#30 tag 24jam
Food Wings Group Luncurkan Produk Baru Pertama di Indonesia: Mie Sedaap Goreng ala Chef Devina
Perusahaan makanan rumahan Food Wings Mie Sedaap meluncurkan produk kreasi hasil kolaborasinya dengan Chef Devina Hermawan. Produk kolaborasi itu berupa Mie Sedaap Goreng ala Chef Devina. [361] url asal
#mie-sedaap #chef-devina-hermawan #produk #kolaborasi
(Bisnis Tempo) 05/11/24 07:38
v/17491750/
TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan makanan rumahan, Food Wings Mie Sedaap, meluncurkan produk kreasi hasil kolaborasinya dengan Chef Devina Hermawan. Produk kolaborasi itu berupa Mie Sedaap Goreng ala Chef Devina.
“Mie goreng instan ala chef pertama di Indonesia,” Head of Marketing Food Wings Group Indonesia Katria Arintya Anindyantari dalam keterangan tertulis, dikutip Senin, 4 November 2024.
Mie Sedaap Goreng ala Chef Devina ini menawarkan tekstur mie pipih, lebih tebal, dan kenyal. Kondisi itu komplit dengan topping spesial kremesan kriuk, sayuran kering, dan sambal merah. “Menjadikannya very full of taste,” kata Katria.
Mie Sedaap merancang cita rasa yang unik ini meningkatkan pengalaman menyantap mie goreng, yaitu merasakan kualitas dan rasa yang setara dengan hidangan buatan chef profesional.
Katria mengatakan perusahaannya sangat antusias dalam kolaborasi ini. Dia menyebut Devina merupakan salah satu chef yang menciptakan masakan enak. “Kami tahu resep Chef Devina selalu enak karena ia adalah master of home cooking dan ditunggu-tunggu,” kata dia.
Selain itu, Katria mengatakan Devina juga merupakan juru masak yang kerap memberikan aneka resep makan di media sosial. Selain sebagai juru masak, Devina juga dikenal sebagai influencer kuliner yang memiliki lebih dari 1 juta pengikut media sosial.
Dia menyebut Mie Sedaap dan Devina banyak kesamaan. “Mie Sedaap selalu berkomitmen untuk brings taste to people’s lives. Kami sangat excited berkolaborasi,” kata dia.
Sementara itu, Katria menyebut Mie Sedaap juga ingin menghadirkan kuliner ala chef ke kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena itu, produk kreasi ini akan menghasilkan rasa seperti buatan Chef Devina.
“Jadi bagaimanapun cara memasaknya, rasanya pasti akan terasa ala chef,” ujar Katria.
Devina mengatakan ia langsung tertarik saat mendengar rencana kolaborasi ini. Dia menyebut kolaborasi ini sesuai dengan kegemarannnya yang suka memasak, meracik resep, dan memiliki pengikut di media sosial Indonesia.
“Sama seperti Mie Sedaap yang always brings taste to people’s lives buat masyarakat Indonesia,” kata dia.
Devina merasa kolaborasi ini sangat berarti bagi dirinya. Dia mengatakan Mie Sedaap tak hanya produk makanan instan biasa, tapi sudah menjadi jenama besar di tanah air.
“Mie Sedaap bukan hanya sekadar mie instan biasa, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak orang di Indonesia. From my kitchen to yours, semoga racikan saya ini bisa diterima oleh masyarakat,” kata Devina.
Cerita Devina Hermawan Bangun Bisnis Kuliner di Bandung: Berdayakan Komunitas hingga Ciptakan Lapangan Kerja
Ketertarikan Devina Hermawan pada dunia kuliner dimulai sejak masih duduk di bangku SMA. [355] url asal
#devina-hermawan #bisnis-kuliner #bandung #komunitas #lapangan-kerja #kuliner
(Bisnis Tempo) 25/10/24 15:07
v/17022908/
TEMPO.CO, Jakarta - Juru masak Devina Hermawan kembali fokus mengurus rumah makan atau restaurant Lamama Asian Cafe and Bakery di Bandung. Ia mengatakan membuka restaurant di kawasan Setrasari karena ingin menambah jam terbang dan pengalaman baru dalam bisnis kuliner.
