#30 tag 24jam
RSUD Konawe Berdiri Lebih dari Tiga Dekade, dari Zaman Soeharto Hingga Jokowi
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Konawe telah melewati beragam tranformasi dari masa ke masa. [851] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #kabupaten-konawe #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan #rsud-konawe
(Kontan - Terbaru) 19/09/24 18:46
v/15243141/
RSUD Konawe Berdiri Lebih dari Tiga Dekade, dari Zaman Soeharto Hingga Jokowi

Reporter: Akmalal Hamdhi
Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – KONAWE. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Konawe telah melewati beragam tranformasi dari masa ke masa. Lebih dari tiga dekade, RSUD Konawe menjadi pelayan bagi kebutuhan medis di tanah Sulawesi Tenggara.
Di balik tampilannya yang kini megah dan modern bak hotel berbintang, RSUD Konawe ternyata menyimpan sejarah panjang yang belum banyak diketahui. Tak hanya bangunannya saja yang berubah, nama dan pengelolaannya juga sudah pernah berganti.
Sejarah mencatat bahwa Rumah Sakit (RS) milik Kabupaten Konawe ini berdiri pada tanggal 27 Agustus 1988. Pada masa itu, peresmian dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia ke-2 yakni Soeharto.
Pada awalnya, RSUD Konawe dikenal oleh masyarakat dengan nama Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten Kendari. Hal tersebut karena daerah Konawe kala itu masih bernama Kabupaten Kendari.
Status RSU Kendari pun masih bertipe D dengan pelayanan dan fasilitas yang belum begitu memadai saat itu. Barulah setelah 9 tahun beroperasi, status RS naik menjadi tipe C pada tahun 1997.
Kemudian, perubahan besar terjadi saat Kendari menjadi kota madya dan membuat Konawe menjadi kabupaten tersendiri. Hal tersebut tertuang pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2004 Tentang Perubahan Nama Kabupaten Kendari Menjadi Kabupaten Konawe.
Wilayah Kabupaten Daerah Tk. II Kendari berubah nama menjadi Kabupten Konawe dengan ibukota Unaaha pada tanggal 28 September 2004 Alhasil, RSU Kendari yang bertempat di Kecamatan Unaaha menjadi aset dari Kabupaten Konawe yang kemudian dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Konawe.
Seiring berjalannya waktu, RSUD Konawe mulai beralih ke proses Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sejak tahun 2010. Hingga akhirnya pada 2014, RSUD Konawe statusnya sudah menjadi BLUD secara penuh atau sekarang dikenal sebagai BLUD RS Konawe.
Bersamaan dengan perubahan status pengelolaan tersebut, RSUD Konawe juga diperjuangkan untuk bertransformasi. Di bawah kepemimpinan Bupati Konawe, Kery Saiful Konggasa, pembangunan rumah sakit baru menjadi salah satu janji paling dinanti oleh masyarakat Konawe.
Tahun 2014, Pemda Konawe mengajukan pinjaman ke Pusat Investasi Pemerintah (PIP) yang kemudian satuan kerja tersebut dilebur ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Permohonan pinjaman kepada PT SMI meminta persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Namun, pemda Konawe baru mendapat kepercayaan dari PT SMI untuk pembangunan rumah sakit pada tahun 2016. Kucuran dana dari PT SMI kepada RSUD Konawe tercatat sebesar Rp 231 miliar yang pinjamannya mulai tahun 2016 dengan tenor 8 tahun.
Pada 17 Februari 2017, Kery Saiful secara resmi membuka acara penancapan tiang panjang rumah sakit. Pembangunan tersebut ditargetkan selesai dalam jangka waktu 18 bulan dan dikerjakan oleh kontraktor BUMN yakni PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP).
Direktur BLUD RS Konawe Abdul Rahman Matta menuturkan, pembangunan RSUD Konawe akhirnya rampung pada tahun 2018 dan diresmikan langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani tepatnya pada tanggal 29 Agustus 2018. Sementara itu, terkait pelunasan pinjaman kepada PT SMI diakui telah diselesaikan tahun ini.
"Alhamdulillah, kami dibantu dana pinjaman dari PT SMI. Sehingga, jadilah gedung seperti yang bisa kita lihat saat ini,” ungkap Pria yang akrab disapa Dokter Boby tersebut kepada Kontan.co.id, Selasa (10/9).
Adapun pembiayaan berbentuk pinjaman daerah tersebut dipergunakan untuk membiayai pekerjaan fisik pembangunan gedung pelayanan kesehatan dan rawat inap, serta pengadaan alat kesehatan.
Dokter Bobby yang juga merupakan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Konawe mengungkapkan, fasilitas layanan kesehatan di RSUD Konawe pun kian lengkap usai dikunjungi oleh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) pada 14 Mei 2024 lalu.
Di samping meninjau pelayanan, alat kesehatan hingga fasilitas di RSUD Konawe, Jokoei turut mengirimkan alat-alat kesehatan yakni cath lab, CT Scan, mammogram, serta beberapa peralatan terkait kesehatan ibu dan anak.
Ke depan, Boby mengharapkan adanya tambahan ruang rawat inap dan tempat tidur di RSUD Konawe. Keinginan tersebut karena melihat tingkat keterisian RSUD Konawe cukup tinggi pada waktu-waktu tertentu yang seringkali membuat pasien harus menunggu bergantian untuk mengisi kamar.
"Kami mengharapkan tambahan dari ruang rawat inap tersebut. Selain itu, kami menghimbau masyarakat untuk lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalaupun memang terpapar sakit, maka diharapkan untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat,’’ imbuh Boby.
