#30 tag 24jam
Kilang Pertamina (KPI) Siap Optimalisasi Produksi BBM Rendah Sulfur pada 2028
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menegaskan kesiapannya mendukung program pemerintah untuk mengurangi emisi karbon. [127] url asal
#kilang-cilacap #emisi-karbon #pt-kilang-pertamina-internasional #green-refinery #taufik-aditiyawarman #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #energi
(Kontan-Industri) 10/10/24 17:27
v/16274013/
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
Saat ini, KPI mampu memproduksi biofuel melalui beberapa metode. Salah satunya melalui co-processing bahan baku nabati yang dicampur dengan conventional feedstock pada existing process.
Proses ini dilalui untuk memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF).
"Kami melakukan modifikasi unit THDT untuk coprocessing SAF di Kilang Cilacap dengan kapasitas 9 ribu bph," ujarnya.
Dalam memproduksi biofuel, KPI juga melakukan pengolahan bahan baku nabati (CPO Based) dengan komposisi 100% yang seluruhnya menjadi feedstock (Refined Bleached Deodorized Palm Oil/ RBDPO). Ini dilakukan untuk memproduksi green diesel atau B100.
"HVO dari kilang Cilacap merupakan konversi dari feedstock RDBPO yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan BBM, khususnya produk renewable diesel 100% atau B100 dengan kapasitas 3 ribu bph," katanya.
Kilang Pertamina (KPI) Siap Optimalisasi Produksi BBM Rendah Sulfur pada 2028
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menegaskan kesiapannya mendukung program pemerintah untuk mengurangi emisi karbon. [402] url asal
#kilang-cilacap #emisi-karbon #pt-kilang-pertamina-internasional #green-refinery #taufik-aditiyawarman #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #energi
(Kontan-Industri) 10/10/24 17:27
v/16258589/
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menegaskan kesiapannya mendukung program pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dengan mengoptimalisasi produksi bahan bakar bersulfur rendah (low sulfur fuel) pada 1 Januari 2028.
Pengembangan fasilitas produksi BBM ramah lingkungan dari green refinery telah dimasukkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan akan rampung tepat waktu.
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, mengatakan dalam RJPP perusahaan dicanangkan pembangunan fasilitas produksi BBM ramah lingkungan atau green refinery.
Sejumlah proyek kilang ramah lingkungan sedang berjalan, termasuk pengembangan kilang Cilacap Tahap 2 yang diproyeksikan pada 2027 dengan kapasitas produksi 6.000 barel Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) per hari (bph).
Adapun tahap 1 telah selesai dengan kapasitas 3.000 barel. Secara keseluruhan kilang Cilacap merupakan salah satu kilang terbesar Pertamina dengan kapasitas pengolahan 348.000 barel per hari.
“Selain itu, kilang Plaju ditargetkan rampung pada 2030 dengan kapasitas pengolahan biofuels 20.000 bph, kilang Dumai pada 2031 dengan kapasitas 30.000 bph, dan kilang Balikpapan pada 2034 dengan kapasitas 30.000 bph,” ujar Taufik dalam keterangan resmi, Kamis (10/10).
Taufik menjelaskan, KPI siap menjalankan program pemerintah jika diberikan mandat untuk meluncurkan produk BBM solar dengan kadar sulfur rendah. Kilang Balongan saat ini memproduksi BBM dengan kadar sulfur 10 ppm.
Saat diskusi dengan Kementerian Koordinator Kemaritim dan Investasi, lanjut Taufik, prioritas KPI adalah menggantikan diesel dengan produk low sulphur 10 ppm dari Balongan untuk Jakarta terlebih dahulu.
Kilang lainnya masih bervariasi. Namun, pada tahun depan, kilang Balikpapan akan mulai beroperasi pada 2025 dan mampu memproduksi BBM EURO 5 dengan kadar sulfur 10 ppm, baik untuk gasoline maupun diesel.
“Ini akan meningkatkan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Jawa dan Kalimantan," jelas dia.
Saat ini, KPI mampu memproduksi biofuel melalui beberapa metode. Salah satunya melalui co-processing bahan baku nabati yang dicampur dengan conventional feedstock pada existing process.
