Saat ini, KPI mampu memproduksi biofuel melalui beberapa metode. Salah satunya melalui co-processing bahan baku nabati yang dicampur dengan conventional feedstock pada existing process.
Proses ini dilalui untuk memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF).
"Kami melakukan modifikasi unit THDT untuk coprocessing SAF di Kilang Cilacap dengan kapasitas 9 ribu bph," ujarnya.
Dalam memproduksi biofuel, KPI juga melakukan pengolahan bahan baku nabati (CPO Based) dengan komposisi 100% yang seluruhnya menjadi feedstock (Refined Bleached Deodorized Palm Oil/ RBDPO). Ini dilakukan untuk memproduksi green diesel atau B100.
"HVO dari kilang Cilacap merupakan konversi dari feedstock RDBPO yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan BBM, khususnya produk renewable diesel 100% atau B100 dengan kapasitas 3 ribu bph," katanya.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menegaskan kesiapannya mendukung program pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dengan mengoptimalisasi produksi bahan bakar bersulfur rendah (low sulfur fuel) pada 1 Januari 2028.
Pengembangan fasilitas produksi BBM ramah lingkungan dari green refinery telah dimasukkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan akan rampung tepat waktu.
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, mengatakan dalam RJPP perusahaan dicanangkan pembangunan fasilitas produksi BBM ramah lingkungan atau green refinery.
Sejumlah proyek kilang ramah lingkungan sedang berjalan, termasuk pengembangan kilang Cilacap Tahap 2 yang diproyeksikan pada 2027 dengan kapasitas produksi 6.000 barel Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) per hari (bph).
Adapun tahap 1 telah selesai dengan kapasitas 3.000 barel. Secara keseluruhan kilang Cilacap merupakan salah satu kilang terbesar Pertamina dengan kapasitas pengolahan 348.000 barel per hari.
“Selain itu, kilang Plaju ditargetkan rampung pada 2030 dengan kapasitas pengolahan biofuels 20.000 bph, kilang Dumai pada 2031 dengan kapasitas 30.000 bph, dan kilang Balikpapan pada 2034 dengan kapasitas 30.000 bph,” ujar Taufik dalam keterangan resmi, Kamis (10/10).
Taufik menjelaskan, KPI siap menjalankan program pemerintah jika diberikan mandat untuk meluncurkan produk BBM solar dengan kadar sulfur rendah. Kilang Balongan saat ini memproduksi BBM dengan kadar sulfur 10 ppm.
Saat diskusi dengan Kementerian Koordinator Kemaritim dan Investasi, lanjut Taufik, prioritas KPI adalah menggantikan diesel dengan produk low sulphur 10 ppm dari Balongan untuk Jakarta terlebih dahulu.
Kilang lainnya masih bervariasi. Namun, pada tahun depan, kilang Balikpapan akan mulai beroperasi pada 2025 dan mampu memproduksi BBM EURO 5 dengan kadar sulfur 10 ppm, baik untuk gasoline maupun diesel.
“Ini akan meningkatkan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Jawa dan Kalimantan," jelas dia.
Saat ini, KPI mampu memproduksi biofuel melalui beberapa metode. Salah satunya melalui co-processing bahan baku nabati yang dicampur dengan conventional feedstock pada existing process.
Proses ini dilalui untuk memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF).
"Kami melakukan modifikasi unit THDT untuk coprocessing SAF di Kilang Cilacap dengan kapasitas 9 ribu bph," ujarnya.
Dalam memproduksi biofuel, KPI juga melakukan pengolahan bahan baku nabati (CPO Based) dengan komposisi 100% yang seluruhnya menjadi feedstock (Refined Bleached Deodorized Palm Oil/ RBDPO). Ini dilakukan untuk memproduksi green diesel atau B100.
"HVO dari kilang Cilacap merupakan konversi dari feedstock RDBPO yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan BBM, khususnya produk renewable diesel 100% atau B100 dengan kapasitas 3 ribu bph," katanya.
Direktur Operasi PT KPI berbagi soal komitmen Pertamina pada energi berkelanjutan dengan green refinery dan produk ramah lingkungannya. [1,741] url asal
Kilang Cilacap merupakan salah satu unit pengolahan minyak terbesar yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Kilang Cilacap juga menjadi produsen avtur tertinggi di Indonesia saat ini.
Sebelum RDMP Balikpapan selesai dan Kilang Balikpapan beroperasi penuh, Kilang Cilacap menjadi kilang dengan kapasitas pengolahan terbesar di Indonesia sebesar 348 ribu barrel per hari.