Adapun RSUD Konawe memilki enam gedung utama dan tiga gedung penunjang. Secara rinci, Gedung A berfungsi untuk tempat Instalasi Gawat Darurat (IGD), kebidanan, poli dan bedah sentral.
Gedung B berfungsi untuk poli klinik dan rekam medik. Gedung C berfungsi untuk laboratorium, radiologi dan medical check-up.Sementara itu, Gedung D berfungsi untuk apotek dan ruang rawat inap. Sedangkan, Gedung E dan F semuanya khusus diperuntukkan untuk rawat inap pasien.
RSUD Konawe memiliki daya tampung lebih dari 450.000 orang. Rumah sakit ini menjadi Rumah Sakit Rujukan Regional yang melayani empat kabupaten, yaitu Kabupaten Konawe, Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Konawe Utara.
Rujukan regional ini menunjukan bahwa RSUD Konawe bisa dibilang kualitasnya setara dengan rumah sakit provinsi. Adapun RSUD Konawe merupakan rumah sakit tipe C dan mendapatkan akreditasi sebagai RS Bintang Lima atau setara tingkat Paripurna, setelah dinyatakan lulus akreditasi paripurna oleh Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (LAM-KPRS)
Punya Alat Lengkap dan Canggih, RSUD Konawe Jadi Andalan Masyarakat Konawe
RSUD Konawe memiliki peranan penting bagi pelayanan kesehatan di Kabupaten Konawe dan sekitarnya. [453] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #kabupaten-konawe #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan #rsud-konawe
(Kontan) 17/09/24 19:22
v/15140974/
Punya Alat Lengkap dan Canggih, RSUD Konawe Jadi Andalan Masyarakat Konawe

Reporter: Akmalal Hamdhi
Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – KONAWE. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Konawe memiliki peranan penting bagi pelayanan kesehatan di Kabupaten Konawe dan sekitarnya. Kelengkapan alat kesehatan dan pelayanannya menjadi andalan bagi masyarakat Konawe, Sulawesi Tenggara.
Direktur BLUD RS Konawe Abdul Rahman Matta mengungkapkan, RSUD Konawe memang telah menjadi kepercayaan bagi masyarakat kabupaten Konawe. Hal itu karena sarana dan prasarana cukup lengkap dan canggih untuk melayani berbagai keluhan kesehatan masyarakat Konawe.
Bahkan, RSUD Konawe menjadi rumah sakit rujukan regional yang melayani empat kabupaten sekitar yakni Kolaka Timur, Konawe Selatan, Konawe Utara dan Konawe. Selain dari rujukan rumah sakit, RSUD Konawe juga menerima rujukan pasien dari 29 puskesmas yang berada di Kabupaten Konawe.
Rujukan regional ini menunjukan bahwa RSUD Konawe bisa dibilang kualitasnya setara dengan rumah sakit provinsi. Adapun RSUD Konawe merupakan rumah sakit tipe C dan mendapatkan akreditasi sebagai RS Bintang Lima atau setara tingkat Paripurna.
Abdul Rahman atau akrab dengan sapaan Dokter Boby mengatakan, saat ini RSUD Konawe memiliki sekitar 204 kamar tidur. Sementara itu, tingkat keterisian RSUD Konawe terbilang tinggi yang diklaim mencapai 80%.
Adapun RSUD yang dikelola melalui skema Badan Layanan Umum (BLU) ini memilki enam gedung utama dan tiga gedung penunjang. Gedung A berfungsi untuk tempat Instalasi Gawat Darurat (IGD), kebidanan, poli dan bedah sentral.
Sementara itu, Gedung B berfungsi untuk poli klinik dan rekam medik. Gedung C berfungsi untuk laboratorium, radiologi dan medical check-up. Kemudian, Gedung D berfungsi untuk apotek dan ruang rawat inap.Sedangkan, Gedung E dan F semuanya khusus diperuntukkan untuk rawat inap pasien.
‘’Memang juga ada beberapa pasien yang dirujuk dari kabupaten sebelah seperti Kolaka Timur. Karena memang kami memiliki beberapa prasarana yang bisa diandalkan seperti unit cuci darah atau hemodialisa, dan kami juga memiliki pemeriksaan CT Scan,’’ ujar dokter Boby saat diwawancarai Kontan.co.id, Selasa (10/9).
Dokter Boby menambahkan, fasilitas layanan kesehatan di RSUD Konawe pun kian lengkap usai dikunjungi oleh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) pada 14 Mei 2024 lalu. Selain agenda berkunjung, Jokowi turut mengirimkan alat kesehatan yakni cath lab, CT Scan, mammogram, serta beberapa peralatan terkait kesehatan ibu dan anak.
Ke depan, Boby berharap adanya tambahan ruang rawat inap dan tempat tidur di RSUD Konawe. Hal itu karena tingkat keterisian RSUD Konawe cukup tinggi pada waktu-waktu tertentu yang seringkali membuat pasien harus menunggu bergantian untuk mengisi kamar.
"Kami mengharapkan tambahan dari ruang rawat inap tersebut. Selain itu, kami menghimbau masyarakat untuk lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalaupun memang terpapar sakit, maka diharapkan untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat,’’ imbuh Boby.
Kereta Api Makassar-Parepare Turut Sokong Pariwisata Sulawesi Selatan
Kereta api Makassar-Parepare turut mendukung pariwisata di Sulawesi Selatan. [1,271] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #perkeretaapian #infrastruktur-perkeretaapian #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-ker
(Kontan - Terbaru) 29/08/24 17:25
v/14810195/
Kereta Api Makassar-Parepare Turut Sokong Pariwisata Sulawesi Selatan

Reporter: Lidya Yuniartha
Editor: Lidya Yuniartha
KONTAN.CO.ID - MAROS. Waktu belum menunjukkan pukul 11.00 WITA, tetapi Windy dan teman-temannya sudah sampai di Stasiun Mandai, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/8). Dia dan ketiga temannya ingin mencoba berwisata ke Kabupaten Barru dengan menggunakan kereta api Makassar-Parepare.
