JAKARTA, KOMPAS.com - PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) membukukan laba bersih sebesar Rp 302,59 miliar hingga September 2024. Nilai ini turun 10,69 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 338,82 miliar.
Penurunan itu terjadi di tengah kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII). Bank digital terafiliasi CT Corp itu membukukan NII sebesar Rp 818,69 miliar, naik 8,18 persen secara tahunan.
Berdasarkan Laporan Keuangan BBHI dikutip Senin (4/11/2024), pendapatan bunga bersih tersebut merupakan hasil dari pendapatan dan beban bunga perusahaan yang tumbuh, masing-masing menjadi Rp 1,08 triliun dan Rp 262,64 miliar.
Selain itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) Allo Bank juga masih meningkat.
Tercatat FBI perusahaan mencapai Rp 14,70 miliar, naik dari tahun lalu sebesar Rp 6,55 miliar. Namun demikian, Allo Bank tidak lagi membukukan keuntungan penjualan efek.
Pada tahun lalu, Allo Bank masih membukukan Rp 37,37 miliar dari keuntungan penjualan efek.
Selain itu, beban penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan perusahaan membengkak.
Tercatat, beban penyisihan cadangan kerugian perusahaan mencapai Rp 165,73 miliar, meningkat dari tahun lalu sebesar Rp 87,43 miliar.
Alhasil, pendapatan bersih operasional perusahaan susut menjadi Rp 392,54 miliar, dari Rp 437,87 miliar. Kemudian, laba sebelum pajak perusahaan susut menjadi Rp 392,18 miliar.
Dari sisi fungsi intermediasi, Allo Bank telah menyalurkan kredit sebesar Rp 7,34 triliun. Nilai ini naik 0,18 persen dari tahun lalu.
Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perusahaan mencapai Rp 4,93 triliun. Nilai ini naik 0,76 persen secara tahunan.
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) membukukan laba bersih sebesar Rp 302,59 miliar hingga September 2024. Nilai ini turun 10,69 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 338,82 miliar.
Penurunan itu terjadi di tengah kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII). Bank digital terafiliasi CT Corp itu membukukan NII sebesar Rp 818,69 miliar, naik 8,18 persen secara tahunan.
Berdasarkan Laporan Keuangan BBHI dikutip Senin (4/11/2024), pendapatan bunga bersih tersebut merupakan hasil dari pendapatan dan beban bunga perusahaan yang tumbuh, masing-masing menjadi Rp 1,08 triliun dan Rp 262,64 miliar.
Selain itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) Allo Bank juga masih meningkat.
Tercatat FBI perusahaan mencapai Rp 14,70 miliar, naik dari tahun lalu sebesar Rp 6,55 miliar. Namun demikian, Allo Bank tidak lagi membukukan keuntungan penjualan efek.
Pada tahun lalu, Allo Bank masih membukukan Rp 37,37 miliar dari keuntungan penjualan efek.
Selain itu, beban penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan perusahaan membengkak.
Tercatat, beban penyisihan cadangan kerugian perusahaan mencapai Rp 165,73 miliar, meningkat dari tahun lalu sebesar Rp 87,43 miliar.
Alhasil, pendapatan bersih operasional perusahaan susut menjadi Rp 392,54 miliar, dari Rp 437,87 miliar. Kemudian, laba sebelum pajak perusahaan susut menjadi Rp 392,18 miliar.
Dari sisi fungsi intermediasi, Allo Bank telah menyalurkan kredit sebesar Rp 7,34 triliun. Nilai ini naik 0,18 persen dari tahun lalu.
Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perusahaan mencapai Rp 4,93 triliun. Nilai ini naik 0,76 persen secara tahunan.
Bank Jago (ARTO), Bank Neo Commerce (BBYB) dan Allo Bank (BBHI) kompak cetak laba. Namun, tidak semuanya ekspansif baik pada kredit maupun simpanan. [67] url asal
Bisnis.com, JAKARTA -- Tiga emiten bank digital yakni Bank Jago (ARTO), Bank Neo Commerce (BBYB) dan Allo Bank (BBHI) kompak mencetak laba pada kuartal III/2024. BBHI unggul dari laba bersih, sementara ARTO punya pertumbuhan yang baik.
BBYB yang sebelumnya merugi juga mulai mencetak laba pada September 2024. Lantas antara Bank Jago (ARTO), Bank Neo Commerce (BBYB) dan Allo Bank (BBHI) mana yang lebih menjanjikan pertumbuhan berkelanjutan?
Bisnis.com, JAKARTA - Mayoritas bank digital mencatatkan kinerja keuangan yang beragam, salah satunya terkait peningkatan laba pada tujuh bulan pertama 2024. Berikut daftar kinerja laba 7 bank digital di Indonesia berdasarkan laba per Juli 2024.
