#30 tag 24jam
Pidato di Al Azhar Kairo, Syafruddin: Kita Siapkan Pemimpin Masa Depan Bangsa
ASFA Foundation dan Al-Azhar Mesir Bina Mahasiswa Indonesia kader lembaga Islam. [682] url asal
#syafruddin #asfa-foundation #al-azhar-mesir #beasiswa-asfa #kader-lembaga-pendidikan-islam #anizar #anang-rikza
(Republika - Khazanah) 05/08/24 22:58
v/13463664/
REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Ketua ASFA Foundation Komjen Pol (Purn) Dr. H. Syafruddin Kambo menghadiri Seminar Internasional dan Pembinaan Mahasiswa Indonesia di Al-Azhar Kairo, Jumat (2/8). Dalam acara yang digelar di Capital Palace Hall, Nasr City, H. Syafruddin didaulat menjadi keynote speaker pada Seminar Internasional yang mengupas isu SDM kader lembaga pendidikan Islam.
Seminar internasional itu sekaligus dirangkai dengan pembinaan sekitar 300an mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di Al-Azhar yang mendapatkan beasiswa dari Lazis ASFA. Pembinaan mahasiswa beasiswa ASFA ini rutin digelar dua hingga tiga kali dalam setahun.
Hadir sebagai narasumber antara lain: Rektor Al-Azhar Kairo Prof. Dr. Salamah Daud, Sekjen Lembaga Ulama Senior Al-Azhar dan juga Ketua Umum Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional Prof. Dr. Abbas Shauman, Sekjen Lembaga Riset Islam Al-Azhar Prof. Dr. Nadhir Ayyadh, dan Penasehat Grand Syaikh Al-Azhar untuk Urusan Mahasiswa Asing Prof. Dr. Nahlah As-Suaidi.
Tokoh lain yang juga hadir dalam forum tersebut adalah Wakil Duta Besar RI untuk Mesir Dr Zaim Nasution, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Abdul Muta’ali, Pensosbud Dr. Aming, Pimpinan Pondok Modern Tazakka KH. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D dan Wakil Ketua Lazis ASFA KH. Anizar Masyhadi, M.A.
H. Syafruddin dalam kesempatan itu mengapresiasi peran dan kontribusi Al-Azhar kepada bangsa Indonesia melalui pendidikan dan pembinaan yang berkesinambungan kepada mahasiswa Indonesia selama lebih dari dua abad. Menurutnya, pembinaan kepada sekitar 13 ribu mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang studi di Al-Azhar Kairo bukan hal yang mudah, butuh perhatian besar dan biaya yang besar pula.
"Apa yang sedang kita kerjakan saat ini adalah menabung untuk masa depan bangsa, dimana generasi muda kita bina, kita didik dan kita siapkan untuk 10-20 tahun yang akan datang," kata Wakil Kapolri periode 2016-2018 tersebut.
Dari sekitar 13 ribu mahasiswa Indonesia di Al-Azhar, seribu orang lebih mendapatkan beasiswa penuh dari Al-Azhar yang meliputi transportasi, akomodasi, konsumsi dan uang saku bulanan.
Prof. Salamah Daud mengapresiasi peran ASFA Foundation yang telah ikut berkontribusi kepada Al-Azhar dalam membina, mengarahkan dan membantu mahasiswa Al-Azhar. Kolaborasi seperti ini, menurut Rektor Al-Azhar itu, akan dapat mendorong percepatan pergerakan pendidikan dan pembinaan sehingga dapat menaikkan kualitas lulusan.
Acara pembinaan secara berkala seperti ini sangat penting, kata Prof. Daud. Sebab, dengan begitu para mahasiswa akan senantiasa terikat dan tersambung erat secara ruhiyah dan pemikiran dengan Al-Azhar dan Indonesia. Sehingga dapat meminimalisir pengaruh-pengaruh negatif dari luar.
Apresiasi dan ucapan terima kasih yang sama juga disampaikan oleh Wakil Duta Besar KBRI Kairo Dr. Zaim Nasution. Menurutnya, kehadiran ASFA Foundation melalui program beasiswa kepada ratusan mahasiswa dan juga program-program pembinaan dan pemberdayaan lainnya adalah bentuk nyata dari kepedulian dan keterpanggilan untuk menata kaderisasi bangsa di masa depan.
Prof. Abbas Shauman mengingatkan bahwa perhatian Al-Azhar kepada para mahasiswa adalah hal utama dan sangat prinsipil. Bahkan, di bawah kepemimpinan Grand Syaikh Prof. Dr. Ahmad At-Thayib perhatian itu sangat besar dan fokus. Risalah Al-Azhar yang paling utama adalah dakwah dan pendidikan selama lebih dari 1000 tahun, menyiapkan generasi ulama dan pemimpin umat kepada seluruh dunia.
Di tempat yang sama, Prof. Nahlah mengapresiasi mahasiswa dari Indonesia yang menurutnya memiliki keunggulan dalam bidang akademik dan karakter. “Mahasiswa Indonesia itu pintar dan sangat santun” ujarnya.
ASFA Foundation melalui Lazis ASFA saat ini memberi beasiswa kepada sekitar 300an mahasiswa yang merupakan kader-kader dari pesantren dan kelembagaan pendidikan Islam. Para penerima beasiswa ASFA itu setelah selesai studi wajib kembali ke pesantrennya untuk mengamalkan ilmunya. Beberapa penerima beasiswa yang bukan kader pesantren, maka ia wajib menjalani pengabdian setidaknya selama satu tahun di pesantren-pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang ditunjuk oleh ASFA.
KH. Anizar Masyhadi, M.A menegaskan bahwa beasiswa ASFA diorientasikan sebagai dukungan bagi penguatan kelembagaan pesantren dan lembaga pendidikan Islam melalui program kaderisasi by design. Selama ini banyak beasiswa diberikan kepada individu, sehingga setelah selesai kuliah tidak ada ikatan dengan pesantren atau lembaga pendidikan Islam. Artinya, program beasiswa seperti itu kecil sekali dampaknya kepada pengembangan SDM dan kualitas pendidikan di pesantren dan lembaga pendidikan Islam. “Nah beasiswa ASFA ini berbeda, karena diorientasikan untuk para kader pesantren dan kelembagaan pendidikan Islam” ujarnya.
Sebanyak 1.562 Peserta Lulus Uji Kompetensi Calon Mahasiswa Al Azhar Mesir 2024
Peserta lulus berhak atas rekomendasi Kemenag untuk Al Azhar [422] url asal
#al-azhar-mesir #tes-kompetensi-al-azhar-mesir #beasiswa-al-azhar #universitas-al-azhar-mesir #pengumuman-kompetensi-al-azhar
(Republika - Khazanah) 27/07/24 07:53
v/12394577/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kementerian Agama telah mengumumkan hasil akhir Uji Kompetensi (Ikhtibar Tashfiyah atau Tahdid Mustawa) Calon Mahasiswa Universitas Al Azhar Mesir 2024. Total ada lebih 1.500 calon mahasiswa yang dinyatakan lulus pada uji kompetensi tahun ini.
