#30 tag 24jam
Mau Relokasi Pabrik ke RI, 15 Investor Taiwan Minta Kemudahan Investasi
Menteri Airlangga Hartarto mengungkapkan 15 investor Taiwan berencana relokasi pabrik ke Indonesia, dengan syarat kemudahan pembelian tanah dan energi hijau. [359] url asal
#jakarta-pusat #european #cptpp #esg-compliance #hydro #menteri-airlangga #purwakarta #pemerintah #european-union-comprehensive-economic-partnership-agreement #iue-cepa #mau-relokasi-pabrik #comprehensive
(detikFinance - Moneter) 01/11/24 20:00
v/17324202/
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sekitar 15 investor asal Taiwan berniat merelokasi pabriknya ke Indonesia. Mereka akan masuk jika beberapa persyaratan yang diminta sudah dipenuhi.
"Tadi Asosiasi Tekstil Taiwan datang dan mereka menyatakan punya keinginan untuk investasi di Indonesia karena beberapa dari mereka sudah investasi di Indonesia, di daerah Purwakarta. Permintaan mereka ada beberapa hal," kata Airlangga kepada wartawan di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (1/11/2024).
Persyaratan pertama yang diminta yakni, agar pembelian tanah di Indonesia bisa dilakukan lebih mudah. Dalam hal ini, Airlangga menawarkan investor tersebut untuk masuk ke kawasan industri.
"Tadi saya arahkan mereka untuk masuk kawasan karena kalau keluar kawasan mereka amdalnya lama, juga dua sampai tiga tahun hanya pematangan lahan. Tetapi kalau masuk kawasan itu akan menjadi mudah karena semuanya sudah selesai, baik amdal maupun lahan," tutur Airlangga.
Kedua, 15 investor tersebut meminta agar sumber energi hijau bisa tersedia di Indonesia, mengingat saat ini penggunaan energi hijau menjadi tuntutan global terutama di industri tekstil kelas atas.
Dalam hal ini, Airlangga memastikan bahwa sumber energi hijau di dalam negeri sudah tersedia.
"Di dalam ESG compliance itu energinya hijau. Energi hijau kan bisa dari gas, bisa dari hydro, bisa dari solar floating, di mana itu di Jawa Barat semuanya tersedia," terang Airlangga.
Ketiga, 15 investor yang menemui Airlangga juga meminta agar harga gas yang dipakai bisa mendapatkan harga kompetitif untuk mendukung operasional mereka. Pasalnya, para investor tersebut mengeluh tingginya harga gas yang bisa mencapai US$ 12 per MMBTU.
"Saya katakan kalau harganya US$ 9 per MMBTU, itu rata-rata industri dapat segitu. Jadi kalau mereka dapat di atas itu, mereka mesti sampaikan ke pemerintah, nanti pemerintah panggil-lah PGN atau siapa," jelasnya.
Keempat, para investor tersebut ingin mendapatkan pasar yang menguntungkan. Mereka menyebut bahwa saat ini keuntungan terbesar diperoleh melalui investasi di China dan Vietnam, terutama karena Vietnam memiliki perjanjian dagang European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUE-CEPA) dan Comprehensive and Progresive Trans-Pasific Partnership Agreement (CPTPP).
Oleh karena itu, mereka ingin Indonesia bisa melakukan percepatan penyelesaian IUE-CEPA dan CPTPP. "Itu komit kalau Indonesia bisa mendapatkan IUE-CEPA, itu mereka akan relokasi bahkan dari Vietnam ke Indonesia," ujar Airlangga.
(kil/kil)
Transisi Energi dengan BBM Rendah Emisi untuk Masa Depan yang Lebih Hijau
Penggunaan bahan bakar fosil perlahan dikurangi dengan memanfaatkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk menekan emisi. [1,535] url asal
#oki-muraza #fame #fuel #indonesia #hydrotreated-vegetable-oil #bioetanol-sorgum #bbm-rendah-emisi #pemerintah #fatty-acid-methyl-ester #karbon #penggunaan-bioetanol #bahlil-lahadalia #pertamina-renewable-diesel-d
(detikFinance - Energi) 30/10/24 14:20
v/17206024/
Jakarta - Penggunaan bahan bakar fosil perlahan dikurangi dengan memanfaatkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk menekan emisi. Langkah ini dilakukan PT Pertamina (Persero) dengan memproduksi bahan bakar ramah lingkungan menuju masa depan yang lebih hijau dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) demi kemandirian energi.
Presiden Prabowo Subianto dalam pidato pelantikan Minggu (20/10) lalu juga menargetkan swasembada energi dengan memaksimalkan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia.
