Bisnis.com, BANDA ACEH - Pangsa pasar bank syariah di Indonesia masih kecil. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat market shareperbankan syariah nasional per Agustus 2024 hanya 7,33%.
Direktur Syariah CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara menyoroti tidak ada pertumbuhan signifikan pangsa pasar perbankan syariah dalam lima tahun terakhir, yakni hanya dari 5% ke 7%. Namun, di pemerintahan baru Presiden Prabowo ini dia percaya akan ada pertumbuhan yang lebih tinggi dalam lima tahun ke depan.
"Kalau menurut saya ya, sekarang lima tahun terakhir ini, kita kan tambah kurang lebih 2%. Lima tahun ke depan, minimum harus [jadi] 10%, bisa. Menurut saya, yang konvensional juga tetap tumbuh," kata Pandji saat ditemui di Aceh, Jumat (25/10/2024).
Optimisme itu dia nilai dari keseriusan Prabowo menggarap pasar syariah, yang Pandji lihat berupa posisi-posisi strategis di Kabinet Merah-Putih. Seperti adanya posisi Penasihat Khusus Presiden Urusan Haji, Badan Penyelenggara Haji, hingga Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal.
"Kita punya namanya nanti se-level menteri, ia mengurusi mengenai halal. Kalau namanya halal itu, kalau dari kacamata ekonomi kan dengan syariah," kata Pandji.
Dia berharap posisi strategis di kabinet Prabowo tersebut bisa berdampak kepada kebijakan yang banyak melibatkan industri perbankan syariah di Indonesia.
"Jadi kita lihat bahwa ada kecenderungan pemerintah juga untuk lebih meningkatkan lagi. Sebetulnya infrastrukturnya sudah ada. Produk-produk barunya juga sudah ada. Hanya mungkin kemarin [periode Jokowi] itu masih dalam rangka persiapan, pembentukan produk baru, segala macam. Jadi mustinya lima tahun ke depan ini lepas landas," tegasnya.
Secara potensi Pandji melihat peluang penetrasi perbankan syariah di dalam negeri masih terbuka luas, meski secara nilai masih jauh dibanding bank konvensional. Hal itu menurutnya karena pertumbuhan bank syariah lebih tinggi daripada bank konvensional.
Penyaluran pembiayaan perbankan syariah per Agustus 2024 tumbuh 11,65% yoy menjadi Rp620,33 triliun. Sementara itu, aset perbankan syariah juga meningkat sebesar 10,4% yoy menjadi Rp902,39 triliun. Serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang juga tumbuh 11,43% yoy menjadi sebesar Rp705,18 triliun.
"Tapi masalahnya yang selalu dilihat orang adalah walaupun kita sudah tumbuhnya dua digit, ternyata market share-nya lima tahun terakhir ini tumbuhnya hanya dari sekitar 5% ke 7%, kan. Jadi, enggak kelihatan naik tinggi, walaupun secara absolute amount-nya sebenarnya naiknya tinggi," pungkasnya.
Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) optimistis pertumbuhan kredit dapat mencapai 10%-12% pada akhir 2024 didukung oleh sejumlah segmen.
Direktur Keuangan BBNI Novita Widya Anggraini mengatakan perseroan akan menumbuhkan kredit dengan fokus pada dua segmen bisnis yang sehat, yakni korporasi dan konsumer.
“Tentunya juga kita menguatkan peran dari perusahaan anak. Dengan manajemen likuiditas yang baik ini tentunya kami optimis akan dapat mencapai pertumbuhan kredit di kisaran 10-12% di akhir 2024,” katanya dalam Konferensi Pers Kuartal III/2024.
Kemudian, lanjutnya peluang pertumbuhan bisnis juga terlihat dari membaiknya proyeksi pertumbuhan PDB yang sesuai dengan visi dari pemerintah baru dengan memfokuskan pada sektor-sektor prioritas seperti hilirisasi, ketahanan energi dan pangan serta mendukung program perumahan.
“Sehingga di tahun 2025 tentunya kita proyeksikan pertumbuhan kredit lebih baik dibanding tahun 2024,” katanya.
Adapun, kinerja intermediasi BNI tumbuh positif dan seimbang, sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional yang semakin membaik.
Hal ini tercermin dalam penyaluran kredit yang tumbuh 9,5% YoY menjadi Rp735 triliun hingga September 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh segmen korporasi yang mencatat kenaikan sebesar 15,1% YoY menjadi Rp409,2 triliun.
