#30 tag 24jam
Pemerintah Mau "Sulap" Rumput Laut Jadi Bioavtur
Rosan bilang pihaknya saat ini sedang berkoordinasi dengan KKP untuk menggodok rencana rumput laut jadi bioavtur. Halaman all [378] url asal
#jakarta #rosan-roeslani #rumput-laut #bioavtur #menteri-investasi
(Kompas.com) 03/11/24 19:00
v/17420488/
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani buka suara soal rencana pemerintah yang akan mengembangkan rumput laut menjadi produk bioavtur.
Rosan bilang pihaknya saat ini sedang berkoordinasi dengan Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) untuk menggodok rencana tersebut.
“Kita juga koordinasi dengan Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP) untuk hal itu dan kita sudah ada gambaran awalnya jadi kita sudah sampaikan dan kita memastikan potensi prioritasnya apa,” ujar Bahlil dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (3/11/2024).
Lebih lanjut Rosan mengatakan, pihaknya sudah melakukan riset mengenai rencana tersebut sehingga diharapkan tahun depan pemanfaatan rumput laut menjadi bioavtur bisa dieksekusi tahun depan.
Wilayah-wilayah yang akan difokuskan untuk pengolahan rumput laut itu adalah wilayah-wilayah yang kaya akan rumput laut seperti Bali hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Rumput laut ini kita nomor 2 penghasil rumput laut terbesar dan Insha Allah kita akan sesegera mungkin mengeksekusi tapi kita masih komunikasi terus dengan KKP,” jelasnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, proyek hilirisasi bukan hanya sebatas mineral namun juga rumput laut. Hal itu lantaran potensi besar dari rumput laut belum dikelola dengan baik di Indonesia. Indonesia memiliki pesisir terpanjang ke-2 di dunia, dengan panjang 81.000 kilometer (km).
Dari rumput laut, Jokowi bilang, komoditas ini bisa diolah jadi jadi pupuk organik, kosmetik, tepung, bahkan bahan bakar. Tak tanggung-tanggung, rumput laut bisa diolah menjadi bahan bakar pesawat.
"Turunannya itu ke pupuk organik, agar, kosmetik, untuk tepung, dan juga untuk minyak pesawat terbang sekarang ini bisa dari rumput laut," ungkap Jokowi dalam Kongres ISEI yang disiarkan virtual, Kamis (19/9/2024).
Mengenal Bioavtur, Bahan Bakar Penerbangan Ramah Lingkungan
Bioavtur menjadi solusi pontensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan. Kenali apa itu Bioavtur, keunggulan, hingga produksinya. Halaman all [1,193] url asal
#pertamina #bioavtur #bioavtur-pertamina #apa-itu-bioavtur #green-avtur #sustainable-aviation-fuel-saf-pertamina #keunggulan-bioavtur
(Kompas.com) 29/10/24 22:35
v/17187856/
KOMPAS.com - Semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim yang terjadi, Bioavtur atau disebut sebagai Green Avtur muncul sebagai solusi potensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan.
Sebagai perusahaan energi nasional, PT Pertamina (Persero) memainkan peran penting dalam transisi energi hijau ramah lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan adanya inovasi produk energi hijau salah satunya Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Bioavtur menawarkan alternatif menjanjikan sebagai bahan bakar pesawat terbang, yang diharapkan dapat menjadi solusi utama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Tidak hanya memanfaatkan sumber daya biomassa terbarukan, Bioavtur juga mendukung pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Apa itu Bioavtur?
Dilansir dari laman resmi Pertamina, Pertamina SAF atau Bioavtur adalah bahan bakar ramah lingkungan yang menggunakan campuran komponen minyak sawit dalam formulanya. Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat yang dibuat dari campuran avtur dan kelapa sawit 2,4 persen.
Proses produksinya melibatkan konversi bahan baku menjadi molekul bahan bakar yang mirip dengan avtur konvensional, sehingga bisa digunakan dalam mesin pesawat tanpa modifikasi besar.
Bioavtur dibuat dari bahan baku minyak inti kelapa sawit, yang telah melalui proses refined, bleached, and deodorized (RBD). Aspek pemanfaatan komponen minyak sawit dapat mendorong perkembangan industri dan ekonomi di dalam negeri.
Keunggulan Bioavtur
Dikutip dari laman resmi Pertamina, avtur ramah lingkungan memiliki keunggulan utama pada pengurangan emisi karbon. Bioavtur bisa mengurangi emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan avtur konvensional.
Hal ini tentunya membantu mengurangi dampak lingkungan industri penerbangan, yang menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.
Sejauh ini, produk Bioavtur diproduksi di kilang minyak PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Proyek Strategis Nasional (PSN) Green Refinery Cilacap termasuk program unggulan energi transisi, dalam mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2024.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emmision," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso dalam keterangan resmi pada 10 Juli 2024.
Dok. Pertamina Patra Niaga Pertamina Patra Niaga menyalurkan produk bahan bakar bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke maskapai nasional Citilink.Perjalanan produksi Bioavtur
Pertamina RU IV Cilacap resmi melakukan uji coba produksi Biavtur atau Green Avtur pada akhir Desember 2020.
Uji coba dilakukan untuk memastikan kualitas Bioavtur, dengan co-processing injeksi 3 persen minyak kelapa sawit atau CPO yang telah diproses, sehingga hilang getah, impurities, dan baunya.
Pada 27 Oktober 2023, Garuda Indonesia melayani penerbangan komersil perdana memakai bahan bakar ramah lingkungan Green Avtur, dengan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Adi Soemarmo Solo, dan kembali ke Jakarta.
Dalam konteks pengembangan Bioavtur di Tanah Air, inisiasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) telah dimulai sejak tahun 2010 melalui Research and Technology Innovation Pertamina, dengan riset pengembangan produk dan katalis.
Pada tahun 2021, PT Kilang Pertamina Internasional berhasil memproduksi SAF J2.4 di kilang RU IV Cilacap dengan teknologi minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau, berkapasitas 1.350 kiloliter (KL) per hari.
Rangkaian uji coba produk SAF dimulai dari cell test di fasilitas milik Garuda Maintenance Facility (GMF), ground run, flight test pada pesawat militer CN-235 milik PT Dirgantara Indonesia.
Selanjutnya, pada 4 Oktober 2023, produk SAF diujicobakan ke pesawat komersial Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia dan terakhir terhadap pesawat Boeing PK GFX Seri 727-800.