Hal ini membuat kilang tersebut memiliki fungsi yang sangat strategis bagi kemandirian dan ketahanan energi di Indonesia. Namun tantangan perubahan iklim saat ini membuat operasional kilang tak cukup sekadar memproduksi BBM berbasis fosil saja. Inovasi dan adaptasi menjadi formula yang harus dijalankan demi kemandirian dan ketahanan energi yang berkelanjutan.
Kepada detikcom, Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional berbagai soal inisiatif Pertamina memproduksi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Inisiatif serius tersebut ditunjukkan lewat pembangunan kilang hijau atau green refinery di Kilang Cilacap.
Berikut petikan wawancara lengkapnya.
Kilang Cilacap sebagai salah satu kilang terbesar di Indonesia, perannya apa saja?
Betul, ini merupakan salah satu kilang terbesar yang dimiliki Pertamina saat ini dengan kapasitas 348 ribu barel per hari. Fungsinya sangat strategis karena kilang ini selain memproduksi produk BBM, non BBM, juga memproduksi lube base dan aspal. Jadi sangat komplit.
Dan selain memproduksi fossil fuel, kilang ini juga memproduksi nabati fuel. Apa itu? Nabati fuel adalah yang feed stock atau umpannya itu tidak dari fosil tapi dari minyak nabati, yaitu turunan produk kelapa sawit. Ini sangat strategis.
Keuntungannya, dia ramah lingkungan.Inilah kilangnya, namanya kilang TDHT. Ini bisa memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan kualitas yang tidak kalah dengan kualitas internasional. Kilang ini juga bisa memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) dengan komposisi nabati fuel-nya 2,4. Lebih ramah lingkungan.
Produk ini juga sudah melewati tes komersial dengan digunakan oleh pesawat Garuda Boeing 737-800 New Generation flight Jakarta-Solo-Jakarta.
Produksi yang paling diunggulkan oleh KPI dari kilang Cilacap apa?
Sebenarnya kekhasan dari kilang ini adalah memproduksi lube base oil. Kedua, kilang ini memproduksi avtur terbesar di Indonesia.
Soal green refinery yang saat ini dibangun, seperti apa korelasinya dengan misi Indonesia untuk menurunkan emisi hingga nol pada 2060 nanti?
Pertamina sangat berkomitmen mengembangkan produk-produk ramah lingkungan untuk menghilangkan fossil fuel menjadi nabati fuel. Kita juga melalui proses riset, dibantu oleh beberapa universitas di Indonesia juga, dan RTI yang dimiliki Pertamina. Kita juga melakukan uji lab, uji lapangan, dan uji komersial. Ini bentuk komitmen Pertamina menjaga security energi nasional dan energi mandiri di Indonesia.
Green refinery sebenarnya apa dan produk apa saja yang sudah dihasilkan sejauh ini?
Green Refinery ini adalah kilang hijau terbesar yang dimiliki Pertamina saat ini dengan kapasitas 3.000 bph untuk total minyak nabati. Di Dumai sebenarnya ada juga, tapi kapasitasnya 1.000 bph.
Kilang ini memproduksi dua produk. Yang pertama Pertamina RD atau HVO. Feed stocknya adalah RBDPO atau minyak turunan kelapa sawit. Ini murni 100% turunan minyak kelapa sawit.
Kedua, adalah co-processing dengan menggunakan RBDPKO dan Keirosin untuk menghasilkan produk SAF dengan komposisi 2,4%. Ini yang kemarin berhasil flight test dengan Boeing milik Garuda.
Kilang ini juga sudah tersertifikasi internasional. namanya ISCC. Ini bukti Pertamina sungguh berkomitmen memproduksi minyak-minyak yang ramah lingkungan.
Ke depan, produk apa lagi yang akan dihasilkan?
Memang yang namanya riset nggak boleh berhenti, nggak boleh puas. Pertama, menggunakan turunan minyak kelapa sawit. Itu namanya first generation.
Ke depan untuk second generation, kita akan menggunakan minyak jelantah. Ini adalah waste yang banyak di Indonesia. Jadi waste menjadi produk. Minyak jelantah menjadi campuran bahan bakar pesawat dengan komposisi 3%.
Berapa persen kontribusinya bisa menurunkan emisi dibandingkan dengan yang biasa?
Sangat besar sekali. Ini emisinya kurang lebih turun sampai 30% dibandingkan yang biasa.
Saya dengar di Singapura, tahun 2026 semua pesawat yang ada di Singapura menggunakan SAF 1%. Tapi Indonesia komposisinya sudah 2,4%. 2,4% kurang lebih 25% kita bisa memenuhi domestic flight, tapi kalau 1% mungkin kita bisa memenuhi domestic flight hingga 50-60%.
Apa bedanya green refinery ini dengan kilang konvensional lainnya milik Pertamina?