Selain itu, segmen konsumer secara keseluruhan mencatat pertumbuhan 14,6% YoY menjadi Rp137 triliun, dengan kredit personal (payroll) dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai pendorong utama.
Tahun ini untuk segmen menengah dan kecil masih difokuskan dalam hal perbaikan credit underwriting sehingga kedua segmen ini akan siap menjadi diversifikasi pertumbuhan kredit BNI tahun depan.
Lebih lanjut, Novita menuturkan anak Perusahaan BNI, seperti BNI Finance, telah menjadi mesin pertumbuhan baru. Salah satu contohnya adalah kolaborasi antara BNI dan BNI Finance dalam pembiayaan bersama (joint financing) untuk meningkatkan kredit segmen consumer, terutama untuk produk Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).
Kerja sama ini menghasilkan pertumbuhan yang baik, dengan penyaluran KKB mencapai Rp1 triliun per September 2024, naik dibandingkan periode 2023. “Ini sesuai dengan strategi BNI untuk memperkuat sinergi antar anggota Grup BNI,” katanya.
Sebagai hasil dari akselerasi kredit pada segmen berisiko rendah, kualitas aset BNI terus membaik, ditandai dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang berada pada level 2% pada kuartal III/2024.
“Kredit berisiko atau Loan at Risk [LaR] membaik menjadi 11,8%, sehingga Cost of Credit [CoC] dapat dijaga di angka 1%. Beban provisi juga turun sebesar 19,7% YoY menjadi Rp5,4 triliun,” katanya.
Tak hanya itu, penyaluran kredit BNI yang sehat juga didukung oleh pertumbuhan dana murah, di mana per September 2024, CASA BNI mampu tumbuh 5,5% YoY terutama ditopang oleh tabungan yang mampu tumbuh solid 7,4% YoY.
OJK dorong daya saing dan kontribusi perbankan syariah melalui inovasi produk, serta dukungan keuangan berkelanjutan dan sosial sesuai agenda SDGs [1,199] url asal
Bisnis.com, BANDA ACEH - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendukung pengembangan dan penguatan industri perbankan syariah nasional dengan meningkatkan ketahanan dan daya saing, serta kontribusinya bagi pembangunan sosial dan ekonomi nasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae pada puncak Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah 2024 di Banda Aceh menyampaikan bahwa sesuai dengan konsep transformasi perbankan syariah pada Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023-2027, perbankan syariah didorong untuk memiliki karakteristik yang kuat dengan memberikan dampak positif pada kesejahteraan masyarakat.
“Kita akan terus mengawal transformasi perbankan syariah untuk bergerak maju dari perbankan syariah yang bersifat alternatif dari bank konvensional (Shari’ah-compliant Banking), menuju perbankan syariah yang memiliki keunikan model bisnis dan juga memberikan socio-economic impact (Shari’ah-based Banking),” kata Dian, Jumat (25/10).
Menurutnya, untuk mendukung program pemerintah dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, perbankan syariah harus berperan lebih dominan.
Berdasarkan data OJK, kondisi perbankan syariah saat ini mencerminkan kondisi yang terjaga stabil dan menunjukkan pertumbuhan yang positif. Aset, Pembiayaan, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah masih melanjutkan catatan double digit growth. Per Agustus 2024, aset tumbuh sebesar 10,37 persen year on year (yoy) menjadi Rp902,39 triliun.
Sementara itu, pembiayaan tumbuh sebesar 11,65 persen yoy menjadi Rp620,33 triliun dan DPK juga tumbuh 11,42 persen yoy menjadi Rp705,18 triliun. Di samping itu, ketahanan perbankan syariah tetap kuat, tercermin dari permodalan (CAR) yang berada di level 25,6 persen. Ketahanan ini juga didukung oleh kualitas pembiayaan yang baik dan profitabilitas yang stabil.
Lebih lanjut, Dian menambahkan dalam jangka pendek, selama tahun 2024-2025, OJK mengarahkan fokus pengembangan perbankan syariah pada lima area yaitu konsolidasi bank syariah, pembentukan Komite Pengembangan Keuangan Syariah, penyusunan pedoman produk dan pengembangan keunikan produk, penguatan peran perbankan syariah pada ekosistem ekonomi syariah, dan peningkatan peran bank syariah pada pengembangan UMKM.