"Kita harus swasembada energi dan kita mampu untuk swasembada energi, karena kita diberi karunia oleh Tuhan tanaman-tanaman yang membuat kita bisa tidak tergantung bangsa lain. Tanaman-tanaman seperti kelapa sawit bisa menghasilkan solar dan bensin, kita juga punya tanaman-tanaman lain seperti singkong, tebu, sagu, jagung, dan lain-lain," ujarnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, swasembada energi akan tercapai seiring dengan meningkatnya ketahanan energi nasional. Pemerintah mendorong pemanfaatan B50 dan B60 karena ketersediaan kelapa sawit sebagai bahan baku yang melimpah.
"Kalau ditanya bahwa itu cukup atau tidak, B35 sampai B40 itu kan kita habiskan kurang lebih sekitar 14 juta kiloliter. Nah, sementara ekspor kita kan masih banyak. Nah, kalau ditanya kapasitas Crude Palm Oil (CPO) kita cukup atau tidak, pasti cukup. Nah, tinggal kita lihat adalah teknologinya, teknologinya ini kan harus by process untuk kita uji coba. Agar ketika itu diimplementasikan, B50-B60 itu betul-betul sudah lewat uji coba yang baik," ujarnya.
Senior Vice President (SVP) Teknologi Inovasi PT Pertamina, Oki Muraza Foto: Ardan Adhi Chandra/detikcom |
Sebagai perusahaan energi terintegrasi (integrated energy company), Pertamina memproduksi bahan bakar ramah lingkungan sebagai upaya diversifikasi bahan baku yang tidak hanya bersumber dari fosil, tapi juga sumber alternatif seperti bioetanol, Fatty Acid Methyl Ester (FAME), Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO).
"(Pertama), Jadi ini diversifikasi untuk resources dan juga produk. Tidak hanya untuk bahan baku, tidak hanya minyak dan gas bumi, tapi juga sumber energi terbarukan, termasuk minyak nabati, terus sampah biomassa, dan circular economy. Kedua, tentu juga ada kebutuhan seiring sustainability dan juga untuk mendapatkan fuel dengan lower emission, jadi ini climate concern. Ketiga, karena kita BUMN, BUMN itu engine growth, kita berusaha inovasi selain untuk memperkuat ketahanan nasional, tapi juga untuk menciptakan sentra ekonomi baru, menciptakan lapangan pekerjaan. Keempat, kita butuh bisnis yang, ibaratnya kita sudah ada toolbox hydrocarbon economy, memberikan penghasilan sekian tahun, ada kilang, ada distribusi BBM, tapi sumber ini terbatas, jadi kita butuh another toolbox yang bioeconomy, yang masukannya bisa lebih ada di Indonesia barangnya EBT," kata Senior Vice President (SVP) Teknologi Inovasi PT Pertamina, Oki Muraza kepada detikcom, ditulis Rabu (30/10/2024).
Oki melanjutkan, Pertamina sudah memproduksi dan mendistribusikan empat BBM ramah lingkungan, antara lain, Pertamax Green 95, Biosolar, Pertamina Renewable Diesel, dan Bioavtur/Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF). Keempat BBM ramah lingkungan tersebut diproduksi dengan campuran produk ramah lingkungan, apa saja?
Pertama, Pertamax Green 95 merupakan bahan bakar hasil pengembangan energi terbarukan berupa Bioetanol yang berasal dari tanaman tebu yang bisa menekan emisi karbon dibandingkan BBM konvensional. Pertamax Green diluncurkan pertama kali pada Juli 2023 dan dijual di sejumlah SPBU Pertamina.
Kedua, Biodiesel yang merupakan campuran antara minyak nabati berupa Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan solar konvensional. Pada 2025, pemerintah menargetkan implementasi Biodiesel 40% (B40), yakni campuran solar dengan 40% bahan bakar nabati (BBN) berbasis minyak sawit dan harapannya bisa mencapai B100.
Ketiga, Pertamina Renewable Diesel D100 yang merupakan bahan bakar nabati ramah lingkungan yang dihasilkan dari Hydrotreated Vegetable Oil (HVO).
"Pertamina Renewable Diesel D100 sering disebut sebagai Pertamina RD yang merupakan bahan bakar nabati ramah lingkungan atau dikenal di pasar global sebagai Hydrotreated Vegetable Oil (HVO)," ujar Oki.
Mengutip dari situs Pertamina, Pertamina Renewable Diesel D100 diproduksi melalui proses hidrotreating yang canggih, yang mengubah bahan baku nabati menjadi bahan bakar diesel yang lebih bersih dan efisien. Proses ini memungkinkan PT Pertamina (Persero) untuk menciptakan produk yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memiliki kualitas yang setara atau bahkan lebih baik dari diesel konvensional.