Dari serangkaian uji coba yang telah dilakukan, menunjukkan performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional.
Sementara itu, dalam acara Bali International Airshow 2024 di Bandara Ngurah Rai, Pertamina Patra Niaga menyalurkan SAF kepada maskapai komersial nasional Citilink.
Pada tahap awal, Citilink telah berhasil melakukan uplifting SAF sebesar 30 KL untuk empat hari kegiatan selama perhelatan Bali International Airshow 2024.
Pencapaian tersebut menunjukkan potensi SAF sebagai bahan bakar alternatif lebih ramah lingkungan untuk dunia aviasi ke depan.
Dok.Pertamina Helikopter Bell 407 terlihat menjadi armada pertama di Indonesia yang menggunakan SAF pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (19/9/2024). Dekarbonisasi penerbangan nasional
Pertamina terus mengembangkan bisnis energi hijau dengan terus membangun kerjasama dengan pihak lain, salah satunya Airbus. Kerjasama dilakukan untuk menjajaki peluang pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Tanah Air.
Kerjasama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dilaksanakan di acara Bali International Air Show 2024 pada 18 September 2024 di Ngurah Rai International Airport, Bali.
Penandatanganan diwakili oleh Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Salyadi Saputra dan Presiden Airbus Asia Pasifik Anand Stanley.
Pertamina dan Airbus akan berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan dalam negeri dan berbagai pengetahuan di bidang infrastruktur dan proses pencampuran Bioavtur, penanganan sertifikasi, hingga hal teknis lainnya di bandara.
Akan dilakukan pemetaan bahan baku dan pemeriksaan kebutuhan logistik, serta peluang pengembangan komersialnya.
Hasil studi akan mendukung pengembangan dan produksi SAF dalam negeri sesuai dengan ICAO-CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) dan RED-EU (Renewable Energy Directive-European Union).
Ditegaskan bahwa Pertamina SAF atau Green Avtur telah memenuhi berbagai standar internasional, termasuk sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk program CORSIA dan RED-UE.
Green Avtur atau Bioavtur juga telah dipastikan keamanannya, memenuhi standar yang ditetapkan American Society of Testing and Materials (ASTM), serta terdaftar sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
Bioavtur menjadi langkah positif menuju penerbangan berkelanjutan yang mampu mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.
"Pertamina SAF merupakan campuran dari bahan baku terbarukan yaitu Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah," tutur Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan pada 20 September 2024.
Untuk diketahui, Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu pasar yang memiliki pertumbuhan tertinggi di dunia pada sektor industri penerbangan.
Diperkirakan peningkatan lalu lintas penumpang sekitar 7,4 persen per tahun. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yaitu sebesar 3,6 persen.
Selain itu, terdapat potensi besar sebagai sumber bahan baku SAF yang menjanjikan, seperti minyak goreng bekas, residu pertanian, dan sampah kota.
Pertamina akan terus berproses dan mengembangkan kilang menjadi green refinery untuk mendukung optimalisasi produksi SAF. Pengembangan SAF menjadi salah satu upaya transisi energi, sekaligus mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
"Harapannya ke depan SAF akan semakin diminati dan tentunya akan memberikan dampak baik pengurangan emisi karbon di industri aviasi baik Indonesia dan global," pungkas Fadjar.
Mengenal Bioavtur, Bahan Bakar Penerbangan Ramah Lingkungan
Bioavtur menjadi solusi pontensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan. Kenali apa itu Bioavtur, keunggulan, hingga produksinya. Halaman all [1,193] url asal
#pertamina #bioavtur #bioavtur-pertamina #apa-itu-bioavtur #green-avtur #sustainable-aviation-fuel-saf-pertamina #keunggulan-bioavtur
(Kompas.com) 29/10/24 22:35
v/17178274/
KOMPAS.com - Semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim yang terjadi, Bioavtur atau disebut sebagai Green Avtur muncul sebagai solusi potensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan.
Sebagai perusahaan energi nasional, PT Pertamina (Persero) memainkan peran penting dalam transisi energi hijau ramah lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan adanya inovasi produk energi hijau salah satunya Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Bioavtur menawarkan alternatif menjanjikan sebagai bahan bakar pesawat terbang, yang diharapkan dapat menjadi solusi utama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Tidak hanya memanfaatkan sumber daya biomassa terbarukan, Bioavtur juga mendukung pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Apa itu Bioavtur?
Dilansir dari laman resmi Pertamina, Pertamina SAF atau Bioavtur adalah bahan bakar ramah lingkungan yang menggunakan campuran komponen minyak sawit dalam formulanya. Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat yang dibuat dari campuran avtur dan kelapa sawit 2,4 persen.
Proses produksinya melibatkan konversi bahan baku menjadi molekul bahan bakar yang mirip dengan avtur konvensional, sehingga bisa digunakan dalam mesin pesawat tanpa modifikasi besar.
Bioavtur dibuat dari bahan baku minyak inti kelapa sawit, yang telah melalui proses refined, bleached, and deodorized (RBD). Aspek pemanfaatan komponen minyak sawit dapat mendorong perkembangan industri dan ekonomi di dalam negeri.
Keunggulan Bioavtur
Dikutip dari laman resmi Pertamina, avtur ramah lingkungan memiliki keunggulan utama pada pengurangan emisi karbon. Bioavtur bisa mengurangi emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan avtur konvensional.
Hal ini tentunya membantu mengurangi dampak lingkungan industri penerbangan, yang menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.
Sejauh ini, produk Bioavtur diproduksi di kilang minyak PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Proyek Strategis Nasional (PSN) Green Refinery Cilacap termasuk program unggulan energi transisi, dalam mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2024.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emmision," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso dalam keterangan resmi pada 10 Juli 2024.
Dok. Pertamina Patra Niaga Pertamina Patra Niaga menyalurkan produk bahan bakar bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke maskapai nasional Citilink.Perjalanan produksi Bioavtur
Pertamina RU IV Cilacap resmi melakukan uji coba produksi Biavtur atau Green Avtur pada akhir Desember 2020.
Uji coba dilakukan untuk memastikan kualitas Bioavtur, dengan co-processing injeksi 3 persen minyak kelapa sawit atau CPO yang telah diproses, sehingga hilang getah, impurities, dan baunya.
Pada 27 Oktober 2023, Garuda Indonesia melayani penerbangan komersil perdana memakai bahan bakar ramah lingkungan Green Avtur, dengan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Adi Soemarmo Solo, dan kembali ke Jakarta.