Resturant dengan slogan Your Daily Comfort Doods and Snacks itu berdiri di bawah bendera PT Lamama Pangan Makmur. “Hal ini mendukung growth saya untuk berkarya lebih baik lagi di masa depan,” kata alumni manajemen bisnis Institute Teknologi Bandung (ITB) itu dalam keterangan tertulisnya kepada Tempo pada Jumat, 25 Oktober 2024.
Bagi Devina, dunia kuliner tak sekadar urusan bisnis. Dia mengatakan membangun bisnis harus berkelindan dan berkontribusi dalam memberdayakan komunitas setempat. “Seperti membuka lowongan kerja, pelatihan tenaga kerja, dan memutar roda ekonomi setempat,” kata dia.
Senyampang itu, Devina juga ingin menunjukkan inovasi kuliner dari kreativitas jemarinya yang bisa melestarikan budaya kuliner dan mewarikan ilmu pada generasi selanjutnya. “Tidak hanya dalam memasak hidangan yang enak, tetapi juga bertanggung jawab dalam mengolah bahan pangan dengan baik dan aman serta meminimalisir limbah yang dihasilkan,” kata perempuan yang lahir pada 11 November 1993 itu.
Ketertarikan Devina pada dunia kuliner dimulai sejak masih duduk di bangku SMA. Ketika itu, ia sering mempraktikkan kegemaran memasaknya, baik di rumah maupun di sekolah, serta berbagi resep melalui buku masak dan kanal YouTube.
Selama berkuliah di ITB, Devina juga pernah menerima permintaan private-dining dari tokoh nasional, seperti Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan eks Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Devina mulai dikenal secara luas setelah mengikuti acara televisi MasterChef Indonesia musim kelima. Kesuksesannya pada acara tersebut mendorongnya untuk aktif membagikan video resep dan tutorial memasak di kanal YouTube miliknya. Dengan ciri khas “tips and tricks” dan metode antigagal, Devina telah membagikan sekitar 520 video resep dengan jumlah pengikut mencapai 3 juta hanya dalam 2 tahun.
Ia juga telah menerbitkan dua buku resep, yaitu "Indonesian Fusion Foods" (2019), yang telah cetak ulang sebanyak lima belas kali dan "Yummy! 76 Menu Favorit Anak" (2021), yang telah dicetak ulang sebanyak empat kali. Kedua buku ini diterbitkan oleh penerbit Kawan Pustaka dari Kelompok Agromedia. Sebelumnya diketahui, dua buku itu dibajak dan dijual murah di salah satu e-commerce.
Cerita Devina Hermawan soal Pembajakan Buku di Shopee: Lebih Murah dari Biaya Parkir Motor
Juru masak Devina Hermawan mengungkapkan alasannya buka suara di media sosial soal pembajakan buku terhadap dua karya miliknya [1,007] url asal
#devina-hermawan #pembajakan-buku
(Bisnis Tempo) 09/10/24 19:16
v/16210829/
TEMPO.CO, Jakarta - Juru masak Devina Hermawan mengungkapkan alasannya buka suara di media sosial soal pembajakan buku yang ia alami. Ada dua buku resep masakannya berjudul IndonesianFusion Foods (2019) dan Yummy! 76 Menu Favorit Anak (2021) yang dibajak dan dijual murah di layanan penjualan daring Shopee. Devina sempat melapor ke pihak Shopee, namun menurutnya tak segera mendapat respons.
“Kami telah melaporkan tentang buku ilegal ini kepada Shopee tanpa berkoar di sosmed. Berulang kali kami laporkan,” kata Devina dalam keterangan tertulisnya kepada Tempo pada Senin, 7 Oktober 2024.
Devina bercerita, dirinya telah berusaha melaporkan pembajakan buku itu melalui akun sosial media resmi Shopee. Namun, manajemen Shopee disebut tak bergegas menindaklanjuti aduannya dan memintanya mengisi formulir verifikasi.Formulir verifikasi itu menurutnya meliputi sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), isian formulir, dan sejumlah syarat lain. “Seharusnya Shopee itu memiliki itikad baik dan memprioritaskan pelapor,” kata dia.