Walaupun kereta tersebut baru dijadwalkan berangkat pukul 12.35 WITA, mereka sengaja datang lebih awal agar tak kehabisan tiket seperti beberapa hari sebelumnya.
Kereta ini memang hanya memiliki 2 jadwal keberangkatan dari Stasiun Mandai per harinya. Bahkan, kapasitasnya hanya sekitar 275 penumpang, baik yang duduk maupun berdiri. Sudah datang satu setengah jam lebih awal saja, Windy dan rombongannya tetap tak berhasil mendapatkan tempat duduk, mereka terpaksa harus berdiri sepanjang perjalanan.
“Tadi kami diberitahu dapat tiket yang berdiri. Ini pun kami sudah dapat tiket yang terakhir,” terang Windy.
Windy mengaku ini menjadi pengalaman pertamanya naik kereta api Makassar-Parepare. Berbekal informasi yang didapatkannya dari media sosial, dia ingin menjajal kereta api ini sekaligus berwisata. Dia tak menyangka bahwa peminat kereta ini membludak.
“Ini kedua kali kami ke sini. Rabu lalu, kami juga sudah ke sini untuk mencoba naik kereta untuk jalan-jalan. Waktu itu kami datang jam 11.30 WITA, dan tiketnya sudah habis. Kami pikir seharusnya sepi karena hari kerja, ternyata tetap ramai. Akhirnya kami pulang,” terang Windy.
Dia melanjutkan, mereka datang dari Makassar dengan menggunakan sepeda motor. Sepeda motor tersebut diparkir sementara di Stasiun Mandai, Nantinya, mereka akan kembali dengan menumpangi kereta yang sama lantaran sudah mengantongi tiket pulang.
Berdasarkan rencana, sesampainya di Barru, mereka akan mencari tempat yang bisa disambangi. Ada waktu sekitar 3 jam yang bisa dimanfaatkan, mengingat kereta dari Barru akan berangkat pukul 17:51 WITA.
Kereta api menjadi moda pilihan karena waktu tempuh yang lebih cepat dan harga yang lebih terjangkau. Menurut mereka, bila menggunakan sepeda motor atau mobil, waktu tempuh ke Kabupaten Barru bisa mencapai 3 jam, bahkan bisa lebih karena akhir minggu. Sementara, dengan kereta api, waktu tempuhnya bisa kurang dari dua jam. Tak hanya itu, mereka juga berharap bisa lebih menikmati perjalanan dengan pemandangan yang disajikan.
Bukan hanya Windy dan teman-temannya, di saat yang sama, Fitri Wahyuni pun akan memanfaatkan kereta api ini untuk berwisata dengan romobongannya. Dia bersama 14 orang lain, telah merancang perjalanan ini sejak beberapa hari yang lalu.
Dia mengaku berhasil mendapatkan 10 tiket duduk, meski 5 orang lainnya harus berdiri. “Tadi pukul 10.00 WITA sudah ada yang siap di sini. Jadi sudah ada yang mewakili untuk membeli tiket,” kata Fitri.
Ini juga menjadi pengalaman Fitri menaiki kereta api ini walaupun merupakan warga sekitar. Namun, berbeda dengan Windy dan teman-temannya, mereka hanya ingin merasakan naik kereta api ini tanpa menyambangi tempat lain di Barru. Apalagi, menurutnya, mereka belum terlalu familiar dengan daerah tersebut.
“Seandainya pemerintah daerah Barru melakukan promosi, kami ke sana bukan hanya untuk pulang-pergi saja, tapi juga bisa bermalam atau kami bisa jalan pagi dari sini, pulangnya sore,” ujar Fitri.
Menghubungkan dengan destinasi wisata Sulsel
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulawesi Selatan Muhammad Arafah mengatakan, adanya kereta api Trans Sulawesi ini memang diharapkan bisa mendukung pariwisata Sulawesi Selatan.
“Kami ingin kereta makassar ini menjadi pendukung bagi pariwisata. Jadi teman-teman dari luar, yang dilewati jalur kereta api itu, itu termotivasi ini untuk menuju akses tempat pariwisata,” ujar Arafah.
Menurutnya, dari jalur kereta api yang dilalui kereta api, ada berbagai titik destinasi wisata. Misalnya, di Kabupaten Barru terdapat wista alam Lappa Laona yang menghadirkan padang rumput yang indah, ada pulau Dutungan, hingga beberapa pantai yang bisa jadi pilihan.
Sementara itu di Kabuoaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), menawarkan berbagai destinasi wisata berupa gua-gua tua yang banyak diminati masyarakat untuk berekreasi. Ada pulau Kapoposang yang menjadi tempat wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, hingga wisata gugusan karst terbesar kedua yang ada di dunia.
“Di Maros Pangkep itu terbentang karst yang luar biasa indahnya dan bagusnya. Itu dilewati jalur kereta api, bahkan di atas kereta api kita bisa melihat pemandangan itu dengan cantiknya,” ujar Arafah.
Dia juga mengatakan di Kabupaten Maros ada taman wisata alam Bantimurung yang ramai dikunjungi saat akhir minggu serta Rammang-Rammang yang juga menghadirkan wisata karst bagi para pengunjungnya.
Tak hanya itu, dia juga mengatakan banyak juga wisatawan yang memanfaatkan kereta api ini meski berasal cukup jauh dari rel kereta. Namun, mereka masih tetap menggunakan kendaraan pribadi mereka. Misalnya, mereka yang berasal dari Sidrap, memilih menggunakan kereta untuk menuju Makassar. tetapi ingin berwisata ke Sidrap.