Uji Kompetensi dilaksanakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Markaz Syekh Zayed li Ta'lim al-Lughah al-'Arabiyyah li Ghayr an-Nathigin Biha. Prosesnya difasilitasi oleh Markaz Al-Azhar Indonesia atau OIAA Indonesia.
"Hari ini kami umumkan 1.562 peserta lulus Uji Kompetensi Calon Mahasiswa Universitas Al Azhar Mesir 2024," terang Plt Dirjen Pendidikan Islam Abu Rokhmad di Jakarta, Jumat (26/7/2024).
"Ada 20 orang sebagai calon penerima beasiswa Al-Azhar 2024/2025, dan 1.542 orang sebagai calon mahasiswa non beasiswa atau mandiri," sambingnya.
Berdasarkan pengumuman tersebut, lanjut Prof Abu Rokhmad, peserta yang dinyatakan lulus uji kompetensi berhak mendapatkan rekomendasi studi dari Kementerian Agama. Tujuannya, untuk memperlancar proses pengurusan dokumen pendaftaran ke Universitas Al-Azhar.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ahmad Zainul Hamdi merinci bahwa ada sejumlah tahapan lanjutan yang harus diikuti peserta. Bagi calon mahasiswa baru yang tidak memiliki ijazah muadalah
(disetarakan dengan SLTA Al-Azhar), atau pernah memiliki ijazah muadalah namun berakhir masa berlakunya, atau memiliki ijazah sebelum TA 2020/2021, harus mengikuti:
a) Program penyiapan kompetensi (i'dad ta'hili), yaitu kelas persiapan mengikuti uji kompetensi penyetaraan (muadalah)
b) Ujian penyetaraan (ikhtibar muadalah), sebagai syarat mendaftar di Universitas Al-Azhar
c) Uji kompetensi level bahasa Arab (placement test/tahdid mustawa)
d) Matrikulasi bahasa berdasarkan hasil uji kompetensi level bahasa Arab
"Bagi calon mahasiswa baru yang memiliki ijazah muadalah yang masih berlaku, dapat langsung mengikuti uji kompetensi level bahasa Arab (placement test/tahdid mustawa) dan matrikulasi bahasa sesuai hasil uji kompetensi level bahasa Arab melalui Markaz Tatwir Taklimil at-Thullab Al- Wafidin wal Ajanib Al-Azhar, untuk selanjutnya akan diberikan rekomendasi studi dari Kementerian Agama Rl guna memperlancar proses pengurusan dokumen pendaftaran ke Universitas Al-Azhar," paparnya.
Tahap berikutnya adalah pemberkasan dan pendaftaran. Calon mahasiswa baru harus menyiapkan semua dokumen yang diperlukan sebagai syarat pendaftaran di Universitas Al- Azhar.
"Berdasarkan kesepakatan antara Kementerian Agama RI dan Al-Azhar Al-Syarif untuk TA 2024/2025, pelaksanaan tahapan-tahapan selanjutnya bagi calon mahasiswa baru yang tercantum dalam pengumuman ini, diberikan tanggung jawabnya kepada Markaz Al-Azhar li Ta'lim al-Lughah al-'Arabiyyah li Ghayr an- Nathiqin Biha/Markaz Al-Azhar Indonesia yang berada di bawah koordinasi Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, dengan supervisi Kementerian Agama RI dan Al-Azhar Al-Syarif," kata dia.
Kuliah Umum di UIN Bandung, Penasihat Grand Syekh Al-Azhar: Islam Hargai Perempuan
Islam menghormati kedudukan perempuan dalam peradaban [633] url asal
#markaz-tathwir #kedudukan-perempuan #keistimewaan-perempuan #islam-menghormati-perempuan #islam-menghargai-perempuan #islam-moderat #al-azhar-mesir #grand-syekh-al-azhar
(Republika - Khazanah) 13/07/24 20:56
v/10670748/
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Kuliah Umum Internasional #2 bertajuk Kepemimpinan Perempuan dalam Islam yang berlangsung di Aula Program Pascasarjana, Kampus II, Jumat (12/7/2024).
Dengan menghadirkan narasumber perempuan pertama Penasihat Grand Syekh Al- Azhar Mesir dan Direktur Markaz Tathwir (Pusat Pengembangan Pelajar dan Mahasiswa Asing Al-Azhar) Nahla Sabry El Seidy, dipandu Siti Sanah, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Arab dan penerjemah Engkos Kosasih.
Dalam sambutannya, Rektor Rosihon Anwar mengucapkan selamat datang kepada Nahla Sabry El Seidy, penasihat Grand Syekh Al-Azhar, Mesir, Ahmad Zainul Hamdi, M Ag sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Abdul Muta'ali, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, Republik Arab Mesir, PSGA UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
"Saya ingin menyebutkan beliau secara khusus karena atase kebudayaan ini adalah lulusan UIN Bandung, Fakultas Syariah dan Hukum, kami sangat berbangga, salah satu alumni kita jadi atase kebudayaan, mudah-mudahan nanti jadi Duta Besar sekalian. Harapanya," jelas Rektor.
Selamat datang di Bandung, tempat Konferensi Asia Afrika, "Ahlan wasahlan di Bumi Pasundan, Kota Bandung diciptakan ketika tuhan sedang tersenyum, daerah lain tidak tahu?" paparnya.
Seminar ini sangat penting untuk memperkuat peran UIN Bandung sebagai pusat penyebaran Islam menuju kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
"Peran dan kepemimpinan perempuan dalam segala aspek kehidupan. PSGA sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mempersipkan kajian ilmiah bersama Prof Nahla Sabry El Seidy, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semuanya," ucap Rosihon.
Sementara itu, dalam paparannya, Nahla Sabry El Seidy mengatakan dalam ajaran Islam kedudukan perempuan dan laki-laki sama kecuali derajat ketaqwaan.
Nahla menegaskan Alquran dan hadis bahwa kedudukan perempuan mendapat apresiasi dalam bentuk al-musawah (persamaan derajat) dalam berbagai level eksistensi, kontribusi, dan partisipasi baik dalam level privat maupun publik.
“Bagaimana perempuan terlibat dalam proses kecerdasan umat, yang mana semua terjadi pada masa Nabi SAW, bahkan perempuan pun diperbolehkan dalam medan pertempuran, dan di luar itu perempuan berperan dalam aspek sosial, politik, ekonomi dan sebagainya,” tegasnya.
Menurutnya, peran perempuan itu sangat vital, sangat strategis untuk mengembangkan kehidupan Islam dalam multi dimensinya.
Syariat Islam menjelaskan berkali-kali bagaimana peran perempuan dalam membangun masyarakat, bahwa perempuan sebagai mitra laki-laki, sebagaimana sabda Rasul SAW, bahwa wanita adalah mitra dari para kaum lelaki.
