#30 tag 24jam
Pep Guardiola, Arsitek Kesuksesan Manchester City Hadapi Tekanan Berat
Manchester City kini tengah berada dalam periode sulit setelah mengalami empat kekalahan beruntun dalam berbagai kompetisi. [649] url asal
#manchester-city #pep-guardiola #liga-premier #kekalahan-beruntun #krisis-cedera #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #olahraga
(Kontan - Terbaru) 10/11/24 11:10
v/17971060/
Sumber: BBC | Editor: Handoyo .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manchester City, klub yang dikenal sebagai raksasa di kancah sepak bola Inggris, kini tengah berada dalam periode sulit setelah mengalami empat kekalahan beruntun dalam berbagai kompetisi.
Pep Guardiola, sang pelatih yang telah membawa City meraih enam dari tujuh gelar Liga Premier terakhir, kini dihadapkan pada tantangan besar mempertahankan dominasi mereka.
Kekalahan Beruntun yang Mengubah Momentum City
Manchester City baru-baru ini mengalami kekalahan 2-1 dari Brighton, yang menambah deretan kekalahan mereka. Kekalahan ini merupakan pukulan berat bagi tim karena kini mereka tertinggal lima poin dari pemimpin klasemen, Liverpool.
Ini merupakan kali pertama dalam 18 tahun City mengalami empat kekalahan berturut-turut sejak Stuart Pearce menjadi manajer.
Rentetan kekalahan tersebut meliputi kekalahan dari Bournemouth dan Brighton di Liga Premier, kekalahan dari Tottenham di Piala Carabao, serta kekalahan dari Sporting di Liga Champions.
Guardiola menyatakan bahwa timnya harus segera memperbaiki performa dan kembali meraih kemenangan untuk menjaga persaingan di papan atas klasemen.
"Kita harus mencoba memenangkan pertandingan lagi. Empat kekalahan berturut-turut. Kita harus mengubah keadaan dengan cepat," ujar Guardiola dalam wawancara dengan BBC Match of the Day.
Krisis Cedera di Lini Belakang City
Salah satu faktor yang memperburuk performa City adalah krisis cedera yang menghantam beberapa pemain kunci, terutama di lini belakang. Ruben Dias, John Stones, Jeremy Doku, dan Jack Grealish masih harus absen, ditambah dengan pemain-pemain yang cedera jangka panjang seperti Rodri dan Oscar Bobb.
Guardiola bahkan terpaksa menurunkan Jahmai Simpson-Pusey, pemain muda berusia 19 tahun, untuk pertama kalinya di Liga Premier.
Keputusan ini menunjukkan bahwa City kini tengah menghadapi keterbatasan pilihan pemain dalam mengisi lini pertahanan.
Nathan Ake dan Manuel Akanji, dua bek senior, hanya cukup fit untuk berada di bangku cadangan. Guardiola mengakui bahwa kondisi ini membuat timnya rentan dan sulit tampil konsisten sepanjang 90 menit.
"Saat ini, kita belum mampu bermain selama 90 menit penuh," tutur Guardiola.
"Kita menjalani babak pertama yang sangat baik, namun tidak mampu menjaga ritme di babak kedua," tambahnya.
Tantangan Mental di Tengah Tekanan
Tekanan pada Guardiola dan tim semakin besar, terutama setelah ditanya dalam konferensi pers apakah era kejayaan mereka telah berakhir. Guardiola dengan tegas menegaskan bahwa meski telah mendominasi Liga Premier selama bertahun-tahun, ia memahami bahwa tidak mungkin untuk terus memenangkan setiap musim.
"Ini adalah olahraga. Olahraga tidak selalu tentang kemenangan. Akan ada saat-saat sulit. Jika ada tim lain yang ingin mengalahkan kita, itu bisa terjadi," ujar Guardiola.
Guardiola mengisyaratkan bahwa setelah bertahun-tahun meraih kemenangan, mungkin ada saat di mana tim lain layak memenangkan gelar Liga Premier.
Pernyataan ini mencerminkan bahwa City tidak hanya menghadapi tantangan fisik di lapangan, namun juga tantangan mental yang membutuhkan ketangguhan dari seluruh anggota tim.
Strategi dan Perubahan yang Diperlukan untuk Mengatasi Krisis
Manchester City memiliki waktu istirahat untuk rehat internasional, yang akan memberikan kesempatan bagi pemain-pemain untuk pulih dari cedera.
Guardiola optimis bahwa setelah jeda internasional, dengan kembalinya pemain-pemain yang cedera, mereka dapat kembali bersaing di puncak klasemen.
"Ketika pemain-pemain kembali, saya tidak ragu bahwa kita akan kembali ke performa terbaik kita," tambahnya.
Di sisi lain, beberapa pengamat menilai bahwa City perlu lebih fokus dalam membangun ketahanan fisik dan strategi pressing yang lebih efektif.
Bekas pemain City, Micah Richards, mencatat bahwa salah satu kelemahan utama City saat ini adalah kurangnya tekanan kolektif di lapangan.
"Saat Anda kehilangan gelandang terbaik di Eropa seperti Rodri, beban pada tim akan meningkat. Mereka terlalu mudah ditembus saat ini," kata Richards.
Tantangan Berikutnya di Liga Premier dan Jadwal Padat
Setelah jeda internasional, City akan dihadapkan dengan jadwal yang padat, menghadapi tim-tim kuat seperti Tottenham, Liverpool, Nottingham Forest, Crystal Palace, Manchester United, dan Aston Villa sebelum Natal.
Jadwal yang padat ini menjadi ujian nyata bagi ketangguhan dan kedalaman skuad City.
Kehadiran pemain-pemain kunci dalam kondisi fit dan strategi adaptasi dari Guardiola akan sangat menentukan apakah City dapat bangkit dan kembali mendominasi Liga Premier atau harus rela menyerahkan gelar kepada pesaing mereka musim ini.
Update Gunung Marapi 7 Kali Erupsi Beruntun, Tinggi Kolom Abu Capai 800 Meter
Gunung Marapi mengalami tujuh kali erupsi beruntun dengan menyemburkan kolom abu vulkanis sepanjang sehari kemarin. - Bagian all [263] url asal
#gunung-marapi #erupsi-beruntun #kabupaten-agam #sumbar #pvmbg
(iNews - Terkini) 08/11/24 07:07
v/17746232/
AGAM, iNews.id - Gunung Marapi di kabupaten Agam dan Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar) mengalami tujuh kali erupsi beruntun sepanjang Kamis (7/11/2024) pagi hingga petang. Kolom abu vulkanis tertinggi terpantau mencapai 800 meter di atas puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Marapi Teguh Purnomo dalam laporannya menyebutkan, erupsi beruntun terjadi sejak pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB.
“Teramati lima kali letusan dengan tinggi 700-800 meter dan warna asap kelabu. Kolom asap erupsi condong ke arah timur dan arah timur laut,” tulisnya dalam laporan, Kamis (7/11/2024).
Letusan ini tercatat ima kali dengan amplitudo :1.5-8.7 mm, durasi 49-133 detik. Tak hanya itu Gunung Marapi juga mengeluarkan embusan 11 kali dengan amplitudo 1.5-11 mm dan durasi 11-161 detik.
Kemudian terjadi gempa vulkanis dangkal sebanyak dua kali, vulkanis dalam 2 kali dan gempa tektonik lokal satu kali serta tektonik jauh sekali.