Pada kegiatan ini, Dian juga meluncurkan tiga pedoman produk perbankan syariah yaitu:
Pedoman Produk Pembiayaan Mudarabah;
Pedoman Implementasi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) dengan Akad Mudharabah Muqayyadah; dan
“Peluncuran pedoman produk ini merupakan bentuk konkrit dukungan OJK dalam mengembangkan keunikan dan diferensiasi produk perbankan syariah untuk menguatkan daya saing perbankan syariah nasional,” ujar Dian.
Saat ini telah terdapat beberapa bank syariah yang telah mengimplementasikan CWLD, yaitu KB Bank Syariah, Bank Riau Kepri Syariah, Bank BJB Syariah, UUS Bank Jatim, dan BPRS Hijra Alami.
Sementara itu, beberapa bank syariah yang sedang dalam proses pengembangan CWLD, yaitu Bank Syariah Indonesia, Bank NTB Syariah, Bank Aceh Syariah, UUS Bank Sumselbabel, UUS Bank Nagari, BPRS Artha Madani, BPRS Barokah Dana Sejahtera, dan BPRS Baktimakmur Indah.
Kegiatan yang mengusung tema “Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah Membangun Negeri” ini dihadiri oleh Pj. Gubernur Aceh Safrizal Zakaria Ali, pimpinan perbankan syariah dan direktur utama bank induk konvensional sebagai bentuk dukungan OJK untuk mengembangkan ekonomi Aceh melalui peran perbankan syariah.
“Saya mengajak seluruh pelaku industri perbankan dan keuangan syariah untuk dapat terus menjadi katalisator dan pendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh,” tambah Dian.
Pj. Gubernur Aceh Safrizal pada kesempatan tersebut menyambut baik atas dukungan yang selama ini diberikan OJK terhadap pengembangan perbankan syariah.
“Mudah-mudahan sektor perbankan syariah terus maju dan berkembang, dan kami sendiri Pemerintah Daerah akan terus memperbaiki pranata dan ketentuan yang diberlakukan kepada ekonomi syariah. Kami telah banyak punya aturan-aturan di antaranya Qanun Aceh Nomor 11 tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah yang memberikan landasan hukum yang kuat bagi perkembangan perbankan syariah,” tambahnya.
Kegiatan Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah 2024 di Banda Aceh juga didukung oleh rangkaian kegiatan lain (side events) yaitu Sharing Session Peran Perbankan Syariah dalam Keuangan Berkelanjutan, Sosialisasi Pedoman Produk Perbankan Syariah, dan Sarasehan Perbankan Syariah. Ketiga kegiatan ini merupakan bentuk implementasi program kerja RP3SI.
Sharing Session Peran Perbankan Syariah dalam Keuangan Berkelanjutan
Sharing session ini merupakan salah satu implementasi pilar ketiga RP3SI untuk meningkatkan peran perbankan syariah dalam keuangan berkelanjutan.
Acara yang dibuka oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae tersebut, menghadirkan narasumber Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK Eddy Manindo Harahap, Senior Advisor Oliver Wyman Felia Salim, dan Kepala Program Studi Master of Finance in Sustainable Finance Universitas Islam Internasional Indonesia Rizky Wisnoentoro yang memaparkan pandangan terkait sustainable finance baik dari sisi regulasi, implementasi, maupun relevansinya dengan perbankan syariah.
“Kami ingin bank syariah menjadi center of excellence di sektor keuangan, yang bisa memberikan layanan keuangan berprinsip syariah yang lebih inklusif, beretika, dan memberikan kemaslahatan bagi umat,” kata Dian.
Lebih lanjut Dian menyampaikan bahwa harapan ini sejalan dengan agenda SDGs yang juga secara umum bertujuan untuk menjaga keberlanjutan kehidupan dan kesejahteraan manusia.
Tidak hanya kontribusi dari peningkatan pembiayaan di sektor ramah lingkungan, Dian mendorong bank syariah untuk melakukan inovasi untuk mengatasi isu-isu sosial, seperti ketimpangan dan lower middle income trap.
Hal ini mendorong peran bank syariah yang lebih holistik dalam mendukung implementasi ESG, tidak hanya pada aspek environment, tapi juga di aspek social dan economy.
Forum yang dihadiri oleh pucuk pimpinan BUS, UUS, dan pimpinan bank induk konvensional ini menjadi sarana membuahkan pemahaman, pemikiran baru, dan konsep yang dapat diimplementasikan di industri perbankan syariah, terutama untuk meningkatkan perannya pada keuangan berkelanjutan.
