JAKARTA, investor.id – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN melaporkan kinerja keuangan hingga Agustus 2024. Hasilnya, laba bersih tahun berjalan turun dibandingkan bulan sebelumnya.
Laba bersih tahun berjalan BTN sampai dengan Agustus 2024 tercatat mencapai Rp 1,81 triliun. Sebagai perbandingan, laba yang dicetak pada periode sama tahun sebelumnya mencapai Rp 2,00 triliun.
Dengan demikian, laba bersih BBTN tersebut tercatat turun hampir 9,75% secara tahunan (year on year/yoy) per Agustus 2024. Penurunan laba bersih tersebut kian dalam dibandingkan dengan Juli 2024 yang sebesar 5,8% (yoy).
Ada sejumlah faktor yang mendorong tren minor dari laba bersih yang dimaksud. Pertama, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) terperosok 11,01% menjadi Rp 7,87 triliun pada Agustus 2024.
Hal tersebut dipengaruhi pendapatan yang tumbuh melambat, diperparah beban bunga yang naik lebih tinggi. Sebagai gambaran, pendapatan bunga BTN pada Agustus naik 8,61% atau lebih rendah dari Juli yang sebesar 9,80%. Di saat sama, laju beban bunga sebesar 27,01% atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya yaitu 26,79%.
Faktor kedua, sejumlah upaya perbaikan dan beberapa pendapatan alternatif belum mampu mendongkrak perolehan laba. Pendapatan komisi naik 7,96% menjadi Rp 989,15 miliar. Begitu juga pendapatan lainnya yang naik 35,99% menjadi Rp 891,70 miliar.
Selanjutnya, BBTN berhasil menekan cukup dalam biaya provisi sampai 49,09% menjadi Rp 1,31 triliun pada Agustus 2024. Tapi, ini tak cukup untuk mendongkrak laba operasional hasilnya masih susut 8,65% menjadi Rp 2,29 triliun.
Kredit dan DPK Melambat
Sejalan dengan perolehan pendapatan bunga yang tumbuh lebih rendah, kinerja intermediasi dari BTN tampaknya juga tak lebih bergairah. Total kredit dan pembiayaan syariah meningkat 13,05% menjadi Rp 355,26 triliun pada Agustus 2024. Sebelumnya pada Juli 2024, kredit dan pembiayaan meningkat 14,39% year on year.
Perlambatan dicatatkan baik dari sisi penyaluran kredit maupun pembiayaan syariah. Kredit senilai Rp 312,90 triliun naik 12,09% pada Agustus 2024, masih lebih rendah dari perkembangan Juli 2024 yang sebesar 13,38%. Sedangkan pembiayaan syariah naik 20,67% menjadi Rp 42,36 triliun, juga tumbuh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sampai 22,55%.
Adapun dengan perkembangan kredit dan pembiayaan syariah itu, BTN mengoleksi total aset mencapai Rp 456,37 triliun. Angka itu tumbuh 11,88% pada Agustus 2024.
Mengekor dari sisi demand, sisi supply yaitu pendanaan juga menunjukkan tren pelemahan. Dana pihak ketiga (DPK) BBTN memang masih tumbuh tinggi yaitu 16,49% menjadi Rp 373,88 triliun pada delapan bulan tahun ini. Tapi dalam perkembangannya, pertumbuhan itu melemah dari posisi pertumbuhan Juli yang sebesar 17,54%.
Penghimpunan dana dari instrumen tabungan turun 3,94% menjadi Rp 39,54 triliun. Giro naik 12,69% menjadi Rp 141,43 triliun. Sedangkan deposito masih berlanjut tumbuh dalam kisaran tinggi yaitu 25,04% menjadi Rp 192,89 triliun.
Alhasil, dana murah (current account saving account/CASA) yang dihimpun hanya terdongkrak 8,58% menjadi Rp 180,98 triliun. Mengikuti rasio CASA yang juga susut secara yoy dari posisi 51,93% menjadi 48,41%.
Agresivitas penghimpunan dana dari BBTN ini membuat liabilitas meningkat 12,04% menjadi Rp 424,69 triliun pada Agustus 2024. Sedangkan ekuitas masih mampu dipupuk tumbuh 9,81% menjadi Rp 31,67 triliun.
