#30 tag 24jam
Menteri Kebudayaan Dorong Pembangunan Museum Musik hingga Peradaban Islam
Ada sejumlah museum yang bakal dibangun. [338] url asal
#museum #museum-musik #museum-peradaban-islam #fadli-zon #komisi-x-dpr
(MedCom) 06/11/24 18:01
v/17594791/
Jakarta: Menteri Kebudayaan Fadli Zon bakal melanjutkan sejumlah kebijakan yang sedang berjalan di bidang kebudayaan. Salah satunya ada pembangunan sejumlah museum."Ada beberapa hal yang sedang kita pikirkan dan sedang dijalankan baik di dalam Badan Layanan Umum (BLU) museum dan cagar budaya, itu ada 18 museum dan 32 cagar budaya, termasuk di dalamnya ada Candi Borobudur, Prambanan, dan lain-lain," ujar Fadli dalam Rapat Kerja perdana dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 6 November 2024.
Pertama, Museum Musik Lokananta. Fadli menuturkan Lokananta mempunyai potensi besar yang lebih cocok diurus Kementerian Kebudayaan.
"Sudah direnovasi dan cukup baik bisa ada museum musik. Karena tidak ada musuem musik kecuali ada yang swasta di Jatim, tapi dalam skala nasional bisa menampung," kata Fadli.
Dia menuturkan Indonesia memiliki banyak warisan di bidang musik termasuk musisinya. Selain itu, sudah banyak artefak di Lokananta baik shellac, vinyl, kaset, realtape, dan lainnya.
Selanjutnya, Museum Sastra Indonesia. Fadli baru-baru ini meresmikan Museum Sastra Indonesia dan Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Dia menyebut pendirian museum ini bekerja sama dengan komunitas. Ada banyak artefak yang dipamerkan, mulai dari pemulis, penyair, mesin tik, kacamata, tulisan tangan, puisi, drama, dan lainnya.
"Museum PDRI juga sudah lama belum berfungsi. Ini juga dulu di Kemendikbudristek, kita akan mencoba untuk meresmikan ini supaya bisa berjalan rencananya ini kerja sama dengan tujuh K/L ada Kemenhan, dan lain-lain," tutur Fadli.
Selain itu, kata dia, Indonesia sudah memiliki banyak situs candi. Namun, sebagai negara muslim terbesar di dunia, belum ada museum semacam peradaban Islam di Inddonesia.
"Bagaimana masuknya Islam di Indonesia, ini agak unik, khas. Ada kerajaan-kerajaan, kesultanan-kesultana, Samudra Pasai, Demak, Cirebon, ada Walisongo, akulturasi budaya dengan budaya-budaya," tutur dia.
Sebelumnya, sudah ada museum wayang dan keris, sehingga perlu juga untuk memikirkan pembuatan museum peradaban Islam. Selain itu, kata dia perlu ada museum anak Indoensia yang bisa diisi permainan-permainan tradisional.
| Baca juga: Fadli Zon Resmikan Museum Sastra Indonesia dan Rumah Puisi Taufiq Ismail |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Wapres Harap Universitas dan RS Islam Syekh Nawawi Banten Jadi Pusat Peradaban Islam
Wapres Ma'ruf Amin resmikan pembangunan USNB dan RS Islam Syekh Nawawi di Banten, harap jadi pusat peradaban Islam. Halaman all [493] url asal
#ma-ruf-amin #pusat-peradaban-islam #universitas-syekh-nawawi #rs-islam-syekh-nawawi
(Kompas.com) 14/10/24 18:16
v/16458204/
JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin meresmikan Pencanangan Pembangunan Universitas Syekh Nawawi Banten (USNB) dan Groundbreaking Rumah Sakit (RS) Islam Syekh Nawawi Banten pada Senin (14/10/2024) di Tanara, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Dalam acara tersebut, Wapres menegaskan bahwa pembangunan ini bertujuan untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat peradaban Islam yang mampu menyebarkan ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam.
"Tujuan besarnya adalah ingin membangun tempat ini, kawasan ini, menjadi pusat peradaban Islam yang akan memancarkan ilmu (dan) juga pemikiran," ungkap Wapres.
Wapres menjelaskan bahwa proyek ini terinspirasi oleh Baitul Hikmah, sebuah pusat peradaban besar di Baghdad pada masa Abbasiyah yang melahirkan banyak pemikir Islam terkemuka.
Ia menekankan pentingnya USNB sebagai tempat untuk melahirkan generasi pemikir dan ahli di berbagai bidang.
"Saya terinspirasi oleh adanya pusat (peradaban) namanya Baitul Hikmah ketika zaman Abbasiyah, (yang) besar di Baghdad. Dari situlah lahir ulama-ulama besar, pemikir-pemikir besar," kata Wapres.
Pembangunan USNB dan RS ini juga diharapkan menjadi bentuk penghormatan terhadap Syekh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar asal Banten yang terkenal di Indonesia maupun di luar negeri.
"Bagian proses pengembangan pendidikan (bertujuan) untuk mengenang Al-Maghfurllah Syekh Nawawi Al-Bantani," ungkap Wapres.
Saat ini, USNB telah memperoleh izin untuk mendirikan delapan fakultas, yang terdiri dari tujuh fakultas agama dan satu fakultas umum.
Wapres berharap universitas ini dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga bidang-bidang keilmuan modern seperti teknologi, kedokteran, dan ekonomi.
"Universitas ini sudah memperoleh izin untuk 7 fakultas agama dan 1 fakultas umum, nanti fakultas umumnya akan terus kita lengkapi," kata Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Dalam kesempatan tersebut, Wapres juga menyampaikan bahwa kawasan ini akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung lainnya, termasuk pendidikan vokasi dan Museum Syekh Nawawi Al-Bantani.
“Sehingga kalau orang ingin melihat Syekh Nawawi karangannya, profilnya, kerangka berpikirnya, atau apanya, nanti akan kita buat museumnya di situ,” jelas Wapres.
Ia berharap kawasan ini akan menjadi pusat peradaban Islam yang mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang unggul dan dapat memberikan kontribusi besar dalam pembangunan nasional.
"Saya ingin kawasan ini nanti menjadi pusat peradaban yang melahirkan para orang-orang yang menguasai agama, yaitu (mereka) yang bisa memberikan sumbangan lebih besar di dalam rangka pembangunan nasional Indonesia," ujar Wapres.
Damaskus, Gerbang Kejayaan Peradaban Islam
Damaskus melahirkan banyak ilmuwan Muslim pada masa keemasan Islam. [475] url asal
#sejarah-islam #sejarah-peradaban-islam #sejarah-damaskus
(Republika - Khazanah) 01/10/24 14:00
v/15839323/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sejarah Islam, Damaskus merupakan kota pusat pemerintahan pertama di luar Jazirah Arab. Pendiri Dinasti Umayyah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, memindahkan ibu kota dari Madinah ke Damaskus pada 661. Namun, Damaskus sesungguhnya sudah jatuh ke tangan Islam sebelumnya, yakni sejak era Khalifah Umar bin Khathab pada 635 M.
Sebagai kelanjutan dari masa Khulafaur rasyidin, Dinasti Umayyah menjadikan Damaskus sebagai cermin pencapaian peradaban umat Islam. Pada 707, di kota tersebut berdiri rumah sakit sekaligus pusat studi kedokteran pertama atas perintah Khalifah Walid bin Abdul Malik.
