#30 tag 24jam
Teknologi Blockchain: Kunci Keamanan Data Kesehatan di Era Digital
Kombinasi teknologi Blockchain, Cloud Computing dan Soulbound Token tingkatkan keamanan serta transparansi data kesehatan di era digital. [511] url asal
#blockchain #cloud-computing #industri-kesehatan #soulbound-token #teknologi-blockchain
(BlockChain-Media) 25/10/24 11:30
v/16967934/
Seiring dengan kemajuan teknologi digital, industri kesehatan terus berupaya menemukan cara inovatif untuk melindungi data pasien dan mempercepat layanan. Dalam konteks ini, manfaat teknologi blockchain untuk perlindungan data semakin penting, khususnya dalam meningkatkan keamanan dan transparansi informasi medis.
Blockchain untuk sektor kesehatan juga menawarkan solusi yang efisien dalam pengelolaan dan verifikasi dokumen medis. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa kombinasi teknologi blockchain, cloud computing, dan Soulbound Token (SBT) dapat menjadi solusi revolusioner yang tidak hanya meningkatkan perlindungan data tetapi juga efisiensi dalam sistem kesehatan.
Blockchain Jadi Pondasi Penting untuk Sistem yang AmanDalam era digital saat ini, penggunaan blockchain untuk sektor kesehatan sangatlah diperlukan untuk meningkatkan keamanan data, terutama melalui Rekam Kesehatan Elektronik (EHR).
“Diperlukan strategi berlapis yang memanfaatkan keunggulan kedua teknologi untuk mengintegrasikan algoritma pembelajaran mendalam ke dalam Electronic Health Records (EHR) berbasis blockchain yang aman dan meningkatkan keamanan, integritas, dan kegunaan data dalam sistem kesehatan,” ungkap riset tersebut.

Pentingnya keamanan pada sistem kesehatan juga semakin terasa di tengah meningkatnya insiden data breach. Berdasarkan laporan terbaru oleh HIPAA Journal, dari tahun 2009 hingga 2024, tercatat 5.887 pelanggaran data kesehatan di Amerika Serikat yang melibatkan 500 atau lebih catatan, dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya.
“Jumlah ini setara dengan lebih dari 1,5 kali populasi Amerika Serikat,” ungkap laporan tersebut.
Ukuran Pasar Cloud Computing Pada Sektor Kesehatan Hal ini memperlihatkan bahwa cloud computing menjadi salah satu solusi yang sangat dibutuhkan pada industri ini.
Dengan memanfaatkan teknologi tersebut, sistem data kesehatan dapat ditingkatkan dan memungkinkan ekosistem yang lebih efisien.
“Sistem yang diusulkan menawarkan akses cepat ke database terdesentralisasi dan secara drastis mengurangi waktu verifikasi dengan mengintegrasikan cloud computing,” jelas para peneliti pada riset tersebut.
Hal ini sangat penting, mengingat penyimpanan dan penggunaan data pada perangkat pribadi dapat memperlambat sistem, yang merupakan isu besar dalam memberikan perawatan kesehatan yang efektif.
Selain itu, data pasien dapat disinkronkan langsung dengan berbagai perangkat medis dan aplikasi, sehingga dokter dapat memantau kondisi pasien dari jarak jauh. Kombinasi blockchain dan cloud computing tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memastikan keberlanjutan layanan kesehatan.
Menuju Masa Depan Industri Kesehatan yang Lebih BaikBlockchain dan Soulbound Token (SBT) menghadirkan sistem yang lebih efisien, aman, dan transparan dalam verifikasi dokumen medis.
Manfaat teknologi blockchain untuk perlindungan data sangat jelas terlihat, selain membuatnya lebih aman, pasien juga tidak lagi perlu membawa banyak dokumen fisik atau menunggu lama untuk proses administrasi.
Verifikasi otomatis melalui SBT mempercepat akses ke layanan kesehatan, terutama dalam situasi darurat. Lebih dari itu, teknologi ini membantu industri kesehatan mematuhi regulasi privasi seperti General Data Protection Regulation (GDPR) di Eropa dan Health Insurance Portability and Accountability Act (HIPAA) di Amerika Serikat.
Dengan blockchain untuk sektor kesehatan, pasien memiliki kontrol penuh atas data mereka, termasuk siapa yang dapat melihat dan menggunakan informasi tersebut. Ini menciptakan lingkungan yang lebih aman dan meningkatkan rasa percaya antara pasien dan penyedia layanan kesehatan.
Dalam jangka panjang, penerapan blockchain, cloud computing, dan SBT akan menjadi standar baru di industri kesehatan. Teknologi ini tidak hanya mengurangi beban administratif tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih baik bagi semua pihak, memperkuat manfaat teknologi blockchain untuk perlindungan data dalam semua aspek. [dp]
Pengertian Cloud Computing, Jenis-jenis, dan Contohnya
Cloud computing adalah layanan yang menyediakan penyimpanan, pengolahan, dan akses data melalui internet tanpa harus memiliki infrastruktur sendiri. Halaman all [1,009] url asal
#cloud #cloud-computing #layanan-cloud-computing #jenis-jenis-cloud-computing #contoh-layanan-cloud-computing
(Kompas.com) 25/10/24 03:35
v/16953879/
KOMPAS.com - Cloud computing atau komputasi awan adalah teknologi yang memungkinkan pengguna untuk mengakses, menyimpan, dan mengelola data serta aplikasi melalui internet tanpa harus menggunakan perangkat keras fisik seperti server atau komputer pribadi.
Dengan cloud computing, data dan aplikasi disimpan di server yang terpusat dan dioperasikan oleh penyedia layanan, sehingga pengguna dapat mengaksesnya dari mana saja, selama mereka terhubung ke internet.
Teknologi ini telah membawa perubahan besar dalam cara bisnis dan individu menjalankan aktivitas sehari-hari, karena memberikan kemudahan akses, efisiensi, dan fleksibilitas yang lebih baik dibandingkan infrastruktur IT tradisional.
Selengkapnya berikut ini KompasTekno merangkum pengertian cloud computing, jenis-jenis, dan macam-macam layanannya.
Pengertian cloud computing
Dilansir dari Tech Target, Cloud computing atau komputasi awan didefinisikan sebagai penyediaan layanan komputasi secara on-demand melalui internet.
Layanan ini mencakup berbagai sumber daya, termasuk server, penyimpanan, basis data, jaringan, perangkat lunak, hingga analitik. Alih-alih mengandalkan penyimpanan lokal atau server fisik, pengguna dapat mengakses layanan ini dari jarak jauh, yang memungkinkan fleksibilitas dan skalabilitas lebih besar dalam pengelolaan sumber daya IT.
Teknologi ini telah menjadi solusi yang banyak diadopsi oleh perusahaan karena efisiensinya dalam mengelola kebutuhan komputasi tanpa perlu melakukan investasi besar di awal untuk membeli perangkat keras atau infrastruktur IT yang kompleks.
Salah satu fitur utama dari cloud computing adalah aksesibilitasnya yang tinggi. Pengguna dapat mengakses data dan aplikasi dari perangkat mana saja yang terhubung dengan internet, tanpa terbatas oleh lokasi fisik.
Selain itu, komputasi awan juga menawarkan efisiensi biaya yang signifikan. Organisasi hanya membayar untuk layanan yang mereka gunakan, yang berarti mereka dapat menghindari biaya besar untuk pembelian perangkat keras dan pemeliharaan sistem.
Di sisi lain, layanan cloud juga sangat skalabel, artinya dapat dengan mudah ditingkatkan atau dikurangi sesuai kebutuhan beban kerja, menjadikannya pilihan yang ideal untuk perusahaan dengan kebutuhan yang bervariasi.
Terdapat beberapa model penerapan cloud computing, yaitu public cloud (layanan yang ditawarkan melalui internet), private cloud (didedikasikan untuk satu organisasi), dan hybrid cloud (gabungan antara public dan private cloud). Setiap model memiliki kelebihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi organisasi.
Jenis-jenis cloud computing
Infrastructure as a Service (IaaS)
IaaS menyediakan sumber daya komputasi virtual melalui internet. Pengguna menyewa infrastruktur IT seperti server, penyimpanan, dan jaringan dengan basis pembayaran sesuai penggunaan (pay-as-you-go). Contoh layanan IaaS termasuk Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft Azure.
Platform as a Service (PaaS)
PaaS menawarkan platform yang memungkinkan pengembang untuk membangun, menguji, dan menerapkan aplikasi tanpa harus mengelola infrastruktur yang mendasarinya. Layanan ini mencakup alat dan layanan untuk pengembangan aplikasi, seperti middleware dan basis data. Contoh PaaS meliputi Google App Engine dan AWS Elastic Beanstalk.
Software as a Service (SaaS)
SaaS menyediakan aplikasi perangkat lunak melalui internet dengan basis langganan. Pengguna dapat mengakses aplikasi melalui browser web, sehingga tidak perlu instalasi atau pemeliharaan. Contoh SaaS yang umum termasuk Gmail, Microsoft 365, dan Salesforce.