JAKARTA, investor.id – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN melaporkan kinerja keuangan hingga Agustus 2024. Hasilnya, laba bersih tahun berjalan rontok lagi, bahkan penurunannya lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya.
Laba bersih tahun berjalan BTN sampai dengan Agustus 2024 tercatat mencapai Rp 1,81 triliun. Sebagai perbandingan, laba yang dicetak pada periode sama tahun sebelumnya mencapai Rp 2,00 triliun.
Dengan demikian, laba bersih BBTN tersebut tercatat ambles sebesar hampir 9,75% secara tahunan (year on year/yoy) per Agustus 2024. Penurunan laba bersih tersebut kian dalam jika dibandingkan dengan Juli 2024 yang sebesar 5,8% (yoy).
Ada sejumlah faktor yang mendorong tren minor dari laba bersih yang dimaksud. Pertama, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) terperosok 11,01% menjadi Rp 7,87 triliun pada Agustus 2024.
Hal tersebut dipengaruhi pendapatan yang tumbuh melambat, diperparah beban bunga yang naik lebih tinggi. Sebagai gambaran, pendapatan bunga BTN pada Agustus naik 8,61% atau lebih rendah dari Juli yang sebesar 9,80%. Di saat sama, laju beban bunga sebesar 27,01% atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya yaitu 26,79%.
Faktor kedua, sejumlah upaya perbaikan dan beberapa pendapatan alternatif belum mampu mendongkrak perolehan laba. Pendapatan komisi naik 7,96% menjadi Rp 989,15 miliar. Begitu juga pendapatan lainnya yang naik 35,99% menjadi Rp 891,70 miliar.
Selanjutnya, BBTN berhasil menekan cukup dalam biaya provisi sampai 49,09% menjadi Rp 1,31 triliun pada Agustus 2024. Tapi, ini tak cukup untuk mendongkrak laba operasional hasilnya masih susut 8,65% menjadi Rp 2,29 triliun.
Kredit dan DPK Melambat
Sejalan dengan perolehan pendapatan bunga yang tumbuh lebih rendah, kinerja intermediasi dari BTN tampaknya juga tak lebih bergairah. Total kredit dan pembiayaan syariah meningkat 13,05% menjadi Rp 355,26 triliun pada Agustus 2024. Sebelumnya pada Juli 2024, kredit dan pembiayaan meningkat 14,39% year on year.
Perlambatan dicatatkan baik dari sisi penyaluran kredit maupun pembiayaan syariah. Kredit senilai Rp 312,90 triliun naik 12,09% pada Agustus 2024, masih lebih rendah dari perkembangan Juli 2024 yang sebesar 13,38%. Sedangkan pembiayaan syariah naik 20,67% menjadi Rp 42,36 triliun, juga tumbuh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sampai 22,55%.
Adapun dengan perkembangan kredit dan pembiayaan syariah itu, BTN mengoleksi total aset mencapai Rp 456,37 triliun. Angka itu tumbuh 11,88% pada Agustus 2024.
Mengekor dari sisi demand, sisi supply yaitu pendanaan juga menunjukkan tren pelemahan. Dana pihak ketiga (DPK) BBTN memang masih tumbuh tinggi yaitu 16,49% menjadi Rp 373,88 triliun pada delapan bulan tahun ini. Tapi dalam perkembangannya, pertumbuhan itu melemah dari posisi pertumbuhan Juli yang sebesar 17,54%.
Penghimpunan dana dari instrumen tabungan turun 3,94% menjadi Rp 39,54 triliun. Giro naik 12,69% menjadi Rp 141,43 triliun. Sedangkan deposito masih berlanjut tumbuh dalam kisaran tinggi yaitu 25,04% menjadi Rp 192,89 triliun.
Alhasil, dana murah (current account saving account/CASA) yang dihimpun hanya terdongkrak 8,58% menjadi Rp 180,98 triliun. Mengikuti rasio CASA yang juga susut secara yoy dari posisi 51,93% menjadi 48,41%.