Proses ini dilalui untuk memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF).
"Kami melakukan modifikasi unit THDT untuk coprocessing SAF di Kilang Cilacap dengan kapasitas 9 ribu bph," ujarnya.
Dalam memproduksi biofuel, KPI juga melakukan pengolahan bahan baku nabati (CPO Based) dengan komposisi 100% yang seluruhnya menjadi feedstock (Refined Bleached Deodorized Palm Oil/ RBDPO). Ini dilakukan untuk memproduksi green diesel atau B100.
"HVO dari kilang Cilacap merupakan konversi dari feedstock RDBPO yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan BBM, khususnya produk renewable diesel 100% atau B100 dengan kapasitas 3 ribu bph," katanya.
Green Refinery Cilacap: Tonggak Baru Kemerdekaan Energi Indonesia
Kemerdekaan energi adalah aspek penting dari visi Indonesia Maju, dan Green Refinery Cilacap berkontribusi signifikan dalam upaya ini. [982] url asal
#kolom #pertamina #green-refinery-cilacap #energi-baru-terbarukan
(detikFinance) 13/09/24 15:05
v/14992476/
Jakarta - Kemerdekaan Indonesia yang kita rayakan setiap tahun adalah momen berharga untuk merefleksikan perjalanan panjang bangsa dalam meraih kebebasan dan kemandirian. Namun, kemerdekaan sejati tidak hanya terbatas pada aspek politik, melainkan mencakup kemampuan untuk mandiri di berbagai bidang, termasuk energi.
Dalam era modern ini, ketergantungan pada sumber daya fosil yang terbatas dan dampak lingkungan yang ditimbulkannya telah mendorong berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Perusahaan energi nasional seperti Pertamina memiliki peran strategis dalam mendukung kemandirian energi Indonesia, sejalan dengan semangat kemerdekaan 'Energi Baru untuk Indonesia Maju'. Pertamina dengan tegas menunjukkan komitmennya untuk menjadi pionir dalam transisi energi di tanah air.
![]() Upacara 17 Agustus 2024 PT Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap (Foto: Pertamina) |
Dalam konteks ini, kehadiran Green Refinery Cilacap menjadi angin segar dan tonggak penting dalam sejarah energi Indonesia. Sebagai bagian dari Subholding Refinery & Petrochemical PT Pertamina, PT Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap tidak hanya sekadar memproduksi bahan bakar konvensional tetapi juga berperan sebagai salah satu pionir dalam transisi energi di Indonesia.
Kilang ini mampu memproduksi berbagai produk ramah lingkungan seperti menghadirkan HVO (Hydrotreated Vegetable Oil) yaitu Pertamina Renewable Diesel (Pertamina RD), bionafta, dan bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang berbahan baku minyak inti kelapa sawit yang telah melalui proses Refined, Bleached, and Deodorized (RBD).
Produk-produk ini diolah bersama dengan avtur fosil melalui metode co-processing, menjadikan Green Refinery Cilacap sebagai jawaban atas tantangan global akan produk yang lebih berkelanjutan.
Kemerdekaan energi adalah aspek penting dari visi Indonesia Maju, dan Green Refinery Cilacap berkontribusi signifikan dalam upaya ini. Salah satu target ambisius pemerintah Indonesia adalah mencapai bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Green Refinery Cilacap, dengan segala kapabilitasnya, menjadi pilar penting dalam mencapai target tersebut.
Green Refinery Cilacap PT Kilang Pertamina Internasional Foto: Pertamina |
Produk-produk yang dihasilkan oleh kilang ini tidak hanya memiliki kualitas yang sangat baik tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan efisiensi mesin. Selain itu, produksi bioavtur dari Green Refinery Cilacap juga mendukung pertumbuhan industri penerbangan yang lebih berkelanjutan, sebuah sektor yang semakin penting dalam konteks global.