Dalam konteks pengembangan Bioavtur di Tanah Air, inisiasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) telah dimulai sejak tahun 2010 melalui Research and Technology Innovation Pertamina, dengan riset pengembangan produk dan katalis.
Pada tahun 2021, PT Kilang Pertamina Internasional berhasil memproduksi SAF J2.4 di kilang RU IV Cilacap dengan teknologi minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau, berkapasitas 1.350 kiloliter (KL) per hari.
Rangkaian uji coba produk SAF dimulai dari cell test di fasilitas milik Garuda Maintenance Facility (GMF), ground run, flight test pada pesawat militer CN-235 milik PT Dirgantara Indonesia.
Selanjutnya, pada 4 Oktober 2023, produk SAF diujicobakan ke pesawat komersial Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia dan terakhir terhadap pesawat Boeing PK GFX Seri 727-800.
Dari serangkaian uji coba yang telah dilakukan, menunjukkan performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional.
Sementara itu, dalam acara Bali International Airshow 2024 di Bandara Ngurah Rai, Pertamina Patra Niaga menyalurkan SAF kepada maskapai komersial nasional Citilink.
Pada tahap awal, Citilink telah berhasil melakukan uplifting SAF sebesar 30 KL untuk empat hari kegiatan selama perhelatan Bali International Airshow 2024.
Pencapaian tersebut menunjukkan potensi SAF sebagai bahan bakar alternatif lebih ramah lingkungan untuk dunia aviasi ke depan.
Dok.Pertamina Helikopter Bell 407 terlihat menjadi armada pertama di Indonesia yang menggunakan SAF pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (19/9/2024). Dekarbonisasi penerbangan nasional
Pertamina terus mengembangkan bisnis energi hijau dengan terus membangun kerjasama dengan pihak lain, salah satunya Airbus. Kerjasama dilakukan untuk menjajaki peluang pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Tanah Air.
Kerjasama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dilaksanakan di acara Bali International Air Show 2024 pada 18 September 2024 di Ngurah Rai International Airport, Bali.
Penandatanganan diwakili oleh Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Salyadi Saputra dan Presiden Airbus Asia Pasifik Anand Stanley.
Pertamina dan Airbus akan berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan dalam negeri dan berbagai pengetahuan di bidang infrastruktur dan proses pencampuran Bioavtur, penanganan sertifikasi, hingga hal teknis lainnya di bandara.
Akan dilakukan pemetaan bahan baku dan pemeriksaan kebutuhan logistik, serta peluang pengembangan komersialnya.
Hasil studi akan mendukung pengembangan dan produksi SAF dalam negeri sesuai dengan ICAO-CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) dan RED-EU (Renewable Energy Directive-European Union).
Ditegaskan bahwa Pertamina SAF atau Green Avtur telah memenuhi berbagai standar internasional, termasuk sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk program CORSIA dan RED-UE.
Green Avtur atau Bioavtur juga telah dipastikan keamanannya, memenuhi standar yang ditetapkan American Society of Testing and Materials (ASTM), serta terdaftar sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
Bioavtur menjadi langkah positif menuju penerbangan berkelanjutan yang mampu mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.
"Pertamina SAF merupakan campuran dari bahan baku terbarukan yaitu Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah," tutur Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan pada 20 September 2024.
Untuk diketahui, Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu pasar yang memiliki pertumbuhan tertinggi di dunia pada sektor industri penerbangan.
Diperkirakan peningkatan lalu lintas penumpang sekitar 7,4 persen per tahun. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yaitu sebesar 3,6 persen.
Selain itu, terdapat potensi besar sebagai sumber bahan baku SAF yang menjanjikan, seperti minyak goreng bekas, residu pertanian, dan sampah kota.
Pertamina akan terus berproses dan mengembangkan kilang menjadi green refinery untuk mendukung optimalisasi produksi SAF. Pengembangan SAF menjadi salah satu upaya transisi energi, sekaligus mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
"Harapannya ke depan SAF akan semakin diminati dan tentunya akan memberikan dampak baik pengurangan emisi karbon di industri aviasi baik Indonesia dan global," pungkas Fadjar.
Mengenal Bioavtur, Bahan Bakar Penerbangan Ramah Lingkungan Halaman all
Bioavtur menjadi solusi pontensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan. Kenali apa itu Bioavtur, keunggulan, hingga produksinya. Halaman all [1,193] url asal
#pertamina #bioavtur #bioavtur-pertamina #apa-itu-bioavtur #green-avtur #sustainable-aviation-fuel-saf-pertamina #keunggulan-bioavtur
(Kompas.com) 29/10/24 22:35
v/17176103/
KOMPAS.com - Semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim yang terjadi, Bioavtur atau disebut sebagai Green Avtur muncul sebagai solusi potensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan.
Sebagai perusahaan energi nasional, PT Pertamina (Persero) memainkan peran penting dalam transisi energi hijau ramah lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan adanya inovasi produk energi hijau salah satunya Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Bioavtur menawarkan alternatif menjanjikan sebagai bahan bakar pesawat terbang, yang diharapkan dapat menjadi solusi utama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Tidak hanya memanfaatkan sumber daya biomassa terbarukan, Bioavtur juga mendukung pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Apa itu Bioavtur?
Dilansir dari laman resmi Pertamina, Pertamina SAF atau Bioavtur adalah bahan bakar ramah lingkungan yang menggunakan campuran komponen minyak sawit dalam formulanya. Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat yang dibuat dari campuran avtur dan kelapa sawit 2,4 persen.
Proses produksinya melibatkan konversi bahan baku menjadi molekul bahan bakar yang mirip dengan avtur konvensional, sehingga bisa digunakan dalam mesin pesawat tanpa modifikasi besar.
Bioavtur dibuat dari bahan baku minyak inti kelapa sawit, yang telah melalui proses refined, bleached, and deodorized (RBD). Aspek pemanfaatan komponen minyak sawit dapat mendorong perkembangan industri dan ekonomi di dalam negeri.
Keunggulan Bioavtur
Dikutip dari laman resmi Pertamina, avtur ramah lingkungan memiliki keunggulan utama pada pengurangan emisi karbon. Bioavtur bisa mengurangi emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan avtur konvensional.
Hal ini tentunya membantu mengurangi dampak lingkungan industri penerbangan, yang menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.