Sampai abad ke-13, menurut sejarawan Thomas Goldstein, sebagaimana dikutip Husain Heriyanto (2011), ada 30 rumah sakit di Damaskus sampai abad ke-13. Sebelumnya, perpustakaan publik pertama juga berdiri di Damaskus pada 704. Inisiatornya adalah Khalifah Khalid bin Yazid, yang tidak lain merupakan cucu pendiri Dinasti Umayyah.
Di perpustakaan inilah mula-mula pusat kegiatan intelektual berlangsung. Di antaranya ada aktivitas filologi kesusastraan Arab serta kajian-kajian ilmu hadiyts, fiqih, kalam, dan sejarah.
Masa keemasan meliputi Damaskus begitu Sultan Nuruddin berkuasa pada 1154. Pada eranya, banyak masjid, madrasah, dan pusat kesehatan publik dibangun untuk menunjukkan pencapaian peradaban Islam. Demikian pula dengan peningkatan kekuatan militer negara.
Adapun aktivitas intelektual di Damaskus pada zaman itu berkembang pesat, antara lain, lantaran kontribusi dari dua suku, yakni Bani Asakir dan Bani Qudama.
Sultan Nuruddin mendirikan pusat studi hadits pertama, Dar al-Hadits di Damaskus. Madrasah yang khusus bagi mazhab Maliki, al-Shalahiyyah, juga dibina. Begitu pula dengan madrasah al-‘Adiliyyah pada 1171, yang kini menjadi Arab Academy.
Salah satu pemikir yang unggul di Damaskus dalam masa keemasan Islam adalah Ibnu Taimiyah (1263-1328). Orang tuanya membawanya hijrah dari Harran, yang diserbut tentara Mongol pada 1269, ke Damaskus ketika Ibnu Taymiyyah masih berusia tujuh tahun.
Di Damaskus, ayahnya ditunjuk menjadi kepala madrasah Sukkariyyah. Dia sempat mengajar di madrasah yang sama mengenai ilmu hadits. Di Masjid Umayyah, Ibnu Taimiyyah juga mengajar di zawiyah.
Hubungannya dengan rezim penguasa dalam masa itu kerap bermasalah. Bahkan, ia pernah merasakan dinginnya penjara beberapa kali. Di dalam bui, dia tetap melanjutkan menulis karya-karyanya.
Selain Ibnu Taimiyah, ada pula Ibnu al-Syatir (wafat 1375), seorang Muslim astronom sekaligus pakar matematika. Pria kelahiran Damaskus ini pada setahun lamanya belajar di al-Iskandariah, Mesir. Karyanya yang paling dikenang adalah Zij al-Jadid, Taliq al-Arsad dan Nihayat al-Sul.
Dia juga meletakkan dasar-dasar teori peredaran planet-planet serta merancang pelbagai instrumen untuk mendukung kajian astronomi secara presisi.Pada 1337, dia menciptakan dua alat pengukur jarak benda-benda langit (astrolabe).
Pada 1371, dia membuat jam matahari raksasa untuk Masjid Damaskus. Sebagai astronom, rumus-rumusnya mendahului para astronom Eropa abad pencerahan, misalnya Copernicus yang menggegerkan Gereja dengan teori matahari-sentris.
Bahkan, beberapa riwayat menyebut, perhitungan Copernicus sama persis dengan al-Syatir. Apalagi, al-Syatir merupakan pengoreksi teori astronomi Yunani Kuno, Ptolemy, yang banyak dipakai Gereja untuk dalih “bumi sebagai pusat semesta.”
Arab Induk Musik Spanyol, Spanyol Induk Musik Dunia
Orang Arab telah banyak memasukkan alat-alat musik ke Eropa. [661] url asal
#islam #cordoba #peradaban-islam #musik-islami #spanyol
(Republika - Khazanah) 13/08/24 14:28
v/14369025/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Banyak orang yang mengira bahwa kesenian musik, ilmu dan alat-alatnya ditemukan oleh orang-orang Eropa secara murni. Padahal kenyataannya mereka banyak berhutang jasa kepada bangsa Arab dalam hal musik.
Orang Arab telah banyak memasukkan alat-alat musik ke Eropa yang menjadi tulang punggung bagi seni musik di Barat. Misalnya pada abad ke-11, orang Arab telah memasukkan alat musik rebana ke Eropa, kemudian disusul dengan dua alat musik lainnya, yaitu kecapi dan gitar. Sebagaimana mereka juga memasukkan alat musik gendang, yaitu peralatan yang ditabuh.
Dari orang Arab juga, orang Eropa mengetahui kastanyet yang dalam bahasa Arab disebut "Ash-Shinaj" dan dinukil ke bahasa Inggris menjadi "Sunaga." Mereka juga mengenal gendang segi empat yang mereka sebut "Ad-Darfu" dan "Bandir." Kedua alat terakhir ini merupakan alat musik yang ditabuh dan telah ada sejak sebelum Islam.
Eropa juga mengenal gendang Arab dan akhirnya beredar ke mana-mana dengan nama yang bermacam-macam, seperti "Tabal." Di antara alat musik yang dikenal Eropa yang juga dari Arab adalah Fanfare (musik yang dimainkan oleh terompet) yang berasal dari kata Arab "Anfar" jamak dari "Nafir." Demikian juga dengan alat musik "Al-Qanun," yang oleh orang Eropa disebut "Canon."
Dikutip dari buku 147 Ilmuan Terkemuka Dalam Sejarah Islam karya Muhammad Gharib Gaudah diterjemahkan Muhyiddin Mas Rida Lc dan diterbitkan Pustaka Al-Kautsar. Dijelaskan bahwa orang-orang Eropa juga mengambil dari Arab cara membuat melodi yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama "Tablature" yang banyak dipraktikkan di Baghdad dan kota-kota di negara Arab sebelum dibawa ke Andalusia.
Tablature adalah cara menggunakan tali kecapi atau gitar dengan menggunakan jari-jari tangan sesuai dengan not-not yang ada. Cara pembuatan melodi seperti ini masih tetap dipergunakan di Eropa hingga abad ke-8 Masehi, yang kemudian diganti dengan cara pembuatan melodi modern.
Sebelum Eropa mengenal bangsa Arab dan kaum Muslim, nyanyian Eropa yang dilantunkan di gereja-gereja masih sangat sederhana dan tidak memiliki susunan melodi yang indah. Lalu mereka belajar kepada bangsa Arab cara memasukkan melodi ke dalam lagu-lagu yang sederhana sehingga menjadi indah.
Dalam buku "Al-Musiqa Al-Kabir" berbicara tentang pengaturan nada suara dan disebut "at-tadh'if" dan kadang-kadang disebut "at-tarkib." Inilah asal dari ilmu pengaturan nada suara yang sekarang di Eropa dikenal dengan istilah "Harmony" dan menjadi dasar pembuatan musik modern.
Para mahasiswa dari Eropa belajar dasar-dasar musik di Andalusia yang di antaranya berhubungan dengan pengaturan nada suara, dan di kalangan mereka dikenal dengan nama "organum."
Mari kita baca apa yang ditulis dalam bahasa Latin oleh sejarawan Spanyol, Virgile of Cordova pada abad ke-11 tentang pengajaran yang berlangsung di Universitas Qordova.