Erupsi keenam kali terjadi pukul 16.01 WIB dengan kolom abu teramati setinggi 700 meter. Kolom abu tersebut mengarah condong ke arah tenggara. Erupsi ini terekam di seismogram dengan durasi satu menit 29 detik.
Erupsi ketujuh Pos Pengamatan Gunung Api terekam pada pukul 17.17 WIB, namun kolom abu tidak teramati. Erupsi ini tercatat dengan durasi satu menit 12 detik.
"Meski tidak terlihat dari pos pengamatan, beberapa titik di daerah berbeda tampak jelas terjadi erupsi," katanya.
Diketahui saat ini status Gunung Marapi berada pada Level III Siaga. Warga tidak boleh mendekati puncak kawah radius 4,5 kilometer sesuai arahan dari hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Editor: Donald Karouw
Ketika harga turun, daya beli lesu tapi inflasi mengancam
Indonesia saat ini berada dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan, dengan fenomena deflasi yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak ... [881] url asal
#deflasi #inflasi #deflasi-beruntun #daya-beli #harga-turun
(Antara) 29/10/24 15:28
v/17469973/
Jakarta (ANTARA) - Indonesia saat ini berada dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan, dengan fenomena deflasi yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat deflasi pada September 2024 mencapai 0,12 persen, yang merupakan level terdalam dalam lima tahun terakhir.
Sayangnya, penurunan harga ini bukan disebabkan oleh peningkatan daya beli, melainkan karena lemahnya permintaan masyarakat, terutama di kelas menengah ke bawah. Banyak orang yang terpaksa mengandalkan tabungan untuk mencukupi kebutuhan pokok, sebagaimana ditunjukkan oleh data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada Agustus 2024, yang mencatat pertumbuhan simpanan di bawah Rp 100 juta hanya sebesar 0,8 persen secara year-to-date.
Situasi ekonomi yang sulit ini diperparah dengan tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), yang mencapai lebih dari 53.000 pekerja hingga Oktober 2024. Kehilangan pekerjaan ini semakin mengurangi daya beli dan memperparah kondisi konsumsi masyarakat yang sudah lesu. Dengan menurunnya daya beli, masyarakat bahkan sulit menjangkau bahan pokok yang harganya lebih rendah.
Deflasi ini bukanlah keuntungan, melainkan tanda bahaya karena lemahnya permintaan yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi.
Di tengah kondisi tersebut, ancaman inflasi ekstrem bisa muncul tiba-tiba akibat ketidakstabilan geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi global. Jika harga energi melonjak, maka biaya distribusi kebutuhan pokok dalam negeri pun akan terdampak, sehingga harga barang-barang penting bisa ikut naik.
Kondisi ini dapat semakin memburuk apabila terjadi panic buying, baik di dalam negeri maupun oleh negara-negara tetangga yang berupaya mengamankan persediaan. Ketika permintaan mendadak melonjak sementara pasokan terbatas, harga bahan pokok yang sebelumnya menurun bisa melambung tinggi, menyebabkan inflasi ekstrem di dalam negeri. Masyarakat yang sudah kesulitan akibat deflasi akan menghadapi tantangan lebih besar dengan harga kebutuhan yang melambung.
Untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi ini, langkah-langkah antisipatif sangat diperlukan agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi inflasi ekstrem di tengah deflasi berkepanjangan.
Mengelola pengeluaran secara bijak adalah langkah pertama yang penting untuk menjaga stabilitas keuangan rumah tangga. Dalam menghadapi ketidakpastian harga, masyarakat perlu memprioritaskan anggaran pada pembelanjaan yang besifat penting dan mendesak yakni kebutuhan pokok seperti pangan, energi, dan kesehatan. Mengurangi pengeluaran untuk barang-barang yang tidak penting dan atau tidak mendesak juga akan membantu menyeimbangkan anggaran dan mempersiapkan diri menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok. Anggaran yang ketat dan pemantauan ketat terhadap pengeluaran dapat menjadi strategi yang efektif.
Meningkatkan ketahanan pangan pribadi adalah salah satu solusi di tengah kondisi ini. Selain menanam sayuran di pekarangan rumah, masyarakat juga dapat mencoba metode hidroponik yang tidak memerlukan area luas dan memungkinkan pemenuhan kebutuhan sayuran segar secara mandiri.
Langkah lain yang efektif adalah membeli bahan pangan dari reseller UMKM yang bekerja langsung dengan petani atau produsen. Dengan cara ini, masyarakat tetap dapat memperoleh bahan pangan dengan harga yang wajar tanpa harus melalui tengkulak, yang sering kali menaikkan harga secara berlebihan, terutama dalam situasi pasokan terbatas.
Dengan membeli dari UMKM yang menjaga hubungan langsung dengan petani, masyarakat tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mendukung pendapatan pelaku UMKM lokal. Pendekatan ini memastikan harga tetap stabil dan terjangkau, sekaligus memotong rantai distribusi panjang yang seringkali menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak.
Diversifikasi sumber pendapatan sangat dianjurkan di tengah ketidakpastian ekonomi. Bergantung pada satu sumber penghasilan dapat menjadi risiko besar dalam kondisi seperti ini. Usaha sampingan, seperti berjualan online atau menawarkan jasa sesuai keterampilan, dapat memberikan pendapatan tambahan. Pendapatan ekstra ini dapat menjadi penopang yang bermanfaat untuk menghadapi kenaikan harga barang pokok dan menjaga stabilitas keuangan rumah tangga.
Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar adalah langkah penting lainnya. Bagi masyarakat yang biasanya mengandalkan kendaraan pribadi, beralih ke transportasi umum atau memanfaatkan layanan transportasi berbasis aplikasi dapat membantu mengurangi pengeluaran bahan bakar. Selain itu, untuk jarak yang lebih pendek, berjalan kaki atau bersepeda dapat menghemat biaya bahan bakar sekaligus memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Investasi pada aset yang aman adalah langkah bijak dalam menjaga nilai kekayaan dari dampak inflasi. Dalam situasi ketidakpastian, menghindari investasi berisiko tinggi dan memilih aset yang lebih stabil seperti emas atau simpanan dalam bentuk mata uang asing dapat melindungi kekayaan dari penurunan nilai. Emas cenderung stabil dan sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Simpanan dalam mata uang asing yang lebih kuat juga bisa menjadi pilihan untuk menjaga daya beli.
Menjaga solidaritas sosial dan memperkuat jaringan komunitas adalah cara lain untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. Membangun komunitas berbagi sumber daya atau barter barang kebutuhan pokok dapat membantu mengurangi ketergantungan pada uang tunai dan meningkatkan rasa kebersamaan di lingkungan sekitar. Dengan saling mendukung, masyarakat dapat lebih mudah melewati masa sulit dan memperkuat ketahanan sosial secara kolektif.
Mengantisipasi potensi peningkatan kriminalitas juga perlu dipertimbangkan, terutama jika inflasi ekstrem benar-benar terjadi. Ketika kondisi ekonomi sulit, potensi tindak kriminal seperti pencurian dapat meningkat.
Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan keamanan lingkungan, seperti dengan mengaktifkan ronda malam atau memasang CCTV serta penerangan yang memadai di sekitar rumah. Kewaspadaan diri juga penting, seperti menghindari membawa barang berharga di tempat umum dan memberikan pemahaman dasar keamanan kepada seluruh anggota keluarga.
