#30 tag 24jam
Sosok Direktur TI BSI Saladin, Sebut Tantangan & Pengalaman Jadi Anugerah
Saladin Dharmanugraha, Direktur TI BSI, berbagi perjalanan kariernya di cybersecurity dan IT. Ia berkomitmen untuk transformasi digital dan keamanan bank. [986] url asal
#drug-enforcement-administration #allah-swt #indonesia-management-office #cybersecurity #direktur-it-bsi #fbi #federal-bureau-of-investigation #institut-pertanian-bogor #sdm #banking #ti-perseroan #carnegie-mello
(detikFinance - Terbaru) 01/11/24 11:38
v/17311526/
Jakarta - Ungkapan pelaut ulung tak terlahir dari laut yang tenang cocok dikaitkan dengan kapabilitas Direktur Teknologi Informasi (TI) PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) Saladin Dharmanugraha Effendi. Kemampuan Saladin yang mumpuni di bidang cybersecurity, information security, juga IT risk management, terasah karena pengalamannya menghadapi berbagai tantangan terkait TI di sepanjang kariernya.
Saladin berpengalaman lebih dari dua dekade dalam menjalankan berbagai domain TI mulai dari operasi digital hingga IT support, perencanaan strategis TI dan keuangan, hingga pengembangan dan keamanan TI. Pengalaman itu terhimpun setelah Saladin menamatkan pendidikan tinggi dan mendapatkan gelar sarjananya di Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia (1994 - 1999).
"Saya kuliah di Melbourne, dalam perjalanan sekolah itu saya senang sama robotik. Saya senang sama engineering seperti bikin die cast pada mesin Plastic Injection Molding. Akhirnya saya banyak dealing bikin bahasa pemrograman dan dengan software design CAD/CAM (Computer Aided Design dan Computer Aided Manufacturing). Saya jadi senang di area sana," ujar Saladin dalam keterangan tertulis, Jumat (1/11/2024).
Saladin memulai kariernya di perusahaan swasta nasional di bidang perangkat hardware dan software. Pada akhir 2000-akhir 2003, dia berkarier di salah satu anak usaha Astra Group, dengan jabatan terakhir sebagai Senior Technology Consultant.
Pada 2003, Saladin berkarier di Bank Mandiri, menangani special project untuk roll out Core Banking, Electronic Channel, sehingga pengalaman Saladin di dunia TI kian ditempa. Pada 2006, Saladin memiliki jabatan Head of Competence (HoC) Bank Mandiri. Lalu, Saladin berkarir di HSBC sejak 2006 hingga 2014. Ia menduduki posisi Head of Information Technology, Senior Vice President (SVP) HSBC IMO (Indonesia Management Office).
Setelah HSBC, Saladin berkarier sebagai Chief Information Office di Bank Muamalat Indonesia (2014-2018). Pada 2018, ia kembali ke Bank Mandiri untuk membangun cybersecurity. Dia semakin tertantang karena sistem keamanan siber yang dibangun adalah IT security management secara bankwide di bawah Chief Information Security Officer (CISO).
Karier cemerlang Saladin tak lepas dari peran dan dukungan keluarga. Saladin adalah anak tunggal yang dibesarkan di keluarga dokter. Ayahnya, seorang dokter spesialis penyakit dalam, sedangkan ibunya seorang dokter umum dan menjadi dosen di Institut Pertanian Bogor.
Tantangan Adalah Keberuntungan
Menurut Saladin, tantangan yang dia hadapi di dunia kerja dan pengalamannya terkait IT adalah sebuah keberuntungan dan anugerah. Dia menilai Allah SWT selalu mempersiapkan kapasitas dan kapabilitasnya sebelum menerima suatu tantangan yang lebih besar.
"Buat saya blessing dari Allah. Maksudnya, tidak banyak orang yang akan diberikan opportunity seperti saya. Apa lagi saat masuk kembali ke Bank Mandiri, saya diberi kesempatan membangun CISO," kata dia mengenang.
Pada 2022, Saladin mendapat kesempatan untuk mengikuti course CISO selama 6 bulan di Carnegie Mellon University, Amerika Serikat (AS). Program ini diikuti melalui seleksi ketat, dengan peserta dari berbagai lembaga internasional seperti Federal Bureau of Investigation (FBI) AS, Drug Enforcement Administration (DEA) AS, hingga Department of Justice (DOJ) AS. Ia satu-satunya peserta dari Indonesia.