"Ada enam orang profesor yang mengajarkan ilmu nahwu setiap hari di Qordova. Ada lima profesor yang senantiasa mengajarkan ilmu logika. Kemudian ada tiga profesor yang mengajarkan ilmu pengetahuan alam setiap hari. Sebagaimana juga ada satu orang profesor yang mengajar geometri, dan tiga orang mengajar fisika. Di sana ada juga dua profesor yang mengajarkan musik, itulah kesenian yang disebut dengan organum atau dalam bahasa Arab al-arghanah."
Seorang orientalis Britania, Dr. Henry Farmer menegaskan bahwa buku-buku yang diterbitkan dalam bahasa Latin pada abad pertengahan kebanyakan berasal dari terjemahan buku-buku berbahasa Arab. Hal yang sama juga ditegaskan oleh orientalis Wipra yang menyatakan bahwa musik abad pertengahan "aslinya adalah dari Arab."
Pernyataan senada juga diulangi oleh peneliti Spanyol, Edmundo Coura Lopez dalam buku- bukunya, bahwa musik Arab adalah induk musik Spanyol, sedangkan musik Spanyol adalah induk musik dunia. Terakhir kita mengutip perkataan peneliti pertelevisian Inggris, James Burke, dalam bukunya berjudul "lndama Taghayyara Al-Alam" tentang peranan musik Arab.
James Burke berkata, "Barangkali penghargaan itu perlu disematkan kepada para pemusik Arab yang telah membawa musik Arab dalam bentuk puisi dan alat-alat musik melalui daerah Provance di Tenggara Prancis dan melalui lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para penyanyi keliling, sebelum akhirnya berubah menjadi puisi dan musik bercorak modern, akan tetapi masih terlihat pengaruh Arabnya. Kemudian pada tahun 1050, Guido D'Arenzo membuat tangga lagu dengan nama-nama Arab."
Bahasa Melayu Pernah Mendunia
Dalam sejarah Islam, bahasa Melayu populer di kalangan sufi. [404] url asal
#peradaban-islam #bahasa-melayu #sejarah-islam #islam-nusantara
(Republika - Khazanah) 12/08/24 10:39
v/14281681/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bahasa Melayu pernah menjadi bahasa ketiga dalam Dunia Islam. Argumentasi itu mungkin masih berlaku sampai hari ini. Pencapaian bahasa Melayu ini juga berkat budaya tulis para ulama dan salik Nusantara, di samping menggunakan bahasa Arab, untuk menyebarkan Islam.
Pendapat ini disampaikan Prof Amin Sweeney, sebagaimana dikutip Prof Abdul Hadi WM (wafat 19 Januari 2024) dalam Cakrawala Budaya Islam. Melalui sastra dan dakwah, bahasa Arab merembes ke dalam bahasa Melayu. Demikian pula seiring dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang berpusat di kota-kota pelabuhan. Beberapa contoh di antaranya adalah Samudra Pasai, Malaka, Aceh, Johor, Banten, dan Makassar.
Abdul Hadi memaparkan, sebagian besar teks-teks Nusantara klasik ditulis pada zaman Islam, yakni abad ke-15 sampai abad ke-19. Teks-teks ini tidak hanya menggunakan bahasa Melayu atau Arab, melainkan juga bahasa daerah setempat, seperti Jawa, Sunda, Aceh, Madura, Bugis, Sasak, Banjar, dan Minangkabau.
Menurut guru besar Universitas Paramadina tersebut, penduduk Nusantara yang tak berhasil dimasukkan ke dalam Islam bisa dikatakan tidak pernah mengenal tradisi menulis.
Sejak kejatuhan Baghdad pada abad ke-13, maka mulai bermunculan organisasi-organisasi dagang yang disebut ta’ifah. Ta’ifah ini dipimpin figur sufi sehingga kegiatannya tidak semata-mata urusan perniagaan, melainkan juga sosial keagamaan.
Di sisi lain, lanjut Abdul Hadi, sastra merupakan bidang penting bagi para salik dalam menyebarkan ajarannya. Khususnya di negeri-negeri Islam non-Arab, semisal Persia, pantai timur Afrika, atau Nusantara. Para sufi tampil sebagai pelopor kebangkitan bahasa-bahasa baru Dunia Islam.
Sebut saja bahasa Persia, Swahili, Urdu, atau Melayu. Semua itu naik tarafnya menjadi bahasa peradaban Islam di wilayah penutur aslinya dan bahkan mencapai lintas wilayah (internasional).
Salah satu sastrawan Muslim unggul pada masa itu adalah Hamzah Fansuri. Ia merupakan penulis sufi yang memperkenalkan syair dalam kesusastraan Melayu. Genre tersebut merupakan bentuk sajak yang terdiri atas empat baris dengan rima teratur, ‘a-a-a-a.’
Abdul Hadi menduga, syair merupakan perpaduan dari genre ruba’i yang berasal dari Persia dan pantun Melayu. Di samping bahasa Arab, Persia dan Melayu, Hamzah Fansuri juga menguasai bahasa Hindi, Jawa, dan Siam.
Hamzah Fansuri juga merupakan orang pertama yang menulis risalah keagamaan dan ilmu pengetahan dalam bahasa Melayu tinggi. Adapun ulama-ulama terdahulu pada umumnya menulis dengan bahasa Arab.
Melalui tangan Hamzah Fansuri-lah bahasa Melayu mulai difungsikan sebagai bahasa fungsional untuk sastra dan sains. Abdul Hadi WM bahkan mengusulkan agar Hamzah Fansuri didaulat sebagai Bapak Bahasa Indonesia dan Malaysia atas jasa-jasanya mengangkat bahasa Melayu.
Sang Perintis Psikologi Islam
Ada peran al-Balkhi dalam merintis studi psikologi Islam. [464] url asal
#al-balkhi #psikologi-islam #psikologi #psikolog #sejarah-peradaban-islam #kontribusi-islam
(Republika - Khazanah) 11/08/24 10:11
v/14150324/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Abu Zaid al-Balkhi (850-934 M) merupakan salah satu tokoh dalam sejarah psikologi. Pemilik nama asli Ahmad bin Sahl itu sesungguhnya adalah seorang pakar multidisiplin ilmu pengetahuan (polymath). Bagaimanapun, jasanya dalam bidang ilmu jiwa begitu signifikan. Dialah yang disebut-sebut sebagai perintis psikologi Islam.
Cendekiawan Persia itu menulis banyak karya, di antaranya adalah Masalih al-Abdan wa al-Anfus. Di dalamnya, ia memperkenalkan istilah terapi kesehatan jiwa (thibb ar-ruhani). Menurutnya, pengobatan yang hanya berfokus pada kondisi fisik tidaklah cukup. Seorang dokter atau ahli medis juga perlu memperhatikan aspek mental atau kejiwaan pasien.
Dalam masa sekarang, topik yang diusung sang cendekiawan Muslim itu kerap disebut sebagai psikosomatis. Ini merupakan kondisi ketika suatu penyakit fisik yang muncul diduga disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental seseorang. Di antara gejala-gejala psikosomatis adalah jantung yang berdebar-debar, sesak napas, dan nyeri pada seluruh tubuh.
Rihlah yang dijalani al-Balkhi hingga menjadi ahli ilmu jiwa bermula sejak dini. Seperti tampak dari namanya, lelaki ini lahir di wilayah Balkh—kini termasuk Afghanistan. Ayahnya merupakan seorang guru. Demi mendukung kesuksesan anaknya, sang bapak pun mengirimkannya ke pelbagai syekh untuk menimba ilmu.