Dengan menerapkan langkah-langkah antisipatif ini, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai dampak ketidakpastian ekonomi yang mungkin timbul. Ketika harga turun namun daya beli tetap rendah, sementara ancaman inflasi semakin nyata, kesiapan dalam menyesuaikan pola hidup dan pengelolaan keuangan yang baik menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga di tengah situasi penuh tantangan.
*) Baratadewa Sakti adalah Praktisi Keuangan Keluarga & Pendamping Keuangan Bisnis UMKM)
Copyright © ANTARA 2024
Ketika harga turun, daya beli lesu tapi inflasi mengancam
Indonesia saat ini berada dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan, dengan fenomena deflasi yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak ... [881] url asal
#deflasi #inflasi #deflasi-beruntun #daya-beli #harga-turun
(Antara) 29/10/24 15:28
v/17192941/
Jakarta (ANTARA) - Indonesia saat ini berada dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan, dengan fenomena deflasi yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat deflasi pada September 2024 mencapai 0,12 persen, yang merupakan level terdalam dalam lima tahun terakhir.
Sayangnya, penurunan harga ini bukan disebabkan oleh peningkatan daya beli, melainkan karena lemahnya permintaan masyarakat, terutama di kelas menengah ke bawah. Banyak orang yang terpaksa mengandalkan tabungan untuk mencukupi kebutuhan pokok, sebagaimana ditunjukkan oleh data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada Agustus 2024, yang mencatat pertumbuhan simpanan di bawah Rp 100 juta hanya sebesar 0,8 persen secara year-to-date.
Situasi ekonomi yang sulit ini diperparah dengan tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), yang mencapai lebih dari 53.000 pekerja hingga Oktober 2024. Kehilangan pekerjaan ini semakin mengurangi daya beli dan memperparah kondisi konsumsi masyarakat yang sudah lesu. Dengan menurunnya daya beli, masyarakat bahkan sulit menjangkau bahan pokok yang harganya lebih rendah.
Deflasi ini bukanlah keuntungan, melainkan tanda bahaya karena lemahnya permintaan yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi.
Di tengah kondisi tersebut, ancaman inflasi ekstrem bisa muncul tiba-tiba akibat ketidakstabilan geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi global. Jika harga energi melonjak, maka biaya distribusi kebutuhan pokok dalam negeri pun akan terdampak, sehingga harga barang-barang penting bisa ikut naik.
Kondisi ini dapat semakin memburuk apabila terjadi panic buying, baik di dalam negeri maupun oleh negara-negara tetangga yang berupaya mengamankan persediaan. Ketika permintaan mendadak melonjak sementara pasokan terbatas, harga bahan pokok yang sebelumnya menurun bisa melambung tinggi, menyebabkan inflasi ekstrem di dalam negeri. Masyarakat yang sudah kesulitan akibat deflasi akan menghadapi tantangan lebih besar dengan harga kebutuhan yang melambung.
Untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi ini, langkah-langkah antisipatif sangat diperlukan agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi inflasi ekstrem di tengah deflasi berkepanjangan.
Mengelola pengeluaran secara bijak adalah langkah pertama yang penting untuk menjaga stabilitas keuangan rumah tangga. Dalam menghadapi ketidakpastian harga, masyarakat perlu memprioritaskan anggaran pada pembelanjaan yang besifat penting dan mendesak yakni kebutuhan pokok seperti pangan, energi, dan kesehatan. Mengurangi pengeluaran untuk barang-barang yang tidak penting dan atau tidak mendesak juga akan membantu menyeimbangkan anggaran dan mempersiapkan diri menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok. Anggaran yang ketat dan pemantauan ketat terhadap pengeluaran dapat menjadi strategi yang efektif.
Meningkatkan ketahanan pangan pribadi adalah salah satu solusi di tengah kondisi ini. Selain menanam sayuran di pekarangan rumah, masyarakat juga dapat mencoba metode hidroponik yang tidak memerlukan area luas dan memungkinkan pemenuhan kebutuhan sayuran segar secara mandiri.
Langkah lain yang efektif adalah membeli bahan pangan dari reseller UMKM yang bekerja langsung dengan petani atau produsen. Dengan cara ini, masyarakat tetap dapat memperoleh bahan pangan dengan harga yang wajar tanpa harus melalui tengkulak, yang sering kali menaikkan harga secara berlebihan, terutama dalam situasi pasokan terbatas.
Dengan membeli dari UMKM yang menjaga hubungan langsung dengan petani, masyarakat tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mendukung pendapatan pelaku UMKM lokal. Pendekatan ini memastikan harga tetap stabil dan terjangkau, sekaligus memotong rantai distribusi panjang yang seringkali menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak.
Diversifikasi sumber pendapatan sangat dianjurkan di tengah ketidakpastian ekonomi. Bergantung pada satu sumber penghasilan dapat menjadi risiko besar dalam kondisi seperti ini. Usaha sampingan, seperti berjualan online atau menawarkan jasa sesuai keterampilan, dapat memberikan pendapatan tambahan. Pendapatan ekstra ini dapat menjadi penopang yang bermanfaat untuk menghadapi kenaikan harga barang pokok dan menjaga stabilitas keuangan rumah tangga.
Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar adalah langkah penting lainnya. Bagi masyarakat yang biasanya mengandalkan kendaraan pribadi, beralih ke transportasi umum atau memanfaatkan layanan transportasi berbasis aplikasi dapat membantu mengurangi pengeluaran bahan bakar. Selain itu, untuk jarak yang lebih pendek, berjalan kaki atau bersepeda dapat menghemat biaya bahan bakar sekaligus memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Investasi pada aset yang aman adalah langkah bijak dalam menjaga nilai kekayaan dari dampak inflasi. Dalam situasi ketidakpastian, menghindari investasi berisiko tinggi dan memilih aset yang lebih stabil seperti emas atau simpanan dalam bentuk mata uang asing dapat melindungi kekayaan dari penurunan nilai. Emas cenderung stabil dan sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Simpanan dalam mata uang asing yang lebih kuat juga bisa menjadi pilihan untuk menjaga daya beli.
Menjaga solidaritas sosial dan memperkuat jaringan komunitas adalah cara lain untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. Membangun komunitas berbagi sumber daya atau barter barang kebutuhan pokok dapat membantu mengurangi ketergantungan pada uang tunai dan meningkatkan rasa kebersamaan di lingkungan sekitar. Dengan saling mendukung, masyarakat dapat lebih mudah melewati masa sulit dan memperkuat ketahanan sosial secara kolektif.
Mengantisipasi potensi peningkatan kriminalitas juga perlu dipertimbangkan, terutama jika inflasi ekstrem benar-benar terjadi. Ketika kondisi ekonomi sulit, potensi tindak kriminal seperti pencurian dapat meningkat.
Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan keamanan lingkungan, seperti dengan mengaktifkan ronda malam atau memasang CCTV serta penerangan yang memadai di sekitar rumah. Kewaspadaan diri juga penting, seperti menghindari membawa barang berharga di tempat umum dan memberikan pemahaman dasar keamanan kepada seluruh anggota keluarga.