Sosialisasi Pedoman Produk Perbankan Syariah
Sosialisasi pedoman produk perbankan syariah ini merupakan kegiatan penting untuk mendukung penguatan karakteristik perbankan syariah melalui keunikan produk sebagaimana tertuang dalam RP3SI.
Kegiatan yang dibuka oleh Pj. Gubernur Aceh Safrizal Zakaria Ali ini diselenggarakan oleh Bank Aceh Syariah di Pendopo Gubernur Aceh dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman pimpinan dan pejabat Bank Aceh terkait implementasi produk Cash Waqf Linked Deposit (CWLD).
Pada kesempatan ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa daya saing perbankan syariah harus dengan serius diperhatikan agar bisa bertransformasi menuju suatu diferensiasi dan keunikan di industri perbankan secara umum.
Perbankan syariah diarahkan agar menghindari persaingan yang langsung (head-to-head competition) dengan perbankan konvensional yang notabene sudah lebih mapan.
Dalam upaya mendukung keunikan produk syariah tersebut, OJK telah mengembangkan CWLD sebagai produk bank syariah yang berbasis wakaf uang temporer.
CWLD memberikan kesempatan bagi nasabah untuk mewakafkan uangnya dalam bentuk deposito yang pokoknya akan kembali setelah jangka waktu wakaf berakhir. Adapun bagi hasil deposito ini dapat langsung disalurkan untuk penerima manfaat wakaf.
CWLD diharapkan dapat menjadi produk unggulan perbankan syariah yang dapat membantu pengembangan ekonomi daerah dengan mengintegrasikan wakaf uang dalam produk bank syariah. Produk ini juga merupakan bentuk dukungan OJK untuk mengembangkan wakaf uang di Indonesia, sekaligus meningkatkan sinergi perbankan syariah dalam mengembangkan ekosistem ekonomi syariah.
Sarasehan Perbankan Syariah
Masih pada kesempatan yang sama, dilaksanakan juga kegiatan sarasehan perbankan syariah yang diinisiasi oleh Asbisindo, berlokasi di Landmark BSI Aceh.
Forum sarasehan ini dihadiri oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK beserta jajarannya, pimpinan BUS, UUS, dan pimpinan bank induk konvensional, serta perwakilan pengusaha Aceh.
Kegiatan ini merupakan forum koordinasi antara regulator, industri perbankan syariah, dan pelaku usaha untuk bertukar pikiran meningkatkan perannya dalam pengembangan perbankan syariah sekaligus membangun ekonomi Aceh.
“Forum ini menjadi ajang berdiskusi terkait evaluasi implementasi RP3SI, arah pengembangan, peluang dan tantangan ke depan,” buka Dian.
Koordinasi dan kerja sama yang telah dan akan dilakukan OJK bersama seluruh pemangku kepentingan merupakan bentuk dukungan industri perbankan syariah dan regulator untuk dapat semakin berkontribusi pada perekonomian nasional guna mencapai tujuan kemaslahatan masyarakat, sebagaimana tercantum dalam visi RP3SI.
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo atau Bank Sulutgo (BSG) telah menyalurkan kredit Rp16 triliun pada kuartal III/2024. Capaian ini membuat penyaluran kredit perusahaan naik 9,88% secara tahunan (year on year/yoy).
Aset pun naik 8,9% yoy menjadi Rp21,51 triliun pada kuartal III/2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp19,75 triliun.
Alhasil, dengan pertumbuhan bisnis kredit ini pun memberikan hasil kepada perusahaan dengan catatan laba bersih Rp176,19 miliar pada September 2024.
Berdasarkan publikasi di Harian Bisnis Indonesia pada Jumat (25/10/2024), pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perusahaan tercatat menjadi Rp949,66 miliar pada kuartal III/2024, naik tipis 0,18% yoy dari sebelumnya Rp947,92 miliar pada kuartal III/2023.
Pertumbuhan laba juga didorong oleh pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang mencapai Rp77,89 miliar pada September 2024, naik signifikan hingga 34,73% yoy dari sebelumnya Rp57,82 miliar pada September 2023.
Sementara, kualitas aset membaik dilihat dari rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross yang mengalami penyusutan menjadi 2,41% pada September 2024 dari sebelumnya 2,73% pada September 2023. Lalu, NPL net juga berada pada level 1,27% dari sebelumnya 1,51%.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Bank Sulutgo juga tercatat mencapai 6,6% per September 2024 dengan tingkat pengembalian aset alias return on asset (ROA) sebesar 1,39% dan tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) sebesar 13,69%.
