#30 tag 24jam
Memaknai Lame Duck pada Pilkada Jakarta - kumparan.com
Dalam politik, bebek lumpuh (lame duck) atau politikus yang segera pergi (outgoing politician) adalah seorang pejabat terpilih yang penerusnya telah terpilih atau akan menggantikannya. [824] url asal
#hari #memaknai #jokowi #pilkada
(Kumparan.com) 28/08/24 07:03
v/14784781/
Hari-hari ini, konstelasi politik nasional makin memanas. Selain memang momentumnya, ruang diskursus politik kita selalu diasupi dengan bicara pemilihan umum kepala daerah di Indonesia 2024 yang digelar secara serentak pada pada 27 November 2024.
Total daerah yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak tahun 2024 sebanyak 545 daerah dengan rincian 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota. Pilkada 2024 ini digelar untuk daerah-daerah yang masa jabatan kepala daerahnya berakhir pada tahun 2022, 2023, 2024, dan 2025.
Sistem pemilihan kepala daerah secara serentak pada tahun 2024 merupakan yang kelima kalinya diselenggarakan di Indonesia, serta merupakan yang pertama kalinya melibatkan seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia, terkecuali provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang gubernurnya tidak dipilih.
Geliat pilkada 2024, makin hari makin menggelitik saja. Pasalnya salah satu grand design issue yang dimainkan dari dalam istana dan dioperasikan secara senyap (silent operation) adalah wacana kotak kosong. Inilah salah satu hidden agenda dari istana yang dimainkan oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM) dan KIM Plus.
Hal ini memang sangat menyedihkan untuk orang-orang pengamat politik dan pemerhati demokrasi di Indonesia, terutama pada momentum pilkada 2024. Yang lebih menyedihkan lagi, tanpa kita sadari dan harus diakui bahwa demokrasi kita mengalami kemunduran yang sangat signifikan.
Manuver-manuver yang dilakukan oleh para elite partai politik kita berlangsung sangat cepat, bahkan gerakan politiknya (gerpol) sangat terstruktur, tersistematis dan masif. Dikatakan masih karena, wacana lawan kotak kosong ini sudah merebak diberbagai daerah dan hulunya di istana.
Hari-hari ini, partai politik kita tidak lagi memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat, bahkan dalam proses melakukan sistem penjaringan pemipin yang nantinya akan mereka pilih, sudah tidak melibatkan rakyat. Mestinya, masyarakat kita harus mendapatkan pendidikan politik agar mereka dapat menentukan pemimpin mereka sendiri. Jangankan hal itu, pendidikan politik terhadap rakyat saja, sudah jarang dilakukan bahkan hampir tidak ada.
Ruang politik kita hari ini seperti padang rumput yang gersang. Bahkan jauh lagi dari itu. Peran partai politik mestinya mendotrin rakyat dengan pendidikan politik, harapan ini seperti oase yang tumbuh di tengah padang pasir. Kemudian, terjadi sebuah harapan yang baru yaitu, padang rumput yang gersang menjadi padang rumput yang tumbuh subur dari rerumputan yang hijau.
Adakah harapan atau mimpi partai seperti ini? saya rasa tidak ada. Bahkan ideologinya saja adalah ideologi semu. Toh para elite-alit oligargi dan kartel politik ramai-ramai mendirikan partai hanya untuk merebut kekuasaan dan merebut sistem pembagian kue. Mirisnya, ketika sudah mendapatkan jatah, diam dan membangun strategi baru untuk mempertahankan kekuasaan.
Seperti yang terjadi hari ini! ketika semua partai itu terkungkung oleh satu elite yang ingin berkuasa dan membangun dinasti politik baru. Mohon maaf, niatmu untuk melawan harus dikuburkan dalam-dalam di dalam sanubarimu. Seperti dikatakan Bahlil Lahadalia, misalnya. Hati-hati dengan raja jawa ini! Dengan sendirinya ia tidak melawan dan menguburkan idealismenya. Padahal Bapak Republik kita, Tan Malaka mengatakan bahwa Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.