Dengan menerapkan langkah-langkah antisipatif ini, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai dampak ketidakpastian ekonomi yang mungkin timbul. Ketika harga turun namun daya beli tetap rendah, sementara ancaman inflasi semakin nyata, kesiapan dalam menyesuaikan pola hidup dan pengelolaan keuangan yang baik menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga di tengah situasi penuh tantangan.
*) Baratadewa Sakti adalah Praktisi Keuangan Keluarga & Pendamping Keuangan Bisnis UMKM)
Copyright © ANTARA 2024
3 Kendaraan Roda Empat Kecelakaan Beruntun di Bantargebang, Korban Nihil
Tiga kendaraan roda empat terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Raya Narogong, Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi, Kamis (24/10/2024) siang. Halaman all [273] url asal
#kecelakaan-beruntun #kecelakaan-di-bantargebang #kecelakaan-beruntun-di-bantargebang
(Kompas.com) 24/10/24 19:11
v/16939588/
BEKASI, KOMPAS.com - Sebanyak tiga kendaraan roda empat terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Raya Narogong, Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi, Kamis (24/10/2024), pukul 13.00 WIB.
Kanit Lantas Polsek Bantargebang Iptu Mulyadi menjelaskan, kecelakaan berawal ketika truk tronton berpelat nomor B 9895 FYY melaju dari arah Kabupaten Bogor menuju Kota Bekasi.
Setibanya di Jalan Raya Narogong, truk tiba-tiba oleng dan langsung menabrak bagian belakang mobil Toyota Avanza.
"Diduga, sopir truk mengantuk," kata Mulyadi dalam keterangannya.
Sadar kendaraannya menabrak mobil, sang sopir truk tronton kaget.
Kemudian, sopir truk tiba-tiba membuang setir ke kiri dan menabrak mobil bak terbuka yang terparkir di tepi jalan.
Akibat peristiwa ini, tiga kendaraan roda empat yang terlibat kecelakaan rusak.
Sementara, sang sopir truk sempat mengalami syok dan dilarikan ke Rumah Sakit Karya Medika, Bantargebang. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini.
"Sopir (truk tonton) syok, tapi sudah sadar," imbuh dia.
Saat ini, Polsek Bantargebang masih menyelidiki kecelakaan beruntun tersebut.
Kecelakaan Beruntun 3 Truk di Sedayu Bantul, 2 Orang Tewas 3 Luka-Luka
Kecelakaan beruntun melibatkan tiga truk terjadi di Jalan Jogja-Wates, Sedayu, Bantul. Dalam peristiwa ini dua orang tewas dan tiga lainnya luka-luka. - Bagian all [286] url asal
#kecelakaan-maut #kecelakaan-beruntun #kabupaten-bantul #polres-bantul #truk-kontainer
(iNews - Terkini) 18/10/24 11:21
v/16650078/
BANTUL, iNews.id - Kecelakaan beruntun melibatkan tiga truk terjadi di Jalan Jogja-Wates, tepatnya di Dusun Kalakan, Kalurahan Argorejo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, Jumat (18/10/2024) pagi. Dua orang tewas di lokasi kejadian dan tiga lainnya luka-luka.
Kasi Humas Polres Bantul AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana mengatakan, kecelakaan maut ini melibatkan dua truk muatan pasir dan satu truk kontainer.
Kronologi kecelakaan bermula saat truk muatan pasir berpelat nomor AD 8330 BJ dikemudikan oleh Pandri (33) dengan penumpang Maryanto (31) melaju beriringan dengan truk tanpa pelat nomor dibawa Suryanto (24) dan penumpang Trimanto (31) dari arah timur ke barat pukul 05.58 WIB. Keempatnya merupakan warga Klaten, Jawa Tengah.
"Kendaraan ini sama-sama dari arah timur hendak ke barat. Lalu truk kontainer di belakang mau menyalip kedua truk pasir di depannya secara bersamaan tapi gagal," ujar Jeffry, Jumat (18/10/2024).
Akibatnya, truk kontainer berpelat nomor AB 8636 OG yang dikemudikan Tarza (57) warga Subang, Jawa Barat menyerempet truk pasir AD 8330 BJ lalu oleng. Kemudian truk tersebut tertabrak truk pasir tanpa pelat nomor yang ada di belakangnya.
"Kecelakaan ini mengakibatkan pengemudi dan penumpang truk AD 8330 BJ tewas di lokasi kejadian karena terjepit kabin kendaraan," kata Jeffry.
Sementara korban selamat, yakni sopir dan penumpang truk tanpa pelat nomor serta sopir truk kontainer mengalami luka-luka lecet di bagian kaki dan badan akibat serpihan kaca.
"Untuk korban meninggal dunia dilarikan ke RS Panembahan Senopati Bantul, kemudian tiga korban selamat dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah II Yogyakarta untuk mendapatkan perawatan," ucapnya.
Seusai kecelakaan, polisi bersama tim Basarnas DIY berupaya mengevakuasi truk dari tengah jalan agar bisa dilalui kendaraan. Dampaknya arus lalu lintas dari arah Yogyakarta dan Kulonprogo hanya bisa dilalui motor.
Editor: Donald Karouw
Ini Identitas 2 Korban Tewas Kecelakaan Beruntun 9 Kendaraan di Subang, 7 Luka
Polisi mengidentifikasi dua korban tewas dalam kecelakaan beruntun 9 kendaraan di Jalan Raya Bandung-Subang. - Bagian all [427] url asal
#kecelakaan-beruntun #identitas #korban-tewas #kabupaten-subang
(iNews - Terkini) 17/10/24 17:20
v/16619552/
BANDUNG, iNews.id – Polisi mengidentifikasi dua korban tewas dalam kecelakaan beruntun 9 kendaraan di Jalan Raya Bandung-Subang tepatnya Kampung/Kelurahan Pasirkareumbi, Kecamatan, Kabupaten Subang, Kamis (17/10/2024) pagi.
Identitas kedua korban yaitu, Roni Gunawan, warga Kelurahan Pasirkareumbi, Kabupaten Subang; dan Rivan Mulya Setiawan, warga Kelurahan Cigadung, Kabupaten Subang.
Kecelakaan itu juga menyebabkan tujuh orang luka ringan. Satu luka berat, yaitu, Fahri Fuji Ramadhan (19). Para korban dibawa ke RSUD Ciereng Subang dan RS PTPN Subang.
Total 9 kendaraan yang terlibat kecelakaan beruntun tersebut, antara lain, Hino dump truck B 9785 FYW; Honda Supra Fit; Hino dump truck B 9313 FYV; becak; Suzuki APV T 1774 TG; Daihatsu pikap Grand Max T 8083 AL; sedan Timor T 1571 VA; dan Toyota Avansa T 1162 TI. Selain itu, bengkel ban dan tambal ban, dan satu pejalan kaki menjadi korban.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Jules Abraham Abast mengatakan, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan saksi, kronologi kejadian berawal saat dump truck pengangkut tanah dan batu nopol B 9785 FYW yang dikemudikan Ahmad (43), warga Kampung Cibogo, Desa Wantisari, Kecamatan Leuwidamar, Kabuoaten Lebak, melaju dari arah Bandung ke Subang.
Tiba di lokasi kejadian dengan kontur jalan menurun, kata Kabid Humas, dump truck B 9785 FYW melaju tidak terkendali lalu menabrak motor Honda Supra Fit yang dikendarai Imam Faturohman (20) warga Kampung Kalapa 2 RT 005/006 Desa Mekarsari Kecamatan Cilawu, Garut.