“Misalnya dari Sidrap butuh waktu kurang lebih 2 jam menempuh Stasiun Garongkong di Barru. Mereka naik kereta api, sementara supirnya disuruh menjemput di tujuan, yaitu ada di Mandai. Nanti dari Mandai, mereka akan ke Kota Makassar untuk menikmati kuliner atau ke tempat wisata budaya,” ujarnya.
Namun, dia juga menyadari, akses kereta api yang hingga kini belum sampai ke Makassar turut membatasi gerak wisatawan. Pasalnya, untuk menuju Makassar, wisatawan masih harus menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi online, walaupun memang sudah terdapat shuttle yang menghubungkan Stasiun Mandai ke titik di Makassar.
Sementara itu, Iwan Dento, pegiat lingkungan di kawasan Rammang-Rammang mengaku masih sulit untuk mengukur dampak kereta api ini ke peningkatan jumlah wisatawan Rammang-Rammang. Selain karena layanan kereta masih baru, belum bisa dipastikan bahwa mereka yang naik kereta menuju Rammang-Rammang.
“Jadi belum sepenuhnya mereka yang naik kereta itu ingin ke Rammang-Rammang. Lalu karena kami lebih banyak tamunya domestik dan mancangeara, maka sebenarnya konektivitas yang bagus untuk kami itu adalah kereta ini terkoneksi dengan bandara,” tambah Iwan Dento.
Meski begitu, dia juga tak mau mengatakan bahwa kehadiran kereta api ini tak berdampak bagi pariwisata Rammang-Rammang. “Saya masih susah mengukurnya, tetapi saya tidak mau mengatakan bahwa tidak ada efeknya. Karena memang untuk mengukurnya masih terlalu dini,” ujar Iwan.
Lain lagi dengan Rapid yang merupakan penjual hiasan kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung. Dia berpendapat, pengunjung yang datang ke kawasan ini bukan disebabkan oleh penumpang kereta. Pasalnya, wisatawan yang datang ke tempat ini masih menggunakan kendaraan pribadi.
Bila melihat dari sisi jarak, dari Stasiun Rammang-Rammang ataupun dari Stasiun Maros ke Taman Wisata Bantimurung harus menempuh jarak belasan kilometer.
Tambah frekuensi perjalanan
Untuk mendukung geliat wisata dengan adanya kereta api ini, Arafah pun berharap pengelola kereta api di Sulawesi Selatan ini bisa meningkatkan frekuensi perjalanan, khususnya di akhir minggu untuk bisa mengakomodasi seluruh penumpang.
“Di weekend itu kita berharap mungkin bagusnya 5-6 kali, karena memang tiketnya murah, masyarakat senang berekreasi dengan kereta api,” ujarnya.
Dia menambahkan, bila nantinya pariwisata di sekitar jalur kereta api ini meningkat tetapi frekuensi perjalanannya tak bertambah, ini malah menjadi bumerang bagi pariwisata. Apalagi kereta api ini selalu penuh.
“Saya khawatir masyarakat kita mindset-nya berubah. Mereka berpikir, percuma kita naik kereta toh antreannya panjang tidak bisa dapat tiket. Kalau itu viral kan tidak bagus. Orang malah menjadi tidak antre lagi,” kata Arafah.
Dia juga berharap adanya shuttle-shuttle bus di sekitar jalur kereta yang bisa mengantarkan wisatawan ke tempat wisata terdekat.
Sementara itu, Kepala Balai Pengelola Kereta Api (BPKA) Sulawesi Selatan, Deby Hospital menjelaskan bahwa pengoperasian enam perjalanan kereta api Makassar-Parepare yang ada saat ini kembali pada kebutuhan pada masyarakat.
“Tentu kalau ada kebutuhan di situ, kami akan dukung. Tapi sejauh ini dari data kami, sepertinya cukup sampai enam perjalanan. Dari empat perjalanan (sebelumnya) menjadi enam. Dan ini sudah sangat signifikan dari tren okupansinya hingga pendapatannya. Ini sudah sangat signifikan,” ujar Deby.
Dia juga mengatakan pihaknya masih terus meninjau seperti apa efektivitas enam perjalanan tersebut sejauh ini, hingga meningkatkan pelayanan yang ada.
Menjelajahi Infrastruktur Telekomunikasi hingga ke Kawasan Terluar Negeri
Tim Jelajah Ekonomi Infrastruktur Berkelanjutan KONTAN meliput perkembangan infrastruktur telekomunikasi hingga ke Talaud. [685] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan #jelajah-ekonomi-kontan-2024
(Kontan - Terbaru) 27/08/24 22:38
v/14781175/
Menjelajahi Infrastruktur Telekomunikasi hingga ke Kawasan Terluar Negeri

Reporter: Arfyana Citra Rahayu, Tendi Mahadi
Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - MANADO. Hari telah berganti saat kami menginjakkan kaki di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta. Jam tangan menunjukkan angka 00:08, tapi suasana terminal keberangkatan masih cukup ramai oleh calon penumpang dengan tujuannya masing-masing.
Tak terkecuali kami, Tim Jelajah Ekonomi Infrastruktur Berkelanjutan KONTAN yang akan bertandang ke sejumlah destinasi di Provinsi Sulawesi Utara. Pada Senin (26/8) pukul 01.25 WIB, pesawat Citilink lepas landas menembus gelapnya langit malam, membawa kami ke Manado yang menjadi tujuan pertama.
Rasa kantuk beradu dengan antusiasme dalam misi kami untuk menjelajahi perkembangan infrastruktur telekomunikasi di daerah terdepan, tertinggal dan terluar (3T) di Sulawesi Utara, membuat kami sulit terlelap selama penerbangan.
