JAKARTA, investor.id – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) membukukan pelemahan kinerja secara kuartalan pada kuartal II-2024, namun membaik secara tahunan. Lantas, bagaimana prospek Sido Muncul dan sahamnya?
Pada kuartal II-2024, pendapatan Sido Muncul turun 20% qoq menjadi Rp 843 miliar akibat penurunan penjualan secara musiman, terutama di segmen herbal dan suplemen (-22% qoq) serta segmen makanan dan minuman (-19% qoq).
“Hanya segmen farmasi yang menunjukkan pertumbuhan stabil sebesar 18% qoq menjadi Rp 36 miliar, tapi kontribusinya sangat kecil sebesar 3%,” tulis analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama dalam risetnya.
Adapun segmen herbal dan suplemen menjadi kontributor utama Sido Muncul dengan porsi 60%. Sedangkan segmen makanan dan minuman menyumbang 38% terhadap total penjualan emiten berkode saham SIDO tersebut.
Secara tahunan, SIDO mendapat momentum pemulihan penjualan yang kuat dengan pertumbuhan 12,9% yoy pada kuartal II-2024 dibandingkan kuartal II-2023 yang hanya tumbuh 2% yoy.
SIDO juga mencatatkan perbaikan margin laba usaha menjadi 32% pada kuartal II-2024 dibandingkan 26% pada kuartal II-2023. Laba usaha melonjak 38,6% yoy menjadi Rp 268 miliar, karena biaya umum dan administrasi turun 15,2% yoy menjadi Rp 53 miliar, serta beban lain-lain terpangkas 81,5% yoy menjadi Rp 5 miliar.
Selain itu, cost to revenue segmen herbal dan suplemen turun menjadi 18% dari 20%. Sedangkan cost to revenue segmen makanan dan minuman turun menjadi 23% dari 24%. Biaya bahan baku melonjak 27,6% menjadi Rp 302,7 miliar dan COGS relatif tetap stabil dengan peningkatan 3,5% menjadi Rp 365 miliar.
Selanjutnya, margin laba bersih pada kuartal II-2024 meningkat menjadi 26% dari 20% pada kuartal II-2023. Itu disebabkan oleh efek dasar yang rendah dari penurunan tajam hingga 49,6% pada kuartal II-2023 menjadi Rp 148 miliar. Alhasil, laba bersih melesat 47,5% yoy menjadi Rp 218 miliar.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
SIDO juga mencetak peningkatan pendapatan sebesar 15% yoy menjadi Rp 1,9 triliun pada semester I-2024. “Karena berhasil menjaga HPP yang rendah – naik 2% yoy – laba kotor perseroan melonjak 26% yoy menjadi Rp 1,1 triliun dengan GPM 58,2% pada semester I-2024.
“Lompatan itu sangat kontras dengan pertumbuhan laba kotor yang buruk pada semester pertama sebelumnya,” ungkap Ezaridho.
Lompatan juga terjadi pada laba bersih SIDO semester I-2024, dengan kenaikan 36% yoy menjadi Rp 608,5 miliar. Tahun-tahun sebelumnya lebih lemah dengan pertumbuhan hanya 1% yoy pada semester I-2023 dan -11% pada semester I-2022.
Ke depan, menurut Ezaridho, pasar luar negeri bakal menjadi pendorong yang kuat untuk pertumbuhan SIDO. Ekspor pada semester I-2024 berkontribusi 8% terhadap total penjualan dengan pertumbuhan 73% yoy. Tiga kontributor utama adalah Malaysia (4%), Nigeria (1-2%), dan Filipina (1-2%).
Pada semester II-2024, SIDO menargetkan untuk masuk ke negara lain di Asean, yaitu Vietnam, mengingat pasar Malaysia dan Filipina telah menunjukkan penetrasi dan pertumbuhan pasar yang stabil.
Dengan berbagai faktor tersebut, NH Korindo Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham Sido Muncul alias SIDO. Target harga saham SIDO dinaikkan menjadi Rp 750.
Target harga baru itu mengimplikasikan rata-rata P/E dynamicforward 3 tahun sebesar 20,9 kali. Risiko utamanya jika permintaan di pasar luar negeri lesu pada semester II-2024, biaya penjualan dan pemasaran lebih tinggi, dan permintaan pada musim hujan yang lebih lemah dari perkiraan.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News