Keempat, Bioavtur/Pertamina SAF merupakan bahan bakar pesawat terbang alternatif yang berasal dari sumber daya alam terbarukan, seperti minyak nabati, lemak hewan, atau limbah biomassa.
"Saat ini Pertamina telah mampu memproduksi bioavtur yang dibuat dari campuran avtur dan turunan kelapa sawit (Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil/RBDPKO) 2,4% melalui metode co-processing di kilang RU IV Cilacap," tutur Oki.
Infografis BBM Ramah Lingkungan Pertamina Foto: Dok. Tim Infografis - Zaki Alfarabi/detikcom |
Produksi Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Oki menjelaskan, produksi BBM ramah lingkungan Pertamina melibatkan beberapa teknologi dan tahapan utama yang memungkinkan untuk mengubah sumber daya terbarukan seperti minyak nabati, limbah organik, atau biomassa menjadi bahan bakar yang dapat digunakan untuk kendaraan dan industri.
"Untuk memastikan ketersediaan pasokannya, pengembangan bahan bakar ramah lingkungan ini harus diikuti dengan pengembangan infrastruktur bahan bakunya. Termasuk bagaimana melakukan diversifikasi bahan baku dan tentunya perlu dukungan kebijakan yang kondusif dari pemerintah untuk tetap menjaga iklim investasi bahan bakar ramah lingkungan," jelas Oki.
Untuk mencapai target bauran EBT dan nol emisi (Net Zero Emission/NZE) 2060, Pertamina berkomitmen untuk terus mengembangkan dan memproduksi bahan bakar ramah lingkungan. Oki mengatakan, pihaknya akan terus mendorong peningkatan porsi biokomponen dalam campuran bahan bakar.
Selain bioetanol yang sudah digunakan sebagai campuran dalam Pertamax Green 95, biokomponen biodiesel dari kelapa sawit, biokomponen dari minyak sawit, dan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO), Pertamina juga terus mengembangkan riset potensi dari biokomponen dari minyak nabati lainnya seperti minyak malapari, kepuh, nyamplung, jarak pagar, atau bahkan alga.
"Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, selain minyak kelapa sawit yang menjadi bahan baku saat ini, Pertamina juga membidik beberapa alternatif bahan baku untuk biofuel yang lebih berkelanjutan, antara lain minyak goreng bekas (waste cooking oil), lemak hewani (animal fat), minyak alga (algae oil), minyak-minyak nabati non edible oil termasuk sumber-sumber biomassa dari limbah pertanian dan kehutanan seperti sekam padi, bagas, tandan sawit kosong, dan lain-lain," kata Oki.
Oki menambahkan, setiap bahan baku, baik dari minyak kelapa sawit, sorgum, hingga bahan lain seperti minyak goreng bekas atau alga pada dasarnya memiliki proses produksi yang spesifik untuk diubah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Sebagai contoh, Biodiesel adalah bahan bakar yang dihasilkan dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses transesterfikasi. Sedangkan Bioetanol adalah bahan bakar yang dihasilkan dari fermentasi gula atau pati yang terdapat dalam tanaman seperti sorgum, tebu, atau jagung.
BBM B40 diujicoba untuk kendaraan roda empat. B40 merupakan bahan bakar biodiesel campuran minyak sawit 40%. Foto: Rifkianto Nugroho |
Inovasi Bioetanol Berbahan Sorgum
Pertamina juga melakukan inovasi Bioetanol berbahan dasar sorgum. Oki mengatakan, sorgum merupakan salah satu tanaman yang menjanjikan sebagai bahan baku bioetanol. Ketahanan sorgum terhadap kekeringan dan berbagai jenis tanah membuatnya cocok untuk dibudidayakan di berbagai wilayah. Sorgum memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, terutama pada bagian batangnya, sehingga potensial untuk dikonversi menjadi bioetanol.
"Pada tahun ini, Pertamina telah melakukan uji coba penggunaan bioetanol 100% (E100) dari sorgum pada kendaraan Toyota Flex Fuel Vehicle (FFV). Hasil uji coba menunjukkan performa yang baik dan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil," tutur Oki.
Oki mengatakan, Bioetanol yang berasal dari molase sorgum sangat berpotensi dikembangkan di Indonesia diiringi dengan budi daya tanaman dan pengembangan infrastruktur pengolahan. Sorgum dinilai lebih unggul daripada tebu karena kebutuhan air dan pupuk yang lebih sedikit. Pihaknya bekerja sama dengan Universitas Mataram dalam membudidayakan sorgum untuk menjamin pasokan sebagai bahan baku bioetanol.