Butuh waktu sekitar 3 jam untuk tiba di Manado. Mentari pagi dan rimbunnya perbukitan di sekitar Bandara Internasional Sam Ratulangi menyambut kedatangan kami. Driver mobil sewaan kami pun telah menunggu, siap menemani kami berburu laporan menarik untuk para pembaca.
Sebelum itu, kami harus mengisi energi terlebih dulu. Berdasarkan hasil pencarian di Google dengan keyword “kuliner sarapan khas Manado”, RM Salma Saroja dengan menu nasi kuningnya jadi pilihan.
Menurut informasi dari driver kami, restoran tersebut jadi salah satu tempat mencari nasi kuning favorit di Kota Tinituan, julukan Manado. Benar saja, selama kami menunggu pesanan terhidang di meja hingga selesai bersantap, pengunjung hilir mudik silih berganti. Soal rasa, jangan ditanya.
Setelah perut terisi, kami bergegas menuju Pelabuhan Manado untuk membeli tiket kapal tujuan Kepulauan Talaud, salah satu kawasan 3T yang akan kami jelajahi. Penting untuk dicatat, pembelian tiket kapal tidak bisa dilakukan secara online atau dengan menelepon agen. Calon penumpang harus datang langsung ke loket yang berada di pelabuhan.
Waktu masih menunjukkan pukul 08.33 WITA, namun antrean di loket agen penjual tiket kapal sudah ramai oleh warga. padahal waktu keberangkatan kapal dari Pelabuhan Manado kebanyakan dilakukan pada sore hingga malam hari. Loketnya dibagi-bagi berdasarkan operator kapal dan pelabuhan tujuan. Ada 8 operator kapal yang melayani pelayaran ke sejumlah pelabuhan, mulai dari Siau di Sulawesi Utara hingga Ternate di Maluku Utara.
Khusus untuk tujuan ke Kepulauan Talaud untuk keberangkatan pada Rabu (28/8), kami diarahkan untuk membeli tiket KM Barcelona VA. Kapal ini akan berenang ke beberapa pulau dari Manado yakni menuju Lirung, Melonguane, hingga Beo.
Tiket sudah aman di tangan, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menitipkan beberapa barang bawaan kami ke hotel tempat kami menginap. Maklum, kami baru bisa check in jam 14.00 WITA, sehingga kami hanya menitipkan beberapa koper di resepsionis, lalu kembali ke dalam mobil untuk berburu beberapa spot menarik yang bisa kami temukan di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara ini.
Tentu kami tak lupa untuk berburu kuliner khas Manado sebagai menu makan siang. Kami bersepakat untuk menjajal kelezatan olahan ikan tuna di Restoran Papa Tuna. Lidah kami berhasil dimanjakan oleh tuna bakar, tuna geprek hingga tuna woku. Tapi yang paling maknyus adalah rahang tuna bakar ukuran jumbo yang lezatnya no debat!
Ada mimpi besar Pemprov Sulut untuk mendorong konektivitas dari kawasan-kawasan terluar yang ada di provinsi tersebut. Namun sejumlah tantangan diakui Steven juga masih menghadang. Ia juga membagikan sejumlah strategi agar masyarakat di kawasan 3T di Sulawesi Utara, bisa merasakan dampak pembangunan infrastruktur telekomunikasi guna meningkatkan taraf hidup.
Tak terasa hari sudah menuju petang. Lembayung senja yang memanjakan mata mengundang kami kembali ke pelabuhan Manado untuk menikmatinya. Hilir mudik calon penumpang masuk ke dalam kapal-kapal yang bersandar ikut memeriahkan suasana.
Langit pun mulai redup. Satu per satu kapal mulai beranjak menuju tujuannya masing-masing. Bunyi klakson kapal seolah mewakilkan salam perpisahan dari para penumpang kepada kolega mereka yang mengantar sampai pelabuhan.
Ini juga menjadi waktu bagi kami untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Memulihkan tenaga untuk penjelajahan berikutnya. Termasuk ke Kepulauan Talaud sebagai salah satu kawasan terluar Indonesia.
Jadi, ikuti terus perjalanan kami.
Bakal Dongkrak Ekonomi, Begini Cerita Pendanaan Bandara Singkawang
Total anggaran pembangunan bandara Singkawang sebesar Rp 427 miliar [470] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #bandara #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan #bandara-singkawang
(Kontan - Terbaru) 15/08/24 17:33
v/14451944/
Bakal Dongkrak Ekonomi, Begini Cerita Pendanaan Bandara Singkawang

Reporter: Arif Ferdianto
Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – SINGKAWANG. Hadirnya bandara baru di Kota Singkawang, Kalimantan Barat diharapkan mampu mengundang investor-investor anyar, agar bisa mendorong perekonomian daerah.
Namun bandara ini belum beroperasi secara optimal, pasalnya sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 20 Maret 2024 lalu, pembangunan Bandara Singkawang masih terus dikebut.
Asal tahu saja, Bandara Singkawang mulai dibangun sejak tahun 2019 hingga tahun 2023, dengan skema pembiayaan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Adapun total anggaran pembangunan bandara ini sebesar Rp 427 miliar, dengan rincian dari APBN senilai Rp 272 miliar dan dari Corporate Social Responsibility (CSR) para pengusaha Singkawang sebesar Rp 155 miliar.
Ketua Tim CSR Bandara Singkawang, Tjhai Chui Mie menjelaskan, saat dirinya menjabat sebagai walikota Singkawang periode 2017-2022 visi utamanya adalah menyelesaikan persoalan dalam pembangunan bandara tersebut yakni terkait pembebasan lahan.