Kilang ini bisa beroperasi dengan empat mode. Mode pertama menghasilkan diesel yang Pertadex, kedua bisa menghasilkan avtur, ketiga bisa menghasilkan HVO, keempat bisa menghasilkan SAF.
Kapasitasnya berapa saat ini?
Untuk HVO sekitar 3.000 bph, kalau SAF sekitar 10.000 bph. Lebih banyak SAF karena prosesnya co-processing.
Dua produk tadi sudah diterima dengan baik di market?
Luar biasa. Karena kita sudah mengantongi sertifikat ISCC, untuk HVO kemarin kita gunakan untuk formula A di Jakarta, sebagai bahan baku electric generator di Formula A. Begitu pula dengan G-20 di Bali.
Kan produk ramah lingkungan itu mahal, gimana cara Pertamina supaya produk ini bisa diterima sama pasar?
Memang betul. Kalau biaya operasi sama antara produksi SAF dan avtur, Yang berbeda adalah pembelian feed stocknya, atau RBDPKO yang turunan minyak kelapa sawit yang masih mahal.
Tapi Pertamina nggak berhenti. Kita sedang riset dan sudah berhasil untuk bisa mengolah minyak jelantah atau used cooking oil.
Sehingga harganya nanti akan jadi lebih murah?
Ya, itulah pengembangan kita untuk memotong biaya pembelian feed stock. Dan kalau limbah bisa kita olah jadi produk ramah lingkungan, berapa banyak limbah yang bisa kita hilangkan jadi produk ramah lingkungan.
Kilang ini diproduksi secara otomatis oleh mesin?
Ini memang menggunakan teknologi canggih. Ada beberapa operator yang ada di kilang, tapi utamanya kilang ini dioperasikan melalui DCF (distributed control system), artinya di dalam ruangan pengendali. Jadi semua otomatisasi.
Apa saja yang dikontrol di control room?
Pada umumnya control room mengatur 3 hal. Yaitu flow rate, volume rate. Ketika kita butuh volume bertambah, maka teman-teman menaikkan bukaan control falv 10% misalnya, di sini dikasih angka 10%, maka secara sistem hardware akan menggerakkan naik 10%.
Kedua adalah pengendalian temperature untuk mendapatkan suhu sesuai kondisi operasi yang diinginkan.
Ketiga adalah tekanan, karena dalam proses hydrocarbon processing, 3 parameter kunci ini yang dikontrol dalam control room.
Bicara soal keberlanjutan dari produk ramah lingkungan kilang Pertamina, seperti apa sebenarnya master plannya? Apakah juga akan dilanjutkan di kilang lainnya?
Pertamina berkomitmen menghasilkan produk yang ramah lingkungan, berasal dari bahan baku yang ramah lingkungan, dan dari nabati bukan fossil fuel.
Apa yang dihasilkan KPI dalam memproduksi bahan nabati jadi bahan bakar ramah lingkungan saat ini masih dalam fase pertama. Yang kedua, kita dalam proses masuk ke fase kedua, yaitu mengolah minyak jelantah menjadi produk SAF.
Ingat loh, di Indonesia banyak ibu-ibu dan industri yang menggunakan minyak jelantah. Minyak jelantah itu diolah di sini untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan kualitasnya sama dengan minyak nabati.
Itu akan dicampur lagi (minyak jelantah). SAF campurannya 2,5%, tapi kalau yang dengan minyak jelantah, berdasarkan hasil riset RTI, akan lebih banyak lagi komposisinya. Jadi minyak jelantah 3%, 97% masih herosin, dicampur, dikendalikan di control room ini, akan menghasilkan SAF 3%.
Jadi bahan bakar untuk avtur dihasilkan salah satunya oleh minyak jelantah tadi ya?
Betul.
Jadi konsepnya zero waste?
Konsepnya adalah zero waste. Bagaimana menurunkan limbah di Indonesia, diconverting jadi produk yang ramah lingkungan. Itu adalah komitmen Pertamina mendukung program net zero emission 2060.
Soal avtur, kan jadi salah satu faktor yang katanya jadi biang tiket pesawat mahal karena ada ketergantungan akan impor avtur. Pertamina seperti apa support-nya?
Alhamdulillah kapasitas kilang Pertamina saat ini, untuk 2 produk diesel dan avtur itu bisa 100% memenuhi demand nasional. Jadi kita tidak ada impor lagi. Kita sudah swasembada untuk produk diesel dan avtur.
Berarti kita sebenarnya sudah bisa memproduksi avtur sendiri untuk kebutuhan dalam negeri ya?
Kita sudah bisa memenuhi domestic demand untuk avtur dan diesel.
Ada tantangan nggak dalam membangun green refinery?