Green Refinery Cilacap bukan hanya sekadar sebuah pabrik, melainkan sebuah ekosistem inovasi yang terus berkembang. Kilang ini menjadi tempat pengembangan teknologi baru, pusat penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga pelaku usaha, terus dilakukan untuk mendorong inovasi dan pengembangan produk-produk baru yang lebih ramah lingkungan. Dengan demikian, Green Refinery Cilacap bukan hanya berfungsi sebagai kilang energi tetapi juga sebagai motor penggerak transformasi energi di Indonesia.
Produk Green Refinery Foto: Pertamina |
Dampak keberadaan Green Refinery Cilacap tidak hanya dirasakan di sektor energi tetapi juga memiliki implikasi yang luas bagi berbagai sektor lainnya:
1. Pertanian: Permintaan tinggi akan bahan baku nabati untuk produksi biofuel mendorong pengembangan sektor pertanian yang berkelanjutan. Petani dapat memperoleh pendapatan tambahan melalui penjualan hasil panen mereka kepada industri biofuel. Ini tidak hanya memperkuat ekonomi pedesaan tetapi juga mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
2. Industri: Industri otomotif dan penerbangan mulai beralih ke penggunaan bahan bakar nabati, yang mendorong inovasi dalam desain mesin dan kendaraan. Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pusat produksi kendaraan dan mesin yang lebih ramah lingkungan, mendukung visi Indonesia sebagai pemain utama dalam industri energi terbarukan.
3. Lingkungan: Pengurangan emisi gas rumah kaca berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim global. Selain itu, penggunaan bahan baku yang terbarukan membantu menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Ini penting bagi Indonesia, yang merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. serta mewujudkan komitmen Pertamina dan pemerintah menuju NZE (Net Zero Emission).
4. Ekonomi: Investasi dalam pengembangan energi terbarukan menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Green Refinery Cilacap berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, di mana manfaat dari pembangunan ekonomi dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat.
Perwira PT Kilang Pertamina Pertamina Internasional Unit Cilacap Foto: Pertamina |
Perwira Pertamina memainkan peran krusial dalam keberhasilan Green Refinery Cilacap. Mereka adalah ujung tombak dalam menciptakan hingga mengimplementasikan teknologi baru, memastikan operasional kilang berjalan efisien, dan menjaga kualitas produk.
Selain itu, perwira Pertamina juga berperan dalam menjalin hubungan baik dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah, masyarakat, dan mitra bisnis. Mereka adalah agen perubahan yang memastikan bahwa Pertamina tidak hanya berkontribusi pada ekonomi nasional tetapi juga pada pelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial.
Meskipun Green Refinery Cilacap telah memberikan kontribusi yang signifikan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi di masa depan. Beberapa di antaranya adalah:
1. Stabilitas Harga Bahan Baku: Fluktuasi harga bahan baku nabati dapat mempengaruhi biaya produksi dan profitabilitas. Untuk itu, perlu adanya strategi mitigasi risiko yang solid dan kebijakan pemerintah yang mendukung stabilitas harga bahan baku.
2. Infrastruktur: Pengembangan infrastruktur yang memadai sangat penting untuk mendistribusikan produk-produk biofuel ke seluruh wilayah Indonesia. Ini memerlukan investasi besar dalam jaringan transportasi dan logistik, serta koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah.
3. Pengembangan Sumber Daya Manusia: Dibutuhkan sumber daya manusia yang kompeten dan terlatih untuk mengoperasikan teknologi yang semakin kompleks. Pertamina perlu terus berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan karyawan untuk memastikan mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan teknologi masa depan.
Namun, tantangan-tantangan ini juga membuka peluang besar. Dengan dukungan pemerintah, investasi yang konsisten, dan inovasi yang terus-menerus, Green Refinery Cilacap dapat menjadi model bagi pengembangan kilang hijau lainnya di Indonesia. Ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi nasional tetapi juga menempatkan Indonesia di garis depan dalam transisi energi global.
Green Refinery Cilacap adalah bukti nyata bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam transisi energi global. Dengan komitmen yang kuat terhadap keberlanjutan, inovasi, dan kemandirian energi, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Pertamina, melalui Green Refinery Cilacap, telah menunjukkan bahwa kemerdekaan energi adalah bagian integral dari visi Indonesia Maju, dan bahwa kita dapat mencapai kemandirian tersebut dengan mengedepankan inovasi, kerjasama, dan komitmen terhadap keberlanjutan.