Masalah itu akhirnya rampung di tahun 2018, sehingga setahun kemudian peletakan batu pertama (groundbreaking) lantas dilakukan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi.
Singkat cerita, Thai bilang, di tahun 2023 Menhub meminta dirinya untuk mencarikan CSR untuk membantu dalam pembangunan terminalnya. Pada akhirnya, ia pun berhasil menggalang dana dari beberapa kerabat.
“Kita saat itu tentu bersyukur ya, ada donator yang memberikan CSR-nya, seperti Bapak Heru Budi Hartono, Pak Pui Sudarto, Prayogo Pangestu, Bapak Aguan (Sugianto Kusuma), Anthony Salim, Frangky Oesman Widjaja, Eka Tjandranegara, teman-teman itu membantu,” ujarnya saat ditemui KONTAN, di Bandara Singkawang, Selasa (13/8).
Selain nama-nama di atas, tentunya nama Tjhai juga tak luput dari salah satu orang yang menggelontorkan dananya demi kemulusan proyek ini.
Bandara Singkawang Mimpi Besar Masyarakat Tjhai menuturkan bahwa dibangunnya bandara ini merupakan mimpi besar masyarakat kota Singkawang. Hal itu terbukti dari sumbangsih yang diberikan oleh masyarakat untuk percepatan pembangunan bandara.
“Untuk pembebasan lahan itu 45% dihibahkan oleh masyarakat dan bukan hanya masyarakat yang berduit saja yang menghibahkan, masyarakat biasa juga ikut berpartisipasi,” tuturnya.
Tjhai mengatakan, hadirnya bandara ini bakal mengefisiensikan waktu tempuh masyarakat hingga 4 jam. Memang selama ini, untuk menuju kota Singkawang masyarakat hanya bisa mendarat di Bandara Supadio, Pontianak dan melanjutkan perjalanan darat kurang lebih 3 jam untuk sampai di kota Singkawang.
Di samping itu, kata Tjhai, dengan hadirnya bandara ini dirinya yakin investasi bakal tumbuh terutama dari putra-putri kebanggaan kota Singkawang itu sendiri yang saat ini berada di dalam maupun di luar kota.
“Anak-anak yang sudah belajar di luar, yang bekerja di luar, ayo pulang, mari kita balik ke kota Singkawang dan bangun kota Singkawang, bikin usaha sendiri,” kata dia.
Ditargetkan Bandara Singkawang bisa beroperasi secara minimal pada bulan September 2024 mendatang. Menurutnya, operasi secara minimal tersebut misalnya hanya dengan melayani 1-2 penerbangan tujuan Singkawang – Jakarta dan sebaliknya.
Belum Optimal, Pelaku Industri Beri Catatan untuk Pengembangan Bandara Singkawang
Bandara Singkawang belum mampu memberikan dampak yang signifikan kepada daerah Seribu Sungai tersebut. [411] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan #bandara-singkawang
(Kontan - Terbaru) 15/08/24 17:15
v/14451949/
Belum Optimal, Pelaku Industri Beri Catatan untuk Pengembangan Bandara Singkawang

Reporter: Arif Ferdianto
Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – SINGKAWANG. Kehadiran sejumlah bandara-bandara baru tampak masif dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Tentunya, ini diciptakan demi menunjang perekonomian daerah dan memperluas akses transportasi di Tanah Air.
Salah satu bandara tersebut adalah Bandar Udara Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar) yang diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 20 Maret 2024 lalu.
Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Singkawang, Nugroho Henray Ekasaputra menyambut baik kehadiran Bandara Singkawang ini. Pasalnya ini diharapkan bisa berdampak ke perekonomian Kalbar secara umum.
“Ide awal berdirinya bandara ini kan untuk mempermudah akses untuk berwisata, karena Singkawang ini adalah kota wisata dengan kekayaan budaya yang dimiliki, dengan hadirnya bandara ini kita harapkan potensi pariwisatanya akan lebih meningkat lagi baik domestik maupun mancanegara,” ujarnya saat ditemui KONTAN, Senin (12/8).
Meski demikian, Henray tak menampik bahwa hadirnya Bandara Singkawang belum mampu memberikan dampak yang signifikan kepada daerah Seribu Sungai tersebut. Maklum, memang bandara ini masih seumur jagung.
“Kami belum melihat secara signifikan bahwa berdirinya bandara ini memberikan dampak langsung, tapi dengan baru berdirinya saja, kami memproyeksikan ini bisa memberikan dampak cukup besar terhadap perekonomian,” terangnya.
Henray menyebutkan, pihaknya punya beberapa catatan dari berdirinya Bandara Singkawang ini di antaranya, pertama, perlu adanya kejelasan terkait siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan bandara ini. Adapun Bandara Singkawang saat ini masih di bawah kendali Kementerian Perhubungan.
“Memang walaupun bandara ini sudah berdiri tapi pengelolanya belum ada, pengelolanya ini apakah BUMN, apakah Angkasa Pura atau mau dikelola dengan pemerintah daerah sendiri dengan BUMD,” ujarnya.
Kedua terkait infrastruktur, di mana ia menilai akses jalan menuju Bandara Singkawang ini tampak belum optimal. Menurutnya, hal ini salah satu faktor yang menyebabkan bandara tersebut belum memberikan dampak yang cukup signifikan.
“Akses jalannya per hari ini kami melihat belum sempurna. Ketiga terkait maskapai yang akan beroperasi di sana, baik dari Jakarta-Singkawang, atau bentuknya penerbangan lokal, itu maskapai dari mana saja,” imbuhnya.
