JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang penyintas atau korban selamat dari bom terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, 2017 silam, Susi Afitriyani atau kerap disapa Pipit, sama sekali tak menaruh dendam ke mantan pelaku pengeboman.
Meskipun pelaku itu telah membuat dirinya dikatakan "cacat" oleh orang-orang di lingkungan sekitarnya pasca peristiwa kelam.
"Saya berdoa, saya berharap tidak ada lagi kejadian-kejadian yang mengakibatkan orang yang harusnya sehat dan baik-baik saja, tiba-tiba harus mengalami menjadi cacat. Dan saya harap tidak ada korban-korban lagi yang mengalami hal seperti ini di luar sana," kata Pipit sembari terisak menahan tangis di hadapan awak media di Jakarta, Minggu (8/9/2024).
"Dan sampai sekarang saya tidak ada rasa dendam atau pun marah sama pelaku. Malah saya merasa, mungkin ini jalan takdir Allah buat saya pribadi," sambungnya.
Kesaksian dan keberanian Pipit membuka "luka lama" akibat peristiwa bom Kampung Melayu tujuh tahun silam itu. Pipit menceritakan dengan detail apa yang dialaminya sebelum dan sesudah peristiwa kelam tersebut.
Untuk diketahui, peristiwa bom Kampung Melayu terjadi pada Rabu (24/5/2017) malam.
Ledakan itu menewaskan tiga orang anggota kepolisian yang sedang menjaga pawai obor serta menyebabkan korban luka dari masyarakat sipil.
Pipit, yang kini berusia 28 tahun itu, menceritakan bahwa ia adalah perantau dari Brebes, Jawa Tengah.
Ia datang ke Jakarta awalnya untuk kuliah sekaligus bekerja. Pipit diterima kuliah di Universitas Azzahra.
Ia pun membiayai dirinya sendiri dengan bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) yang menjaga dua orang anak di sebuah rumah.
"Dan pada saat itu orangtua Pipit itu di rumah sama sekali enggak tahu kalau Pipit itu kuliah. Karena pengennya Pipit itu kan punya cita-cita, kayak ingin memberi kejutan yang mana ketika Pipit itu lulus kuliah, Ibu datang, 'Ya Allah kamu ternyata kuliah'. Gitu," ujar Pipit.
"Cita-citanya seperti itu. Karena Pipit ini dari keluarga yang sangat tidak mampu dan sampai harus istilahnya sekolah saja itu dibantu sama tetangga lah," sambung dia.
TRIBUNNEWS / HERUDIN Polisi memeriksa jenazah dan melakukan olah TKP bom bunuh diri di sekitar Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017).Singkat cerita, Pipit harus menghentikan sejenak kegiatan perkuliahannya karena sukar membagi waktu antara kuliah dan bekerja.
Namun, sang majikan memintanya untuk tetap di rumah meski tidak bekerja penuh. Hanya Pipit khawatir hal itu tetap bisa mengganggu kuliahnya karena bisa saja anak-anak yang dititipkan tetap "menempel" kepadanya.
Akhirnya, majikan tersebut merelakan Pipit pergi dengan mencari pekerjaan lain.
Pipit bersikeras ingin tetap berkuliah jika sudah mendapatkan pekerjaan yang tidak mengganggu aktivitasnya. Kata Pipit, ia bersikeras karena satu cita-cita, yakni mengangkat derajat dan membahagiakan orangtua.
"Akhirnya Pipit izin kuliah enggak masuk kuliah seminggu. Itu pontang-panting (cari kerja). Itu masih enggak kepikiran lah akan ada hal yang bisa dibilang menghambat mimpi Pipit itu (peristiwa bom Kampung Melayu)," beber ibu satu anak ini.
Diajak keluyuran, tapi menolak
24 Mei 2017, Pipit kembali kuliah. Hari itu, Pipit hanya berkuliah satu mata pelajaran, tak seperti biasanya. Rekan-rekan kampusnya mengajak agar Pipit tidak langsung pulang, melainkan makan dan kumpul di kampus sejenak.
Namun, Pipitmenolak karena mengaku tak biasa keluyuran. Ia pun pamit ke rekan-rekannya untuk pulang lebih dulu, bersama rekannya bernama Jihan.
Tak disangka, hal ini justru menjadi malapetaka bagi Pipit, di mana setelah ia pergi ke salah satu minimarket dekat terminal Kampung Melayu, ledakan dahsyat tak terhindarkan olehnya.