Padahal, kata Devina, laporan itu harusnya bisa segera ditindaklanjuti karena aduan berasal dari penulis bukunya langsung. Menurutnya, mesin telusur seperti Google juga telah menyebutkan kalau dua buku itu penulisnya adalah dirinya. “Dapat dibilang ini cukup konyol, karena di buku tersebut tertulis dengan jelas siapa nama penerbit, siapa nama penulis, dan sebagainya,” kata dia.
Atas kondisi ini, Devina mengatakan manajemen Shopee harusnya memaksimalkan fitur lapor atau report dalam aplikasi. Langkah ini, kata dia, akan memudahkan para korban untuk mengadukan masalahnya. Dia menyebut usai fenomena ini viral di media sosial, ia juga mendapat laporan bahwa pembajakan karya juga terjadi untuk buku tes CPNS, bisnis, agama, dan indekos. “Jangan persulit proses report dengan pengisian form yang cukup kompleks,” kata dia.
Devina tak sengaja menemukan dua bukunya dibajak dan dijual murah ketika sedang berselancar di Shopee. Ia sengaja tak menyalakan fitur filter untuk mencari dua buku resep masakannya itu. Ternyata, dia menemukan bukunya di Shopee dijual Rp 800-2000. “Mana ada buku resep yang dijual di harga Rp 2.000, lebih murah dari biaya parkir motor di warung,” kata dia.
Devina mengatakan pembajakan buku ini akan mematikan minat dan semangat calon penulis dalam negeri. Alasannya, penulis itu dalam menerbitkan buku mengerahkan seluruh waktu, tenaga, dan biaya. Ketika dibajak, kata Devina, penulis dan penerbit tak mendapatkan hasil, baik karya baru atau balik modal. “Dengan mudahnya diduplikasi seperti itu, lalu dijual di platform online,” kata dia.
Dia bercerita dalam menerbitkan dua buku resep masakannya berjudul Indonesian Fusion Foods (2019) dan Yummy! 76 Menu Favorit Anak (2021) itu saja membutuhkan waktu masing-masing enam bulan. Mulai dari memilih menu, mencoba resep, menakar bahan dan komposisi, menentukan metode masak, fotografi, layout, hingga terbit.
Menurut dia, kalau pembajakan buku ini dibiarkan akan berdampak jangka panjang bagi ekosistem penulis. Dia menyebut para penulis dan penerbit berkualitas di Indonesia akan menurun. Alih-alih menyuguhi generasi muda, Devina mengatakan mereka akan terpapar dengan budaya dan edukasi dari buku impor. “Ini sama saja membodohi sebagian masyarakat yang mungkin belum sadar atau belum paham bahwa secara jangka panjang ekosistem penulis ini akan runtuh,” kata dia.
Menurut Devina, semestinya Shopee tidak kesulitan mengatasi masalah pembajakan buku yang dijual di platform tersebut. Shopee, kata dia, pasti memiliki identitas lengkap dari satu toko yang meliputi nomor ponsel, alamat email, nomor rekening, dan Nomor Induk Kependudukan. Karena itu, Shopee diminta tegas dalam menindak penjual buku bajakan ini. “Jadi setiap penjual nakal seharusnya dapat dengan sangat mudahnya diblokir Shopee, dan tolong pastikan blokirnya permanen termasuk akun-akun cloning-nya,” kata dia.
Tempo telah menghubungi Head of Media Relations Shopee Indonesia Prisca Niken pada Senin, 7 September 2024. Namun, Niken belum merespons upaya permintaan tanggapan atas masalah ini. Bos Shopee Handhika Jahja dalam unggahan Devina di sosial media Instagram dan X mengapresiasi laporan ini. Handika mengatakan manajemen meminta maaf atas fenomena tersebut. “Kami berkomitmen untuk menciptakan platform yang sehat dengan menjaga hak kekayaan intelektual,” kata Handika dalam unggahan Devina.
Handhika mengatakan Shopee telah memblokir produk dan toko yang melanggar hak cipta. “Sudah diban dan dihapus hari ini,” kata dia.