"Setelah itu, dump truck B 9785 FYW menabrak Hino dump truck B 9313 FYV yang dikemudikan Heriansyah (36) warga Kampung Malangnengah, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Kemudian dump truck B 9313 FYV menabrak becak yang dikayuh Roni Gunawan (66), dan sedan Timor T 1571 VA yang parkir di bengkel ban," kata Kabid Humas.
Kombes Jules menyatakan, muatan dump truck berupa tanah dan batu mengenai minibus Toyota Avanza T 1162 TI yang sedang parkir di badan jalan sebelah kiri.
Saat bersamaan, dump truk B 9785 FYW yang dikemudikan Ahmad terguling menambrak Suzuki APV T 1774 TG yang dikemudikan oleh R Nurjantono (61), warga Jalan Murni Nomor 7 RT 003/001 Kelyrahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat dan Daihatsu pikap Gran Max T 8083 AL yang dikendarai oleh Pahrudin, warga Gang Beringin RT 073/008 Desa Negrikaler, Kecamatan, Kabupaten Purwakarta, yang membawa Fahri Fuji Ramadahn yang melaju dari arah berlawanan arah Subang ke Bandung.
"Kemudian dump truck menabrak pejalan kaki Rivan Mulya Setiawan yang sedang berada di bahu jalan sebelah kiri," ujar Kombes Jules.
Kabid Humas mengatakan, sopir dump truk nopol B 9785 FYW, Ahmad, telah diamankan dan saat ini dalam pemeriksaan intensif.
Editor: Kastolani Marzuki
Mencegah Deflasi Menjadi Resesi
Apa dampak deflasi bagi masyarakat dan pengusaha? Apakah deflasi bisa menjadi resesi? Apa yang harus kita lakukan? [1,057] url asal
#kolom #deflasi #deflasi-5-bulan-beruntun #jakarta-pusat #pemerintah #pajak #kebijakan-ekonomi #gambas #jokowi #resesi #amalia-adininggar-widyasanti #perubahan #dampak-deflasi #kantor-bps #resesi-deflasi #bps #stimulu
(detikFinance) 17/10/24 14:30
v/16603634/
Jakarta - Saat harga barang turun, seperti yang terjadi akhir-akhir ini, mungkin menjadi kabar baik bagi konsumen. Mereka bisa mendapatkan lebih banyak barang atau jasa dengan jumlah uang yang sama. Namun, ketika harga terus menerus turun, pendapatan pengusaha atau produsen akan berkurang. Mereka harus menjual barang dengan harga lebih rendah dari yang diharapkan, bahkan mungkin lebih rendah dari biaya produksi. Akibatnya penurunan produksi akan ditempuh, dan ekonomi menjadi lesu.
Penurunan harga barang secara terus-menerus tersebut dikenal sebagai deflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi pada Mei 2024 sebesar 0,03% (mtm), 0,08% pada Juni, 0,18% pada Juli, 0,03% pada Agustus, dan 0,12% pada September 2024. "Secara historis, deflasi September 2024 merupakan deflasi terdalam dibandingkan bulan yang sama dalam lima tahun terakhir," ujar Amalia Adininggar Widyasanti, Plt Kepala BPS, dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/10).
Lantas apa dampak deflasi bagi masyarakat dan pengusaha? Apakah deflasi bisa menjadi resesi? Apa yang harus kita lakukan?
Terlihat menguntungkan
Pada awalnya, deflasi dapat terlihat menguntungkan. Namun, dalam jangka panjang, deflasi dapat menyebabkan penundaan konsumsi. Masyarakat cenderung menunda pembelian barang atau jasa karena mengharapkan harga akan terus turun. Hal ini mengakibatkan permintaan terhadap barang dan jasa menurun lebih jauh, dan memperparah kondisi deflasi. Di samping itu deflasi meningkatkan beban utang bagi masyarakat yang memiliki pinjaman. Karena nilai uang meningkat, nilai utang yang harus dibayarkan menjadi lebih berat dibandingkan pendapatan yang tidak bertumbuh atau bahkan menurun.
Ketika harga jual produk menurun, produsen bisa terpaksa mengurangi produksi untuk menekan biaya, sehingga menyebabkan penurunan produksi. Hal ini juga dapat berdampak pada PHK karena berkurangnya kegiatan produksi. Sama halnya dengan konsumen, produsen yang memiliki pinjaman akan mengalami beban utang yang lebih besar. Jika pendapatan turun dan biaya produksi tidak bisa dipangkas lagi, pengusaha mungkin kesulitan membayar utang atau bahkan menghadapi kebangkrutan.
Dapat menyebabkan resesi
Deflasi berturut turut dapat menyebabkan resesi jika tidak segera diatasi. Saat harga barang dan jasa terus menurun, konsumen mungkin menunda pembelian mereka dengan harapan harga akan turun lagi pada masa depan. Ini menyebabkan penurunan permintaan agregat, memperlambat produksi, dan mengurangi keuntungan perusahaan.
Dalam situasi deflasi, nilai mata uang meningkat. Ini berarti nilai riil utang atau jumlah utang yang harus dibayar meningkat. Beban utang yang lebih besar dapat menyebabkan kebangkrutan, baik di tingkat individu maupun korporasi, sehingga memperburuk kondisi ekonomi.
Ketika deflasi, prospek keuntungan masa depan menjadi lebih tidak pasti. Perusahaan cenderung menunda atau mengurangi investasi dalam infrastruktur, inovasi, dan ekspansi, karena rendahnya permintaan dan harga yang terus menurun. Lingkaran setan terjadi dan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Penurunan permintaan dan pengurangan investasi dapat memaksa perusahaan untuk mengurangi tenaga kerja guna mempertahankan profitabilitas, yang pada gilirannya meningkatkan pengangguran. Tingkat pengangguran akan mengurangi daya beli konsumen dan memperdalam masalah deflasi.
Langkah pemerintah
Untuk mencegah deflasi berubah menjadi resesi, kebijakan ekonomi harus diterapkan segera setelah deflasi berturut-turut muncul. Bank sentral dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman dan pengeluaran. Langkah ini dapat meningkatkan investasi oleh perusahaan dan konsumsi oleh konsumen, yang dapat memulihkan permintaan dan menahan penurunan harga.
Pemerintah juga dapat meluncurkan program stimulus fiskal, seperti meningkatkan pengeluaran publik di bidang infrastruktur atau memberikan bantuan langsung kepada masyarakat. Hal ini meningkatkan permintaan agregat, sehingga memicu perusahaan untuk kembali berinvestasi dan meningkatkan produksi.
Memperbaiki struktur ekonomi, seperti mengoptimalkan regulasi pasar dan mendorong inovasi, dapat membantu meningkatkan efisiensi ekonomi dan memitigasi dampak deflasi. Ini termasuk mendukung UMKM, sektor produktif, dan teknologi baru.
Pemerintah dan bank sentral perlu menjaga kepercayaan konsumen dan investor. Dengan komunikasi yang jelas dan kebijakan yang transparan, mereka dapat menghindari kepanikan dan ketidakpastian yang dapat memperparah kondisi deflasi.