Selanjutnya, di sisi pendanaan, Bank Sulutgo telah meraup dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp16,69 triliun pada kuartal III/2024, tumbuh 7,19% yoy dari sebelumnya Rp15,57 miliar. Lalu, dana murah atau current account saving account (CASA) juga tumbuh 2,04% yoy menjadi Rp5,16 triliun dari sebelumnya Rp5,06 triliun.
Bisnis.com, JAKARTA - Kelahiran bank syariah besar selain PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI terus dinantikan. Pasalnya, saat ini pasar perbankan syariah dinilai tidak ideal dengan dominasi BSI.
Bank syariah dengan ticker BRIS menjadi penguasa pasar perbankan syariah Indonesia dengan aset senilai Rp360,85 triliun pada kuartal II/2024. Saat ini, terdapat 13 bank umum syariah (BUS) dan 20 unit usaha syariah (UUS) yang beroperasi di Indonesia.
Bisnis.com, JAKARTA - PT Federal International Finance (FIF Group), anak usaha PT Astra International Tbk. (ASII) telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp34,1 triliun hingga kuartal III/2024.
Direktur FIF Group, Daniel Hartono mengatakan perseroan mencatatkan kinerja positif pada periode Januari-September 2024, yang tecermin dari kenaikan laba bersih maupun penyaluran pembiayaan.
“Kalau dilihat dari sisi laba bersih kami naik 8,8% dibandingkan tahun lalu. Jadi, sampai kuartal III/2024 laba bersih kami mencapai Rp3,3 triliun,” jelas Daniel di Jakarta, Jumat (25/10/2024).
Lebih lanjut dia mengatakan, nilai penyaluran pembiayaan perseroan mencapai Rp34,1 triliun, atau meningkat 7,1% secara year-on-year (yoy). Peningkatan ini juga seiring dengan kenaikan jumlah unit yang dibiayai, yang mencapai 2,4 juta unit, atau naik 1,4% yoy.
Secara terperinci, capaian itu disumbang dari lima lini bisnis utama perseroan, yakni FIFASTRA, SPEKTRA, DANASTRA, FINATRA, dan AMITRA.
Porsi paling jumbo yakni FIFASTRA, yang menyediakan layanan pembiayaan sepeda motor Honda sebesar Rp22,3 triliun per kuartal III, atau naik 10,2% yoy. Adapun, peningkatan jumlah unit yang dibiayai mencapai 1,3 juta unit, alias naik 5,8% yoy.
Perlu diketahui, FIF Group melayani pembiayaan seluruh model sepeda motor PT Astra Honda Motor (AHM), termasuk motor listrik Honda CUV:e dan Honda ICON:e.
Selanjutnya, lini bisnis SPEKTRA, yang menyediakan layanan pembiayaan alat elektronik, gadget, dan perabot rumah tangga mengalami penurunan nilai penyaluran pembiayaan sebesar 9,7% (yoy) menjadi Rp315 miliar, akibat dominasi tren pembelian secara online.
Kemudian, DANASTRA, yang menyediakan layanan pembiayaan multiguna, hingga kuartal III/2024 tercatat mengalami peningkatan nilai penyaluran pembiayaan menjadi Rp10,3 triliun dengan kenaikan sebesar 3,1% yoy. Meskipun secara unit yang dibiayai mengalami penurunan sebesar 2,6% yoy menjadi 1,04 juta unit.
Di lain sisi, FINATRA, yang menawarkan pembiayaan mikroproduktif bagi UMKM, mengalami penurunan penyaluran pembiayaan sebesar 13,5% yoy menjadi Rp727 miliar, dengan persaingan dari perbankan sebagai tantangan utama.
Tak ketinggalan, portofolio AMITRA, yang menyediakan pembiayaan syariah untuk Umrah dan Haji Reguler, mencatatkan peningkatan penyaluran pembiayaan sebesar 12,2% yoy menjadi Rp416 miliar, dengan peningkatan jumlah unit yang dibiayai sebesar 4,3% (yoy) hingga kuartal III/2024.
Adapun, FIF Group juga membukukan peningkatan Net-Service Asset (NSA) sebesar 14,6% yoy menjadi Rp44,9 triliun hingga kuartal III/2024.
"Selain itu, kami mempertahankan rasio Non-Performing Finance [NPF] di level 0,02% pada kuartal III/2024, yang menandakan perusahaan kami cukup sehat," pungkas Daniel.