Penerbit: Masalah Ini Tidak Akan Selesai Tanpa Penegakan Regulasi dari Pemerintah
Direktur Buku Mojok Aditia Purnomo menyatakan penjualan buku bajakan di e-commerce tidak akan selesai tanpa penegakan regulasi dari pemerintah. Ia menyebut, masalah penjualan buku bajakan adalah persoalan lama yang disorot Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Namun, hingga saat ini, Adit menilai belum ada langkah kongkrit yang dilakukan pemerintah maupun pihak marketplace untuk menyelesaikan masalah ini.
“Setiap tahun kami menggelar kampanye Anti Pembajakan Buku. Di awal tahun ini, kami sudah mengajukan audiensi kepada pemerintah agar difasilitasi untuk bertemu dengan pihak marketplace tapi masih belum ada tindak lanjut,” ujarnya saat dihubungi Tempo, Ahad, 6 Oktober 2024.
Aditia mengatakan selama ini para penerbit hanya melawan pembajakan buku ini secara mandiri melalui kampanye. Sembari itu, para penerbit juga melaporkan penjual online nakal secara berkala. “Biasanya abis kami laporkan, produknya itu dihapus sama penjualnya. Setelah itu nanti diupload lagi. Gitu mainnya. Jadi ya mau enggak mau kita sendiri yang harus rutin mengawasi,” ujarnya.
Hingga saat ini, Adit mengaku belum menemukan langkah konkrit dari pihak marketplace untuk menindak penjual-penjual buku bajakan ini. “Dibiarin aja (oleh marketplace). Kadang kalau pejualnya kita report, mereka yang turunkan produknya sendiri tanpa menunggu diturunkan aplikasi,” akunya.
Dia mengatakan permasalahan buku bajakan di marketplace ini tidak akan selesai tanpa campur tangan pemerintah. Sebab, meskipun Indonesia telah memiliki pengaturan hukum mengenai Hak Cipta, tapi penegakan peraturan ini masih belum maksimal.
Karena itu, Adit mengatakan para penerbit terus mendorong pemerintah untuk membuat regulasi dengan para pihak agar tak ada penjualan buku bajakan secara online ataupun offline. “Penegakannya ini yang kami dorong. Misalnya dengan sanksi, pemblokiran identitas agar tidak bisa berjualan di marketplace, kita ada usulan seperti itu,” kata Adit.
Adit mengaku nominal kerugian yang dirasakan oleh penerbit maupun penulis buku yang dibajak tidak main-main. Oleh karena itu, ia menyesalkan belum adanya tindak lanjut pemerintah untuk menangani persoalan ini. "Misalnya di satu marketplace terjual 500 buku, kita kalkulasi per-bukunya Rp 70.000. Itu sudah berapa? Itu baru satu toko, belum yang lainnya," ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkrit atas masalah ini. Misalnya, pemerintah bertemu dengan pihak penerbit, marketplace, dan stakeholder lainnya untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini.
Oyuk Ivani berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Devina Hermawan Curhat Pembajakan Buku di Marketplace: Bisa Bunuh Penulis Lokal
Pembajakan buku di e-commerce membuat Devina Hermawan karena bisa membunuh para penulisnya. [519] url asal
#devina-hermawan #buku-bajakan #shopee
(Bisnis Tempo) 06/10/24 14:30
v/16068003/
TEMPO.CO, Jakarta - Akun Instagram juru masak Devina Hermawan mengunggah beberapa tangkapan layar buku-buku bajakan resep masakan seharga Rp 1.800 di marketplace Shopee. Aksi pembajakan buku semacam itu membuat Devina geram karena bisa membunuh para penulisnya. Dua buku Devina salah satu yang dibajak dan dijual murah. “Jangan bunuh penulis lokal,” kata Devina seperti ditulis di takarir unggahan itu pada Jumat, 4 September 2024.
Sejak Rabu, 2 Oktober kemarin, Devina bersuara lantang di sosial media Instagram atau X menyoroti pembajakan buku. Brand Ambassador Mie Sedap itu menyebut pembajakan buku ini bisa mematahkan semangat para calon penulis dalam negeri dan penerbit. Menurut Devina, para penulis lokal sangat bergantung pada penerbit dan royalti yang dihasilkan dari penjualan buku. “Jangka panjang, pembajakan ini mematahkan semangat calon penulis dalam negeri dan juga membunuh industri penerbit serta toko buku tradisional,” kata dia.