Untuk memperkaya kemampuannya, pada 2023 Saladin 'sekolah' lagi, masih di Carnegie Mellon University mengambil topik Chief Data Officer (CDataO). Dia menyadari bahwa data adalah komoditas berharga di masa depan, data ini perlu di-maintain integritasnya oleh pihak yang memiliki integritas dan kredibilitas tinggi, dalam hal ini melindungi data data bank dan nasabah.
Jatuh Cinta kepada BSI
Ketika anak usaha Bank Mandiri yaitu BSI mengalami gangguan IT pada 2023, Saladin menjadi bagian tim yang menangani masalah tersebut.
"Sebenarnya cinta pertama saya terhadap BSI itu tumbuh dan menguat sejak hari pertama BSI ini lahir," kenangnya.
Kecintaan terhadap BSI juga tumbuh karena ikatan batinnya dengan Bumi Serambi Mekkah. Saladin kecil menempuh pendidikan sekolah dasar di Aceh. Saat masalah keamanan siber mengganggu operasional BSI, Saladin dihubungi oleh temannya di Aceh yang menanyakan apakah layanan digital BSI bisa kembali beroperasi.
Di sisi lain, temannya tersebut tidak mau berpindah bank. Dari pengalaman itu Saladin kian menyadari, BSI memiliki value mendasar yang besar di mata nasabahnya.
"Saya orangnya gak sentimental. Tapi saat itu saya sedih sekali. Ternyata bank ini (BSI) dari dasarnya sudah punya value. Nasabahnya begitu loyal," kenangnya.
Semangat Saladin makin menyala untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkan gangguan tersebut. Karena itu pula Saladin ditawari menjadi Direktur IT BSI. Perjalanan baru dimulai, Saladin semakin memahami BSI, termasuk terkait produk layanan sosial dan spiritual.
Hal ini membuat Saladin semakin mencintai BSI. Dia melihat BSI memiliki value baik terhadap dirinya dan Indonesia secara umum. Dia berpikir, bekerja di tempat yang baik, hasilnya pun akan baik secara dunia maupun akhirat.
Saladin semakin mencintai BSI, ketika kedua orang tuanya meninggal di tahun yang sama pada 2021. Saat itu dia berpikir Allah SWT telah memanggil kedua ladang pahala baginya. Saladin pun berdoa, meminta diberi ladang pahala di dunia.
BSI adalah jawabannya. Karena BSI mengemban amanah besar, memajukan perekonomian syariah Indonesia dengan potensi besar demi kesejahteraan bangsa. BSI diproyeksikan menjadi bank kebanggaan Indonesia yang mengglobal, sehingga Saladin tak ragu turut serta membangunnya.
Transformasi Digital Terus Dijalankan
Saladin pun menegaskan, kepercayaan yang didapat BSI karena value mendasar dari Perseroan harus dijaga pula melalui upaya atau strategi TI yang dirumuskan melalui roadmap yang jelas dan berdampak jangka panjang.
Untuk itu, dia mengatakan perlu SDM yang memiliki kapabilitas terbaik. Menurutnya, cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah melakukan transformasi culture dan digital secara beriringan dengan mendorong timnya agar mengambil pendidikan terkait TI yang lebih advance.
Karena kepercayaan stakeholder dari nasabah hingga pemerintah harus dijaga. Dia berkomitmen untuk mengawal implementasi core banking yang mumpuni. BSI terus melakukan progressive improvement dan bangkit dari insiden Mei 2023.
Transformasi digital harus terus dijalankan, adopsi teknologi terkini seperti AI dan robotik sudah menjadi roadmap agar dapat beradaptasi dalam ekosistem digital.
"Sekarang menjaga trust bagaimana? Kemudahan sudah pasti. Keamanan sudah pasti. Yang ketiga, bank ini harus sejalan keinginan nasabah. Bank ini punya fondasi yang bagus, dikasih amanah negara, punya sebuah sistem, produk yang bagus. Disempurnakan dengan penguatan roadmap-nya ke depan mau seperti apa. Masyarakat biar trust," lanjutnya.