Sebagai tambahan informasi, FIF Group kembali menjadi Platinum Sponsor pada gelaran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2024 di ICE BSD, Tangerang pada 31 Oktober hingga 3 November 2024. Perseroan membidik target transaksi hingga Rp6,8 miliar atau setara 300 surat pemesanan kendaraan (SPK) sepeda motor di IMOS 2024.
Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) memproyeksikan kinerja bisnis perseroan bakal terdongrak pada kuartal IV/2024 didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil dan penurunan BI rate.
Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di kisaran 5% hingga kuartal III/2024, serta penurunan BI rate sebesar 25 basis poin pada September 2024 diproyeksikan atau berlanjut hingga kuartal IV/2024 bahkan 2025.
“Sehingga di tahun 2025 kita proyeksikan BI Rate itu berada di kisaran 4,75% sampai 5%. Kemudian kalau kita lihat juga secara kinerja keuangan kuartal III/2024 ini, BNI juga menunjukkan hasil yang positif,” ujarnya dalam Konferensi Pers Kuartal III/2024, Jumat (25/10/2024).
Tercatat, net interest margin (NIM) BNI mencapai 4,4% dan biaya dana alias cost of fund terjaga tetap rendah sebesar 2,6%.
Menurutnya, ini semua berkat strategi pengelolaan likuiditas yang lebih efisien termasuk pemanfaatan insentif dari giro wajib minimum serta fokus pada dana retail.
Kemudian, strategi pengelolaan likuiditas yang optimal ini memungkinkan BNI untuk meningkatkan likuiditas dengan mengurangi dana-dana yang sifatnya dana mahal.
Dengan demikian, efisiensi ini tercermin pada penurunan cost of fund. “Proyeksi kami ke depan untuk cost of fund ini tentunya kita jaga tetap efisien dan kalau kita lihat quarter on quarter, NIM juga mulai menunjukkan perbaikan di angka 4,4%. Ini kita harapkan ke depan juga kita masih jaga di 4,4% secara quarterly,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, BNI membukukan laba bersih konsolidasi senilai Rp16,3 triliun pada kuartal III/2024. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, laba ini tumbuh 3,5% secara tahunan (YoY) dari Rp15,75 triliun pada kuartal III/2023.
Berdasarkan presentasi perusahaan, pada sembilan bulan ini BBNI tercatat menyalurkan kredit senilai Rp735,02 triliun, naik 9,5% YoY dari Rp671,37 triliun. Seiring dengan kenaikan kredit, aset pun ikut terkerek menjadi Rp1.068,08 triliun pada September 2024 naik 5,8% yoy dari Rp1.009,31 triliun pada September 2023.
Sementara itu, himpunan dana pihak ketiga alias DPK mencapai Rp769,74 triliun pada kuartal III/2024 tumbuh 3% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp747,59 triliun pada kuartal III/2023.
Akan tetapi, BNI masih membukukan penyusutan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 5,5% yoy menjadi Rp29,44 triliun pada kuartal III/2024 dari sebelumnya Rp31,16 triliun pada kuartal III/2023.
Penyusutan NII disebabkan beban bunga yang membengkak 35,3% yoy menjadi Rp19,4 triliun dari sebelumnya Rp14,34 triliun. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank pun susut menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,6%.
Meski begitu, laba bank terdorong oleh pendapatan nonbunga alias noninterest income yang tumbuh 15,1% yoy menjadi Rp16,84 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp14,63 triliun.
Bisnis.com, BANDA ACEH - Kanal digital dinilai akan menjadi jalur baru perusahaan asuransi meningkatkan pendapatan premi. Saat ini, jalur distribusi ini baru memberikan kontribusi 0,09%, atau Rp81,9 miliar dari total pendapatan premi asuransi jiwa di semester I/2024 sebesar Rp88,49 triliun.
Ketua Bidang Produk, Manajemen Risiko dan GCG Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Fauzi Arfan mengatakan peran insurance technology (insurtech) di industri asuransi jiwa sebagai saluran pemasaran semakin penting. Meski demikian, dibutuhkan peningkatan literasi dan inklusi terlebih dahulu sebelum dapat meraup premi lebih besar.
"Oleh karena itu, pengembangan ekosistem yang lebih baik, serta kolaborasi antara perusahaan asuransi tradisional dan insurtech dianggap penting untuk memperkuat posisi insurtech di pasar asuransi jiwa," kata Fauzi kepada Bisnis, Rabu (24/10/2024).