Hingga akhirnya, al-Balkhi merantau ke Baghdad. Selama delapan tahun, dirinya belajar dan bekerja di pusat Negeri Abbasiyah tersebut. Waktu itu, Abbasiyah sedang mengalami kekacauan politik dan sosial. Bahkan, wilayah kekhalifahan ini menyusut hingga menyisakan Baghdad dan sekitarnya.
Bagaimanapun, al-Balkhi tidak begitu terpengaruh oleh kondisi negara yang carut-marut. Dirinya tetap dengan tekun menuntut ilmu, melanjutkan tradisi intelektual Islam.
Melalui Masalih, ia mengkritik dunia kedokteran di masanya yang cenderung memusatkan perhatian pada penyakit fisik pasien. Padahal, menurutnya, banyak orang yang dirawat di rumah sakit pun mengalami gangguan kejiwaan.
Malahan, ia mengajukan hipotesis, penyakit fisik patut diduga mempengaruhi kondisi kognitif dan kejiwaan si pasien. Pun berlaku sebaliknya: keadaan psikis seseorang yang terganggu bia menyebabkannya rentan terserang penyakit (fisik).
Al-Balkhi menjadi yang pertama mendeteksi perbedaan antara neurosis dan psikosis. Ia pun yang pertama kali merintis terapi kognitif dalam rangka mengkaji pengelompokan gangguan penyakit ini. Ilmuwan tersebut mengelompokkan penyakit mental-kejiwaan ke dalam empat bagian, yaitu ketakutan dan fobia (al-faza); agresi dan amarah (al-ghadab); kesedihan dan depresi (al-jaza); serta obsesi (was was al-sadr).
Sebagai contoh, untuk mengatasi al-jaza, seorang tabib dapat menerapkan terapi internal dan eksternal. Internal berarti, si pasien didorong untuk menanamkan pikiran-pikiran positif yang bisa menangkal kesedihannya.
Umpamanya, menguatkan keyakinannya bahwa kematian orang yang dikasihinya adalah takdir Allah SWT yang mengandung hikmah tertentu. Adapun terapi eksternal dapat dilakukan dengan memberikan nasihat atau membuka obrolan persuasif dengannya.
Di antara nasihat al-Balkhi yang terkenal ialah, “Kematian adalah keniscayaan. Janganlah engkau takut padanya. Jika engkau takut pada apa yang akan terjadi setelah kematian, perbaikilah dirimu sebelum kematian menjemputmu. Takutlah akan perbuatan-perbuatan jahat (yang engkau lakukan), bukan pada kematianmu!”
RSJ Pertama Kali Muncul dari Peradaban Islam
Peradaban Islam merintis institusi rumah sakit jiwa atau RSJ. [373] url asal
#rumah-sakit-jiwa #psikologi-islam #peradaban-islam #sumbangan-peradaban-islam
(Republika - Khazanah) 11/08/24 09:15
v/14150327/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam berkontribusi besar dalam memajukan dunia psikologi. Peradaban Islamlah yang pertama memiliki rumah sakit, termasuk rumah sakit jiwa.
Prof Raghib as-Sirjani dalam buku Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia menjelaskan ratusan tahun sebelum masyarakat Eropa mengenal institusi pelayanan kesehatan mental, Dinasti Abbasiyah telah membuka rumah-rumah sakit yang khusus menangani pasien dengan gangguan kejiwaan.
Pada 705 M, di Baghdad diketahui telah berdiri sebuah rumah sakit jiwa. Di sanalah, para dokter dan psikolog Muslim mengamalkan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Masih pada awal abad kedelapan Masehi, peradaban Islam yang bersemi di Afrika Utara pun tak kalah menakjubkannya.
Di Kota Fes, Maroko, sebuah rumah sakit jiwa didirikan. Begitu pula dengan Kota Kairo, Mesir, tepatnya pada 800 M. Setelah itu, pada tahun 1270 M, Kota Damaskus dan Aleppo (Halab), Suriah, juga mulai memiliki rumah sakit jiwa.
Sebagai perbandingan, Inggris baru mulai memiliki rumah sakit jiwa pada 1831 M. Namanya adalah Middlesex County Asylum yang berlokasi di Hanwell, sebelah barat London.
Pemerintah setempat mendirikannya setelah muncul desakan dari publik, yang mengerucut pada disepakatinya aturan Madhouse Act pada 1828.
Belajar dari sejarah, perkembangan keilmuan psikologi di Barat dan Islam pun hendaknya dijembatani satu sama lain. Dalam hal ini, Dr Syamsuddin Arif dalam artikelnya, "Psikologi Dalam Islam" (2009), menilai, masih banyak khazanah psikologi Islam yang perlu diselami dan disebarluaskan ke masyarakat.
Memang, dia mengakui, ada pelbagai kendala untuk mewujudkan upaya-upaya demikian. Sebut saja, syak wasangka terhadap dunia intelektual Islam di satu sisi yang kerap luput dipandang daripada Barat.
Kedua, dan mungkin yang lebih parah, ialah fanatisme terhadap psikologi modern (Barat). Padahal, seperti sudah dijelaskan di atas, dunia keilmuan Barat pun dilanda krisis. Terkait psikologi, terasa bahwa ilmu jiwa ini justru tidak ada (membahas) jiwa.
“Psikolog Muslim tinggal memilih, mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dan sebagainya, atau belajar dari para ahli psikologi Islam?” tanyanya retoris.
Epistemologi yang dipakai psikologi—menurut Islam—tidak hanya mengandalkan yang empiris, tetapi juga metaempiris. Gangguan jiwa, umpamanya, tidak melulu dikaitkan dengan kondisi saraf atau otak seseorang.
Dalam pandangan Islam, apabila orang itu terlalu mencintai dunia (hubbud-dunya), maka ia bisa dikatakan sedang terganggu jiwanya. Agar menjadi normal lagi, jiwa manusia pun mesti kembali ke kondisi tenang dan tenteram, yang dapat ditempuh melalui penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
Di INSISTS Camp, Prof Hamid Fahmy Bicara Penanaman Worldview di Keluarga
INSISTS akan terus gelar program untuk bangkitkan tradisi keilmuan. [626] url asal
#insists #pemikiran-islam #hamid-fahmy-zarkasyi #henry-shalahudin #peradaban-islam #worldview
(Republika - Khazanah) 09/08/24 00:29
v/13790881/
REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Pusat studi pemikiran dan peradaban Islam (INSISTS) menggelar INSISTS Camp untuk menawarkan suasana baru rekreasi keluarga. Acara ini berlangsung pada hari Sabtu-Ahad, 3-4 Agustus 2024 ini berlokasi di Richie’s Garden Resto & Villa, Jl. Gunung Batu, Bojong Koneng, Kec. Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Penyelenggaraan kegiatan tersebut didasarkan pada dinamika generasi muda sebagai pembangun peradaban maju sebuah bangsa. Untuk mencetak generasi emas yang gemilang dan berprestasi, pendidikan keluarga memainkan peran strategis sebagai lingkungan pertama yang akan membentuk mental karakter anak. Oleh karena itu—terutama sebagai keluarga muslim—penanaman akidah, pemahaman syariah, serta pembentukan akhlaq mulia bagi anak-anak harus dibiasakan sejak dini.