Sejauh ini, produk Bioavtur diproduksi di kilang minyak PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Proyek Strategis Nasional (PSN) Green Refinery Cilacap termasuk program unggulan energi transisi, dalam mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2024.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emmision," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso dalam keterangan resmi pada 10 Juli 2024.
Dok. Pertamina Patra Niaga Pertamina Patra Niaga menyalurkan produk bahan bakar bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke maskapai nasional Citilink.Perjalanan produksi Bioavtur
Pertamina RU IV Cilacap resmi melakukan uji coba produksi Biavtur atau Green Avtur pada akhir Desember 2020.
Uji coba dilakukan untuk memastikan kualitas Bioavtur, dengan co-processing injeksi 3 persen minyak kelapa sawit atau CPO yang telah diproses, sehingga hilang getah, impurities, dan baunya.
Pada 27 Oktober 2023, Garuda Indonesia melayani penerbangan komersil perdana memakai bahan bakar ramah lingkungan Green Avtur, dengan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Adi Soemarmo Solo, dan kembali ke Jakarta.
Dalam konteks pengembangan Bioavtur di Tanah Air, inisiasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) telah dimulai sejak tahun 2010 melalui Research and Technology Innovation Pertamina, dengan riset pengembangan produk dan katalis.
Pada tahun 2021, PT Kilang Pertamina Internasional berhasil memproduksi SAF J2.4 di kilang RU IV Cilacap dengan teknologi minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau, berkapasitas 1.350 kiloliter (KL) per hari.
Rangkaian uji coba produk SAF dimulai dari cell test di fasilitas milik Garuda Maintenance Facility (GMF), ground run, flight test pada pesawat militer CN-235 milik PT Dirgantara Indonesia.
Selanjutnya, pada 4 Oktober 2023, produk SAF diujicobakan ke pesawat komersial Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia dan terakhir terhadap pesawat Boeing PK GFX Seri 727-800.
Dari serangkaian uji coba yang telah dilakukan, menunjukkan performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional.
Sementara itu, dalam acara Bali International Airshow 2024 di Bandara Ngurah Rai, Pertamina Patra Niaga menyalurkan SAF kepada maskapai komersial nasional Citilink.
Pada tahap awal, Citilink telah berhasil melakukan uplifting SAF sebesar 30 KL untuk empat hari kegiatan selama perhelatan Bali International Airshow 2024.
Pencapaian tersebut menunjukkan potensi SAF sebagai bahan bakar alternatif lebih ramah lingkungan untuk dunia aviasi ke depan.
Dok.Pertamina Helikopter Bell 407 terlihat menjadi armada pertama di Indonesia yang menggunakan SAF pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (19/9/2024). Dekarbonisasi penerbangan nasional
Pertamina terus mengembangkan bisnis energi hijau dengan terus membangun kerjasama dengan pihak lain, salah satunya Airbus. Kerjasama dilakukan untuk menjajaki peluang pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Tanah Air.
Kerjasama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dilaksanakan di acara Bali International Air Show 2024 pada 18 September 2024 di Ngurah Rai International Airport, Bali.
Penandatanganan diwakili oleh Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Salyadi Saputra dan Presiden Airbus Asia Pasifik Anand Stanley.
Pertamina dan Airbus akan berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan dalam negeri dan berbagai pengetahuan di bidang infrastruktur dan proses pencampuran Bioavtur, penanganan sertifikasi, hingga hal teknis lainnya di bandara.
Akan dilakukan pemetaan bahan baku dan pemeriksaan kebutuhan logistik, serta peluang pengembangan komersialnya.
Hasil studi akan mendukung pengembangan dan produksi SAF dalam negeri sesuai dengan ICAO-CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) dan RED-EU (Renewable Energy Directive-European Union).
Ditegaskan bahwa Pertamina SAF atau Green Avtur telah memenuhi berbagai standar internasional, termasuk sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk program CORSIA dan RED-UE.
Green Avtur atau Bioavtur juga telah dipastikan keamanannya, memenuhi standar yang ditetapkan American Society of Testing and Materials (ASTM), serta terdaftar sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
Bioavtur menjadi langkah positif menuju penerbangan berkelanjutan yang mampu mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.
"Pertamina SAF merupakan campuran dari bahan baku terbarukan yaitu Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah," tutur Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan pada 20 September 2024.
Untuk diketahui, Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu pasar yang memiliki pertumbuhan tertinggi di dunia pada sektor industri penerbangan.
Diperkirakan peningkatan lalu lintas penumpang sekitar 7,4 persen per tahun. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yaitu sebesar 3,6 persen.
Selain itu, terdapat potensi besar sebagai sumber bahan baku SAF yang menjanjikan, seperti minyak goreng bekas, residu pertanian, dan sampah kota.
Pertamina akan terus berproses dan mengembangkan kilang menjadi green refinery untuk mendukung optimalisasi produksi SAF. Pengembangan SAF menjadi salah satu upaya transisi energi, sekaligus mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
"Harapannya ke depan SAF akan semakin diminati dan tentunya akan memberikan dampak baik pengurangan emisi karbon di industri aviasi baik Indonesia dan global," pungkas Fadjar.
Peta Jalan Hilirisasi: Indonesia akan Kembangkan Bioavtur dari Kelapa
Hilirisasi industri kelapa memiliki tujuh arah diversifikasi, antara lain untuk bahan baku bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau bioavtur. [476] url asal
#hilirisasi #bioavtur #kelapa #update-me
(Katadata - BERITA) 27/09/24 19:42
v/15636126/
Pemerintah telah menyusun peta jalan hilirisasi di industri kelapa dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional 2025-2045. Kementerian PPN/Bappenas, menjelaskan hilirisasi kelapa memiliki tujuh arah diversifikasi, antara lain untuk bahan baku bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau bioavtur.
Staf Ahli Menteri PPN Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur Leonardo A. A. Teguh Sambodo mengatakan, inisiatif bioavtur ini datang dari investor Jepang. Jepang telah memiliki teknologi untuk mengolah kelapa menjadi Bioavtur.
“Inisiatornya Indonesia Japan Business Network (IJBNet) yang sudah dapat mitra dari Jepang yang memproduksi Bioavtur. IJBNet saat ini sedang mempersiapkan pembangunan pabrik crude coconut oil (CNO) di Banyuasin, Sumatera Selatan,” kata Teguh saat dihubungi pada Jumat (27/9).