“Syariat Islam sebenarnya tidak mengenal istilah diskriminasi terhadap wanita, marginilisasi terhadap perempuan, sehingga perempuan dalam syariat Islam adalah unsur pokok akan terjadinya kebangkitan umat,” kata dia.
Dia melontarkan pertanyaan mengapa terjadi kemunduran? Terjadi marginilisasi perempuan? Jawabannya karena dua hal yaitu pertama, tidak komitmen mengikuti prinsip-prinsip agama yang sebenarnya mengagungkan peran perempuan.
Kedua, terjerumus dengan tradisi yang kurang baik, “Yang mendiskriminasikan wanita ini terjadi di beberapa kalangan,” paparnya.
Dia mengatakan, Al-Azhar mempunyai peran dalam merekontruksi pemahaman-pemahaman yang bersifat miskonsepsional. “Terkait bagaimana peran perempuan, Al-Azhar melihat bahwa diskriminasi perempuan atas nama agama adalah dilandasi dengan kebodohan,” kata dia.
Nahla juga memberikan rekomendasi dari kegiatan ini kepada para pimpinan kampus untuk melibatkan lebih banyak partisipasi perempuan dalam pembuatan kebijakan kampus dan memberikan peningkatan kapasitas perempuan dalam penggunaan teknologi.
Sebagai informasi, Kementerian Agama bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar meresmikan pembangunan Markaz Tathwir cabang Indonesia yang diresmikan di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Universitas Al-Azhar adalah kampus pencetak ulama yang memiliki pemahaman Islam moderat dan sebagai benteng Islam moderat yang tertua.
Kerja sama ini semakin meneguhkan hubungan baik antara Indonesia dengan Mesir, antara umat Islam Indonesia dengan umat Islam Mesir, dan antara Kementerian Agama RI dengan Universitas Al-Azhar.
Nahla sangat senang diundang ke UIN SGD Bandung yang memiliki banyak prestasi. Ia mengharapkan kerjasama berkelanjutan salah satunya adalah dengan mengadakan kuliah online antara universitas Al-Azhar dan UIN Bandung terutama dalam bidang pengajaran Bahasa Arab.
Nahla menegaskan bahwa pelajar Indonesia di Mesir memiliki karakter, akhlak yang baik.
Bertemu di Istana, Wapres dan Syekh Al Azhar Sepakat Pentingnya Islam Moderat
Wapres dan Syekh Al Azhar juga setuju perlunya lawan Islamofobia [432] url asal
#grand-syekh-al-azhar #kunjungan-grand-syekh-al-azhar #kisah-grand-syekh-al-azhar #islam-moderat #moderasi-beragama #al-azhar-mesir #al-azhar
(Republika - Khazanah) 11/07/24 12:26
v/10415622/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin dan Grand Syekh Al Azhar Mesir Ahmed Mohamed Ahmed El Tayeb menegaskan bahwa Islam bukanlah agama kekerasan.
Diketahui, Wapres menerima kunjungan Grand Syekh Al Azhar di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Wapres menyoroti pentingnya kerja sama dalam penyebaran Islam wasathiyyah untuk mengatasi tantangan, seperti Islamofobia. Ia menegaskan Islam bukanlah agama kekerasan, melainkan agama yang penuh kasih, toleran, dan menghormati perbedaan.
"Kita perlu menunjukkan kepada dunia bahwa Islam bukanlah agama kekerasan. Sebaliknya, Islam agama yang penuh kasih, toleran, dan menghormati perbedaan," ucap Wapres.
Wapres juga menekankan perlunya pemahaman yang lebih baik terhadap Islam di kalangan non-Muslim, sambil mendesak tindakan tegas terhadap aksi-aksi kebencian terhadap Islam, seperti pembakaran Alquran.
"Kita perlu dorong adanya pemahaman yang lebih baik di antara negara-negara non-Muslim terhadap Islam. Di saat yang sama, kita juga perlu dorong mereka agar bertindak tegas terhadap aksi-aksi kebencian terhadap Islam seperti pembakaran Alquran," kata Wapres.
Senada, Grand Syekh Al Azhar juga menekankan pentingnya menyebarkan ajaran Islam wasathiyyah yang moderat ke dunia Barat untuk menciptakan harmoni antara dunia Barat dan Timur.
"Perlunya kita menyebarkan Islam wasathiyyah yang moderat di kalangan dunia Barat, agar nantinya antara dunia Barat dan dunia Timur kembali bisa berdampingan secara harmonis," ujarnya.
Dia juga menyoroti perlunya memerangi Islamofobia, terutama di kalangan anak muda, serta menyelenggarakan konferensi yang melibatkan tokoh politik dan agamawan untuk memperkuat pesan perdamaian Islam.
"Hubungan yang damai dan harmonis antara umat Islam dan non-Muslim harus dijaga, dan Islam tidak boleh dipandang sebagai agama kekerasan," kata Grand Syekh Al Azhar.
Grand Syekh Al Azhar mengapresiasi berbagai konferensi yang telah diselenggarakan Al Azhar dan organisasi lainnya untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar. Namun ia mengakui bahwa hasil yang diharapkan belum sepenuhnya tercapai.
"Sebenarnya telah banyak sekali konferensi-konferensi dan pertemuan yang diselenggarakan baik oleh Al Azhar terkait dengan isu atau persoalan ini, tetapi sayangnya hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang telah dikeluarkan, hasilnya tidak seperti yang diharapkan," ungkapnya Ahmad Al Tayyeb.
Dia pun mengharapkan adanya konferensi global yang dapat menyuarakan kesepakatan seluruh dunia Islam untuk memperkuat pesan perdamaian dan kebersamaan.
"Karena itu dalam pandangan saya pribadi bahwa yang sekarang perlu diprioritaskan adalah menyelenggarakan sebuah konferensi yang bisa menjadi kesepakatan seluruh dunia Islam sehingga nantinya suara atau pesan yang dikeluarkan dari konferensi ini adalah suara yang mewakili keseluruhan Islam di dunia," tuturnya.
Pertemuan kali ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di Abu Dhabi pada Februari 2024, yang menekankan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan Al Azhar dalam upaya menjaga kedamaian dan mempromosikan pemahaman yang benar tentang Islam di dunia internasional.
Benang Merah Universitas Al Azhar Mesir dan Pesantren Darunnajah
Universitas Al Azhar Mesir menginspirasi sistem pendidikan Pesantren Darunnajah. [453] url asal
#universitas-al-azhar-mesir #al-azhar-kairo #grand-syaikh-al-azhar #grand-syekh #pesantren-darunnajah #universitas-darunnajah #udn
(Republika - News) 11/07/24 00:18
v/10367251/
M Towil Akhirudin; Dosen Universitas Darunnajah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari kamis tanggal 11 Juli 2024, yang bertepatan dengan 5 Muharram 1446 akan menjadi momentum berharga bagi pesantren Darunnajah Jakarta khususnya, dan umat Islam di Indonesia. Hari dimana pesantren akan kehadiran sosok agung dari bumi Kinanah, Mesir. Dia adalah Grand Syaikh Al Azhar Profesor Ahmad Muhammad Ahmad Al Tayib. Beliau seorang ‘alim allamah yang diberikan amanat memangku imam besar Universitas Al Azhar Asy Syarif Kairo Mesir.