Konsep ini harus ada kolaborasi pada semua pihak, yaitu produsen (Pertamina), supplier (pemasok minyak nabati dan jelantah), dan konsumen (maskapai), dan pemerintah). Harus ada mandat regulasi dari pemerintah jelas, supaya SAF ini bisa diproduksi secara sustain dan bisa digunakan oleh maskapai-maskapai kita secara sustain dan real menurunkan emisi kita.
Selain produk green refinery, apa lagi produk lainnya yang dihasilkan di kilang Cilacap?
Kilang ini produsen terbesar avtur. Selain itu memproduksi BBM, non BBM, dan juga petrochemical. Ada produksi benzene, paraxylene, lube base oil, dan aspal. Itulah kekhasan produk kilang Cilacap yang sangat integrated dan comprehensive konfigurasi kilangnya.
Kilang Cilacap juga punya yang namanya Kilang Langit Biru Cilacap. Apa itu?
Kilang Langit Biru Cilacap adalah kilang yang dibangun 2019 untuk memproduksi gasoline dengan RON 92 yang lebih ramah lingkungan.
Semua produk yang ada di Cilacap semua gasoline minimum RON nya 92.
Jadi ini adalah salah satu usaha Pertamina untuk menjaga kualitas lingkungan yang lebih ramah lagi, ada green refinery juga tadi. Lalu ada harapan kah gimana supaya ini bisa terus dipertahankan keberlanjutannya sekaligus mendukung misi Pertamina bisa tercapai?
Pertamina selalu berkomitmen untuk selalu hadir melayani negara ini menyediakan energi nasional dan menjaga ini lebih secure. Pertamina hadir menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Sudah berhasil menghasilkan HVO dengan bahan baku 100% minyak nabati turunan dari kelapa sawit, kedua menghasilkan SAF dengan memanfaatkan minyak turunan kelapa sawit di co-processing dengan kerosin menghasilkan SAF yang sudah berhasil uji terbang dan commercial flight.
Yang kedua, yang lagi proses, tidak hanya mengolah nabati tapi juga mengolah minyak jelantah. Kita juga sudah mengantongi sertifikat ISCG, standar internasional yang secara minyak bahan bakunya, process unit maupun produknya sudah tersertifikasi dan layak bisa digunakan sebagai bahan bakar pesawat terbang yang ramah lingkungan.
Ada dukungan apa lagi yang diharapkan ke stakeholder?
Betul bahwa Pertamina tidak bisa hadir sendiri. Butuh kolaborasi semua elemen, semua stakeholder, yang meliputi para pemasok (minyak nabati dan jelantah), produsen sudah siap memproduksi ini, dan calon konsumen yang akan menggunakan HVO atau SAF.
Lalu regulation, yang kami butuhkan regulasi dari pemerintah sebagai payung hukum supaya HVO dan SAF ini bisa dipakai secara sustain ke depannya dan menurunkan emisi yang luar biasa.
Kilang Pertamina Cilacap memproduksi avtur tertinggi di Indonesia, mencapai 18,44 juta barel per tahun. Pertamina juga kembangkan bioavtur untuk kurangi emisi. [271] url asal
Avtur merupakan salah satu hasil produksi kilang Pertamina di Unit IV Cilacap. Kilang Cilacap bahkan menyabet gelar sebagai kilang dengan produsen avtur tertinggi di Indonesia dengan capaian 18,44 juta barel per tahun.
Hal ini membuat total produksi avtur Pertamina jika digabung dengan kilang lainnya telah berhasil memenuhi kebutuhan nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Didik Bahagia saat ditemui di Kilang Cilacap, beberapa waktu lalu.
"Alhamdulillah kapasitas kilang Pertamina saat ini, untuk 2 produk diesel dan avtur itu bisa 100% memenuhi demand nasional. Jadi kita tidak ada impor lagi. Kita sudah swasembada untuk produk diesel dan avtur." kata Didik.
Tak berhenti di situ, Pertamina juga mengembang produk bioavtur atau green avtur demi menekan jumlah emisi yang dihasilkan. Melalui Green Refinery di Kilang Cilacap, saat ini Pertamina telah berhasil memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) dengan kandungan renewable 2.4%.
Dengan adanya campuran RBDPKO 2,4% pada avtur, maka artinya bisa mengurangi kebutuhan impor minyak mentah untuk produksi avtur berbasis fosil pada kilang dalam negeri. Bahkan di kawasan Regional Asia Tenggara saat ini hanya KPI yang berhasil melakukan produksi komersial bioavtur hingga uji terbang untuk pesawat komersial.
"Jadi kita sudah bisa memenuhi domestic demand untuk avtur dan diesel." kata Didik.
Adapun kapasitas produksi green avtur Pertamina di Kilang Cilacap saat ini sebesar 8.000 barel per hari dan green diesel sebesar 3.000 barel per hari. Kapasitasnya akan terus ditingkatkan dengan melihat kebutuhan pasar.
