#30 tag 24jam
Alquran Jadi Penawar Penting Gangguan Penyakit Ini Jelang Tua, Begini Penjelasannya
Alquran mempunyai sejumlah keutamaan [506] url asal
#membaca-alquran #keutamaan-membaca-alquran #alquran #alquran-melindungi-pikun #bahaya-pikun #alquran-obat
(Republika - Iqra) 11/10/24 23:17
v/16527193/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Salah satu berkah Alquran adalah bahwa sahabat Alquran dan pembacanya diharapkan dapat menjaga akalnya dari kepikunan hingga saat-saat terakhir dalam hidupnya, sehingga ia dapat pergi ke tempat peristirahatannya dengan akal sehatnya.
Mengapa demikian? Kemungkinan ini bisa jadi kerena dua hal berikut yaitu bahwa pertama keberkahan Alquran bagi pemiliknya. Hidup bersama Kitabullah, membaca, merenungkan, menghafal, mentadabburi, menelaah dan mengamalkannya, akan memberikan keberkahan Ilahi kepada sahabatnya, yang dikhususkan bagi ahli Alquran. Dan hal ini sudah jelas dan sudah diketahui umum, karena di dalamnya terdapat keberkahan ilmu dan iman.
Kedua, salah satu penyebab pikun adalah malas mengingat, akan tetapi orang yang membaca Alquran, terutama yang dibaca dalam hati dan yang ditafsirkan, ia akan selalu sibuk dengan pikiran dan ingatan, sehingga ia tidak malas.
Dan Alquranitu sendiri adalah obat dan penawar, sebagaimana ia adalah obat, insya Allah, untuk penyakit-penyakit badan, hati dan jiwa, maka ia juga obat untuk pikiran, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Tak seorang pun yang menjaga Alquran di masa tuanya kecuali Allah menjaga akalnya di masa tuanya, dan semua orang tua yang akalnya sudah pikun, saya tidak mengetahui seorang pun dari mereka yang tetap menjaga hafalan Alquran di masa tuanya.
Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dan periwayat hadits ternama, Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu menyatakan bahwa orang yang membaca Alquran tidak akan dikembalikan ke usia renta. Ibnu Abbas berkata:
من قرأ القرآن لم يُرَدّ إلى أرذل العمر، وذلك قوله تعالى: {ثم رددناه أسفل سافلين إلاّ الذين آمنوا} "، قال: " إلاّ الذين قرأوا القرآن "
“Barang siapa yang selalu membaca Alquran, maka dia tidak akan dikembalikan ke usia tua renta. Karena itu Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ الا الذين آمنوا “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (yakni berusia tua renta), kecuali orang-orang yang beriman.” Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud di ayat itu adalah orang-orang yang membaca Alquran.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim (2/528) dan berkata: riwayat itu sahih.
Dalam kitab az-Zawajir 'an Iqtirafi al-Kabair dinyatakan, "Sesungguhnya ulama tidak akan linglung.” Ini didukung oleh pernyataan Ikrimah dalam firman Allah Yang Mahakuasa dalam surat an-Nahl ayat 70:
وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ (Dan di antara kamu ada dia yang dikembalikan ke kehidupan yang paling celaka).
Barangsiapa membaca Alquran itu sungguh tidak mencapai keadaan ini. Yang dimaksud dengan tidak pikunnya seorang ulama adalah dia tidak mencapai kepikunan orang biasa dalam kebiasaannya.
Orang tua itu seperti anak kecil dalam segala hal keadaannya, bahkan lebih jelek darinya. Dari sinilah ulama Allah SWT terlindungi.
Al-Qurtubi radhiyallahu anhu berkata, "Hal ini tidak terjadi pada orang mukmin, artinya demensia dan kembali ke usia yang paling sengsara, karena orang mukmin tidak terlucuti ilmunya."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa dia berkata, "Hal ini tidak berlaku bagi umat Islam, karena seorang Muslim tidak akan bertambah panjang umur dan kelangsungan hidupnya kecuali dengan kehormatan di hadapan Allah, akal, dan pengetahuan."
BACA JUGA: Pernah Menang Lawan Israel, Benarkah Rasulullah SAW Sabdakan Militer Mesir Paling Kuat?
Ikrimah juga mengatakan, “Barangsiapa yang membaca Alquran, tidak akan dikembalikan ke usia yang paling sengsara sampai dia tidak mengetahui apa-apa setelah mempelajarinya.”
Sedangkan as-Suyuti menyebutkan bahwa Abdul Malik bin Umair bahwa dia berkata, "Dulu banyak yang menyebut, manusia yang paling terjaga pikirannya adalah para pembaca Alquran.”
Sementara itu...
Bagaimana Bisa Alquran Cegah Kepikunan Penghafal atau Mereka yang Rutin Membacanya?
Alquran mempunyai sejumlah keutamaan [470] url asal
#membaca-alquran #keutamaan-membaca-alquran #alquran-melindungi-pikun #bahaya-pikun #alquran-obat
(Republika - Iqra) 11/10/24 14:00
v/16527194/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Tak seorang pun yang menjaga Alquran di masa tuanya kecuali Allah menjaga akalnya di masa tuanya, dan semua orang tua yang akalnya sudah pikun, ternyata memang sedikit dari mereka yang tetap menjaga hafalan Alquran di masa tuanya.
Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dan periwayat hadits ternama, Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu menyatakan bahwa orang yang membaca Alquran tidak akan dikembalikan ke usia renta. Ibnu Abbas berkata:
من قرأ القرآن لم يُرَدّ إلى أرذل العمر، وذلك قوله تعالى: {ثم رددناه أسفل سافلين إلاّ الذين آمنوا} "، قال: " إلاّ الذين قرأوا القرآن "
“Barang siapa yang selalu membaca Alquran, maka dia tidak akan dikembalikan ke usia tua renta. Karena itu Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ الا الذين آمنوا “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (yakni berusia tua renta), kecuali orang-orang yang beriman.” Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud di ayat itu adalah orang-orang yang membaca Alquran.” Diriwayatkan oleh Al-Hakim (2/528) dan berkata: riwayat itu sahih.