Pria pecinta kucing ini kini harus memastikan stabilitas operasional digital terjaga dan menjadi program utamanya. Upaya strategis menjaga stabilitas ini disebutnya sebagai Hygiene Factor. Hygiene Factor terus berkembang seiring dinamika teknologi dan menjadi bagian dari roadmap pengembangan TI Perseroan.
(akn/ega)
Erick Thohir Resmikan Gedung Baru Bank Mandiri 32 Lantai, Beri Pesan Ini
Menteri BUMN Erick Thohir meresmikan Mandiri Digital Tower di Jakarta. Ia menekankan pentingnya cybersecurity dalam era digitalisasi yang pesat. [280] url asal
#erick-thohir #bank-mandiri #mandiri-digital-tower #cybersecurity
(detikFinance - Perencanaan Keuangan) 18/09/24 14:00
v/15177748/
Jakarta - Menteri BUMN Erick Thohir meresmikan Mandiri Digital Tower (MDT) di Kawasan Tomang, Jakarta Barat pada Rabu (18/9/2024). Acara tersebut dihadiri juga Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi hingga jajaran Direksi dan Komisaris Bank Mandiri.
Pada kesempatan itu, Erick menyinggung perkembangan digitalisasi dunia yang berkembang pesat. Di satu sisi, hal itu bisa memberi dampak positif, sementara di sisi lain bisa dimanfaatkan untuk kejahatan.
"Dunia memang berubah dan arahnya itu ekstrem, baik kebijakan ekonomi, baik kebijakan juga politik. Digitalisasi memainkan peranan yang menyeramkan. Bisa buat baik, bisa buat untuk kejahatan. Bayangkan bagaimana ratusan pager bisa meledak bersamaan, 9 meninggal, ratusan terluka," katanya dalam acara tersebut di MDT Tower, Jakarta Barat, Rabu (18/9/2024).
Ia juga menyinggung makin maraknya serangan siber yang menyasar banyak sektor. Oleh karena itu, kata dia, keamanan siber perlu menjadi prioritas jika Bank Mandiri ingin terus maju.
"Jadi memang cybersecurity ini benar-benar harus menjadi perisai utama bila Bang Mandiri mau maju," imbuhnya.
Sementara itu, Darmawan menjelaskan gedung baru ini berdiri di lahan sekitar 1,5 hektare dengan total lantai 32. Menurutnya gedung ini akan menjadi identitas gedung-gedung Bank Mandiri ke depan yang akan terus mengakselerasi transformasi digital.
"Saya update bahwa sekadar gambaran MDT ini merupakan simbol baru sebagai identity dari gedung-gedung Bank Mandiri ke depan yang akan terus mengakselerasi transformasi digital yang sudah dilakukan sejak Oktober 2021," ujar Darmawan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PT PP Persero yang sudah mendukung pembangunan gedung ini. Penyelesaian dilakukan dalam kurun waktu 18 bulan.
"Dan memang kita lihat penyelesaian final touch-nya membutuhkan banyak penyesuaian karena ini memang sangat customize dengan kebutuhan Bank Mandiri terutama teman-teman yang berada di direktorat teknologi," tutupnya.
(ily/rrd)
Dukung Transformasi Digital Indonesia, Sagara Technology Hadirkan Solusi Holistik Halaman all
Selain mengembangkan perangkat lunak, Sagara juga menciptakan solusi yang bisa mendorong klien ke tingkat yang lebih tinggi. Halaman all [592] url asal
#software #cloud-computing #transformasi-digital #cybersecurity #industri-teknologi
(Kompas.com) 14/08/24 17:29
v/14414648/
KOMPAS.com – Transformasi digital menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2022, nilai ekonomi digital Indonesia tercatat sebesar Rp 1.408 triliun atau 8 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun yang sama.
Lima tahun mendatang, ekonomi digital diproyeksikan terus bertumbuh hingga mencapai Rp 3.216 triliun pada 2027 atau meningkat sebesar 128 persen. Dengan demikian, ekonomi digital mampu berkontribusi 14 persen terhadap PDB 2027 yang diperkirakan sebesar Rp 23.533 triliun.
Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Firlie H Ganinduto menyampaikan, ekonomi digital yang terus meningkat diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2045.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat juga akan mengantarkan Indonesia menjadi pemain utama di pasar Asia Tenggara.