Bagi pesantren Darunnajah, silaturahmi dengan Universitas Al Azhar Kairo Mesir bukanlah sebentar. Namun silaturahmi yang telah terjalin sangat lama. Sudah banyak ulama kenamaan yang hadir di pesantren Darunnajah. Sudah banyak pula alumni pesantren ini yang menuntut ilmu di Universitas Al Azhar. Bahkan mereka yang telah menjadi alumni Al Azhar, telah membuktikan amal bakti di tengah-tengah masyarakat. Dan menjadi uswah hasanah bagi siapapun. Hal ini dikarenakan keberkahan dari Universitas Al Azhar dan pesantren Darunnajah.
Salah satu benang merah, dari silaturahmi pesantren Darunnajah dan Universitas Al Azhar adalah wakaf produktif dari hamba-hamba Allah yang saleh. Universitas Al Azhar telah menjadi panutan dari sebuah lembaga wakaf yang telah berusia ribuan tahun. Lembaga ini bermula dari sebuah masjid yang bernama masjid Al Azhar di wilayah Mesir kuno. Lalu berkembang menjadi universitas Al Azhar Asy Syarif. Bahkan terus berkembang hingga saat ini, hingga hari akhir nanti, insya Allah.
Pesantren Darunnajah pun lembaga pendidikan Islam yang berbasis wakaf. Kiai Abdul Manaf Mukhayyar sosok utama dari kehadiran pesantren ini. Beliau memulai wakaf lahan miliknya sejumlah 600 meter. Dia kini telah berkembang menjadi ribuan hektar. Lembaga yang dirintis sejak bangsa Indonesia belum merdeka, yaitu tahun 1942. Lembaga itu berupa Madrasah Al Islamiah. Hingga saat ini telah berdiri pesantren-pesantren dan universitas Darunnajah. Perjuangan Kiai Manaf tidaklah sendiri. Ada sosok lainnya yang turut memperjuangkan lembaga wakaf ini. Kiai Kamaruzzaman dan Kiai Mahrus Amin adalah tokoh sentral dari lembaga ini.
Kiai Manaf berujar idza shirtu ghaniyyan, saaftahu madrasatan makanan. Yang artinya bila aku menjadi orang kaya, maka aku akan membuka madrasah (lembaga pendidikan Islam) gratis. Ujaran inilah yang menjadi motivasi tertinggi dalam pengembangan lembaga wakaf. Karena dengan wakaf, lembaga ini akan terus bermanfaat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Dengan landasan keikhlasan dari wakif dan pejuang-pejuang Darunnajah, lembaga ini terus menyiarkan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Sebagaimana syiar Grand Syaikh Al Azhar Profesor Ahmad Al Tayib di Indonesia.
Saat ini pesantren Darunnajah digawangi dua sosok alim dan saleh. Yang diamanati melanjutkan perjuangan para pendiri. Kiai Sofwan Manaf dan kiai Hadiyanto Arief. Memimpin 22 pesantren bertebaran di bumi nusantara. Dengan beraneka ragam satuan pendidikan. Serta lembaga pendidikan tinggi Universitas Darunnajah. Kiai Sofwan pada saat Khutbatul Arsy Guru-guru menyampaikan; semoga kita yang hadir, dapat melanjutkan perjuangan orang-orang sebelum kita. Begitu harapan beliau sambil terharu.
Singgung Isu Palestina, Grand Syekh Al-Azhar: Rakyat Palestina Dizalimi
Grand Syekh Al-Azhar mengajak untuk peduli Palestina [468] url asal
#grand-syekh-al-azhar #al-azhar-mesir #al-azhar-mesir-moderatisme #perlawanan-palestina #palestina-merdeka #perdamaian-di-palestina #persaudaraan-kemanusiaan
(Republika - Khazanah) 10/07/24 16:46
v/10320672/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Interfaith and Intercivilizational Reception for Grand Imam of Al Azhar Syekh Ahmed El Tayeb diselenggarakan di Ballroom Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Dalam perhelatan forum lintas agama dan peradaban tersebut, Grand Syekh Al-Azhar, Imam Akbar Ahmed El-Tayeb menyampaikan bahwa segala macam perbedaan termasuk perbedaan agama merupakan misi kasih sayang terhadap sesama manusia.
"Allah menghendaki kita berbeda suku, bangsa, ras, bahasa, andai mau, Allah jadikan manusia satu jenis. Tapi Allah tidak menghendaki hal itu dan bahkan menjadikan manusia hidup dengan syariat yang berbeda-beda," kata Grand Syekh Al-Azhar El-Tayeb di Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Grand Syekh Al-Azhar El-Tayeb menerangkan, hal itu secara jelas menunjukkan bahwa penciptaan manusia yang berbeda-beda menjadi prinsip dasar rasa saling menghargai antar sesama umat manusia.
Grand Syekh Al-Azhar El-Tayeb mengutip Surat Al-Hujurat Ayat 13. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahateliti.” (QS Al-Hujurat Ayat 13)
Melalui ayat tersebut, Grand Syekh Al-Azhar El Tayeb mengungkapkan bahwa keberagaman dapat tercipta melalui taaruf (perkenalan). Setelah saling mengenal manusia dapat hidup rukun dan bertoleransi dalam perbedaan karena Islam adalah agama yang bebas.
Dia mengatakan, kebebasan yang dimaksud dalam peradaban Islam adalah umat Muslim memberikan kebebasan bagi umat lain untuk memeluk kepercayaannya tanpa ada paksaan untuk mengikuti agama Islam.
"Islam, memandang pemeluk agama lain dengan pandangan kasih sayang, bukan saling memerangi atau membunuh," ujar Grand Syekh Al-Azhar El-Tayeb.
Selain itu, dikatakan Grand Syekh Al-Azhar El-Tayeb, fakta bahwa Islam bukan hanya risalah yang diberikan untuk Nabi Muhammad SAW menunjukkan Islam sebagai risalah langit untuk umat manusia yang mengajak pada keesaan Tuhan, kemuliaan akhlak, dan menolak kezaliman.
Grand Syekh Al-Azhar El-Tayeb juga mengkritisi permasalahan kemanusiaan di dunia, terutama yang terjadi di Palestina.
"Dalam hal yang disebut tatanan dunia baru, rakyat Palestina merupakan warga yang dizalimi. Saya berharap umat di seluruh dunia dan umat Islam untuk memperhatikan peradaban kemanusiaan," ujarnya.