Agresivitas penghimpunan dana dari BBTN ini membuat liabilitas meningkat 12,04% menjadi Rp 424,69 triliun pada Agustus 2024. Sedangkan ekuitas masih mampu dipupuk tumbuh 9,81% menjadi Rp 31,67 triliun.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai sekitar Rp 352,06 triliun sepanjang semester I/2024. Perolehan tersebut tumbuh 14,4 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 307,66 triliun.
“Di tengah kondisi ekonomi global yang sangat menantang, BTN tetap dapat menorehkan kinerja yang positif sepanjang semester I/2024. Bahkan penyaluran kredit dan pembiayaan BTN berhasil tumbuh signifikan. Kami optimistis hingga akhir tahun 2024, BTN tetap mampu membukukan kinerja keuangan yang positif,” ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam keterangannya, Kamis (25/7/2024).
Nixon mengungkapkan, penyaluran kredit dan pembiayaan perumahan masih mendominasi total kredit dan pembiayaan perseroan pada semester I/2024. Adapun kredit dan pembiayaan perumahan yang disalurkan BTN hingga akhir Juni 2024 mencapai Rp 299,24 triliun. Dari jumlah tersebut KPR Subsidi pada semester I/2024 masih menjadi kontribusi terbesar dengan nilai mencapai Rp 171,01 triliun tumbuh 12,4 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 152,16 triliun. Sedangkan KPR Non Subsidi tumbuh 12 persen yoy menjadi Rp 101,76 triliun pada semester I/2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 90,83 triliun.
“Kami memacu kredit dengan sangat memperhatikan prinsip kehati-hatian. Rasio NPL Gross kami masih terjaga dengan baik di level 3,1 persen. Hingga akhir tahun ini kami berharap bisa menurunkan rasio NPL di bawah 3 persen,” kata Nixon.
Dari sisi dana pihak ketiga (DPK), seiring ketatnya likuiditas pada industri perbankan, BTN berhasil meningkatkan DPK pada semester I/2024 menjadi Rp 365,4 triliun atau naik 16,6 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 313,3 triliun. Dari jumlah tersebut perolehan dana murah atau CASA mencapai Rp 189,21 triliun naik sekitar 11,16 persen yoy dibandingkan akhir Juni 2023 sebesar Rp 170,21 triliun.
Sepanjang semester I/2024, laba bersih BTN tumbuh menjadi Rp 1,502 triliun atau naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,474 triliun. Sementara total aset BTN hingga akhir Juni 2024 naik 13,7 persen yoy menjadi Rp 455,60 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 400,54 triliun.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatat total penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 14,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi ... [384] url asal
Kami optimistis hingga akhir tahun 2024, BTN tetap mampu membukukan kinerja keuangan yang positif,
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatat total penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 14,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi sekitar Rp352,06 triliun untuk periode sepanjang semester I 2024.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis mengatakan, BTN tetap dapat menorehkan kinerja positif sepanjang semester I 2024 meskipun berada di tengah kondisi ekonomi global yang sangat menantang.
Bahkan, penyaluran kredit dan pembiayaan BTN berhasil tumbuh signifikan.
“Kami optimistis hingga akhir tahun 2024, BTN tetap mampu membukukan kinerja keuangan yang positif,” kata Nixon.
Dia mengungkapkan penyaluran kredit dan pembiayaan perumahan masih mendominasi terhadap total kredit dan pembiayaan perseroan, mencapai Rp299,24 triliun hingga akhir Juni 2024.
Dari jumlah tersebut, kredit kepemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi kontribusi terbesar dengan nilai mencapai Rp171,01 triliun atau tumbuh 12,4 persen YoY.
Sedangkan KPR non-subsidi tumbuh 12 persen YoY menjadi Rp101,76 triliun pada semester I 2024.
Dia memastikan, pertumbuhan kredit sejalan dengan prinsip kehati-hatian yang tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) gross terjaga di level 3,1 persen. Diharapkan, BTN dapat menurunkan rasio NPL di bawah 3 persen hingga akhir tahun ini.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BTN tumbuh 16,6 persen menjadi Rp365,4 triliun pada semester I 2024.
Dari jumlah tersebut, dana murah (CASA) mencapai Rp189,21 triliun atau naik sekitar 11,16 persen YoY.
Dengan seluruh kinerja positif tersebut, BTN membukukan laba bersih di semester I 2024 senilai Rp1,502 triliun atau naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,474 triliun.