Meskipun bertemakan keluarga, INSISTS Camp sarat dengan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan wawasan para peserta seputar nilai-nilai Islam dalam berkeluarga. Dengan bertajuk “Merawat Keluarga, Mencetak Generasi”, acara ini menghadirkan tamu istimewa yakni Ustaz Asep Sobari, Founder Sirah Community Indonesia (SCI) yang juga merupakan peneliti INSISTS, serta Prof Hamid Fahmy Zarkasyi, Rektor Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) sekaligus Direktur Utama INSISTS.
Rentetan kegiatan INSISTS Camp dimulai pada Sabtu (3/8) siang. Setelah check in ke kamar masing-masing, para peserta menyantap hidangan siang yang telah disediakan sembari mendengarkan welcoming speech dari Ustaz Dr. Henri Shalahuddin, Direktur Eksekutif INSISTS. Dalam sambutannya, Ustadz Henri menghaturkan terima kasihnya kepada para peserta yang telah antusias berpartisipasi dalam acara ini.Setelah bersantai sejenak, kegiatan dilanjutkan dengan shalat Ashar berjamaah kemudian Kajian Ba’da Ashar bersama Ustadz Asep Sobari.
Kajian tersebut mengangkat judul “Potret Keluarga Ulama”, yang menjelaskan latar belakang beberapa keluarga Muslim yang telah berhasil melahirkan figur-figur masyhur dalam sejarah tradisi intelektual Islam. Meskipun sangat beragam, namun dari sekian keluarga tersebut dapat ditemukan benang merah yang menghubungkan kisahnya; yakni budaya cinta ilmu, pendidikan usia dini, serta pengorbanan harta yang tidak sedikit.
Lihat halaman berikutnya >>>
Jelang waktu Maghrib, para peserta kembali berkumpul di Onion Hall untuk menunaikan shalat berjamaah. Setelah mengimami jamaah, Ustaz Asep memberikan sedikit tausiyah dengan tajuk “Alquran dan Keluarga”. Dalam kesempatan ini, Ustaz Asep menekankan pentingnya mendekatkan para anggota keluarga dengan Alquran sehingga mampu menghambakan diri secara kaffah kepada Allah Sang Pencipta. Usai tausiyah dan disambung dengan shalat Isya berjamaah, para peserta menikmati hidangan makan malam sembari bercengkerama dan diskusi hangat di antara mereka.
Kegiatan inti yang berlangsung pada malam harinya adalah Special Talk bersama Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi. Dalam sesi tersebut, Prof Hamid membawakan tema “Menanamkan Worldview Islam dalam Keluarga”. Prof Hamid menjelaskan pentingnya worldview Islam bagi setiap anak dan orang tua karena menjadi fondasi utama dalam membentuk cara berpikir, keyakinan, hingga tingkah laku seseorang. Prof Hamid juga menjabarkan secara rinci bagaimana tahapan-tahapan untuk menanamkan worldview Islam dalam mendidik anak; dimulai dari usia 5-13 tahun yang berfokus pada aspek amal, kemudian periode remaja dan dewasa awal yang lebih didominasi oleh aspek ilmu, serta fase dewasa lanjutan yang harus dipadukan secara seimbang antara aspek ilmu-iman-amal.
Kegiatan hari kedua, Ahad (4/8), diawali dengan shalat Shubuh berjamaah kemudian Kajian Ba’da Shubuh oleh Prof Hamid dengan tajuk “Dari Syariah Membangun Dzurriyyah Thayyibah”. Prof Hamid menguraikan bahwa ibadah-ibadah yang disyariatkan di rukun Islam tidak hanya bermakna ritual menggugurkan kewajiban saja, tetapi memiliki sisi-sisi penyucian jiwa atau tazkiah al-nafs. Dengan mengamalkan syariah secara ideal bahkan mencapai derajat ihsan, tentu akan menjadikan anak-anak sebagai dzurriyyah yang shalih dan shalihah serta senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.
Sebagai rentetan akhir kegiatan INSISTS Camp, setelah sarapan bersama para peserta mengikuti penutupan acara yang dilangsungkan pada pukul 09.00 WIB. Dalam acara tersebut para peserta saling berbagi kesan mereka selama mengikuti seluruh kegiatan. Acara kemudian disusul dengan penyerahan hadiah untuk pemenang lomba konten Instagram yang ditujukan sebagai syiar untuk acara ini. Setelah penutupan, acara diakhiri dengan sesi perfotoan bersama dan saling berpamitan antara peserta untuk kemudian melanjutkan perjalanan masing-masing.
Islamnya Yahudi Juru Tulis Mushaf Alquran dan Kisah Nasrani Penyalin Tafsir Ath-Thabari
Profesi penyalin kitab pernah populer dalam peradaban Islam [860] url asal
#industri-kertas #industri-kertas-peradaban-islam #penulis-kitab-peradaban-islam #penyalin-kitab #penyalin-kitab-sejarah-islam #baitul-hikmah #teknologi-kertas-dalam-sejarah-islam
(Republika - Khazanah) 05/08/24 21:01
v/13417559/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Fenomena "kertas dan perkamen" -atau industri penerbitan buku dalam kehidupan ilmiah Islam, merupakan salah satu fenomena pengetahuan yang paling penting dan signifikan yang dihadiahkan oleh peradaban Islam kepada pengalaman peradaban manusia, dan menyebabkan, dengan perkembangan dan perluasannya, melimpahnya buku.
Hal ini membuka jalan bagi fenomena lain yang sama pentingnya dan perintis, yaitu pembentukan perpustakaan umum dan pribadi, dan menghasilkan warisan ilmiah terkaya yang dikenal oleh umat manusia hingga era modern dan ledakan pengetahuan yang disaksikannya berkat penemuan mesin cetak pada tahun 854 H / 1450 M oleh ilmuwan Jerman, Johann Gutenberg (wafat tahun 863 H / 1468 M).
Penemuan ini merupakan terobosan teknologi yang mengubah wajah sejarah budaya dunia, namun juga menandai awal berakhirnya sistem budaya unik yang disebut "perkamen", yang mana artikel ini akan membawa kita ke dalam koridor sejarahnya untuk menelusuri dunianya, yang selama lebih dari 12 abad penuh dengan kehidupan dan kreativitas, penuh dengan kontroversi dan keributan budaya, dan bukan tanpa fakta-fakta yang mengejutkan dan lucu.
Sebagaimana toko-toko perkamen tidak terbatas pada penyalinan buku-buku budaya Islam, tetapi juga menambahkan buku-buku terjemahan, komunitas pedagang perkamen pun meluas hingga mencakup pedagang dari semua agama dan kepercayaan, tidak hanya mengkhususkan diri pada penyalinan dan penerbitan buku-buku kepercayaan dan agama mereka, tetapi juga menyalin dan menjual buku-buku Islam dengan tangan mereka sendiri!
Pada akhir abad kedua Hijriyah, "industri vellum" - meminjam istilah sejarawan Ibnu Khaldun (wafat 808 H/1406 M) dalam 'Muqaddimah' - telah mencapai penyebaran yang luas dan menuju kemakmuran pada abad ketiga/sembilan Hijriyah, sehingga cabang-cabangnya - menurut Ibnu Khaldun - didefinisikan sebagai "menyalin, mengoreksi, menjilid, dan urusan administrasi serta buku-buku lainnya" seperti menjual kertas dan kartrid.