Dalam kitab az-Zawajir 'an Iqtirafi al-Kabair dinyatakan, "Sesungguhnya ulama tidak akan linglung.” Ini didukung oleh pernyataan Ikrimah dalam firman Allah Yang Mahakuasa dalam surat an-Nahl ayat 70:
وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ (Dan di antara kamu ada dia yang dikembalikan ke kehidupan yang paling celaka).
Barangsiapa membaca Alquran itu sungguh tidak mencapai keadaan ini. Yang dimaksud dengan tidak pikunnya seorang ulama adalah dia tidak mencapai kepikunan orang biasa dalam kebiasaannya.
Orang tua itu seperti anak kecil dalam segala hal keadaannya, bahkan lebih jelek darinya. Dari sinilah ulama Allah SWT terlindungi.
Al-Qurtubi radhiyallahu anhu berkata, "Hal ini tidak terjadi pada orang mukmin, artinya demensia dan kembali ke usia yang paling sengsara, karena orang mukmin tidak terlucuti ilmunya."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa dia berkata, "Hal ini tidak berlaku bagi umat Islam, karena seorang Muslim tidak akan bertambah panjang umur dan kelangsungan hidupnya kecuali dengan kehormatan di hadapan Allah, akal, dan pengetahuan."
BACA JUGA: Pernah Menang Lawan Israel, Benarkah Rasulullah SAW Sabdakan Militer Mesir Paling Kuat?
Ikrimah juga mengatakan, “Barangsiapa yang membaca Alquran, tidak akan dikembalikan ke usia yang paling sengsara sampai dia tidak mengetahui apa-apa setelah mempelajarinya.”
Sedangkan as-Suyuti menyebutkan bahwa Abdul Malik bin Umair bahwa dia berkata, "Dulu banyak yang menyebut, manusia yang paling terjaga pikirannya adalah para pembaca Alquran.”
Mengapa demikian? Kemungkinan ini bisa jadi kerena dua hal berikut yaitu bahwa pertama keberkahan Alquran bagi pemiliknya. Hidup bersama Kitabullah, membaca, merenungkan, menghafal, mentadabburi, menelaah dan mengamalkannya, akan memberikan keberkahan Ilahi kepada sahabatnya, yang dikhususkan bagi ahli Alquran. Dan hal ini sudah jelas dan sudah diketahui umum, karena di dalamnya terdapat keberkahan ilmu dan iman.
Kedua, salah satu penyebab pikun adalah malas mengingat, akan tetapi orang yang membaca Alquran, terutama yang dibaca dalam hati dan yang ditafsirkan, ia akan selalu sibuk dengan pikiran dan ingatan, sehingga ia tidak malas.
Dan Alquranitu sendiri adalah obat dan penawar, sebagaimana ia adalah obat, insya Allah, untuk penyakit-penyakit badan, hati dan jiwa, maka ia juga obat untuk pikiran, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Baca 6 Ayat Alquran tentang Ketenangan Ini, Berikut Manfaatnya yang Besar Menurut Ulama
Alquran memuat enam ayat tentang ketenangan atau sakinah [875] url asal
#membaca-alquran #ayat-sakinah #ayat-ketenangan #apa-saja-ayat-sakinah #apa-saja-ayat-ketenangan #enam-ayat-sakinah #enam-ayat-ketenangan #dzikir #keutamaan-dzikir #dzikir-alquran
(Republika - Iqra) 30/09/24 14:00
v/15868888/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Sakinah adalah ketenangan yang Allah SWT limpahkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya, yang menyebabkan mereka tenang dan berwibawa, dan menstabilkan hati dalam menghadapi ketakutan, sehingga tidak terguncang oleh godaan dan tidak terpengaruh oleh kesusahan, bahkan meningkatkan keimanan dan keyakinan.
Allah SWT telah menyebutkannya di enam tempat dalam kitab suci-Nya. Semuanya mengandung makna-makna keagungan dan pengagungan yang Allah Ta'ala berikan sebagai anugerah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan para rasul-Nya yang dekat.
Ibnul Qayyim menjelaskan dalam kitabnya Madarij as-Salikin, bahwa ketenangan ini adalah bagian dari kedudukan orang yang bersuluk kepada Allah SWT.
“Kedudukan ini adalah salah satu kedudukan karunia, bukan kedudukan perolehan, dan Allah telah menyebutkan ketenangan di dalam Kitab-Nya di enam tempat:
Pertama, Surat Al-Baqarah Ayat 248
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِۦٓ أَن يَأْتِيَكُمُ ٱلتَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَىٰ وَءَالُ هَٰرُونَ تَحْمِلُهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Arab-Latin: Wa qāla lahum nabiyyuhum inna āyata mulkihī ay ya`tiyakumut-tābụtu fīhi sakīnatum mir rabbikum wa baqiyyatum mimmā taraka ālu mụsā wa ālu hārụna taḥmiluhul-malā`ikah, inna fī żālika la`āyatal lakum ing kuntum mu`minīn
Artinya: "Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman."
Kedua, Surat At-Taubah Ayat 26
ثُمَّ أَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ
Arab-Latin: ṡumma anzalallāhu sakīnatahụ 'alā rasụlihī wa 'alal-mu`minīna wa anzala junụdal lam tarauhā wa 'ażżaballażīna kafarụ, wa żālika jazā`ul-kāfirīn
Artinya: Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.
