan, pemerintah Indonesia mulai melakukan upaya pengendalian TB secara lebih serius dengan pembentukan Program Nasional Pengendalian TB (NTP). Program ini bertujuan untuk meningkatkan deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta pencegahan penularan melalui edukasi kesehatan masyarakat.
Secara global, TB merupakan salah satu penyakit menular paling mematikan. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2021, TB menginfeksi sekitar 10,6 juta orang dan menyebabkan hampir 1,6 juta kematian.
Sejak 2022, negara dengan beban kasus tertinggi infeksi TB di dunia adalah India, dan Indonesia. Di ASEAN, Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah kasus TB terbanyak.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus TB setiap tahun. Penyebaran TB meliputi semua kelompok umur, namun sebagian besar terjadi pada orang dewasa produktif. Selain itu, angka resistensi terhadap obat (MDR-TB) juga meningkat, menambah kompleksitas pengendalian penyakit ini.
TB menular melalui udara, ketika seseorang menghirup droplet kecil yang mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis. Droplet ini dapat dikeluarkan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, atau malnutrisi, memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular.
Penularan TB juga dapat terjadi di tempat-tempat umum dengan ventilasi buruk, seperti rumah sakit, puskesmas, dan sarana transportasi publik yang padat. Hal ini memperkuat pentingnya pengendalian infeksi di tempat-tempat tersebut.
Pengobatan TB melibatkan kombinasi antibiotik yang harus dikonsumsi secara teratur selama enam hingga sembilan bulan. Pengobatan ini harus diselesaikan hingga tuntas untuk mencegah resistensi obat. Kasus TB yang tidak diobati atau tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk MDR-TB, yang memerlukan pengobatan lebih lama dan lebih kompleks.
1. Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin) untuk anak-anak guna mencegah bentuk TB yang berat.
2. Edukasi kesehatan masyarakat tentang pentingnya etika batuk dan kebersihan pernapasan.
3. Skrining rutin pada kelompok berisiko tinggi, seperti petugas kesehatan dan orang yang tinggal di rumah dengan penderita TB.
Beberapa faktor yang berperan dalam peningkatan kasus TB di Indonesia antara lain:
1. Kepadatan penduduk: Kota-kota besar seperti Jakarta memiliki populasi padat, meningkatkan risiko penularan.
2. Stigma sosial: Banyak penderita TB yang enggan untuk mendapatkan diagnosis atau pengobatan karena takut dikucilkan.
3. Pandemi COVID-19: Pandemi ini telah menyebabkan gangguan dalam layanan kesehatan, termasuk program deteksi dan pengobatan TB.
4. Meningkatnya resistensi obat: Kasus MDR-TB di Indonesia menjadi tantangan besar dalam pengobatan dan memerlukan penanganan khusus.
5. Kemiskinan adalah faktor yang turut berkontribusi pada sulitnya mengendalikan penyakit TB.
Pengendalian TB di Indonesia menghadapi beberapa tantangan utama, di antaranya:
1. Deteksi dini yang masih rendah: Masih banyak kasus TB yang tidak terdiagnosis karena keterbatasan akses ke layanan kesehatan.
2. Ketidakpatuhan pengobatan: Banyak penderita TB yang tidak menyelesaikan pengobatan mereka, sehingga meningkatkan risiko resistensi obat.
3. Sarana kesehatan yang terbatas: Di beberapa daerah, fasilitas kesehatan yang memadai untuk diagnosis dan pengobatan TB masih kurang.
4. Beban multiburden: Kombinasi TB dengan penyakit lain seperti HIV/AIDS, diabetes melitus, dan gangguan mental memperumit pengobatan dan penanganan kasus.
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, beberapa langkah yang bisa diambil adalah:
1. Peningkatan deteksi dini: Program skrining yang lebih intensif harus diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan, terutama di daerah dengan beban kasus tinggi.
2. Edukasi masyarakat: Kampanye kesehatan yang lebih luas harus dilakukan untuk mengurangi stigma terhadap penderita TB dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pengobatan yang tepat.
3. Peningkatan akses ke pengobatan: Pemerintah perlu memastikan bahwa semua penderita TB, termasuk yang mengalami resistensi obat, mendapatkan pengobatan yang tepat tanpa hambatan biaya.
4. Pengendalian infeksi di tempat umum: Penggunaan masker, ventilasi yang baik, dan protokol kebersihan di tempat umum harus ditegakkan untuk mencegah penyebaran TB.
5. Pemanfaatan teknologi: Deteksi genomik berbasis teknologi baru dapat mempercepat identifikasi kasus TB dan MDR-TB, sehingga memudahkan pengobatan dan pelacakan.
6. Peningkatan kualitas hidup masyarakat, dengan lingkungan, air dan udara yang bersih dan sehat, disertai pemberantasan kemiskinan dan penguatan Pembangunan yang merata bagi seluruh lapisan Masyarakat.