Namun, dia menyebut saat ini belum ada nama perusahaan yang diputuskan untuk mengembangkan Bioavtur di Indonesia. Adapun produksi bioavtur di Indonesia baru bisa terlaksana apabila pabrik CNO telah terbangun.
Menurut Teguh, pengembangan Bioavtur dipilih sebagai salah satu diversifikasi produk hilirisasi karena kelapa telah mendapatkan persetujuan atau serifikasi dari lembaga internasional. “Kelapa ini bisa digunakan dan aman. Ini menjadi salah satu keunggulan dibandingkan kelapa sawit yang belum mendapatkan sertifikasi. Jadi hal ini perlu untuk dimanfaatkan,” ujarnya.
Pabrik CNO ini nantinya akan mengolah kelapa-kelapa yang tidak memenuhi standar pangan. “Sehingga kelapa-kelapa kualitas akhir yang selama ini dibuang bisa dimanfaatkan,” ucapnya.
Hilirisasi Kelapa
Teguh mengatakan hilirisasi kelapa didorong oleh hadirnya Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang rencana pembangunan jangka panjang nasional 2025-2045. Indonesia akan menjadikan hilirisasi sebagai motor penggerak industri pengolahan yang bahan bakunya disediakan dari dalam negeri.
"Kelapa dipilih karena sebelum 2020 Indonesia menjadi penghasil kelapa terbesar di dunia secara volume dan hasil. Namun sejak pandemi ternyata kita disalip Filipina,” kata Teguh.
Teguh menyebut, luasan lahan kelapa Filipina saat ini menjadi yang terbesar di dunia, mencapai 3,7 juta hektare (ha). Sementara Indonesia hanya mencapai 3,3 juta ha.
Tidak hanya produksi dan volume, Indonesia juga kalah dari Filipina dari segi pengekspor kelapa dan turunannya. Menurut Teguh, kondisi ini menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa kinerja Indonesia di sektor kelapa sudah dilampaui oleh Filipina. Karena itu, menurutnya, perlu konsolidasi dari pemerintah untuk menghadapi tantangan di sektor kelapa.
Menurut dia, industri kelapa nasional menghadapi masalah produktivitas yang stagnan di angka 1,1 ton per ha dan pola budidaya kelapa juga masih konvensional. Sebanyak 378 ribu ha tanaman juga sudah tua dan perlu diganti.
“Namun untuk bisa mengganti itu ternyata kapasitas produksi benih kita baru satu juta benih, batang bertahun. Potensinya kalau semuanya memproduksi itu bisa 9 juta, tapi ternyata kebutuhannya 41 juta. Jadi jauh sekali ya, antara kemampuan dan produksi benih,” ujarnya.
Teguh menyebut, kemampuan pemerintah saat ini belum bisa membantu penggantian tanaman seluas 378 ribu ha. Ia menyebut butuh waktu 38 tahun jika pemerintah ingin mengganti seluruh tanaman kelapa yang sudah tua.
“Sehingga kita perlu ada percepatan. Hal ini juga dipicu oleh permintaan yang tinggi dari Amerika, Eropa, dan Cina dengan permintaan susu kelapanya cukup tinggi,” ucapnya.
Minyak Kelapa Bisa Diolah Jadi Bioavtur, Jepang Siapkan Pabrik di Banyuasin - kumparan.com
Minyak kelapa dapat diolah menjadi produk turunan salah satunya adalah bioavtur. [444] url asal
#minyak-kelapa #avtur #bioavtur #jepang #energi
(Kumparan.com - Bisnis) 27/09/24 19:03
v/15635790/
Minyak kelapa dapat diolah menjadi produk turunan salah satunya adalah bioavtur. Melihat prospek cerah untuk transisi energi hijau dari turunan buah kelapa ini, investor Jepang menginisiasi teknologi pengolahan buah kelapa menjadi Crude Coconut Oil atau minyak kelapa mentah.
Staf Ahli Menteri PPN Bidang Pembangunan Sektor Unggulan dan Infrastruktur Leonardo A.A Teguh Sambodo menyebut teknologi yang dikembangkan Jepang dapat mengolah minyak kelapa menjadi bioavtur sebagai alternatif selain kelapa sawit.
“Mereka mulai mencari sourcing selain kelapa sawit yaitu [minyak kelapa] kemudian mereka melihat [minyak] kelapa menjadi salah satu potensi,” katanya dalam Media Briefing Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2024-2025 di Komplek Megaria, Cikini, Jakarta Pusat pada Jumat (27/8).
Leonardo bilang masuknya investor Jepang untuk pengolahan kelapa menjadi bioavtur diinisiasi oleh Indonesia Japan Business Network (IJBNet). Saat ini, IJBNet juga sedang menyiapkan pabrik CNO di Banyuasin, Sumatera Selatan.
Walau begitu, pengolahan CNO menjadi bioavtur masih dilakukan di Jepang. Leonardo bilang, untuk memproduksi bioavtur di Indonesia, diperlukan lima pabrik CNO di dalam negeri.
“Nah pengolahannya sayangnya masih di Jepang. Bioavtur itu baru bisa diproduksi di Indonesia apabila pabrik dari CNO ini bisa yang CNO berbasis kelapa yang non-standar ini bisa diperbanyak menjadi lima. Jadi ini ada tahap-tahapan yang perlu kita siapkan untuk bisa menangkap ruang yang terbuka,” jelas Leonardo.
Nantinya kelapa yang dipakai adalah kelapa afkir yang tidak digunakan untuk kebutuhan pangan. Hal ini menjadi menurut Leonardo menjadi salah satu inovasi karena kelapa afkir selama ini banyak dibuang.
“Nah, sehingga yang dipakai adalah bahan baku kelapa afkir atau kelapa non-standar. Jadi kelapanya yang kecil, air yang sedikit, gitu ya. Sehingga kelapa-kelapa afkir ini yang selama ini dibuang, akhirnya bisa dimanfaatkan,” lanjutnya.
Penggunaan kelapa afkir untuk diolah menjadi CNO yang nantinya akan menjadi bioavtur juga didasari persaingan penggunaan kelapa yang selama ini lebih banyak digunakan untuk kebutuhan pangan.
“Tentu mereka sadar ini persaingan penggunaan kelapa dengan pangan kan sangat tinggi. Karena sebagian besar kelapa memang sekarang digunakannya untuk pangan,” kata Leonardo lebih lanjut.
Leonardo juga melihat jika ke depan budidaya kelapa di Indonesia semakin maju maka jumlah kelapa afkir akan menurun. Maka dari itu, pihaknya mendorong agar investasi terhadap kelapa afkir tetap ada.