Dalam pidatonya, Grand Syekh Al-Azhar Al-Tayeb juga menyampaikan bahwa umat Islam perlu aktif menunjukkan kepada dunia citra Islam sebagai agama yang terbuka untuk dialog dan pemahaman.
Menurutnya, banyak persepsi keliru dari beberapa pihak yang menganggap umat Muslim kaku dan radikal. Persepsi ini dilatarbelakangi dengan adanya jurang pemisah pemikiran antara Barat dan Timur yang belum ada upaya serius untuk menjembatani hal itu.
Untuk itu, Grand Syekh Al-Azhar Al-Tayeb berpesan agar kegiatan yang membuka ruang dialog dan pemahaman terus dilakukan secara masif. Hal ini bertujuan agar antara bangsa Barat dan Timur dapat bertemu di pertengahan dengan pandangan saling mengasihi dan menghargai.
Gus Yahya Berterimakasih kepada Al Azhar Mesir Telah Didik Pelajar NU Ilmu Aswaja
Ilmu Al-Azhar sangat berdampak terhadap dakwah kader NU [456] url asal
#grand-syekh-al-azhar #grand-syekh-al-azhar-el-tayeb #al-azhar-mesir #al-azhar #al-azhar-aswaja #ketum-pbnu #yahya-cholil-staquf #pelajar-nu #mahasiswa-al-azhar #aswaja
(Republika - Khazanah) 10/07/24 16:31
v/10320674/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berterima kasih kepada Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, atas perannya yang telah mendidik pelajar NU selama lebih dari satu abad.
"Nahdlatul Ulama harus menyatakan ungkapan terima kasih yang tak terperi atas jasa Al Azhar selama lebih satu abad ini dalam mendidik pelajar-pelajar kami dengan ilmunya para ulama Ahlis Sunnah Wal Jama’ah," ujar Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dalam Interfaith and Intercivilizational Reception for Grand Imam of Al Azhar Syekh Ahmed El Tayeb diselenggarakan di Ballroom Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Pernyataan Yahya tersebut disampaikan dalam Forum Interfaith and Intercivilizational Reception yang dihadiri Grand Syekh Al-Azhar Ahmed El Tayeb di Jakarta.
Gus Yahya, sapaannya, mengatakan ilmu dari para ulama di Al Azhar telah membentuk generasi penyuluh dan pembimbing umat yang tersebar di lingkungan jamaah NU.
"Dengan ilmunya para ulama Ahlis Sunnah Wal Jama’ah menjadi penyuluh-penyuluh dan pembimbing-pembimbing umat sehingga ulama Azhariyyun bertebaran di lingkungan jam’iyyah dan jamaah kami," kata Gus Yahya.
Gus Yahya menegaskan pentingnya peran Syekh El Tayeb dan Al-Azhar dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian global dari dunia Islam, termasuk melalui konsep Islam wasathiyah atau Islam moderat.
Kunjungan ini menegaskan kembali hubungan yang erat antara NU dan Al-Azhar dalam upaya bersama untuk mempromosikan perdamaian, moderasi, dan pemahaman Islam yang inklusif.
"Semua bergembira dan berbahagia menyambut kunjungan Syekh bersama rombongan, dengan penuh rasa terima kasih atas peran Syekh dan Al Azhar dalam menggaungkan seruan-seruan perdamaian global dari arah dunia Islam, antara lain dengan memperkenalkan wacana tentang Islam Wasathiyah," kata Gus Yahya.
Dalam forum tersebut Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayyeb akan bertemu dengan berbagai tokoh agama termasuk Kardinal Suharyo (Katolik), Bhante Pannavaro (Buddha), Gomal Gultom (Protestan), WS Mulyadi Liang (Kong Hu Cu).
Dalam pidatonya, Grand Syekh Al-Azhar El-Tayeb juga menyampaikan bahwa umat Islam perlu aktif menunjukkan kepada dunia citra Islam sebagai agama yang terbuka untuk dialog dan pemahaman.
Menurutnya, banyak persepsi keliru dari beberapa pihak yang menganggap umat Muslim kaku dan radikal. Persepsi ini dilatarbelakangi dengan adanya jurang pemisah pemikiran antara Barat dan Timur yang belum ada upaya serius untuk menjembatani hal itu.
Untuk itu, Grand Syekh Al-Azhar El-Tayeb berpesan agar kegiatan yang membuka ruang dialog dan pemahaman terus dilakukan secara masif. Hal ini bertujuan agar antara bangsa Barat dan Timur dapat bertemu di pertengahan dengan pandangan saling mengasihi dan menghargai.
Dia menyebut segala macam perbedaan termasuk perbedaan agama merupakan misi kasih sayang terhadap sesama manusia.
"Allah menghendaki kita berbeda suku, bangsa, ras, bahasa, andai mau, Allah jadikan manusia satu jenis. Tapi Allah tidak menghendaki hal itu dan bahkan menjadikan manusia hidup dengan syariat yang berbeda-beda," kata Grand Syekh Al-Azhar El Tayeb di Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Hore! Al Azhar Tambah Jumlah Penerima Beasiswa dari Indonesia
Al Azhar University di Mesir akan menambah jumlah beasiswa yang akan diberikan kepada pelajar Indonesia pada tahun ini. [353] url asal
#al-azhar #beasiswa-al-azhar #mahasiswa-indonesia-di-al-azhar #al-azhar-mesir #beasiswa-al-azhar-mesir #jokowi #grand-syekh-al-azhar-ahmed-mohammed-ahmed-al-thayeb
(Bisnis.Com) 09/07/24 17:30
v/10209987/
Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan bahwa Al Azhar University di Mesir akan menambah jumlah beasiswa yang akan diberikan kepada pelajar Indonesia pada tahun ini.
Dia mengatakan hal ini merupakan keputusan Grand Syekh Al Azhar Ahmed Mohammed Ahmed Al-Thayeb usai melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (9/7/2024)
“Grand Syekh mengatakan bahwa Al Azhar telah memberikan 200 beasiswa untuk pelajar Indonesia, dan beliau juga mengatakan bahwa pada tahun ini Al Azhar akan menambah jumlah beasiswa yang akan diberikan kepada pelajar Indonesia,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan.
Dalam pertemuan dengan Grand Syekh, kata Retno, Kepala Negara memang membahas hubungan antara Indonesia dan Mesir, khususnya dalam bidang pendidikan.
Retno menyebut bahwa orang nomor satu di Indonesia itu menggarisbawahi bahwa 95% warga negara Indonesia (WNI) di Mesir merupakan pelajar.
Oleh sebab itu, dia menambahkan bahwa Presiden asal Surakarta itu juga mendorong pembentukan Markaz Tatweer atau pusat pengembangan Al Azhar cabang Indonesia.
“Grand Syekh mengatakan bahwa pelajar Indonesia biasanya rata-rata dan beliau tidak pernah menerima keluhan dari mahasiswa Indonesia, yang berarti beliau mengatakan bahwa karakter dari mahasiswa Indonesia adalah baik," tandas Retno.
