JAKARTA, KOMPAS.com - Rafi (23), seorang mahasiswa warga Tebet menyebut sah-sah saja jika wacana kotak kosong dalam Pilkada DKI benar berjalan. Namun, menurut dia, calon yang dihadapkan dengan kotak kosong adalah calon yang kompeten.
"Setuju kalau orangnya kompeten dan layak memimpin Jakarta. Tapi kalau orangnya biasa-biasa saja dan bukan orang asli Jakarta, enggak bisa main maju-maju aja sendiri tanpa lawan. Perlu diuji, cara ujinya ya ada lawan," kata Rafi kepada Kompas.com, Jumat (9/8/2024).
Rafi menekankan, dengan hanya ada satu pasangan calon yang berkontestasi dalam Pilkada, hal itu menandakan demokrasi di Jakarta sedang tidak baik-baik saja.
Kata dia, itu pertanda bahwa partai politik hanya mementingkan kekuatan politik, bukan kepentingan Jakarta.
"Jelas dong merugikan rakyat karena jadi kelihatan jelas yang lagi dilihat (oleh parpol) jadinya kekuatan politik, bukan urusan Jakarta-nya," kata dia.
Hal senada diucapkan Sophiyan (50), seorang pengemudi ojek online. Menurut dia, seharusnya ada "sparring partner" dalam Pilkada.
Masih kata Sophiyan, dengan tidak adanya oposisi, kondisi Jakarta bisa saja sama seperti saat Orde Baru.
"Masa kita mau dikuasain sama (sekelompok elite) yang sekarang? Yang bagus itu ya ada sparring partner-nya lah. Nanti kalau enggak ada sparring partner nanti kayak Pak Harto (Presiden RI Soeharto)," ujar dia saat ditemui di Taman Gajah, Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat.
Sophiyan justru tidak percaya dengan narasi Pilkada DKI melawan kotak kosong. Baginya, Pilkada DKI dengan lawan kotak kosong sama saja dengan pembodohan.
"Ah saya enggak mau berandai-andai, enggak mungkin kayaknya. Itu sih cuma permainan kata kata aja. Enggak mungkin lawan kotak kosong. Kalau menurut saya, dibodoh-bodohin aja sih kalau lawan kotak kosong," kata Sophiyan.
Berbeda dengan Novan (30), penjual kopi keliling di kawasan Blok M. Dia justru mempertimbangkan efisiensi dana ketika Pilkada DKI harus melawan kotak kosong.
Pasalnya, kata dia, jika kotak kosong yang menang, anggaran untuk Pilkada akan ditambah hingga mendapatkan pemimpin yang tepat.
"Pilih yang ada aja biar anggaran enggak habis, biar cepat juga. Enggak ngaruh pemimpin juga, sampai sekarang saya masih jual kopi juga. Sama aja semuanya mah," kata dia.
Beda cerita dengan Bambang (19) dan Aldo (20). Dua pria yang sama-sama berprofesi sebagai pekerja restoran ini masih berharap Anies baswedan masih bisa maju dalam Pilkada DKI 2024.
"Harapan saya sih Pak Anies maju lagi. Sosok yang dibutuhkan Jakarta itu yang jujur dan mengayomi masyarakat," kata Bambang saat ditemui di tokonya, di Prapanca Raya, Jakarta Selatan.
Sementara Aldo, jika bukan Anies yang mencalonkan diri, ia mengaku lebih memilih kotak kosong untuk dicoblos.
"Saya pilih kotak kosong kalau selain Anies yang maju. Lebih baik enggak usah milih dah," ujar pria asal Mampang.