Soal penggunaan kelapa afkir yang diolah menjadi CNO untuk menjadi bioavtur, Leonardo bilang sudah ada sertifikasi untuk CNO.
“Karena ternyata ini sudah mendapatkan persetujuan dari lembaga internasional yang memang menyetujui apakah bioavtur dari kelapa ini bisa digunakan dan aman digunakan dan itu sudah mendapatkan sertifikatnya,” katanya lebih lanjut.
Penggunaan CNO dari kelapa juga dipandang Leonardo lebih unggul dari kelapa sawit. Hal ini karena penggunaan kelapa sawit sebagai bahan bioavtur belum memiliki sertifikat.
“Dan ini menjadi salah satu keunggulan dari kelapa (sawit). Kenapa? Karena yang kelapa sawit belum mendapatkan sertifikatnya,” sebutnya.
Pertamina Patra Niaga Tepis Tudingan KPPU Soal Monopoli Avtur
Pertamina Patra Niaga mengklarifikasi apa yang disampaikan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) soal praktik monopoli penyediaan avtur di Indonesia. [232] url asal
#pertamina-patra-niaga #pertamina #kppu #monopoli #avtur #bioavtur #bbm #update-me
(Katadata) 27/09/24 12:13
v/15622791/
Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) menyampaikan, perusahaan tak pernah menolak kerja sama dengan pelaku usaha yang ingin masuk ke pasar avtur maupun dengan penjualan terbatas pada afiliasi.
Hal tersebut mengklarifikasi apa yang disampaikan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) soal praktik monopoli penyediaan avtur di Indonesia.
“Pertamina Patra Niaga tidak pernah menolak kerja sama karena sampai saat ini belum ada permintaan dari Izin Niaga Umum (INU) lain,” tegas Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari secara tertulis, Jumat (27/9).
Pertamina Patra Niaga menyatakan, pihaknya selalu menaati Peraturan BPH MIGAS No. 13/P/BPH Migas/IV/2008 tentang Pengaturan dan Pengawasan Atas Pelaksanaan Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak Penerbangan di Bandar Udara. Aturan ini menjadi acuan badan usaha dalam menyediakan avtur di Indonesia.
Heppy menuturkan, pihaknya selalu menaati segala peraturan yang dikeluarkan pemerintah salah satunya Peraturan BPH Migas 13/2008.
“Aturan tersebut menjadi panduan badan usaha untuk mencegah praktik monopoli dalam penyediaan avtur di Indonesia dan membuat ekosistem bisnis yang fair dengan tetap mengutamakan aspek safety, quality, dan kepentingan nasional,” ujarnya.
Sebagai badan usaha penyalur avtur, Pertamina Patra Niaga juga akan selalu mendukung kebijakan pemerintah dan tetap bertanggung jawab menyediakan avtur di 72 DPPU yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kami meyakini kebijakan tersebut akan mempertimbangkan berbagai aspek termasuk kemandirian energi nasional, ketahanan nasional, aspek keselamatan penerbangan selain harga yang tentu saja diharapkan dapat terjangkau di masyarakat,” ujar Heppy.
Harga Bioavtur Masih Mahal, Bakal Kerek Harga Tiket Pesawat
Saat ini harga bioavtur masih 300%-400% lebih mahal dibandingkan dengan harga avtur konvensional. [364] url asal
#bioavtur #tiket-pesawat #energi-bersih #update-me
(Katadata - EKONOMI HIJAU) 26/09/24 19:01
v/15598403/
Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai penerapan bioavtur untuk bahan bakar pesawat dalam waktu dekat akan mengerek harga tiket yang dikenakan kepada penumpang. Hal ini disebabkan oleh harga bioavtur yang 300%-400% lebih mahal dibandingkan dengan avtur konvensional.
Menurut Alvin, mahalnya harga bioavtur disebabkan masih minimnya produksi bioavtur di dunia. Padahal, permintaan terhadap bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) terus meningkat.
"Singapura sudah mewajibkan penggunaan SAF minimal 1% dari total bahan bakar yang digunakan maskapai penerbangan mulai 2025, itu berdampak pada tambahan biaya bagi maskapai dan kenaikan harga tiket," ujar Alvin, pada Kamis (26/9).
Ia memprediksi harga bioavtur akan turun jika produksi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan itu sudah dilakukan secara massal dan penggunanya merata di dunia. Selain itu, Alvin menilai perlu komitmen politik dari pemerintah untuk menekan harga bioavtur dengan mengucurkan subsidi.
"Juga kesadaran penumpang, apakah mereka bersedia bayar lebih mahal untuk penerbangan yang menggunakan SAF. Teknologi untuk memproduksi SAF juga terus dikembangkan agar lebih efisien," ujar Alvin. Ia juga mengatakan jika volume produksi SAF di dunia semakin besar, harga bioavtur akan turun.
Bioavtur Tidak Memengaruhi Performa Pesawat
Alvin juga mengungkapkan penggunaan bioavtur untuk menekan emisi karbon yang dikeluarkan oleh pesawat terbang dinilai tidak akan mempengaruhi performa pesawat. Ia menilai sifat bioavtur sudah sangat cocok jika dicampur dengan avtur konvensional yang berasal dari minyak mentah.
"Bioavtur tidak berpengaruh terhadap performa mesin pesawat karena sifatnya sudah plug in atau sudah sama jadi tinggal dicampur saja dan tidak masalah pada mesin pesawat," ujar Alvin kepada Katadata.co.id.
Beberapa produsen pesawat terbang dunia, seperti Airbus, mulai memproduksi pesawat yang mesinnya sudah disesuaikan untuk penggunaan bahan bakar berkelanjutan. Baru-baru ini, Pertamina telah menjual SAF kepada maskapai Virgin Australia Airlines.
Maya Kusmaya, Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga, mengatakan SAF yang dijual kepada Virgin Australia itu sudah sesuai dengan kualifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA). Bioavtur itu juga sesuai dengan standar Renewable Energy Directive-European Union (RED-EU).
"SAF Pertamina merupakan perpaduan dari 38,43% synthetic kerosene yang diproduksi dari minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) dan 61,57% avtur yang berasal dari bahan bakar fosil," ujar Maya.