Tak lama kemudian, industri kertas memiliki "toko-toko" atau "toko-toko" yang termasuk dalam "pasar-pasar pekerja kertas" yang "mengkhususkan diri pada pusat-pusat kota besar", dan beberapa di antaranya bekerja di perpustakaan-perpustakaan "resmi" di negara-negara besar di dunia Islam, seperti "Baitul Hikmah" yang didirikan oleh Abbasiyah di Baghdad, Dar al-Ulum di Kairo pada masa Fatimiyah, dan Khazanah al-Ulum di Kordoba pada masa Umayyah di Andalusia.
Empat abad sebelum Ibnu Khaldun, Abu Hayyan al-Tawhidi (wafat setelah 400 H/1010 M) - dalam sebuah surat kepada seorang teman dalam bukunya 'Al-Imtisa' - mengidentifikasi beberapa alat industri perkamen dan penyertaannya dalam pekerjaan penyalin yang baik; ia menyebutkan "tinta, kertas, kulit, bacaan, wawancara dan koreksi".
Namun, pada masa penurunan kualitas dalam industri perkamen, diketahui bahwa "mayoritas dari mereka yang tulisan tangannya bagus tidak terbebas dari ketidaktahuan", menurut Imam Badr al-Din al-Ayni (wafat 855 H/1451 M) dalam 'Umdat al-Qari Syarah Sahih al-Bukhari' (Umdat al-Qari Syarah Sahih al-Bukhari).
Kota-kota besar Islam memiliki berbagai macam pasar, yang didistribusikan sesuai dengan barang yang mereka tawarkan atau kerajinan yang mereka sediakan; salah satunya adalah "pasar kertas" atau "pemilik kertas" atau "pemilik kartrid"; sesuai dengan masing-masing daerah dan nomenklaturnya untuk kertas.
Ahli geografi dan sejarawan al-Yaqoubi (wafat 284 H/897 M) - dalam bukunya 'Negara-Negara' - menyebutkan sebuah daerah pinggiran kota Baghdad yang disebut "Rabd Wadah", kemudian mengatakan bahwa daerah tersebut memiliki pasar-pasar "dan sebagian besar pasar-pasar yang ada pada masa sekarang (= abad ketiga H/abad kesembilan M): Para penjilid buku, karena ada lebih dari seratus toko penjilid buku"!
Al-Dzahabi memberitahu kita dalam 'Al-Abbar fi Khabar min Ghubar' bahwa pada tanggal 26 Syawal 740 H/1339 M, "kebakaran besar terjadi di Damaskus... [api] menyebar ke pasar buku dan pasar para pustakawan terbakar". Rujukan telah dibuat ke sisi timur Kordoba dan lusinan perempuan pekerja dokumen, yang kemungkinan besar bekerja di toko-toko yang didirikan untuk dokumen.
Sebagaimana toko-toko perkamen tidak terbatas pada penyalinan buku-buku budaya Islam, tetapi juga menambahkan buku-buku terjemahan, komunitas pedagang perkamen meluas hingga mencakup para pedagang dari semua agama dan kepercayaan, tidak hanya mengkhususkan diri dalam menyalin dan menerbitkan buku-buku kepercayaan dan agama mereka, tetapi juga menyalin dan menjual buku-buku Islam dengan tangan mereka sendiri!
Imam al-Baihaqi (wafat 458 H/1067 M) meriwayatkan sebuah kisah dalam 'Dalilat al-Nubuwwah' (Bukti-bukti Kenabian) bahwa seorang intelektual Yahudi yang "pandai menulis" menjadi seorang Muslim dan menceritakan kisah keislamannya kepada Khalifah Abbasiyah al-Ma'mun (wafat 218 H/833 M), ia berkata, "Aku fokus ke Alquran dan membuat tiga salinan, menambah dan mengurangi, dan membawanya kepada para pekerja kertas dan mereka memeriksanya, dan ketika mereka menemukan tambahan dan pengurangan di dalamnya, mereka membuangnya dan tidak membelinya, aku tahu bahwa ini adalah kitab yang terpelihara, dan ini adalah penyebab keislamanku."
Kita tidak mengetahui bahwa penulisan Alquran oleh seorang Yahudi ini memicu penyanggahan oleh Khalifah atau para penulis Muslim, meskipun fakta kisahnya diketahui telah diceritakan di istana Khilafah Islam pada puncak kekuasaannya, dan bahkan sejarawan besar seperti Al-Baihaqi menyebutkannya - mengkonfirmasi keasliannya - dalam konteks pembuktian bahwa Alquran terpelihara dari perubahan dan distorsi meskipun penulisnya adalah non-Muslim.
Dalam Al-Fihrist, Al-Nadim mengutip filsuf Kristen Yahya bin Adi al-Monqi (wafat 364 H/975 M) yang mengatakan kepadanya, "Saya menyalin dengan tulisan tangan saya sendiri dua salinan Tafsir al-Tabari dan membawanya kepada raja-raja di daerah pinggiran, dan saya menulis banyak sekali buku-buku para pembicara."
Sumber: aljazeera
Tahukah Konsep Westafel yang Kita Gunakan Saat Ini Ditemukan Oleh Ilmuwan Muslim?
Westafel digunakan untuk mencuci tangan sejak awal ditemukan [706] url asal
#westafel #konsep-westafel #penemuan-westafel #pencipta-westafel #westafel-dalam-peradaban-islam #peradaban-islam #al-jazari
(Republika - Khazanah) 24/07/24 19:45
v/11959754/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Di Kehidupan sehari-hari, westafel kini adalah alat yang sering kita gunakan untuk mencuci tangan baik ketika di rumah, tempat kerja, hotel, mal, atau tempat-tempat publik misalnya. Tahukah jika konsep westafel modern saat ini ditemukan oleh ilmuwan Muslim?
Pada abad ke-12 Masehi, al-Jazari berjasa besar menciptakan alat dan wadah pencuci tangan, yang di zaman modern dikenal dengan wastafel.
Alat ini terbilang cukup canggih pada masanya karena sudah menggunakan sejumlah instrumen mekanis ataupun prinsip hidrolis. Prinsip itu dipakai pula pada pancuran dan pompa air.
Alat untuk mencuci tangan yang dirancang al-Jazari membantu melestarikan kebiasaan baik umat yang telah lama ada.
Yaitu, kebiasaan mereka mencuci tangan untuk kebersihan. Alat tersebut juga digunakan untuk berwudlu. Ini mendahului kebiasaan yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Kepakaran al-Jazari tidak diragukan lagi. Ia adalah insinyur dan ilmuwan terbesar di bidang teknik dan mekanik yang dimiliki umat Muslim. Tokoh ini bernama lengkap Badi al-Zaman Abu al-'Izz bin Isma'il bin al-Razzaz al-Jazari. Ia dilahirkan di al-Jazira yang terletak di antara sisi utara Irak dan timur laut Suriah.
Reputasinya terentang di seantero dunia Islam dan Barat. Al-Jazari pun mendapat julukan sebagai bapak teknik. Temuan-temuannya memberikan pengaruh luar biasa terhadap rancang bangun permesinan modern. Tidak kurang dari 50 peralatan hasil ciptaannya mewarnai perkembangan dunia teknik dan mesin hingga kini.
Sebagian besar karya al-Jazari dipaparkan pada buku teori dan praktik mekaniknya berjudul Al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi fi Sinat 'at al-Hiyal.