Fauzan Desta, Perwira Pertamina, RFCC, Digital Creator, Master Students in Technology Management
(anl/ega)
Bedah Formula Pertamina Jaga Ketahanan Energi dan Tekan Emisi
Direktur Operasi PT KPI berbagi soal komitmen Pertamina pada energi berkelanjutan dengan green refinery dan produk ramah lingkungannya. [1,741] url asal
#pertamina #kilang-cilacap #sustainable-aviation-fuel #green-refinery
(detikFinance - Terbaru) 11/09/24 17:00
v/14961487/
Cilacap - Kilang Cilacap merupakan salah satu unit pengolahan minyak terbesar yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Kilang Cilacap juga menjadi produsen avtur tertinggi di Indonesia saat ini.
Sebelum RDMP Balikpapan selesai dan Kilang Balikpapan beroperasi penuh, Kilang Cilacap menjadi kilang dengan kapasitas pengolahan terbesar di Indonesia sebesar 348 ribu barrel per hari.
Hal ini membuat kilang tersebut memiliki fungsi yang sangat strategis bagi kemandirian dan ketahanan energi di Indonesia. Namun tantangan perubahan iklim saat ini membuat operasional kilang tak cukup sekadar memproduksi BBM berbasis fosil saja. Inovasi dan adaptasi menjadi formula yang harus dijalankan demi kemandirian dan ketahanan energi yang berkelanjutan.
Kepada detikcom, Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional berbagai soal inisiatif Pertamina memproduksi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Inisiatif serius tersebut ditunjukkan lewat pembangunan kilang hijau atau green refinery di Kilang Cilacap.
Berikut petikan wawancara lengkapnya.
Kilang Cilacap sebagai salah satu kilang terbesar di Indonesia, perannya apa saja?
Betul, ini merupakan salah satu kilang terbesar yang dimiliki Pertamina saat ini dengan kapasitas 348 ribu barel per hari. Fungsinya sangat strategis karena kilang ini selain memproduksi produk BBM, non BBM, juga memproduksi lube base dan aspal. Jadi sangat komplit.
Dan selain memproduksi fossil fuel, kilang ini juga memproduksi nabati fuel. Apa itu? Nabati fuel adalah yang feed stock atau umpannya itu tidak dari fosil tapi dari minyak nabati, yaitu turunan produk kelapa sawit. Ini sangat strategis.
Keuntungannya, dia ramah lingkungan.Inilah kilangnya, namanya kilang TDHT. Ini bisa memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan kualitas yang tidak kalah dengan kualitas internasional. Kilang ini juga bisa memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) dengan komposisi nabati fuel-nya 2,4. Lebih ramah lingkungan.
Produk ini juga sudah melewati tes komersial dengan digunakan oleh pesawat Garuda Boeing 737-800 New Generation flight Jakarta-Solo-Jakarta.
Produksi yang paling diunggulkan oleh KPI dari kilang Cilacap apa?
Sebenarnya kekhasan dari kilang ini adalah memproduksi lube base oil. Kedua, kilang ini memproduksi avtur terbesar di Indonesia.
Soal green refinery yang saat ini dibangun, seperti apa korelasinya dengan misi Indonesia untuk menurunkan emisi hingga nol pada 2060 nanti?
Pertamina sangat berkomitmen mengembangkan produk-produk ramah lingkungan untuk menghilangkan fossil fuel menjadi nabati fuel. Kita juga melalui proses riset, dibantu oleh beberapa universitas di Indonesia juga, dan RTI yang dimiliki Pertamina. Kita juga melakukan uji lab, uji lapangan, dan uji komersial. Ini bentuk komitmen Pertamina menjaga security energi nasional dan energi mandiri di Indonesia.
Green refinery sebenarnya apa dan produk apa saja yang sudah dihasilkan sejauh ini?
Green Refinery ini adalah kilang hijau terbesar yang dimiliki Pertamina saat ini dengan kapasitas 3.000 bph untuk total minyak nabati. Di Dumai sebenarnya ada juga, tapi kapasitasnya 1.000 bph.