ESDM Minta Pertamina Penuhi Pasokan Bioavtur di Semua Bandara
Eniya mengatakan hal yang harus menjadi perhatian dalam mendukung roadmap bioavtur pada 2027 adalah ketersediaan bahan baku untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan tersebut [439] url asal
#bioavtur #pertamina #esdm #update-me
(Katadata - EKONOMI HIJAU) 24/09/24 21:12
v/15502398/
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi, optimistis PT Pertamina (Persero) mampu untuk menyediakan bahan bakar Sustainable Aviation Fuel (SAF) alias bioavtur secara optimal pada 2027.
"Kami melihat Pertamina sanggup untuk menyediakan 1 persen (bioavtur), kalau tidak salah 400 ribuan (kiloliter)," ujar Eniya saat ditemui di sela acara "Green Initiative Confrence 2024", di Jakarta, Selasa (24/9).
Eniya mengatakan hal yang harus menjadi perhatian dalam mendukung roadmap bioavtur pada 2027 adalah ketersediaan bahan baku untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan tersebut.
"Kalau untuk bioavtur, saya yakin bisa diproduksi di Indonesia," ujarnya.
Lanjutnya, ia berharap agar sawit juga dapat diakui oleh dunia sebagai salah satu bahan bioavtur. Pasalnya, dengan memanfaatkan sawit yang melimpah, maka diharapkan dapat membuat harga bioavtur menjadi terkendali.
Eniya mengatakan, bahan baku yang telah diakui dunia untuk menjadi salah satu bahan bioavtur adalah minyak kelapa dan minyak jelantah. "Saya yakin kita harus kuat, karena kita punya industri sawit yang luar biasa, dan saya mendukung kalau bahan bakunya dari sawit," katanya.
Virgin Australia Pakai Bioavtur Pertamina
Sedangkan PT Pertamina Patra Niaga berhasil menjual SAF kepada maskapai internasional Virgin Australia Airlines di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Penggunaan bahan bakar ini mampu mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh industri penerbangan.
Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga Maya Kusmaya mengatakan, SAF menjadi solusi jangka menengah bagi penerbangan untuk mengurangi jejak karbon, tanpa memerlukan perubahan pada pesawat, infrastruktur bandara, atau rantai pasokan bahan bakar jet.
"SAF yang disalurkan sudah mengacu pada framework sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) dan Renewable Energy Directive-European Union (RED-EU)," ujar Maya dalam keterangan, Rabu (18/9).
Maya mengatakan, SAF yang disalurkan Pertamina ke maskapai asal Australia juga sudah memenuhi standar internasional yang diatur oleh American Society of Testing and Materials (ASTM).
Pertamina Patra Niaga juga menjamin keamanan SAF ini karena sudah termasuk sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) yang dapat diklaim kepada International Civil Aviation Organization (ICAO). Mereka optimistis bioavtur bisa mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.
"Karena SAF Pertamina merupakan perpaduan dari 38,43% synthetic kerosene yang diproduksi dari minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) dan 61,57% avtur yang berasal dari fosil," ujarnya.
Sementara itu, General Manager Sustainability Virgin Australia Fiona Walmsley mengatakan kerja sama ini merupakan langkah awal antara Indonesia dan Australia dalam upaya mewujudkan target Net Zero Emission di kedua negara.
“Indonesia dan Australia berkomitmen untuk mengurangi jejak karbon dan mengimplementasikan solusi ramah lingkungan yang inovatif. Kolaborasi ini menunjukkan tekad untuk membangun masa depan sektor aviasi yang lebih berkelanjutan dan bersih,” ujar Fiona.
Kementerian ESDM yakin bioavtur dapat diproduksi di Indonesia
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) meyakini bioavtur ... [376] url asal
#kementerian-esdm #bioavtur #produksi #indonesia
(Antara) 24/09/24 18:44
v/15598788/
kalau bicara bioetanol, lalu bioavtur ini ke depan. Makanya kalau untuk bioavtur, saya yakin bisa diproduksi di Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) meyakini bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) bisa diproduksi di Indonesia.
"Yang harus kita perhatikan kalau kita bicara bioenergi adalah sumber bahan baku (resource) kita. Sumber bahan baku kita itu umumnya yang menjadi problem belum tersedia, lahan yang belum ada dan sebagainya, kalau bicara bioetanol, lalu bioavtur ini ke depan. Makanya kalau untuk bioavtur, saya yakin bisa diproduksi di Indonesia," ujar Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi di Jakarta, Selasa.
Eniya mendukung bahan baku bioavtur berasal dari sawit karena dengan komoditasnya melimpah dan industri sawit di Indonesia luar biasa diharapkan dapat membuat harga bioavtur menjadi terkendali.
"Tinggal, kalau misalnya bahan bakunya dari coconut sudah masuk ke dalam Corsia atau standar internasionalnya, kalau used cooking oil juga sudah masuk. Hanya kalau dibilang dari sawit, ini yang perlu dikomunikasikan. Tapi saya yakin kita harus kuat, karena kita punya industri sawit yang luar biasa, dan saya mendukung kalau bahan bakunya dari sawit bisa dihadirkan, karena kita punya bahan baku sehingga harganya itu terkendali," katanya.
Sebagai informasi, PT Pertamina Patra Niaga memperluas pendistribusian produk bahan bakar jet, yang ramah lingkungan, Sustainable Aviation Fuel (SAF) dalam rangka mendukung dekarbonisasi penerbangan nasional.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan mengatakan, pihaknya terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi di sektor penerbangan melalui distribusi SAF.
Pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Denpasar, Bali, Pertamina Patra Niaga menyalurkan SAF kepada maskapai nasional Citilink, sebagai bagian dari komitmen bersama terhadap peta jalan SAF yang ditetapkan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Distribusi SAF menunjukkan komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menyediakan solusi bahan bakar berkelanjutan untuk industri penerbangan, yang sejalan dengan upaya global untuk menekan emisi karbon dan mencapai target dekarbonisasi.
Momen penyaluran pertama SAF di Bandara Ngurah Rai ini menandai bahwa Indonesia dapat beradaptasi dengan tuntutan bauran energi di industri penerbangan internasional, yang mana saat ini SAF menjadi solusi jangka menengah bagi penerbangan untuk mengurangi jejak karbon, tanpa memerlukan perubahan pada pesawat, infrastruktur bandara, atau rantai pasokan bahan bakar jet.