Serverless Computing (Function as a Service - FaaS)
Serverless Computing memungkinkan pengembang untuk fokus sepenuhnya pada penulisan kode tanpa harus mengelola infrastruktur server. Penyedia layanan cloud menangani semua aspek manajemen dan skala server. Contoh layanan ini termasuk AWS Lambda dan Azure Functions.
Model Penerapan
Public Cloud
Layanan disediakan melalui internet oleh penyedia pihak ketiga. Sumber daya dibagi di antara beberapa organisasi, yang menawarkan skalabilitas dan efektivitas biaya. Contoh public cloud termasuk AWS, Google Cloud Platform, dan Microsoft Azure.
Private Cloud
Sumber daya didedikasikan secara eksklusif untuk satu organisasi. Private cloud bisa dihosting di lokasi perusahaan atau oleh penyedia pihak ketiga, menawarkan kontrol dan keamanan yang lebih besar.
Hybrid Cloud
Hybrid cloud menggabungkan lingkungan public dan private cloud, memungkinkan data dan aplikasi untuk berbagi di antara keduanya. Model ini memberikan fleksibilitas untuk menjalankan beban kerja yang sensitif di private cloud sambil memanfaatkan sumber daya public cloud untuk skalabilitas.
Multicloud
Multicloud melibatkan penggunaan beberapa layanan cloud dari berbagai penyedia untuk menghindari ketergantungan pada satu vendor dan meningkatkan redundansi. Model ini memberikan organisasi lebih banyak opsi dalam hal kontrol, fleksibilitas, dan manajemen sumber daya.
Contoh layanannya
Software as a Service (SaaS)
- Salesforce: Platform manajemen hubungan pelanggan (CRM) terkemuka untuk mengelola interaksi pelanggan dan proses penjualan.
- Zoom: Alat konferensi video berbasis cloud untuk pertemuan virtual dan webinar.
- Dropbox: Layanan penyimpanan dan berbagi file yang memungkinkan pengguna mengakses file dari perangkat apa pun.
- Gmail: Layanan email dari Google dengan fitur lengkap untuk komunikasi pribadi dan bisnis.
Infrastructure as a Service (IaaS)
- Amazon Web Services (AWS): Menyediakan layanan server virtual (EC2), penyimpanan (S3), dan solusi jaringan.
- Microsoft Azure: Menawarkan sumber daya komputasi yang skalabel, termasuk mesin virtual dan layanan basis data.
- DigitalOcean: Infrastruktur cloud sederhana dan cepat untuk pengembang.
- IBM Cloud: Menyediakan server fisik dan virtual untuk solusi IaaS.
- Platform as a Service (PaaS):
- Google App Engine: Platform untuk membangun dan menghosting aplikasi di pusat data Google.
- Heroku: Memungkinkan pengembang untuk membangun dan menjalankan aplikasi sepenuhnya di cloud.
- AWS Elastic Beanstalk: Memudahkan pengembang untuk mengelola aplikasi tanpa memikirkan infrastruktur.
- Red Hat OpenShift: Platform aplikasi berbasis kontainer yang menyediakan lingkungan PaaS.
Function as a Service (FaaS) / Serverless Computing
- AWS Lambda: Menjalankan kode sebagai respons terhadap peristiwa tanpa perlu mengelola server.
- Azure Functions: Memberikan kemampuan komputasi serverless yang digerakkan oleh peristiwa.
- Google Cloud Functions: Memungkinkan pengembang menjalankan kode sebagai respons terhadap peristiwa dari berbagai layanan Google Cloud.
- Hybrid Cloud Solutions:
- IBM Hybrid Cloud: Menggabungkan sumber daya public dan private cloud untuk pengelolaan data yang fleksibel.
- Microsoft Azure Stack: Memperluas layanan Azure ke lingkungan on-premises untuk pendekatan hybrid.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.
Membawa Cara Kerja dengan AI ke Level Berikutnya di Workspace
Tahun ini, Google menunjukkan bagaimana AI telah menjadi bagian inti dari ekosistem mereka. [529] url asal
#google #artificial-intelligence #cloud-computing #google-cloud-lets-talk-ai-2024
(MedCom) 24/10/24 15:27
v/16934157/
Singapura: Acara Google Cloud Let's Talk AI 2024 menyoroti berbagai terobosan yang sedang membentuk masa depan kecerdasan buatan (AI) dan meningkatkan langkah-langkah keamanan di berbagai platform. Tahun ini, Google menunjukkan bagaimana AI telah menjadi bagian inti dari ekosistem mereka, mendorong layanan yang lebih cerdas, aman, dan mudah diakses bagi perusahaan dan individu.Fitur AI generatif baru yang diintegrasikan ke dalam produk Google Workspace menjadi sorotan. Kemampuan berbasis AI ini memungkinkan pengguna untuk meningkatkan alur kerja melalui saran yang lebih cerdas, pembuatan konten otomatis, dan kolaborasi tanpa hambatan.
Sementara produktivitas meningkat melalui inovasi-inovasi ini, unsur keamanan tetap tidak terganggu, karena Google Cloud memastikan bahwa produk AI mereka memenuhi standar keamanan yang ketat.
Salah satu sorotan utama dalam aspek keamanan adalah fokus berkelanjutan pada keamanan titik akhir, kontrol yang lebih ketat untuk data sensitif, dan perlindungan dari ancaman phishing. Kombinasi antara produktivitas berbasis AI dan keamanan canggih ini memberikan kepercayaan bagi organisasi untuk menerapkan alat-alat ini secara luas.
Gemini dan Perluasan Workspace
Google juga mengungkapkan bagaimana model AI Gemini diperluas untuk memberikan manfaat bagi lebih banyak pengguna. Terintegrasi lebih banyak ke dalam Workspace, memberikan tingkat bantuan pintar baru untuk tugas-tugas seperti penyusunan dokumen, pembuatan ringkasan, hingga visualisasi data. Mereka menunjukkan bagaimana teknologi ini telah berkembang untuk memberdayakan lebih banyak pelanggan, memperluas manfaatnya di kalangan klien perusahaan. Pandangan ini telah mereka rencanakan sejak lima tahun lalu.
Ekspansi Gemini di Workspace kini mencakup kolaborasi dokumen yang lebih baik, penjadwalan rapat yang lebih efisien, dan pemberian umpan balik secara real-time, semuanya didukung oleh AI. Integrasi Gemini dengan rangkaian Workspace yang lebih luas memberikan transisi yang mulus antara tugas-tugas, sekaligus mengurangi beban kognitif pada pengguna.
Perkembangan NotebookLM
Pengumuman penting lainnya dalam acara ini adalah pembaruan pada NotebookLM, alat AI yang dirancang untuk membantu dalam alur kerja berbasis riset dan pengetahuan. NotebookLM didukung oleh AI generatif, memungkinkan pengguna untuk lebih baik mengatur catatan, mensintesis informasi kompleks, dan menghasilkan wawasan baru dari volume data yang besar secara akurat.
Pembaruan NotebookLM membuatnya bisa melakukan tanya-jawab yang lebih mulus dan interaksi yang lebih baik dengan berbagai sumber data. Selain demi menyederhanakan pekerjaan pengetahuan yang kompleks, ia juga dapat mengubah catatan dan dokumen menjadi sumber daya yang lebih hidup.
Google Vids
Salah satu informasi menarik lainnya yang diperkenalkan di acara ini adalah Google Vids, platform video terbaru yang didukung AI. Sesuai namanya, Google Vids ingin mengubah cara pengguna mengedit, menyusun, dan mempublikasikan video secara lebih efisien.
Google Vids memungkinkan pengguna Workspace menciptakan video dari data mereka, baik berupa dokumen atau jenis data lainnya. Terhubung dengan Gemini, kita dapat menentukan kriteria atau konsep video, memasukkan poin-poin penting yang diinginkan, hingga menentukan efek transisinya. Tak lupa dengan kemampuan menghasilkan subtitle serta deskripsi video secara real-time. Fitur ini diharapkan akan mempermudah konten kreator dan profesional dalam membuat video berkualitas tinggi dengan cepat dan mudah, terutama ketika memerlukannya untuk presentasi dalam rapat..
Acara Google Cloud Let's Talk AI 2024 menyampaikan pesan bahwa AI bukan lagi konsep masa depan, melainkan kenyataan saat ini yang telah mengubah bisnis, riset, dan alur kerja harian. Pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada inovasi, tetapi juga pada pertimbangan keamanan dan etika AI.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(MMI)
Cloudflare Bantu Kreator Kontrol Konten dari Bot AI
Pembuat situs web dan kreator konten akan mampu secara cepat dan mudah untuk memahami bagaimana penyedia model AI menggunakan konten mereka. [650] url asal
#cloud-computing #artificial-intelligence #cloudflare #audit-ai
(MedCom) 04/10/24 09:13
v/15954113/
Jakarta: Cloudflare mengumumkan peluncuran Audit AI, serangkaian alat yang dapat membantu situs web dalam berbagai ukuran untuk menganalisis dan mengontrol bagaimana konten mereka digunakan oleh model kecerdasan buatan (AI).Pembuat situs web dan kreator konten akan mampu secara cepat dan mudah untuk memahami bagaimana penyedia model AI menggunakan konten mereka, lalu mengendalikan apakah dan bagaimana model dapat mengaksesnya. Selain itu, Cloudflare sedang mengembangkan fitur baru. Kreator konten dapat menetapkan harga yang wajar secara andal untuk konten mereka yang digunakan oleh perusahaan AI untuk pelatihan model dan retrieval augmented generation (RAG).