Kilang ini memproduksi dua produk. Yang pertama Pertamina RD atau HVO. Feed stocknya adalah RBDPO atau minyak turunan kelapa sawit. Ini murni 100% turunan minyak kelapa sawit.
Kedua, adalah co-processing dengan menggunakan RBDPKO dan Keirosin untuk menghasilkan produk SAF dengan komposisi 2,4%. Ini yang kemarin berhasil flight test dengan Boeing milik Garuda.
Kilang ini juga sudah tersertifikasi internasional. namanya ISCC. Ini bukti Pertamina sungguh berkomitmen memproduksi minyak-minyak yang ramah lingkungan.
Ke depan, produk apa lagi yang akan dihasilkan?
Memang yang namanya riset nggak boleh berhenti, nggak boleh puas. Pertama, menggunakan turunan minyak kelapa sawit. Itu namanya first generation.
Ke depan untuk second generation, kita akan menggunakan minyak jelantah. Ini adalah waste yang banyak di Indonesia. Jadi waste menjadi produk. Minyak jelantah menjadi campuran bahan bakar pesawat dengan komposisi 3%.
Berapa persen kontribusinya bisa menurunkan emisi dibandingkan dengan yang biasa?
Sangat besar sekali. Ini emisinya kurang lebih turun sampai 30% dibandingkan yang biasa.
Saya dengar di Singapura, tahun 2026 semua pesawat yang ada di Singapura menggunakan SAF 1%. Tapi Indonesia komposisinya sudah 2,4%. 2,4% kurang lebih 25% kita bisa memenuhi domestic flight, tapi kalau 1% mungkin kita bisa memenuhi domestic flight hingga 50-60%.
Apa bedanya green refinery ini dengan kilang konvensional lainnya milik Pertamina?
Kilang ini bisa beroperasi dengan empat mode. Mode pertama menghasilkan diesel yang Pertadex, kedua bisa menghasilkan avtur, ketiga bisa menghasilkan HVO, keempat bisa menghasilkan SAF.
Kapasitasnya berapa saat ini?
Untuk HVO sekitar 3.000 bph, kalau SAF sekitar 10.000 bph. Lebih banyak SAF karena prosesnya co-processing.
Dua produk tadi sudah diterima dengan baik di market?
Luar biasa. Karena kita sudah mengantongi sertifikat ISCC, untuk HVO kemarin kita gunakan untuk formula A di Jakarta, sebagai bahan baku electric generator di Formula A. Begitu pula dengan G-20 di Bali.
Kan produk ramah lingkungan itu mahal, gimana cara Pertamina supaya produk ini bisa diterima sama pasar?
Memang betul. Kalau biaya operasi sama antara produksi SAF dan avtur, Yang berbeda adalah pembelian feed stocknya, atau RBDPKO yang turunan minyak kelapa sawit yang masih mahal.
Tapi Pertamina nggak berhenti. Kita sedang riset dan sudah berhasil untuk bisa mengolah minyak jelantah atau used cooking oil.
Sehingga harganya nanti akan jadi lebih murah?
Ya, itulah pengembangan kita untuk memotong biaya pembelian feed stock. Dan kalau limbah bisa kita olah jadi produk ramah lingkungan, berapa banyak limbah yang bisa kita hilangkan jadi produk ramah lingkungan.
Kilang ini diproduksi secara otomatis oleh mesin?
Ini memang menggunakan teknologi canggih. Ada beberapa operator yang ada di kilang, tapi utamanya kilang ini dioperasikan melalui DCF (distributed control system), artinya di dalam ruangan pengendali. Jadi semua otomatisasi.
Apa saja yang dikontrol di control room?
Pada umumnya control room mengatur 3 hal. Yaitu flow rate, volume rate. Ketika kita butuh volume bertambah, maka teman-teman menaikkan bukaan control falv 10% misalnya, di sini dikasih angka 10%, maka secara sistem hardware akan menggerakkan naik 10%.
Kedua adalah pengendalian temperature untuk mendapatkan suhu sesuai kondisi operasi yang diinginkan.