"Kenapa enggak lama ya di minimarket, kenapa enggak muter-muter dulu saja. Langsung nyebrang dan tepat di samping kamar mandi terminal Kampung Melayu, itu meledak dan suaranya itu tidak seperti ledakan yang (ban meledak), tengggg, (terdengar) langsung di kuping. Itu sekian detik enggak bisa mendengar apapun. Badan sudah terlempar, suasananya gelap," katanya.
Pipit sempat terdiam dan bahkan mengira hari itu adalah hari kiamat. Namun, ia meralat sendiri perkiraannya karena hari itu baru hari Rabu.
Sementara menurut kepercayaan Pipit, dalam agama Islam, kiamat akan jatuh pada hari Jumat.
Tersadar bahwa ini bukan kiamat, Pipit bergegas dan menghindar lebih jauh dari tempat semula. Namun ia justeru terjatuh, beruntung ada seorang polisi menolongnya.
Polisi itu meminta Pipit untuk bangun dan mengatakan bahwa yang baru saja terjadi adalah peledakan bom.
Rasa sakit mulai menyelimuti Pipit. Bahkan ia tak bisa berdiri. Polisi pun menggotongnya untuk menjauh.
"Dan, tepat di Pipit jatuh itu, setelahnya ada ledakan kedua. Pipit sampai di rumah sakit. Sampai sekarang enggak bisa bayangin, kalau Pipit enggak diangkat sama Pak Polisi itu, mungkin sudah kena ledakan kedua dan mungkin tidak ada di sini. Alhamdulillahnya. Pipit itu langsung dicarikan kendaraan dan itu ditaruh di angkot," jelas dia.
Pipit kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu RS Budi Asih guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut.
Di sana, Pipit diminta untuk tidak tidur atau menahan rasa kantuk. Sebab jika tertidur maka akan berakibat fatal untuknya.
Adapun bahu kanan Pipit hancur akibat ledakan bom. Pipit menceritakan betapa mengerikan luka yang dialaminya ketika itu.
"Waktu itu Pipit hanya ditutup kasa. Dan dagingnya itu sudah hancur seperti diblender. Tulangnya sudah keluar," urai Pipit.
Ini juga membuatnya tidak bisa beraktivitas seperti dahulu lagi. Bagian atas tangan kanannya yang hancur berdampak bagi Pipit yang terpaksa hanya mengandalkan tangan kirinya untuk melakukan semua kegiatan.
Pipit juga baru sadar jika di bahu kanannya yang hancur itu terdapat berbagai serpihan besi. Itu berasal dari bahan peledak bom yang masuk ke sebagian tubuhnya.
Perjalanan hidup normal
Setelah kejadian, Pipit kembali ke Brebes. Namun kembali ke Brebes justeru tak mengubah hidup Pipit seutuhnya.
Di sana lah Pipit merasakan perlakuan dari lingkungan sekitar yang sangat disayangkannya, alih-alih mendapat penyegaran jasmani dan rohani.
Justru pandangan sebelah mata didapatnya karena menjadi korban bom. Hal-hal ini bahkan membuatnya mengurung diri enggan keluar rumah selama satu tahun.
"Jadi pada saat itu, enggak mau keluar sama sekali. Malu sama teman-teman, belum orang-orang sekitar memandang kurang baik lah. Sampai akhirnya enggak berani keluar selama setahun, itu di rumah aja," ucap Pipit yang mulai berurai air matanya.
Singkat cerita, Pipit mulai bisa menerima keadaan setelah bertemu dengan mereka yang lebih berkekurangan daripadanya.
Pipit meyakini hidupnya akan kembali normal dengan tetap tegar menjalani segala takdir yang diterimanya.
Meski cita-cita lulus kuliah belum bisa dilanjutkan, Pipit tidak tinggal diam. Ia mulai membuka usaha setelah hidup berumah tangga.
"Alhamdulillah sudah mendapatkan jodoh dan sudah dikaruniai satu anak, dan putri (anak perempuan). Alhamdulillah. Yang slalu dibilang sama orang-orang, 'Alhamdulillah ya, Pit, dapatnya cewek, jadi bisa biar bisa gantiin tangan kanan emaknya," kata dia.
Terakhir Pipit menyampaikan pesan perdamaian, untuk para pelaku teror maupun seluruh masyarakat.
"Semoga tidak ada lagi kekerasan-kekerasan di luar sana dan tidak ada korban lagi seperti yang Pipit alami," tutupnya.