BYD merilis Sealion 05 DM-i. Mobil yang masuk kategori SUV compact berteknologi hybrid electric vehicles (HEV) ini memiliki konsumsi BBM yang irit.
Dikutip Carnewschina, Selasa (24/9/2024) Sealion 05 DM-i dilengkapi sistem hybrid DM generasi ke-5 BYD, menggabungkan mesin 1,5 liter yang disedot secara alami dengan output daya maksimum 74 kW (99 hp) dan motor listrik yang menghasilkan 120 kW (160 hp).
BYD Sealion 05 DM-i memiliki dua opsi baterai bilah lithium iron phosphate: 12,9 kWh dan 18,3 kWh. Yang dklaim punya jangkauan listrik murni 75 km dan 115 km, berdasarkan pengetesan China Light Duty Vehicle Test Cycle (CLTC).
Soal efisiensi bahan bakar, Sealion 05 DM-i mencapai angka konsumsi rendah, yakni minimal 3,79 L/100 km (sekitar 26 km/liter) dalam kondisi baterai lemah sesuai standar NEDC.
Kemudian berdasarkan WLTC, konsumsi bahan bakar berkisar antara 4,85 L/100 km (20,8 km/liter) hingga 4,9 L/100 km (20,4 km/liter). Powertrainnya dipadukan dengan transmisi E-CVT untuk akselerasi yang mulus. BYD Sealion memiliki jangkauan gabungan hingga 1.400 km. Selain itu, kendaraan ini mendukung output daya eksternal 3,3 kW, yang memungkinkannya memberi daya pada perangkat selama aktivitas di luar ruangan atau keadaan darurat.
Dimensi mobil ini adalah panjang 4.710 mm, lebar 1.880 mm, dan tinggi 1.720 mm, sehingga masuk dalam kategori SUV ukuran menengah.
Bicara soal desain, gril depan lebar dengan aksen krom dan lampu depan yang tajam. Bumper depan memiliki saluran masuk udara terintegrasi, berkontribusi pada tampilan mobil yang fungsional dan ramping. Desain atap mengambang dan velg palang lima berwarna hitam dan perak menambah tampilan keseluruhan. Di bagian belakang, strip lampu belakang lebar penuh menjadi elemen visual utama.
Masuk ke area dalam, Sealion 05 DM-i memiliki cluster instrumen yang sepenuhnya digital dan layar sentuh 15,6 inci yang dapat diputar yang menjalankan sistem infotainment DiLink BYD. Pemindah gigi dan tombol fisik di konsol tengah mengontrol berbagai fungsi, seperti mode berkendara dan pengaturan iklim. Kendaraan ini dilengkapi pengisian daya nirkabel, port USB, dan akses kunci ponsel pintar NFC.
Kursi pengemudi dan kursi penumpang depan menawarkan penyesuaian elektrik, dengan kursi pengemudi mendukung penyesuaian 8 arah. Kabinnya menampilkan jahitan oranye dan biru serta dilengkapi sunroof panoramik. Dengan kursi belakang terlipat, ruang kargo menjadi 407 liter dan 1.430 liter saat kursi belakang dilipat.
Mobil ini ditawarkan dalam empat varian, dengan harga antara 112.800 hingga 142.800 yuan (Rp 240 jutaan hingga Rp 300 jutaan).
Pemerintah berencana membatasi penggunaan BBM subsidi jenis solar dan Pertalite. Mobil-mobil irit BBM akankah jadi lebih laris?
BBM jenis Pertalite dan solar subsidi bakal segera dibatasi. Dengan demikian, penggunanya tak bisa sembarangan. Saat ini formulasi pembatasan BBM subsidi itu masih terus dibahas. Kabarnya, pembatasan ini akan menyasar mobil bensin dengan kapasitas di atas 1.400 cc dan mobil diesel di atas 2.000 cc.
Tak bisa dipungkiri, BBM subsidi memang masih digunakan oleh kalangan mampu. Contohnya mobil diesel seperti Innova Reborn, Pajero Sport, hingga Fortuner masih kedapatan menggunakan BBM subsidi. Selanjutnya untuk mobil bensin, LCGC yang dianjurkan menggunakan Pertamax, kebanyakan masih menggunakan Pertalite. Beberapa model lain yang harusnya pakai Pertamax juga malah memilih BBM RON 90 Pertamina karena alasan biaya operasional.
Lalu dengan adanya pembatasan BBM subsidi, akankah berpengaruh ke penjualan mobil-mobil tersebut? Mengingat, bila dibatasi berdasarkan kapasitas mesin, maka mobil seperti Innova Reborn diesel maupun Fortuner tak lagi bisa konsumsi solar subsidi. Sejauh ini dampaknya memang belum terlihat. Chief Marketing Auto2000 Yagimin mengatakan, pembatasan ini bisa jadi membuat konsumen beralih untuk mencari mobil dengan konsumsi BBM irit. Dengan begitu, penggunaan BBM RON 92 yang harganya lebih mahal ketimbang Pertalite pun kurang lebih akan sama.
"Kalau misalnya semua nggak boleh konsumsi Pertalite, pilihannya Pertamax atau Pertamina Dex. Tentunya saya sebagai customer saya akan memilih produk mana yang secara penggunaan BBM paling irit. Kebetulan Toyota itu banyak pilihannya untuk LCGC rasanya cukup irit ya, tapi selain itu kalau kepengin lebih irit lagi beli yang hybrid," kata Yagimin ditemui belum lama ini.
Menurutnya, peluang mobil hybrid akan jadi lebih populer terbuka lebar. Seperti diketahui bersama, konsumsi BBM mobil hybrid memang lebih irit dibandingkan mobil bermesin konvensional. Pun bila mengisi BBM RON 92, konsumsi BBM tetap hemat dan diharapkan tidak membuat biaya operasional kendaraan jadi bengkak.
"Hybrid itu super irit, jadi rasanya kalau diisi dengan Pertamax nggak akan memberatkan, justru kalau melihat itu saya kesempatan orang memilih produk yang dirasakan lebih efisien secara penggunaan bahan bakar. Nggak perlu charging tapi rasanya itu sudah seperti EV tapi BBM dua kali lipat lebih irit dari mesin konvensional biasa," tutur Yagimin.