Ini merupakan kitab pengetahuan tentang alat-alat mekanik. Dalam buku yang dirampungkan pada 1206 Masehi inilah, al-Jazari mengurai secara terperinci mengenai alat pencuci tangan tadi.
Peralatan ini merupakan hasil pemikiran yang jenius. Sejarawan sains, Mark E Rosein, memuji alat cuci tangan itu dan menyebutnya sebagai bentuk awal wastafel yang saat ini digunakan secara luas. Seperti wastafel modern, alat cuci tangan buatan al-Jazari memiliki prinsip kerja serupa.
Salah satu kontribusinya bagi teknologi modern, yakni flush atau keran pembersih untuk keperluan membasuh tangan. Inilah bagian terpenting dari karya itu.
Al-Jazari diketahui memakai teknik seperti yang ia gunakan dalam menghasilkan kreasi lainnya, seperti air mancur ataupun jam air.
Menurut Ehsan Masood dalam bukunya yang berjudul Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat Bidang Sains Modern, gagasan yang diaplikasikan pada alat pencuci tangan adalah dengan memanfaatkan tekanan air untuk otomatisasi. Di tangan al-Jazari, ujar dia, teknik ini mencapai puncak kegemilangannya.
Pada alat pencuci tangan buatan al-Jazari, terdapat wadah untuk menadah atau menampung air. Di atasnya, diletakkan cawan besar yang dipegang oleh patung berbentuk sosok perempuan.
Cawan yang sekaligus berfungsi sebagai keran ini berisi air yang diambil dari tempat penampungan melalui mekanisme tekanan air.
Orang yang ingin membasuh tangan, tinggal menarik tuas. Maka secara otomatis, air akan mengucur dari cawan tadi ke dalam penadah air. Selain untuk mencuci tangan atau muka, alat ini juga kerap digunakan untuk berwudlu sehingga banyak ditaruh di dekat masjid.
Al-Jazari membuat alat yang kedua. Bentuknya berbeda dengan yang pertama. Dia sangat mengagumi keindahan burung merak dan terinspirasi untuk mengabadikannya pada peralatan ciptaannya. Tidak seperti alat sebelumnya, pada alat baru itu al-Jazari melengkapinya dengan wadah untuk sabun sanitasi dan handuk kering.
Lebih lanjut Mark E Rosein menjelaskan, pengoperasian alat itu cukup mudah. Tuasnya terletak di bagian ekor patung burung merak. Bila tuas ditarik, air akan mengalir dan mengisi wadah. Dari situ, air pun dapat digunakan untuk mencuci tangan atau membasuh muka. Bila airnya sudah kotor, buka tutup wadah untuk membuang air.
Insinyur dan ilmuwan Muslim telah merintis sejumlah peralatan untuk memanfaatkan air. Kreativitas mereka berhasil mengeksplorasi teknologi tersebut sehingga diperoleh hasil yang lebih memuaskan, seperti alat cuci tangan yang dirancang al-Jazari.
Selanjutnya, al-Jazari terkenal karena alat-alat praktisnya yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Jazari berhasil mengatasi berbagai rintangan dan meninggalkan inovasi yang tak hanya berguna pada masanya saja, tetapi juga bagi masyarakat sepeninggalnya. Beragam alat-alat teknik al-Jazari yang digambarkan dan dijelaskan dalam bukunya, memberi inspirasi kemajuan bidang teknik di Barat dan Timur.
Tak pernah habis kekaguman cendekiawan Donald R Hill pada peralatan teknik yang dihasilkan al-Jazari. Menurut dia, peralatan tersebut tak mungkin diabaikan ilmuwan di dunia. Ia beralasan, apa yang diciptkan al-Jazari sarat dengan dasar-dasar pengetahuan teknik yang sangat penting.
Makanan Siang Gratis Rp 7500, Ini Menu Makanan Sehat era Kekhalifahan Islam: Ada Pasta
Pemerintah mewacanakan seporsi makanan bergizi gratis Rp 7.500. [650] url asal
#makanan-gratis #makanan-bergizi-gratis #pasta #rp-7-500 #peradaban-islam #makan-siang-gratis #makan-gratis #makanan-tinggi-protein #makanan-siang-gratis-anak-sekolah #makanan-halal
(Republika - Khazanah) 20/07/24 07:10
v/11395265/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia mewacanakan anggaran untuk satu porsi makanan bergizi gratis Rp 7.500 bagi anak sekolah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa anggaran Rp 7.500 per porsi untuk makan bergizi gratis, dinilai cukup.
"Saya kira untuk daerah tertentu Rp 7.500 sudah sangat besar itu," kata Muhadjir Effendy di Jakarta, Kamis (18/7/2024).
Menurutnya, kebijakan mengenai anggaran makan bergizi gratis yang turun menjadi Rp 7.500 per porsi ini masih digodok.
Dia mengatakan nominal tersebut tidak dapat disebut terlalu kecil untuk semua daerah, karena harga jual beli bahan makanan dan tingkat kemahalan di setiap daerah di Indonesia berbeda-beda.
Pergeseran itu mendorong terjadinya Revolusi Pertanian Islam yang kelak juga mempengaruhi terciptanya beragam makanan di berbagai belahan dunia, khususnya Eropa.
Di Yunani, pada abad ke-4 SM, para penjelajah melaporkan pengamatannya di India.
Mereka menyebut tanaman buah-buahan sebagai madu tanpa lebah yang tumbuh di pohon. Melihat keragaman itu, para ahli tanaman Muslim memelopori pencangkokan tanaman dari kawasan Asia ke kawasan gurun.
Mereka mulai membudidayakan tanaman buah di sekitar Mesir, Suriah, utara Afrika, Spanyol, dan Sisilia. Wujud keragaman budi daya ingin mereka tunjukkan sebagai bentuk warisan dari revolusi pertanian, sekaligus penyeimbang adanya permintaan komoditas perdagangan serta pertukaran pengetahuan dan ide.
Alhasil, perkembangan itu menginspirasi para ilmuwan Muslim untuk mengklasifikasikan berbagai tumbuhan ataupun rempah-rempah. Mereka juga menentukan bisa tidaknya suatu jenis tumbuhan itu dimakan.
Merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW bahwa tubuh memiliki haknya yang harus dipenuhi, dokter dan ilmuwan Muslim pada abad pertengahan menyusun sejumlah buku yang terkait dengan makanan sehat berikut cara penyajiannya. Misalnya, Ibnu Said al- Qurtubi yang pada abad ke-10 menulis Kitab Khalq al-Janin wa Tadbir al-Hibala.
PASTA
Penggunaan pasta direkam dari berbagai sumber sejarah dan seorang pelancong, Al-Bakri, (abad ke-11 M). Dituturkan Al-Bakri, suatu kali, sebelum kedatangan Marcopolo, para pengelola biara di utara Spanyol membawa wanita Muslim untuk membuat pasta sebagai salah satu sajian perjamuan.
Ia membuat bagian luar pasta dari balutan gandum durum sehingga bentuknya lain dari mi buatan Cina yang diolah dari beras. Tingginya kadar gluten dalam durum membuat perbedaan dari segi elastisitas adonan.
Gandum durum ini diperkenalkan oleh para pedagang Muslim yang berlayar ke Sisilia dan Spanyol pada abad ke- 10.