Pemilik situs web, baik perusahaan pencari laba, media dan penerbitan berita, atau situs pribadi kecil, mungkin akan terkejut karena mengetahui bahwa bot AI dari semua jenis dapat memindai konten mereka ribuan kali setiap hari tanpa sepengetahuan kreator konten atau diberi kompensasi, yang dapat menyebabkan rusaknya nilai dalam jumlah besar bagi bisnis besar dan kecil.
Bahkan saat pemilik situs web menyadari bagaimana bot AI menggunakan konten mereka, mereka tidak memiliki cara yang lebih canggih untuk menentukan manakah pemindaian yang diizinkan dan cara sederhana untuk mengambil tindakan. Agar masyarakat terus memperoleh manfaat dari kekayaan dan keragaman konten di Internet, kreator konten memerlukan alat agar bisa mengambil kembali kendali.
“AI akan mengubah drastis konten online, dan kita semua harus memutuskan bersama seperti apa gambaran masa depan,” ujar Matthew Prince, salah satu pendiri dan CEO Cloudflare. "Kreator konten dan pemilik situs web dari semua ukuran berhak memiliki dan mengendalikan konten mereka. Jika tidak, kualitas informasi online akan menurun atau terkunci secara eksklusif di balik paywall."
"Dengan skala dan infrastruktur global Cloudflare, kami yakin akan kemampuan kami dalam menyediakan alat dan menetapkan standar bagi situs web, penerbit, dan kreator konten guna bisa memberikan kontrol dan kompensasi yang adil atas kontribusi mereka terhadap Internet, sekaligus tetap memungkinkan penyedia model AI untuk berinovasi."
Dengan Audit AI, Cloudflare bertujuan untuk memberikan informasi kepada para kreator konten dan mengambil kembali kendali sehingga pertukaran yang transparan dapat terwujud antara situs web yang menginginkan kontrol lebih besar atas konten mereka, dan penyedia model AI yang membutuhkan sumber data baru, sehingga semua orang memperoleh manfaat.
AI merupakan bidang yang berkembang pesat, dan banyak pemilik situs web memerlukan waktu untuk memahami dan menganalisis bagaimana bot AI memengaruhi lalu lintas atau bisnis mereka. Banyak situs kecil tidak memiliki keterampilan atau bandwidth untuk memblokir bot AI secara manual. Kemampuan untuk memblokir semua bot AI dalam satu klik membuat kreator konten kembali memegang kendali.
Memanfaatkan analitik guna bisa melihat bagaimana bot AI mengakses konten mereka: Setiap situs yang menggunakan Cloudflare kini memiliki akses ke analitik yang dapat digunakan untuk memahami mengapa, kapan, dan seberapa sering model AI mengakses situs web mereka.
Pemilik situs web kini dapat membedakan bot – misalnya, bot pembuat teks yang masih mencantumkan sumber data yang mereka gunakan saat membuat respons, dibandingkan bot yang mengambil data tanpa mencantumkan atau mencantumkan sumber data.
Situs yang menandatangani perjanjian langsung dengan penyedia model untuk melisensikan pelatihan dan pengambilan konten dengan imbalan pembayaran kini semakin bertambah. Tab Audit AI Cloudflare akan menyediakan analitik tingkat lanjut yang dapat digunakan untuk memahami metrik yang lazim digunakan dalam negosiasi ini, seperti tingkat perayapan dari bagian tertentu atau seluruh halaman. Cloudflare juga akan memodelkan ketentuan penggunaan yang dapat ditambahkan setiap kreator konten ke situs mereka agar mereka dapat melindungi hak-hak mereka secara sah.
Banyak pemilik situs, baik perusahaan besar masa depan atau blog perseorangan berkualitas tinggi, tidak memiliki sumber daya, konteks, atau keahlian untuk menegosiasikan kesepakatan satu kali yang ditandatangani penerbit besar dengan penyedia model AI, dan penyedia model AI tidak memiliki bandwidth untuk melakukan ini dengan setiap situs yang ingin bernegosiasi dengan mereka.
Di masa depan, bahkan kreator konten terbesar pun akan memperoleh keuntungan dari pengaturan harga dan alur transaksi Cloudflare yang lancar, sehingga penyedia model dapat dengan mudah menemukan konten baru untuk dipindai yang mungkin tidak dapat mereka akses, dan memudahkan penyedia konten untuk mengambil kendali dan dibayar atas nilai yang mereka ciptakan.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(MMI)
Alva Adopsi Vertex AI Seriusi R&D Kendaraan Listrik
Alva menggunakan platform data terintegrasi Google Cloud, yaitu BigQuery. [1,010] url asal
#alva #google #cloud-computing #artificial-intelligence #vertex-ai
(MedCom) 03/10/24 10:38
v/15905908/
Alva telah memilih Google Cloud sebagai penyedia layanan cloud utamanya dan memanfaatkan infrastruktur AI yang dioptimalkan terbaik di kelasnya, serta cloud data dan teknologi AI untuk mendorong inovasi yang terarah pada empat pilar utama yaitu memajukan upaya R&D yang terarah, meningkatkan tim customer service dengan insights pelanggan yang dipersonalisasi, meningkatkan produktivitas staf penjualan, dan meningkatkan upaya pemasaran melalui pembuatan konten yang relevan secara lokal.
Purbaja Pantja, Chief Executive Officer, Alva, mengatakan elektrifikasi mengubah sektor mobilitas dan kami bertujuan untuk menjadikan satu dari setiap tiga kendaraan roda dua listrik di Indonesia sebagai kendaraan Alva dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Untuk membangun dasar pendekatan berbasis data terhadap pengalaman pelanggan, Alva menggunakan platform data terintegrasi Google Cloud, yaitu BigQuery, untuk menggabungkan data terstruktur dan tidak terstruktur di seluruh organisasi, seperti data dari sistem perencanaan sumber daya perusahaan (ERP), platform manajemen hubungan pelanggan (CRM), dan sensor IoT yang dipasang pada kendaraan roda duanya; serta data dari layanan lain dalam ekosistem Google yang lebih luas yang saat ini digunakan oleh Alva, seperti Google Ads, Google Maps, dan Android Auto.
Pendekatan terbuka Google Cloud terhadap data memungkinkan basis data Alva terhubung dengan mitra eksternal, sehingga semua data relevan dapat dikumpulkan dalam satu platform untuk visibilitas.
Kemudahan penggunaan solusi data dari Google Cloud memungkinkan tim Business Intelligence Alva mengurangi waktu yang dihabiskan dalam mengembangkan kode plumbing untuk mengakses data, dari 80 persen menjadi sekitar 25 persen.
Alva juga mengintegrasikan platform datanya dengan model AI pada platform AI perusahaan Google Cloud, Vertex AI, untuk menganalisis dan mengekstraksi insights berharga guna meningkatkan pengalaman yang menyeluruh bagi pelanggan mereka.
Hal ini termasuk kemampuan untuk mengekstraksi data dan insights dari data di seluruh perusahaan, terlepas dari format atau di mana data tersebut berada dalam organisasi, untuk menjawab pertanyaan tentang bisnis.
Salah satu insights penting yang dihasilkan dari platform data terintegrasi di Google Cloud yang telah memandu R&D di Alva adalah kecemasan pengguna terkait pengisian daya kendaraan listrik (EV).
Calon pembeli sering bertanya apakah kendaraan roda dua listrik Alva dapat menempuh jarak hingga 120 kilometer dengan sekali pengisian daya. Namun, data menunjukkan bahwa pelanggan mereka biasanya hanya berkendara sejauh 60 hingga 100 kilometer per hari.
Mendalami hal ini, Alva melakukan survei kepada pelanggan tentang kekhawatiran mereka dan terungkap bahwa pengendara sebenarnya lebih khawatir tentang ketersediaan stasiun pengisian daya pada rute yang mereka ambil daripada jarak maksimum kendaraan listrik (EV) tersebut.
“Dengan mengintegrasikan silo data di seluruh organisasi ke dalam BigQuery, tim R&D kami dapat menggunakan AI untuk menganalisis perilaku umum pengendara dan bagaimana mengatasinya dengan cara yang tidak hanya menyenangkan pengendara tetapi juga meningkatkan keunggulan kompetitif kami," kata Purbaja.