Pewarta: Aji Cakti
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2024
Pelita Air Terbang Perdana Pakai SAF di Bali International Air Show 2024
Pelita Air bangga dapat kontribusi mendukung upaya pengurangan emisi karbon, seperti melalui penggunaan Pertamina SAF. [389] url asal
#pelita-air #saf #sustainable-aviation-fuel #pertamina #bioavtur #maskapai-penerbangan #industri-pesawat #update-me
(Katadata - BERITA) 21/09/24 12:10
v/15340691/
Medium service airline Pelita Air meresmikan pengoperasian penerbangan komersil dengan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Tepatnya dilakukan untuk penerbangan rute penerbangan Denpasar-Jakarta, Jumat (20/9) bertepatan dengan Bali International Air Show 2024.
Penerbangan yang dioperasikan dengan armada Airbus A320 (PK-PWK) tersebut diberangkatkan dari Denpasar. Nomor penerbangan IP109 ini take off pada 15.45 LT dan tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang - Jakarta pukul 16.35 LT.
Direktur Utama PT Pelita Air Service Dendy Kurniawan menjelaskan, Pelita Air bangga berkesempatan untuk terus menghadirkan kontribusi terbaik bagi bangsa melalui berbagai inisiatif berkelanjutan dan menjadi garda terdepan dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon, salah satunya dengan mengoperasikan penerbangan komersial dengan Pertamina SAF, bahan bakar bioavtur ini.
Pelita Air akan terus mendukung penuh proses pengembangan dan produksi Sustainable Aviation Fuel yang tentunya sesuai dengan standar kriteria Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) dari International Civil Aviation Organization (ICAO).
Demi mendukung target Indonesia menuju Net Zero Emission di tahun 2060, Pelita Air secara berkesinambungan akan terus menghadirkan rangkaian inisiatif yang tidak hanya berfokus pada penggunaan energi baru terbarukan.
Maskapai juga melakukan upaya-upaya efisiensi energi, di antaranya melalui pemanfaatan teknologi dan green operation yang tetap mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan seluruh penumpang Pelita Air.
Direktur Pemasaran Pusat & Niaga PT Pertamina Patra Niaga Maya Kusmaya mengatakan, distribusi SAF ini menunjukkan komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menyediakan solusi bahan bakar berkelanjutan untuk industri penerbangan, yang sejalan dengan upaya global untuk menekan emisi karbon dan mencapai target dekarbonisasi.
Maya mengutarakan, momen penyaluran pertama SAF di Bandara Ngurah Rai menandai bahwa Indonesia dapat beradaptasi dengan tuntutan bauran energi di industri penerbangan internasional.
“Yang mana, kini SAF menjadi solusi jangka menengah bagi penerbangan untuk mengurangi jejak karbon, tanpa memerlukan perubahan pada pesawat, infrastruktur bandara, atau rantai pasokan bahan bakar jet,” ujarnya.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menyampaikan bahwa Pertamina Group terus mendorong penggunaan SAF termasuk pada anak usahanya yaitu Pelita Air.
“Pelita Air sebagai bagian dari Pertamina juga berperan penting dalam ekosistem pengembangan SAF Pertamina untuk mewujudkan penerbangan yang berkelanjutan,” ucap Fadjar.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
Pelita Air Terbang Pertama Gunakan SAF di Bali International Air Show
Peresmian dilakukan melalui penerbangan rute penerbangan Denpasar-Jakarta atau bertepatan dengan rangkaian Bali International Air Show 2024 di Bali. [588] url asal
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 20/09/24 21:46
v/15307974/
Jakarta - Medium service airline Pelita Air (kode penerbangan IP) meresmikan pengoperasian penerbangan komersial dengan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Peresmian dilakukan melalui penerbangan rute penerbangan Denpasar-Jakarta pada Jumat (20/9) atau bertepatan dengan rangkaian Bali International Air Show 2024 di Bali.
Penerbangan yang dioperasikan dengan armada Airbus A320 (PK-PWK) tersebut diberangkatkan dari Denpasar dengan nomor penerbangan IP109 pada pukul 15.45 LT dan tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Tengerang-Jakarta pada pukul 16.35 LT.
Direktur Utama PT Pelita Air Service, Dendy Kurniawan menjelaskan Pelita Air bangga berkesempatan untuk terus menghadirkan kontribusi terbaik bagi bangsa melalui berbagai inisiatif berkelanjutan dan menjadi garda terdepan dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon, salah satunya dengan mengoperasikan penerbangan komersial dengan Pertamina SAF, bahan bakar bioavtur ini.
"Pelita Air akan terus mendukung penuh proses pengembangan dan produksi Sustainable Aviation Fuel yang tentunya sesuai dengan standar kriteria Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) dari International Civil Aviation Organization (ICAO)," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Dalam rangka mendukung capaian target Indonesia menuju Net Zero Emission di tahun 2060 nanti, Pelita Air secara berkesinambungan akan terus menghadirkan rangkaian inisiatif yang tidak hanya berfokus pada penggunaan energi baru terbarukan, melainkan juga pada upaya-upaya efisiensi energi di antaranya melalui pemanfaatan teknologi dan green operation yang tentunya tetap mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan seluruh penumpang Pelita Air.
Direktur Pemasaran Pusat & Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Maya Kusmaya mengatakan distribusi SAF ini menunjukkan komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menyediakan solusi bahan bakar berkelanjutan untuk industri penerbangan, yang sejalan dengan upaya global untuk menekan emisi karbon dan mencapai target dekarbonisasi.
"Momen penyaluran pertama SAF di Bandara Ngurah Rai ini menandai bahwa Indonesia dapat beradaptasi dengan tuntutan bauran energi di industri penerbangan internasional, dimana saat ini SAF menjadi solusi jangka menengah bagi penerbangan untuk mengurangi jejak karbon, tanpa memerlukan perubahan pada pesawat, infrastruktur bandara, atau rantai pasokan bahan bakar jet," ungkap Maya.
Terakhir Maya mengatakan apresiasinya kepada Pelita Air yang juga merupakan member dari Pertamina Group yang turut mendorong target pencapaian Pertamina Group dalam upaya dekarbonisasi.
VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso menyampaikan bahwa Pertamina Group terus mendorong penggunaan SAF termasuk pada anak usahanya yaitu Pelita Air.
"Produk SAF Pertamina sudah dipakai maskapai internasional dan juga nasional. Pelita Air sebagai bagian dari Pertamina juga berperan penting dalam ekosistem pengembangan SAF Pertamina untuk mewujudkan penerbangan yang berkelanjutan," ucap Fadjar.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
(ncm/ncm)