PROSES DISTILASI
Istilah ini identik dengan penyulingan minyak dari tumbuhan dan rempah- rempah. Sebelumnya, proses distilasi tidak diketahui oleh bangsa Romawi. Kemunculannya di dunia Islam terekam dalam karya-karya Al-Razi Ibnu dan Jabir Hayyan. Proses penyulingan ini juga disebutkan dalam terjemahan Latin dari karya Ibnu Sina pada abad 11 Masehi.
Kaum minoritas, seperti Yahudi dan Kristen, menggunakan proses ini untuk membuat minuman beralkohol.
KUE KERING
Sungguh ironis melihat negara Prancis diklaim sebagai induk pembuat kue kering dunia. Sesungguhnya, baru pada abad ke-14 Masehi, mereka mempunyai toko kue untuk pertama kalinya. Dan sejatinya, dunia Islamlah yang mengawali pembuatan kue kering.
ES KRIM
Kudapan manis dan dingin ini ternyata terinspirasi dari makanan Arab. Meski Italia mempunyai banyak varian seperti cassata, ternyata kata asalnya qashdayang berarti krim.
Keberadaan serbat musharabiya melengkapi kenikmatan penyajian es krim pada abad ke-11 hingga ke-12 Masehi. Teknik penyimpanan es krim juga tersebar luas dan dilestarikan pembuat es kala itu. Negara Suriah menjadi penyedia es di kawasan Mesir, sementara Spanyol menggunakan jasa pembuat es Sierra Nevada. Dalam perkem bangannya, beberapa dokter, seperti Al-Rhazi dan Ibnu Sina, menentang minuman es karena bisa berbahaya bagi saraf.
Sejarah menunjukkan bahwa para ilmuwan dan dokter Muslim menjadi pencetus awal makanan sehat dunia. Bangsa Eropa baru mengenalnya setelah mereka menapaki Jazirah Arab pada masa Periode Baru. Bahan-bahan eksotik dan rempah pun mereka jadikan komoditas perdagangan.
Hubungan Turki Usmani-Eropa yang berlang- sung selama berabad-abad terjadi di tengah perkembangan politik dan ekonomi di kedua belah pihak. Dalam bidang perdagangan, komu- nitas Muslim Turki memiliki hubungan paling dekat dengan Eropa. Hubungan erat ini pada akhirnya menyentuh bidang kuliner hingga seni kuliner Muslim memengaruhi dan menjadi rujukan di Eropa.
Masa Kejayaan Abbasiyah di Baghdad
Baghdad menjadi pusat kegiatan intelektual pada masa keemasan Islam. [536] url asal
#kekhalifahan-abbasiyah #kerajaan-abbasiyah #peradaban-islam #kota-baghdad #baghdad-pusat-ilmu
(Republika - Khazanah) 15/07/24 11:01
v/10835713/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Baghdad berlokasi di dataran yang subur di Irak. Sejak tahun 762 Masehi, kota yang berjulukan 'Seribu Satu Malam' ini merupakan pusat Dinasti Abbasiyah hingga lima abad berikutnya.
Kota ini segera menjadi pusat peradaban yang kosmopolit dan cikal-bakal modernitas. Beberapa institusi pendidikan yang berdiri pada masa itu adalah Universitas Baghdad, Universitas al-Muntasyiriyah, dan Bait al-Hikmah. Demikian Ensiklopedi Islam memaparkan.
Khalifah kedua Dinasti Abbasiyah, Abu Ja’far al-Mansur, sudah memiliki visi pembangunan Baghdad. Pada mulanya, Baghdad hanyalah kawasan periferi. Sebelum memutuskan Baghdad sebagai ibukota, al-Mansur mengirimkan sejumlah pakar untuk meneliti keadaan geografis dan sosial wilayah tersebut.
Denah awal kota ini berbentuk lingkaran yang dikelilingi tembok selebar 50 hasta dengan tinggi 90 kaki. Di luarnya dijaga dengan parit yang dalam. Ada empat gerbang utama sebagai pintu masuk ke kota-benteng ini.
Para khalifah Abbasiyah sepeninggalan al-Mansur berlomba-lomba memperindah Baghdad. Tidak mengherankan bila pada 800 Masehi, Baghdad menjadi kota unggul tempat peradaban-peradaban global bertemu dan bertukar informasi.
Jumlah penduduk Baghdad pada masa itu mencapai lebih dari satu juta jiwa. Hal itu menjadikannya kota modern yang mendahului zamannya, bila dibandingkan dengan “kota-kota” lain di Asia maupun Eropa.
Puncak kejayaan
Era keemasan Baghdad berlangsung dalam masa pemerintahan Sultan Harun al-Rasyid (786-809) dan Khalifah al-Ma’mun (813-833). Sultan Harun al-Rasyid mendirikan pusat peradaban atau perpustakaan Bait al-Hikmah, yang tetap bertahan hingga abad ke-13 Masehi.
Sebelum dihancurkan serbuan balatentara Mongol pada 1258, Bait al-Hikmah merupakan pusat transfer ilmu pengetahuan dari pelbagai penjuru dunia, utamanya Yunani, Suriah, India, dan Persia. Para sarjana yang bekerja dan menggelar aktivitas di sana memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang menjadi dasar sains dan filsafat modern.
Mereka menerjemahkan teks-teks keilmuan dari pelbagai bangsa ke dalam bahasa Arab—yang kemudian menjadi rujukan peradaban Barat modern “menemukan kembali” peradaban Yunani Kuno. Cakupan keilmuan yang berkembang di Bait al-Hikmah merentang luas, antara lain, mulai matematika, kedokteran, kimia, biologi, kartografi/geografi, astronomi, hingga pemikiran serta kalam.
Dalam masa kekuasaan putra Sultan Harun al-Rasyid, Khalifah al-Ma’mun, Bait al-Hikmah kian cemerlang. Lembaga penerjemahan teks-teks asing berubah menjadi perguruan tinggi. Istana khalifah, rumah para terpelajar, masjid, serta perpustakaan di Baghdad menjadi lokasi yang didatangi para sarjana dari pelbagai negeri.
Baghdad menjadi ramai oleh cendekiawan-cendekiawan yang berwawasan global. Bahkan, sang khalifah ikut terlibat langsung dalam aktivitas keilmuan. Para sarjana yang aktif di Bait al-Hikmah mendapatkan dukungan finansial dari istana. Kemajuan semakin nyata setelah kekhalifahan Islam tersebut mengadopsi pengetahuan tentang pembuatan kertas dari Cina.
Dengan demikian, karya-karya terjemahan dapat diabadikan, bukan sekadar gulungan daun papirus lagi. Terjemahan ini mencakup karya-karya para pemikir Yunani Kuno, utamanya Aristoteles, Phytagoras, Hippocrates, Plato, Socrates, dan Euclid.
Untuk menyebutkan beberapa nama ilmuwan Muslim yang aktif di Bait al-Hikmah. Di antaranya adalah pakar matematika sekaligus penggagas Aljabar dan algoritma, Ibn al-Khawarizm. Dia pula yang memperkenalkan konsep angka nol, yang diadopsinya dari sistem bilangan Hindi. Selain itu, ada Bapak Ilmu Optik Modern, Ibnu al-Haytami.
Setelah Baghdad hancur akibat serangan Hulagu Khan pada 1401 dan Timurlenk, Dinasti Khan menguasai kota tersebut hingga satu abad berikutnya. Namun, ada hikmah di balik penyerbuan itu karena menjadi jalan bagi Islamisasi orang-orang Turk.