”Pesatnya perkembangan ekonomi digital di Indonesia harus diimbangi oleh infrastruktur digital yang kuat dan adaptif,” ucap Firlie sebagaimana diberitakan Kompas.id, Senin (19/6/2023).
Guna mendukung hal tersebut, perusahaan software development terus berinovasi dengan menghadirkan solusi digital yang mengubah cara operasional bisnis. Salah satunya dilakukan oleh Sagara Technology.
Sebagai salah satu pionir dalam transformasi digital, Sagara Technology terus mengukuhkan posisinya menjadi pemain utama di industri teknologi Indonesia.
Dikenal dengan kemampuan menghadirkan solusi yang terintegrasi dan efektif, Sagara telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), untuk memodernisasi sistem operasional dan meningkatkan efisiensi.
Chief Commercial Officer (CCO) Sagara Technology Anastassya Santausa mengatakan bahwa selain mengembangkan perangkat lunak, pihaknya juga menciptakan solusi yang bisa mendorong klien ke tingkat yang lebih tinggi.
“Inovasi adalah DNA kami. Kami bangga bisa menjadi bagian dari transformasi digital yang terjadi di Indonesia," ujar Anastassya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (14/8/2024).
Untuk itu, Sagara menawarkan sejumlah solusi, seperti Digital Transformation Skills serta Future Skills, yang menerapkan Adaptive Learning untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan selalu relevan dan mutakhir.
“Dengan keahlian dalam project management skills, communication skills, negotiation skills, conflict resolution, serta emotional intelligence, kami memastikan setiap proyek berjalan lancar dan efektif,” ucap dia.
Anastassya menambahkan, di tengah tren kerja jarak jauh (remote working), Sagara juga menguasai Remote Work Skills dan Digital Collaboration.
Program pelatihan Sagara juga mencakup Data Literacy, Coding Bootcamps, AI Literacy, Cybersecurity Training, dan Cloud Computing Skills.
“Kami menyiapkan tim dengan teknologi Industry 4.0 Skills, Green Skills, dan Sustainability Training untuk menghadapi tantangan masa depan,” kata Anastassya.
Untuk memastikan setiap aspek bisnis berjalan optimal, Sagara juga menghadirkan Smart Manufacturing Skills, Financial Literacy, Sales Training, Marketing Skills, Customer Service Skills, Product Management Skills, dan Design Thinking.
Sementara, untuk menciptakan solusi holistik dan berkelanjutan, Sagara juga menyajikan solusi UX/UI Design Skills, Entrepreneurship Training, Business Analytics, Innovation Management, Time Management Skills, dan Performance Management.
Dengan semua layanan tersebut, Sagara Technology memastikan bahwa perusahaan tersebut tidak hanya menjadi partner teknologi yang andal, tetapi juga menjadi mitra strategis yang mampu membawa BUMN dan perusahaan bonafid ke level berikutnya.
“Kami selalu berada di garis depan inovasi yang siap menghadapi setiap tantangan dan peluang baru,” tegas Anastassya.
Dukung Transformasi Digital Indonesia, Sagara Technology Hadirkan Solusi Holistik
Selain mengembangkan perangkat lunak, Sagara juga menciptakan solusi yang bisa mendorong klien ke tingkat yang lebih tinggi. Halaman all [592] url asal
#software #cloud-computing #transformasi-digital #cybersecurity #industri-teknologi
(Kompas.com - Money) 14/08/24 17:29
v/14414644/
KOMPAS.com – Transformasi digital menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2022, nilai ekonomi digital Indonesia tercatat sebesar Rp 1.408 triliun atau 8 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun yang sama.
Lima tahun mendatang, ekonomi digital diproyeksikan terus bertumbuh hingga mencapai Rp 3.216 triliun pada 2027 atau meningkat sebesar 128 persen. Dengan demikian, ekonomi digital mampu berkontribusi 14 persen terhadap PDB 2027 yang diperkirakan sebesar Rp 23.533 triliun.
Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Firlie H Ganinduto menyampaikan, ekonomi digital yang terus meningkat diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2045.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat juga akan mengantarkan Indonesia menjadi pemain utama di pasar Asia Tenggara.
”Pesatnya perkembangan ekonomi digital di Indonesia harus diimbangi oleh infrastruktur digital yang kuat dan adaptif,” ucap Firlie sebagaimana diberitakan Kompas.id, Senin (19/6/2023).
