ASPEK terbesar yang berubah dari pandemi adalah gaya bekerja kita. Kita bahkan sering bertanya-tanya mengapa tidak dari dulu saja bekerja secara daring? Walaupun pandemi sudah berlalu, gaya bekerja hibrida masih diterapkan banyak organisasi karena banyak manfaat yang bisa diperoleh, salah satunya efisiensi waktu.
Bekerja daring, baik dari rumah maupun area lain, awalnya dipandang sebagai solusi ideal yang dapat memperbesar alokasi waktu bersama keluarga ketimbang dihabiskan untuk menempuh kemacetan jalanan.
Para pekerja remote dinilai memiliki produktivitas lebih tinggi karena gangguan yang lebih sedikit. Mereka tidak harus menghabiskan waktu di jalanan, memiliki jam kerja yang fleksibel,sehingga mampu melakukan persiapan lain sebelum berangkat ke tempat kerja.
Mereka tidak perlu berhadapan dengan beragam hal yang dapat meningkatkan stres.
Namun, survei yang dilakukan beberapa organisasi besar menemukan bahwa para pekerja remote juga mengalami stres.
Dell menemukan, 82 persen pekerja remote merasa burn out karena tidak ada batasan yang jelas antara kehidupan kantor dengan kehidupan rumah. Mereka kesulitan untuk “mematikan” pekerjaan pada akhir hari. Berbeda ketika bekerja di kantor yang memiliki waktu pulang dan perjalanan sehingga membantu memisahkan pekerjaan dari kehidupan pribadi.
Dr Konstantin Lukin—psikolog yang mempelajari efek psikologis dari bekerja remote—mengatakan, “Ketika bekerja dari rumah, kita sering kali membuka diri untuk dihubungi kapan saja, yang membuat kita merasa tertekan dan terlalu sibuk”.
Alih-alih menjaga work life balance, bekerja remote justru membuat kita bekerja lebih lama dari seharusnya.
Salah satu penelitian yang dilakukan Stanford Virtual Human Interaction Lab juga melihat, kita cenderung lebih lelah setelah melakukan rapat daring daripada luring. Fenomena ini sering kali disebut Zoom fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak menggunakan platform video conference.
Dok EXPERD Eileen Rachman. Pertemuan virtual mengharuskan kita untuk menjaga kontak mata dan tetap fokus pada layar lebih lama dibandingkan interaksi tatap muka, yang akhirnya mengakibatkan kelelahan mental.
Demikian pula ketegangan untuk tampil “sempurna” di depan kamera dapat meningkatkan rasa cemas, yang sering kali disebut sebagai camera anxiety.
Banyak yang kemudian menutup kameranya selama proses rapat tanpa menyadari bahwa hal ini pun meningkatkan kelelahan dari lawan bicara yang berusaha mendapatkan umpan balik dari respons-respons nonverbal-nya selama berinteraksi.
Seperti dikatakan Psikiater Austria, Viktor Frankl, salah satu cara manusia dapat menemukan makna dalam hidupnya adalah melalui pekerjaan.
Dalam lingkungan kantor, berinteraksi dan berkolaborasi dengan rekan kerja, pengakuan dari atasan maupun pelanggan yang puas dapat membuat kita merasa bermakna.
Tanpa disadari, dalam bekerja secara daring dengan interaksi yang terbatas, sense of self and identity menjadi semakin terkikis. Banyak yang menyepelekan interaksi sosial.
“Yang penting pekerjaan tuntas,” kata mereka. Padahal, peluang untuk berbicara dengan rekan kerja di koridor, mengobrol selama makan siang, atau bahkan hanya berbagi senyum memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental.
Dalam hubungan virtual, interaksi tersebut sering kali berkurang menjadi sekadar percakapan tugas. Twitter menemukan, 45 persen pekerja remote-nya merasa terasing dari rekan-rekannya sehingga terjadi penurunan produktivitas. Penelitian Stanford menunjukkan, pertemuan virtual tidak memberikan tingkat koneksi manusia yang sama seperti pertemuan tatap muka sehingga dapat menyebabkan perasaan isolasi.
“Our emotions just don’t process videoconference meetings as truly connecting us on a human-to-human gut level.”
Jadi, teknologi memang memudahkan kita untuk selalu terhubung, tetapi mewaspadai konsekuensi ini juga sangat disarankan.
Mitigasi kelelahan mental
Dengan beragam manfaat yang bisa diperoleh dengan gaya bekerja remote, organisasi memang perlu menangani masalah kelelahan mental ini dengan serius.
Dell mendorong beragam kegiatan team building secara virtual dan waktu untuk beristirahat bagi para karyawannya yang berdampak pada peningkatan produktivitas sebesar 30 persen dalam kurun waktu sebulan.
Microsoft memperkenalkan hari bebas rapat untuk membuat karyawan dapat berfokus pada agenda masing-masing. Sementara itu, Deloitte menyediakan sesi terapi daring dan workshop virtual seputar kesehatan mental.
Untuk mengatasi masalah kelelahan, SAP mengusung kebijakan mengurangi durasi pertemuan virtual menjadi 25-30 menit dan jeda wajib antar-pertemuan untuk memberikan waktu istirahat bagi karyawan.
Tidak ada satu jawaban jitu untuk permasalahan tersebut. Semuanya tergantung pada kondisi, sifat pekerjaan, karakteristik komunikasi, dan budaya perusahaan masing-masing. Meski demikian, ada beberapa prinsip yang bisa kita terapkan.
Pertama, menetapkan batasan yang jelas antara kehidupan kerja dan pribadi antara lain dengan ruang kerja khusus di rumah serta jam kerja yang jelas. Di sini dibutuhkan komitmen organisasi untuk mendukung pembatasan jam kerja individu.
Praktik-praktik seperti “hari bebas rapat” maupun “focus day” juga bisa diimplementasikan untuk menjaga produktivitas, tetapi juga memberikan waktu bagi individu untuk mengisi kembali energinya.
Di sisi lain, fleksibilitas yang merupakan semangat dari bekerja secara remote ini memang perlu dikembangkan. Ada karyawan yang memiliki energi penuh pada pagi hari, tapi ada yang baru bersemangat pada siang hari. Studi dari Buffer menunjukkan, karyawan yang memiliki kendali atas jadwal mereka cenderung merasa lebih puas dan kurang mengalami kelelahan.
Alangkah baiknya bila karyawan diberikan fleksibilitas untuk menentukan waktu kerja mereka.
Mengutamakan kesejahteraan karyawan, memberikan fleksibilitas, dan mendorong komunikasi terbuka adalah langkah penting menciptakan lingkungan kerja lebih sehat dan produktif yang berdampak tidak hanya pada kinerja, tetapi juga pada kesejahteraan kita secara keseluruhan.
“Hampir semuanya akan berfungsi kembali jika Anda mencabutnya selama beberapa menit, termasuk Anda.” – Anne Lamott