Sebagai contoh, mengintegrasikan Google Maps untuk navigasi langsung ke dasbor kendaraan dapat meningkatkan keselamatan pengendara karena mereka tidak perlu terus-menerus mengalihkan fokus ke perangkat eksternal seperti ponsel.
Fitur-fitur tersebut juga dapat diintegrasikan dengan Aplikasi My Alva, yang sudah memanfaatkan Firestore, basis data non server milik Google Cloud untuk mencegah kehilangan data yang tidak diinginkan; Google Identity Management yang mengamankan identitas dan data pengguna di aplikasi; serta Firebase, platform pengembangan aplikasi seluler dan web dari Google yang dirancang untuk mengurangi waktu dan usaha yang dibutuhkan dalam membangun dan memelihara infrastruktur backend, memungkinkan pengembang untuk lebih fokus pada menciptakan pengalaman pengguna yang luar biasa."
Kasus penggunaan lain yang dieksplorasi Alva melibatkan pemberdayaan tim customer service dengan petunjuk kontekstual tentang pengendara yang mendukung percakapan yang lebih kaya dan lebih memuaskan. Saat ini dalam tahap pembuktian konsep, sistem pendukung bertenaga AI menghasilkan ringkasan otomatis pengendara yang mengambil insights relevan dari data di BigQuery.
Ini dapat mencakup data tentang perilaku berkendara yang berasal dari sensor IoT yang dipasang pada kendaraan listrik Alva seperti kecepatan, akselerasi, pengereman, orientasi giroskop, dan jarak yang ditempuh. Informasi ini kemudian dapat dianalisis untuk mengetahui kemungkinan keterkaitannya dengan informasi lain, seperti tingkat atau kesehatan baterai kendaraan, jadwal servis kendaraan, atau jika pengendara merupakan pelanggan baru yang mungkin belum sepenuhnya memahami semua fitur kendaraannya.
Dengan AI yang meringkas dan menggabungkan informasi di berbagai sistem, tim customer service memiliki konteks lebih luas tentang alasan pelanggan ketika menelepon, dan memungkinkan mereka memberikan tambahan sentuhan personal yang krusial dalam hubungan dengan pelanggan.
Misalnya, jika seorang pelanggan menelepon saat mereka sedang dalam perjalanan pulang-pergi kerja di tengah jarak yang biasa mereka tempuh, seorang agen dapat menyimpulkan bahwa pertanyaan tersebut mungkin merupakan permintaan prioritas yang melibatkan kerusakan kendaraan – bahkan sebelum berbicara dengan pelanggan.
Alva juga berupaya mengoptimalkan pengalaman karyawan, khususnya di bidang pemasaran dan penjualan yang dipersonalisasi dengan kekuatan analisis data bertenaga AI.
Reaksi pelanggan dan calon pembeli terhadap pesan pemasaran dapat bervariasi berdasarkan geografi. Menggunakan AI untuk menganalisis data terkait interaksi pelanggan dan penjualan pada platform data Google Cloud dapat membantu Alva mengidentifikasi pesan yang paling sesuai dengan wilayah atau kelompok audiens tertentu.
Tim pemasaran dapat memperoleh insights yang lebih baik dari data dan bereksperimen serta mengulanginya dengan lebih cepat, sehingga mengoptimalkan efektivitas kampanye pemasaran digital mereka untuk menghasilkan lebih banyak prospek dan kesadaran merek. Insights seputar preferensi pelanggan juga dapat memberi keunggulan kepada tim penjualan, memberi mereka pemahaman tentang cara terbaik memenuhi kebutuhan calon pembeli, sehingga meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Alva juga tengah berupaya memanfaatkan kemampuan enterprise-ready gen AI seperti Vertex AI Search and Conversation yang memungkinkan tim pemasaran untuk memperoleh insights dan rekomendasi dari penyimpanan data dalam bahasa alami untuk mendukung pembuatan konten pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok audiens tertentu dengan cepat dan dalam skala besar.
Fanly Tanto, Country Director, Indonesia, Google Cloud mengatakan industri otomotif tengah mengalami perubahan mendasar seiring pasar bergerak menuju pengurangan emisi karbon, dan kami sangat antusias dapat mendukung para pemimpin mobilitas hijau seperti Alva seiring mereka terus mendorong batasan inovasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berkembang.
"Kolaborasi kami dengan Alva adalah demonstrasi yang sangat baik tentang bagaimana analisis data dan AI terdepan dapat membantu bisnis tetap unggul dalam menghadapi gangguan. Melalui kerja sama ini, kami bangga dapat berkontribusi mempercepat transisi Indonesia menuju kendaraan listrik (EV) yang sejalan dengan tujuan nasional untuk mengurangi emisi.”
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(MMI)
Studi Akamai: Bisnis Digital Native di Kawasan Asia Lebih Prioritaskan Keamanan
Sebuah studi terbaru Akamai Technologies, perusahaan teknologi yang menyediakan layanan jaringan dan keamanan konten, mengungkap bahwa digital native business (DNB) di kawasan Asia semakin mengutamaka [568] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #akamai #keamanan-siber #digital-native-business #cloud-computing #data #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 30/09/24 20:56
v/15783295/
JAKARTA, investor.id - Sebuah studi terbaru Akamai Technologies, perusahaan teknologi yang menyediakan layanan jaringan dan keamanan konten, mengungkap bahwa digital native business (DNB) di kawasan Asia semakin mengutamakan keamanan daripada biaya dan skalabilitas seiring dengan percepatan adopsi cloud.
Pergeseran fokus ini menggarisbawahi semakin pentingnya aspek keamanan dalam mendukung keberlanjutan dan keberhasilan jangka panjang bisnis mereka.
Seiring dengan semakin kompleksnya lanskap digital, ancaman siber juga kian canggih dan sering. Serangan ransomware, pencurian data, dan gangguan layanan menjadi hal yang umum terjadi.
Yang juga menjadi pendorong adalah banyak negara, termasuk Indonesia yang mulai memberlakukan regulasi yang lebih ketat terkait perlindungan data pribadi. Perusahaan yang tidak mematuhi regulasi berisiko menghadapi sanksi yang berat.
Studi Akamai menemukan bahwa sembilan dari sepuluh DNB di Asia menganggap efisiensi dan produktivitas sebagai prioritas utama mereka selama 12 bulan ke depan.
Namun, seiring bisnis-bisnis ini merangkul teknologi canggih, seperti komputasi cloud dan API, mereka juga menghadapi tantangan keamanan yang signifikan.
Jay Jenkins, Chief Technology Officer di Akamai Cloud Computing, menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang terhadap adopsi teknologi.
Sementara teknologi mutakhir menawarkan peluang yang sangat besar, teknologi tersebut juga menghadirkan kompleksitas yang dapat membuat bisnis terpapar ancaman siber.
Untuk memanfaatkan sepenuhnya potensi komputasi cloud, DNB harus mengutamakan keamanan dan mengadopsi pendekatan multi-cloud untuk menghindari ketergantungan pada vendor dan meningkatkan fleksibilitas.
Studi ini juga menyoroti tantangan khusus yang dihadapi DNB dalam perjalanan adopsi cloud mereka. Masalah umum meliputi pengelolaan implikasi keamanan, kurangnya keahlian teknis, dan kebutuhan akan analitik dan pelaporan waktu nyata.
Selain itu, keamanan API telah muncul sebagai masalah kritis, dengan bisnis yang menyadari pentingnya visibilitas ke dalam aktivitas serangan API dan beradaptasi dengan ancaman yang terus berkembang.
Penelitian Akamai mengungkapkan bahwa DNB semakin memprioritaskan keamanan API untuk mengatasi masalah keamanan cloud. Sembilan dari sepuluh DNB menyatakan bahwa keamanan API adalah fitur produk yang kritis atau penting saat mengevaluasi penyedia cloud atau keamanan.
Lebih jauh, 87% DNB mengindikasikan bahwa fitur keamanan lebih penting daripada kinerja, reputasi, skalabilitas, dan biaya saat memilih penyedia cloud.
Jenkins menekankan pentingnya pendekatan komprehensif terhadap keamanan, khususnya dalam konteks API, yang berfungsi sebagai jaringan ikat dalam infrastruktur cloud-native modern.
Kerangka kerja keamanan yang kuat harus mencakup langkah-langkah keamanan API tingkat lanjut, audit rutin, dan visibilitas tinggi ke dalam aktivitas API untuk memastikan operasi yang gesit, fleksibel, dan aman.
Banyak yang mulai melihat Zero Trust sebagai solusi keamanan yang efektif, sesuatu yang dapat dilakukan, dan sesuatu yang tidak menguras kantong mereka. Itulah sebabnya mereka mengadopsinya lebih agresif hari ini karena pada saat yang sama, ancaman tingkat lanjut seperti ransomware juga menjadi lebih agresif dalam hal volume dan intensitas.