Sebelumnya, Wakil Grand Syekh Al Azhar Mohammed Abdel Rahman Ad Duweiny juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin di Istana Wakil Presiden pada Jumat (21/06/2024).
Kepada Wapres, Wakil Grand Syekh Al Azhar menyampaikan para pelajar Indonesia selalu menempati tempat istimewa di hati civitas academica Al-Azhar. Prestasi mereka di berbagai tingkat pendidikan di Al Azhar diakui dan diapresiasi, menjadikan mereka model yang baik dalam mewakili budaya dan kebangsaan Indonesia.
“Pelajar-pelajar Indonesia juga sudah biasa menjadi model bagi negara-negara lain karena selama ini tingkat kelulusan mereka sangat baik, bahkan dalam setiap daftar mahasiswa berprestasi yang lulus di Al Azhar dalam semua tingkatannya, hampir pasti di daftar itu ada satu yang mewakili dari mahasiswa Indonesia baik itu di nomor 1, nomor 2, atau nomor 3,” tuturnya.
Berdasarkan data Kedutaan Mesir di Jakarta, jumlah pelajar Indonesia di Al Azhar yang telah mencapai 15.000 orang, sedangkan, ada sekitar 500 mahasiswa Mesir yang sedang belajar di Indonesia.
Fakta Seputar Grand Syekh Al-Azhar yang Tiba di Indonesia Hari Ini: Tokoh Reformis Humanis | Republika Online
Grand Syekh Al-Azhar Mesir diagendakan di Indonesia 8-11 Juli 2024 [1,120] url asal
#grand-syekh-al-azhar #syekh-al-azhar-ahmed-tayeb #kunjungan-grand-syekh #kunjungan-grand-syekh-al-azhar #al-azhar-mesir #ahmed-el-tayeb
(Republika - News) 08/07/24 07:30
v/10050050/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Grand Syekh Al-Azhar Mesir Prof Dr Ahmed Mohamed Ahmed El Tayeb diagendakan mengunjungi Indonesia. Mulai hari ini, Senin 8 Juli 2024 sampai 11 Juli 2024.
Tokoh kelahiran Desa Al-Qurna, kota Luxor, pada 6 Januari 1946 ini dijadwalkan bertemu dengan tokoh penting dari pejabat pemerintah hingga tokoh lintas agama. Siapakah beliau?
Pendidikan
Besar di desa Al-Qurna dalam bimbingan ayahnya, menghafal Alquran dan matan-matan ilmu turas sesuai dengar metode Al-Azhar. Masuk sekolah agama Al-Azhar di desa Esna dan yang di kota Qena. Melanjutkan kuliah di Jurusan Akidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar di kota Kairo sampai beliau lulus pada 1969.
Beliau rajin menghadiri majelis-majelis para ulama saleh, termasuk majlis Serambi Attayyeb (Sahah At-Thayyeb) yang dipimpin kakeknya untuk penyelesaian sengketa adat.
Hingga saat ini di serambi tersebut, di bawah bimbingan beliau masih menjadi tempat pengaduan para fakir-miskin, bertemunya orang-orang yang saling mencintai karena Allah Swt. dan tempat mempelajari prinsip-prinsip tarbiah, suluk dan hikmah dalam jalan menuju Allah SWT.
Setelah memperoleh ijazah sarjana (License) jurusan Akidah dan Filsafat, beliau ditunjuk sebagai kader dosen di jurusan yang sama dan pada 1969 beliau meraih gelar Master, lalu diangkat sebagai asisten dosen. Meraih gelar Doktor pada 1977 dan diangkat sebagai dosen di Jurusan Akidah Filsafat.
Desember 1977 memperoleh kesempatan tugas akademik di Universitas Paris selama 6 bulan. Menguasai bahasa Perancis dengan sangat baik, menulis dan menerjemah dari bahasa Perancis ke bahasa Arab. Sebagai profesor Madya pada 1982 dan menjadi guru besar pada Januari 1988.
Jabatan
Syekh El Tayeb beberapa kali sebagai dekan yaitu Dekan Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab Putra provinsi Qena, Dekan Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab Putra provinsi Aswan. Juga pernah bertugas sebagai Guru Besar tamu di Universitas Islam Internasional Pakistan, Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud, Riyadh, Universitas Qatar, dan Universitas Al-'Ain, Uni Emirat Arab.
Maret 2002, Grand Syekh dilantik sebagai Mufti Negara Mesir. Saat menjadi Mufti, usia beliau 56 tahun dan menduduki jabatan ini sampai awal September 2003. Selama menjadi Mufti, beliau mengeluarkan sekitar 2835 fatwa yang tercatat dalam dokumentasi Lembaga Fatwa Mesir.
Beliau kemudian ditunjuk menjadi Rektor Universitas Al-Azhar sejak September 2003 sampai Maret 2010, untuk kemudian, pada 2010 itu dilantik menjadi Syekh Al-Azhar menggantikan Prof Muhammad Sayyid Thantawi yang wafat. Beliau menjabat sebagai Syeikh Al-Azhar sampai hari ini.
Reformasi Al Azhar
Syekh Tayeb sebagai Imam Besar dan Syekh Al-Azhar telah melakukan berbagai usaha reformasi untuk dan melalui Al-Azhar. Reformasi yang beliau lakukan lebih luas dari apa yang pernah dilakukan oleh Syekh Muhammad Abduh (1849-1905) untuk Al-Azhar.
Masih dengan merujuk pada buku yang ditulis Al-Yamani Al-Fakhrani, majalah Shout Al-Azhar, pidato yang beliau samapaikan di berbagai seminar, dan pengalaman saya saat tugas sebagai Atdikbud, dapat saya ringkas berbagai program strategis dan inovatif yang telah dilaksanakan Syekh Tayeb, Syekh Al-Azhar untuk melaksanakan reformasi aspek dan persoalan tersebut di atas, antara lain:
1. Terus melanjutkan berbagai upaya pengembangan dan perbaikan kurikulum, sistem pembelajaran, peningkatan kompetensi para dosen dan guru Al-Azhar baik di tingkat Universitas maupun di tingkah dasar dan menengah sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman dan memperoleh pengakuan lembaga penjaminan mutu pendidikan dengan tetap berprinsip al-ashalah wa al-muashirah (klasik dan kontemporer)
2. Mengembangkan dan memperbaiki sisem pembelajaran di Jami (masjid) Al-Azhar, dengan berbagai Ruaq yang ada sebagai sistem pembelajaran non formal
3. Memperbaiki organisasi semua kelembagaan di bawah Al-Azhar, dengan menempatkan orang-orang yang sesuai dan mengembangkan fasilitas modern yang diperlukan;
4. Memperluas pemberian besiswa bagi mahasiswa asing dari berbagai negara untuk dapat kuliah di Universitas Al-Azhar, terutama untuk fakultas-fakultas keagamaan, dan terus membangun sarana dan prasarana untuk mereka
5. Mendirikan Markaz Tatwir al-Wafidin, sebagai pusat pengembangan mahasiswa asing baik dalam hal akademik maupun non akademik, juga dalam penguatan bahasa Arab terutama untuk mahasiswa baru
6. Mengembangkan kurikulum pendidikan dan pelatihan untuk para dai dari luar negeri, dan terus memperluas kesempatan dan fasilitas bagi bagi mereka
7. Memanfaatkan secara maksimal media sosial, untuk memerangi berbagai pemikiran ekstrem dan radikal yang tidak sesuai dengan ajaran keagamaan Al-Azhar yang moderat dan terbuka;
8. Meluncurkan berbagai program di televisi, sosial dan keagamaan, terutama di bulan Ramadan, dengan bahasa yang mudah, sebagaimana juga melibatkan para dosen dan ulama Al-Azhar untuk mengisi berbagai program keagamaan di berbagai siaran televisi dan radio
9. Mengembangkan pusat penerangan Al-Azhar melalui berbagai kerja sama dengan pusat-pusat penerangan baik dalam maupun luar negeri
10. Mendirikan Pusat Observasi dan Fatwa Elektronik (online) dalam berbagai bahasa asing untuk menangkal radikalisme dan ekstremisme dan memberikan jawaban berbagai persoalan dalam perspektif keislaman yang moderat.