Guna mendukung hal tersebut, perusahaan software development terus berinovasi dengan menghadirkan solusi digital yang mengubah cara operasional bisnis. Salah satunya dilakukan oleh Sagara Technology.
Sebagai salah satu pionir dalam transformasi digital, Sagara Technology terus mengukuhkan posisinya menjadi pemain utama di industri teknologi Indonesia.
Dikenal dengan kemampuan menghadirkan solusi yang terintegrasi dan efektif, Sagara telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), untuk memodernisasi sistem operasional dan meningkatkan efisiensi.
Chief Commercial Officer (CCO) Sagara Technology Anastassya Santausa mengatakan bahwa selain mengembangkan perangkat lunak, pihaknya juga menciptakan solusi yang bisa mendorong klien ke tingkat yang lebih tinggi.
“Inovasi adalah DNA kami. Kami bangga bisa menjadi bagian dari transformasi digital yang terjadi di Indonesia," ujar Anastassya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (14/8/2024).
Untuk itu, Sagara menawarkan sejumlah solusi, seperti Digital Transformation Skills serta Future Skills, yang menerapkan Adaptive Learning untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan selalu relevan dan mutakhir.
“Dengan keahlian dalam project management skills, communication skills, negotiation skills, conflict resolution, serta emotional intelligence, kami memastikan setiap proyek berjalan lancar dan efektif,” ucap dia.
Anastassya menambahkan, di tengah tren kerja jarak jauh (remote working), Sagara juga menguasai Remote Work Skills dan Digital Collaboration.
Program pelatihan Sagara juga mencakup Data Literacy, Coding Bootcamps, AI Literacy, Cybersecurity Training, dan Cloud Computing Skills.
“Kami menyiapkan tim dengan teknologi Industry 4.0 Skills, Green Skills, dan Sustainability Training untuk menghadapi tantangan masa depan,” kata Anastassya.
Untuk memastikan setiap aspek bisnis berjalan optimal, Sagara juga menghadirkan Smart Manufacturing Skills, Financial Literacy, Sales Training, Marketing Skills, Customer Service Skills, Product Management Skills, dan Design Thinking.
Sementara, untuk menciptakan solusi holistik dan berkelanjutan, Sagara juga menyajikan solusi UX/UI Design Skills, Entrepreneurship Training, Business Analytics, Innovation Management, Time Management Skills, dan Performance Management.
Dengan semua layanan tersebut, Sagara Technology memastikan bahwa perusahaan tersebut tidak hanya menjadi partner teknologi yang andal, tetapi juga menjadi mitra strategis yang mampu membawa BUMN dan perusahaan bonafid ke level berikutnya.
“Kami selalu berada di garis depan inovasi yang siap menghadapi setiap tantangan dan peluang baru,” tegas Anastassya.
Transformasi Digital dan Cybersecurity: Pendekatan Holistik dalam Menghadapi Tantangan Keamanan Siber
Pendekatan holistik terhadap keamanan siber melibatkan tiga komponen utama, yakni orang, proses, dan teknologi. [1,071] url asal
#keamanan-siber #bssn #cybersecurity #swiss-german-university
(Kompas.com) 25/07/24 17:24
v/12074392/
Oleh : Andi Parada Tambunan
Research Assistant Swiss German University (SGU)
TRANSFORMASI digital telah mengubah cara hidup dan bekerja di seluruh dunia sekaligus mendorong inovasi dan pertumbuhan di berbagai sektor. Dengan peningkatan jumlah pengguna internet yang mencapai 5,4 miliar pada 2023, teknologi digital telah membawa kemudahan dan efisiensi yang luar biasa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, peningkatan itu juga menyertakan risiko dan tantangan yang signifikan, terutama dalam hal keamanan siber.
Pentingnya keamanan siber dalam transformasi digital
Sebagai inti dari revolusi digital, keamanan siber menjadi krusial karena setiap aspek dari kehidupan kita, baik itu perbankan, pendidikan, atau kesehatan, semakin terhubung.
Penyalahgunaan data dan serangan siber telah menimbulkan kerugian besar bagi individu dan organisasi. Melansir laman PurpleSec, terdapat peningkatan serangan siber sebesar 600 persen selama pandemi Covid-19.