Reuben Koh, Direktur Keamanan Teknologi & Strategi Akamai Technologies, menyoroti beberapa aspek penting dalam keamanan API untuk DNB, termasuk potensi miskonfigurasi, visibilitas, API runtime, dan uji keamanan. Namun, ia juga menekankan bahwa phishing merupakan masalah utama bagi DNB di Asean dengan 97.465 upaya phishing di sektor keuangan Indonesia yang berhasil diblokir.
Konsekuensinya, DNB di Asean cenderung memprioritaskan investasi dalam teknologi anti-phishing, terutama mengingat evolusi taktik phishing yang berawal dari serangan berbasis email kini mulai menyasar perangkat seluler dan platform media sosial.
Temuan studi ini menggarisbawahi semakin meningkatnya kesadaran di kalangan DNB tentang pentingnya keamanan dalam perjalanan adopsi cloud mereka. Dengan memprioritaskan keamanan, bisnis ini dapat mengurangi risiko, melindungi data berharga mereka, dan memastikan keberlanjutan jangka panjang operasi mereka.
Editor: Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Kena Serangan Siber, Perusahaan Akhirnya Rela Bayar Uang Tebusan
Survei tersebut menemukan bahwa perangkat pemeras menjadi kekhawatiran yang makin meningkat bagi Indonesia. [609] url asal
#cloud-computing #cyber-security #cloudflare
(MedCom) 18/09/24 17:10
v/15188337/
Jakarta: Cloudflare merilis studi baru tentang keamanan siber di Asia Pasifik. Laporan tersebut, yang berjudul “Menavigasi Lanskap Baru Keamanan: Survei Kesiapan Keamanan Siber Asia Pasifik,” memberikan data terbaru tentang kesiapan keamanan siber di kawasan ini, serta mengungkapkan cara organisasi mengatasi perangkat pemeras, pelanggaran data, dan kompleksitas yang disebabkan oleh Kecerdasan Buatan (AI).Survei tersebut menemukan bahwa perangkat pemeras menjadi kekhawatiran yang makin meningkat bagi Indonesia. Studi juga mengungkapkan bahwa 65% dari organisasi yang mengalami serangan perangkat pemeras dalam dua tahun terakhir mengatakan bahwa mereka telah membayar uang tebusan, meskipun 80% dari organisasi tersebut sebelumnya telah mengeluarkan janji publik bahwa mereka tidak akan melakukan hal tersebut.
Secara keseluruhan, server Remote Desktop Protocol (RDP) atau Virtual Private Network (VPN) yang berhasil diserang (65%) terbukti menjadi cara masuk yang paling umum bagi pelaku ancaman.
Survei juga mengungkapkan bahwa 81% dari responden di Indonesia mengkhawatirkan kemungkinan AI dapat meningkatkan kecanggihan dan keparahan pelanggaran data. Selain itu, 40% dari responden mengatakan bahwa organisasi mereka mengalami pelanggaran data dalam 12 bulan terakhir, dengan 38% di antaranya menyatakan bahwa mereka telah mengalami 11 atau lebih pelanggaran data.
Industri yang mengalami pelanggaran data terbanyak di antaranya Perjalanan, Pariwisata, dan Perhotelan (67%), Pendidikan (60%), Pemerintahan (50%), serta TI dan Teknologi. Pelaku ancaman paling sering menargetkan data pelanggan (71%), data keuangan (58%), dan kredensial akses pengguna (56%).
"Dalam lanskap bisnis yang sulit dewasa ini, dampak insiden keamanan siber dan pelanggaran data adalah hal yang tak dapat disangkal. Pimpinan keamanan siber terjebak antara regulasi yang makin ketat dan sumber daya yang makin menyusut. Pengelolaan berbagai ancaman ini tidak menjadi lebih mudah—lingkungan TI yang rumit berhadapan dengan serangan yang tiada henti sementara tim TI yang kekurangan tenaga ahli harus berjuang keras untuk bertahan."
"Pimpinan keamanan siber harus terus-menerus mengevaluasi tenaga ahli, anggaran, dan strateginya agar tetap dapat mengatasi ancaman siber yang terus berkembang dan melindungi organisasinya," ujar Kenneth Lai, Wakil Presiden, ASEAN di Cloudflare.
Regulasi dan kepatuhan juga muncul sebagai tema penting dalam studi tahun ini. Survei menunjukkan bahwa 61% dari responden membelanjakan lebih dari 5% anggaran TI mereka untuk mengatasi persyaratan regulasi dan kepatuhan. Selain itu, 68% dari responden melaporkan penggunaan lebih dari 10% dari waktu kerjanya dalam seminggu untuk mempertahankan kesesuaian dengan persyaratan dan sertifikasi regulasi industri.
Namun, investasi dalam regulasi dan kepatuhan telah berdampak positif terhadap perusahaan, seperti pada tingkat dasar privasi dan/atau keamanan organisasi (78%), peningkatan integritas teknologi dan data organisasi (77%), serta peningkatan reputasi dan merek organisasi (72%). Mempertahankan diri dari serangan siber tetap menjadi prioritas, dengan 93% responden mengungkapkan bahwa 10% lebih dari anggaran TI mereka telah dikeluarkan untuk keamanan siber.
Survei ini dilakukan mewakili Cloudflare dan diikuti oleh total 3.844 individu pengambil keputusan dan pimpinan keamanan siber dari organisasi kecil (250 hingga 999 orang karyawan), menengah (1.000 hingga 2.499 orang karyawan), dan besar (lebih dari 2.500 orang karyawan).
Responden dipilih dari berbagai jenis industri: Layanan Bisnis & Profesional; Konstruksi & Real Estat; Pendidikan; Energi, Utilitas & Sumber Daya Alam; Teknik & Otomotif; Layanan Keuangan; Gaming; Pemerintahan; Pelayanan Kesehatan; TI & Teknologi; Manufaktur; Media & Telekomunikasi; Ritel; Transportasi; Perjalanan, Pariwisata & Perhotelan.
Responden berlokasi di 14 negara di Asia Pasifik: Australia, Tiongkok, Hong Kong SAR, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam (n=201 hingga 405 per negara), serta disurvei secara online dan direkrut melalui panel bisnis umum.
Survei ini bertujuan untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang lanskap ancaman yang dihadapi oleh para Direktur Keamanan Informasi (CISO) dan tim mereka di seluruh wilayah Asia Pasifik yang luas dan berbeda-beda ini, serta tantangan yang dihadapi mereka terkait paradigma seperti kompleksitas, kepatuhan, dan tenaga ahli. Survei ini diselenggarakan pada bulan Juni 2024.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(MMI)
Dukung Transformasi Digital Indonesia, Sagara Technology Hadirkan Solusi Holistik Halaman all
Selain mengembangkan perangkat lunak, Sagara juga menciptakan solusi yang bisa mendorong klien ke tingkat yang lebih tinggi. Halaman all [592] url asal
#software #cloud-computing #transformasi-digital #cybersecurity #industri-teknologi
(Kompas.com) 14/08/24 17:29
v/14414648/
KOMPAS.com – Transformasi digital menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2022, nilai ekonomi digital Indonesia tercatat sebesar Rp 1.408 triliun atau 8 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun yang sama.
Lima tahun mendatang, ekonomi digital diproyeksikan terus bertumbuh hingga mencapai Rp 3.216 triliun pada 2027 atau meningkat sebesar 128 persen. Dengan demikian, ekonomi digital mampu berkontribusi 14 persen terhadap PDB 2027 yang diperkirakan sebesar Rp 23.533 triliun.
Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Firlie H Ganinduto menyampaikan, ekonomi digital yang terus meningkat diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2045.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat juga akan mengantarkan Indonesia menjadi pemain utama di pasar Asia Tenggara.
”Pesatnya perkembangan ekonomi digital di Indonesia harus diimbangi oleh infrastruktur digital yang kuat dan adaptif,” ucap Firlie sebagaimana diberitakan Kompas.id, Senin (19/6/2023).
Guna mendukung hal tersebut, perusahaan software development terus berinovasi dengan menghadirkan solusi digital yang mengubah cara operasional bisnis. Salah satunya dilakukan oleh Sagara Technology.
Sebagai salah satu pionir dalam transformasi digital, Sagara Technology terus mengukuhkan posisinya menjadi pemain utama di industri teknologi Indonesia.
Dikenal dengan kemampuan menghadirkan solusi yang terintegrasi dan efektif, Sagara telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), untuk memodernisasi sistem operasional dan meningkatkan efisiensi.
Chief Commercial Officer (CCO) Sagara Technology Anastassya Santausa mengatakan bahwa selain mengembangkan perangkat lunak, pihaknya juga menciptakan solusi yang bisa mendorong klien ke tingkat yang lebih tinggi.
“Inovasi adalah DNA kami. Kami bangga bisa menjadi bagian dari transformasi digital yang terjadi di Indonesia," ujar Anastassya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (14/8/2024).
Untuk itu, Sagara menawarkan sejumlah solusi, seperti Digital Transformation Skills serta Future Skills, yang menerapkan Adaptive Learning untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan selalu relevan dan mutakhir.