Berdasarkan laporan keuangan bulanan, PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) milik Chairul Tanjung melalui Mega Corpora ini membukukan laba Rp230,84 miliar per Juli 2024, turun 9,64% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp255,46 miliar per Juli 2023. Laba Allo Bank ini menjadi yang terbesar di antara bank digital lainnya.
Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo melaporkan bahwa bisnis inti Allo Bank tetap kuat dan pihaknya optimistis terhadap terkait kinerjanya tahun ini. Sebagai bank umum berbasis digital, Allo Bank memang banyak melakukan pengembangan Teknologi Informasi.
Hal ini, kata Indra, dilakukan untuk mendukung strategi pengembangan produk, layanan dan customer engagement/experience (Good Costs). Dia merinci bahwa belum lama ini, BBHI telah menyelesaikan pembangunan Data Center sebagai tulang punggung infrastruktur TI yang baru, di samping terus melakukan pengembangan TI lainnya.
Di samping itu, bank juga terus menerus mengantisipasi kondisi rawan terhadap kejahatan cyber crime yang dapat mempengaruhi pendapatan dan reputasi bank melalui peningkatan sistem keamanan digital secara komprehensif.
Pihaknya juga melakukan peningkatan kualitas SDM agar lebih kompeten dalam upaya pengembangan layanan dan penguatan pelindungan data nasabah.
“Ke depan, kami akan terus meningkatkan cost discipline dalam aspek-aspek operasional kami,” ujarnya kepada Bisnis.
Kemudian, di posisi kedua PT Bank Seabank Indonesia mencatatkan laba bersih Rp202,44 miliar, naik 53,06% yoy dibanding tahun sebelumnya Rp132,26 miliar.
Lalu, pencetak laba terbesar ketiga adalah PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) yang membukukan laba Rp114,53 miliar per Juli 2024, naik 3,02% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp111,17 miliar pada Juli 2023.
Posisi Bank Amar diikuti oleh bank digital besutan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), yakni Hibank membukukan laba Rp79,22 miliar pada tujuh bulan pertama 2024, capaian ini mengalami penyusutan 38,68% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp129,19 miliar pada Juli 2023.
Selanjutnya, PT Bank Jago Tbk. (ARTO) yang menempati posisi kelima dengan raihan laba Rp61,62 miliar per Juli 2024, naik 42,61% yoy dari sebelumnya Rp43,21 miliar pada Juli 2023.
Nasabah beraktivitas di depan logo PT Bank Jago Tbk. di Jakarta, Kamis (11/1/2024). Bisnis/Abdurachman
Dari pemain lainnya yaitu Bank Digital BCA alias blu membukukan laba Rp51,02 miliar pada Juli 2024, naik signifikan 589,23% yoy dari sebelumnya Rp7,4 miliar. Pertumbuhan ini menjadikan Blu sebagai bank dengan kenaikan laba tertinggi di kelompoknya.
Sementara itu, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) atau BNC juga terus mencatatkan perbaikan kinerja di mana rugi bersih Bank Neo kian menyusut menjadi Rp2,27 miliar pada Juli 2024. Rugi ini makin kecil dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp436,92 miliar.
Saat itu, Direktur Bisnis Bank Neo Commerce Aditya Windarwo menjelaskan BNC akan terus memacu penyaluran kredit, salah satunya dengan menggenjot direct loan melalui aplikasi neobank.
“Penyaluran tersebut dilakukan dengan selektif untuk menjaga kualitas kredit dengan risiko yang dapat terkelola dengan baik,” ujarnya.
Adapun, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penting bagi ekosistem bank digital untuk mampu berkolaborasi dengan ekosistem digital lainnya sehingga memberikan multiplier effect kepada penggunanya.
Dia menuturkan kepercayaan masyarakat terhadap bank digital pun sudah mulai pulih, hal ini yang mendorong penetrasi bank digital terus tumbuh dan berkembang.
“Apalagi dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Namun, semua kembali lagi, tanpa eksosistem yang kuat, rasanya akan sia sia,” ungkapnya kepada Bisnis.
Bisnis.com, JAKARTA -- Sejumlah saham emiten bank digital berada pada zona hijau pada sebulan terakhir. Saham BBHI, ARTO, BBYB misalnya terpantau menguat khususnya pada sebulan terakhir.
BBHI sejauh ini telah merilis kinerja keuangan bulan untuk Juni 2024 dengan membukukan laba Rp200,59 miliar. Lantas bagaimana proyeksi kinerja saham bank digital khususnya BBHI ke depan?