Selain itu, Devina bercerita, menerbitkan buku memerlukan proses panjang dan biaya yang banyak. Kondisi itu berbeda dengan kebiasaannya yang membagikan resep makanan secara gratis di sosial medianya. “Menerbitkan buku resep itu prosedurnya jauh lebih kompleks, panjang, dan menelan biaya tidak sedikit. Bagaimana penulis-penulis di Indonesia bisa berkembang kalau seperti ini,” kata dia.
Dalam rangkaian unggahannya di Instagram dan X, Devina juga langsung mengadukannya ke akun resmi Shopee soal pembajakan buku ini. Devina menuding manajemen Shopee membiarkan penjualan buku bajakan ini.
Dia menyebut sudah banyak laporan yang masuk ke Shopee, tapi tak ada tanggapan. “Baru tahu @ShopeeID itu ‘tutup mata’ membiarkan buku dibajak (fotocopy, scan pdf, dsb). Sudah berulang kali dilaporkan, tanggapannya terkesan mempersulit pelapor dan terkesan dibiarkan,” kata dia.
Tudingan Devina itu bukan tanpa alasan. Dia menyebut para penjual buku bajakan itu justru menantang para pelapor untuk mengadukan ke Shopee. “Pantes saja para penjual tsb menantang balik pelapor: ‘laporkan saja, tidak akan terjadi apa-apa.’ Ternyata, selama ini penerbit pun mengeluhkan hal serupa,” kata dia.
Komentar dan unggahan Devina pada manajemen Shopee akhirnya ditanggapi Direktur Utama Shopee Indonesia, Handhika Jahja. Percakapan dengan Handika ini juga Devina unggah di sosial media. Mula-mula, Handhika mengapresiasi laporan yang dibuat Devina sembari meminta maaf atas fenomena tersebut. “Kami berkomitmen untuk menciptakan platform yang sehat dengan menjaga hak kekayaan intelektual,” kata Handika dalam unggahan Devina.
Handhika mengatakan Shopee telah memblokir produk dan toko yang melanggar hak cipta. “Sudah diban dan dihapus hari ini,” kata dia.
Devina berharap Shopee bisa lebih cepat dan tanggapan atas laporan masyarakat soal pembajakan buku di platform itu. Devina berharap pucuk pimpinan Shopee bisa mendukung kemajuan komunitas penulis di Indonesia. Usai laporan itu, Shopee juga langsung menurunkan seluruh produk bajakan dari buku milik Devina. “Dalam hitungan jam Shopee Indonesia menurunkan secara tuntas seluruh peredaran karya cipta ilegal dua buku saya,” kata dia.
Dalam unggahan terbaru, Devina juga merekam komentar dari pengikutnya dengan akun @dhilasina. Akun tersebut mendukung langkah Devina menyuarakan pembajakan buku di marketplace. @dhilasina menyebut buku bajakan di Shopee memang sedang marak dan dijual murah. “Berulang kali followers melaporkan setiap ketemu yang bajak bukuku dan jual dalam bentuk pdf semurah-murahnya. Rp 10 ribu paling mahal,” kata dia. Padahal, kata dia, menulis buku itu membutuhkan tenaga dan waktu. “Padahal nyusunya berdarah-darah, mencurahkan semua waktu dan effort,” kata dia.
Devina Hermawan Curhat Pembajakan Buku di Marketplace: Bisa Bunuh Penulis Lokal
Pembajakan buku di e-commerce membuat Devina Hermawan karena bisa membunuh para penulisnya. [519] url asal
#devina-hermawan #buku-bajakan #shopee
(Bisnis Tempo) 06/10/24 14:30
v/16061950/
TEMPO.CO, Jakarta - Akun Instagram juru masak Devina Hermawan mengunggah beberapa tangkapan layar buku-buku bajakan resep masakan seharga Rp 1.800 di marketplace Shopee. Aksi pembajakan buku semacam itu membuat Devina geram karena bisa membunuh para penulisnya. Dua buku Devina salah satu yang dibajak dan dijual murah. “Jangan bunuh penulis lokal,” kata Devina seperti ditulis di takarir unggahan itu pada Jumat, 4 September 2024.