BACA JUGA: Terungkap Begini Jalannya Operasi Pembunuhan Hassan Nasrallah Oleh Israel yang Brutal
Ketiga, At-Taubah Ayat 40
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Arab-Latin: Illā tanṣurụhu fa qad naṣarahullāhu iż akhrajahullażīna kafarụ ṡāniyaṡnaini iż humā fil-gāri iż yaqụlu liṣāḥibihī lā taḥzan innallāha ma'anā, fa anzalallāhu sakīnatahụ 'alaihi wa ayyadahụ bijunụdil lam tarauhā wa ja'ala kalimatallażīna kafarus-suflā, wa kalimatullāhi hiyal-'ulyā, wallāhu 'azīzun ḥakīm
Artinya: Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.
Keempat...
Keempat, Surat Al-Fath Ayat 4
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَٰنًا مَّعَ إِيمَٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Arab-Latin: Huwallażī anzalas-sakīnata fī qulụbil-mu`minīna liyazdādū īmānam ma'a īmānihim, wa lillāhi junụdus-samāwāti wal-arḍ, wa kānallāhu 'alīman ḥakīmā
Artinya: Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Kelima, Surat Al-Fath Ayat 18
لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَٰبَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Arab-Latin: Laqad raḍiyallāhu 'anil-mu`minīna iż yubāyi'ụnaka taḥtasy-syajarati fa 'alima mā fī qulụbihim fa anzalas-sakīnata 'alaihim wa aṡābahum fat-ḥang qarībā
Artinya: Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).
Kelima, Surat Al-Fath Ayat 26
إِذْ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ ٱلتَّقْوَىٰ وَكَانُوٓا۟ أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا
Arab-Latin: Iż ja'alallażīna kafarụ fī qulụbihimul-ḥamiyyata ḥamiyyatal-jāhiliyyati fa anzalallāhu sakīnatahụ 'alā rasụlihī wa 'alal-mu`minīna wa alzamahum kalimatat-taqwā wa kānū aḥaqqa bihā wa ahlahā, wa kānallāhu bikulli syai`in 'alīmā
Artinya: Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tentang khasiat enam ayat ketenangan ini, masih menurut Ibnu al-Qayyim, Ibnu Taimiyyah rahimahullah jika dia menghadapi masalah, membaca ayat-ayat ketenangan.
BACA JUGA: Bagaimana Bom Pembunuh Hassan Nasrallah Bisa Tembus Bunker? Ini Penjelasan Fisika
Ibnu Qayyim mengatakan, "Aku mendengar dia berkata dalam sebuah peristiwa besar yang menimpanya ketika sakit, yang tidak mungkin bisa dinalar akal, yaitu ketika memerangi roh-roh jahat yang menampakkan diri kepadanya dalam keadaan lemah.
Ibnu Taimiyah berkata, “Ketika aku mengalami kesulitan, aku berkata kepada kerabat dan orang-orang di sekitarku: Dia berkata: “Ketika keadaan menjadi sulit bagiku, aku berkata kepada keluargaku dan orang-orang di sekitarku: 'Bacalah ayat-ayat ketenangan."
Ibnu Qayyim mengatakan, "Aku juga telah mencoba membaca ayat-ayat ini ketika hati terganggu dengan apa yang menimpanya, dan aku melihat bahwa ayat-ayat ini memiliki pengaruh yang besar terhadap ketenangan dan ketentramannya."
Tak Pernah Merugi Membaca Alquran
Membaca Alquran memberikan banyak manfaat. [461] url asal
#alquran #membaca-alquran #kitab-suci-alquran #islam #fadhilah-amal
(Republika - Iqra) 23/09/24 14:00
v/15505044/
REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU --Membaca kitab suci Alquran yaitu ibadah yang mempunyai banyak keutamaan bagi seorang hamba.
Dikutip dari buku Tajwid Lengkap Asy-Syafi'i karya Abu Ya'la Kurnaedi, berikut lima keutamaan membaca Alquran:
1. Perniagaan yang tidak pernah merugi
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ# لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Alquran) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Mahapengampun, Mahapensyukur." (QS Fathir: 29-30).
Dalam ayat ini Allah menjanjikan kepada ahlulQuran (para pembaca Alquran yang mengamalkannya) pahala yang besar, dan Dia memberikan tambahan kepada mereka karunia yang tidak diketahui besarnya kecuali oleh-Nya. Sungguh, beruntunglah orang-orang yang disifati sesuai dengan ayat tersebut.
Terkait dengannya, Imam Qatadah rahimahullah, sebagaimana dikutip dari Tafsir karya Ibnu Katsir berkata, "Mutharrif, jika membaca ayat ini, berkata: 'Ini adalah ayat para qari.”
Dalam kitab tafsirnya, Imam al-Qurthubi berkata tentang ayat di atas: "Ini adalah ayat para qari yang mengamalkan (isinya) dan memahaminya."
2. Memperoleh pahala yang banyak
Ibnu Mas'ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
من قرأ حرفا من كتاب الله فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول الم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR At-Tirmidzi).
3. Mendapatkan syafaat pada Hari Kiamat
Rasulullah SAW bersabda:
اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأ صحابه
"Bacalah Alquran, sesungguhnya ia pada hari Kiamat akan datang memberi syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim).
4. Sebagai kebaikan bagi pembacanya
Hal ini berlaku baik bagi yang sudah mahir maupun yang masih terbata-bata. Rasulullah SAW bersabda:
الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة، والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق، له أجران
"Orang yang mahir membaca Alquran maka dia bersama-sama dengan malaikat yang mulia dan taat, sedangkan yang membaca Alquran dengan terbata-bata dan merasakan kesulitan maka baginya dua pahala." (HR Muslim).