“Dengan keahlian dalam project management skills, communication skills, negotiation skills, conflict resolution, serta emotional intelligence, kami memastikan setiap proyek berjalan lancar dan efektif,” ucap dia.
Anastassya menambahkan, di tengah tren kerja jarak jauh (remote working), Sagara juga menguasai Remote Work Skills dan Digital Collaboration.
Program pelatihan Sagara juga mencakup Data Literacy, Coding Bootcamps, AI Literacy, Cybersecurity Training, dan Cloud Computing Skills.
“Kami menyiapkan tim dengan teknologi Industry 4.0 Skills, Green Skills, dan Sustainability Training untuk menghadapi tantangan masa depan,” kata Anastassya.
Untuk memastikan setiap aspek bisnis berjalan optimal, Sagara juga menghadirkan Smart Manufacturing Skills, Financial Literacy, Sales Training, Marketing Skills, Customer Service Skills, Product Management Skills, dan Design Thinking.
Sementara, untuk menciptakan solusi holistik dan berkelanjutan, Sagara juga menyajikan solusi UX/UI Design Skills, Entrepreneurship Training, Business Analytics, Innovation Management, Time Management Skills, dan Performance Management.
Dengan semua layanan tersebut, Sagara Technology memastikan bahwa perusahaan tersebut tidak hanya menjadi partner teknologi yang andal, tetapi juga menjadi mitra strategis yang mampu membawa BUMN dan perusahaan bonafid ke level berikutnya.
“Kami selalu berada di garis depan inovasi yang siap menghadapi setiap tantangan dan peluang baru,” tegas Anastassya.
Dukung Transformasi Digital Indonesia, Sagara Technology Hadirkan Solusi Holistik
Selain mengembangkan perangkat lunak, Sagara juga menciptakan solusi yang bisa mendorong klien ke tingkat yang lebih tinggi. Halaman all [592] url asal
#software #cloud-computing #transformasi-digital #cybersecurity #industri-teknologi
(Kompas.com - Money) 14/08/24 17:29
v/14414644/
KOMPAS.com – Transformasi digital menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2022, nilai ekonomi digital Indonesia tercatat sebesar Rp 1.408 triliun atau 8 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun yang sama.
Lima tahun mendatang, ekonomi digital diproyeksikan terus bertumbuh hingga mencapai Rp 3.216 triliun pada 2027 atau meningkat sebesar 128 persen. Dengan demikian, ekonomi digital mampu berkontribusi 14 persen terhadap PDB 2027 yang diperkirakan sebesar Rp 23.533 triliun.
Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Firlie H Ganinduto menyampaikan, ekonomi digital yang terus meningkat diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2045.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat juga akan mengantarkan Indonesia menjadi pemain utama di pasar Asia Tenggara.
”Pesatnya perkembangan ekonomi digital di Indonesia harus diimbangi oleh infrastruktur digital yang kuat dan adaptif,” ucap Firlie sebagaimana diberitakan Kompas.id, Senin (19/6/2023).
Guna mendukung hal tersebut, perusahaan software development terus berinovasi dengan menghadirkan solusi digital yang mengubah cara operasional bisnis. Salah satunya dilakukan oleh Sagara Technology.
Sebagai salah satu pionir dalam transformasi digital, Sagara Technology terus mengukuhkan posisinya menjadi pemain utama di industri teknologi Indonesia.
Dikenal dengan kemampuan menghadirkan solusi yang terintegrasi dan efektif, Sagara telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), untuk memodernisasi sistem operasional dan meningkatkan efisiensi.
Chief Commercial Officer (CCO) Sagara Technology Anastassya Santausa mengatakan bahwa selain mengembangkan perangkat lunak, pihaknya juga menciptakan solusi yang bisa mendorong klien ke tingkat yang lebih tinggi.
“Inovasi adalah DNA kami. Kami bangga bisa menjadi bagian dari transformasi digital yang terjadi di Indonesia," ujar Anastassya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (14/8/2024).
Untuk itu, Sagara menawarkan sejumlah solusi, seperti Digital Transformation Skills serta Future Skills, yang menerapkan Adaptive Learning untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan selalu relevan dan mutakhir.
“Dengan keahlian dalam project management skills, communication skills, negotiation skills, conflict resolution, serta emotional intelligence, kami memastikan setiap proyek berjalan lancar dan efektif,” ucap dia.
Anastassya menambahkan, di tengah tren kerja jarak jauh (remote working), Sagara juga menguasai Remote Work Skills dan Digital Collaboration.
Program pelatihan Sagara juga mencakup Data Literacy, Coding Bootcamps, AI Literacy, Cybersecurity Training, dan Cloud Computing Skills.
“Kami menyiapkan tim dengan teknologi Industry 4.0 Skills, Green Skills, dan Sustainability Training untuk menghadapi tantangan masa depan,” kata Anastassya.
Untuk memastikan setiap aspek bisnis berjalan optimal, Sagara juga menghadirkan Smart Manufacturing Skills, Financial Literacy, Sales Training, Marketing Skills, Customer Service Skills, Product Management Skills, dan Design Thinking.
Sementara, untuk menciptakan solusi holistik dan berkelanjutan, Sagara juga menyajikan solusi UX/UI Design Skills, Entrepreneurship Training, Business Analytics, Innovation Management, Time Management Skills, dan Performance Management.
Dengan semua layanan tersebut, Sagara Technology memastikan bahwa perusahaan tersebut tidak hanya menjadi partner teknologi yang andal, tetapi juga menjadi mitra strategis yang mampu membawa BUMN dan perusahaan bonafid ke level berikutnya.
“Kami selalu berada di garis depan inovasi yang siap menghadapi setiap tantangan dan peluang baru,” tegas Anastassya.
Alibaba Cloud Garap OBS Cloud 3.0 Berbasis AI untuk Paris 2024
Untuk Paris 2024, OBS Cloud 3.0 akan berfungsi sebagai infrastruktur utama yang sepenuhnya menggunakan manfaat teknologi cloud. [872] url asal
#alibaba #cloud-computing #olimpiade-paris-2024 #obs #penyiaran-olimpiade-paris-alibaba-cloud
(MedCom) 12/08/24 10:25
v/14280566/
Jakarta: Alibaba Cloud dan Olympic Broadcasting Services (OBS), mengumumkan peluncuran OBS Cloud 3.0 untuk Olimpiade Paris 2024. Kombinasi teknologi cloud yang didukung oleh AI, OBS Cloud 3.0, diklaim membuat pekerjaan OBS dan Pemegang Hak Siar Media (Media Rights Holders/MRH) menjadi lebih mudah dan efisien.Untuk Paris 2024, OBS Cloud 3.0 akan berfungsi sebagai infrastruktur utama yang sepenuhnya menggunakan manfaat teknologi cloud untuk mendukung beberapa fungsi penting dari skalabilitas operasional dan efisiensi biaya, peningkatan keberlanjutan dengan kemampuan kerja jarak jauh yang lebih baik, sampai kolaborasi alur kerja secara real-time yang efektif, dan masih banyak lagi.
Sebagai bagian dari OBS Cloud 3.0, OBS Live Cloud menjadi metode utama distribusi jarak jauh ke MRH untuk pertama kalinya dalam sejarah Olimpiade, menggantikan satelit yang diluncurkan saat Olimpiade Tokyo 1964. Untuk Paris 2024, dua pertiga dari layanan jarak jauh yang akan digunakan (meliputi 54 penyiaran) sekarang menggunakan OBS Live Cloud termasuk 2 penyiaran Ultra High Definition (UHD).
379 video (11 UHD, 368 HD) dan 100 audio feed akan ditransmisikan melalui Live Cloud. Dengan latensi rendah dan ketahanan tinggi, transmisi konten melalui cloud telah mengungguli metode distribusi lainnya dalam hal skalabilitas, fleksibilitas, dan biaya, serta meningkatkan stabilitas dan kelincahan penyiaran di seluruh dunia untuk berbagai acara olahraga terbesar di seluruh dunia.
Digunakan pertama kali saat Olimpiade Tokyo 2020 dengan penyiaran UHD, OBS Live Cloud ditawarkan sebagai layanan standar untuk pertama kalinya selama Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 dengan 22 penyiaran yang berlangganan. Sebelum terobosan ini, lembaga penyiaran harus mengandalkan sirkuit optik telekomunikasi internasional khusus yang lebih mahal dan menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan peralatan, dari mengirim rekaman langsung ke belahan dunia lain kembali ke negara asal masing-masing.
Pada peluncuran OBS Cloud 3.0 selama pembukaan showcase Alibaba Cloud International Broadcasting Centre (IBC), Yiannis Exarchos, Chief Executive Officer OBS, mengatakan dengan estimasi separuh dari populasi dunia menonton Olimpiade, teknologi seperti yang dimiliki Alibaba Cloud membantu kami menampilkan kisah-kisah para atlet terbaik di dunia, sekaligus menyatukan dunia dengan cara yang lebih menarik dan inspiratif.