Demokrasi kita juga ibarat rumah tanpa pintu. Semua orang bisa keluar masuk begitu saja. Selama kekuasaan di tangan satu pihak, maka semua aturan bisa tabrak seperti Undang-Undang, Etika Politik, dan nilai-nilai yang termaktub dalam demokrasi itu sendiri. Yah itulah keadaan demokrasi kita saat ini.
Ada satu adagium klasik yaitu munculnya istilah lame dauck (bebek lumpuh) dalam ruang diskursus perpolitikan kita. Di Indonesia istilah ini belum begitu populer terutama pada posisi kelas masyarakat akar rumput (grass root). Istilah "lame duck" pertama kali digunakan di Inggris pada abad ke-18, terutama di kalangan bisnis dan pasar saham.
Saat itu, istilah ini digunakan untuk menggambarkan investor yang tidak dapat memenuhi kewajiban finansial mereka. Namun, seiring waktu, istilah ini mengalami pergeseran makna dan mulai digunakan dalam dunia politik untuk menggambarkan seorang pejabat yang sedang menunggu akhir masa jabatannya.
Jika istilah ini kita alamatkan pada konstelasi politik pilkada Jakarta. Maka menarik untuk diulas lebih jauh dan mendalam. Dalam politik, bebek lumpuh (lame duck) atau politikus yang segera pergi (outgoing politician) adalah seorang pejabat terpilih yang penerusnya telah terpilih atau akan menggantikannya. Seorang politikus yang segera pergi sering kali dipandang kurang berpengaruh dengan politikus lainnya karena waktu terbatas mereka meninggalkan jabatan. Terlebih pada situasi suksesi kepemimpinan politik pilkada Jakarta.
Dapat kita menarik benang merahnya, misalnya seorang politikus yang sebelumnya sangat handal dan lincah, kemudian menjadi lame duck ini acapkali dianggap tidak efektif ataupun produktif lagi. Sehingga para elit politik ataupun partai cendrung membangun agenda politik baru. Karena bagi mereka politikus yang sudah kelihatan seperti bebek lumpuh tidak dapat diterima oleh partisannya.
Istilah ini sangat tepat untuk kondisi pilkada Jakarta, yang makin hari, makin terlihat KIM dan KIM Plus tak ada kompetitornya dalam perhelatan politik pada 27 November mendatang.
Kelihatannya, kalau pun ada kandidat yang muncul sudah barang tentu itu adalah strategi politik, toh kuda hitamnya sudah kelihatan. Ataupun jika ada juga, partai-partai lain yang membangun poros baru, tetap sama saja akan membuang energi besar pada perhelatan kali nanti. Pada situasi ini, "lame duck" itu bukan lagi sebagai opium yang membuat kita semua mabuk, akan tetapi, situasi ini seperti kita menelan pil pahit. Yah! Memang kenyataanya begitu. (*)
Memaknai Belajar Kelompok Siswa - kumparan.com
Belajar kelompok membantu siswa mempertahankan pengetahuan dengan lebih baik. [619] url asal
#memaknai #kelompok #belajar #siswa #sekolah #gitar #rumah #teman #mandiri
(Kumparan.com) 14/07/24 08:55
v/10728688/
Joni, bukan nama sebenarnya, sering diajak teman-teman agar bersedia belajar kelompok sepulang sekolah. Tanpa ragu, Joni mengikuti ajakan mereka untuk belajar bersama di rumah salah satu teman. Setelah sesi belajar, mereka biasanya mengisi waktu dengan bermain dan bernyanyi, terutama karena ada teman Joni yang mahir bermain gitar. Setelah dirasa cukup, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Joni merasa lelah, lalu langsung tidur, dan keesokan harinya kembali bersekolah. Dalam seminggu, Joni mengikuti belajar kelompok sekitar tiga kali. Namun, hasil akademis tidak sesuai harapan; nilai ujian atau assessment Joni justru menurun. Menyadari adanya kesalahan dalam metode belajar, Joni mulai mencari solusi.
Dalam mengatasi masalah ini, Joni merefleksikan dan mengevaluasi metode belajarnya. Dia menyadari pentingnya keseimbangan antara belajar kelompok dan belajar mandiri. Joni kemudian memutuskan, menggabungkan kedua metode tersebut dengan cara konsisten dan terstruktur.
