Satu kematian dan 75 orang dikaitkan dengan cemaran wabah E Coli di McDonald's. Dugaan awal mengaitkan dengan bawang bombai pada burger. [654] url asal
McDonald's di Amerika Serikat menarik seluruh bawang bombai segar dari menu mereka sejak satu kasus kematian terkonfirmasi dan 75 orang jatuh sakit pasca mengonsumsi burger.
Bawang bombai tersebut diyakini menjadi sumber wabah krisis di McDonald's akibat temuan E coli. Perusahaan kemudian menarik Quarter Pounder dari menunya di seperlima antara 14.000 restoran AS.
Kasus terkait wabah E coli juga dilaporkan pada daging sapi. Misalnya, insiden pada burger Jack in the Box yang membuat lebih dari 170 orang dirawat di rumah sakit, empat orang di antaranya meninggal.
Meski begitu, kontaminasi E coli pada daging saat ini semakin jarang ditemukan. Para ahli menilai perbedaannya jelas terlihat. Daging sapi dimasak, sementara produk pertanian segar, banyak tidak dimasak.
"Memasak dengan benar merupakan hal yang wajib untuk menghindari kontaminasi," kata Dr. Donald Schaffner, seorang ahli ilmu pangan dan keamanan dari Universitas Rutgers.
Produk industri skala besar dicuci, disanitasi, dan diuji dengan tingkat yang sama seperti daging sapi, tetapi pengujian tidak dapat mendeteksi tingkat kontaminasi yang cukup rendah, kata para ahli.
Tanaman seringkali ditanam di luar ruangan, tempat kotoran satwa liar atau hewan pertanian di dekatnya dapat meresap ke dalam air irigasi atau air banjir.
E. coli merupakan patogen normal dalam usus hewan. "Sapi memilikinya lebih banyak daripada yang lain, tetapi juga telah terdeteksi pada angsa, babi hutan, rusa, dan lainnya," kata dr Mansour Samadpour, seorang spesialis keamanan pangan.
"Kontaminasi dapat terjadi akibat penggunaan pupuk kandang yang tidak diolah atau air irigasi yang terkontaminasi, atau dari memegang atau mengiris bawang dengan cara yang menyebabkannya terkontaminasi," kata dr Schaffner.
Baik McDonald's maupun Taylor Farms, pemasok bawang bombai untuk McDonald's di negara bagian yang terkena dampak, adalah perusahaan besar dan canggih, secara luas dianggap para ahli keamanan pangan memiliki standar untuk praktik yang aman.
Pemasok McDonald's menguji produk secara berkala dan melakukannya dalam rentang tanggal yang diberikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM AS) untuk wabah tersebut.
"Tidak satupun dari mereka mengidentifikasi jenis E. coli ini sebelumnya," kata juru bicara perusahaan.
Kasus cemaran E Coli di makanan siap saji bukan kali pertama. Pada 2006, selada dari Taco Bell diidentifikasi sebagai kemungkinan sumber wabah E. coli yang membuat 71 orang sakit. Taco Bell saat ini dimiliki oleh Yum Brands.
Kontaminasi dapat meluas bahkan melampaui patogen seperti E. coli dan salmonella. McDonald's sebelumnya menangani wabah parasit pada 2018 yang terkait dengan salad McDonald's yang membuat hampir 400 orang sakit.
Undang-Undang Modernisasi Keamanan Pangan tahun 2011 mengharuskan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk menetapkan standar produksi dan pemanenan buah serta sayuran yang aman. "BPOM AS memperkenalkan peraturan untuk produk pertanian yang sebelumnya tidak banyak diatur," kata dr Schaffner.
"Sangat sering polanya adalah kita memiliki masalah kesehatan masyarakat atau masalah keamanan pangan dan akhirnya Kongres akan bereaksi dan kita akan memiliki peraturan," kata dr Schaffner.
Para ahli mempercayai makanan cepat saji dan toko kelontong, secara kolektif dapat memodernisasi dan menyelaraskan standar yang mereka harapkan dari pemasok.
"Satu-satunya hal yang pasti dapat menghancurkan mikroba adalah radiasi, tetapi tidak ada yang menginginkannya," kata ahli.
Hal itu dinilai tidak praktis untuk volume produk yang dijual.
McDonald's tanggapi wabah E. coli terkait burger Quarter Pounder yang menewaskan satu orang. Perusahaan tarik menu dan tingkatkan keselamatan di AS. [247] url asal
McDonald's di Amerika Serikat (AS) buka suara usai muncul wabah E. coli terkait menu burger Quarter Pounder yang telah menewaskan satu orang dan membuat hampir 50 orang lainnya sakit. Pihaknya berjanji untuk meningkatkan keselamatan.
Dilansir dari Reuters, Kamis (24/10/2024), McDonald's telah menarik item menu tersebut dari restoran di belasan negara bagian untuk mencegah wabah semakin meluas.