Adapun total aset BTN hingga akhir Juni 2024 naik 13,7 persen YoY menjadi Rp455,60 triliun.
Sementara itu, Unit Usaha Syariah (UUS) BTN atau BTN Syariah juga mencatatkan kinerja positif sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Pada periode tersebut, BTN Syariah membukukan laba bersih Rp370 miliar atau tumbuh 31,7 persen YoY.
Pembiayaan syariah yang disalurkan BTN Syariah tumbuh sekitar 22 persen YoY menjadi Rp41 triliun hingga akhir Juni 2024.
Sedangkan total DPK yang dihimpun tercatat Rp46 triliun atau tumbuh 32 persen YoY. Dengan capaian tersebut, aset BTN Syariah pun berhasil tumbuh 20 persen YoY menjadi Rp56 triliun.
Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah bank besar Tanah Air memberikan sedikit bocoran mengenai kinerja pada kuartal II/2024 yang bakal dilaksanakan pada rentang akhir Juli-Agustus 2024. Salah satu di antaranya bahkan membagikan proyeksi kinerja hingga akhir tahun ini.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai kinerja bank di kuartal II/2024 akan lebih baik dari kuartal I/2024 terutama untuk bank-bank besar yang masih mencatat pertumbuhan yang positif. Serupa, untuk kinerja bank kecil turut akan membaik dibanding kuartal sebelumnya.
“Kredit korporasi akan menjadi penopang pertumbuhan laba, di samping efisiensi operasional dan untuk kredit konsumsi mulai sedikit membaik dibanding kuartal sebelumnya,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (9/7/2024).
Di sisi lain, suku bunga cenderung mulai melandai. Dia pun berharap tidak akan ada tekanan baru dari aspek geopolitik yang dapat berdampak pada inflasi dan pergerakan suku bunga.
Adapun, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan pihaknya masih optimistis terkait kondisi Indonesia yang akan positif dan memprediksi ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia masih akan dipengaruhi oleh posisi nilai tukar rupiah yang semakin stabil dan potensi penurunan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate/FFR).
“Di tengah situasi yang penuh tantangan, pertumbuhan kredit perbankan akan sesuai target pertumbuhan BI sebesar 10%-12%,” ujarnya.
Dirinya mengatakan kebijakan BI yang diambil saat ini berfungsi untuk mendukung stabilitas, dan Mirae Asset memperkirakan hal ini akan bertahan lebih lama dengan pengaruh dari volatilitas Rupiah yang makin terjaga.
Target OJK
Adapun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai dari sisi kinerja intermediasi, pada Mei 2024, kredit mengalami peningkatan sebesar Rp65 triliun, atau tumbuh sebesar 0,90% mtm.
Nasabah melakukan transaksi perbankan di Galeri ATM, di Bandung, Jawa Barat, Senin (9/4/2018)./JIBI-Rachman
Secara tahunan, kredit melanjutkan catatan double digit growth sebesar 12,15% yoy menjadi Rp7.376 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaan, secara nominal yang terbesar adalah Kredit Modal Kerja yang mencapai sebesar Rp3.332,46 triliun atau 45,18% dari total kredit.
Kemudian, dari segi pertumbuhan, Kredit Investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 14,80% yoy.
Ditinjau pertumbuhan kredit per KBMI, bank KBMI IV menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit yaitu tumbuh sebesar 14,72% yoy.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Edina Rae mengatakan penyaluran kredit yang signifikan ini melanjutkan pertumbuhan kredit sejak periode sebelumnya. "Searah dengan target pertumbuhan 2024 ini," katanya dalam RDK Bulanan, Senin (8/7/2024).
Sejalan dengan pertumbuhan kredit, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan positif. Pada Mei 2024, DPK tercatat tumbuh sebesar 0,53% mtm atau meningkat sebesar 8,63% yoy, dari April 2024 sebesar 8,21% yoy menjadi Rp8.699 triliun.
Giro menjadi kontributor pertumbuhan terbesar yaitu sebesar 15,53% yoy, sedangkan deposito dan tabungan masing-masing meningkat sebesar 6,20% dan 5,20% yoy.