Ketiga adalah tekanan, karena dalam proses hydrocarbon processing, 3 parameter kunci ini yang dikontrol dalam control room.
Bicara soal keberlanjutan dari produk ramah lingkungan kilang Pertamina, seperti apa sebenarnya master plannya? Apakah juga akan dilanjutkan di kilang lainnya?
Pertamina berkomitmen menghasilkan produk yang ramah lingkungan, berasal dari bahan baku yang ramah lingkungan, dan dari nabati bukan fossil fuel.
Apa yang dihasilkan KPI dalam memproduksi bahan nabati jadi bahan bakar ramah lingkungan saat ini masih dalam fase pertama. Yang kedua, kita dalam proses masuk ke fase kedua, yaitu mengolah minyak jelantah menjadi produk SAF.
Ingat loh, di Indonesia banyak ibu-ibu dan industri yang menggunakan minyak jelantah. Minyak jelantah itu diolah di sini untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan kualitasnya sama dengan minyak nabati.
Itu akan dicampur lagi (minyak jelantah). SAF campurannya 2,5%, tapi kalau yang dengan minyak jelantah, berdasarkan hasil riset RTI, akan lebih banyak lagi komposisinya. Jadi minyak jelantah 3%, 97% masih herosin, dicampur, dikendalikan di control room ini, akan menghasilkan SAF 3%.
Jadi bahan bakar untuk avtur dihasilkan salah satunya oleh minyak jelantah tadi ya?
Betul.
Jadi konsepnya zero waste?
Konsepnya adalah zero waste. Bagaimana menurunkan limbah di Indonesia, diconverting jadi produk yang ramah lingkungan. Itu adalah komitmen Pertamina mendukung program net zero emission 2060.
Soal avtur, kan jadi salah satu faktor yang katanya jadi biang tiket pesawat mahal karena ada ketergantungan akan impor avtur. Pertamina seperti apa support-nya?
Alhamdulillah kapasitas kilang Pertamina saat ini, untuk 2 produk diesel dan avtur itu bisa 100% memenuhi demand nasional. Jadi kita tidak ada impor lagi. Kita sudah swasembada untuk produk diesel dan avtur.
Berarti kita sebenarnya sudah bisa memproduksi avtur sendiri untuk kebutuhan dalam negeri ya?
Kita sudah bisa memenuhi domestic demand untuk avtur dan diesel.
Ada tantangan nggak dalam membangun green refinery?
Konsep ini harus ada kolaborasi pada semua pihak, yaitu produsen (Pertamina), supplier (pemasok minyak nabati dan jelantah), dan konsumen (maskapai), dan pemerintah). Harus ada mandat regulasi dari pemerintah jelas, supaya SAF ini bisa diproduksi secara sustain dan bisa digunakan oleh maskapai-maskapai kita secara sustain dan real menurunkan emisi kita.
Selain produk green refinery, apa lagi produk lainnya yang dihasilkan di kilang Cilacap?
Kilang ini produsen terbesar avtur. Selain itu memproduksi BBM, non BBM, dan juga petrochemical. Ada produksi benzene, paraxylene, lube base oil, dan aspal. Itulah kekhasan produk kilang Cilacap yang sangat integrated dan comprehensive konfigurasi kilangnya.
Kilang Cilacap juga punya yang namanya Kilang Langit Biru Cilacap. Apa itu?
Kilang Langit Biru Cilacap adalah kilang yang dibangun 2019 untuk memproduksi gasoline dengan RON 92 yang lebih ramah lingkungan.
Semua produk yang ada di Cilacap semua gasoline minimum RON nya 92.
Jadi ini adalah salah satu usaha Pertamina untuk menjaga kualitas lingkungan yang lebih ramah lagi, ada green refinery juga tadi. Lalu ada harapan kah gimana supaya ini bisa terus dipertahankan keberlanjutannya sekaligus mendukung misi Pertamina bisa tercapai?