Sikap masyarakat
Ketika deflasi, harga barang dan jasa turun, sehingga membuat banyak orang mungkin tergoda untuk menunda pembelian dengan harapan harga akan turun lagi. Namun, terus menunda pembelian dapat memperburuk situasi deflasi karena menurunkan permintaan barang dan jasa, yang pada akhirnya bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.
Selama deflasi, nilai uang meningkat, artinya uang yang dimiliki lebih berharga. Salah satu cara bijak untuk memanfaatkan situasi ini adalah dengan melakukan investasi di sektor-sektor produktif yang memiliki potensi pertumbuhan di masa depan. Investasi yang produktif dapat membantu merangsang perekonomian, mendorong perusahaan untuk memperluas operasi mereka, yang pada akhirnya menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan permintaan.
Saat terjadi deflasi, ada kecenderungan bagi sebagian orang untuk menyimpan uang tunai karena nilainya dianggap lebih tinggi di masa depan. Namun, menimbun uang secara berlebihan malah dapat memperburuk deflasi. Ketika terlalu banyak orang menahan pengeluaran dan menyimpan uang, sirkulasi uang di dalam perekonomian melambat, yang dapat menyebabkan penurunan investasi dan produksi, mempercepat terjadinya resesi. Oleh karena itu, daripada menimbun uang tunai, lebih baik uang digunakan untuk konsumsi bijak atau diinvestasikan dalam aset yang memberikan hasil positif bagi pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah sering memberikan stimulus fiskal atau insentif saat terjadi deflasi. Masyarakat harus memanfaatkan program-program ini, seperti subsidi, keringanan pajak, atau program bantuan langsung, untuk meningkatkan daya beli atau mengurangi beban keuangan. Dengan memanfaatkan stimulus tersebut, masyarakat bisa membantu meningkatkan aktivitas ekonomi. Partisipasi dalam program ini dapat merangsang perputaran uang di perekonomian.
Deflasi dapat sangat mempengaruhi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang biasanya lebih rentan terhadap penurunan permintaan. Masyarakat dapat berkontribusi dengan mendukung bisnis lokal dan produk-produk dalam negeri, yang merupakan tulang punggung ekonomi. Dengan membeli produk lokal, masyarakat membantu menjaga keberlangsungan usaha kecil, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih stabil.
Penting bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan yang relevan dengan tren pasar tenaga kerja. Dengan memiliki keterampilan yang lebih baik, masyarakat dapat lebih mudah beradaptasi dengan perubahan di dunia kerja, memperluas peluang karier, dan meningkatkan stabilitas ekonomi pribadi.
Selama deflasi, masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan untuk beralih ke pola konsumsi dan produksi yang lebih berkelanjutan. Membeli produk ramah lingkungan, mendukung bisnis yang peduli terhadap keberlanjutan, dan mengurangi pemborosan adalah langkah bijak dalam memperkuat ekonomi secara jangka panjang, sambil menjaga lingkungan. Kontribusi masyarakat dalam membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor yang rentan terhadap krisis, dan mendorong inovasi serta efisiensi dalam berbagai bidang.
Jadi, deflasi memang berpotensi menyebabkan resesi dan menimbulkan tantangan ekonomi yang serius. Namun masyarakat dapat berperan aktif dalam mencegah deflasi menjadi resesi. Dengan terus melakukan konsumsi bijak, berinvestasi, mendukung UMKM, serta meningkatkan kompetensi dan partisipasi dalam program pemerintah. Langkah-langkah seperti kebijakan moneter yang longgar, stimulus fiskal, dan reformasi struktural sangat penting untuk mengatasi deflasi dan mencegahnya berkembang menjadi resesi.
Steph SubanidjaGuru Besar Perbanas Institute
Simak Video Jokowi Respons Deflasi 5 Bulan Berturut-turut
Tren Deflasi Beruntun Berakhir! Indonesia Inflasi 0,08% pada Oktober 2024
Indonesia mencatat Oktober 2024 inflasi sebesar 1,71% secara tahunan dan 0,08% secara bulanan, mengakhiri tren deflasi lima bulan beruntun. [332] url asal
#inflasi #deflasi-5-bulan-beruntun #inflasi-oktober-2024 #tren-deflasi-5-bulan-berturut-turut #bps #ekonomi #proyeksi-ekonomi #data-ekonomi #inflasi #proyeksi-inflasi #inflasi-september-2024 #proyeksi
(Bisnis.Com - Ekonomi) 15/10/24 14:00
v/17302883/
Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia mencatat Oktober 2024 inflasi sebesar 1,71 % secara tahunan (year on year/YoY) dan 0,08% secara bulanan (month to month/MtM), mengakhiri tren deflasi lima bulan beruntun.
Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa secara bulanan, Indonesia pada Oktober 2024 mencatatkan inflasi sebesar 0,08%.
Indeks harga konsumen (IHK) naik ke level 106,01 pada Oktober 2024, dari 105,93 pada September 2024.
”Inflasi bulan Oktober 2024 ini mengakhiri tren deflasi yang terjadi sejak Mei 2024,” ujar Amalia dalam rilis berita resmi statistik, Jumat (1/11/2024).
Adapun kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi sebesar 0,94 % dan memberikan andil inflasi 0,06%.
Sementara itu, komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan yang memberikan andil inflasi sebsar 0,06%.
Sebelumnya, berdasarkan konsensus ekonom yang terhimpun dalam Bloomberg meyakini IHK yang dirilis BPS akan mulai mencatatkan inflasi secara bulanan (month to month/MtM) maupun tahunan (year on year/YoY).
Dari 31 ekonom, nilai tengah proyeksi inflasi tahunan pada Oktober 2024 adalah 1,66% YoY. Angka tersebut lebih rendah dari posisi September 2024 yang sebesar 1,84%.
Proyeksi terendah inflasi tahunan periode tersebut adalah 1,46% YoY, sedangkan tertinggi sebesar 1,8%. Dengan demikian, tidak ada satu pun ekonom yang memprediksikan inflasi tahunan lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Melihat secara bulanan, nilai tengah proyeksi IHK Oktober 2024 memang mencatatkan inflasi tipis di angka 0,03% MtM. Meski demikian, terdapat sejumlah ekonom yang tergabung dalam konsensus tersebut meramalkan deflasi masih akan terjadi.
Sebanyak tiga dari 17 ekonom memperkirakan Oktober akan terjadi deflasi. Terdalam diproyeksikan oleh Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian sebesar -0,17% MtM.
Fakhrul menyampaikan deflasi bulanan yang terjadi akibat kebijakan pemerintah dalam menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Sementara harga pangan yang dinilai masih stabil, menunjukkan tidak adanya dorongan inflasi.
“Iya harga pangan masih cukup stabil dan tidak mendorong inflasi yang berarti,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (31/10/2024).
Neraca Perdagangan RI Surplus 53 Bulan Beruntun
BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 3,26 miliar pada September 2024, mencatatkan surplus 53 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. [202] url asal
#neraca-perdagangan #surplus-perdagangan #ekspor-indonesia #bps #ekonomi-indonesia #neraca-perdagangan-ri-surplus-53-bulan-beruntun #nabati #komoditas-non #migas #kondisi-surplus #indonesia #amalia-a-widyasari
(detikFinance - Sosok) 15/10/24 12:08
v/16496716/
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September kembali surplus sebesar US$ 3,26 miliar. Capaian ini merupakan surplus selama 53 bulan secara beruntun sejak Mei 2020.