Sementara, data Badan Siber dan Sandi Negara menunjukkan bahwa Indonesia mengalami lebih dari 400 juta insiden anomali lalu lintas yang menunjukkan aktivitas siber yang mencurigakan pada 2023.
Kejahatan siber tidak hanya mengancam keuangan, tetapi juga privasi dan keamanan individu. Membuat pendekatan holistik dalam keamanan siber tidak hanya penting, tetapi juga mendesak.
Pendekatan holistik dalam keamanan siber
Pendekatan holistik terhadap keamanan siber melibatkan tiga komponen utama, yakni orang, proses, dan teknologi. Ketiga faktor ini harus bekerja secara sinergis untuk menciptakan pertahanan yang efektif terhadap ancaman siber.
1. Orang (People)
Menyadarkan dan melatih karyawan, pelanggan, dan masyarakat luas tentang pentingnya keamanan siber adalah langkah pertama dan paling penting.
Edukasi tentang phishing, malware, dan tindakan keamanan lainnya dapat membantu individu mengenali dan menghindari ancaman.
Pelatihan berkelanjutan dan simulasi serangan juga penting untuk memastikan bahwa setiap individu dalam organisasi dapat merespons ancaman dengan tepat dan cepat.
Penting untuk membangun budaya keamanan yang kuat di dalam organisasi. Karyawan harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari garis pertahanan pertama dalam melindungi aset informasi.
Program kesadaran keamanan siber yang komprehensif dapat mencakup sesi pelatihan rutin, pengujian pengetahuan, dan penyebaran informasi tentang ancaman terbaru serta teknik perlindungan.
2. Proses (Process)
Organisasi perlu mengembangkan dan memelihara kebijakan keamanan yang mencakup penilaian risiko yang teratur, strategi mitigasi, dan protokol respons insiden. Proses ini memastikan bahwa tindakan pencegahan ada di tempat dan bahwa respons yang cepat dan efektif dapat dilaksanakan saat insiden keamanan terjadi.
Pengembangan dan penerapan standar keamanan, audit berkala, serta latihan penanggulangan insiden adalah bagian penting dari proses ini.
Proses manajemen risiko harus menjadi bagian integral dari strategi bisnis organisasi. Identifikasi aset kritis, penilaian kerentanan, dan analisis dampak bisnis adalah langkah-langkah kunci dalam mengembangkan strategi mitigasi risiko.
Selain itu, memiliki rencana pemulihan bencana dan kelangsungan bisnis yang teruji juga dapat memastikan bahwa operasi bisnis dapat dilanjutkan dengan minimal gangguan jika terjadi serangan siber.
3. Teknologi (Technology)
Investasi dalam teknologi keamanan yang tepat adalah krusial. Ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada firewall, antivirus, enkripsi, dan solusi berbasis komputasi awan yang bisa melindungi infrastruktur IT dari serangan eksternal.
Teknologi, seperti sistem deteksi dan pencegahan intrusi (IDS/IPS), analitik keamanan berbasis kecerdasan buatan, dan blockchain untuk keamanan data, juga dapat meningkatkan kemampuan pertahanan terhadap ancaman siber yang semakin canggih.
Perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru. Serangan berbasis AI dan penggunaan Internet of Things (IoT) yang semakin luas menambah kompleksitas dalam lanskap ancaman.
Oleh karena itu, adopsi teknologi keamanan yang canggih, seperti pemantauan jaringan real-time, analitik prediktif, dan otomatisasi respons insiden menjadi semakin penting untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.
Memimpin dengan contoh dalam edukasi keamanan siber
Swiss German University (SGU) telah menetapkan standar dalam pendidikan keamanan siber di Indonesia dengan program-program yang tidak hanya menyediakan pemahaman teoretis yang kuat, tetapi juga keterampilan praktis yang diperlukan di dunia nyata.
SGU mendirikan Research Security Operation Center yang menawarkan TGuard–paket SOC open-source yang memberikan pengalaman langsung dalam menghadapi dan menangani ancaman siber.
Inisiatif itu tidak hanya meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan nyata, tetapi juga membekali mereka untuk berkontribusi terhadap industri keamanan siber secara lebih luas.
TGuard adalah produk penelitian yang menunjukkan bahwa SGU tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga praktik dalam bidang keamanan siber.