Hasilnya, peningkatan signifikan pada pemahaman dan pengetahuan terjadi. Pengetahuan Joni bertambah dua kali lipat dan pengertian terhadap materi semakin mendalam. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengulangan atau repetisi dalam belajar sangat penting guna memperkuat pemahaman materi.
Pengalaman Joni mengungkapkan bahwa belajar kelompok memiliki manfaat signifikan dalam aspek sosial. Melalui belajar bersama, Joni dapat bertukar ide, memperkaya pemahaman, dan memperkuat hubungan sosial. Belajar kelompok (dalam explico.sg, 2022) membantu siswa mempertahankan pengetahuan dengan lebih baik.
Di sisi lain, belajar mandiri memberikan keuntungan dalam mendalami materi dan meningkatkan pemahaman individual. Kombinasi kedua metode belajar ini terbukti efektif, membuat Joni lebih siap menghadapi ujian dan tantangan akademis lainnya.
Nampak jelas bahwa pengalaman Joni menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar kelompok dan belajar mandiri. Belajar kelompok membantu dalam pengembangan keterampilan sosial dan kolaboratif, sementara belajar mandiri memperkuat pemahaman individu terhadap materi.
Setiap siswa perlu menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan agar hasil belajar optimal dan pemahaman materi semakin mendalam.
Agar belajar kelompok menjadi menarik, siswa perlu memilih durasi waktu yang tepat, yaitu sekitar 1-2 jam, dan menyisipkan 15-30 menit untuk berbincang tentang berbagai dinamika sekolah sambil bermain gitar dan bernyanyi bersama. Belajar sambil berekreasi sejenak dapat meningkatkan semangat dan motivasi.
Setelah itu, pulanglah ke rumah masing-masing dengan membawa catatan hasil belajar kelompok. Catatan tersebut kemudian diperdalam secara mandiri agar lebih dipahami. Rumuskan hasil catatan dalam kata-kata kunci, dan dengan pemahaman baik, masukkan ke dalam memori jangka panjang supaya tidak mudah dilupakan.
Belajar kelompok sebenarnya cukup dilakukan dua kali saja, atau bahkan cukup sekali seminggu jika perlu. Hal ini memberikan kesempatan untuk sharing pengalaman belajar mandiri, sehingga teman-teman lain dapat termotivasi belajar lebih giat. Sharing pengalaman dari teman sebaya sangat penting karena dapat membangkitkan semangat belajar mandiri dan tanggung jawab lebih kuat.
Belajar kelompok dapat menjadi ajang memahami materi bersama-sama, dan sekaligus sebagai waktu bersosialisasi dan saling menginspirasi. Kegiatan ini dapat mempererat hubungan antar teman dan membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan bermanfaat. Hasilnya, pemahaman materi akan lebih baik dan motivasi belajar pun akan terus terjaga.
Belajar kelompok tidak hanya membantu dalam memahami materi pelajaran, tetapi juga mempererat hubungan antar teman dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sangat penting bagi perkembangan sosial dan emosional siswa, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu seimbang, berwawasan luas, dan berempati.
Selain itu, belajar kelompok juga meningkatkan kemandirian dalam belajar jika kemampuan mengendalikan diri ada di pihak siswa. Dengan menggabungkan sesi belajar kelompok dan belajar mandiri secara baik, peserta didik dapat memaksimalkan pemahaman terhadap materi pelajaran.
Siswa dapat mengulangi dan memperdalam pengetahuan yang didapat selama sesi belajar kelompok melalui belajar mandiri, sehingga pemahaman menjadi lebih kuat dan mendalam. Kombinasi demikian tidak hanya membuat proses belajar menjadi lebih efektif tetapi juga membentuk siswa disiplin dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Sebagai catatan akhir, semoga dengan belajar kelompok, tiap individu mendapatkan dua manfaat sekaligus: belajar dan bersosialisasi. Dengan demikian, siswa akan bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas, peduli terhadap sesama, dan berkarakter.