"Harus ada mandat regulasi dari pemerintah jelas, supaya SAF ini bisa diproduksi secara sustain dan bisa digunakan oleh maskapai-maskapai kita secara sustain dan real menurunkan emisi kita." kata Didik.
Pertamina melalui Green Refinery di Cilacap memproduksi sustainable aviation fuel yang ramah lingkungan, dengan komposisi lebih tinggi dari standar Singapura. [279] url asal
Lewat Green Refinery yang dibangun di Kilang Cilacap, Pertamina memproduksi bahan bakar yang semakin ramah lingkungan. Salah satu produk ramah lingkungan yang sudah dihasilkan adalah sustainable aviation fuel (SAF) yang juga disebut green avtur.
Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Didik Bahagia mengatakan, produk SAF Pertamina menjadi bukti keseriusan perusahaan mendukung energi bersih. Produk ini bahkan memiliki porsi bauran minyak nabati yang lebih banyak dibandingkan standar yang ditetapkan oleh Singapura.
"Saya dengar di Singapura pada 2026, semua pesawat menggunakan SAF 1%, Indonesia komposisinya 2,4%." kata Didik kepada detikcom di Cilacap, belum lama ini.
Seperti diketahui, Pemerintah Singapura bakal mewajibkan penerbangan yang berangkat dari negaranya menggunakan sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Sebagai permulaan, Singapura menyasar target penggunaan SAF sebesar 1% pada 2026.
Selain produk SAF J2.4, Pertamina juga akan mengembangkannya pada tahap II. Pada tahap ini, produk SAF Pertamina akan menggunakan bahan campuran minyak jelantah yang baurannya mencapai 3%.
"Itu akan dicampur lagi (minyak jelantah). SAF campurannya 2,5%, tapi kalau yang dengan minyak jelantah, berdasarkan hasil riset, akan lebih banyak lagi komposisinya. Jadi minyak jelantah 3%, 97% masih herosin, dicampur, akan menghasilkan SAF 3%." jelas Didik.
Produk SAF Pertamina sendiri diproduksi dengan teknologi Co-Processing dari bahan baku Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO), atau minyak inti sawit. Avtur dengan campuran 2,4% minyak inti sawit ini telah diuji coba pada beberapa jenis pesawat hingga pesawat komersial.
SAF telah berhasil digunakan dalam penerbangan komersil perdana Garuda Indonesia pada pesawat Boeing 737-800 NG. Hasil dari serangkaian pengujian yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional, namun lebih ramah lingkungan.
Pertamina disebut akan mengimpor minyak Rusia yang akan datang pada pertengahan September mendatang. Minyak tersebut dilaporkan akan diolah di Kilang Cilacap. [480] url asal
PT Pertamina (Persero) dikabarkan berencana mengimpor minyak mentah dari Rusia pada September mendatang. Reuters melaporkan bahwa Pertamina berencana mengimpor minyak Ural Rusia bersama dengan minyak mentah kualitas asam Kirkuk, Jubilee, Al Shakheen untuk Kilang Cilacap, untuk 15-17 September.
Pertamina juga disebut akan mengimpor minyak Sokol Rusia untuk tiba di Cilacap pada tanggal 18-20 September. Sesuai dengan tender minyak Sokol akan dipasok berdasarkan ketentuan CFR atau dikirim di pelabuhan.
Dikonfirmasi terkait hal ini, Corporate Secretary PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Hermansyah Y. Nasroen hanya mengatakan bahwa Pertamina dalam melakukan pembelian minyak mentah sesuai dengan kebutuhan atau spesifikasi masing-masing kilang.
“(Dan) sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk ketentuan internasional. Juga bila melakukan pembelian minyak mentah Rusia dilakukan dengan mekanisme price cap,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Kamis (25/7).
Sebagai informasi, pembelian yang dilakukan sesuai dengan pembatasan harga sebesar US$ 60 per barel ini memungkinkan para pengirim dan perusahaan asuransi dari negara-negara Barat untuk berpartisipasi dalam perdagangan minyak Rusia.
Pertamina telah absen membeli minyak Rusia selama bertahun-tahun. Terlebih mereka mengambil langkah mundur sejak dimulainya konflik militer Rusia-Ukraina pada 2022. Menurut data LSEG, Pertamina terakhir kali membeli minyak ESPO Blend dan Sokol dari Rusia lebih dari 10 tahun yang lalu.
Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia tidak pernah mengimpor minyak mentah dan gas dari Rusia sejak 2018. Impor migas dalam perhitungan data BPS terdiri atas minyak mentah, olahan minyak, dan gas.