"McDonald's telah bergerak agak cepat untuk mengambil tindakan, mudah-mudahan dapat mencegah sebanyak mungkin kasus," kata Juru Bicara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Tom Skinner.
Seorang juru bicara McDonald's mengatakan wabah tersebut terbatas di AS. Puluhan orang sakit di AS Barat dan Midwest, dengan 10 orang dirawat di rumah sakit karena komplikasi serius, menurut CDC yang sedang menyelidiki wabah tersebut.
Presiden McDonald's AS Joe Erlinger mengatakan jaringan makanan cepat saji perlu membangun kembali kepercayaan publik setelah menarik item tersebut dari menunya di seperlima dari 14.000 restorannya di AS.
Perusahaan menarik menu burger Quarter Pounder dari menunya di lokasi McDonald's di Colorado, Kansas, Utah, dan Wyoming, serta di beberapa bagian Idaho, Iowa, Missouri, Montana, Nebraska, Nevada, New Mexico dan Oklahoma.
CDC dan McDonald's sedang meneliti persediaan bawang goreng dan daging sapi cincang milik perusahaan saat mereka mencoba menentukan penyebab wabah tersebut.
Saham McDonald's ditutup turun 5,1% pada US$ 298,57, setelah juru bicara mengatakan bahwa perusahaan belum mengesampingkan kemungkinan daging sapi menjadi bagian dari wabah tersebut. Saham mencapai titik terendah intraday di US$ 290,88.
Satu orang meninggal dan puluhan orang lainnya jatuh sakit akibat wabah E. coli parah yang terkait menu hamburger pada sejumlah restoran cepat saji di AS. [410] url asal
Sedikitnya satu orang meninggal dan puluhan orang lainnya jatuh sakit akibat wabah E. coli parah yang terkait dengan menu hamburger pada sejumlah restoran cepat saji di beberapa negara bagian Amerika Serikat (AS).
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Rabu (23/10/2024), menyebut wabah E. coli itu berkaitan dengan menu hamburger bernama Quater Pounder yang dijual oleh restoran cepat saji McDonald's di beberapa negara bagian.
Diumumkan oleh CDC bahwa wabah itu dimulai pada akhir September lalu dan telah menyebar di sebanyak 10 negara bagian di wilayah barat AS. Sebagian besar dari total 49 kasus keracunan makanan terkait wabah E. coli itu berpusat di negara bagian Colorado dan Nebraska.
Sebanyak 10 orang kini harus menjalani perawatan medis di rumah sakit, termasuk satu anak yang mengalami sindrom uremik hemolitik -- suatu kondisi serius yang merusak pembuluh darah di ginjal.
"Satu orang lansia di Colorado telah meninggal dunia," sebut CDC dalam pernyataannya pada Selasa (22/10).
Semua korban dalam kasus keracunan makanan ini terdeteksi membawa jenis E. coli yang sama dan dilaporkan sempat makan di McDonald's sebelum mengalami gejalanya, dengan yang paling spesifik mengingat dirinya memakan hamburger Quarter Pounder.
Sementara para penyelidik belum mengetahui secara pasti bahan apa yang memicu wabah tersebut, mereka fokus pada irisan bawang bombay dan patty daging sapi -- keduanya telah dihapus dari menu restoran cepat saji itu di negara bagian yang terdampak sembari menunggu penyelidikan lebih lanjut.
Pihak McDonald's telah memberikan pernyataan dengan menghapus menu hamburger yang bermasalah itu di beberapa negara bagian.
"Keamanan makanan sangat penting bagi saya dan semua orang di McDonald's," ucap Presiden McDonald's USA, Joe Erlinger, dalam pernyataan via video.
"Kami telah mengambil langkah-langkah untuk secara proaktif menghilangkan irisan bawang bombay, yang digunakan dalam Quarter Pounder, di negara bagian tertentu. Kami juga membuat keputusan untuk menghapus sementara Quarter Pounder dari restoran di negara bagian tertentu," imbuhnya.
Dia menambahkan bahwa sebagian besar negara bagian tidak terdampak wabah ini. Sementara di negara bagian yang terdampak, item menu lainnya seperti produk daging sapi lainnya tetap tersedia.
CDC menyarankan orang-orang yang mengonsumsi hamburger Quarter Pounder dan mengalami gejala keracunan E. coli -- seperti diare, demam lebih dari 38,9 derajat Celsius dan muntah-muntah -- untuk segera mencari pertolongan medis.
Gejala-gejala itu biasanya dimulai sekitar 3-4 hari setelah terpapar, dan kebanyakan orang pulih dalam waktu 5-7 hari tanpa pengobatan. Namun, beberapa kasus bisa menjadi parah dan membutuhkan rawat inap di rumah sakit.