Sebagaimana diketahui, OJK memang sempat menargetkan kredit perbankan tumbuh 9%-11% pada 2024.
"Kredit ditargetkan mencapai 9%-11%, didukung oleh DPK tumbuh 6%-8%," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) pada Selasa (20/2/2024).
Kondisi di BCA, BNI, dan BTN
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya yang menjadi pemain bank swasta pertama yang membagikan bocoran terbaru, di mana kinerja kredit bank only tumbuh 15,4% pada kuartal II/2024 seiring dengan ekonomi yang membaik.
Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan secara umum kondisi bank di Tanah Air relatif bagus dan stabil, tecermin dari indikator pertumbuhan sampai kuartal I/2024 yang berada pada level 12%. Bahkan, pemulihan ekonomi usai Covid-19 terbilang cepat dibanding yang diekspektasikan.
“Kredit di kisaran 15% lebih, kalau bank alone 15,4%. Biasanya [kredit] konsolidasi lebih tinggi,” ujarnya pekan lalu, (3/7/2024).
Saat itu dalam paparannya, Vera juga mengungkapkan adanya anomali atau hal yang tidak biasa terjadi pada permintaan kredit pada kuartal I/2024, di mana kredit tumbuh 17,1% didukung kredit korporasi.
“Sebenarnya pipeline sudah ada di kuartal IV/2024, kebetulan tahun ini tahun Pemilu bulan Februari, jadi begitu ada wait and see sedikit, begitu pemilu sudah selesai dan ada quick count, sebelum selesai kuartal I/2024, pipeline itu sudah terealisasi,” katanya.
Vera juga menyebut dengan peningkatan BI Rate ke level 6,25% sejak April 2024, tidak membuat perbankan serta merta menaikkan suku bunga kredit. Pasalnya, bank juga menjaga momentum pertumbuhan agar kredit bisa tumbuh dan kualitas kredit membaik.
Usai Covid-19, kata Vera, risiko kredit alias loan at risk (LAR) pun cenderung menurun, ini mengindikasikan ekonomi yang kian membaik dan pertumbuhan kredit berlanjut.
“[Itu membuat] bank juga lebih mudah menyalurkan kredit, itu yang kami jaga. Jadi, saat ini suku bunga kredit terjaga tidak ada perubahan. Meski [suku bunga kredit] ada yang naik turun itu relatif, tergantung kualitas debitur,” tuturnya.
Kemudian, dari kelompok bank Himbara, yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menyampaikan kuartal II/2024 akan berada di kisaran 9%-10%. Proyeksi target kredit hingga akhir tahun pun berada di kisaran low dobel digit, yakni 10%.
“Kurang lebih [kuartal II/2024] sama. Sekarang [Maret 2024] 9% kurang lebih 10%. Jadi, kita range-nya 9%-10% enggak akan berubah,” ujarnya di DPR, Senin (8/7/2024).
Tercatat, BNI memang telah menyalurkan kredit sepanjang kuartal I/2024 sebesar Rp695,16 triliun, tumbuh 9,6% yoy.
Sementara, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) melaporkan akan merevisi target kreditnya sebagai respons suku bunga yang tinggi.
Namun, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu tak menyampaikan lebih lanjut soal kisi-kisi terkait kinerja penyaluran pinjaman pada kuartal II/2024.
Untuk diketahui, BTN memang membukukan pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 14,8% menjadi Rp344,2 triliun pada kuartal I/2024. Sayangnya, laju simpanan nasabah di bank atau dana pihak ketiga (DPK) BTN dinilai tidak bisa mengimbangi kredit, di mana hanya tumbuh 11,9%.
Alhasil, saat ini Dirut menyampaikan bahwa BTN memilih tidak menetapkan target penyaluran kredit yang setara atau lebih tinggi dari pencapaian kuartal I/2024. Di mana, pihaknya menurunkan pertumbuhan target kredit ke level 10-11% hingga akhir tahun.
“[Ini] karena likuiditas yang cukup mahal. [BTN] mulai menurunkan ekspansi kredit, karena biaya dana [cost of fund] bunganya masih sangat mahal. dan kita belum tahu kapan [suku bunga acuan] turun, kehati-hatian di situasi ini penting sekali,” ujar Nixon, Senin (8/7/2024).