Dengan memanfaatkan teknologi open-source, TGuard memungkinkan siswa untuk memahami dan mengimplementasikan konsep-konsep keamanan siber dalam lingkungan yang aman dan terkendali.
Program itu memberikan pengalaman langsung dalam penggunaan alat dan teknik terbaru dalam bidang keamanan siber, memperkuat keterampilan praktis siswa, dan mempersiapkan mereka untuk berkarier di industri keamanan siber.
Membangun ekosistem keamanan siber yang resilien
Membangun ekosistem keamanan siber yang resilien memerlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah, industri, dan institusi akademis. Keberhasilan ini tergantung pada kemampuan kita untuk berbagi pengetahuan, sumber daya, dan praktik terbaik.
Integrasi strategis dari pendidikan keamanan siber, seperti yang dilakukan oleh SGU, memperkuat fondasi ekosistem tersebut dan membantu mengamankan infrastruktur kritis nasional serta informasi pribadi dari serangan siber yang semakin canggih.
Kolaborasi internasional juga memainkan peran penting dalam memperkuat ekosistem keamanan siber. Berbagi intelijen ancaman, mengembangkan standar keamanan global, dan melaksanakan latihan keamanan bersama dapat membantu meningkatkan ketahanan terhadap serangan siber.
Selain itu, dukungan terhadap inovasi teknologi keamanan dan penelitian dalam bidang keamanan siber juga dapat membantu menemukan solusi baru untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.
Tantangan dan peluang di masa depan
Di masa depan, tantangan dalam bidang keamanan siber akan semakin kompleks seiring dengan berkembangnya teknologi baru, seperti AI, IoT, dan komputasi kuantum.
Namun, setiap tantangan juga membawa peluang untuk inovasi dan pengembangan solusi baru. Organisasi harus siap beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lanskap ancaman dan memanfaatkan teknologi baru untuk meningkatkan pertahanan siber mereka.
Selain itu, peningkatan kesadaran dan pendidikan tentang keamanan siber di kalangan masyarakat umum juga penting. Masyarakat harus memahami pentingnya melindungi informasi pribadi mereka dan mengambil langkah-langkah untuk mengamankan perangkat dan jaringan mereka.
Pemerintah dan organisasi dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran dan memberikan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung keamanan siber di tingkat individu.
Transformasi digital telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan kita, tetapi juga menghadirkan tantangan signifikan dalam hal keamanan siber. Pendekatan holistik yang melibatkan orang, proses, dan teknologi adalah kunci untuk menghadapi ancaman siber yang semakin canggih.
SGU telah menunjukkan contoh yang baik dalam pendidikan keamanan siber dan mempersiapkan siswa untuk berkarier di industri yang kritis ini. Dengan kolaborasi yang erat antara pemerintah, industri, dan institusi akademis, kita dapat membangun ekosistem keamanan siber yang resilien dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Dengan adopsi teknologi keamanan terbaru dan strategi yang efektif, kita dapat melindungi infrastruktur digital kita dari ancaman yang terus berkembang.
Melalui pendidikan, pelatihan, dan kolaborasi, kita dapat memastikan bahwa transformasi digital membawa manfaat yang maksimal dengan risiko yang minimal.
Keamanan siber harus menjadi prioritas utama dalam strategi transformasi digital untuk menciptakan lingkungan digital yang aman dan terjamin bagi semua.
Siasat Bank Digital Milik Akulaku hingga Besutan BCA Tangkal Serangan Siber
Sejumlah bank digital menyiapkan strategi tangkal serangan siber seiring rentannya sektor itu menjadi sasaran. [595] url asal
#bank-digital #keamanan-bank-digital #serangan-siber #kejahatan-siber #cybersecurity #cybersecurity-bank-digital #bca #bank-bca #bca-digital #bca-digital-aman #bbca #bank-neo-commerce #neo-commerce #bb
(Bisnis.Com - Finansial) 21/07/24 16:25
v/11557079/
Bisnis.com, JAKARTA — Sektor perbankan rawan terkena serangan siber. Oleh karena itu, sejumlah bank digital seperti PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC milik Akulaku hingga PT Bank Digital BCA atau BCA Digital besutan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menyiapkan strategi menangkal serangan siber.
Direktur Bisnis BNC Aditya Windarwo mengatakan BNC memahami bahwa keamanan teknologi informasi merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan layanan digital.