Selama periode empat tahun antara 2018 hingga Agustus 2022, Indonesia hanya mengimpor migas dari Rusia dalam bentuk olahan minyak. Nilai dan volume impor olahan minyak pun turun signifikan pada 2022 di tengah perang antara Rusia dan Ukraina.
“Sejak 2018 hingga Agustus 2022 hanya impor hasil minyak. Khusus tahun 2022, hingga Agustus hanya mengimpor lubricating greases kode HS 27101944 pada Juli,“ dikutip dalam keterangan tertulis BPS, Kamis (15/9/2022).
Secara total sejak 2018, nilai impor olahan minyak dari Rusia mencapai US$ 67,8 juta. Nilai impor ini sebetulnya terus naik sejak 2018 dan mencapai tertinggi selama empat tahun pada 2021 sebesar US$ 44,8 juta.
Namun, nilainya turun signifikan pada 2022, sampai dengan Agustus hanya US$ 32 yakni berupa pembelian 1 Kg lubricating greases, sejenis produk pelumas.
Sanksi-sanksi Barat untuk sektor energi Rusia, termasuk embargo Uni Eropa terhadap minyak Rusia dan mekanisme pembatasan harga dijatuhkan untuk memaksa Rusia agar menghentikan invasinya ke Ukraina. Sanksi tersebut telah membuat Cina, India dan Turki menjadi pembeli utama minyak Rusia.
Di tengah sanksi tersebut, pada medio Agustus 2022 muncul wacana Indonesia membeli minyak Rusia setelah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, mengatakan bahwa Rusia telah menawarkan minyaknya kepada Indonesia.
“Rusia nawarin ke kita, eh lu mau enggak, India sudah ambil nih minyak kita, harganya 3% lebih murah daripada harga pasar internasional. Kalau buat teman-teman CEO Mastermind ambil gak? Ambil. Pak Jokowi pikir yang sama, ambil,“ kata Sandiaga seperti dikutip di akun Instagramnya, Sabtu (20/8/2022).
Produksi Green Refinery Cilacap antara lain adalah Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau bahan bakar dengan komponen nabati yang ramah lingkungan. [262] url asal
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai Subholding Refinery & Petrochemical Pertamina melanjutkan penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) Green Refinery Cilacap sebagai dukungan terhadap pencapaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 mendatang.
Menjadi salah satu program unggulan dalam transisi energi, Green Refinery Cilacap ditargetkan memproduksi Biofuel hingga 6 ribu barrel.
Corporate Secretary KPI, Hermansyah Y Nasroen mengatakan, produksi Green Refinery Cilacap berupa Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau bahan bakar dengan komponen nabati yang ramah lingkungan.
"Dengan kemampuan untuk mengolah sumber energi nabati, proyek Kilang Cilacap ini dapat memberikan nilai tambah bagi bangsa. Hal ini semakin diperkuat oleh pengalaman dan keahlian KPI di bisnis kilang, sejalan dengan perannya sebagai induk usaha kilang dan petrokimia Pertamina," kata Hermansyah.
Selain itu, Green Refinery Cilacap juga memproduksi produk bionafta dan bioavtur/Sustainable Aviation Fuel (SAF) dengan bahan baku minyak inti kelapa sawit yang telah melalui proses Refined, Bleached, and Deodorized sebelum diolah bersamaan dengan avtur fosil melalui metode co-processing.
Sebagai kilang terintegrasi yang sejalan dengan transisi energi, Kilang Cilacap ditargetkan dapat menambah kapasitas produksi dari 3 ribu barrel per hari menjadi 6 ribu barrel produk HVO, SAF, dan Bionafta dari Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.
Adapun unit baru dari Green Refinery Cilacap ini juga dilengkapi dengan sejumlah insfrastruktur termasuk Palm Oil Treater, Faractionator, dan fasilitas Offsite.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menilai, Green Refinery Cilacap berperan besar dalam energi transisi di Indonesia melalui produksi ramah lingkungan.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emission," kata Fadjar.
Proyek ini merupakan salah satu program unggulan dalam energi transisi, guna mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23% [493] url asal
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Refinery & Petrochemical Pertamina, terus melaju menyelesaikan 'Green Refinery Cilacap', sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan target kapasitas produk Biofuel hingga 6.000 barrel.
Proyek ini merupakan salah satu program unggulan dalam energi transisi, guna mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23% pada tahun 2025.
Corporate Secretary KPI Hermansyah Y Nasroen menjelaskan Green Refinery Cilacap dapat menjawab tantangan produk yang lebih ramah lingkungan, karena kilang ini dapat memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), atau bahan bakar dengan komponen nabati.
Selain itu, juga memproduksi produk bionafta dan bioavtur/Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang berbahan baku minyak inti kelapa sawit (yang telah melalui proses Refined, Bleached, and Deodorized) yang diolah bersamaan dengan avtur fosil melalui metode co-processing.