5.Pencapaian yang lebih baik dari harta dunia
Uqbah bin Amir RA berkata:
خَرَجَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ وَنَحْنُ في الصُّفَّةِ، فَقالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَومٍ إلى بُطْحَانَ، أَوْ إلى العَقِيقِ، فَيَأْتِيَ منه بنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ في غيرِ إثْمٍ، وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يا رَسولَ اللهِ، نُحِبُّ ذلكَ، قالَ: أَفلا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إلى المَسْجِدِ فَيَعْلَمُ، أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِن كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، خَيْرٌ له مِن نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ له مِن ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ له مِن أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإبِلِ
"Rasulullah SAW keluar dan kami berada di Shuffah saat itu, lalu beliau bersabda: 'Siapa di antara kalian yang suka setiap hari pergi ke lembah Buth-han atau lembah Aqiq kemudian pulang membawa dua unta yang gemuk tanpa berbuat dosa dan tanpa memutuskan hubungan silaturahim?'
Kami menjawab: 'Wahai Rasulullah, kami menginginkan hal tersebut'.
Beliau bersabda: 'Tidakkah salah satu di antara kalian pergi ke masjid kemudian mempelajari atau membaca dua ayat dari Kitabullah sebab hal itu lebih baik baginya daripada mendapatkan dua unta, tiga ayat lebih baik daripada tiga unta, empat ayat lebih baik daripada empat unta, dan dari sekian jumlah ayat maka itu lebih baik daripada sekian jumlah unta." (HR Muslim dan Ibnu Hibban).
Adapun Alquran merupakan Kalamullah, yang memiliki sifat-sifat yang agung. Maka seorang hamba yang ingin mendapatkan anugrah besar dari-Nya sudah seharusnya menghabiskan umurnya dengan membaca, mempelajari serta mengamalkan kandungannya.
Membaca Alquran, Bolehkah saat sedang Berhadas?
Membaca Alquran pun memiliki adabnya. [456] url asal
#alquran #adab-membaca-alquran #islam #nabi-muhammad #doa #makkah #hadas-besar
(Republika - Iqra) 23/09/24 14:00
v/15505040/
REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH--Kegiatan ibadah membaca Alquran menjadi pahala bagi orang yang membacanya. Selain memuat ajaran dan perintah Allah, sejumlah ayat Alquran juga bermakna do'a. Karena itu, membaca Alquran seyogyanya menjadi rutinitas umat Muslim setiap hari, baik Muslim maupun Muslimah.
Membaca Alquran pun memiliki adabnya. Salah satunya, dianjurkan dalam keadaan suci ketika membaca Alquran. Lantas, apakah diperbolehkan membaca ayat Alquran dalam keadaan memiliki hadas, baik itu hadas besar atau pun kecil?
Ustaz Mukhlis Rahmanto mengatakan, diperbolehkan membaca ayat Alquran bagi seseorang yang tengah berhadas, termasuk perempuan yang tengah berhadas besar seperti haid. Hal ini, menurutnya, juga merupakan fawa dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah.
"Membaca Alquran disamakan dengan berzikir kepada Allah. Tentu saja tetap yang terbaik adalah membaca Alquran dalam keadaan suci dari hadas besar dan kecil, seperti didahului dengan wudhu," kata Ustaz Mukhlis, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id.
Menurut Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah itu, larangan membaca Alquran bagi orang yang berhadas besar hanyalah berdasarkan etis dan kepatutan serta sebagai tanda memuliakan dan menghormati Kalamullah. Sebab, tidak ditemukan hadits yang dapat dijadikan hujjah yang dapat dijadikan sebagai dasar hukumnya. Bahkan, disebutkan bahwa ada hadits shahih yang mengisyaratkan bahwa orang yang berhadas besar boleh membaca Alquran.
Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata: "Adalah Nabi saw menyebut nama Allah dalam segala hal." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan at-Turmudzi).
Dalam hal ini, dijelaskan bahwa membaca Alquran dapat disamakan dengan menyebut nama Allah atau berzikir. Sementara itu, surah Al Waqiah ayat 79 memang menyebutkan bahwa orang yang menyentuh Alquran sebaiknya orang yang suci. Ayat itu berbunyi, "Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan."
Mengenai hal ini, tim majelis menjelaskan bahwa menurut riwayat ayat itu diturunkan di Makkah, sebelum Nabi saw hijrah ke Madinah. Sementara mushaf Alquran baru ada di zaman khalifah Ustman bin Affan.
Dengan demikian, adanya mushaf Alquran setelah sekitar 30 tahun setelah ayat tersebut diturunkan. Sedangkan pada masa khalifah Utsman, baru ada lima mushaf dan itupun belum beredar ke masyarakat. Mushaf Alquran baru dicetak dan mulai beredar ke tengah masyarakat lebih kurang 900 tahun kemudian. Karenanya, Majelis Tarjih Muhammadiyah menyebut ayat itu tidak ada kaitannya dengan mushaf Alquran.
Menurut pendapat para mufassir, yang dimaksud dengan al-muthahharuun, ialah orang yang suci yang benar-benar beriman kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang-orang itulah yang dapat menyentuh isi dan kandungan Alquran.
Sedangkan orang yang tidak suci tidak akan dapat menyentuh kandungan dan isi Alquran. Karena itulah, Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam berpendapat, yang paling baik bagi orang yang hendak membaca Alquran ialah dalam keadaan suci dari hadas dan najis, serta berwudhu terlebih dahulu. Sebab, yang akan dibaca adalah wahyu Allah yang menjadi petunjuk hidup bagi manusia. Menurut mereka, pendapat ini juga sesuai dengan pendapat Ibnul Qayyim.
Perbedaan Orang yang Rutin Membaca Alquran dan yang Tidak
Sebaiknya membaca Alquran dengan khusyu. [339] url asal
#membaca-alquran #islam #alquran #keutamaan-membaca-alquran #haji
(Republika - Iqra) 23/08/24 14:00
v/14602325/
REPUBLIKA.CO.ID,DEPOK --Membaca kitab suci Alquran memiliki keutamaan yang besar dalam Islam. Nabi Muhammad SAW juga telah menyampaikan tentang perumpamaan orang-orang yang membaca Alquran.
Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy'ari RA, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran ialah seperti jeruk manis. Baunya harum dan rasanya manis.
"Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Alquran, ialah seperti kurma, tidak berbau tetapi rasanya manis," demikian sabda Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tercantum dalam kitab Shahih Muslim.
Masih dalam riwayat tersebut, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran ialah seperti kemangi, baunya harum tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran ialah seperti hanzalah yang tidak berbau dan rasanya pahit." (HR Muslim)
Dalam riwayat Aisyah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Orang mukmin yang mahir membaca Alquran maka kedudukannya di akhirat ditemani para malaikat yang mulia. Dan orang yang membaca Alquran padahal dia terbata-bata sehingga sulit baginya membaca, maka ia mendapat pahala ganda." (HR Muslim)
Adapun adab membaca Alquran, seperti dalam buku Tajwid Lengkap Asy-Syafi'i karya Abu Ya'la Kurnaedi, yaitu pertama ialah hendaknya qari meniatkan dalam membaca dan mentadaburi Alquran secara murni karena Allah ta'ala, bukan karena riya atau ingin dipuji dan sumah (ingin didengar), serta tidak minta upah apa pun, karena ibadahnya merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada-Nya.
Kedua, menghormati adab-adab tilawah atau membaca Alquran, seperti beristiadzah (meminta perlindungan) kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk ketika memulai qiraah, juga membaca basmalah apabila memulai qiraahnya dari awal surah selain surah At-Taubah.
Ketiga, hukumnya mustahab (disukai) bagi qari Alquran untuk berwudhu sebelum memulai qiraah dengan mushaf (bukan dengan hafalan). Bahkan, ada yang berpendapat wudhu wajib atasnya.
Keempat, sebaiknya duduk ketika membaca Alquran, begitu juga berpakaian yang baik, menghadap kiblat, dan berada di tempat terhormat yang layak dengan keagungan Kitab-Nya.
Kelima, sebaiknya membaca Alquran dengan tunduk, khusyu, perlahan, diiringi tadabur dan tafakur pada ayat-ayatnya, sedangkan hati dan inderanya tertuju pada apa yang dibaca, dan tidak memotongnya dengan perkataan manusia.
Saat Para Pendeta Nasrani Menangis Mendengarkan Bacaan Alquran
Pendeta pada masa Rasulullah SAW juga beriman kepada Allah SWT [395] url asal
#ahlul-kitab #kisah-ahlul-kitab #pendeta-nasrani #pendeta-nasrani-membaca-alquran #alquran #keutamaan-alquran #kedudukan-alquran #keistimewaan-alquran #pendeta-nasrani-menangis
(Republika - Iqra) 17/08/24 15:04
v/14521102/
REPUBLIKA.CO.ID,
JAKARTA— Alquran mengisahkan adanya pendeta dan rahib Nasrani yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Mereka percaya Isa adalah hamba Allah, Rasul dan anugerah yang diberikan kepada Maryam.
Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya menjelaskan, kisah Najasyi, raja Abisinia, dan para imigran yang datang ke Abisinia dari para sahabat Rasulullah SAW.
Ketika Najasyi mendengar surat Maryam dari Ja'far bin Abī Thālib -RA, dia menangis hingga jenggotnya basah, begitu juga orang-orang yang bersamanya dari kalangan pendeta dan rahib, mereka menangis hingga membasahi Alquran.
Allah SWT mengisyaratkan di dalam Kitab-Nya tentang tangisan sebagian pendeta dan rahib saat mendengar Al Qur'ān, dan menyatakan bahwa orang-orang yang mengetahui kebenaran adalah orang-orang yang paling dekat dan paling bersahabat dengan orang-orang yang beriman.
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.
Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.).” (QS al-Maidah: 82-83).
Fakta ini juga diterangkan surat al-Isra ayat 107-109 dan surat al-Qashah 52-55. Rasulullah SAW bersabda mengabarkan bahwa barang siapa dari ahli kitab yang beriman kepada nabinya, kemudian beriman kepada Muhammad SAW, maka Allah akan memberinya pahala dua kali lipat. Rasulullah SAW bersabda:
ثلاثة لهم أجران: رجلٌ من أهل الكتاب آمن بنبيه وآمن بمحمد صلى الله عليه وسلم، والعبد المملوك إذا أدَّى حق الله وحق مواليه، ورجلٌ كانت له أَمَةٌ فأدَّبها فأحسن تأديبها، وعلَّمها فأحسن تعليمها، ثم أعتقها فتزوَّجها فله أجران
BACA JUGA:Coba Cari Kesalahan Alquran, Mualaf Lamaan Ball: Tuhan Jika Engkau Ada, Bimbinglah Aku
“Tiga orang mendapatkan dua pahala: Seorang laki-laki ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepada Muhammad SAW, seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak walinya, dan seorang laki-laki yang memiliki seorang hamba sahaya, lalu ia mendidiknya dengan baik dan mengajarinya dengan baik, kemudian ia memerdekakannya lalu menikahinya, maka baginya dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih-nya dari hadis Abu Musa Al-Asy'ari RA)
5 Hadits Ini Ungkap Kekhawatiran Rasulullah SAW dan Terbukti Umat Mulai Tinggalkan Alquran
Rasulullah SAW memperingatkan umatnya agar tak tinggalkan Alquran [452] url asal
#membaca-alquran #keutamaan-membaca-alquran #pahala-membaca-alquran #meninggalkan-alquran #kedudukan-alquran #alquran-kiamat #al-furqan-30
(Republika - Iqra) 07/08/24 16:40
v/13698353/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Allah SWT memperingatkan hamba-Nya untuk tidak meninggalkan Alquran. Hal ini sebagaimana terabaikan dalam surat Al-Furqan ayat 30:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran itu sesuatu yang tidak diacuhkan."