"Oleh karenanya, dalam ekosistem digital BNC sendiri, kami telah bekerja sama dengan beberapa mitra yang dikenal luas secara global sebagai penyedia layanan teknologi yang mumpuni," katanya kepada Bisnis, Jumat (22/7/2024).
BNC pun melakukan peningkatan sistem dan perbaikan secara rutin. BNC sering memberikan pembaruan terkini pada aplikasinya, termasuk dari sisi keamanan dan teknologi.
Selain itu, BNC melakukan investasi secara berkelanjutan di bidang teknologi informasi. Lalu, BNC secara aktif melakukan sosialisasi kepada para nasabah dengan memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga keamanan data pribadi.
Terdapat sejumlah langkah cyber hygiene yang bisa dilakukan nasabah agar terhindar dari praktik kejahatan siber, seperti pembaruan di sistem operasi dan aplikasi-aplikasi yang digunakan. Kemudian, nasabah bisa mengaktifkan autentikasi dua faktor (two-step authentication) untuk keamanan tambahan suatu aplikasi.
Lalu, nasabah bisa memanfaatkan fungsi biometric pada aplikasi keuangan dan menggunakan fingerprint verification dan langkah lainnya.
Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) Indonesia Anton Hermawan mengatakan dalam menangkal serangan siber, bank pun memprioritaskan keamanan data nasabah melalui penerapan standar ISO 2700, risk management plan, dan disaster recovery yang diuji, serta di-review secara berkala.
Krom Bank juga menjalankan enkripsi tingkat tinggi berbagai data nasabah dan penerapan PIN, password, dan OTP yang memperkuat setiap transaksi.
"Kami berkomitmen untuk senantiasa memprioritaskan keamanan data dan dana nasabah, guna menciptakan iklim industri yang kondusif,” tutur Anton.
Sebelumnya, Direktur Utama BCA Digital Lanny Budiati mengatakan BCA Digital berkomitmen untuk terus meningkatkan penguatan sistem keamanan di tengah maraknya ancaman serangan siber.
BCA Digital misalnya terus mengembangkan arsitektur teknologi yang tepat guna dan mengimplementasikan teknologi terbaru, termasuk untuk sistem pengamanan siber demi menjaga keamanan data, maupun aktivitas transaksi nasabah.
"Di BCA Digital, teknologi memegang peranan yang cukup krusial, di mana bank beroperasi secara full digital, tanpa cabang. BCA Digital sangat mengandalkan penggunaan teknologi," ujarnya.
BCA Digital juga selalu bersinergi dengan BCA untuk menerapkan standar kualitas produk perbankan. "[Untuk menciptakan sistem] yang secure and reliable, dengan tujuan agar nasabah dapat melakukan aktivitas perbankan dengan lancar, aman dan nyaman cukup lewat smartphone mereka. Hal ini adalah hal yang dicari," tuturnya.
Ancaman Serangan Siber bagi Bank Digital
Upaya-upaya tersebut dilakukan bank digital karena sektor perbankan rawan terkena serangan siber. Berdasarkan data dari Checkpoint Research 2022, sektor jasa keuangan termasuk perbankan mendapatkan 1.131 kali serangan siber setiap pekannya.
Sementara, data International Monetary Fund (IMF) pada 2020 menyebutkan total kerugian rata-rata tahunan akibat serangan siber di sektor jasa keuangan secara global mencapai sekitar US$100 miliar.
Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha mengatakan sektor perbankan kerap kali menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber karena mempunyai nilai ekonomi yang besar.
“Perbankan selalu akan dilihat pertama, karena ini adalah industri yang berjalan berdasarkan kepercayaan dan keamanan,” tuturnya.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mengungkapkan terdapat dua ancaman utama yang saat ini mengintai perbankan, yaitu ransomware dan advanced persistent threat (APT).
Sebagaimana diketahui ransomware adalah malware yang digunakan untuk menyandera aset korban, seperti dokumen, sistem, ataupun perangkat.
Sementara itu, APT merupakan attack campaign yang dilakukan oleh kelompok serangan siber atau threat actor. APT menggunakan metode dan teknik yang dirancang untuk melakukan serangan siber secara terus-menerus tanpa terdeteksi, mendapatkan akses ke sistem, dan bertahan dalam sistem tersebut dalam jangka waktu yang lama.