"Menyiarkan Olimpiade merupakan hal yang sangat penting dan memiliki mitra seperti Alibaba yang bisa membantu kami mewujudkan impian ini menjadi nyata begitu berharga!”
Content+, platform pengiriman konten OBS, tetap sepenuhnya di-hosting di Alibaba Cloud dan terus menyederhanakan alur kerja produksi jarak jauh serta memastikan pengiriman konten tanpa hambatan, termasuk dari sesi siaran langsung, wawancara atlet, cuplikan di balik layar, dan konten media sosial.
Untuk Paris 2024, OBS akan memproduksi lebih dari 11.000 jam konten – peningkatan 15% dari Tokyo 2020. Pendekatan yang efesien dari portal berbasis cloud ini menyederhanakan alur kerja produksi jarak jauh dan memastikan pengiriman konten yang lancar tanpa gangguan selama Olimpiade berlangsung.
Fungsi baru dalam Content+ memungkinkan MRH membuat cuplikan mereka sendiri dari lokasi mana pun di dunia dengan waktu penyelesaian yang jauh lebih singkat. Konten dapat diunduh dalam tiga resolusi berbeda yang memfasilitasi penggunaan termasuk linear, digital, dan/atau sosial.
Menawarkan akses MRH seluruh dunia ke ragam konten Olimpiade yang diproduksi oleh OBS, Content+ akan menghadirkan konten dalam UHD untuk pertama kalinya melalui infrastruktur global Alibaba Cloud yang kuat. Hal ini bisa membantu berbagai penyiaran untuk menghasilkan konten yang lebih menarik dan berkualitas, dengan fitur-fitur baru seperti kompatibilitas layar vertikal untuk tampilan optimal di perangkat seluler atau perangkat lainnya.
Selina Yuan, President of International Business Alibaba Cloud Intelligence, mengatakan sangat senang melihat evolusi penyiaran Olimpiade dari Tokyo 2020 hingga Paris 2024, yang didukung oleh infrastruktur global Alibaba Cloud dengan cakupan luas dan teknologi AI yang telah terbukti.
"Kemitraan antara Alibaba Cloud dan OBS memperkuat komitmen kami untuk membantu mentransformasi pengalaman penonton di Olimpiade, mengubah inovasi teknologi menjadi aplikasi praktis dengan hasil yang nyata. Kami merasa bangga dapat mendukung Paris 2024 sebagai Olimpiade paling menarik secara digital yang pernah ada.”
Selama Paris 2024 berlangsung, OBS Multi-Camera Replay Systems akan menyediakan tayangan ulang gerakan lambat dari penampilan para atlet, memungkinkan penggemar olahraga berat mengakses informasi terperinci untuk analisis yang lebih mendalam mengenai gerakan atlet. Bagi penonton baru, tayangan ulang ini dapat berfungsi sebagai edukasi untuk pemahaman yang lebih baik tentang Olimpiade pada momen-momen penting.
Semua sistem tayangan ulang multi-kamera yang digunakan di Paris 2024 akan disediakan oleh Alibaba Cloud, termasuk 17 sistem di 14 venue yang mencakup 21 cabang olahraga termasuk rugby sevens; bulu tangkis; trek dan lapangan atletik; bola basket; voli pantai; tenis meja; gulat; tenis; judo; breaking; BMX freestyle; dan skateboarding.
Rekaman tersebut akan dikirim ke cloud, di mana kemampuan komputasi berbasis AI dari Alibaba Cloud memungkinkan rekonstruksi spasial langsung dan rendering 3D secara real-time, sebelum momen yang dipilih dibagikan sebagai tayangan ulang melalui siaran langsung atau tidak langsung. Rekonstruksi dari momen-momen paling menarik hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk disiapkan di cloud dan diintegrasikan sebagai bagian dari siaran langsung.
Selain itu, OBS Olympic Video Player (OVP), layanan pemutar video multi-platform, juga akan memanfaatkan infrastruktur Alibaba Cloud untuk mendukung live streaming UHD. Layanan OVP menyediakan MRH, terutama organisasi kecil dan menengah, solusi siap pakai untuk menayangkan video berkualitas tinggi kepada audiens mereka tanpa proses internal yang rumit.
Bergabung sebagai Mitra Global Olimpiade pada Januari 2017, Alibaba Cloud dan OBS meluncurkan OBS Cloud pada 2018. Perusahaan cloud terkemuka ini mendukung Tokyo 2020 sebagai Olimpiade pertama yang disiarkan melalui cloud dan telah bekerja dengan OBS sejak itu.
(MMI)
Kontribusi Red Hat Dorong Kalbe Farma Ciptakan Inovasi Farmasi Lebih Cepat
Red Hat OpenShift membantu Kalbe Farma mendigitalisasi operasional bisnis dan mengintegrasikannya. [499] url asal
#red-hat #enterprise #red-hat-openshift #kalbe-farma #transformasi-digital #cloud-computing #teknologi
(MedCom) 19/07/24 08:30
v/11287810/
Jakarta: Red Hat sebagai perusahaan software juga memiliki andil atau kontribu di bidang farmasi, berkat solusi hybrid cloud Red Hat OpenShift perusahaan farmasi Kalbe Farma mengklaim mampu menciptakan inovasi bidang farmasi lebih cepat.Opini disampaikan oleh Danny Natalies, Head of Corporate Information Technology and System, PT Kalbe Farma dan Vony Tjiu, Country Manager Indonesia, Red Hat dalam sesi ‘red Hat Mid-Year Media Briefing’.
Inovasi saat ini hadir tidak terlepas dari digitalisasi, Kalbe Farma yang berdiri sejak tahun 1966 terus memperluas bisnisnya harus ikut melakukan transformasi digital menurut penuturan Danny.
Kalbe Farma saat ini menyediakan solusi layanan kesehatan terintegrasi dengan operasional bisnis yang meliputi lebih dari 40 perusahaan. Selain di Indonesia, perusahaan ini telah membangun bisnisnya di negara-negara ASEAN dan Afrika.
Danny menyadari bahwa perusahaan tempatnya bernaung membutuhkan digitalisasi dan meningkatkan agilitas lewat aplikasi yang mengintegrasi produk dan layanannya ke pasar.
Kalbe Farma menggunakan solusi Red Hat OpenShift dari mitra Red Hat Indonesia yaitu Mitra Integrasi Informatika. Solusi ini menyediakan dukungan tingkat enterprise yang dibutuhkan oleh layanan-layanan yang sangat penting bagi bisnis.
Red Hat OpenShift diterapkan di fasilitas on-premise, terutama di bare metal, bersama dengan Red Hat 3scale API Management. Tim IT Kalbe Farma juga mampu mengembangkan berbagai keterampilan baru untuk lingkungan baru mereka.
Red Hat membantu tim infrastruktur menjadi spesialisasi virtual machines (VMs) infrastruktur yang mendukung containerization dan Red Hat OpenShift.
Danny menyebut OpenShift. Beban kerja pertama yang dipindahkan ke platform aplikasi Red Hat adalah fitur chat yang digunakan untuk kolaborasi grup terkait inovasi.
Melalui penggunaan Red Hat 3scale API Management dan Red Hat OpenShift, arsitektur IT di Kalbe tidak hanya beralih menjadi berbasis layanan mikro tapi juga menjadi API sentris. API (application programming interfaces) di arsitektur tersebut sudah mendukung kolaborasi dalam kelompok, termasuk pertukaran data antara Kalbe dan anak-anak perusahaannya.
“Setelah mengimplementasikan layanan mikro dan membangun infrastruktur IT yang berbasis API dengan Red Hat OpenShift dan Red Hat 3scale API Management, kami melihat adanya peningkatan kecepatan dalam delivery dan keunggulan kompetitif,” kata Danny.
“Selain itu, API telah memfasilitasi kolaborasi antar grup dan pertukaran data antara Kalbe dan anak perusahaannya,” ujarnya. Danny juga membeberkan sejumlah benefit dari adopsi solusi Red Hat pada Kalbe Farma.
Developer aplikasi bisa meluncurkan fungsi baru dalam satu modul secara bersamaan, sehingga pengguna bisa melihat dan menggunakan aplikasi dengan jauh lebih cepat. Hat OpenShift akan menyediakan monitoring untuk komponen platform inti dan pada akhirnya mengurangi downtime.
Red Hat 3Scale API Management memudahkan Kalbe untuk mengelola API dan menangani pertukaran data antara Kalbe dan perusahaan lain. Saat aplikasi membutuhkan kapasitas tambahan, Red Hat OpenShift memungkinkan Kalbe dan anak perusahaannya menyesuaikan kapasitas container itu sendiri.
“Kami sangat senang membantu Kalbe Farma mencapai tujuannya mempercepat waktu untuk pemasaran dan meningkatkan keandalan produk dan layanan mereka yang skalabel, baru, dan inovatif,” ungkap Vony.