Lantas apakah yang dimaksud dengan meninggalkan Alquran tersebut? Ibnu al-Qayyim menjelaskan beberapa makna meninggalkan yaitu pertama meninggalkan dari kebiasaan mendengarnya, mempercayainya, dan mendengarkannya.
Kedua, meninggalkan dengan tak mengamalkannya dan mengabaikan halal dan haramnya, meskipun membacanya dan meyakininya.
Ketiga, meninggalkan pengadilan dan merujuknnya dalam memutuskan masalah-masalah pokok dan cabang agama, dan meyakini bahwa ia tidak memberikan kepastian, dan dalil-dalilnya hanya bersifat lisan dan tidak memberikan ilmu.
Keempat, meninggalkan berobat kepadanya dalam segala penyakit dan penyakit hati, mencari kesembuhan dari selainnya dan meninggalkan kesembuhan darinya.
Kelima, meninggalkan mempelajarinya, memahaminya, dan mengetahui apa yang diinginkan dari Allah SWT.
Kemudian Rasulullah SAW dalam berbagai riwayat memperingatkan bahaya meninggalkan Alquran yaitu antara lain sebagai berikut:
1. Dari ‘an Amr bin Syu’aib: ‘an Abihi: ‘an Jaddihi yang berkata, Rasulullah SAW bersabda:
يمثل القرآن يوم القيامة رجلًا، فيؤتى بالرجل قد حمله فخالف أمره، فيتمثل له خصمًا، فيقول: يا رب، حملته إياي فبئس حامل تعدى حدودي، وضيع فرائضي، وركب معصيتي وترك طاعتي، فما يزال يقذف عليه بالحجج حتى يقال: شأنك به فيأخذ بيده فما يرسله حتى يكبه على منخره في النار
“Nanti pada hari Kiamat Alquran (yaitu amalan bacaan Alquran) akan dibentuk menjadi seseorang. Maka didatangkan seseorang yang memikulnya tapi dia menyelisihi perintah Alquran, maka jadilah Alquran itu musuh baginya, seraya berkata: “Wahai Robbku, Engkau menjadikan dia dia memikulku, tapi dia adalah pemikul yang paling buruk, dia melampaui batasan-batasanku, menyia-nyiakan kewajiban-kewajibanku, melanggar larangan-laranganku, meninggalkan ketaatan padaku.” Terus-menerus Alquran melemparkan tuduhan padanya dengan hujjah-hujjah sampai dikatakan padanya: “Lakukan terhadapnya apapun yang engkau ingin lakukan.” Maka Alquran tidak melepaskannya sampai dia melemparkannya hingga tertelungkup di atas hidungnya di dalam." (HR Ibnu Abi Syaibah)
Kedua...
Kedua, dari Saad bin Ubadah RA, Rasulullah SAW bersabda:
ما من امرئ يقرأ القرآن ثم ينساه إلا لقي الله يوم القيامة أجذم
“Tidaklah seseorang membaca Alquran lalu melupakannya kecuali dia akan bertemu dengan Allah SWT dalam kondisi bisu.” (HR Abu Dawud)
Ketiga, dari Abu Musa al-Asya’ari RA, Rasulullah SAW berkata:
تعاهدوا هذا القرآن - فوالذي نفسي بيده - لهو أشد تفلتًا من الإبل مِن عقلها
“Buatlah perjanjian dengan Alqwuran, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Alquran itu lebih mudah lepas dibanding unta dari tali kekangnya.” (HR Bukhari Muslim),
Keempat, dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
إنما مثل صاحب القرآن كمثل الإبل المعلقة، إن عاهد عليها أمسكها وإن أطلقها ذهبت
“Sesungguhnya permisalan sahabat Alquran seperti unta yang ditali, jika dia berjanji tak akan melepaskannya, jika dia lepaskan maka Alquran akan pergi.” (Muttafaq Alaih)
Kelima, dari Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ فَقُلْتُ مَا الْمَخْرَجُ مِنْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ نَبَأُ مَا كَانَ قَبْلَكُمْ وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ وَهُوَ الْفَصْلُ لَيْسَ بِالْهَزْلِ مَنْ تَرَكَهُ مِنْ جَبَّارٍ قَصَمَهُ اللَّهُ وَمَنْ ابْتَغَى الْهُدَى فِي غَيْرِهِ أَضَلَّهُ اللَّهُ وَهُوَ حَبْلُ اللَّهِ الْمَتِينُ وَهُوَ الذِّكْرُ الْحَكِيمُ وَهُوَ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ
“Ingatlah, sesungguhnya akan terjadi fitnah." Lalu aku bertanya; "Bagaimana solusinya wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "Kitab Allah, di dalamnya ada kisah tentang peristiwa sebelum kalian, dan setelah kalian, hukum perkara diantara kalian, ia adalah (firman) yang memisahkan (antara yang hak dan yang bathil), bukan senda gurau, barangsiapa meninggalkannya karena bersikap sombong, maka Allah akan membinasakannya, dan barangsiapa mencari petunjuk pada selainnya, maka Allah akan menyesatkannya, ia adalah tali Allah yang kokoh, ia adalah peringatan yang bijaksana, ia adalah jalan yang lurus. (HR Tirmidzi dan Abu Daud).
Ketika Umat Islam Mulai Melupakan Alquran, Begini Kekhawatiran Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memperingatkan umatnya agar tak tinggalkan Alquran [452] url asal
#membaca-alquran #keutamaan-membaca-alquran #alquran #pahala-membaca-alquran #meninggalkan-alquran #kedudukan-alquran #alquran-kiamat #al-furqan-30
(Republika - Iqra) 07/08/24 16:40
v/13665265/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Allah SWT memperingatkan hamba-Nya untuk tidak meninggalkan Alquran. Hal ini sebagaimana terabaikan dalam surat Al-Furqan ayat 30:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran itu sesuatu yang tidak diacuhkan."