Untuk diketahui, Bandara Singkawang mulai dibangun sejak tahun 2019 hingga tahun 2023, dengan skema pembiayaan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Adapun total anggaran pembangunan bandara ini sebesar Rp 427 miliar, dengan rincian dari APBN senilai Rp 272 miliar dan dari CSR (Corporate Social Responsibility) para pengusaha Singkawang sebesar Rp 155 miliar.
Beroperasi September, Bandara Singkawang Bakal Kerek Ekonomi Daerah
Bandara Singkawang ditargetkan beroperasi minimal pada September 2024 mendatang. [309] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan #bandara-singkawang
(Kontan - Terbaru) 15/08/24 17:11
v/14451429/
Beroperasi September, Bandara Singkawang Bakal Kerek Ekonomi Daerah

Reporter: Arif Ferdianto
Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - SINGKAWANG. Bandara Singkawang ditargetkan beroperasi minimal pada September 2024 mendatang. Kehadiran Bandara Singkawang diyakini bakal mendongkrak ekonomi Kota Singkawang.
Kepala Satuan Pelaksana Bandar Udara Singkawang Djarot Nugroho mengatakan, kehadiran Bandara Singkawang menjawab kebutuhan masyarakat untuk akses transportasi udara dari dan ke Kota Singkawang cukup tinggi.
Memang selama ini, akses transportasi udara masyarakat Singkawang masih melalui Bandara Supadio, Pontianak.
"Kami mencoba untuk melakukan percepatan, semakin cepat semakin bagus. September sebenarnya sudah bisa operasional. Masyarakat Singkawang bisa menikmati transportasi udara. Jadi tidak harus lagi menempuh perjalanan (darat) tiga jam (ke Pontianak," kata Djarot dalam wawancara ekslusif bersama KONTAN.
Selain membantu akses masyarakat, kehadiran Bandara Singkawang diyakini bakal ikut mendorong perekonomian daerah.
"Antusias masyarakat besar sekali. Saya yakin Singkawang bisa (menjadi kota) besar. Potensi Singkawang tidak hanya wisata alam, terdapat juga wisata religi dan festival kebudayaan. Wisatawan yang datang biasanya tidak hanya domestik tapi juga wisatawan mancanegara," jelas Djarot.
Ketua Tim CSR Bandara Singkawang, Tjhai Chui Mie menjelaskan, operasi secara minimal tersebut misalnya hanya dengan melayani 1-2 penerbangan tujuan Singkawang – Jakarta dan sebaliknya.
Lebih lanjut, Tjhai yang juga merupakan Walikota Singkawang Periode 2017-2022 menambahkan, ketika bandara Singkawang secara efektif beroperasi secara penuh, tentunya pariwisata kebanggaan kota seribu klenteng ini pun bakal terangkat. Dengan demikian, perekonomian juga akan tumbuh dan berdampak kepada masyarakat.
Dia menyebutkan beberapa daya tarik wisatawan yang ada di Kota Singkawang mulai dari kuliner khas hingga festival budaya seperti Cap Gomeh, Ceng Beng, Gawe Dayak, dan lain sebagainya. Selain itu ada pula wisata alam pegunungan serta pantai tersaji di kota ini.
“Harapan kita, Bandara Kota Singkawang bisa bekerja sama dengan Menteri Pariwisata, untuk bisa mempromosikan kepada mancanegara untuk datang ke Singkawang,” tandasnya.
Karpet Merah Wisatawan Global Mulai Terhampar ke Probolinggo
Pemerintah catat minat wisatawan naik karena pembangunan tol probolinggo-banyuwangi [537] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #bupati-probolinggo #tol-trans-jawa #jalan-tol-trans-jawa #tarif-tol-trans-jawa #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan
(Kontan - Terbaru) 30/07/24 10:05
v/12626495/
Karpet Merah Wisatawan Global Mulai Terhampar ke Probolinggo

Reporter: Jane Aprilyani, Nur Qolbi
Editor: Jane Aprilyani
KONTAN.CO.ID - PROBOLINGGO. Pembangunan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) tidak hanya menjadi bagian akhir dari proyek ambisius Tol Trans Jawa, tetapi juga membawa angin segar bagi pariwisata dan perekonomian di wilayah Probolinggo. Dengan rampungnya bagian ini, akses ke destinasi-destinasi wisata unggulan seperti Gunung Bromo akan semakin mudah, memacu peningkatan kunjungan wisatawan dari berbagai daerah.
Pj. Bupati Probolinggo, Ugas Irwanto, menyambut baik pembangunan ini. Menurutnya, dengan adanya tol baru, perjalanan dari luar Probolinggo menjadi lebih cepat dan efisien. "Keberadaan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi akan berefek positif bagi kunjungan wisatawan dari luar Probolinggo ke Probolinggo. Wisatawan yang ingin ke Gunung Bromo akan semakin dimudahkan," ujarnya.
Tak hanya wisatawan lokal, akses tol ini juga mempermudah perjalanan bagi masyarakat Jakarta yang ingin berlibur atau pulang kampung ke Jawa Timur atau Bali. Dengan waktu tempuh yang lebih singkat, Probolinggo bisa menjadi destinasi singgah yang menarik, menawarkan alternatif bagi mereka yang mungkin sudah jenuh dengan destinasi seperti Malang, Batu, Tretes, dan Pasuruan.