Pengendalian TB di Indonesia merupakan tantangan yang kompleks, mengingat tingginya beban penyakit, munculnya kasus resistensi obat, serta dampak pandemi COVID-19. Namun, dengan strategi yang tepat, termasuk deteksi dini, peningkatan akses ke layanan kesehatan, dan edukasi masyarakat, Indonesia memiliki peluang untuk mengurangi beban TB di masa depan.
Penggunaan teknologi mutakhir dan kolaborasi antarinstansi juga menjadi kunci untuk memutus rantai penularan dan mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030.
Tempat Kerja Ditargetkan Bebas TBC pada 2030
Tempat kerja ditargetkan bebas dari penyakit infeksi tuberculosis (TBC) pada 2030. Faktanya saat ini sebanyak 35% usia produktif di Indonesia terinfeksi TBC. Hal ini dapat menurunkan produktivitas ker [342] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #tuberkulosis #tbc #program-bebas-tuberkulosis-di-tempat-kerja #otsuka #jumlah-penderita-tbc-di-indonesia #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 04/08/24 18:14
v/13270773/
JAKARTA, investor.id – Tempat kerja ditargetkan bebas dari penyakit infeksi tuberculosis (TBC) pada 2030. Faktanya saat ini sebanyak 35% usia produktif di Indonesia terinfeksi TBC. Hal ini dapat menurunkan produktivitas kerja sehingga menjadi perhatian Otsuka yang menginisiasi program Bebas Tuberkulosis di tempat kerja.
Human Capital & Corporate Communications Director Otsuka Group, Sudarmadi Widodo memaparkan, menurut data WHO Global TB Report 2022, saat ini masih terdapat 10,6 juta orang di dunia jatuh sakit karena tuberkulosis dan menyebabkan 1,3 juta orang meninggal karenanya.
“Indonesia termasuk delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus tuberkulosis di seluruh dunia, menempati posisi kedua setelah India. Beban kasus baru di Indonesia sebanyak 1.060.000 kasus dengan kematian sebanyak 134.000 jiwa atau setara dengan 15 kematian per jam akibat Tuberkulosis,” papar Sudarmadi Widodo.
Faktanya, lanjut Sudarmadi, cakupan penemuan kasus tuberkulosis pada usia produktif (25 - 54 tahun) di Indonesia adalah sekitar 35%. Namun jika ditarik usia 15 - 60 tahun maka menjadi sekitar 70% dari total keseluruhan, sehingga data tersebut memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam penyebaran Tuberkulosis di Indonesia.
Terkait itu, Otsuka yang telah menginisiasi program Bebas Tuberkulosis di tempat kerja, kembali menggandeng puluhan perusahaan untuk menandatangani komitmen penanggulangan Tuberkulosis di tempat kerja. Penandatangan tersebut dilaksanakan pada acara Hari Anak Nasional yang bertema ‘Anak Bebas TBC, Indonesia Maju’. Peringatan yang diselenggarakan di Gedung Sate, Bandung juga dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dan Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin.
Sudarmadi menegaskan, Otsuka terus berkomitmen untuk mendukung target Eliminasi Tuberkulosis 2030 dan bebas Tuberkulosis pada 2050 dengan program Free TBC at Workplaces. Targetnya membebaskan tempat kerja dari tuberkulosis dan mengeliminasi sitgma negatif pasien tuberculosis.
“Kami berhasil mengajak puluhan perusahaan untuk dapat berkomitmen dalam program bebas Tuberkulosis di tempat kerja pada Hari Anak Nasional 2024. Targetnya, lebih banyak lagi perusahaan untuk bergabung bersama kami dalam mengeliminasi Tuberkulosis sehingga tidak hanya tercipta lingkungan kerja yang sehat, namun juga terbebasnya masyarakat Indonesia dari Tuberkulosis,” tutup Sudarmadi Widodo.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Hitung-hitungan Pakar Unpad, Perlu Biaya Rp2,9 Triliun untuk Diagnosis Tuberkulosis di Indonesia
Anggaran nasional untuk pengentasan tuberkulosis di Indonesia baru Rp3 triliun untuk pencarian kasus aktif, biaya obat, SDM, dan proses operasional lainnya. [383] url asal
#biaya-diagnosis-tuberkulosis #tuberkulosis-di-indonesia #guru-besar-unpad #unpad #kasus-tb-indonesia
(MedCom) 25/07/24 14:21
v/12060451/
Jakarta: Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. dr. Bachti Alisjahbana, Sp.PD-KPTI., PhD., menyebut Indonesia memiliki beban kasus tuberkulosis terbesar kedua di dunia, dengan sekitar 1 juta kasus baru per tahun dengan 140 ribu kematian per tahun. Proses diagnosis kasus tuberkulosis disebut memerlukan biaya sangat besar.“Indonesia setidaknya membutuhkan biaya Rp2,9 triliun untuk melakukan diagnosis 1 juta kasus tuberkulosis,” ujar Bachti saat menyampaikan orasi ilmiah “Upaya meningkatkan Akses Diagnosis Tuberkulosis untuk Eliminasi TB di Indonesia” pada Upacara Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar Bidang Ilmu Infeksi dikutip dari laman unpad.ac.id, Kamis, 25 Juli 2024.