"Jadi kami ada kerja sama dengan Universitas Mataram, kami coba budi daya di sana dan ini kami akan melakukan scale up yang lebih besar untuk NTB dan NTT, ini masih on going. Harapannya dengan scale up ini kita nanti bisa lebih dapat nih bagaimana implementasinya," ujar Oki.
Tanaman sorgum Foto: ANTARA FOTO/Syaiful Arif |
Bagaimana bioetanol sorgum diolah? Oki menjelaskan, ada tiga bagian dalam tanaman sorgum, yaitu bulir, batang, serta daun dan pelepah. Bulir bisa dijadikan tepung, batang yang mirip tebu bisa diperas dan niranya difermentasi menjadi bioetanol, kemudian daun dan pelepah yang bisa dijadikan pakan ternak.
"Kemudian, batangnya ini mirip tebu, jadi kita peras dan kita bisa niranya ini kita fermentasi dapat bioetanol, kami sudah showcase GIASS sorgum batangnya kita peras dan dapat bioetanol kita sudah tes juga di flexi fuel milik dari kolaborator kami Toyota dan itu sudah sukses," kata Oki.
Oki menjawab bagaimana bahan bakar ramah lingkungan (biofuel) bisa menekan emisi. Pada dasarnya, bahan bakar ramah lingkungan terbuat dari sumber-sumber terbarukan seperti minyak nabati atau limbah pertanian. Ketika biofuel dibakar, CO2 yang dilepaskan ke atmosfer sebenarnya setara dengan CO2 yang diserap tanaman selama masa pertumbuhannya melalui proses fotosintesis.
Tujuan jangka panjang Pertamina dalam memproduksi bahan bakar ramah lingkungan mencakup berbagai aspek, mulai dari mengurangi emisi karbon, mendukung transisi energi nasional, hingga menciptakan daya saing pasar global.
"Dengan fokus pada keberlanjutan, diversifikasi sumber energi, dan inovasi teknologi, Pertamina berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi global dalam memerangi perubahan iklim serta menjaga ketahanan energi dan keberlanjutan bisnis di masa depan," jelas Oki.
(ara/ara)
Arkora Hydro (ARKO) Targetkan Pembangkit Listrik Yaentu Produksi 62,5 GWh per Tahun
Pembangkit Listrik Yaentu milik Arkora Hydro (ARKO) telah beroperasi dengan COD dengan kapasitas 10 MW [443] url asal
#pembangkit-listrik #arkora-hydro #pt-arkora-hydro-tbk-arko #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Industri) 30/10/24 09:34
v/17191900/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembangkit Listrik Yaentu milik PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) telah dinyatakan dapat beroperasi dengan Commercial Operation Date (COD) pada 16 Oktober 2024 sesuai dengan kontrak yang berlaku.
Pernyataan itu didapatkan setelah Pembangkit Listrik Yaentu melewati proses commissioning, termasuk pengujian keandalan turbin selama 3x24 jam.
Presiden Direktur ARKO Aldo Artoko mengatakan, proyek Yaentu memanfaatkan aliran sungai langsung (run-of-river) berkapasitas sebesar 10 MW (2 x 5 MW) di Poso, Sulawesi Tengah.
Dengan demikian, proyek Yaentu merupakan pembangkit listrik ketiga yang beroperasi di bawah ARKO dengan estimasi produksi listrik terbesar, yakni mencapai 62,476 MWh per tahun.
“Ini berkontribusi sebesar 35,4% dari total estimasi produksi listrik ARKO pada tahun 2025,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (30/10).
Proyek Yaentu memiliki kontrak jual-beli atau Power Purchase Agreement (PPA) selama 25 tahun di bawah skema Business-Own-Operate-Transfer (BOOT) dengan PT PLN (Persero).
Listrik yang diproduksi oleh proyek Yaentu mengaliri saluran distribusi listrik wilayah Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo). Sehingga, dapat digunakan oleh masyarakat, industri, serta fasilitas publik yang berada di Suluttenggo.
Dengan beroperasinya proyek Yaentu, ARKO juga akan semakin berperan dalam mendukung Pemerintah dalam mencapai target Net Zero Emission pada 2060.
“Sejak tahun 2017 hingga 2023, ARKO berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak kurang lebih 323.473 ton CO2eq dan akan berkontribusi dalam reduksi emisi gas rumah kaca sebesar kurang lebih 134.988 ton CO2eq per tahunnya,” katanya.