Sebelumnya, neraca perdagangan nasional pada Agustus surplus secara bulanan sebesar US$ 2,40 miliar.
BPS melaporkan, nilai ekspor September tercatat US$ 22,08 miliar turun 5,80%, sementara untuk impor, BPS mencatat pada September 2024, total nilai impor mencapai US$ 18,82 miliar atau turun 8,91% dari Agustus 2024.
"Pada September 2024 neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar US$ 3,26 miliar atau naik sebesar US$ 0,48 miliar secara bulanan dengan demikian neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 53 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," ungkap Plt Kepala BPS Amalia A. Widyasari di Kantornya, Selasa (15/10/2024).
Amalia menambahkan, surplus neraca perdagangan bulan September 2024 ini lebih tinggi dibandingkan dengan Bulan sebelumnya namun lebih rendah dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.
"Kondisi surplus pada September 2024 ditopang oleh surplus pada komoditas non migas yaitu sebesar US$ 4,62 miliar dan komoditas yang memberikan sumbangsih surplus pertama adalah bahan bakar mineral hs27 lemak dan minyak hewan nabati HS 15 dan besi baja atau hs72," tutup Amalia.
(rrd/rrd)
Mengatasi Dampak Deflasi
Penurunan harga memang terdengar menguntungkan bagi konsumen, namun dampak jangka panjangnya bisa sangat merugikan perekonomian secara keseluruhan. [1,310] url asal
#kolom #deflasi #deflasi-5-bulan-beruntun #daya-beli #penurunan-harga #s-amp-p-global #heru-wahyudi #jangka #penurunan #pemerintah #airlangga-hartarto #apbn #universitas-pamulang #stabilitas #rapat-dewan-gubernur
(detikFinance) 15/10/24 12:00
v/16495042/
Jakarta - Indonesia sedang menghadapi situasi ekonomi yang cukup menarik animo masyarakat. Selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024, negara kita mengalami deflasi. Deflasi terdalam terjadi pada September 2024, mencapai 0,12% dibandingkan bulan sebelumnya. Kendati terdengar positif karena harga-harga turun, gejala ini justru bisa menjadi indikator adanya masalah yang genting dalam perekonomian.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi berturut-turut terjadi sejak Mei hingga September 2024. Penyebab utama deflasi ini adalah penurunan harga pangan, terutama komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat. Penurunan harga ini sepintas tampak menguntungkan konsumen, tetapi bisa jadi merupakan sinyal pelemahan daya beli masyarakat. Deflasi September 2024 sebesar 0,12% menjadi yang terdalam dalam lima tahun terakhir untuk bulan yang sama. Hal ini menimbulkan tanda tanya: apakah penurunan harga ini murni karena melimpahnya pasokan, atau ada faktor lain yang perlu diwaspadai?
Meski pemerintah dan BPS menyatakan deflasi terjadi karena peningkatan pasokan, beberapa indikator lain menunjukkan adanya potensi pelemahan ekonomi. Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 48,9 pada Agustus 2024, mengisyaratkan kontraksi di sektor manufaktur. S&P Global melaporkan penurunan tajam permintaan baru dan output selama tiga tahun terakhir, yang mengakibatkan perusahaan mengurangi karyawan. Deflasi berturut-turut selama lima bulan bisa mengindikasikan penurunan permintaan agregat, yang merepresentasikan pelemahan daya beli masyarakat.
Jika deflasi ini memang disebabkan oleh pelemahan daya beli, dampaknya bisa cukup sulit. Kita mungkin akan melihat penurunan pendapatan masyarakat, terutama di sektor informal dan UMKM. Ada juga potensi peningkatan pengangguran jika perusahaan terus mengurangi karyawan. Yang lebih mengkhawatirkan, jika tren ini berlanjut, kita bisa menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Indikasi Penurunan Daya Beli
Fenomena deflasi yang tengah dialami Indonesia bukan hanya sekadar nilai statistik. Di balik penurunan harga yang terjadi selama lima bulan berturut-turut, terpendam indikasi yang lebih meresahkan: pelemahan daya beli masyarakat. Deflasi yang berkelanjutan ini bisa menjadi gambaran dari kondisi ekonomi yang sedang "tidak baik-baik saja".
Salah satu tanda yang paling kentara terlihat adalah penurunan penjualan barang-barang non-primer. Sejak 2023, sektor-sektor seperti pakaian, alas kaki, dan peralatan komunikasi mengalami penurunan penjualan. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat mulai menahan diri untuk membeli barang-barang yang tidak terlalu penting, fokus pada kebutuhan pokok saja. Fenomena ini biasanya terjadi ketika masyarakat merasa kurang aman secara finansial atau mengantisipasi kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan di masa depan.
Para ekonom telah menyampaikan kekhawatiran terkait fenomena ini. Pendapat para ekonom bahwa situasi ini bukan pertanda baik bagi perekonomian Indonesia. Deflasi yang berkelanjutan, ditambah dengan penurunan konsumsi barang non-primer, bisa mengindikasikan masalah yang lebih dalam pada struktur ekonomi kita. Jika tidak ditangani dengan tepat, situasi ini berpotensi mengarah pada stagnasi ekonomi atau bahkan resesi.
Dampak Deflasi terhadap Perekonomian
Deflasi yang tengah dialami Indonesia tak hanya fenomena penurunan harga semata. Dampaknya bisa jauh lebih luas dan dalam terhadap perekonomian negara. Kita perlu membaca dengan seksama bagaimana deflasi ini bisa mempengaruhi berbagai aspek ekonomi, dari produktivitas usaha hingga tingkat pengangguran.
Salah satu dampak dari deflasi adalah risiko penurunan produktivitas dunia usaha. Ketika harga-harga turun secara konsisten, perusahaan cenderung mengurangi produksinya. Hal ini bukan tanpa bukti; penurunan harga berarti margin keuntungan yang lebih kecil, sehingga perusahaan harus mengoptimalkan biaya produksi. Akibatnya, produktivitas bisa menurun, yang pada gilirannya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, deflasi yang berkelanjutan ini berpotensi mendorong penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga di bawah 5% tahun ini. Angka ini tentu jauh dari target pemerintah dan bisa menjadi sinyal peringatan bagi stabilitas ekonomi jangka panjang. Perlambatan pertumbuhan ini bisa berdampak luas, mulai dari penurunan pendapatan negara hingga terhambatnya program-program pembangunan.
Deflasi juga menciptakan iklim ketidakpastian yang membuat investor cenderung bersikap wait and see. Para investor menjadi ragu untuk melakukan ekspansi usaha atau investasi baru. Sikap ini bisa memperlambat laju pertumbuhan ekonomi lebih lanjut, sebab investasi merupakan salah satu motor penggerak utama perekonomian. Tanpa adanya injeksi modal baru, sulit bagi ekonomi untuk berkembang.
Yang paling mengkhawatirkan, deflasi bisa meningkatkan risiko pengangguran. Ketika perusahaan mengurangi produksi sebagai respons terhadap penurunan harga dan permintaan, perusahaan mungkin terpaksa melakukan efisiensi tenaga kerja. Hal ini berarti ada potensi peningkatan jumlah pengangguran, yang bisa memiliki dampak sosial yang masif. Pengangguran tak hanya masalah ekonomi, tapi juga bisa memicu masalah sosial lainnya.