Bachti menuturkan anggaran nasional untuk pengentasan tuberkulosis di Indonesia baru sekitar Rp3 triliun. Anggaran tersebut untuk pencarian kasus aktif, biaya obat, sumber daya manusia, dan proses operasional lainnya.
Dia menuturkan angka Rp2,9 triliun tersebut berdasarkan penghitungan estimasi biaya penemuan kasus aktif berdasarkan hasil riset Bachti dan tim. Pada 2016-2018, Bachti dan tim melakukan riset Intensified Case Finding terhadap kasus tuberkulosis di wilayah Bogor.
Survei dilakukan kepada 5.778 pengunjung puskesmas di wilayah Bogor. Seluruh responden dilakukan dengan beberapa tahap diagnosis TB, yaitu melalui wawancara, foto rontgen dada, serta uji sampel dahak dengan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).
Hasilnya, tim menemukan 917 pasien bergejala TB. Setelah pemeriksaan TCM, ditemukan 136 kasus terkonfirmasi tuberkulosis atau sekira 3,5 persen dari total pasien bergejala.
“Angka ini kira-kira bisa lima kali lebih tinggi dari angka prevalensi di Indonesia,” ujar dia.
Sementara itu, dari total pasien tidak bergejala, tim juga menemukan sekitar 54 kasus atau 1,1 persen yang terkontaminasi tuberkulosis. Ketua Pusat Riset Perawatan dan Pengendalian Penyakit Infeksi Unpad tersebut menjelaskan total biaya pemeriksaan TCM untuk 917 pasien bergejala sebesar Rp169 juta.
Sementara itu, total biaya pemeriksaan rontgen dan TCM untuk 4.865 pasien tidak bergejala memerlukan biaya Rp443,5 juta. Apabila digabungkan, total biaya yang diperlukan sebesar Rp613,2 juta atau sekira Rp2,9 juta untuk setiap kasus yang ditemukan.
Bachti menuturkan bila diimplementasikan secara nasional untuk 1 juta kasus TB yang dikejar, Indonesia setidaknya memerlukan biaya sebesar Rp2,9 triliun. Biaya ini hanya untuk diagnosis.
“Dari hitung-hitungan ini kita bisa melihat jelas bahwa kita belum mampu implementasikan pencarian kasus aktif secara jelas dan masif,” kata Bachti.
| Baca juga: Kemenkes Imbau Pemberian Vaksin BCG untuk Anak demi Tekan Angka TB |
(REN)
Edukasi Masyarakat terkait Tuberkulosis Dinilai Wajib Dilakukan Masif
Kasus baru tuberkulosis pada 2024 mencapai 1.092.000 kasus. [268] url asal
#tuberkulosis #tb #penyakit-paru #kemenkes #kemenko-pmk #lestari-moerdijat
(Republika - News) 10/07/24 09:39
v/10289952/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Edukasi dan sosialisasi akan bahaya tuberkulosis (TB) harus dilakukan secara masif. Tujuannya agar masyarakat memahami dan peduli dengan pencegahan dan pengobatan TB yang harus dilakukan hingga tuntas.
"Pemahaman masyarakat yang terbatas terkait tuberkulosis harus menjadi perhatian semua pihak dalam upaya mencegah dan mengatasi peningkatan jumlah kasus TB di tanah air," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya pada Senin (8/7/2024).
Catatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan memperkirakan kasus baru tuberkulosis pada 2024 mencapai 1.092.000 kasus.
Capaian penanganan TB pada 2023, tercatat 77% atau 821.200 penemuan kasus dari target 90%. Sedangkan kasus yang telah diobati mencapai 88% atau 722.863 kasus dari target 100%.
Berdasarkan capaian itu tercatat pengobatan sukses mencapai 87% untuk TB SO (TB yang biasanya menyerang paru-paru, namun bisa juga menyerang organ tubuh lain) dan 80% untuk TB RO ( TB paru dan TB ekstra paru yang kebal atau resisten terhadap obat pada lini pertama atau obat TB SO sebelumnya).
Menurut Lestari, belum terpenuhinya capaian 100% pengobatan TB harus diwaspadai bersama, karena berpotensi memicu penularan lebih lanjut di masyarakat.
"Upaya mensosialisasikan pencegahan dan langkah pengobatan TB merupakan hal penting yang harus dilakukan segera," ujar Rerie.
Menurut Rerie, kepedulian antara pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah terkait upaya sosialisasi pencegahan dan penanganan TB harus diwujudkan, dalam upaya mencegah munculnya kasus baru.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap potensi munculnya kasus baru TB dapat terus ditekan dengan berbagai langkah pencegahan yang masif dan melibatkan masyarakat luas.
"Dengan begitu, kita dapat berharap mampu merealisasikan komitmen Indonesia mewujudkan eliminasi TB pada 2030," ujar Rerie.