“Dengan menjalankan Red Hat OpenShift dan Red Hat 3scale API Management di layanan- layanan yang sangat penting, serta support sekelas enterprise dari Red Hat, Kalbe Farma mampu memenangkan hati para pelanggannya dan menjadi yang terkemuka di antara para pesaingnya,” tandasnya.
(MMI)
Cloud Computing: Pengertian, Fungsi dan Contohnya
Cloud computing atau komputasi awan adalah akses sumber daya komputasi sesuai permintaan melalui internet dengan harga bayar per penggunaan. [965] url asal
#pengertian-cloud-computing #fungsi-cloud-computing #contoh-cloud-computing #komputasi-awan #cloud-computing
(MedCom) 18/07/24 16:50
v/11202456/
Jakarta: Sobat Medcom saat ini pasti sudah tidak sulit lagi untuk menonton film online, berbagi pesan lewat email, atau main game online. Ini semua bisa mudah dilakukan karena adanya cloud computing atau komputasi awan.Mungkin kalian bertanya-tanya apa itu cloud computing? Apakah benar-benar ada komputer di awan? Yuk kita pahami mengenai cloud computing mulai dari pengetian, fungsi, hingga contohnya dikutip dari laman ibm.com:
Pengertian
Cloud computing atau komputasi awan adalah akses sumber daya komputasi sesuai permintaan-server fisik atau server virtual, penyimpanan data, kemampuan jaringan, alat pengembangan aplikasi, perangkat lunak, alat analisis bertenaga AI, dan banyak lagi-melalui internet dengan harga bayar per penggunaan.Model komputasi awan menawarkan fleksibilitas dan skalabilitas yang lebih besar kepada pelanggan dibandingkan dengan infrastruktur lokal tradisional.
Komputasi awan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari, baik saat mengakses aplikasi awan seperti Google Gmail, streaming film di Netflix, atau bermain video game, yang dihosting di awan. Komputasi awan juga telah menjadi sangat penting dalam lingkungan bisnis, mulai dari perusahaan rintisan hingga perusahaan global.
Banyak aplikasi bisnis yang memungkinkan pekerjaan jarak jauh dengan membuat data dan aplikasi dapat diakses dari mana saja, menciptakan kerangka kerja untuk keterlibatan pelanggan omnichannel tanpa batas, serta menyediakan daya komputasi yang besar dan sumber daya lain yang diperlukan untuk memanfaatkan teknologi canggih seperti AI generatif dan komputasi kuantum.
Penyedia layanan cloud (CSP) mengelola layanan teknologi berbasis cloud yang dihosting di pusat data jarak jauh dan biasanya menyediakan sumber daya ini dengan biaya langganan bulanan atau bayar sesuai penggunaan.
Ide awal jaringan global dalam serangkaian memo yang membahas Jaringan Komputer Intergalaksi diperkenalkan pertama kali oleh Joseph Carl Robnett Licklider, seorang ilmuwan komputer dan psikolog Amerika yang dikenal sebagai “bapak komputasi awan”.
Namun, baru pada awal tahun 2000-an, infrastruktur cloud modern untuk bisnis muncul. Pada tahun 2002, Amazon Web Services memulai layanan penyimpanan dan komputasi berbasis awan.
Pada tahun 2006, mereka memperkenalkan Elastic Compute Cloud (EC2), sebuah penawaran yang memungkinkan pengguna untuk menyewa komputer virtual untuk menjalankan aplikasi mereka. Pada tahun yang sama, Google memperkenalkan Google Apps suite (sekarang disebut Google Workspace), sebuah koleksi aplikasi produktivitas SaaS.
Pada tahun 2009, Microsoft memulai aplikasi SaaS pertamanya, Microsoft Office 2011. Saat ini, Gartner memprediksi pengeluaran pengguna akhir di seluruh dunia untuk cloud publik akan mencapai USD679 miliar dan diproyeksikan melebihi USD1 triliun pada tahun 2027.
Fungsi cloud computing
Cloud computing atau komputasi awan menawarkan banyak manfaat, yakni:1. Efektivitas biaya
Komputasi awan memungkinkan Anda mengurangi sebagian atau seluruh biaya dan upaya untuk membeli, memasang, mengonfigurasi, dan mengelola komputer mainframe serta infrastruktur lokal lainnya. Anda hanya membayar untuk infrastruktur berbasis cloud dan sumber daya komputasi lainnya saat Anda menggunakannya.2. Peningkatan kecepatan dan kelincahan
Dengan komputasi awan, organisasi Anda dapat menggunakan aplikasi perusahaan dalam hitungan menit ketimbang menunggu berminggu-minggu atau berbulan-bulan bagi IT untuk merespons permintaan, membeli dan mengonfigurasi perangkat keras pendukung, serta menginstal perangkat lunak.Fitur ini memberdayakan pengguna-khususnya DevOps dan tim pengembangan lainnya-untuk membantu memanfaatkan perangkat lunak berbasis cloud dan infrastruktur pendukung.
3. Skalabilitas tak terbatas
Komputasi awan menyediakan elastisitas dan penyediaan layanan mandiri. Jadi, alih-alih membeli kapasitas berlebih yang tidak terpakai selama periode sepi, Anda bisa meningkatkan dan menurunkan kapasitas untuk merespons lonjakan dan penurunan trafik.Anda juga dapat menggunakan jaringan global penyedia layanan cloud untuk menyebarkan aplikasi Anda lebih dekat ke pengguna di seluruh dunia.
4. Peningkatan nilai strategis
Komputasi awan memungkinkan organisasi untuk menggunakan berbagai teknologi dan inovasi terbaru untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Misalnya, dalam industri ritel, perbankan, dan industri yang berhubungan langsung dengan pelanggan, asisten virtual bertenaga AI yang digunakan di cloud dapat memberikan waktu respons pelanggan yang lebih baik dan membebaskan tim untuk fokus pada pekerjaan yang lebih tinggi.Di bidang manufaktur, tim dapat berkolaborasi dan menggunakan perangkat lunak berbasis cloud untuk memantau data waktu nyata di seluruh proses logistik dan rantai pasokan.
Contoh
Contoh layanan cloud paling umum adalah IaaS (Infrastructure-as-a-Service), PaaS (Platform-as-a-Service), SaaS (Software-as-a-Service), dan komputasi tanpa server. Berikut penjelasannya:IaaS (Infrastruktur-sebagai-Layanan)
IaaS (Infrastructure-as-a-Service) menyediakan akses sesuai permintaan ke sumber daya komputasi dasar-server fisik dan virtual, jaringan dan penyimpanan- melalui internet dengan sistem bayar sesuai penggunaan. IaaS memungkinkan pengguna akhir untuk meningkatkan dan mengurangi sumber daya sesuai kebutuhan, mengurangi kebutuhan akan belanja modal di muka yang tinggi atau infrastruktur di lokasi atau infrastruktur 'milik sendiri' yang tidak perlu dan membeli sumber daya secara berlebihan untuk mengakomodasi lonjakan penggunaan secara berkala.PaaS (Platform-as-a-Service)
PaaS (Platform-as-a-Service) menyediakan platform sesuai permintaan bagi pengembang perangkat lunak- perangkat keras, perangkat lunak lengkap, infrastruktur, dan alat pengembangan- untuk menjalankan, mengembangkan, dan mengelola aplikasi tanpa biaya, kerumitan, dan ketidakfleksibelan dalam memelihara platform tersebut di lokasi.Dengan PaaS, penyedia layanan cloud meng-host semuanya di pusat data mereka. Ini termasuk server, jaringan, penyimpanan, perangkat lunak sistem operasi, middleware, dan database. Pengembang cukup memilih dari menu untuk menjalankan server dan lingkungan yang mereka butuhkan untuk menjalankan, membangun, menguji, menerapkan, memelihara, memperbarui, dan menskalakan aplikasi.
SaaS (Perangkat Lunak sebagai Layanan)
SaaS (Software-as-a-Service), juga dikenal sebagai perangkat lunak berbasis awan atau aplikasi awan, adalah perangkat lunak aplikasi yang dihosting di awan. Pengguna mengakses SaaS melalui peramban web, klien desktop khusus, atau API yang terintegrasi dengan sistem operasi desktop atau seluler.Penyedia layanan cloud menawarkan SaaS berdasarkan biaya berlangganan bulanan atau tahunan. Mereka juga dapat menyediakan layanan ini melalui harga bayar per penggunaan.
Dilansir dari dte.telkomuniversity.ac.id, contoh cloud storage seperti Dropbox, Gmail, Facebook. Sementara itu, contoh cloud computing di pendidikan, misalnya Amazon Web Service, SlideRocket, Ratatype, dan lainnya.
Sedangkan contoh clound computing untuk pemerintahan misalnya layanan bersama, layanan warga, konsolidasi IT, dan lainnya. Itulah penjelasan soal cloud computing. Semoga informasi ini bermanfaat yaa.
| Baca juga: Era Baru Cloud AI, CEO Google Cloud Fokus ke 5 Hal Ini |
(REN)