11. Mengembangkan portal elektrotnik Al-Azhar yang dapat memberikan kemudahan semua kalangan dapat mengakses berbagai informasi tentang Al-Azahar dengan berbagai kelembagaan yang dimiki dan karya-karya masing-masing
12. Mengembangkan Majalah Shout Al-Azhar, sebagai corong Al-Azhar yang mengangkat berbagai persoalan dunia Islam; tingkat nasional, regional dan global, dan memerangi pemikiran ekstrim, yang dapat disebarkan baik cetak atau online ke berbagai kedutaan besar di Kairo, dan ke semua cabang kantor organisasi alumni Al-Azhar di berbagai belahan dunia
13.Meluncurkan kanal TV Al-Azhar, yang menjadi suara Al-Azhar dalam menyebarkan Islam moderat, perdamain, dialog, dengan melibatkan para ulama dan dai muda Al-Azhar
14. Menerbitkan berbagai buku khusus untuk membetulkan berbagai pemahaman yang salah tentang Islam
15. Mendirikan Pusat Terjemah Al-Azhar, yang menerjemahkan karya-karya keagamaan para ulama Al-Azhar ke dalam berbagai bahasa dunia, terutama bahasa Internasional yang diakui oleh PBB
16. Memberi peluang yang luas kepada para dai muda untuk mengikuti berbagai program pelatihan, terutama dalam memahami sikap keagamaan yang moderat, keterbukaan, dan menolak berbagai pemikiran radikal atau ekstrim;
17. Mendirikan, mengembangkan dan memperkuat Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar, baik yang di pusat maupun yang di berbagai negara
18. Mengadakan berbagai muktamar tingkat dunia yang membahas berbagai persoalan pemikiran Islam, umat Islam di dunia, kemanusian, dialog agama, dan perdamain dunia;
19. Mendirikan dan menjadi ketua pertama yang terpilih untuk memimpin Majelis Orang-Orang Bijak Muslim (Majlis Hukama Al-Muslimin), yang bertujuan untuk memperkuat perdamaian di kalangan Umat Islam, dan
20. Menandatangani Piagam Persaudaraan Manusia untuk Perdamain Dunia dan Koeksistensi, bersama Paus Fransiskus, pemimpin Katolik dunia, di Abu Dabi pada tanggal 4 Februari 2019.
Ahmed El Tayeb, Imam Besar dan Syekh Al-Azhar adalah seorang reformis. Untuk menjadi pribadi reformis, bagi beliau, sesuai dengan tarekat Khalwatiyah yang beliau ikuti, beliau berusaha menjadi pribadi yang soleh dan konsisten, dalam menjalankan ajaran Islam dalam ucapan, praktik dan akhlak.
Terus melakukan reformasi diri baik lahir maupun batin. Reformasi diri itulah yang kemudian menjadi landasan dan awal dari semua usaha reformasi yang telah dan masih beliau lakukan hingga hari ini untuk Al-Azhar, Islam, Umat Islam, dan keseluruhan umat manusia.
Selamat datang di Indonesia, semoga menjadi kunjungan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi kita dan sekalian umat manusia.
Al-Azhar Mesir, Grand Syekh, dan Koeksistensi Umat Beragama | Republika Online
Al-Azhar berperan penting dalam Moderatisme beragama [1,046] url asal
#grand-syekh-al-azhar #grand-syekh-al-azhar-mesir #grand-syekh-al-azhar-kunjungi-indonesia #grand-syekh-al-azhar-ke-indonesia #al-azhar-mesir-moderatisme
(Republika - News) 07/07/24 09:09
v/9947358/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Universitas Al-Azhar merupakah salah satu perguruan tinggi terkemuka dan tertua di dunia. Universitas Al-Azhar berdiri pada 7 Ramadhan 361 H, bertepatan dengan 22 Juni pada 972 M, kini telah memasuki ke-1052 tahun, atau berusia 1084 tahun jika dihitung dari kalender Hijriyah.
Sebelumnya universitas Zaitunah di Tunisia menjadi pemegang rekor universitas tertua di dunia yang berdiri 737 M disusul universitas Al-Qarawiyyin di Maroko yang berdiri tahun 859 M. Ketiga universitas di dunia Arab ini lebih senior dari university of Oxford di Inggris yang berdiri tahun 1096 M, Stanford University berdiri 1885 M, dan Cambridge university 1534 M.
Universitas Al-Azhar didirikan oleh Dinasti Fatimiyah (penganut Syiah Ismailiyah) dipandang sebagai kiblat ilmu dan referensi utama wacana keislaman global. Di Universitas Al Azhar, tidak hanya ilmu agama Islam yang diajarkan melainkan berbagai ilmu lainnya, seperti Filosofy, Science and Technology, Management and Business Administration, Arts, Languages and Humanities, Agriculture, Dentistry and Medicine. Universitas ini memiliki 81 fakultas, 9 institut, 359 jurusan, 42 pusat studi, 6 rumah sakit akademik, dan 27 unit administrasi. Ia juga menjadi pusat studi utama pada ilmu literatur arab dan ilmu keislaman dunia.
Perpustakaannya menjadi yang terpenting karena memuat berbagai buku yang diterbitkan ratusan tahun lalu. Pada setiap tahunnya Universitas Al-Azhar menerima sekitar 30 ribu mahasiswa asing yang datang dari berbagai negara.