Menurut Aldo, dengan beroperasinya proyek Yaentu, ARKO akan semakin mengokohkan komitmen dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT), sehingga Indonesia menjadi selangkah lebih maju dalam upaya transisi energi.
“Beroperasinya proyek Yaentu menjadi bukti bahwa Perseroan mampu mengeksekusi dengan baik apa yang telah dipercayakan PLN kepada kami,” ungkapnya.
ARKO juga masih melanjutkan proyek pembangkit listrik yang tengah berjalan, seperti proyek Kukusan dan proyek Tomoni. Masing-masing progres konstruksinya sudah mencapai 39,8% dan 7,9% pada September 2024 dan diperkirakan selesai pada semester II 2025 dan semester I 2026,” tuturnya.
Dari segi finansial, Proyek Yaentu juga mulai berkontribusi terhadap peningkatan kas dari pelanggan, sehingga memperkuat arus kas Perseroan serta membantu pengembangan bisnis berkelanjutan dalam jangka panjang.
Dengan demikian, ARKO mampu menambah dan mengeksekusi pipeline yang telah mencapai 261,2 MW di berbagai wilayah di Indonesia.
“Ke depannya, kami akan terus menjaga komitmen untuk menerangi Indonesia berbasiskan energi bersih terutama dari tenaga air dengan cara terus mengembangkan semakin banyak lagi proyek pembangkit listrik EBT di Indonesia,” tutupnya.
Grup UNTR Arkora (ARKO) Bidik Proyek PLTA 150 Megawatt di Kalimantan
PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) membidik dua proyek baru dengan kapasitas total 150 megawatt di Kalimantan. [348] url asal
#arkora-hydro #arko #pembangkit-listrik #plta #grup-untr #united-tractors #kalimantan #proyek-plta #pln #proyek-pln #pltmh #saham-arko #astra #grup-astra
(Bisnis.Com - Market) 18/07/24 12:55
v/11178390/
Bisnis.com, JAKARTA — Entitas United Tractors PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) membidik dua proyek baru dengan kapasitas total 150 megawatt di Kalimantan.
Head of Investor Relation Arkora Hydro Nicko Yosafat mengungkapkan saat ini ARKO sedang mengikuti tender dari PLN untuk dua proyek di Kalimantan Barat dan Tengah dengan total kapasitas mencapai 150 megawatt.
“Masih proses tender, timeline belum tahu. Project kerja sama dengan PLN karena PLN butuh pasokan tambahan listrik di Barat dan Tengah,” kata Nicko di Gedung Bursa Efek, Kamis (18/7/2024).
Secara lebih rinci, Nicko menjelaskan proyek di Kalimantan Barat merupakan pembangunan 1 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas sebesar 50 megawatt. Proyek ini dicanangkan PLN karena melihat masyarakat Kalimantan Barat justru melakukan impor listrik dari Malaysia.
Kemudian proyek Kalimantan Tengah memiliki total kapasitas hingga 100 megawatt. Nicko mengatakan jika proyek ini jalan maka akan menjadi PLTA dengan kapasitas terbesar yang dimiliki oleh ARKO.
Sebelumnya, ARKO berencana menaikkan produksi listrik hingga 129 gigawatt per hour (GWh) sepanjang 2024 seiring dengan beroperasinya proyek Yaentu.
Direktur Utama Arkora Hydro Aldo Artoko menyebutkan produksi listrik Arkora akan bertambah seiring dengan beroperasinya Proyek Yaentu pada akhir Juni 2024. Proyek tersebut akan beroperasi setengah tahun dengan total produksi sebesar 29 GWh.
“Untuk dua Proyek yang sudah ada yaitu Cikopo dan Tomasa itu sekitar 100 GWh, maka seluruhnya mungkin sekitar 129 GWh,” kata Aldo kepada Bisnis, Kamis (14/3/2024).
PLTMH Yaentu yang memiliki nilai investasi sebesar Rp255 miliar diharapkan akan beroperasi pada kuartal II/2024. Proyek Yaentu berlokasi di Poso, Sulawesi Tengah memiliki kapasitas sebesar 10 MW.
Produksi listrik total dari PLTMH ARKO pada tahun 2024 mencapai 29 GWh, dengan perkiraan produksi tahunan sebesar 61,3 GWh untuk tahun-tahun berikutnya.
Selain Proyek Yaentu, ARKO juga tengah mengembangkan Proyek Kukusan dan ditargetkan beroperasi pada 2025. Proyek Kukusan yang ditargetkan beroperasi secara komersial pada Kuartal III/2025 nantinya akan menyumbang kapasitas produksi sebesar 33 GWh per tahun.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