Polemik Interpretasi Data
Fenomena deflasi yang tengah dialami Indonesia telah memicu polemik di kalangan pemangku kebijakan dan para ahli ekonomi. Perbedaan interpretasi data ini bukan semata-mata perdebatan akademis, melainkan punya implikasi terhadap arah kebijakan ekonomi yang akan diambil pemerintah.
Di satu pihak, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan tegas menyatakan bahwa tren deflasi yang terjadi bukan disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat. Pemerintah berargumen bahwa deflasi ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti penurunan harga komoditas pangan dan stabilisasi harga energi. Pandangan ini tentu membawa implikasi bahwa tidak diperlukan langkah-langkah drastis untuk menstimulus ekonomi.
Senada dengan pemerintah, BPS juga berhati-hati dalam menginterpretasikan data deflasi ini. BPS menyatakan bahwa diperlukan studi lebih lanjut untuk bisa mengaitkan fenomena deflasi dengan penurunan daya beli masyarakat. BPS menekankan pentingnya analisis komprehensif terhadap berbagai indikator ekonomi sebelum menarik kesimpulan tentang kondisi daya beli masyarakat.
Namun, di sisi lain, beberapa ekonom terkemuka memiliki pandangan yang berbeda. Para ekonom berpendapat bahwa deflasi yang terjadi saat ini mengindikasikan adanya pelemahan ekonomi secara struktural. Argumen tersebut didasarkan pada analisis bahwa deflasi yang berkelanjutan, ditambah dengan penurunan penjualan barang-barang non-primer, menunjukkan adanya masalah mendasar dalam perekonomian Indonesia.
Perbedaan interpretasi ini bukan hal yang sepele. Jika pandangan pemerintah dan BPS yang diterima, maka kebijakan ekonomi mungkin akan lebih fokus pada stabilisasi harga dan peningkatan pasokan. Kendati, jika pendapat para ekonom yang diikuti, maka diperlukan kebijakan yang lebih agresif untuk menstimulus ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Polemik ini juga menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan akurasi data ekonomi yang digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jelas dan akurat tentang kondisi perekonomian negara.
Bagi kita sebagai masyarakat, perbedaan interpretasi ini menjadi pengingat akan pentingnya sikap kritis terhadap informasi ekonomi yang kita terima. Kita perlu memahami bahwa data ekonomi bisa diinterpretasikan secara berbeda, dan setiap interpretasi membawa implikasi kebijakan yang berbeda pula.
Upaya Mengatasi Dampak Deflasi
Fenomena deflasi yang tengah dialami Indonesia memprioritaskan respons cepat dan tepat dari pemerintah. Penurunan harga memang terdengar menguntungkan bagi konsumen, namun dampak jangka panjangnya bisa sangat merugikan perekonomian secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa jalan strategis yang diambil pemerintah untuk mengatasi dampak deflasi:
Pertama, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah berani dengan menurunkan suku bunga acuan. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2024, BI memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%. Langkah ini diharapkan dapat mendorong peningkatan pinjaman dan investasi, yang pada gilirannya akan merangsang pertumbuhan ekonomi.
Kedua, pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan belanja publik, terutama di sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Anggaran kesehatan untuk 2024 ditetapkan sebesar Rp 186,4 triliun atau 5,6% dari APBN, meningkat 8,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan belanja publik ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Ketiga, pemerintah memperkuat program bantuan sosial untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Beberapa program bantuan sosial yang akan disalurkan pada September 2024 antara lain Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan bantuan beras 10 kilogram. Program-program ini tujuannya untuk menjaga daya beli masyarakat prasejahtera di tengah tekanan deflasi.
Terakhir, pemerintah berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk menarik lebih banyak investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan pentingnya harmonisasi kebijakan untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi investasi (ekon.go.id, 12/7).
Strategi ini menandakan keseriusan pemerintah dalam mengatasi dampak deflasi. Meskipun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada implementasi yang konsisten dan koordinasi yang baik antar lembaga pemerintah. Masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif dengan tetap menjaga produktivitas dan konsumsi yang bertanggung jawab. Lewat usaha bersama, semoga Indonesia dapat segera keluar dari tekanan deflasi dan kembali ke jalur pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
Heru Wahyudidosen Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang
LPEM UI Pertanyakan Relevansi Data BPS soal Deflasi Beruntun
Kepala LPEM FEB UI Chaikal Nuryakin mempertanyakan soal survei biaya hidup (SBH) milik BPS yang memotret pola komsumsi yang berlaku secara umum di masyarakat. [323] url asal
#lpem-ui #bps #data-bps #inflasi #deflasi #deflasi-beruntun #deflasi-september-2024
(Bisnis.Com - Ekonomi) 11/10/24 15:37
v/16306517/
Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyoroti relevansi data milik Badan Pusat Statistik (BPS) terkait data inflasi dan deflasi.
Kepala LPEM FEB UI Chaikal Nuryakin menyampaikan pihaknya mempertanyakan soal survei biaya hidup (SBH) milik BPS yang memotret pola komsumsi terkini yang berlaku secara umum di masyarakat.
Menurutnya, bundle atau paket komoditas yang terekam tersebut tidak mencerminkan konsumsi terkini masyarakat Indonesia.
“Masyarakat sekarang banyak sekali digital goods, mereka subscribe Netflix, Dropbox, Cloud, token game, yang saya pikir itu belum dimasukkan dalam survei biaya hidup BPS,” ungkapnya dalam sesi Tanya Peneliti LPEM dalam kanal YouTube LPEM FEB UI, dikutip Jumat (11/10/2024).
Untuk diketahui, paket komoditas adalah sebuah daftar yang memuat sejumlah barang dan jasa (komoditas) yang secara dominan dikonsumsi oleh masyarakat di suatu kabupaten/kota.
Sementara itu, nilai konsumsi adalah akumulasi dari nilai pengeluaran yang dibayarkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi terhadap sejumlah komoditas yang ada dalam paket komoditas tersebut.
Kedua output ini selanjutnya digunakan untuk memperbaharui penyusunan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai dasar penghitungan inflasi di level konsumen.
Melihat laporan SBH BPS Tahun 2022, pengeluaran konsumsi rumah tangga dibagi menjadi dua kelompok besar pengeluaran, yaitu pengeluaran untuk makanan, minuman, dan tembakau, serta pengeluaran untuk selain makanan, minuman, dan tembakau.
Untuk subkelompok Layanan Informasi dan Komunikasi, tidak semua daerah merekam komoditas Biaya Berlangganan Konten Online. Utamanya yang terekam adalah tarif Telepon dan Tarif Pulsa Ponsel.
Maka dari itu, Chaikal menyampaikan deflasi yang terjadi selama lima bulan terakhir tidak dapat mencerminkan penurunan daya beli masyarakat.
Terlebih, deflasi yang terjadi utamanya pada komponen harga bergejolak atau volatile food (VF).
“Daya beli kelas menengah yang menurun seharusya akan lebih terlihat di inflasi inti,” lanjutnya.
Adapun, BPS mencatat IHK pada September 2024 sebesar -0,12% (month to month/MtM) dan sebesar 1,82% secara tahunan atau year on year (YoY).
Hal ini menunjukkan deflasi untuk lima bulan berturut-turut setelah IHK mulai mencatatkan deflasi bulanan sejak Mei 2024.