Pertamina selalu berkomitmen untuk selalu hadir melayani negara ini menyediakan energi nasional dan menjaga ini lebih secure. Pertamina hadir menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Sudah berhasil menghasilkan HVO dengan bahan baku 100% minyak nabati turunan dari kelapa sawit, kedua menghasilkan SAF dengan memanfaatkan minyak turunan kelapa sawit di co-processing dengan kerosin menghasilkan SAF yang sudah berhasil uji terbang dan commercial flight.
Yang kedua, yang lagi proses, tidak hanya mengolah nabati tapi juga mengolah minyak jelantah. Kita juga sudah mengantongi sertifikat ISCG, standar internasional yang secara minyak bahan bakunya, process unit maupun produknya sudah tersertifikasi dan layak bisa digunakan sebagai bahan bakar pesawat terbang yang ramah lingkungan.
Ada dukungan apa lagi yang diharapkan ke stakeholder?
Betul bahwa Pertamina tidak bisa hadir sendiri. Butuh kolaborasi semua elemen, semua stakeholder, yang meliputi para pemasok (minyak nabati dan jelantah), produsen sudah siap memproduksi ini, dan calon konsumen yang akan menggunakan HVO atau SAF.
Lalu regulation, yang kami butuhkan regulasi dari pemerintah sebagai payung hukum supaya HVO dan SAF ini bisa dipakai secara sustain ke depannya dan menurunkan emisi yang luar biasa.
(eds/rrd)
Tekan Emisi, Pertamina 'Sulap' Minyak Jelantah Jadi Avtur Pesawat
PT Kilang Pertamina Internasional berinovasi dengan memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) ramah lingkungan, menggunakan campuran minyak jelantah 3%. [407] url asal
#minyak-jelantah #sustainable-aviation-fuel #pertamina #green-refinery #bioavtur
(detikFinance) 11/09/24 12:00
v/14959703/
Cilacap - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus berinovasi menghadirkan produk bahan bakar yang ramah lingkungan. Setelah berhasil memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) dengan campuran minyak sawit 2,4%, selanjutnya Green Refinery RU IV Cilacap akan memproduksi green avtur dengan bauran produk turunan minyak nabati yang lebih banyak lagi.
Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Didik Bahagia mengatakan, pihaknya tengah merancang produk SAF dengan komposisi campuran minyak jelantah sebanyak 3%. Inovasi ini masuk ke dalam tahap II pengembangan green refinery di Kilang Cilacap.
"SAF campurannya 2,4%, tapi kalau yang dengan minyak jelantah, berdasarkan hasil riset RTI, akan lebih banyak lagi komposisinya. Jadi minyak jelantah 3%, 97% masih herosin, dicampur, akan menghasilkan SAF 3%." kata Didik kepada detikcom di Cilacap, belum lama ini.
Menurut Didik, minyak jelantah merupakan salah satu jenis bahan mentah yang tersedia di Indonesia sepanjang tahun. Hal ini menjadi salah satu indikator jaminan produk ini bisa diproduksi secara berkelanjutan.
"Ingat loh, di Indonesia banyak ibu-ibu dan industri yang menggunakan minyak jelantah. Minyak jelantah itu diolah di sini untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan kualitasnya sama dengan minyak nabati." jelas Didik.
Sebagai informasi, saat ini produk utama Green Refinery RU IV Cilacap adalah green diesel yang diproduksi dari bahan baku 100% renewable dengan kandungan sulfur lebih baik dari Euro V dengan kapasitas produksi 2500 BPD. Selain Green Diesel, Green Refinery RU IV Cilacap juga telah berhasil memproduksi Bioavtur-SAF dengan kandungan renewable 2.4% dan kapasitas 9 BPD melalui metode co-processing. Produk Bioavtur-SAF ini bila digunakan oleh airline berpotensi menurunkan emisi karbon industri penerbangan sebesar 22 ribu Ton CO2e per tahun.
Proses produk Bioavtur-SAF sendiri dilakukan melalui Co-Processing Ester dan Fatty Acid (HEFA), yang telah memenuhi standar internasional untuk spesifikasi Avtur ASTM D 1655, Defstan 91-91 latest issued, serta SK Dirjen Migas No.59 K Tahun 2022.