Dilihat dari jumlah mahasiswa full-time yang berdasarkan survai Times Higher Education tahun 2022 dari 1799 universitas di 104 negara di dunia jumlah mahasiswa Al-Azhar berjumlah 425.977 mahasiwa sebagai kampus dengan jumlah mahasiswa terbanyak ketiga setelah Tribhuvan University di Nepal dengan 460.632 mahasiwa, dan Payame Noor University di Iran yang menampung 454.155 mahasiswa.
Salah satu kontribusi penting universitas Al-Azhar adalah perspektif moderatisme (wasatiyah) yang diusung, dimana Al-Azhar tidak menyeleksi calon mahasiswa berdasarkan latar belakang paham keagamaan tertentu. Semua bisa diterima secara terbuka, selama memenuhi persyaratan akademik, seperti kemampuan bahasa Arab dan hafalan Alquran. Mahasiswa dari berbagai mazhab dan aliran keagamaan, seperti Sunni, Syiah, Ikhwanul Muslimin, Salafi, dan lain-lain.
Pun keragaman dalam identitas agama, cara berpikir, berperilaku dan cara berpakaian yang berbeda. Data dari koran al-Wathan pada 5 Mei 1916 menyebutkan, Universitas Al-Azhar menerima mahasiswa dari Kristen Koptik, yang merupakan entitas Kristen tertua di Timur Tengah.
Para pelajar Kristen Koptik tersebut bahkan memiliki pojok komunitas tersendiri yang difasilitasi al-Azhar yang disebut Ruwaq al-Aqbath. Beberapa nama alumni Al-Azhar dari penganut Kristen dan tokoh penting antara lain Al-As’ad bin Mamat, yang menjabat Menteri pada era Shalahuddin Al-Ayubi, Jundi Ibrahim Syahatah, pemilik Media Al-Wathan, dan Makram Abid, tokoh Kristen Koptik yang berteman dekat dengan Hassan Al-Banna.
Konstruksi pemikiran moderatisme Al-Azhar mendapat momentumnya melalui sentuhan pemikiran Grand Syekh Ahmed Mohamed Ahmed El-Tayeb. Syekh Agung Al-Azhar As-Syarif ke-44 ini menggantikan pendahulunya, yaitu Syeikh Muhammad Sayyid al-Thanthawi. Lahir di Qena, Mesir bagian selatan pada 6 Januari 1946, dengan nasab bersambung kepada Rasulullah SAW melalui Imam Hasan bin Ali Abi Thalib.
Grand Syekh El-Tayeb dikenal sebagai penganut Asy’ariyah dalam mazhab aqidah, Maliki dalam mazhab fiqih, dan Khalwati sebagai tarekat sufinya. Pengaruh ilmiahnya sebagai intelektual terkemuka Sunni Islam mencakup seluruh dunia sebagai ulama moderat yang selalu menyerukan ukhuwah (pesatuan), insâniyah (kemanusiaan), dan tegas mengkritik Zionisme.
Beberapa keutamaan Syekh El-Tayeb, antara lain memperoleh penghargaan dari Sheikh Zayed Book Award tahun 2013 kategori “Cultural Personality of the Year”. Sheikh Zayed Book Award adalah salah satu hadiah paling bergengsi di dunia Arab. Kemudian informasi yang dikutip dari “The Muslim 500: The World’s Most Influential Muslims”, Syekh El-Tayeb dinobatkan sebagai tokoh Muslim pertama yang paling berpengaruh di tahun 2017/2018.
Dia juga dikenal sebagai advokat Muslim tradisonal, pemimpin Universitas al-Azhar, serta pengelola jaringan al-Azhar. Selain piawai dalam berdakwah, Syekh El-Tayeb menulis beberapa buku penting, antara lain Al-Jânib An-Naqdi fi Al-Falsafah Abi Al-Barakat Al-Baghdadi (1981), Mabâhits Al-Wujûd wa Al-Mâhiyah min Kitab Al-Mawâqif (1982), Mafhûm Al-Harakah bayna Al-Falsafah Al-Islâmiyah wa Al-Markisiyah (1982), Mabahits Al-‘Illah wa Al-Ma’lul min Kitab Al-Mawaqif (1982), Madkhal li Dirâsati Al-Manthiq Al-Qadim (1987), riset bidang Filsafat Islam bersama para peneliti lain di Universitas Qatar pada 1993, serta komentar terhadap Bab Ketuhanan dari buku Tahdzib Al-Kalam karya Imam Taftazani (1997).
Dari data buku yang ditulisnya..
Dari data buku yang ditulisnya, Syekh El-Tayeb merupakan pakar bidang keilmuan filsafat Islam, sehingga kepakaran inilah yang mengantarkannya sebagai sosok ulama terbuka, moderat dan inklusif.
Ketokohan Syekh El-Tayeb telah menyita perhatian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Organisasi tertinggi di dunia ini menetapkan tahun 2019 ini sebagai The International Year of Moderation. Penetapan tahun moderasi beragama internasional tersebut didasarkan kepada keberhasilan Syekh El-Tayeb membuat kesepahaman dengan Paus Fransiskus yang tertuang dalam “Watsîqah al-Ikhwah al-Insaniyah min Ajli as-Salaam al-‘Alamî wa al-‘Aisy al-Mustarok.”
Momentum bersejarah ini dipandang sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia berbasis agama. Pada sisi ini keterlibatan Syekh El-Tayeb dipandang sebagai tokoh sentral dan lokomotif moderasi beragama di dunia. Pada bagian awal dokumen naskah perjanjian tersebut tertulis kutipan berikut:
“Dengan nama Allah yang telah menciptakan seluruh manusia memiliki kesamaan dalam hak-hak dan kewajiban-kewajiban serta kemuliaan-kemuliaan, dan mengajak mereka untuk hidup bersaudara dalam rangka memakmurkan bumi, menebarkan dan menegakkan kebaikan-kebaikan, kedamaian dan cinta.” Dokumen ini merupakan refresentasi pemikiran Syekh El-Tayeb tentang persaudaraan universal dan inklusivisme dalam beragama.
Konsep persaudaraan dan inklusivisme beragama yang digagas Syekh El-Tayeb kemudian tersebar ke berbagai negara di dunia, antara lain Indonesia, Malaysia, Brune Darussalam dan beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika melalui penetrasi keilmuan yang dikembangkan para alumni universitas al-Azhar.
Di Indonesia, misalnya, penetrasi konsep wasathiyah al-ukhuwah al-insaniyah (moderasi, persaudaraan dan kemanusiaan) dilakukan oleh para alumni al-Azhar yang tergabung dalam Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA). Para pengurus OIAA, seperti Zainul Majdi dan Muchlis Hanafi berperan penting dalam penyebaran ide tersebut hingga menyentuh wilayah elit kementerian agama, terutama melaui figur Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin.
Di tangan Menteri Agama konsep moderasi beragama yang bercita rasa persaudaraan dan kemanusiaan ini berubah menjadi kebijakan moderasi beragama secara nasional yang melibatkan institusi Perguruan Iinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan berbagai institusi kenegaraan lainnya.