Lantas apakah yang dimaksud dengan meninggalkan Alquran tersebut? Ibnu al-Qayyim menjelaskan beberapa makna meninggalkan yaitu pertama meninggalkan dari kebiasaan mendengarnya, mempercayainya, dan mendengarkannya.
Kedua, meninggalkan dengan tak mengamalkannya dan mengabaikan halal dan haramnya, meskipun membacanya dan meyakininya.
Ketiga, meninggalkan pengadilan dan merujuknnya dalam memutuskan masalah-masalah pokok dan cabang agama, dan meyakini bahwa ia tidak memberikan kepastian, dan dalil-dalilnya hanya bersifat lisan dan tidak memberikan ilmu.
Keempat, meninggalkan berobat kepadanya dalam segala penyakit dan penyakit hati, mencari kesembuhan dari selainnya dan meninggalkan kesembuhan darinya.
Kelima, meninggalkan mempelajarinya, memahaminya, dan mengetahui apa yang diinginkan dari Allah SWT.
Kemudian Rasulullah SAW dalam berbagai riwayat memperingatkan bahaya meninggalkan Alquran yaitu antara lain sebagai berikut:
1. Dari ‘an Amr bin Syu’aib: ‘an Abihi: ‘an Jaddihi yang berkata, Rasulullah SAW bersabda:
يمثل القرآن يوم القيامة رجلًا، فيؤتى بالرجل قد حمله فخالف أمره، فيتمثل له خصمًا، فيقول: يا رب، حملته إياي فبئس حامل تعدى حدودي، وضيع فرائضي، وركب معصيتي وترك طاعتي، فما يزال يقذف عليه بالحجج حتى يقال: شأنك به فيأخذ بيده فما يرسله حتى يكبه على منخره في النار
“Nanti pada hari Kiamat Alquran (yaitu amalan bacaan Alquran) akan dibentuk menjadi seseorang. Maka didatangkan seseorang yang memikulnya tapi dia menyelisihi perintah Alquran, maka jadilah Alquran itu musuh baginya, seraya berkata: “Wahai Robbku, Engkau menjadikan dia dia memikulku, tapi dia adalah pemikul yang paling buruk, dia melampaui batasan-batasanku, menyia-nyiakan kewajiban-kewajibanku, melanggar larangan-laranganku, meninggalkan ketaatan padaku.” Terus-menerus Alquran melemparkan tuduhan padanya dengan hujjah-hujjah sampai dikatakan padanya: “Lakukan terhadapnya apapun yang engkau ingin lakukan.” Maka Alquran tidak melepaskannya sampai dia melemparkannya hingga tertelungkup di atas hidungnya di dalam." (HR Ibnu Abi Syaibah)
Kedua...
Kedua, dari Saad bin Ubadah RA, Rasulullah SAW bersabda:
ما من امرئ يقرأ القرآن ثم ينساه إلا لقي الله يوم القيامة أجذم
“Tidaklah seseorang membaca Alquran lalu melupakannya kecuali dia akan bertemu dengan Allah SWT dalam kondisi bisu.” (HR Abu Dawud)
Ketiga, dari Abu Musa al-Asya’ari RA, Rasulullah SAW berkata:
تعاهدوا هذا القرآن - فوالذي نفسي بيده - لهو أشد تفلتًا من الإبل مِن عقلها
“Buatlah perjanjian dengan Alqwuran, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, Alquran itu lebih mudah lepas dibanding unta dari tali kekangnya.” (HR Bukhari Muslim),
Keempat, dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
إنما مثل صاحب القرآن كمثل الإبل المعلقة، إن عاهد عليها أمسكها وإن أطلقها ذهبت
“Sesungguhnya permisalan sahabat Alquran seperti unta yang ditali, jika dia berjanji tak akan melepaskannya, jika dia lepaskan maka Alquran akan pergi.” (Muttafaq Alaih)
Kelima, dari Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ فَقُلْتُ مَا الْمَخْرَجُ مِنْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ نَبَأُ مَا كَانَ قَبْلَكُمْ وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ وَهُوَ الْفَصْلُ لَيْسَ بِالْهَزْلِ مَنْ تَرَكَهُ مِنْ جَبَّارٍ قَصَمَهُ اللَّهُ وَمَنْ ابْتَغَى الْهُدَى فِي غَيْرِهِ أَضَلَّهُ اللَّهُ وَهُوَ حَبْلُ اللَّهِ الْمَتِينُ وَهُوَ الذِّكْرُ الْحَكِيمُ وَهُوَ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ
“Ingatlah, sesungguhnya akan terjadi fitnah." Lalu aku bertanya; "Bagaimana solusinya wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "Kitab Allah, di dalamnya ada kisah tentang peristiwa sebelum kalian, dan setelah kalian, hukum perkara diantara kalian, ia adalah (firman) yang memisahkan (antara yang hak dan yang bathil), bukan senda gurau, barangsiapa meninggalkannya karena bersikap sombong, maka Allah akan membinasakannya, dan barangsiapa mencari petunjuk pada selainnya, maka Allah akan menyesatkannya, ia adalah tali Allah yang kokoh, ia adalah peringatan yang bijaksana, ia adalah jalan yang lurus. (HR Tirmidzi dan Abu Daud).
Mengapa Surah at-Taubah tak Diawali Bismillah?
Surah at-Taubah tak diawali dengan basmalah, 'Bismillah.' [405] url asal
#surah-at-taubah #membaca-alquran #tadarus-alquran #mengaji-alquran #bacaan-basmalah
(Republika - Khazanah) 15/07/24 17:55
v/10867456/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bacaan basmalah, yakni "Bismillaahirrahmaanirrahiim", menjadi pembuka sebelum ayat pertama pada umumnya surah di dalam Alquran. Namun, hanya satu surah yang tidak memberlakukan "aturan" demikian.