"Dengan kemampuan untuk mengolah sumber energi nabati, proyek Kilang Cilacap ini dapat memberikan nilai tambah bagi bangsa. Hal ini semakin diperkuat oleh pengalaman dan keahlian KPI di bisnis kilang, sejalan dengan perannya sebagai induk usaha kilang dan petrokimia Pertamina," ujar Hermansyah, dalam keterangan tertulis, Rabu (10/7/2024).
Foto: Pertamina
Kilang Cilacap sendiri merupakan contoh kilang terintegrasi yang sejalan dengan transisi energi. Proyek ini ditargetkan dapat menambah kapasitas produksi dari 3.000 barrel per hari menjadi 6.000 barrel produk HVO, SAF, dan Bionafta yang berasal dari Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.
Unit baru dari Green Refinery Cilacap ini juga akan dilengkapi dengan infrastruktur termasuk Palm Oil Treater, Faractionator, dan fasilitas Offsite.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menambahkan Green Refinery Cilacap memiliki peran besar dalam energi transisi di Indonesia sejalan dengan produk ramah lingkungan yang akan diproduksinya.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi Pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emission," jelas Fadjar.
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) merupakan anak perusahaan Pertamina yang menjalankan bisnis utama pengolahan minyak dan petrokimia sesuai dengan prinsip ESG (Environment, Social & Governance). KPI juga telah terdaftar dalam United Nations Global Compact (UNGC) dan berkomitmen pada Sepuluh Prinsip Universal atau Ten Principles dari UNGC dalam strategi operasional sebagai bagian dari penerapan aspek ESG.
KPI akan terus menjalankan bisnisnya secara professional untuk mewujudkan visinya menjadi Perusahaan Kilang Minyak dan Petrokimia berkelas dunia yang berwawasan lingkungan, bertanggung jawab sosial serta memiliki tata Kelola perusahaan yang baik.
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) membuka peluang investor untuk dapat masuk ke dalam proyek Green Refinery Cilacap. Saat ini Kilang Cilacap telah menyelesaikan proyek green refinery fase 1 dan akan dilanjutkan dengan pengembangan fase 2.
Fase 2 yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dari saat ini 3.000 barel per hari (bph) menjadi 6.000 bph, serta kemampuan untuk meningkatkan komponen nabati pada sustainable aviation fuel (SAF) dari 2,4% menjadi 100%.
Kilang ini adalah salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mencapai target pemerintah untuk bauran energi baru terbarukan (EBT) 23% pada 2025.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPI, Isnanto Nugroho mengatakan, keterbukaan KPI untuk menjaring mitra strategis bagi Green Refinery Cilacap.
“Kami pastikan bahwa proyek Green Refinery Cilacap masih berlanjut dan on track. Saat ini KPI tengah melaksanakan proses seleksi mitra strategis. Kami terbuka untuk bekerja sama dengan mitra potensial, di antaranya bank, lembaga kredit ekspor dan lembaga multilateral,” ujarnya melalui siaran pers, Rabu (10/7).
Isnanto mengatakan, perusahaan sangat membuka peluang kepada investor yang ingin melakukan kerjasama dalam pembangunan proyek raksasa Green Refinery Cilacap.
Ia menjelaskan, keunggulan Green Refinery Cilacap sebagai sasaran investasi. Keunggulan tersebut antara lain status proyek yang sudah dijadikan PSN sehingga didukung dengan kerangka kebijakan yang ada. "Selain itu Green Refinery Cilacap akan dibangun di lahan eksisting Pertamina," ujarnya.
Sementara itu, Corporate Secretary KPI, Hermansyah Y. Nasroen mengatakan, banyaknya nilai strategis Green Refinery Cilacap sebagai sasaran investasi.
"Green Refinery Cilacap dapat menjawab tantangan produk yang lebih ramah lingkungan, karena Kilang Cilacap dapat memproduksi HVO, SAF, dan bionafta,” ujarnya.
Selain itu, proyek tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi bangsa karena bermanfaat mengolah sumber daya biofuel di Indonesia yang melimpah. Hal ini semakin diperkuat mengingat KPI sebagai induk usaha kilang dan petrokimia Pertamina memiliki pengalaman dan keahlian di bisnis kilang.
Proyek yang ditargetkan menambahkan kapasitas produksi dari 3.000 bph menjadi 6.000 bph tersebut dialokasikan untuk memproduksi HVO, SAF, Bionafta yang berasal dari used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah.
"Unit baru dari Green Refinery Cilacap akan dilengkapi dengan infrastruktur termasuk palm oil treater, fractionator, dan fasilitas offsite," ujarnya. Kilang Cilacap sendiri merupakan contoh kilang terintegrasi yang sejalan dengan ambisi transisi energi Indonesia.