Sejak Rabu, 2 Oktober kemarin, Devina bersuara lantang di sosial media Instagram atau X menyoroti pembajakan buku. Brand Ambassador Mie Sedap itu menyebut pembajakan buku ini bisa mematahkan semangat para calon penulis dalam negeri dan penerbit. Menurut Devina, para penulis lokal sangat bergantung pada penerbit dan royalti yang dihasilkan dari penjualan buku. “Jangka panjang, pembajakan ini mematahkan semangat calon penulis dalam negeri dan juga membunuh industri penerbit serta toko buku tradisional,” kata dia.
Selain itu, Devina bercerita, menerbitkan buku memerlukan proses panjang dan biaya yang banyak. Kondisi itu berbeda dengan kebiasaannya yang membagikan resep makanan secara gratis di sosial medianya. “Menerbitkan buku resep itu prosedurnya jauh lebih kompleks, panjang, dan menelan biaya tidak sedikit. Bagaimana penulis-penulis di Indonesia bisa berkembang kalau seperti ini,” kata dia.
Dalam rangkaian unggahannya di Instagram dan X, Devina juga langsung mengadukannya ke akun resmi Shopee soal pembajakan buku ini. Devina menuding manajemen Shopee membiarkan penjualan buku bajakan ini.
Dia menyebut sudah banyak laporan yang masuk ke Shopee, tapi tak ada tanggapan. “Baru tahu @ShopeeID itu ‘tutup mata’ membiarkan buku dibajak (fotocopy, scan pdf, dsb). Sudah berulang kali dilaporkan, tanggapannya terkesan mempersulit pelapor dan terkesan dibiarkan,” kata dia.
Tudingan Devina itu bukan tanpa alasan. Dia menyebut para penjual buku bajakan itu justru menantang para pelapor untuk mengadukan ke Shopee. “Pantes saja para penjual tsb menantang balik pelapor: ‘laporkan saja, tidak akan terjadi apa-apa.’ Ternyata, selama ini penerbit pun mengeluhkan hal serupa,” kata dia.
Komentar dan unggahan Devina pada manajemen Shopee akhirnya ditanggapi Direktur Utama Shopee Indonesia, Handhika Jahja. Percakapan dengan Handika ini juga Devina unggah di sosial media. Mula-mula, Handhika mengapresiasi laporan yang dibuat Devina sembari meminta maaf atas fenomena tersebut. “Kami berkomitmen untuk menciptakan platform yang sehat dengan menjaga hak kekayaan intelektual,” kata Handika dalam unggahan Devina.
Handhika mengatakan Shopee telah memblokir produk dan toko yang melanggar hak cipta. “Sudah diban dan dihapus hari ini,” kata dia.
Devina berharap Shopee bisa lebih cepat dan tanggapan atas laporan masyarakat soal pembajakan buku di platform itu. Devina berharap pucuk pimpinan Shopee bisa mendukung kemajuan komunitas penulis di Indonesia. Usai laporan itu, Shopee juga langsung menurunkan seluruh produk bajakan dari buku milik Devina. “Dalam hitungan jam Shopee Indonesia menurunkan secara tuntas seluruh peredaran karya cipta ilegal dua buku saya,” kata dia.
Dalam unggahan terbaru, Devina juga merekam komentar dari pengikutnya dengan akun @dhilasina. Akun tersebut mendukung langkah Devina menyuarakan pembajakan buku di marketplace. @dhilasina menyebut buku bajakan di Shopee memang sedang marak dan dijual murah. “Berulang kali followers melaporkan setiap ketemu yang bajak bukuku dan jual dalam bentuk pdf semurah-murahnya. Rp 10 ribu paling mahal,” kata dia. Padahal, kata dia, menulis buku itu membutuhkan tenaga dan waktu. “Padahal nyusunya berdarah-darah, mencurahkan semua waktu dan effort,” kata dia.