Kecepatan dan efisiensi ini ditunjang oleh fakta bahwa Jalan Tol Probowangi Tahap 1 yang menghubungkan Probolinggo hingga Besuki akan memangkas waktu perjalanan signifikan. Sebelumnya, perjalanan sepanjang Probolinggo hingga Besuki memakan waktu sekitar 1 jam 15 menit, namun dengan tol ini, waktu tempuhnya menjadi hanya sekitar 30 menit dengan kecepatan rata-rata 80-100 km/jam.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi terus mempercepat penyelesaian konstruksi Tahap 1, yang terbagi menjadi tiga seksi: Gending-Kraksaan sepanjang 12,88 km, Kraksaan-Paiton sepanjang 11,20 km, dan Paiton-Besuki sepanjang 25,6 km. Per Juli 2024, progres konstruksi Seksi 1 telah mencapai 60,08%, Seksi 2 mencapai 40,40%, dan Seksi 3 mencapai 31,38%.
Selain memangkas waktu perjalanan, Jalan Tol Probowangi juga diharapkan membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah-daerah yang dilaluinya. Tiga simpang susun—Kraksaan, Paiton, dan Besuki—serta tiga gerbang tol akan mempermudah distribusi barang dan jasa, meningkatkan aktivitas ekonomi lokal.
Dengan selesainya Tahap 1, proyek ini akan dilanjutkan dengan Tahap 2 yang mencakup ruas Besuki hingga Banyuwangi sepanjang 125,72 km. Rencana ini terdiri dari empat seksi tambahan: Besuki-Situbondo (42,30 km), Situbondo-Asembagus (16,76 km), Asembagus-Bajulmati (37,45 km), dan Bajulmati-Ketapang (29,21 km).
Tol Probowangi tidak hanya akan menjadi penghubung ujung timur Pulau Jawa, tetapi juga menjadi katalisator utama bagi perkembangan ekonomi dan pariwisata Probolinggo dan sekitarnya. Dengan semakin dekatnya penyelesaian proyek ini, masa depan Probolinggo terlihat semakin cerah dan penuh peluang.
Presiden Jokowi Tak Bisa Tidur Nyenyak Malam Pertama di Istana Baru IKN Nusantara
Pada hari Senin, presiden mengakui bahwa ia tidak tidur nyenyak pada malam pertamanya di Istana Baru IKN [457] url asal
#berita-nasional #kontan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan-2022 #infrastruktur-ikn #infrastruktur-berkelanjutan #jelajah-ekonomi-infrastruktur-berkelanjutan #jelajah-ekonomi-kontan-2024
(Kontan - Terbaru) 29/07/24 13:05
v/12525679/
Presiden Jokowi Tak Bisa Tidur Nyenyak Malam Pertama di Istana Baru IKN Nusantara

Reporter: Syamsul Ashar
Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - NUSANTARA - Presiden Indonesia Joko Widodo menghabiskan malam pertamanya di istana negara yang baru selesai di bangun di IKN Nusantara.
Istana negara berbentuk elang di ibu kota negara dilakukan menjelang pertemuan resmi pada hari Senin. Kegiatan Presiden saat akan lengser dari kepemimpinan Oktober mendatang sebagai upaya meredakan kekhawatiran tentang kelanjutan proyek infrastruktur yang ia canangkan.
Presiden yang dikenal dengan julukan Jokowi ini, telah bergegas untuk menyelesaikan sebanyak mungkin ibu kota baru sebelum ia lengser pada bulan Oktober 2024, meskipun Ibu Kota IKN Nusantara menghadapi banyak penundaan konstruksi, kurangnya investasi asing, dan masalah pengelolaan dan lahan.
"Ini pekerjaan besar. Bisa memakan waktu 10, 15, 20 tahun," kata Presiden Jokowi kepada wartawan di luar Istana Garuda yang baru pada hari Senin seperti ditulis kantor berita Reuters. "Ini bukan pekerjaan yang memakan waktu satu atau dua tahun."
Istana berbentuk burung yang dramatis, yang terdiri dari 4.650 bilah yang membentuk sayap elang, adalah pusat dari ibu kota baru.
Pada hari Senin, presiden mengakui bahwa ia tidak tidur nyenyak pada malam pertamanya.
Tetapi mengatakan bahwa ketersediaan air, listrik, dan internet, yang telah menunda rencana kepindahannya bulan ini, kini telah tersedia. Ia tidak menyebutkan berapa lama ia berencana untuk bekerja dan berkantor di tempat ini.
IKN Nusantara dbangun di tengah hutan di pulau tropis Kalimantan, proyek infrastruktur senilai $32 miliar tersebut terletak sekitar 1.200 km (750 mil) dari ibu kota saat ini, Jakarta.
Bersiap untuk menyelenggarakan perayaan Hari Kemerdekaan di Nusantara pada 17 Agustus, Jokowi dalam beberapa minggu terakhir bersikap lebih pragmatis dalam sambutannya tentang ibu kota baru tersebut.
"Banyak orang mengira kita terburu-buru... Tidak, kita tidak terburu-buru. Itu sesuai dengan prosedur," katanya.
Pada hari Minggu, presiden mengenakan jaket touring hitam dan mengendarai jalan tol baru di Nusantara dengan sepeda motor, diapit oleh beberapa pejabat pemerintah dan influencer media sosial.
Dalam beberapa bulan terakhir, Jokowi telah meresmikan pembangunan sekolah, kompleks perkantoran di Nusantara, dan menjanjikan investasi asing.
Namun, bertahun-tahun setelah mengumumkan proyek andalannya, yang dimaksudkan untuk meringankan beban Jakarta yang macet, tercemar, tenggelam, dan kelebihan penduduk, tidak ada pendanaan asing yang dikomitmenkan.
Keraguan semakin dalam bulan lalu setelah dua pejabat tinggi yang mengawasi proyek tersebut mengundurkan diri tanpa penjelasan.
Presiden terpilih Prabowo Subianto telah berjanji untuk terus mengembangkan Nusantara setelah ia dilantik, tetapi para analis mengatakan ia akan memprioritaskan pendanaan untuk program "makanan bergizi" andalannya sendiri.