Sebagai upaya menjemput bola, Fauzi menjelaskan perusahaan asuransi jiwa bisa mengembangkan produk yang inovatif bersama dengan insurtech melalui pemanfaatan teknologi untuk menciptakan solusi yang lebih relevan dan menarik bagi para pemegang polis.
Sementara dalam hal memperkuat ekosistem lintas industri, AAJI menggandeng Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengadakan acara Insurtech Forum 2024. "Strategi dalam memperluas kontribusi insurtech di sektor industri asuransi jiwa juga diperlukan program edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya asuransi jiwa, terutama melalui kanal digital. Literasi keuangan harus ditekankan dengan edukasi dan sosialisasi," pungkasnya.
Bisnis.com, BANDA ACEH - Kanal digital dinilai akan menjadi jalur baru perusahaan asuransi meningkatkan pendapatan premi. Saat ini, jalur distribusi ini baru memberikan kontribusi 0,09%, atau Rp81,9 miliar dari total pendapatan premi asuransi jiwa di semester I/2024 sebesar Rp88,49 triliun.
Ketua Bidang Produk, Manajemen Risiko dan GCG Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Fauzi Arfan mengatakan peran insurance technology (insurtech) di industri asuransi jiwa sebagai saluran pemasaran semakin penting. Meski demikian, dibutuhkan peningkatan literasi dan inklusi terlebih dahulu sebelum dapat meraup premi lebih besar.
"Oleh karena itu, pengembangan ekosistem yang lebih baik, serta kolaborasi antara perusahaan asuransi tradisional dan insurtech dianggap penting untuk memperkuat posisi insurtech di pasar asuransi jiwa," kata Fauzi kepada Bisnis, Rabu (24/10/2024).
Sebagai upaya menjemput bola, Fauzi menjelaskan perusahaan asuransi jiwa bisa mengembangkan produk yang inovatif bersama dengan insurtech melalui pemanfaatan teknologi untuk menciptakan solusi yang lebih relevan dan menarik bagi para pemegang polis.
Sementara dalam hal memperkuat ekosistem lintas industri, AAJI menggandeng Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengadakan acara Insurtech Forum 2024. "Strategi dalam memperluas kontribusi insurtech di sektor industri asuransi jiwa juga diperlukan program edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya asuransi jiwa, terutama melalui kanal digital. Literasi keuangan harus ditekankan dengan edukasi dan sosialisasi," pungkasnya.
Bank Raya (AGRO) mencetak laba Rp39,9 miliar pada kuartal III/2024, tumbuh 130,93% YoY sekaligus melanjutkan tren pertumbuhan di atas 100% di 3 kuartal terakhir [58] url asal
Bisnis.com, JAKARTA -- Harga saham PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) tergolong murah jika dibandingkan dengan bank digital lainnya. Menariknya, bank digital milik BRI telah empat kuartal mencetak pertumbuhan laba di atas 100%.
Pertumbuhan laba di atas 100% itu seakan mengamini sejumlah strategi yang telah dilakukan perseroan pada beberapa tahun terakhir. Lantas bagaimana AGRO menyiapkan pertumbuhan yang berkelanjutan?
Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Panin Tbk. (PNBN) membukukan laba bersih senilai Rp2,30 triliun hingga kuartal III/2024.
Pada periode yang sama, aset konsolidasi Bank Panin tercatat senilai Rp230,6 triliun, tumbuh 3,86% secara tahunan. Pertumbuhan aset dan raihan laba hingga akhir September 2024 itu didorong oleh penyaluran kredit senilai Rp149,02 triliun, naik 0,35% dibandingkan dengan akhir Desember 2023.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan kuartal III/2023, laba PNBN mengalami koreksi 18,98%. Pada September tahun lalu, laba perseroan mencapai Rp2,83 triliun.
Presiden Direktur PaninBank Herwidayatmo mengatakan kenaikan suku bunga yang terjadi selama tahun 2024 telah menyebabkan turunnya margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi 4,44%. Level NIM ini menurun dari 5,06% pada kuartal III/2023.
Hal ini disebutkan sebagai faktor yang menekan kemampuan bank membukukan laba. "Di samping itu, hingga kuartal III tahun 2024 Bank Panin membukukan biaya penyisihan penghapusan kredit sebesar Rp902,99 miliar," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (25/10/2024).