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Refinery & Petrochemical Pertamina, terus menggeber penyelesaian Green Refinery Cilacap, sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan target kapasitas produk biofuel hingga 6.000 barel.
Proyek ini merupakan salah satu program unggulan dalam energi transisi, untuk mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23% pada tahun 2025.
Corporate Secretary PT Kilang Pertamina Internasional Hermansyah Y Nasroen menjelaskan, Green Refinery Cilacap dapat menjawab tantangan produk yang lebih ramah lingkungan, karena kilang ini dapat memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), atau bahan bakar dengan komponen nabati.
Selain itu, kata Hermansyah, memproduksi produk bionafta dan bioavtur/Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang berbahan baku minyak inti kelapa sawit (yang telah melalui proses Refined, Bleached, and Deodorized) yang diolah bersamaan dengan avtur fosil melalui metode co-processing.
“Dengan kemampuan untuk mengolah sumber energi nabati, proyek Kilang Cilacap ini dapat memberikan nilai tambah bagi bangsa,” ujar Hermansyah dalam keterangan resmi, Rabu (10/7).
Kilang Cilacap merupakan contoh kilang terintegrasi yang sejalan dengan transisi energi. Proyek ini ditargetkan dapat menambah kapasitas produksi dari 3.000 barel per hari menjadi 6.000 barel produk HVO, SAF, dan Bionafta yang berasal dari Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah. Unit baru dari Green Refinery Cilacap ini juga akan dilengkapi dengan infrastruktur termasuk Palm Oil Treater, Faractionator, dan fasilitas offsite.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menambahkan, Green Refinery Cilacap memiliki peran besar dalam energi transisi di Indonesia sejalan dengan produk ramah lingkungan yang akan diproduksinya.
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Refinery & Petrochemical Pertamina terus melaju menyelesaikan “Green Refinery Cilacap. - Halaman all [388] url asal
JAKARTA, investor.id - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Refinery & Petrochemical Pertamina terus melaju menyelesaikan Green Refinery Cilacap, sebuah proyek strategis nasional (PSN) dengan target kapasitas produk biofuel hingga 6.000 barel. Proyek ini merupakan salah satu program unggulan dalam energi transisi, guna mewujudkan target pemerintah untuk bauran energi baru terbarukan (EBT) 23% pada tahun 2025.
Corporate Secretary KPI Hermansyah Y Nasroen menjelaskan, Green Refinery Cilacap dapat menjawab tantangan produk yang lebih ramah lingkungan, karena kilang ini dapat memproduksi hydrotreated vegetable oil (HVO), atau bahan bakar dengan komponen nabati. Selain itu, juga memproduksi produk bionafta dan bioavtur/sustainable aviation fuel (SAF) yang berbahan baku minyak inti kelapa sawit (yang telah melalui proses refined, bleached, and deodorized) yang diolah bersamaan dengan avtur fosil melalui metode co-processing.
“Dengan kemampuan untuk mengolah sumber energi nabati, proyek Kilang Cilacap ini dapat memberikan nilai tambah bagi bangsa. Hal ini semakin diperkuat oleh pengalaman dan keahlian KPI di bisnis kilang, sejalan dengan perannya sebagai induk usaha kilang dan petrokimia Pertamina,” ujar Hermansyah.
Kilang Cilacap sendiri merupakan contoh kilang terintegrasi yang sejalan dengan transisi energi. Proyek ini ditargetkan dapat menambah kapasitas produksi dari 3.000 barel per hari menjadi 6.000 barel produk HVO, SAF, dan Bionafta yang berasal dari used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah. Unit baru dari Green Refinery Cilacap ini juga akan dilengkapi dengan insfrastruktur termasuk palm oil treater, faractionator, dan fasilitas offsite.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menambahkan, Green Refinery Cilacap memiliki peran besar dalam energi transisi di Indonesia sejalan dengan produk ramah lingkungan yang akan diproduksinya.
“Proyek Green Refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju net zero emission,” jelas Fadjar.
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) merupakan anak perusahaan Pertamina yang menjalankan bisnis utama pengolahan minyak dan petrokimia sesuai dengan prinsip ESG (environment, social & governance). KPI juga telah terdaftar dalam United Nations Global Compact (UNGC) dan berkomitmen pada Sepuluh Prinsip Universal atau Ten Principles dari UNGC dalam strategi operasional sebagai bagian dari penerapan aspek ESG. KPI akan terus menjalankan bisnisnya secara professional untuk mewujudkan visinya menjadi perusahaan kilang minyak dan petrokimia berkelas dunia yang berwawasan lingkungan, bertanggung jawab sosial serta memiliki tata kelola perusahaan yang baik.