Dalam Alquran, hanya surah at-Taubah yang tanpa diawali dengan bacaan basmalah. Alhasil, bila ingin membaca surah tersebut, kita hanya perlu membaca ta'awwudz--"A'udzubillah himinasyaithanirrajim."
Pertama-tama, Sebelum membaca Alquran--surah apa pun--kita memang diperintahkan untuk membaca ta'awwudz terlebih dahulu. Perintah ini ditegaskan dalam Alquran surah an-Nahl ayat ke-98. Artinya, "Apabila kamu membaca Alquran, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk."
Adapun basmalah, memang hanya surah at-Taubah (sering pula disebut sebagai surat Bara'ah) yang tak diawali dengan "Bismillahirrahmanirrahim."
Karena itu, para ulama qira'at umumnya bersepakat, tidak membaca basmalah pada awal surah tersebut. Memang, ada juga yang membolehkannya, setelah menganalisis sebab tidak dicantumkannya basmalah pada surah at-Taubah.
Pertama, karena surah tersebut mengandung ancaman kepada orang-orang musyrik. Padahal, basmalah mengandung makna rahmat. Maka, tak wajar bila membaca basmalah untuk ayat-ayat yang ditujukan kepada mereka.
Beberapa ulama membolehkan membaca basmalah sebelum surah at-Taubah bila bersandar pada alasan ini saja. Sebab, tak dibacanya basmalah itu hanya khusus bagi orang-orang musyrik yang memang tidak wajar memperoleh rahmat. Adapun kaum Muslimin yang membaca surah tersebut, maka rahmat dapat diperoleh sehingga membaca basmalah insya Allah mengantarkan pada meraih berkat-Nya.
Kedua, tidak dicantumkannya basmalah pada awal surah kesembilan itu adalah karena at-Taubah diduga sebagai kelanjutan daripada surah al-Anfaal (surat kedelapan).
Jika memang surah Bara'ah merupakan lanjutan surat sebelumnya, maka tidak ada alasan untuk melarang membaca basmalah pada awal surah Bara'ah. Sebab, tidak ada halangan atau larangan membaca basmalah pada awal setiap juz yang biasanya merupakan pertengahan (lanjutan) dari satu surah. Akan tetapi, pendapat ini tidak didukung oleh banyak ulama.
Bagaimana bila mulai membacanya pada pertengahan surah, bukan awalnya? Di sini, para ulama berbeda pendapat. Menurut pakar qiraat Ibnul Jazri (wafat 833 H) dalam bukunya An-nasyr fi l-Qiraat al-'Asyr, mayoritas ulama-ulama Irak membaca basmalah ketika memulai membaca Alquran pada pertengahan surah. Adapun mayoritas ulama di Maroko, Tunis dan Andalusia, tidak membacanya.
Atas dasar itu, membaca Basmalah pada pertengahan surah at-Taubah diperbolehkan. Ini bukan dalam konteks semata-mata membaca surah tersebut, melainkan dalam konteks memenuhi anjuran Nabi Muhammad SAW. Yakni, memulai setiap pekerjaan dengan basmalah. Sabda beliau: ''Setiap persoalan penting yang tidak dimulai dengan Bismillahirahmanirrahim, maka persoalan tersebut cacat."
Selain Sholat, Lakukan Amal Ini Berjamaah di Masjid Agar Allah SWT Berikan Ketenangan Jiwa
Membaca Alquran memberikan manfaat untuk para pembacanya [242] url asal
#membaca-alquran #faedah-membaca-alquran #manfaat-membaca-alquran #alquran #khasiat-alquran #keutamaan-alquran #membaca-alquran-di-masjid #membaca-alquran-berjamaah-di-masjid
(Republika - Khazanah) 12/07/24 21:04
v/10563606/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –Kehadiran Alquran bagi umat Islam adalah anugerah terbesar. Tidak hanya sebagai pedoman, Alquran juga kitab suci yang memberikan faedah di dunia dan akhirat.
Seorang Muslim yang membaca Alquran diganjar pahala yang besar sebagaimana dijelaskan dalam Alquran. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (29), agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahamensyukuri (30)." (QS Fathir ayat 29-30)
Rasulullah SAW, bersabda bahwa tilawah Alquran adalah salah satu dari dua hal yang membuat seseorang iri. Beliau bersabda:
(لا حَسَدَ إلَّا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهو يَتْلُوهُ آناءَ اللَّيْلِ، وآناءَ النَّهارِ).
"Janganlah iri kecuali pada dua hal, yaitu hanya kepada seorang pria yang mengajarkan Alquran hingga ia membacanya pada malam hari dan siang hari." (HR Bukhari dari Abu Hurairah RA)
Dengan membaca Alquran juga, seorang hamba memperoleh syafaat pada Hari Kiamat. Sebab, Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Muslim bersabda, "Bacalah Alquran karena hal itu akan menjadi syafaat pada Hari Kiamat kelak."
Dalam hadits riwayat lain, disebutkan juga bahwa Nabi Muhammad berkata, "Puasa dan Alquran akan menjadi syafaat pada Hari Kebangkitan nanti."
Alquran juga membawa ketenangan, sebagaimana hadits berikut ini, bahwa Nabi SAW bersabda:
(وَما اجْتَمع قَوْمٌ في بَيْتٍ مِن بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عليهمِ السَّكِينَةُ).
"Ketika ada beberapa orang berkumpul di rumah Allah, dan mereka melafalkan dan mempelajari Alquran, maka ketenangan akan diturunkan kepada mereka." (HR Muslim dari jalur Abu Hurairah)
Sumber: mawdoo3