Selain itu Bioavtur-SAF produksi Kilang Pertamina ini juga telah memenuhi kriteria framework secara global di antaranya CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) oleh International Civil Aviation Organization, RefuelEU/Fit55 oleh Uni Eropa, EU/UK Emission Trading, Tax Credit IRA USA. Masing-masing framework tersebut memiliki persyaratan ketat dalam hal kriteria sustainability dari jenis feedstock, proses produksi sehingga pengembangan Bioavtur-SAF di Indonesia harus benar-benar melibatkan seluruh stakeholder dan sesuai dengan sumber daya yang tersedia di Indonesia misalnya dalam hal feedstock.
Simak Video: Harga Avtur Naik, Maskapai Diizinkan Naikkan Tarif Tiket Pesawat
Pertamina Buka Peluang Gaet Investor di Proyek Green Refinery Cilacap
PT Kilang Pertamina Internasional membuka peluang bagi investor untuk terlibat dalam proyek pengembangan Green Refinery Cilacap [362] url asal
#pertamina #kilang-cilacap #green-refinery #green-refinery-cilacap-fase-i #update-me #energi-bersih #katadata-green
(Katadata - EKONOMI HIJAU) 10/07/24 20:36
v/10342724/
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) membuka peluang investor untuk dapat masuk ke dalam proyek Green Refinery Cilacap. Saat ini Kilang Cilacap telah menyelesaikan proyek green refinery fase 1 dan akan dilanjutkan dengan pengembangan fase 2.
Fase 2 yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dari saat ini 3.000 barel per hari (bph) menjadi 6.000 bph, serta kemampuan untuk meningkatkan komponen nabati pada sustainable aviation fuel (SAF) dari 2,4% menjadi 100%.
Kilang ini adalah salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mencapai target pemerintah untuk bauran energi baru terbarukan (EBT) 23% pada 2025.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPI, Isnanto Nugroho mengatakan, keterbukaan KPI untuk menjaring mitra strategis bagi Green Refinery Cilacap.
“Kami pastikan bahwa proyek Green Refinery Cilacap masih berlanjut dan on track. Saat ini KPI tengah melaksanakan proses seleksi mitra strategis. Kami terbuka untuk bekerja sama dengan mitra potensial, di antaranya bank, lembaga kredit ekspor dan lembaga multilateral,” ujarnya melalui siaran pers, Rabu (10/7).
Isnanto mengatakan, perusahaan sangat membuka peluang kepada investor yang ingin melakukan kerjasama dalam pembangunan proyek raksasa Green Refinery Cilacap.
Ia menjelaskan, keunggulan Green Refinery Cilacap sebagai sasaran investasi. Keunggulan tersebut antara lain status proyek yang sudah dijadikan PSN sehingga didukung dengan kerangka kebijakan yang ada. "Selain itu Green Refinery Cilacap akan dibangun di lahan eksisting Pertamina," ujarnya.
Sementara itu, Corporate Secretary KPI, Hermansyah Y. Nasroen mengatakan, banyaknya nilai strategis Green Refinery Cilacap sebagai sasaran investasi.
"Green Refinery Cilacap dapat menjawab tantangan produk yang lebih ramah lingkungan, karena Kilang Cilacap dapat memproduksi HVO, SAF, dan bionafta,” ujarnya.
Selain itu, proyek tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi bangsa karena bermanfaat mengolah sumber daya biofuel di Indonesia yang melimpah. Hal ini semakin diperkuat mengingat KPI sebagai induk usaha kilang dan petrokimia Pertamina memiliki pengalaman dan keahlian di bisnis kilang.
Proyek yang ditargetkan menambahkan kapasitas produksi dari 3.000 bph menjadi 6.000 bph tersebut dialokasikan untuk memproduksi HVO, SAF, Bionafta yang berasal dari used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah.
"Unit baru dari Green Refinery Cilacap akan dilengkapi dengan infrastruktur termasuk palm oil treater, fractionator, dan fasilitas offsite," ujarnya. Kilang Cilacap sendiri merupakan contoh kilang terintegrasi yang sejalan dengan ambisi transisi energi Indonesia.