Adapun, pertumbuhan kredit Bank Panin didukung segmen Ritel, khususnya KPR yang naik 6,47% serta segmen Komersial yang naik 3,84%. Dengan pertumbuhan tersebut porsi kredit Ritel dan Komersial kini mencapai 56,43% dari total kredit dan sisanya segmen Korporasi.
Posisi likuiditas PNBN terjaga dengan baik dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 5,41% dan telah mencapai Rp153,08 triliun dengan rasio dana murah atau CASA mencapai 42,99%.
Pada awal Oktober 2024 Bank Panin berhasil menyelesaikan Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan IV Bank Panin Tahap II Tahun 2024, dengan jumlah Pokok Obligasi yang diterbitkan sebesar Rp3,91 triliun.
Seluruh dana hasil penerbitan Obligasi Berkelanjutan tersebut, setelah dikurangi biaya-biaya Emisi, akan dipergunakan untuk modal kerja dalam rangka pengembangan usaha terutama dalam pemberian kredit.
Dari sisi permodalan terus ditingkatkan dan telah mencapai Rp52,2 triliun dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 34,08%. Rasio likuiditas Loan-to-Deposit Ratio (LDR) berada pada posisi optimum sebesar 91,78% pada September 2024.
Untuk kualitas kredit, perseroan mencatatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada level yang aman. NPL gross diturunkan menjadi 3,17% dari periode yang sama tahun 2023 sebesar 3,70%, sedangkan NPL net dijaga pada level 1,09%.
Bisnis.com, JAKARTA - Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi fokus utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sebagai upaya untuk memperkuat ekonomi kerakyatan. Lewat dukungannya pada sektor pertanian, BRI turut melakukan pemberdayaan klaster durian di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Terdapat banyak durian lokal dari Desa Lemahabang, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan yang memiliki kualitas unggul. Ahmad Baehaqi, sebagai Ketua Kelompok Klaster Durian Lemahabang mengatakan, sejak tahun 2020 durian mulai disilangkan dengan jenis premium seperti Bawor, Musang King, Super Tembaga, dan varietas lainnya.
“Upaya persilangan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas durian lokal, baik dari segi rasa, tekstur, maupun daya tahan,” ujarnya saat mengikuti Bazaar UMKM BRILian di Kantor Pusat BRI, pada Jumat (18/10).
Dengan persilangan ini, diharapkan durian dari Desa Lemahabang dapat bersaing di pasar nasional dan internasional, sekaligus meningkatkan pendapatan para petani dan kesejahteraan masyarakat setempat. Hal ini mengingat durian hasil persilangan menjadi salah satu komoditas unggulan yang semakin diminati oleh konsumen.
Klaster Durian Lemahabang yang memiliki anggota sebanyak 70 petani durian ini biasa memanen durian sebanyak tiga kali setahun. Dalam sekali panen bisa mencapai 5 ton, di mana distribusinya terhitung banyak, yakni 7.000 buah durian per hari dengan harga durian yang dibanderol Rp50.000 per kilogram.
“Saat ini, durian di Desa Lemahabang sudah punya pelanggan tetap di Jakarta, Bandung, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, hingga Banyuwangi,” ungkap Baehaqi.
Kesuksesan ini pun tak terlepas dari upaya pemberdayaan BRI. Ia menuturkan, mendapat permodalan KUR BRI untuk modal awal. “Saat itu saya gunakan untuk membeli buah kemudian saya sewa lahan. Alhamdulillah, saat ini saya sudah mempunyai lahan sendiri sebesar 5 hektar,” jelasnya.
Selain itu, Baehaqi mengaku menjadi semakin dikenal lewat bazaar-bazaar UMKM yang ia ikuti. Terbaru, ia pertama kali mengikuti Bazaar di Kantor Pusat BRI dan mendapat kesan impresif. “Sebanyak 400 butir durian dengan berat kira kira 800 kilogram cepat sekali habisnya hanya dalam tiga jam sudah ludes terjual,” ungkapnya.
Ia berharap, pemberdayaan BRI akan terus berlanjut dan bank yang terkenal membantu UMKM ini semakin sukses. “Semoga BRI semakin jaya dan semakin sukses. Ke depan kami berharap bantuan bisa meluas dari sisi budidaya atau edukasi lainnya,” tambahnya.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa BRI memiliki komitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM lewat program Klasterku Hidupku. Hingga nantinya, UMKM yang tumbuh dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha di daerah lain.
"Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya dengan memberikan modal usaha, tetapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya, sehingga UMKM dapat tumbuh dan berkembang,” jelas Supari.